I don't own the characters. Copyright: Mangaka Eyeshield 21
Original artwork of cover book is not mine. Just modified it.
DiyaRi De present : Love Trap
.
.
Chapter 8
.
"I may not always be with you. But when we're far apart, remember you will be with me, right inside my heart." - Marc Wambolt -
.
Sudah seminggu Mamori di Amerika. Semuanya berjalan baik-baik saja, dan Mamori sudah mulai menikmati suasananya. Saat Hiruma bekerja, Mamori biasa jalan-jalan keluar atau bersantai di apartemen bersama Emily, yang ternyata benar-benar sepupu Hiruma dari Paris. Emily pun menceritakan silsilah keluarga mereka yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Emily cantik, dia turunan Amerika dan Prancis, yang tinggal di Paris. Dia dua tahun lebih tua dari Mamori. Ternyata Emily adalah seorang fashion designer. Dan yang membuatnya kaget, Emily menawarkan diri untuk membuat gaun pernikahan untuk Mamori.
"Nah, bagaimana? Cantik kan?" Emily menunjukkan sketsa gambar gaun pernikahan Mamori.
Setelah mengaduk cokelat hangat, Mamori berjalan kembali ke sofa dengan membawa dua cangkir cokelat lalu menaruh salah satunya ke atas meja. "Tapi aku belum tentu menikah dengannya."
"Ah, tapi aku yakin kamu akan menikah dengan You." Emily lalu menunjuk sketsa dengan pensil di tangannya. "Lihat, kamu punya pinggul yang bagus, jadi aku akan membuatnya tepat mengikuti pinggulmu. lalu melebar dari lutut ke bawah," jelasnya. Dia lalu menunjuk ke bagian atas. "Aku membuatnya tanpa lengan. Karena lihat, kalian wanita Jepang, selalu punya kulit yang bagus," katanya lalu tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih Emily." Mamori lalu mencoba cokelatnya, lalu menurunkannya lagi ke atas pangkuannya. "Tapi... Jangan bilang kamu melakukan ini karena merasa bersalah?" tebak Mamori. "Sungguh, aku sudah tidak memikirkannya. Aku malah berterima kasih padamu."
"Tidak. Bukan karena itu," jawabnya, lalu perlahan tersenyum lembut, "itu karena kamu membuat You bahagia lagi."
Mamori lalu ikut tersenyum.
Setelah itu, dengan wajah sedih dan terkenang, Emily perlahan mulai bercerita, "dua tahun lalu saat aku bertemu dengannya, dia terlihat tersiksa dan terpaksa menjalani tugas ini. Dia diam, tidak banyak bicara dengan orang lain. Kerjaannya hanya melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh kakek," ceritanya dan melihat Mamori memperhatikannya dengan seksama, Emily lalu melanjutkan lagi. "Awalnya dia tidak mau cerita padaku. Tapi lama-lama, You membuka dirinya dan mulai bercerita padaku setiap kali aku berkunjung kemari. Dia bercerita sedikit. Lalu setelah itu dia menumpahkan semua kekesalannya. Dia menceritakan apa yang sudah dia korbankan demi memenuhi keinginan kakek. Dia bahkan mengorbankan impiannya."
Emily menghela napas dan wajahnya terlihat menyesal. "Setelah itu, aku tahu... Bahwa You punya mimpi yang begitu besar, amat besar, tapi dia harus membuang mimpi itu jauh-jauh dan melupakannya."
Tanpa disadari, air mata jatuh perlahan di pipi Mamori.
"Dia bilang, tinggal beberapa langkah lagi dia berhasil mencapai mimpi itu, tapi dalam sekejap, semuanya berubah dan dirampas begitu saja."
"Dia ingin menjadi Atlet Profesional Amefuto," sahut Mamori di tengah air matanya yang masih mengalir dan dia yang berusaha menghapusnya.
Emily mengangguk. "You tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya You diancam, walau dia tidak pernah mengatakan itu. Dia menanggung semuanya sendiri, dia memikul semua masalahnya, tekanan dari kakek, dan juga perusahaan itu. Tapi akhirnya You berhasil. Dia berhasil membangun perusahaan kembali dalam beberapa bulan saja. Dia akhirnya dapat pengakuan dari kakek dan kakek akan mengabulkan satu permohonannya."
"Satu?" tanya Mamori tidak bisa terima semua itu. "Setelah apa yang Youichi lakukan untuk perusahaan?"
"Bagi kakek, You sudah diberi begitu banyak keuntungan. Perusahaan menjadi miliknya, semua aset dan properti sebagian besar jatuh kepadanya. Semua yang menjadi milik kakek, karena You cucu satu-satunya," ujarnya. "Jadi dia hanya dibolehkan meminta satu."
Mamori berpikir sejenak, lalu bertanya, "Apa?"
"You bilang padaku... Dia ingin impiannya tercapai. Tapi aku bilang itu tidak mungkin, kakek tidak akan mengizinkannya untuk meninggalkan perusahaan." Emily menerawang, mengingat percakapannya dengan Hiruma beberapa bulan lalu. "Setelah itu You hanya menggelengkan kepala. Lalu dia bilang, kalau dia punya satu impian lagi." Emily lalu tersenyum kepada Mamori. "Dia bilang, impiannya itu kamu. Dia ingin hidup selamanya bersamamu."
Tangis Mamori mengalir lagi, lebih deras membasahi pipinya.
"Aku bercerita seperti ini, bukan karena ingin membuatmu agar mau menikah dengannya," lanjut Emily lagi.
Mamori lalu mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Aku bilang begini, karena aku ingin kamu tahu, bahwa You begitu mencintaimu."
.
.
"Kamu sudah makan?" tanya Mamori saat Hiruma baru saja masuk dan membuka dasinya. Mamori lalu membantu Hiruma mengeluarkan dasi dan membuka jasnya.
Hiruma menatap lekat-lekat ke mata Mamori. "Jangan bilang kau habis menonton drama sialan di tv tadi?"
"Hm? Tidak. Seharian aku mengobrol dengan Emily. Kenapa memang?"
"Matamu merah dan bengkak, bodoh. Apa si bodoh itu membuatmu menangis lagi?"
Mamori lalu tertawa dan bingung untuk menjawab. Dia lalu perlahan menjauh dari Hiruma dengan membawa jasnya untuk digantung di dalam lemari di kamar. "Aku tidak menangis," balas Mamori.
"Lalu kemana dia?" tanya Hiruma sambil membuka kemejanya, dan menerima handuk yang diberikan Mamori.
"Dia pergi ke tempat kliennya." Mamori lalu menaruh kemeja kotor Hiruma ke tempat cucian. "Sudah mandi sana, setelah itu kita makan malam."
.
.
Jam satu malam, Mamori masih belum bisa tidur karena dia terus kepikiran akan sesuatu. Mamori lalu membuka pintu kamar dan melihat Hiruma berbaring di sofa dengan laptop di atas perutnya.
"Youichi," panggil Mamori.
Hiruma menyadari keberadaan Mamori dan terduduk untuk melihatnya. "Apa, heh?"
"Begini..." Mamori ragu untuk mengatakannya. "Aku tidak bisa memonopoli kasur itu untukku saja. Jadi bagaimana kalau kita bergantian?" usulnya.
"Gantian? Aku di kasur dan kau di sofa sialan ini?" Hiruma melihat Mamori mengangguk. "Tidak akan pernah. Sudah kau tidur lagi saja."
"Karena itu, aku tidak bisa tidur," sahut Mamori langsung. "Kamu sudah seharian bekerja, aku tidak tega melihatmu tidur di situ."
"Jangan mengasihaniku, bodoh."
Mamori lalu melanjutkan lagi. "Kalau begitu kamu juga tidur di dalam. Kasur itu besar dan muat untuk kita berdua."
"Tentu saja muat," balas Hiruma, lalu membaringkan punggungnya lagi. "Tapi tidak. Aku lebih memilih tidur disini."
"Kenapa?" tanya Mamori. Dia lalu menghampiri Hiruma dan menarik lengan bajunya. "Ayolah. Kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur."
"Tidak mau," sahut Hiruma. Dia lalu duduk lagi. "Kau ini keras kepala sekali."
"Kalau kamu disini aku tidak bisa tidur," paksa Mamori.
Hiruma lalu melotot, "kalau aku di dalam bersamamu, justru aku yang tidak bisa tidur!"
Mamori memiringkan kepala bingung. "Kenapa? Aku tidak akan mengganggumu."
Hiruma menahan kesabarannya lalu beranjak dari sofa dan mendekat ke Mamori. "Kamu masuk atau aku akan memanggulmu dan melemparmu ke benda sialan itu?"
Mamori mundur perlahan ke kamar. "Aku bukan barang Youichi."
"Kalau begitu cepat masuk, bodoh."
Mamori berhenti mundur dan berdiri tepat di depan Hiruma. "Bagaimana kalau kamu menemani aku tidur? Kamu biasanya juga ikut tidur. Jadi secara tidak langsung kamu juga tidur di dalam."
"Kau―"
Dengan cepat Mamori berjinjit dan menarik baju Hiruma. Dia lalu mengecup bibir Hiruma kencang. "Selamat malam." Mamori lalu memamerkan senyumnya.
Hiruma menyeringai, "Lakukan dengan benar, bodoh."
Hiruma lalu merangkul pinggang Mamori dan menciumnya lembut dan dalam. Tanpa disadarinya, Mamori perlahan membawa mereka mundur dan menjatuhkan mereka ke atas tempat tidur. Hiruma melepaskan ciumannya, menatap Mamori, lalu mengangkatnya ke tengah tempat tidur. Hiruma lalu mencium Mamori lagi lebih dalam.
Beberapa menit mereka berciuman, lalu Mamori melepaskannya dan menarik napas. Dia lalu tersenyum puas, tangannya merangkul leher Hiruma, lalu menarik Hiruma jatuh ke sampingnya. "Nah, kamu sudah ada di kasur."
"Kau―" pandang Hiruma tidak percaya melihat Mamori yang sudah merangkul dan menahan pinggangnya. "Kau menjebakku?"
Mamori tersenyum lagi dan mulai memejamkan matanya. "Tidak. Ini demi kebaikanmu."
"Kebaikanku apa, bodoh!?" protes Hiruma. "Aku jadi tidak bisa tidur kalau disini."
Mamori mendongak, lalu mengusap-usap rambut Hiruma. "Kalau begitu aku akan me-nina-bobo-kan kamu sampai tidur."
Hiruma lalu menghela napas. "Sebenarnya apa maumu, heh? Aku sudah disini. Jadi cepat kau tidur."
Mamori mendekatkan dirinya lagi ke Hiruma. "Aku cuma ingin kamu juga istirahat. Sekarang sudah lewat tengah malam dan kamu masih juga bekerja."
"Keh. Aku akan berhenti kerja dan segera tidur. Tapi tidak disini." Hiruma lalu mencoba bangun, namun segera ditahan oleh Mamori.
"Tidur disini," bujuk Mamori.
"Sudah kubilang aku tidak bisa tidur kalau bersamamu."
"Kenapa begitu, waktu itu kamu bisa tidur bersamaku."
"Itu karena kau sakit, bodoh!"
"Berarti kalau kita menikah kamu tidak mau tidur bersamaku?" balas Mamori lagi.
"Itu beda!" protes Hiruma langsung. "Kalau menikah, aku bebas melakukan apa saja denganmu. Tapi kalau sekarang, aku tidak bisa macam-macam."
Mamori menatap tidak percaya. "Jadi itu yang ada di pikiranmu. Dasar mesum."
"Berisik kau!" balas Hiruma. "Sudah. Aku mau keluar."
"Tidak boleh," tahan Mamori.
"Apa lagi... Aku sudah mengatakan alasannya, sialan. Jadi kau tidak bisa menahanku."
"Aku mau tidur bersamamu," ucapnya malu. Dia lalu memejamkan matanya dan menghindari tatapan Hiruma.
Hiruma menghela napas. "Keh. Aku tidur disini. Tapi aku mau menyimpan lembar kerjaku dulu di laptop."
Mamori membuka matanya senang. "Tapi kamu kembali lagi kesini."
"Sialan, ya. Cerewet."
"Oke." Mamori melepaskannya. Hiruma lalu bangun dan keluar kembali ke laptopnya.
Tidak sampai tiga menit Hiruma kembali lagi ke kamar dan melihat Mamori yang sudah tidur pulas. "Si bodoh ini," keluh Hiruma.
Dia naik ke tempat tidur, menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. Hiruma merasakan Mamori mendekat dan memeluknya lagi. Hiruma lalu menyelipkan lengan ke bawah leher Mamori dan merapatkan tubuh mereka. Setelah itu Hiruma mencium kening Mamori sebagai ucapan selamat malam.
.
.
To Be Continue
.
Catatan Kecil:
Okey, saya tahu kalian bosan menunggu saya update XD
Chapter ini terlalu sedikit. Tapi ga apa, chapter ini ibarat jeda. Karena dalam dua chapter lagi masalah baru akan muncul. Masalah apa yaaa? Coba tebaaak? XD
Review? Alert? Thx before~!
Salam: De
