Okeey! Saya update karena permintaan pembaca yang minta saya cepat-cepat update terus! XD Nah, berhubung sekarang malam minggu, saya mau menghibur dan menemani pembaca yang ga bisa malam mingguan~! XD
.
Chapter 6
.
"I heard what you said. I'm not the silly romantic you think. I don't want the heavens or the shooting stars. I don't want gemstones or gold. I have those things already. I want... a steady hand. A kind soul. I want to fall asleep, and wake, knowing my heart is safe. I want to love, and be loved." - Shana Abe -
.
Selesai membeli beberapa potong baju santai, Mamori dan Hiruma beranjak untuk makan malam. Mamori tidak membeli banyak, tentu saja karena dia tidak mungkin berangkat membawa satu koper, lalu saat pulang kopernya bertambah satu karena dia belanja ini itu. Mamori hanya membeli dua potong baju, itu pun Hiruma yang membayarnya. Mamori sebenarnya tidak mau, tapi karena Hiruma sudah memberikan kartu kreditnya kepada pelayan toko tanpa sepengetahuannya, Mamori tidak bisa berbuat apa-apa. Dan untungnya Mamori tidak membeli banyak, karena memang niat awal dia hanya ingin beli dua potong mengingat harga di toko ini tidak murah.
Mamori tidak berniat membeli sepatu lagi, karena sneaker yang dipakainya saat ini cukup nyaman dan cocok dipakai untuk jalan-jalan. Tapi tanpa sepengetahuan Mamori lagi, Hiruma ternyata membeli gaun cantik, saat tiba-tiba Mamori ditarik masuk ke sebuah salon. Setelah dirias natural dan rambutnya dibentuk sedemikian rupa, Mamori diminta berganti dengan Mesh V-Shift Dress warna hitam. Cantik, begitulah yang Mamori dengar berkali-kali dari dua orang yang membantunya berhias tadi. Hiruma tentu tidak berkata apa-apa. Dia hanya memandang sekitar sepuluh detik, setelah itu berdeham dan bangun dari duduknya untuk membayar ke kasir.
Tidak sampai disitu, saat Hiruma ke kasir, salah satu petugas tadi datang menghampiri Mamori dan memberikan kotak sepatu. Dia lalu membukanya dan melihat heels merah yang sangat cantik. Mamori terkesima, dan seketika itu dia menghela napas. Hiruma membelikannya sesuatu lagi. Bagaimana dia bisa pulang kembali ke Jepang dengan barang-barang yang bertambah seperempat dari isi kopernya?
Hari ternyata sudah hampir gelap saat mereka selesai mendandani Mamori. Sekarang Mamori tahu kenapa dia dirias seperti ini, karena sekarang mereka sudah sampai di restoran bintang empat dengan landscape yang indah. Mamori pikir Hiruma akan mengajaknya makan malam di tempat sederhana, bukan tempat yang membuat pegal seperti ini.
"Bukannya ini berlebihan?" tanya Mamori yang berjalan di samping Hiruma memasuki gedung untuk menuju lift.
"Biasa saja," jawab Hiruma.
Mamori memandang Hiruma sesaat lalu berkata. "Ah ya. Tentu saja kamu sudah biasa."
Hiruma menoleh dan menatap Mamori. "Jangan memandangku dan berpikir seolah aku orang lain yang tidak kamu kenal lagi karena kehidupanku sudah berubah."
Mamori berdeham, dia lalu memalingkan wajahnya. "Aku tidak berpikir seperti itu."
Mereka lalu masuk ke lift dan Hiruma menekan lantai lima puluh delapan.
"Sudah berapa wanita yang pernah kamu ajak kesini?" tanya Mamori lagi.
"Aku baru pertama kali kesini."
Mamori mengangguk-angguk. "Jadi, setiap tempat selalu dengan wanita yang berbeda-beda. Aku mengerti."
"Kau, jangan memulai," balas Hiruma.
"kalau benar juga tidak apa-apa," ujar Mamori lagi.
Mereka sudah tiba di lantai lima puluh delapan. Mamori satu langkah di belakang Hiruma sambil memperhatikan ke luar jendala pemandangan langit malam yang indah, bercampur dengan lampu-lampu kota. Hiruma memanggil Mamori yang hampir tidak berjalan karena terkagum-kagum melihat keluar jendela.
"Selamat malam. Apa sudah memesan tempat?" tanya wanita di reservation.
"Ya," jawab Hiruma.
"Atas nama siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Andersen."
Wanita itu mengecek ke komputer sesaat. Lalu tersenyum lagi ke Hiruma. "Silahkan masuk."
Hiruma dan Mamori lalu masuk ke dalam.
Di dalam, mereka disambut dengan pelayan, "Tuan Andersen?" tanyanya.
"Ya," jawab Hiruma lagi.
"Silahkan ikut saya."
Mamori mengikuti pelayan itu di belakang Hiruma, sambil melihat ke sekeliling. Restoran ini cukup tenang, karena hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Karena mungkin memang restoran ini dikhususkan untuk mereka yang ingin mencari suasana tenang dan ingin mengobrol santai. Karena itu sepertinya, yang ingin datang kesini, harus memesan tempat dulu.
Mamori duduk di kursi saat pelayan laki-laki itu menarik kursi untuknya. Mamori tersenyum dan berterima kasih. Pelayan itu lalu memberikan Mamori dan Hiruma daftar menu, lalu pamit meninggalkan mereka.
Mamori melihat daftar menu tersebut, "Kamu serius?" tanyanya.
"Kenapa?"
"Makanan disini mahal! Yang paling murah saja dua ribu dollar! Itu juga cuma salad!?"
"Kalau begitu jangan pesan salad sialan itu. Pesan saja yang lain."
Mamori menghela napas. "Aku bingung mau pesan apa."
"Kalau begitu...," Hiruma mengangkat tangannya memanggil pelayan. "Steak dua dan, berikan wine terbaik disini," katanya kepada pelayan yang sudah menghampiri mereka.
"Kamu minum anggur?" tanya Mamori tidak percaya. "Jangan pesan wine. Kami pesan lemonade saja," ujarnya kepada pelayan itu.
"Baik. Ada lagi Nyonya?" tanya pelayan itu.
"Tidak. Terima kasih," jawab Mamori ramah.
Pelayan itu lalu meninggalkan meja mereka.
Mamori kembali kepada Hiruma dan menajamkan tatapannya. "Sejak kapan kamu minum?"
Hiruma mengangkat bahu. "Sejak aku tidak bisa melihatmu lagi."
Mamori menahan diri mendengar jawaban Hiruma. "Aku serius," sahut Mamori pasrah. "Jangan jadikan aku alasan."
"Memang benar, heh."
"Kalau begitu kamu tidak boleh minum lagi."
"Tergantung."
"Kamu bilang mau melakukan apa yang kukatakan. Jadi kamu tidak boleh minum lagi," perintah Mamori, menahan malunya karena mengingat kejadian tadi siang.
"Kalau begitu kamu tidak akan pergi?" tanya Hiruma balik.
Mamori memutar bola matanya berpikir, "aku tidak tahu."
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Hiruma tiba-tiba, membuat Mamori tersedak tanpa sebab.
"Youichi. Kamu tidak boleh mengatakannya semudah itu," jawab Mamori. "Jangan bercanda."
Pelayan lalu datang membawa minuman pesanan mereka. Mamori lalu mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Jadi, kamu selama ini ada di Amerika?"
"Ya."
"Sendiri?"
"Tidak."
"Perusahaan Dayfree itu milik keluargamu?"
"Milik keluarga kakek sialanku."
"Tidak ada keluarga dari kakekmu yang mengurusnya?"
"Sejak dua generasi sebelumnya, keluarga Andersen hanya punya satu anak. Ibuku anak tunggal. Jadi aku satu-satunya cucu yang dimiliki pak tua itu."
Mamori memandang tidak percaya karena baru saja mendengar informasi baru tentang Hiruma setelah mengenalnya bertahun-tahun. "Jadi ibumu orang Amerika?"
"Bukan. Ibuku turunan Amerika Jepang."
"Apa kakekmu masih hidup?"
"Ya," jawab Hiruma lalu melihat Mamori yang hendak membuka mulutnya untuk bertanya. "Kenapa kau jadi mengintrogasiku, bodoh?"
Mamori tersenyum. "Karena kamu bilang, akan menuruti semua keinginanku, berarti itu termasuk kamu juga harus menjawab pertanyaanku."
"Tidak bisa begitu, heh."
"Tentu saja bisa. Itu perjanjiannya," jawabnya tersenyum.
Hiruma menyeringai, "sejak kapan kau jadi suka memanfaatkan orang lain?"
Mamori menaikkan bahu. "Entahlah. Tapi itu namanya memanfaatkan kesempatan," jawab Mamori. "Bukan orang lain."
Pelayan lalu datang lagi membawakan makanan pesanan mereka. "Selamat menikmati," ujarnya lalu meninggalkan meja lagi.
Mamori memandangi steak di depannya sambil perlahan mencium aromanya. Setelah seharian berbelanja, ternyata dia sudah sangat lapar, dan mencium aroma steak ini, sungguh menggugah seleranya.
Sambil memotong steak-nya, Mamori berkata, "Hei, ini bukan seperti dirimu."
"Memang aku seperti apa?"
Mamori mengangguk, sambil menyelesaikan suapannya. "Kamu tahu, kamu itu jauh dari hal-hal seperti ini. Yang romantis-romantis seperti ini."
"Karena ada sesuatu yang penting yang ingin kukatakan," jawab Hiruma. Berhenti sesaat sambil mempersiapkan kata-katanya. "Aku mau kamu menikah denganku."
Mamori, menyerup lemonade-nya lalu memalingkan tatapannya dari Hiruma. "Sudahlah Youichi," ujar Mamori. "Tidak baik seperti itu. Jangan katakan itu ke sembarang perempuan. Mereka bisa salah paham. Kita makan dulu saja. Steak ini enak sekali." Mamori lalu tersenyum dan melanjutkan makannya.
.
.
Jam setengah sembilan malam, mereka tiba di apartemen. Mamori menjatuhkan dirinya di sofa. Mamori menghela napas, memikirkan percakapan mereka tadi di restoran. Semuanya begitu baru, khususnya kata-kata yang diucapkan Hiruma dua kali kepadanya, bahwa Hiruma ingin dia menikah dengannya. Mamori mengerti dan tahu kalau Hiruma bersungguh-sungguh mengatakan itu, tapi Mamori tidak yakin, dia takut dengan pilihannya sendiri. Jadi dia hanya bersikap menyebalkan seolah Hiruma tidak bersungguh-sungguh.
"Kau ingin mandi duluan, heh?"
Hiruma menyadarkan Mamori yang tengah melamun sambil memejamkan matanya. "Kamu dulu saja," jawab Mamori. "Aku mau berendam."
"Keh."
Tidak sampai sepuluh menit Hiruma mandi. Mamori pun langsung masuk kamar dan mengambil bajunya. Saat keluar kamar, dia melihat Hiruma yang sudah tiduran di sofa dan sudah mengenakan pakaian. Mamori lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah memenuhi bathtub dengan air hangat, Mamori membuka baju dan perlahan memasukkan kakinya ke dalam air. Di dalam air hangat ini, Mamori merasa nyaman. Dia lalu menurunkan kepalanya dan bersandar. Dia merasa mengantuk lagi dan memejamkan matanya. Napasnya begitu tenang dan damai. Di luar kendalinya, Mamori sudah terlelap begitu saja.
.
.
Hiruma tiba-tiba terjaga. Ternyata dia ketiduran setelah mandi tadi. Dia lalu melihat ke jam dinding dan ternyata sudah satu jam lebih dia tertidur. Hiruma lalu bangun dan beranjak ke kamar untuk mengambil selimut.
Hiruma melihat pintu kamar yang tidak ditutup dan lampunya masih menyala. Saat masuk, dia tidak melihat Mamori, di beranda pun juga tidak ada. Hiruma merasakan kepanikan dalam dirinya. Dia lalu melihat koper Mamori yang masih ada di samping lemari. Ternyata Mamori tidak pergi, pikirnya.
Hiruma pun keluar kamar dan melihat tas tangan Mamori yang masih ada di atas kabinet. Dia lalu ke dapur, dan Mamori juga tidak ada disana.
"Kemana wanita sialan itu," gumam Hiruma. Dia tidak tahu harus mencari kemana lagi, karena tidak ada tempat tersembunyi yang tidak terlihat mata di apartemennya.
Hiruma lalu menuju teras depan. Sesaat, Hiruma menghentikan langkahnya dan dia mulai merasa kaku. Dia menengok ke pintu di sebelahnya, pintu kamar mandi.
Hiruma mengetuk pintunya, "Heh, kau masih di dalam?" tanya Hiruma namun tidak ada jawaban.
Samar-samar Hiruma mendengar suara air yang mengalir pelan. Hiruma memegang gagang pintu untuk mencoba membukanya, namun terkunci.
"Bukalah kalau kau di dalam," sahut Hiruma lagi sambil tetap menggedor pintu kamar mandi. "Sialan Mamori! Kau baik-baik saja?"
Hiruma yang merasa Mamori tidak baik-baik saja di dalam, lalu mendobrak pintunya. Satu kali tidak berhasil. Hiruma mencoba lagi, dan kali ini pintu berhasil terbuka. Matanya lurus melihat Mamori yang tidak sadarkan diri di dalam bathtub. Dengan cepat Hiruma menyambar handuk dan bergegas ke Mamori. Dia lalu menutupi tubuhnya dengan handuk dan mengangkatnya dari dalam air. Sambil menahan tubuh Mamori di pangkuannya, Hiruma membuka baju dan memakaikannya dengan cepat ke Mamori.
"Bodoh, sadarlah!" ujar Hiruma menepuk-nepuk pipi Mamori.
Tidak ada tanda-tanda Mamori akan sadar, Hiruma lalu membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya.
"Hei, Mamori." Hiruma menepuk-nepuk pipi Mamori lagi.
Wajah dan kulit tubuhnya sudah pucat dan dingin. Hiruma meletakkan dengan hati-hati Mamori di kasur. Dia lalu mengambil handuk kering, dan jubah tidurmiliknya di lemari. Setelah itu dia kembali lagi ke Mamori. Dia lalu menarik Mamori perlahan, dan mengeringkan tubuhnya yang masih basah. Setelah itu dia memakaikan jubah tidur dengan susah payah ke tubuhnya.
Hiruma lalu menyandarkan Mamori ke tubuhnya dan mengecek denyut nadi serta mendengar irama napasnya. "Bangunlah bodoh," sahut Hiruma lagi.
Sesaat dia melihat gerakan mata Mamori dan perlahan membuka matanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hiruma.
"Youichi... Apa yang―" Mamori menghentikan ucapannya dan seketika itu tubuhnya merasa aneh. "Kenapa dingin sekali?" Mamori merapatkan tubuhnya ke Hiruma. Hiruma lalu memeluknya dan mengelus lengannya.
"Kau pingsan di kamar mandi, bodoh," jawab Hiruma.
"Tubuhku rasanya aneh. Rasanya dingin sekali," ujar Mamori lagi, terdengar lemah.
"Aku akan buatkan susu hangat." Dengan lembut Hiruma melepaskan Mamori dan menyelimutinya rapat-rapat. Dia lalu mengambil baju dari lemari untuk dirinya sendiri dan menuju ke dapur.
Setelah Hiruma keluar kamar, Mamori merapatkan dirinya ke selimut. Dia bergumul disana supaya tubuhnya terasa lebih hangat. Dia ingat kalau tadi dia tertidur di kamar mandi. Dan sudah berapa lama dia berendam sampai tidak sadarkan diri begitu?
Lima menit Hiruma kembali dan melihat Mamori yang tertidur. "Hei, minum dulu. Baru kau tidur." Hiruma lalu duduk di samping Mamori dan meletakkan susu itu.
Mamori membuka matanya, sementara Hiruma membantunya untuk duduk. Mamori menerima susu hangat dari Hiruma dan sedikit demi sedikit meminumnya. Setelah selesai, Mamori memberikan gelasnya lagi dan kembali membaringkan dirinya ke dalam selimut.
"Kalau begitu tidurlah." Hiruma lalu membantu menyelimutinya.
"Kamu tidur disini saja," sahut Mamori pelan.
"Hah?"
"Jangan salah paham. Kalau kamu disini, rasanya jadi hangat."
Hiruma memandang Mamori sesaat sambil berdebat dengan dirinya sendiri "Keh." Akhirnya dia menjawab.
Hiruma lalu menaruh bantal di samping Mamori, sementara Mamori mendekatkan dirinya. Hiruma lalu berbaring dan menyelipkan lengannya ke leher Mamori dan menariknya mendekat.
"Tubuhmu hangat Youichi."
"Jangan banyak omong. Tidur saja."
Mamori tersenyum, menaruh kepalanya dengan nyaman di lengan Hiruma dan merasakan tangannya yang memeluknya erat. Malam ini, Mamori bisa tidur dengan nyenyak.
.
.
To Be Continue
.
Catatan Kecil:
Cerita ini hanya fiksi belaka. Kalau ada kesalahan fashion atau harga makanan, itu karena penulis tidak tahu apa-apa XD
Salam: De
