Omatase~!
.
Chapter 9
.
"His lips tasted cool and sharp, peppermint, winter, but his hands, soft on the back of my neck, promised long days and summer and forever." - Maggie Stiefvater -
.
"Mamo-Nee... Tebak sekarang aku ada dimana?" tanya Suzuna langsung ketika Mamori baru saja menjawab teleponnya.
Mamori berpikir. Dilihat dari waktu, nada suara, dan pertanyaan Suzuna yang tiba-tiba seperti ini, yang terlintas di kepala Mamori hanya ada satu kemungkinan dimana tepatnya Suzuna berada. Tapi Mamori takut untuk menyebutkan tempat itu. "Dimana?" Akhirnya Mamori hanya mengatakan kata itu.
"Aku ada di Amerika~" jawab Suzuna girang.
Ya, tebakan Mamori benar. Dan sekarang, Mamori bingung harus menanggapinya. "Kamu di Amerika?"
"Yup! Aku baru sampai di bandara bersama Sena. Tapi Sena sudah pergi duluan karena ada rapat dengan tim," ujar Suzuna. "Aku kangen sekali denganmu Mamo-Nee! Dimana tempat tinggalmu? Aku mau kesana sekarang."
"Jangan!" jawab Mamori spontan. "Umm.. Maksudku, sekarang aku lagi keluar."
"Kalau begitu berikan aku alamatnya. Aku akan tunggu di dekat-dekat sana."
Mamori berpikir mencari alasan lain. "Maaf Suzuna. Aku tidak hapal alamatnya."
"Kalau begitu aku akan ke kantormu. Semua supir taksi pasti tahu dimana gedung Dayfree berada," balas Suzuna lagi lalu tertawa. "Nanti kita ketemuan disana."
Mamori berpikir keras lagi mencari-cari alasan. Karena dia sejujurnya juga tidak tahu dimana tepatnya gedung Dayfree itu. "Jangan kesana. Kamu tunggu saja di bandara, aku akan menjemputmu."
"Kalau begitu akan aku tunggu. Aku mau menginap di tempatmu boleh kan Mamo-Nee? Aku lelah, aku ingin istirahat. Sena sudah pergi karena aku bilang aku akan ke tempatmu."
"Tapi Suzuna―"
"Tidak boleh yaa?" sahut Suzuna tedengar kecewa.
Mamori terdiam sesaat, lalu menghela napas. Tidak mungkin dia tega menelantarkan Suzuna begitu saja. "Bukan begitu Suzuna. Aku hanya tidak tahu kapan akan tiba disana. Jadi kamu mungkin akan menunggu lama."
"Tidak apa Mamo-Nee," sahut Suzuna. "Kalau begitu aku akan tunggu di kafe atau restoran terdekat. Aku juga lapar sekali."
.
.
Mamori berdiri dengan gelisah. Dia berpikir keras mencari jalan keluarnya. Apa yang harus dia lakukan? Mamori sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya penyesalannya ialah, sampai sekarang Mamori belum sempat menanyakan nomor ponsel Hiruma!
Mamori ingat beberapa hari lalu Hiruma pernah bercerita bahwa, tidak boleh ada yang tahu tentang keberadaannya, apalagi oleh teman-teman mereka di Jepang. Apapun itu alasannya, itu adalah janji Hiruma kepada kakeknya, dan sebagai pengecualian hanya Mamori yang boleh tahu.
Mamori juga tidak tahu nomor ponsel Paman Harrold, ataupun Emily. Dia lalu tambah menyesal karena tidak pernah menanyakannya. Mamori berpikir lagi, sudah lima belas menit dia mondar-mandir dengan gelisah. Mamori lalu duduk, memikirkan segala cara. Dia lalu melihat ke telepon di sampingnya. Selintas ide tersirat di otaknya. Dia kemudian menekan tombol redial dan menunggu panggilan tersambung.
"Delivery pizza. Ada yang bisa kami bantu?" tanya orang di seberang.
Mamori menghela napas, ternyata panggilan terakhirnya adalah delivery beberapa hari lalu. "Maaf. Saya salah sambung." Mamori lalu langsung menutup teleponnya.
Mamori kembali berpikir sambil melihat-lihat ke sekitar diselingi dengan harapan Paman Harrold atau Emily datang kesini. Mamori lalu menatap ke interkom dari tempatnya duduk. Dia mendapat ide lain. Dia lalu beranjak ke interkom, dan mengubah password-nya.
"Oke," sahut Mamori kepada dirinya sendiri, dan bersiap untuk ke bandara.
.
.
"Mamo-Nee!" Suzuna berlari ke arah Mamori setelah mobil-mobil berhenti dan dia menyebrang jalan bersama penyebrang lain. "Apa kabar?" tanya Suzuna sambil memeluk Mamori. Dia lalu melepaskan pelukannya dan memperhatikan Mamori dari atas kepala sampai ke kaki. "Wah.. Sepertinya kamu betah di Amerika."
"Baik Suzuna. Kamu bagaimana? Kapan akan ke Inggris?" tanya Mamori.
"Dua minggu lagi aku berangkat Mamo-Nee. Karena itu, sekarang aku mau berlama-lama dengan Sena dan ikut kemari. Karena nanti, aku akan jarang bertemu dengannya."
Mamori tersenyum tidak percaya. "Kamu ini... Kamu mau berlama-lama bersamanya, tapi kenapa sekarang kamu tidak ikut dia ke asramanya?"
"Itu karena aku lebih rindu kepadamu, Mamo-Nee~"
"Ya sudah. Sekarang kamu mau kemana?"
"Tentu saja ke tempat tinggalmu. Aku lelah sekali."
"Mm... Baiklah. Ayo," jawab Mamori, dengan segala perdebatan di pikirannya.
Sekitar tiga puluh menit mereka sampai di depan kawasan apartemen dengan taksi. Mamori melihat ke Suzuna, yang memandang dengan penuh tanya ke bangunan tinggi di depannya. "Kamu... Tinggal disini, Mamo-Nee?"
Mamori menatap sesaat, "ya," jawabnya. Dia sudah mempersiapkan semua jawaban dari semua pertanyaan yang akan dilontarkan Suzuna. Dia bahkan sudah memasukkan Cerberus ke kandang anjing dan menitipkannya ke pos penjaga. Senapan Hiruma dan laptopnya pun juga sudah dimasukkan dan dikunci di dalam lemari pakaian. Karena hanya itu, yang menjadi ciri khas barang milik Hiruma.
"Di apartemen mewah ini?" tanya Suzuna lagi. Mereka lalu sudah memasuki gedung dan menuju lift.
"Ya. Perusahaan yang meminjamkan padaku."
"Wah! Mereka baik sekali."
Mereka lalu masuk ke dalam lift. Mamori merasa lega, karena Suzuna tidak curiga dan belum bertanya apa-apa lagi. Yang pasti, seperti yang sudah diduga Mamori, Suzuna akan bertanya lagi saat mereka sampai ke apartemen nanti.
"Silahkan masuk," kata Mamori, sambil membukakan pintu untuk Suzuna.
Suzuna tersenyum dan berjalan ke ruang tengah sementara Mamori menutup pintunya kembali. "Lumayan Mamo-Nee," katanya sambil menjatuhkan diri ke sofa. "Rasanya aku lelah sekali."
"Kalau begitu tidurlah," sahut Mamori menunjuk ke pintu kamar.
"Aku istirahat disini saja. Kalau aku di kasur, yang ada aku bisa tidur sampai delapan jam lebih."
Mamori tertawa. "Kalau begitu, aku akan buatkan minum." Mamori lalu beranjak ke dapur.
"Makasih Mamo-Nee," ujar Suzuna.
Dia lalu menyalakan televisi dan menyandarkan kepalanya lebih rendah ke sandaran sofa. Tanpa sengaja, matanya menatap ke benda yang ada di bawah meja di depan sofa.
"Mm... Mamo-Nee," panggil Suzuna. "Kenapa ada sepatu laki-laki disini?"
"Oh, itu. Itu sepatu dari karyawan sebelumnya yang tinggal disini. Dia akan kembali kerja dan menempati tempat ini lagi saat kontrakku sudah habis menggantikannya," jawab Mamori lancar saat sedang menyiapkan minum untuk Suzuna. Dia sudah memikirkan pertanyaan tentang sepatu yang ada di rak teras depan. Begitu pun dengan barang-barang lainnya.
"Tapi kalau dia sudah tidak disini sementara, kenapa tidak kamu taruh saja di rak sepatu? Kamu biasanya rapih sekali Mamo-Nee."
Mamori terdiam. Dia bingung dengan perkataan Suzuna tadi. Berarti, ada sepatu yang tergeletak di luar rak sepatu? "Sepatu... Yang mana?" tanya Mamori ragu.
"Nih. Yang ada di bawah meja." Suzuna lalu menarik keluar sepatu itu. "Aku taruh di rak sepatu yaa."
Sesaat itu juga Mamori bernapas lega. Suzuna tidak terlihat curiga dan tidak bertanya apa-apa lagi. Mamori lalu melanjutkan membuat sirup jeruknya.
"Cuma ada satu kamar Mamo-Nee?" tanya Suzuna saat Mamori sudah keluar dari dapur.
"Ya. Kamu bisa tidur di dalam bersamaku," jawab Mamori lalu memberikan sirup jeruknya.
Suzuna lalu meminumnya. "Oh. Aku lupa mau ke kamar mandi dulu."
"Silahkan. Di pintu sebelah kanan di samping teras depan."
Suzuna mengangguk. Sementara itu Mamori menyalakan televisinya dan menonton siaran berita lokal. Begini-begini, walau dia tidak punya kerjaan dan hanya seperti pembantu di apartemen Hiruma, dia sesekali memperdalam bahasa Inggrisnya dengan menonton televisi, ataupun bicara dengan Emily.
Tidak sampai sepuluh menit Suzuna keluar kamar mandi dengan wajah seriusnya. "Ceritakan saja padaku yang sejujurnya Mamo-Nee," katanya, yang sudah berdiri menghampiri Mamori sambil melipat tangan di kedua dadanya.
"Mm..." Mamori ragu. "Apa maksudmu.. Suzuna?"
"Awalnya aku tidak curiga saat melihat ada sepatu laki-laki di bawah meja karena aku percaya dengan ceritamu," jelas Suzuna. "Lalu sekarang, aku curiga lagi saat melihat keranjang pakaian kotor yang penuh dengan pakaian laki-laki."
Mamori tertohok. Dia tidak mengira kalau Suzuna akan melihat ke dalam keranjang cuciannya. "Kenapa kamu melihat-lihat kesana Suzuna!?"
"Karena aku curiga saat melihat dua sikat gigi yang masih basah. Kalau benar ceritamu tentang karyawan sebelumnya yang tinggal disini, harusnya sikat gigi itu itu kering dan tidak seperti bekas pakai tadi pagi Mamo-Nee."
Mamori terpojok lagi. Seharusnya dia bisa menduga kalau Suzuna bisa secerdas ini kalau sudah menyangkut masalah kecurigaannya terhadap sesuatu.
"Sekarang ceritakan padaku yang sebenarnya. Kamu tinggal bersama orang lain disini? Laki-laki?"
Mamori diam sesaat. "Itu..."
"Atau jangan-jangan, kamu menemukan laki-laki lain, lalu kalian pacaran dan tinggal bersama?"
"Bukan begitu Suzuna," sela Mamori langsung.
"Lalu apa?"
Mamori terdiam menimbang-nimbang kemungkinan dia akan memakai senjata terakhirnya. "Sebenarnya, ya. Aku disini tinggal bersama orang lain. Dan benar, dia laki-laki."
Suzuna menatap tidak percaya, "kenapa begitu Mamo-Nee?"
Mamori menghela napas. Tidak seharusnya dia berbohong dengan menutupi kebohongan lainnya. "Ya.. Karena biaya sewa di Amerika itu mahal. Jadi lebih baik berbagi tempat tinggal."
"Kalau memang mahal, kenapa memilih apartemen mewah seperti ini!?"
"Apartemen ini miliknya. Dia jarang ada disini, jadi dia mencari seseorang yang mau berbagi. Dan kebetulan kita satu perusahaan," karang Mamori. "Dia menawarkan harga yang murah. Jadi aku terima saja."
"Tapi cuma ada satu kamar disini!"
"Kami bergantian. Kalau ada dia aku di sofa, kalau dia tidak ada aku di dalam," bohongnya.
Suzuna menghela napas. "Bagaimana kalau nanti terjadi yang macam-macam Mamo-Nee?"
Mamori tersenyum. "Tidak akan. Dia sangat menjagaku Suzuna. Lagipula..." Mamori lalu berpikir lagi dan menyusun kata-katanya. "Dia itu gay." Habis sudah Mamori kalau Hiruma tahu dia berkata seperti itu.
"Gay?" yakinnya lagi kaget. Mamori lalu mengangguk. "Siapa namanya?"
Mamori berpikir sejenak. "Andersen," jawabnya dan berharap Suzuna tidak menanyakan nama depannya.
"Jadi... Si Andersen ini," lanjut Suzuna lagi. "Hari ini dia akan pulang atau tidak?"
"Dia bilang padaku kalau dia akan pulang beberapa hari nanti."
Suzuna menghela napas lagi. "Syukurlah. Aku tidak enak kalau harus menumpang begini. Pantas saja tadi kamu terdengar ragu saat di telepon Mamo-Nee."
"Maafkan aku. Saat kamu telepon, aku lalu minta izin kepadanya dan dia bilang kalau dia tidak akan pulang. Jadi setelah itu aku langsung menjemputmu."
"Seharusnya kamu bilang dari awal. Jadi aku tidak merepotkanmu seperti ini."
"Tidak apa Suzuna," balas Mamori tersenyum kepada Suzuna dan menepuk-nepuk sofa untuk Suzuna duduk lagi.
Satu masalah selesai. Tinggal yang satu lagi, dia belum memberitahu Hiruma tentang masalah ini.
.
.
Hiruma sudah berdiri di depan pintu apartemennya sendiri. Dia memfokuskan penglihatannya ke tombol kunci password. Hiruma berpikir mungkin dia terlalu lelah sehingga salah memasukkan password itu. Dia lalu mencobanya lagi, namun tetap tidak berhasil. Akhirnya, sesuatu yang tidak pernah terbayang akan dia lakukan terjadi, Hiruma harus menekan bel di rumahnya sendiri.
.
.
Mamori terperanjak dari duduknya ketika terdengar suara password salah dimasukkan.
Youichi pulang, pikir Mamori.
"Suara apa itu Mamo-Nee?" tanya Suzuna yang baru saja selesai mandi.
Mamori bangun dari sofa dan langsung melewati Suzuna. "Mungkin itu tetangga sebelah. Dia sudah tua, jadi suka salah pintu."
Dengan cepat Mamori membuka pintu dan menutupnya lagi, sehingga pintu otomatis terkunci.
"Kenap―" Hiruma menghentikan ucapannya karena Mamori menutup mulutnya.
Mamori lalu menarik tangan Hiruma dan menyingkir ke samping agar Suzuna tidak bisa melihatnya dari lubang pintu. "Ada Suzuna di dalam," sahut Mamori pelan.
Hiruma berpikir sesaat, lalu mengerti situasinya. Mamori lalu melepaskan tangannya dari mulut Hiruma.
"Kenapa skeat sialan itu ada disini!?" tuntut Hiruma.
"Aku juga tidak tahu. Dia mendadak sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana. Kau tahu, seharian ini kerjaanku hanya berbohong. Aku jadi tidak enak padanya."
"Kalau begitu kau usir dia."
"Tidak bisa begitu!" protes Mamori. "Kamu jahat sekali."
"Lalu bagaimana denganku bodoh? Ini apartemenku."
"Aku tahu. Tapi bisa tidak kamu mengalah? Ini demi kepentinganmu sendiri."
"Sialan kau," maki Hiruma. "Lalu sekarang aku harus kemana?"
"Kamu tidak mungkin tidak punya rumah lain. Kamu tinggal saja disana semalam."
"Itu jauh dari kantor dan letaknya di luar kota, bodoh."
"Kalau begitu, di hotel."
"Kenapa aku harus mengeluarkan uang demi si sialan itu. Kau carilah alasan untuk mengusirnya."
"Youichi! Jangan seperti itu!" bantah Mamori. "Kalau kamu mau Suzuna pergi, maka aku juga akan pergi."
Hiruma tidak bisa bersuara. Dia jadi ingat janjinya sendiri untuk menuruti semua keinginan Mamori. Rasanya Hiruma ingin memaki dirinya yang lemah kalau sudah berhadapan dengan wanita yang satu ini.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Mamori lagi menantang.
"Keh. Dasar kau sialan." Hiruma lalu merangkul Mamori dan mengecup bibirnya.
Mamori tersenyum dan memegang kedua pipi Hiruma, lalu mencium bibirnya lagi. "Terima kasih."
Hiruma lalu melepaskan Mamori. "Segera usir dia besok."
"Tidak perlu aku usir, Youichi. Suzuna cuma semalam disini, besok sore dia ke tempat Sena."
"Keh," balas Hiruma. Dia lalu berjalan kembali ke lift. Sejenak Hiruma berhenti dan berbalik lagi melihat Mamori. "Jangan lupa ganti password-nya lagi. Password sialan apa yang kau pakai, heh?"
Mamori tersenyum lalu menjawab, "Namamu."
Hiruma hanya membalas dengan seringaiannya, dan berjalan kembali ke lift.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Wow, easy guys... Ini belum sampai ke masalah barunya kok. Jadi masih di chap selanjutnya XD Ditunggu aja yaa~
Say something on the box?
Salam: De
