Chapter 10

.

"You don't take away my choices. You are my choice." - Colleen Houck -

.

"Sampai bertemu di Jepang nanti." Suzuna dan Mamori saling berpelukan. "Sampaikan salamku pada Andersen-san. Bilang maaf dan terimakasihku kepadanya."

"Akan kusampaikan." Mamori lalu melepaskan pelukan mereka. "Telepon aku lagi kalau kamu sudah mau kembali ke Jepang. Aku akan mengantarmu sampai bandara."

"Tidak perlu Mamo-Nee. Aku berangkat lusa pagi. Aku yakin kamu kerja pada jam segitu."

"Ah ya, benar juga," sahutnya, mengingat kebohongannya sendiri. "Hati-hati kalau begitu."

Setelah mereka berpamitan, Mamori tentu tidak lupa untuk mengambil Cerberus kembali dari pos penjaga. Dia tidak sempat memberikan makanannya juga, jadi semalaman Cerberus pasti kelaparan. Lima belas menit Mamori berjalan kaki dari halte bis terdekat dari apartemennya. Setiap langkahnya mendekat ke pos penjaga, semakin jelas pula suara gonggongan dan gerakan Cerberus. Mamori jadi merasa bersalah sudah menitipkannya semalaman kepada bapak-bapak penjaga. Mereka pasti ketakutan.

"Nona Anezaki."

Mamori mendengar seseorang memanggilnya. Dia berhenti melangkah sambil berpikir. Disini, di Amerika, tidak ada orang lain yang memanggil dirinya seperti itu selain Paman Harrold. Lantas siapa? Suara itu bukan suara milik Paman Harrold.

Mamori berhasil menemukan seseorang yang memanggilnya. Dia berjalan mendekat ke Mamori. Tanpa senyuman dan dengan wibawanya dibalik jas putih rapih. Seorang lelaki tua yang usianya terlihat lebih dari lima puluh tahun, dengan rambut yang hampir memutih, mungkin kakek ini usianya lebih tua dari penampilannya yang tegas dan berwibawa.

"Ya?" jawab Mamori, akhirnya mengeluarkan suaranya setelah melakukan pengamatan singkat kepada kakek yang memanggilnya.

Kakek itu sudah berdiri berhadapan dengan Mamori. Dan Mamori baru menyadari kalau ada seseorang di belakang kakek itu, mungkin pelayannya, pikir Mamori. "Kebetulan kita bertemu disini. Bisa kita bicara sebentar?" tanya kakek itu dengan logat Amerikanya.

"Maaf," sahut Mamori. "Anda siapa?" tanya Mamori masih tetap tidak mengenali siapa kakek itu.

"Saya Gerrard Andersen. Kakek dari Youichi Andersen."

Napas Mamori tercekat setelah mendengar pernyataan kakek itu.

.

.

Suasananya tidak enak. Mamori hanya meminum sedikit demi sedikit moccacinno yang dipesannya sambil terus bertanya-tanya ada urusan apa kakek Hiruma dengannya. Kalau Mamori melihat ke jam dinding di cafe tersebut, mungkin sudah lima menit mereka hanya berdiam seperti ini, dan Mamori sungguh tidak nyaman dengan keadaan ini.

"Kamu pasti bertanya-tanya, ada keperluan apa aku sampai harus menemuimu seperti ini?" tanya Gerrard.

Mamori ragu untuk menjawab, dia lalu hanya berkata ya dengan suara pelan sambil menganggukan kepalanya.

"Kamu tidak keberatan kalau kita bicara dengan bahasa Inggris?" tanyanya lagi. "Aku hanya takut apa yang akan kusampaikan jadi keliru kalau aku bicara dalam bahasa Jepang."

Mamori masih sibuk dengan pikirannya. Ditambah fakta bahwa kakek Hiruma ini juga ternyata bisa bahasa Jepang. "Ya. Silahkan."

"Sudah hampir setengah bulan kamu di Amerika," lanjut Gerrard. "Apa cucuku pernah mengatakan sesuatu kepadamu? Mengenai waktumu yang hanya sampai satu bulan atau mengenai perjanjiannya kepadaku?"

Segala sesuatunya menumpuk di kepala Mamori. Satu bulan? Selama ini Mamori hanya berpikir kalau satu bulan itu hanya formalitas batas waktu perjanjian kerjanya. Bukan mengenai batas dia akan bersama dengan Hiruma. Dan mengenai perjanjian itu... Yang Mamori tahu, dari cerita Emily tentu saja, bahwa itu bukan perjanjian, tapi permohonan Hiruma kepada kakeknya.

"Aku rasa kamu tidak tahu," sahut Gerrard karena Mamori tidak juga menjawabnya. "Kamu tidak mungkin tidak mengerti kata-kataku, ya kan?" tambahnya tertawa, walau masih dengan aura wibawanya.

"Maaf." Mamori akhirnya mengeluarkan suaranya. "Yang saya tahu bukan perjanjian. Tapi permohonan," ujar Mamori, berusaha dengan tidak gentar.

"Itu memang permohonannya," jawab Gerrard langsung. "Dia memohon padaku bahwa dia ingin bertemu seseorang dari Jepang. Dia minta kalau orang itu tinggal di Amerika selama satu bulan bersamanya." Gerrard mengamati wajah Mamori lekat-lekat. "Aku hanya tidak menyangka bahwa orang itu adalah seorang wanita. Tapi tentu saja aku sudah tahu banyak tentangmu. Aku tidak mengira kalau dia akan memikirkanmu sedalam itu." Gerrard menyerup kopinya sedikit, lalu melanjutkan pembicaraannya. "Dia memohon padaku seperti itu, tapi itu tidak gratis. Aku memberinya persyaratan jika ingin aku mengabulkan permintaannya."

Gerrard menatap Mamori lagi yang masih fokus mendengarkannya.

"Dia setuju dengan persyaratannya. Tapi semuanya sangat bertentangan dengan persyaratan yang aku ajukan. Karena aku tahu, hubungan apa yang kalian miliki."

"Syarat apa yang anda katakan?" tanya Mamori hati-hati.

"Aku mengabulkan permintaannya, asal dia mau menikah dengan anak dari partner bisnis perusahaan kami." Gerrard melihat wajah Mamori yang kaget, lalu melanjutkan. "Dia menerima syarat itu. Aku pikir dia sungguh-sungguh. Tapi setelah melihat situasi sekarang ini, saat aku liat orang itu adalah kamu, aku merasa bahwa cucuku merencanakan sesuatu dan tidak memedulikan perjanjian itu."

Mamori menenangkan ketegangannya dengan meminum moccacinno-nya lagi.

"Bagaimana? Sekarang kamu sudah mengerti keadaannya kan? Dan apa kamu mengerti maksud dari kedatanganku ini?"

Mamori menatap mata Gerrard. Dengan segenap ketegaran, dia menjawab, "anda ingin saya pulang ke Jepang dan tidak menghubungi Youichi lagi?"

"Tepat." Gerrard lalu tersenyum puas. "Aku ingin kamu menjauh dan sebisa mungkin menghindari cucuku."

Mamori bersiap untuk beranjak dari kursinya. "Maaf. Saya menolak permintaan anda."

"Aku tidak bilang kalau kamu punya pilihan, Nona Anezaki," sahut Gerrard, membuat Mamori berhenti dan tidak jadi melangkah meninggalkan meja.

Dengan tenang Gerrard menyerup kopinya lagi. Sementara Mamori tetap berdiri di mejanya dan menunduk menatap Gerrard. "Aku tidak mengajukan penawaran. Jadi kamu tidak bisa menolak."

"Apa maksud anda? Tentu saja saya berhak menolak."

Gerrard mendongak dan menatap lurus-lurus ke mata Mamori. "Aku tidak ingin mengancammu Nona Anezaki. Tapi ketahuilah, kalau cucuku bersamamu, dia akan kehilangan semua yang sudah dimilikinya saat ini." Gerrard menjeda ucapannya dan membaca raut wajah Mamori. "Jadi bukannya sudah menjadi keputusanmu untuk tidak menyusahkannya?"

"Kalau anda merasa saya menyusahkannya, maka itu adalah pemikiran anda. Karena semua itu bukan anda yang menentukan, tapi Youichi sendiri," jawab Mamori. "Saya permisi."

Gerrard menyerup kopinya lagi sesaat setelah Mamori meninggalkan meja mereka dan menuju pintu kafe. "Aku lupa bilang, kalau cucuku juga tidak punya pilihan."

.

.

Setelah mengambil Cerberus, Mamori kembali ke apartemen Hiruma. Sambil memberikannya makan, pikiran Mamori terus melayang ke percakapannya tadi dengan kakek Hiruma. Semuanya, dari awal sampai akhir. Saat itu Mamori merasa gelisah tentu saja. Aura yang dikeluarkan kakek Hiruma begitu menusuk dan menekannya. Ucapannya memang tenang, tetapi menekan Mamori. Saat itu Mamori bersyukur kalau dia tidak menunjukan kegelisahannya itu. Mungkin seperti inilah yang dialami orang-orang kalau sedang berhadapan dengan Hiruma Youichi.

Sekarang Mamori bingung apa yang harus dia lakukan. Apa dia harus bercerita pada Hiruma atau membiarkan saja semuanya berlalu. Tapi kalau begitu, mungkin saja apa yang dikatakan kakeknya benar, bahwa Mamori hanya akan menyusahkan Hiruma. Tapi tidak mungkin. Hiruma begitu mencintainya, dia tidak mungkin menganggap Mamori menyusahkan.

Masih beberapa jam lagi sampai Hiruma pulang. Masih banyak yang harus dikerjakan Mamori. Ya, membereskan apartemen Hiruma. Jadi sembari Mamori memikirkan jalan keluarnya, dia akan menyelesaikan tugasnya dulu seperti biasa.

.

.

Hiruma menumpuk berkas-berkas map di atas meja dan menyingkirkannya ke samping. Setengah jam lalu dia mendapat kabar dari kaki tangan yang mengawasi kakeknya, bahwa dia datang menemui Mamori. Entah apa yang mau dirundingkan kakeknya. Tapi yang Hiruma tahu, dengan kakeknya itu, tidak ada yang namanya perundingan. Tidak ada penawaran. Yang ada hanya mematuhi perintahnya.

Hiruma menyalakan telepon dan tersambung dengan asisten sekaligus sekretaris di ruangan sebelahnya.

"Apa ada jadwal lagi?" tanya Hiruma

"Jam tiga nanti anda ada rapat dengan klien perusahaan S," jawab suara pria di telepon.

"Aku akan keluar sebentar. Berkas-berkas sudah aku tandatangani. Kau ambillah."

"Baik Tuan Andersen."

Hiruma mematikan teleponnya. Dia lalu mengambil teleponnya dan menelepon sopirnya. "Siapkan mobil." Setelah itu Hiruma beranjak keluar.

.

.

Hiruma tiba di kediaman keluarga Andersen. Tidak ada Andersen lain yang tinggal disini. Kecuali kakeknya dan delapan pelayan yang tinggal disini. Setelah melewati mesin deteksi di gerbang utama, pintu terbuka dan Hiruma disambut oleh dua orang penjaga yang membungkuk padanya di sisi kiri mobil. Masih dua ratus meter lagi menuju rumah di balik tembok-tembok besar dan tinggi ini. Setelah sampai, Hiruma menghentikan mobil tepat di depan teras depan. Seorang penjaga pintu menghampiri Hiruma, membungkuk dan menunggu Hiruma memberikan kunci mobilnya untuk diparkirkan.

"Biar saja di situ," katanya, merujuk pada mobil di belakangnya. "Aku tidak akan lama."

"Baik Tuan Muda," jawabnya dan dengan cepat menyusul Hiruma untuk membukakan pintu.

"Mana kakek sialan itu?" tanya Hiruma, sudah tidak peduli dengan sopan santunnya lagi di rumah ini.

Penjaga pintu itu awalnya terlihat bingung, lalu langsung mengerti maksud Hiruma. "Maaf Tuan Muda. Tuan besar ada di perpustakaan."

Hiruma meneruskan jalannya menaiki tangga menuju perpustakaan di lantai dua. Setelah sampai, Hiruma langsung membukanya begitu saja.

"Aku menduga kamu akan datang tiga puluh menit lebih awal. Aku tidak menyangka akan memakan waktu selama ini," sambut kakek itu, menurunkan buku dihadapannya dan meletakkannya di samping sofa.

"Kenapa kau datang menemuinya?" tanya Hiruma tanpa basa-basi lagi. Dia tidak masuk ke dalam dan tetap berdiri di ambang pintu.

"Anezaki Mamori?" ulang Gerrard. "Aku hanya cemas kamu melupakan perjanjian itu."

"Aku tidak akan melupakannya."

"Kalau begitu aku cemas kamu akan melanggarnya."

Hiruma tidak bisa menjawab. Karena tebakan kakeknya tepat pada sasaran.

"Awalnya aku tidak curiga, nak. Tapi setelah aku melihat siapa orang yang ingin kamu temui, aku percaya bahwa kamu merencanakan sesuatu."

"Aku memang merencanakan sesuatu."

"Katakan itu," tegas Gerrard.

"Begini kakek sialan, aku tidak akan mau mengikuti permainan brengsekmu lagi. Aku tidak peduli. Kau hancurkan saja dia, maka selesai sudah. Aku keluar dari kehidupan sialanmu."

"Kamu pikir bisa semudah itu, nak? Kamu keluar dari sini, maka aku akan membuatnya hancur sampai kamu sendiri tidak mau menerimanya lagi," balasnya. "Bukannya dari awal itu yang aku katakan padamu?"

"Sialan! Aku tidak peduli. Detik ini aku berhenti dan aku akan membawanya pergi. Kau tidak bisa mengusikku ataupun menemukanku." Hiruma menarik napasnya menahan emosinya. "Atau kau berhenti mencampuri kehidupanku dan aku akan menjalankan perusahaan sialan itu sesuai dengan keinginanmu!"

"Dia tidak bisa memberikan apa-apa padamu, nak. Untuk apa kamu pertahankan. Aku hanya ingin membuat kehidupanmu sempurna."

"Tahu apa kau tentang hidup yang sempurna!?" bantah Hiruma langsung. "Kalau kau pikir hidup sepertimu ini sempurna, lebih baik aku mati!"

"Kamu masih muda. Kamu baru akan menyadarinya nanti. Percayalah padaku."

"Persetan dengan omong kosongmu!" Hiruma menarik napasnya lagi. "Sekarang... Tidak ada lagi aku yang selalu menuruti semua keinginanmu. Kau pilih, aku berhenti atau aku tetap disini dan kau jangan mencampuri kehidupan pribadiku!"

Kakek itu mengambil bukunya. "Terserah padamu," jawabnya lalu menghadap ke buku lagi. "Tapi ingat satu hal nak. Aku selalu mendapatkan apa yang kumau."

Dengan amarahnya Hiruma menutup pintu kembali kencang-kencang. Dia lalu bergegas ke tangga sambil merogoh benda kecil di saku jasnya. Dia lalu memasangnya ke telinga. "Kau berhasil?" tanyanya pelan.

"Ya. Aku sedang berusaha keluar," jawab seseorang sambil berbisik.

Hiruma lalu mengambil ponsel di saku celananya. "Pak tua," sapanya setelah ponsel tersambung ke Paman Harrold. "Segera ke apartemenku dan jaga dia sampai aku pulang. Kau mengerti tugasmu."

"Baik Tuan Muda. Saya segera kesana."

.

.

Mamori membuka pintu setelah mengetahui kalau Paman Harrold yang datang.

"Selamat Siang Nona," sapa Paman Harrold lalu menutup pintunya kembali.

"Hai Paman. Ada perlu apa? Paman mau mengajakku jalan-jalan?" tanya Mamori tersenyum lalu mengantar mereka ke ruang tengah. Mamori duduk di sofa dan melihat Paman Harrold yang hanya berdiri bersandar di depan dinding. "Duduklah Paman."

"Maaf Nona. Saya berdiri saja."

Mamori lalu menghela napas lalu bangun dan menggandeng Paman Harrold duduk di sofa. "Kalau Paman mau menyampaikan sesuatu padaku, maka paman harus duduk."

Paman Harrold pun akhirnya duduk. "Tidak ada yang ingin saya sampaikan Nona."

"Kalau begitu kenapa Paman kesini?"

"Tuan Muda meminta saya menjaga anda," jawab Harrold.

Mamori yang sudah mengerti situasinya lalu menganggukkan kepala. "Baiklah," jawabnya. Sesaat Mamori terdiam, lalu dia melihat ke Paman Harrold lagi. "Sadarkah Paman, kalau Paman tidak pernah sekalipun menatapku saat kita bicara?"

"Maaf Nona, saya merasa tidak pantas jika bicara dan bertatapan langsung dengan Tuan Muda atau tamu Tuan Muda."

"Kalau begitu berhentilah bersikap seperti itu. Aku bukan tamu Tuan Muda. Dan jangan meminta maaf terus Paman. Aku jadi tidak enak."

"Maafkan saya Nona."

"Paman..."

"Baik Nona."

"Nah, jadi kenapa Paman menjagaku? Apa ini ada hubungannya dengan kakek Youichi?"

"Benar Nona."

"Tapi kenapa Youichi meminta kepada Paman? Bukannya percuma saja, Paman 'kan bekerja kepada kakeknya, kenapa Youichi percaya kepada Paman?" tanyanya terus terang.

"Saya tidak bekerja pada Tuan besar. Saya dipekerjakan langsung oleh Tuan Muda sendiri."

Mamori mengangguk-angguk mengerti.

Paman Harrold lalu melanjutkan. "Hanya saya dan anak saya, yang sekarang menjadi supir Tuan Muda, yang hanya bekerja di bawah perintah Tuan Muda," ceritanya. "Tuan muda sangat baik hati."

Mamori tersenyum. "Aku tahu," sahut Mamori senang. Karena jarang sekali ada orang yang bilang seperti itu tentang Hiruma. "Lalu Paman, bagaimana Paman bisa bekerja dengan Youichi?"

Tanpa disangka, Paman Harrold tersenyum, terkenang dengan masa lalunya. "Satu setengah tahun lalu, saya hanya seorang gelandangan, Nona. Saya bertemu dengan Tuan Muda ketika saya tertabrak mobilnya," ceritanya. "Beliau lalu membawa saya ke rumah sakit dan membiayai pengobatan saya. Dua minggu saya di rumah sakit, lalu Tuan Muda meminta saya untuk menjadi pelayannya."

Mamori masih terus mendengarkan Paman Harrold.

"Saya tidak mengerti sebenarnya seperti apa pekerjaan saya. Saya tidak diminta mengurus apartemennya ataupun mencuci mobilnya. Tapi akhirnya saya tahu, Tuan Muda hanya ingin membuat saya punya pekerjaan dan penghasilan tetap untuk menghidupi keluarga saya."

"Lalu keluarga Paman?"

"Satu bulan saya bekerja dengan Tuan Muda. Saya lalu dipinjami rumah yang tidak ditempati Tuan Muda untuk istri dan empat orang anak saya."

"Berarti Bapak supir itu anak Paman?"

"Ya. Dia anak saya yang paling besar. Waktu itu dia akan menikah, tapi tidak juga punya pekerjaan tetap," jawab Paman Harrorld. "Akhirnya Tuan Muda membiayainya kursus mengemudi dan menjadikannya supir pribadi. Padahal saya tahu, beliau bisa mengendarai mobil sendiri, tapi dia tetap mempekerjakan anak saya."

"Karena itu Nona, saya tidak mau mengecewakan dan mengkhianati kepercayaan Tuan Muda. Saya tidak mau melaksanakan perintah selain dari beliau."

"Tapi apa kakek Youichi tidak tahu tentang Paman?"

"Pelayan Tuan Besar jumlahnya puluhan dan itu tersebar dimana-mana. Beliau tidak akan memedulikan pelayan kecil seperti saya. Dan Tuan Muda sudah berjaga-jaga dengan menyamarkan saya sebagai lelaki tua yang hidup sebatang kara."

Mamori menghela napas. "Aku mengerti," sahut Mamori. "Jadi dari awal, Paman sudah tahu masalah Youichi dengan kakeknya?"

"Saya tahu. Tuan Muda selalu bercerita pada saya dan meminta saran kepada saya. Saya bukan siapa-siapa, tetapi beliau selalu mempertimbangkan saran dari saya," jawabnya. "Beliau juga cerita tentang kehidupan dan teman-temannya di Jepang. Beliau juga bercerita banyak tentang anda."

Mamori tersenyum mendengarnya.

"Tuan Muda bilang, Nona adalah orang kepercayaannya. Apapun yang terjadi, Tuan Muda akan melakukan seperti yang Nona katakan. Karena apapun itu, Tuan Muda percaya kalau Nona tidak akan menyesatkannya."

"Youichi bilang seperti itu?"

"Ya, Nona."

"Tapi dia selalu saja membantahku," bingung Mamori.

"Memang sepertinya begitu."

Mamori tertawa. "Rasanya saya baru mendengar sisi lain dirinya dari Paman."

Paman Harrold tersenyum. "Tuan Muda bukan orang yang bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Saya bersyukur kalau ada orang seperti Nona yang memahaminya."

"Hampir delapan tahun aku mengenalnya, Paman."

"Selama itu, Nona?" tanya Paman Harrold, kali ini benar-benar menatap mata Mamori.

Mamori mengangguk. Sesaat setelah itu telepon apartemen Hiruma berbunyi, dan keduanya sama-sama menoleh ke telepon itu.

"Jangan diangkat, Nona. Saya bisa menebak itu dari siapa," sahut Paman Harrold menahan Mamori yang hendak bangun.

"Kakek Youichi?" tanya Mamori

"Ya," jawabnya. "Saya harap Nona tidak bersikap gegabah. Apapun yang terjadi, percaya saja dengan Tuan Muda. Percayalah beliau bisa menyelesaikan semuanya."

Mamori tersenyum. "Tentu saja Paman. Aku tidak akan membuat Youichi cemas," jawabnya lalu membiarkan begitu saja telepon yang berdering lama

.

.

To Be Continue

.

Catatan Kecil:

Berat ga? Saya yang menulisnya saja jadi ikut pusing sendiri XD

Nah! Puas kan chapter ini panjang? Jangan kecewa ya kalau tidak sesuai harapan. Pokoke.. 100 buat yang bisa jawab kalo masalah barunya tentang kakek Hiruma! YEEY~~!

Salam: De