Chapter 7

.

"Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up." - Neil Gaiman -

.

Mamori membuka pintu kamar di pagi hari. Dia ingin mengambil minum karena rasanya tenggorokannya kering sekali.

"Selamat pagi. Apa saya membangunkan Nona?"

Mamori menoleh ke asal suara dan melihat kakek pelayan pribadi Hiruma sedang mempersiapkan sesuatu di meja makan.

"Oh, Paman. Tidak apa-apa. Saya memang sudah bangun," jawab Mamori. "Paman sedang apa?"

"Saya sedang menyiapkan sarapan untuk Nona. Kemarin Tuan muda meminta saya untuk menyiapkan sarapan untuk Nona setiap hari."

"Oh ya ampun. Paman tidak perlu repot-repot," sahut Mamori, dengan segera menuju ke meja makan. "Paman tidak harus melakukannya. Dan... Bisa tidak Paman jangan memanggilku Nona? Panggil namaku saja."

"Tidak bisa Nona," jawab kakek itu. "Mohon maaf Nona. Bisa tolong bangunkan Tuan muda? Beliau ada rapat jam sembilan nanti."

"Ya. Akan aku bangunkan."

"Kalau begitu saya permisi." Kakek itu lalu membungkuk.

"Terima kasih Paman," jawab Mamori tersenyum.

Setelah kakek itu pergi, Mamori menuju kulkas untuk mengambil air minum, setelah itu kembali ke dalam kamar. Dia melihat Hiruma yang masih tertidur pulas. Wajah Mamori memerah memikirkan bagaimana semalam dia tertidur sambil terus memeluk Hiruma.

"Bangunlah Youichi." Mamori mengguncang-guncang tubuh Hiruma.

Hiruma bergerak, dan membuka matanya perlahan. Dia lalu melihat Mamori dengan matanya yang masih menyipit.

"Cepat bangun." Mamori menyibakkan selimut dari tubuh Hiruma. "Paman bilang kamu ada rapat jam sembilan nanti."

Hiruma bergeser ke pinggir dekat Mamori. "Aku tidak mau kerja. Aku mau bersantai saja di kasur ini denganmu." Dia lalu menarik Mamori kembali ke tempat tidur.

Mamori menjerit dan berusaha melepaskan diri. "Youichi! Sadarlah. Lepaskan aku." Dia lalu memukul lengan Hiruma kencang. Mamori berhasil bangun, membetulkan jubah tidurnya kembali, dan melihat kaos yang dipakainya ternyata bukan baju miliknya. Mamori menatap sesaat, lalu bertanya, "kenapa aku pakai bajumu?"

Hiruma tidur tengkurap dan menaruh kepalanya kembali ke bantal. "Sudah kubilang kau pingsan di kamar mandi, bodoh," jawabnya malas.

"Aku tahu―" Mamori menghentikan ucapannya, dan terpaku menyadari sesuatu. Dia melihat ke Hiruma yang terpejam lalu menunduk melihat ke pakaiannya lagi. "Berarti kau―"

"Aku tidak melihatnya," sahut Hiruma.

"Kamu bohong! Mana mungkin tidak melihatnya," balas Mamori tambah panik.

"Aku tidak peduli apa yang ada di depanku. Keselamatanmulah yang lebih penting."

Mamori bersyukur bahwa Hiruma masih menutup matanya, karena sekarang Mamori sudah merona dengan jawaban Hiruma. "Ya sudah. Kalau begitu lupakan. Sekarang cepat bangun. Aku mau bereskan kasurnya."

.

.

"Beritahu aku password-nya," rajuk Mamori, berdiri di belakang Hiruma yang menutupi interkom.

Kunci terbuka dan Hiruma membuka pintunya, dia tidak menjawab Mamori.

"Bagaimana nanti kalau ada kebakaran? Gempa bumi? Lalu aku terjebak di dalam karena tidak bisa keluar?"

"Tidak akan terjadi."

"Siapa tahu," balas Mamori. Mamori lalu merangkul lengan Hiruma. "Apa password-nya Youichi..."

Hiruma dengan tangan yang bebas menarik dan merangkul pinggang Mamori. "Kalau aku boleh menciummu, akan aku beritahu password sialan itu."

"Kita tidak ada hubungan apa-apa. Kamu tidak boleh menciumku."

"Kenapa tidak boleh, heh? Semalam saja kita tidur bersama."

"Jangan sembarangan bicara. Nanti ada yang dengar," ujar Mamori.

"Walau ada yang dengar, mereka tidak akan mengerti."

"Tetap saja tidak enak didengar,"

Hiruma menatap lurus ke mata Mamori. "Kau serius mengatakan kita tidak punya hubungan apa-apa?"

Mamori mengangguk ragu. "Ya."

"Apa ada orang lain?"

Mamori ingin sekali menjawab tidak, tapi entah kenapa Mamori berat untuk mengatakannya. "Ya."

Hiruma melepaskan Mamori perlahan, dan beralih ke pintu lagi. "Password-nya namamu," ujar Hiruma.

Mamori merasa ada yang hilang ketika Hiruma melepaskannya. Hiruma terluka, Mamori bisa merasakannya. Pikiran Mamori masih saja melayang ketika Hiruma menutup pintu.

.

.

"Password-nya namaku? Apa maksudnya..."

Mamori berpikir sambil berdiri di depan interkom. Dia sudah rapi dan siap untuk berpetualang sendiri di Amerika. Mamori terus menatap lekat-lekat ke interkom itu. Tombol yang ada hanya tombol angka, tidak ada tombol huruf-nya.

"Oh!"

Mamori tiba-tiba mendapat pencerahan. Dia lalu menekan tombol enam-dua-enam-enam-tujuh-empat, dan kunci berhasil terbuka. Mamori lalu tersenyum ceria dan mendorong pintunya.

"Akhirnya...," Mamori keluar lalu menutup pintu lagi.

"Kamu siapa?"

Mamori menoleh ke belakangnya mendengar suara wanita yang bicara dalam bahasa Inggris. Dia diam sesaat dan akhirnya berkata, "aku?" tanya Mamori lagi.

"Ya. Kamu," jawab wanita itu. "Kenapa kamu keluar dari apartemen tuan Andersen?"

"Aku... Aku temannya," jawab Mamori ragu.

Wanita itu menatap Mamori dari atas sampai bawah. "Jangan bilang... Kalau kamu gadis yang bernama Anezaki Mamori itu?"

Mamori memandang bingung dan dia ragu untuk menjawab. "Ya... Aku Anezaki Mamori."

"Akhirnya!" Wanita itu tersenyum lebar, lalu menjabat tangan Mamori. "Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Perkenalkan, aku Emily."

"Mamori." Mamori menjabat tangannya, masih tetap dalam kebingungannya.

"Apa You ada di dalam?" tanya Emily.

"Youichi?" Emily lalu mengangguk. "Dia sudah berangkat kerja."

Emily lalu memandang Mamori. "Kamu mau keluar? Mau kemana?"

Mamori mengangguk, "jalan-jalan," jawab Mamori masih dengan kebingungannya.

"Kalau begitu, ayo. Aku akan mememanimu." Dia lalu merangkul lengan Mamori dan menariknya menuju lift.

"Ngomong-ngomong, kamu siapa?"

Emily tersenyum. "Aku Emily."

"Tidak. Maksudku, kamu ada hubungan apa dengan Youichi?"

Wanita itu menengok dan melihat ke Mamori. "Aku?" Dia lalu tersenyum. "Aku mantan pacarnya."

Saat itu, rasanya ada guntur yang bergemuruh di atas kepala Mamori.

.

.

"Mantan pacar?" tanya Mamori dengan ragu, saat mereka sudah ada di dalam mobil.

"Ya," jawabnya tersenyum sambil mengemudikan mobilnya. "Sebenarnya bukan pacar. Hubungan kita tidak bisa dibilang serius seperti itu. Kau tahu, seperti friends with benefit? Kita berteman. Tapi saling menghibur satu sama lain."

Mamori kaget mendengarnya. "Hubungan... Seperti itu? "Sejak kapan?" tanya Mamori.

Emily berpikir sambil mengingat-ingat, "sejak dia ke Amerika. Kita bertemu di bar dan sama-sama sedang bosan. Lalu, dengan begitu saja hubungan kita terus berlanjut. Dia orang yang menyenangkan. Dia juga banyak bercerita tentangmu."

"Apa.. Yang dia katakan tentangku?"

"Hm?" Emily menengok sesaat ke Mamori dan mengerti maksud perkataannya. "Dia bilang, kamu pacarnya yang dia campakkan di Jepang."

Mamori menarik napasnya. "Kamu tahu dia punya pacar, tapi kalian masih tetap melakukan hubungan seperti itu?"

Emily tertawa. "Memang kenapa? Ini Amerika. Segala sesuatu bisa terjadi disini," jawabnya. "Tapi kenapa kamu marah? Kamu bukan pacarnya lagi kan?"

"Ah ya... Memang bukan. Hanya saja aku belum pernah mendengar hal itu sebelumnya," jawab Mamori dengan menahan amarahnya. Dia lalu menarik napas menenangkan dirinya.

.

.

Seharian Mamori jalan-jalan bersama Emily. Mulai dari keliling menemani Emily ke pusat perbelanjaan, menonton bioskop, lalu ke tempat-tempat terkenal lainnya. Setelah itu mereka berpisah karena Emily ada urusan mendadak. Sementara Mamori, dia tidak mau kembali dulu dan masih ingin menjernihkan pikirannya.

Emily orang yang menyenangkan. Hanya saja, kenyataan kalau dia sudah melakukan hubungan seperti itu dengan Hiruma, terus mengganggu pikirannya. Lagi-lagi Mamori merasa terkhianati, rasa sakitnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Walau begitu, Mamori berusaha terlihat tegar dan terus menahannya.

Mamori sudah sampai pintu apartemen Hiruma. Sudah sore begini, mungkin Hiruma sudah pulang. Dan Mamori tidak tahu harus memasang wajah seperti apa saat melihatnya, saat memikirkannya saja, dia langsung terbayang dengan Emily.

Mamori menekan password-nya dan membuka pintu. Dia melihat Hiruma duduk di sofa dan sedang memberi makan Cerberus.

Hiruma melihat ke Mamori sekilas, lalu kembali ke Cerberus lagi. "Dari mana saja, heh?"

Mamori berjalan langsung menuju dapur mengambil air. Dia tidak berani lama-lama melihat Hiruma, karena bisa-bisa air mata yang sudah dia tahan langsung tumpah begitu saja. "Aku habis jalan-jalan bersama Emily."

"Emily?"

Jantung Mamori berdetak kencang. Emily? Seumur hidup Mamori, dia tidak pernah mendengar Hiruma menyebut orang lain dengan namanya. Sudah sedalam itukah? Lalu apa artinya lamaran Hiruma kemarin itu? Dia sampai meminta dua kali ke Mamori untuk menikah dengannya. "Ya. Emily."

"Kemana dia sekarang? Dia bilang mau menginap disini."

Mamori duduk di kursi meja makan membelakangi Hiruma. Dia menahan suaranya agar tidak bergetar. "Menginap disini?"

"Ya. Dia biasa menginap disini kalau datang ke Amerika."

Mamori sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Air mata sudah tiba-tiba jatuh dari ujung matanya.

"Ada apa?" tanya Hiruma melihat Mamori yang tidak menanggapinya. "Kau sudah makan, heh?"

Mamori mengangguk sambil menghapus air matanya. "Aku mau mandi dulu."

"Keh. Aku akan telepon Emily kalau begitu."

Mamori menghentikan langkahnya. "Kalau begitu, aku akan segera kemasi barangku."

Hiruma menoleh. "Kenapa memang, heh?"

"Aku hanya akan mengganggu kalian."

"Ada juga si bodoh itu yang mengganggu kita."

"Kamu tidak bisa seperti ini Youichi." Mamori menghindari tatapan Hiruma dan hanya menatap lurus ke depan. "Kamu bersama dengannya di Amerika saat kamu meninggalkan aku. Lalu sekarang saat kamu bersama aku, kamu menganggapnya pengganggu."

Hiruma menatap Mamori sambil mencerna kata-katanya, "Apa maksudmu, bodoh?"

"Sudah cukup kamu meninggalkan aku dua tahun lalu. Sekarang tidak perlu kamu tambahkan dengan perempuan yang selalu tidur denganmu." Mamori sudah tidak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja. "Padahal kita belum pernah melakukannya. Tapi kamu sudah sering melakukannya dengan perempuan itu."

"Kami bicara apa? Aku tidak mengerti." Hiruma menangkap tangan Mamori yang sudah bergerak untuk masuk kamar.

Pintu bel apartemen berbunyi. "Itu pasti dia. Ikut aku." Hiruma lalu menarik tangan Mamori untuk ikut dengannya ke teras depan.

"Lepaskan aku, bodoh." Mamori ditarik Hiruma sambil terus berusaha melepaskan genggamannya yang erat.

Hiruma membuka pintu dan melihat Emily.

"Hai You," sapa Emily yang berniat memeluk Hiruma.

Hiruma lalu menahan Emily di keningnya. "Apa yang sudah kau katakan padanya, sialan?"

"Apa? Aku?" Emily lalu melihat ke tangan Hiruma dan melihat ke Mamori yang berdiri di belakangnya yang sedang menghapus air matanya. Dia lalu tersenyum. "Aku hanya menggodanya sedikit."

"Tidak mungkin sedikit. Karena dia sampai menangis seperti ini." Hiruma terdengar marah. "Apa yang kau katakan?"

"Aku cuma bilang kalau aku mantan pacarmu."

"Apa lagi? Aku tahu masih ada yang lain."

Emily terlihat bingung menjawabnya. "Sudahlah. Aku malu mengatakannya," jawabnya. Dia lalu melihat ke Mamori. "Nah, Mamori. Maafkan aku. Apa yang aku katakan semua tadi tentang You tidak benar. Aku ini sepupunya."

Mamori yang sudah tenang, akhirnya mengeluarkan suaranya. "Kalian tidak perlu berbohong padaku. Aku bisa terima semuanya. Aku hanya sedikit kaget kalau Youichi sudah memiliki orang lain yang menggantikan aku." Dia lalu berhasil melepaskan tangannya, ketika Hiruma terpana mendengar kata-kata Mamori.

"Aku benar-benar sepupunya. Aku memang bukan Andersen, tapi aku tetap saja sepupunya. Sepupu jauh," jelas Emily lagi.

"Biar aku yang urus. Kau menginap di hotel saja. Nanti aku yang bayar biayanya," sahut Hiruma yang sudah menutup pintunya kembali dengan cepat.

Mamori kembali lagi ke dalam dan menuju kamar. Entah dia akan melakukan apa. Rasanya dia tidak ingin melihat wajah Hiruma atau pun mendengar cerita tentangnya dan Emily.

"Kau tidak dengar yang tadi dia bilang, heh? Dia sepupuku. Kami punya kakek buyut yang sama."

"Aku bilang kamu tidak usah bohong."

Hiruma sudah berhasil menahan tangan Mamori lagi. "Katakan sesungguhnya perasaanmu padaku, sialan!"

"Aku harus bilang apa?" Suara Mamori sudah mulai bergetar. "Aku memang sudah tidak ada artinya lagi. Kamu sudah punya Emily menggantikanku. Hubungan kalian begitu intim. Membayangkannya saja hanya membuatku tambah terluka. Sudah cukup kamu mencampakkan aku. Apa perlu aku harus mendengar cerita kamu dengan perempuan lain?" jelas Mamori begitu lemah dan tersakiti. Air mata sudah perlahan jatuh dari ujung matanya.

"Sudah kukatakan kalau dia sepupuku!"

Mamori mengangguk-angguk mengerti. "Ya. Dia sepupumu. Akan kucoba pahami."

"Sialan Mamori!" Hiruma lalu menarik Mamori dan memeluknya kencang-kencang. "Dia sepupuku! Tidak ada perempuan sialan lain. Hanya ada kau! Harus berapa kali aku katakan kalau aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu. Tapi kau tidak pernah mau dengar!"

Perlahan, Mamori terisak kembali. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak yakin kenapa dia menangis. Hatinya yang sudah tidak bisa menanggung luka lagi, atau karena ungkapan perasaan Hiruma barusan. "Aku takut kamu... Meninggalkan aku lagi..."

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan melepaskanmu lagi."

Mamori semakin terisak dan tidak bisa menghentikannya. Dia memeluk Hiruma sama eratnya. "Aku... Mencintaimu, Youichi...," ucapnya.

Hiruma mencium ujung kepala Mamori. Dia melepaskan pelukannya dan menatap mata Mamori dalam-dalam, menghapus air matanya, lalu menelusuri ke belakang leher Mamori. Hiruma mendekat dan memperpendek jarak bibir mereka. Dia menangkap bibir Mamori dan menciumnya perlahan. Mamori memejamkan mata. Merasakan bibir Hiruma yang sudah begitu lama dia rindukan. Akhirnya mereka saling berciuman, begitu dalam, dengan rasa rindu, maaf, dan terluka yang selama ini mereka rasakan.

.

.

To Be Continue

.

Catatan Kecil:

'Akhirnyaaa...'

Saya tahu kalian semua berpikir seperti itu XD

Untuk Quratul-san, semoga lekas sembuh. Saya bertanya-tanya apa kamu baca fic saya atau nggak, karena biasanya kamu selalu me-riview. Ternyata kamu saki toht. Semoga lekas sembuh yaa. Mudah2an fic saya bisa menghibur rasa bosan kamu~!

Nah, untuk buat semua pembaca yang tidak sabaran, saya akan update chapter 8 lebih lama dari biasanya. Karena sepertinya saya harus memikirkan ending, meng-edit cerita dan semacamnya agar semuanya pas.

Okay, selamat menunggu yaaaa~ Ho-ho-ho ! XP

Salam: De