Veve-chan bilang Hiruma nya OOC di chap 4. Well, kalau Hiruma sudah romantis, itu berarti dia OOC XD ! Nah, di chap ini, Hiruma malah lebih parah OOC-nya. So, check it out!

.

Chapter 5

.

"The ones that you love the most are usually the ones that hurt you the most." - Kati Tgj -

.

Mamori siap untuk jalan-jalan keliling kota sendiri. Tas selempang, lace panel ungu, serta jins dan wedges yang dipakai kemarin. Karena niat awal Mamori adalah untuk bekerja, jadi dia hanya membawa dua heels hitam untuk bekerja. Jadi Mamori berniat membeli sepatu flat atau sneaker untuk jalan-jalan nanti. Pakaian yang dibawa Mamori juga kebanyakan kemeja, rok, dan blazer untuk bekerja. Semuanya memang salah Hiruma, keluhnya. Semua yang dibawa Mamori jadi sia-sia.

Mamori tidak takut tersesat. Selama dia bisa bahasa Inggris, dia akan aman-aman saja. Walau begitu, Hiruma yang tidak ada hubungan atau kepentingan apapun dengan dirinya, tetap melarang Mamori untuk keluar.

"Baiklah. Aku tidak akan kemana-mana," ujar Mamori, kembali duduk di sofa. Dia dengan suka rela mengalah kepada Hiruma. Karena dia sudah punya rencana cadangan. Kalau Hiruma melarang dan menguncinya seharian di apartemen, Mamori bisa diam-diam keluar saat Hiruma bekerja, karena dia sudah tahu password apartemen Hiruma.

Hiruma mengamati Mamori sesaat. "Kau kira aku bodoh?" balas Hiruma. "Aku tahu kau sudah hapal password-nya." Hiruma lalu berjalan ke pintu.

Mamori, yang sudah tahu apa yang akan dilakukan Hiruma, berlari ke pintu, mendahuluinya dan menghadang di depan interkom. "Jangan diganti."

"Tentu saja harus aku ganti," sahut Hiruma yang sudah berdiri dihadapan Mamori dan berniat menyingkirkannya.

Mamori, berpegangan pada gagang pintu dengan tangan kanannya, dan ke dinding dengan tangan kirinya. "Aku bukan tahanan, aku juga mau keluar. Untuk apa aku di Amerika kalau aku hanya diam saja, di sini?" katanya, dengan menekankan kata terakhir.

"Aku akan panggilkan Kakek sialan itu. Biar dia yang mengantarmu dengan mobil."

"Apa? Kalau aku keluar diantar Paman Harrold, itu namanya bukan jalan-jalan, tapi dikawal."

"Kalau bersamaku, berarti jalan-jalan?"

Mamori terdiam berpikir. "Mm... Kalau begitu, dengan Paman Harrold saja." Mamori lalu mundur teratur dari depan interkom. "Silahkan ganti password-nya. Jangan lupa panggil Paman Harrold. Aku akan tunggu disini. Selamat bekerja," ujarnya memasang senyum terbaik.

Hiruma mengamati Mamori yang mundur ke belakangnya. Tidak percaya dengan apa yang diucapkannya. "Aku akan kembali tiga jam lagi. Kau tunggu aku."

Mamori menatap kaget, "kau bilang dengan Paman Harrold? Aku mau dengan paman, bukan denganmu," jelas Mamori, mempertegasnya.

"Kau menyakitiku," sahut Hiruma lalu dengan cepat mengganti password-nya.

"Aku belum sarapan. Kalau kamu mengurungku, bagaimana aku bisa makan?"

"Kalau begitu, kau mau ikut ke kantor?"

"Dengan pakaian seperti ini?"

"Kenapa? Aku juga cuma pakai begini," ujar Hiruma bersamaan dengan Mamori yang memperhatikannya dari kepala sampai ujung kaki. Hiruma hanya memakai turtleneck shirt hitam, jins hitam, dan jas putih di tangannya.

"Kau kan BOS-nya. Jadi tidak masalah," sahut Mamori.

"Jadi mau ikut atau tidak?" ajak Hiruma lagi.

Mamori menggeleng, "Daripada bersamamu dari pagi, lebih baik aku menunggu disini."

"Keh. Aku akan telepon Kakek sialan itu untuk mengantarkanmu makanan," sahut Hiruma membuka pintu. "Kau tunggu aku dan jangan kabur."

Mamori memperhatikan sampai Hiruma menutup pintu. Setelah itu Mamori tersenyum puas, dan Hiruma tidak tahu apa yang akan direncanakannya.

.

.

Sudah dua puluh menit Mamori duduk di lantai teras depan menunggu kakek alias Paman Harrold, pelayan pribadi Hiruma, mengantarkan makanan. Mamori menunggu bukan karena sudah tidak bisa menahan rasa laparnya, tapi menunggu saat-saat untuk kabur. Jadi saat Paman Harrold membuka pintu, Mamori akan ikut keluar bersamanya. Paman itu tidak mungkin bisa menahan Mamori, karena dia terlihat lemah. Kalau perlu, Mamori juga tidak ingin berlari. Dengan sandal seperti ini, hanya akan membuat kakinya cepat sakit.

Mamori langsung bangkit saat mendengar suara bunyi password. Dia lalu menunggu di depan pintu sampai pintu terbuka.

"Selamat pagi Paman Harrold," sapa Mamori ramah sambil tersenyum.

Mamori pun langsung membuka lebar-lebar pintunya dan keluar, membuat kakek itu bingung melihatnya.

"Nona, Nona tidak boleh keluar," ujar kakek itu masih tetap menunduk.

"Maafkan aku Paman, aku harus keluar."

"Tapi Nona, nanti Tuan muda marah kalau Nona keluar."

Mamori tersenyum sambil memegang pundak kakek itu. "Youichi, oh maksudku Tuan muda Andersen tidak akan marah padaku."

"Tuan muda tidak akan marah pada Nona, tapi beliau akan marah kepada saya."

Mamori mendengar suara kakek itu yang ketakutan, membuatnya tidak tega untuk meneruskan rencananya. Tapi dia benar-benar ingin keluar sendiri, tanpa ditemani Hiruma ataupun kakek ini. "Begini saja. Aku akan bilang pada Tuan muda kalau ini bukan salah Paman. Aku yang bertanggung jawab. Paman jangan takut. Dia memang pemarah, tapi dia tidak pernah main kasar. Aku akan melindungi Paman."

"Tapi Nona―"

"Aku hanya keluar sebentar. Aku akan kembali," sela Mamori. "Coba berikan nomor ponselnya. Biar aku yang menghubunginya nanti."

Saat berkata seperti itu, Mamori mendengar derap langkah berat datang dari arah belakangnya. Dua orang tinggi besar dan berbaju hitam mendekat ke arahnya lalu memegangi lengannya.

"Maafkan saya Nona. Ini perintah Tuan Muda. Nona tidak boleh keluar," sahut kakek itu.

"Tunggu, lepaskan," protes Mamori kepada dua orang yang memegangi lengannya. "Oke, aku akan masuk kembali ke dalam. Jadi tolong lepaskan aku."

Kedua pria itu melepaskan Mamori. Mamori lalu kesal dan kembali masuk ke dalam diikuti dengan kakek itu yang sudah menutup pintunya kembali.

"Maafkan saya Nona." Paman Harrold lalu mengambil beberapa piring dan menaruhnya di atas meja makan.

"Biar aku saja yang menyiapkannya. Paman tidak perlu melakukannya," sahut Mamori lalu duduk di kursi.

Kakek itu lalu mundur dan menunduk lagi.

"Bisa berikan ponsel Paman? Aku mau menghubungi Youichi," tambah Mamori. Dia sudah malas dan kesal menyebut Hiruma dengan Tuan muda, direktur, atau Tuan muda Andersen.

"Mohon tunggu sebentar," ujar kakek itu. Dia lalu menyambungkan teleponnya ke Hiruma. "Maaf Tuan muda. Nona ingin bicara dengan anda," sapanya lalu memberikan ponselnya ke Mamori.

"Kau keterlaluan!" bentak Mamori, sudah berganti dengan bahasa Jepang. "Kau tidak bisa seenaknya seperti ini. Aku bukan tahanan!"

Hiruma terkekeh, "kalau kau merasa sudah sepuluh langkah di depanku, maka kenyataannya aku juga sudah dua puluh langkah lebih dulu di depanmu."

Mamori benar-benar ingin mengumpat dan mencaci maki orang ini. "Benar-benar kau! Aku benci padamu! Aku batalkan kontrak dan aku mau pulang ke Jepang!" Mamori lalu memberikan ponselnya kembali ke kakek itu. "Terima kasih," ujarnya kepada kakek itu.

"Kalau begitu, saya permisi Nona," pamitnya.

"Sekali lagi terima kasih Paman. Maaf sudah merepotkan."

.

.

Setelah selesai sarapan, dia lalu memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam koper. Mamori sungguh tidak tahan dengan sikap Hiruma yang seenaknya. Sekarang dia akan benar-benar pergi dari sini, dan pulang ke Jepang.

Suara password interkom berbunyi. Hiruma kembali lebih cepat dari perkiraan Mamori, dan untungnya Mamori pun sudah siap untuk keluar dan pergi dari sini.

Mamori keluar kamar dan melihat Hiruma. Dia lalu melewatinya tanpa kata-kata. "Buka pintunya," ucap Mamori dingin.

"Jangan pergi," sahut Hiruma, menahan tangan Mamori.

"Cepat buka pintunya," ujar Mamori lagi dan menarik tangannya dari Hiruma.

"Aku tidak bisa."

Mamori berbalik dan detik berikutnya, Mamori sudah menampar Hiruma. "Seharusnya itu yang aku lakukan saat pertama kali melihatmu. Seharusnya aku melakukannya karena kau pergi dua tahun lalu!" Mamori memukuli dada Hiruma kencang bersamaan dengan air matanya yang sudah mengalir. "Seharusnya aku benci padamu setelah apa yang kau lakukan padaku!" Isak tangis Mamori sudah tidak bisa ditahan lagi.

Hiruma berusaha menahan Mamori yang tidak terkendali dan memegangi kedua tangannya kencang-kencang.

Mamori yang sudah tidak bisa bergerak, merasakan Hiruma yang sudah memeluknya kencang, membuatnya kembali menangis sekeras-kerasnya.

"Maafkan aku," lirih Hiruma tepat di telinga Mamori.

"Aku benci padamu...," ucap Mamori di tengah isak tangisnya.

"Maaf." Hiruma mengencangkan pelukannya dan mengelus rambut dan punggung Mamori supaya dia berhenti menangis. "Aku akan melakukan apa yang kau mau. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Asal kau jangan pergi."

Mamori tidak menjawab, dan hanya diam dalam isak tangisnya.

.

.

Masih dengan kebiasaan lamanya, Mamori tertidur di pelukan Hiruma setelah menangis terisak-isak beberapa puluh menit. Hiruma yang membawa mereka duduk di sofa, hanya bisa meratapi Mamori yang tidak bisa berhenti menangis. Hiruma memang tahu segalanya tentang kehidupan Mamori selama dua tahun dia pergi, tapi dia tidak tahu kalau dampaknya akan segini besar terhadap Mamori karena Hiruma meninggalkannya. Apa itu berarti Mamori masih mencintainya? Atau sekarang hanya ada rasa benci seperti yang selalu dilontarkannya kepada Hiruma? Hiruma sama sekali tidak tahu.

Ponselnya berbunyi dan dia melihat nama kakek itu di layar. "Aku sibuk. Nanti saja telepon lagi."

"Tunggu Tuan muda. Saya sudah di depan pintu. Saya hanya mau memberikan pesanan anda."

"Kalau begitu, masuklah dan taruh saja di teras depan."

"Baik."

Setelah Hiruma memutuskan teleponnya, terdengar suara password dimasukkan dan pintu terbuka. "Saya letakkan barangnya disini. Saya permisi."

Pintu lalu tertutup kembali.

.

.

Mamori membuka matanya perlahan, dia mengumpulkan kesadarannya kembali. Perlahan dia sadar, kalau dia tengah berada di atas dada Hiruma yang tertidur sambil memeluknya. Ingatan Mamori pun kembali utuh. Dia menghela napas, lagi-lagi dia menangis sampai tertidur. Dan untungnya, hanya Hiruma lah orang yang selalu berhasil menyakitinya sampai dia menangis tiada henti, dan akhirnya tertidur di pelukannya.

Mamori bangun bersamaan dengan Hiruma yang juga mulai membuka matanya. Mamori melihat jam dinding, yang masih jam dua belas siang. Dia lalu bergeser dari Hiruma, tidak tahu harus memasang wajah seperti apa setelah semua yang terjadi tadi. Antara malu karena sudah mengeluarkan semua kekesalannya dan malu karena telah tertidur di pelukannya.

Mamori merapikan rambut dan bajunya yang berantakan. Sementara Hiruma bangun, dan mengambil dua minuman kaleng dari kulkas. Dia membuka dan memberikannya kepada Mamori, lalu membuka yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.

"Terima kasih," sahut Mamori.

"Kau masih mau keluar jalan-jalan?"

Mamori memandang Hiruma sambil berpikir. "Ya," jawabnya. Dia lalu memperhatikan Hiruma yang berjalan ke teras depan, lalu kembali ke Mamori dengan membawa kotak di tangannya.

Hiruma duduk dan membuka kotak itu. "Pakailah. Ganti dengan ini."

Mamori melihat sepasang sneaker putih yang ditaruh Hiruma di depan kakinya.

"Aku tahu kau tidak bisa lama-lama berjalan jauh kalau pakai sepatu hak sialan itu," sahut Hiruma. "Jadi aku belikan dulu ini. Dan sisanya, semua barang yang kau butuhkan, biar kau saja yang pilih."

"Tidak perlu repot-repot, tapi terima kasih," ujar Mamori, kali ini dia tersenyum tulus kepada Hiruma.

Melihat senyum Mamori, Hiruma merasa tidak ada yang lebih berharga daripada melihat Mamori yang kembali tersenyum kepadanya seperti dulu lagi.

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Hai! Gimana-gimana chapter 5 nya? Kalian pasti ga nyangka kan kalau saya bakal cepat update? Nah, berhubung saya hari ini lagi penat dan gloomy banget, semoga saja Review dari kalian bisa membangkitkan semangat saya melanjutkan chapter 12 (loh? Malah dibocorin lagi)

Chapter ini saya persembahkan untuk semua pembaca, khususnya sfj-san, semoga hasil un dan snmptn-nya memuaskan dan lulus dua-duanya (amiin). And good luck with your college life~! Dan untuk Indyoshi Kisame-san, saya cengar-cengir sendiri baca Review kamu. Mungkin nanti akan saya pertimbangkan usul kamu itu XD (walaupun saya belum nonton filmnya)

So please review, fav, and alert. It'll make my day! Thanks~!

Salam: De