Saya diomelin pembaca karena lama update chapter 3 waktu itu... T-T Nah, buat sang Guest-san yang tidak sabaran, nih saya update chap 4 secepat lari Sena (ya kali!) XD
.
Chapter 4
.
"Love is a promise, love is a souvenir, once given never forgotten, never let it disappear." - John Lennon -
.
Mamori tidak mau lagi menyentuh kasur itu. Itu milik Hiruma. Mamori tidak mau menyentuh atau bahkan menapaki sesuatu, selama itu adalah milik Hiruma. Karena itu Mamori ingin keluar secepat mungkin dari apartemen ini. Kekesalan Mamori sudah sangat besar, yang ingin dilakukannya saat ini adalah mengumpat dan berteriak sekeras mungkin. Tapi Mamori menahannya. Kalau dia sampai melakukan semua itu, orang brengsek yang menunggunya diluar itu pasti akan tersenyum penuh kemenangan.
Mamori sangat membencinya. Yah, dia 'membenci' orang itu dengan segenap perasaannya. Dia ingin memukuli, menendang, mencabik, mencakar orang itu. Beraninya dia memperlakukan Mamori seperti ini. Mempermainkannya seolah dia barang yang sudah dibuang di tempat penampungan barang bekas, lalu dipungut lagi karena teringat kalau masih membutuhkan barang itu. Mamori mengerti, yang dirasakannya dulu memang rasa kecewa dan sedih, namun lama-kelamaan, hatinya sudah keras dan kian lama membenci orang itu.
Hiruma Youichi. Sudah lama Mamori tidak menyebut dan mendengar nama itu. Berbulan-bulan Mamori berusaha melupakannya. Melupakan yang sudah terjadi di antara mereka. Walau begitu, sekeras apapun usahanya, Mamori tidak pernah sampai kemana-mana. Dia masih tetap pada titik dimana Hiruma masih terus membayangi kehidupannya, memenuhi hati dan pikirannya. Mamori tidak pernah mau mengakui itu kepada siapapun, termasuk dirinya sendiri. Bahwa cinta itu tidak pernah hilang atau terlupakan. Karena itu, dia benci dengan dirinya sendiri.
"Aku akan keluar lewat beranda kalau kau tidak mau membuka pintunya!" ancam Mamori berteriak dari pintu dalam kamarnya.
Hiruma, yang berdiri di depan pintu, berusaha memilih kata-kata yang tepat. Karena dia tahu, kalau Mamori sudah nekat, apapun akan dilakukannya. Hiruma akhirnya berjalan ke teras depan dan membuka password pintunya.
Mamori yang mendengar itu, lalu membuka pintu kamar dan keluar.
"Pergilah kalau memang itu maumu," sahut Hiruma. Dia lalu berjalan melewati Mamori dan kembali ke meja kerjanya.
Mamori menatap ke pintu yang terbuka. Tanpa ragu dia lalu menarik kopernya dan berjalan keluar. "Aku tidak akan membatalkan kontraknya. Tapi aku tidak mau tinggal disini."
"Pulang saja ke Jepang. Aku tidak butuh kamu bekerja padaku," sahut Hiruma dingin.
Mamori berhenti. Mendengar kata-kata itu, jantung Mamori terasa terenyak. Tentu saja Hiruma tidak membutuhkannya. Untuk apa seorang Hiruma Youichi membutuhkan penerjemah dalam hidupnya. Setelah menguatkan hatinya, Mamori kembali melangkah.
"Apa tidak bisa kamu pikirkan lagi?" sahut Hiruma. "Aku tidak bisa kembali lagi ke Jepang," lanjutnya setelah melihat Mamori menghentikan langkahnya lagi. "Aku hanya butuh kamu disini. Hanya sebulan. Setelah itu terserah kamu mau kemana."
Mamori menoleh. Dia tidak melihat seringaian di wajah Hiruma. Yang terlihat hanya wajah serius dan terluka. Kalau dia bisa kembali ke dua tahun lalu, mungkin saat ini Mamori sudah berlari memeluknya. Karena itu adalah kata-kata terindah yang pernah Hiruma ucapkan kepadanya.
"Kau tahu kita tidak bisa kembali seperti dulu," sahut Mamori.
Hiruma tidak menjawab.
"Untuk apa kamu butuh aku? Selama ini kamu baik-baik saja disini tanpa aku."
Hiruma tidak tahu harus berkata apa. Dia bukan orang yang bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya lewat kata-kata. Perkataannya yang terakhir tadi juga, hanya itu yang sanggup diungkapkannya. Jadi, dia tidak tahu lagi bagaimana untuk bisa meyakinkan Mamori. Dan seharusnya juga, Mamori bisa mengerti apa yang dirasakannya, sama seperti saat mereka bersama dua tahun lalu.
"Kau seharusnya mengerti."
Mamori menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak mengerti. Aku butuh penjelasanmu. Aku butuh tahu apa yang kamu rasakan. Kenapa kamu meninggalkan aku. Kenapa sekarang kamu ingin aku kembali. Kenapa aku harus menuruti perkataanmu."
"Kamu tahu jawabannya."
"Aku tidak tahu!" balas Mamori cepat. "Jangan anggap aku sebagai orang yang tahu semua yang kau rasakan! Aku tidak tahu!"
Hiruma tersenyum. "Ternyata kau berubah. Dulu kau selalu mengerti, selalu tahu apa yang aku mau. Kau mengerti tanpa harus aku katakan."
"Ini bukan tentangku. Tapi tentangmu!"
"Aku tidak berubah. Tetap sama seperti dulu. Masih tetap mencintaimu." Hiruma berhasil mengatakannya. Tidak sulit ternyata, dan semuanya terasa ringan setelah dia mengatakannya.
Mamori mendengarnya. Kata-kata yang tidak pernah sekalipun Hiruma katakan. Baik sejak saat mereka bersama, sampai saat Hiruma meninggalkannya. Hati Mamori sekarang bergemuruh kencang. Dia ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia lalu mengalihkan perhatiannya dari Hiruma dan melihat ke dinding di sebelahnya.
"Oke. Aku akan disini selama satu bulan," ujar Mamori setelah berhasil menenangkan suaranya. "Aku akan membantu apapun yang kamu perlukan. Tapi aku tidak akan tinggal bersamamu 'disini'."
"Kau harus tinggal disini."
"Disini cuma ada satu kamar!"
Hiruma menatap lekat-lekat ke Mamori. "Kenapa memang, heh? Aku bisa tidur di sofa. Atau kau yang tidur di sofa."
"Aku tidak mau. Aku akan tinggal di hotel."
Hiruma menyeringai. Dia lalu berjalan menghampiri Mamori. "Hotel? Sebulan di Amerika dan kau mau menginap di hotel?" tanyanya. "Uang tabunganmu sebagai interpreter dulu plus gajimu bertahun-tahun kerja di perpustakaan juga tidak akan cukup," tambahnya lalu mengambil koper Mamori dan menariknya ke dalam.
"Kau... Bagaimana kau―" sahut Mamori dan menatap Hiruma tidak percaya. "Dasar penjahat."
"Hari ini sudah dua kali kau memakiku," ujar Hiruma, membuka pintu kamar dan memasukkan koper Mamori. "Ayo kita makan siang. Aku tahu kau lapar."
.
.
Mereka makan siang di kafe terdekat dari apartemen. Mamori tetap tidak bicara apa-apa. Dia masih kesal terhadap Hiruma. Hiruma sendiri pun bukan orang yang banyak bicara. Tidak ada hal yang ingin ditanyakan Hiruma, karena dia sudah tahu segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan Mamori. Jadi saat ini, mereka berdua hanya diam menikmati makan siang mereka.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah selesai makan dan kembali ke apartemen. Bagi Mamori, tadi itu adalah makan siang paling tidak enak yang pernah dimakannya. Bukan karena makanannya, tapi karena suasana dan orang yang duduk bersamanya. Di jalan kembali ke apartemen pun, Mamori seperti sedang berjalan sendirian, seperti tidak ada laki-laki pirang di sebelahnya. Laki-laki ini, setelah sekian lama tidak melihatnya, masih sanggup membuat Mamori berdebar hanya dengan mencium aroma tubuhnya. Menyebalkan.
Hiruma memasukkan password-nya. Mamori melihat dan menghapalnya untuk jaga-jaga agar dia bisa keluar. Saat itu juga Mamori tertegun, dan menyadari kalau nomor yang ditekan Hiruma adalah tanggal lahir Mamori sendiri. Hati Mamori berdebar lagi, dan dia langsung berpaling pura-pura tidak lihat saat Hiruma membukakan pintu untuknya.
Mamori masuk diikuti dengan Hiruma yang menutup pintu itu kembali dan langsung terkunci otomatis. Mamori membuka blazernya dan masuk ke kamar untuk menggantungkannya di gantungan baju. Dia lalu mengambil kaos dan celana panjang dari dalam koper. Dia baru sadar bahwa dia belum mandi selama dua belas jam lebih. Jadi dia ingin mandi dan membersihkan dirinya.
Masih dengan diamnya, Mamori masuk ke kamar mandi tanpa izin dulu dari Hiruma. Biar saja, Hiruma sendiri yang memintanya tinggal disini, jadi dia akan melakukan apapun sesuka hatinya.
Ponsel Mamori berdering dari dalam tasnya di atas sofa. Hiruma membuka dan mengambilnya. Dia melihat nama Suzuna disana. Hiruma tidak bisa mengangkatnya, karena dia tidak boleh berhubungan dengan orang-orang yang ada di Jepang lagi. Akhirnya dia bangun dan berjalan ke kamar mandi. Hiruma membuka pintunya tanpa melihat Mamori yang sudah berada di dalam shower.
"Ada telepon," sahut Hiruma, meletakkan ponsel Mamori di atas wastafel lalu menutup pintunya kembali.
Mamori mematikan air dan menjulurkan tangan mengambil ponselnya. "Ya Suzuna?"
"Mamo-Nee, kamu sudah sampai?"
"Ya. Aku sudah sampai beberapa jam lalu. Seharusnya kamu tidur," jawab Mamori.
"Aku tidak bisa tidur karena kamu tidak juga mengabariku Mamo-Nee."
"Aku baik-baik saja. Aku sampai dengan selamat."
"Syukurlah."
"Aku sedang mandi. Nanti aku akan telepon lagi saat di Jepang sudah pagi."
Suzuna tertawa. "Baiklah Mamo-Nee. Sampai nanti."
Mamori mengembalikan kembali ponselnya ke atas wastafel. Beberapa menit dia selesai, setelah itu Mamori memakai baju bersihnya. Dia lalu menjemur handuk di samping wastafel dan keluar kamar mandi. Dia melihat Hiruma duduk di sofa dan sibuk dengan laptopnya lagi. Mamori berusaha duduk di sebelahnya. Dia lalu menyalakan televisi dan tidak memedulikan Hiruma.
"Sampai kapan kamu mau tidak bicara seperti ini?" tanya Hiruma.
Mamori mengangkat bahu.
"Sialan. Kalau kau diam saja, untuk apa kamu disini?"
Mamori menoleh dan menatap tajam. Dari saat bertemu tadi, baru sekarang inilah Mamori benar-benar melihatnya dalam jarak yang sangat dekat seperti ini. "Itu yang aku tanyakan padamu tadi. Untuk apa aku disini?"
"Kalau begitu bicaralah. Jangan mendiamiku seolah aku tidak ada."
"Aku kesal," jawab Mamori singkat.
"Jangan seperti anak kecil."
"Aku? Seperti anak kecil?" tunjuk Mamori kepada dirinya sendiri. "Kamu menghilang selama dua tahun, lalu aku marah dan kamu menganggapku anak kecil?" ungkapnya tidak percaya. "Setidaknya minta maaflah kepadaku, bodoh!" kesalnya.
Hiruma menaruh laptopnya ke atas meja di depannya. Dia lalu menghadap ke Mamori dan menatapnya beberapa saat. Tangan kanannya lalu membelai rambut Mamori dan menyelinap turun ke belakang lehernya. Dia lalu menarik perlahan wajah Mamori mendekat dan menatap matanya dalam-dalam.
"Jangan berani-beraninya kau menciumku," sahut Mamori tegas, menyadarkan Hiruma yang sudah larut di dalam pikirannya.
Hiruma tidak menjauh dan juga tidak melepaskan Mamori. "Bagaimana kau tahu aku mau menciummu?"
"Aku tahu kebiasaanmu," jawab Mamori yakin. Sama yakinnya dengan tatapan Hiruma yang menatapnya. "Seperti inilah kebiasaanmu saat mau menciumku."
Hiruma menyeringai. "Kalau begitu, aku tidak akan segan-segan." Hiruma lalu memiringkan kepala dan lebih mendekat ke Mamori untuk menciumnya.
Mamori yang sudah tahu apa yang akan terjadi, menginjak kaki Hiruma kencang-kencang.
"Sialan! Kau menginjak kakiku!"
"Itu akibatnya kalau berani mencoba menciumku." Mamori bangun dan segera masuk ke kamarnya. Dia lalu menguncinya.
"Jangan dikunci, bodoh. Barang-barangku semua ada di dalam," sahut Hiruma.
Mamori mendengarnya. Dia bersandar di pintu dan masih sibuk dengan pikirannya. Dia memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. Dia tidak kuat lama-lama berada di sebelah Hiruma yang hampir menciumnya seperti tadi. Dia masih bisa merasakan belaian tangan Hiruma di rambut dan di lehernya. Napasnya yang begitu dekat dan suaranya yang begitu dalam. Mamori tidak bisa membiarkannya. Kalau seperti ini, dia akan jatuh lagi ke perangkap Hiruma.
.
.
Setelah kejadian tadi, seharian ini kerjaan Mamori hanya duduk kursi santai di beranda. Dari lantai dua puluh tiga ini, Mamori bisa melihat hiruk-pikuk kota Amerika. Anginnya kencang, tapi menyejukkan. Langit sore pun begitu mendukung dengan Matahari yang miring ke barat, sehingga tidak memancar langsung ke Mamori. Mungkin saat pagi hari lebih indah, karena bisa melihat langsung matahari terbit.
Mamori memejamkan mata. Rasanya setelah penerbangan dua belas jam lebih, dia masih terus merasa mengantuk. Yang lebih penting, dia tidak mau keluar kamar. Karena di luar sana ada Hiruma. Dan Mamori merasa tidak aman, karena jantungnya terus berdegup kencang saat melihat orang itu. Mamori mendengar pintu kamar terbuka, dan saat itu dia langsung merasa sebal. Mamori tidak mau menoleh, karena dia tahu siapa yang masuk ke dalam. Dia lalu mendengar Hiruma membuka lemarinya.
"Jangan tidur disana. Nanti kau masuk angin."
Mamori tidak menjawabnya. Beberapa saat kemudian dia merasakan aroma sabun mendekat ke arahnya. Mamori masih tetap tidak bergeming.
Seketika Mamori merasa dirinya melayang. Dia langsung membuka mata kaget dan melihat ke Hiruma yang sudah menggendongnya. "Apa-apaan kau―!" protes Mamori. Dia lalu melihat ke Hiruma yang bertelanjang dada. Tanpa disadarinya, tangannya sendiri sedang memeganginya. Dengan cepat Mamori menjauhkan tangannya. "Kenapa kamu tidak pakai baju!?"
"Aku pakai handuk," jawab Hiruma santai lalu membawa Mamori masuk ke dalam.
Mamori berusaha memfokuskan dirinya. "Turunkan aku!" perintahnya.
Saat itu juga Hiruma melepaskan gendongannya dan menjatuhkan Mamori ke kasur.
Mamori menjerit pelan karena kaget dan bokongnya yang merasakan nyeri. Dia lalu terduduk dan melempar bantal ke Hiruma. "Kau menyebalkan!"
Dengan santai Hiruma kembali ke lemari dan memakai bajunya. Mamori yang menyadari Hiruma akan memakai celananya, lalu bangun dan keluar kamar. Belum sehari saja, emosi Mamori sudah naik-turun seperti ini. Bagaimana kalau sebulan?
.
.
To Be Continue
.
Catatan Kecil:
Sebenarnya saya tidak mengerti apa menelepon dari Jepang ke Amerika bisa menggunakan nomor yang sama atau tidak. Tapi... Biarlah XD
Mohon dimaklumi karena ketidaktahuan saya.
Salam: De
