Sebenarnya saya mau update jam setengah tujuh tadi, eh malah kelupaan XD
.
Chapter 11
.
"I love you without knowing how, or when, or from where. I love you simply, without problems or pride. I love you in this way because i do not know any other way of loving you but this." - Pablo Neruda -
.
Lima setengah tahun yang lalu...
Hari sudah hampir petang, dan Mamori masih sibuk dengan tumpukan buku-buku pelajaran dan data-data klubnya. Walau sudah kelas tiga, dia masih terus membantu manager baru dan mengolah-olah data di samping waktu belajarnya untuk ujian kelulusan nanti. Dia merapikan kertas data dan menaruhnya di meja sebelah. Setelah itu matanya menatap kertas lainnya di atas meja. Mamori belum menuliskan apa-apa, di kertas pendaftaran universitas. Dia lalu mengambilnya dan menatapnya beberapa saat.
"Saikyoudai," sahut suara seseorang.
Mamori mendongak ke seseorang yang sudah dari tadi menemaninya di dalam ruang kelas. Saat ini, dia tengah duduk di atas meja menghadap Mamori dan tengah malas memandang keluar jendela.
Hiruma menatap balik Mamori, dan memasang seringaian di wajahnya. "Kau harus ikut denganku."
Mamori tersenyum. Dia memang sudah tahu kalau Hiruma pasti akan memilih Universitas itu. Sekolah dengan reputasi bagus dan klub American Football-nya yang tak terkalahkan. "Kenapa aku harus ikut bersamamu...," balas Mamori.
"Aku juga tidak tahu," jawabnya sambil mengangkat bahu. "Yang kutahu, kau sudah termasuk dalam rencana sialanku."
"Tapi pilihan jurusanku lebih bagus di Enma," jawab Mamori iseng.
Hiruma menaikan satu kakinya ke atas meja Mamori. "Kau harus ikut denganku, manager sialan!"
Mamori menatap tidak percaya ke kaki Hiruma, lalu mendongak lagi dan melototinya. "Kalau begitu mintalah baik-baik. Kenapa juga aku harus menuruti keinginanmu."
"Tadi aku sudah minta baik-baik kepadamu, bodoh," balas Hiruma. "Semua orang ingin masuk ke sekolah sialan itu. Dengan nilai-nilaimu, kau pasti bisa tembus dengan mudah."
"Aku dari awal memang mau ke Saikyoudai, tapi melihat sikapmu yang seperti ini, aku jadi malas untuk kuliah disana."
"Apa katamu?!"
"Lagipula kenapa kau ingin aku ikut denganmu? Seingatku, kita bukan teman, apalagi pacar. Kita hanya tiga tahun jadi teman sekelas. Dan di klub, kau kapten, dan aku manager. Tidak ada alasan yang jelas kenapa aku harus bersamamu."
"Itu kau sudah tahu alasannya, sialan. Aku kapten dan kau manager. Kau akan jadi manager sialanku selamanya."
"Apa? Kalau itu alasannya, lebih baik aku pilih Enma," sahut Mamori.
"Kalau begitu kau akan kujadikan pacar. Dengan begitu kau harus bersamaku."
Mamori melongo. "Mana ada yang seperti itu, Hiruma bodoh," balas Mamori menahan rona merah di wajahnya. "Jangan sembarangan. Tidak ada yang meminta seseorang untuk jadi pacarnya dengan cara seperti itu."
"Berarti kau tidak mau?" uji Hiruma masih dengan seringaiannya dan menatap dalam-dalam ke mata Mamori.
Mamori mengalihkan pandangannya. "Mmm.. Bukan begitu, hanya saja...,"
"Berarti kau mau?" sela Hiruma.
"Bukan begitu," jawab Mamori cepat. "Aku hanya tidak bisa terima pernyataan seperti itu."
"Pernyataan apa?" tanya Hiruma. Sudah jelas sekali kalau dia hanya menguji Mamori.
"Kau memintaku jadi pacarmu, tapi seingatku, kau tidak pernah mengatakan kau menyukaiku?"
"Tapi aku tidak pernah berkata aku tidak suka padamu."
"Jangan memutar-mutar perkataanku."
"Kau, bodoh, yang dari tadi tidak mengerti perkataanku."
"Kalau begitu aku tidak mau."
Hiruma terdiam menatap Mamori sesaat. "Keh. Tidak masalah." Dia lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil tasnya sendiri di bangku paling belakang.
Mamori lalu dengan cepat menangkap tangan Hiruma.
"Apa lagi, heh?" tanyanya menoleh ke Mamori.
"Aku tidak bisa menerimanya, Hiruma! Kalau kau memintaku dengan wajar untuk jadi pacarmu, maka aku akan memikirkannya baik-baik."
Hiruma membaca kedua mata Mamori. Wajahnya sedikit memerah dan ada keseriusan di pancaran matanya. Hiruma tersenyum, bukan dengan seringaiannya, tapi senyum lega dan penuh kebahagiaan di hatinya. Karena dia tahu, kali ini Mamori tidak akan menolaknya. "Kamu mau jadi pacarku?"
Tanpa Mamori sadari, dia kehilangan kata-katanya. Dia tidak menyangka dan masih belum siap mendengar kata-kata itu dari Hiruma. Satu kata 'Ya', rasanya begitu susah untuk dia ungkapkan. Sesaat dia merasakan tangan Hiruma sudah berada di tengkuk lehernya dan menariknya mendongak.
"Aku anggap kau mau," katanya, begitu dekat dengan wajah Mamori. Dengan cepat Hiruma mengecup bibir Mamori, setelah itu dia menatap wajahnya dan tersenyum menyeringai.
Mamori menahan napasnya. Kaget dengan apa yang terjadi barusan.
"Cepat. Ayo kita pulang."
"Hiruma! Bagaimana nanti kalau ada yang lihat!?"
"Tidak ada bodoh. Ayo cepat bereskan barangmu."
-End of Flashback-
"Apa yang kau pikirkan sambil menatap gedung-gedung sialan itu, heh?" tanya Hiruma membuyarkan lamunan Mamori yang tengah bersantai di kursi beranda.
Mamori menoleh melihat Hiruma yang sudah berlutut di sampingnya dengan tangan yang melingkar di pundak Mamori dan satu tangan yang menggenggam tangannya. Mamori lalu tersenyum, "aku tidak mendengar kamu masuk tadi."
"Itu karena kau sibuk melamun."
Mamori tersenyum lagi, setelah itu dia mencium dengan lembut pipi Hiruma. "Aku menyayangimu."
Hiruma menatap kaget. "Ada apa tiba-tiba begini?"
Mamori menggeleng. Beberapa hari lalu, dia mendengar cerita Emily tentang Hiruma yang begitu sangat mencintainya. Lalu siang tadi, dia mendengar dari Paman Harrold sisi lain dari kebaikan Hiruma. Walau pagi tadi, Mamori mendapat obrolan tidak menyenangkan dengan kakek Hiruma.
"Kau baik-baik saja?"
Mamori mengangguk. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya. "Kita bisa melalui semua ini, ya kan?"
Hiruma menatap wajah Mamori. Tidak perlu bertanya, dia sudah tahu apa yang dimaksud Mamori. "Tentu saja, bodoh. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," jawab Hiruma. "Sudah mau gelap. Ayo masuk." Hiruma lalu berdiri.
"Gendong aku," rajuk Mamori.
Hiruma melirik Mamori. "Jarak hanya satu langkah... Jalan sendiri."
"Youichi! Kau jahat!"
.
.
"Jadi apa yang akan Tuan Muda lakukan?" tanya Paman Harrold di tengah malam saat Hiruma sibuk di meja kerjanya dan Mamori yang sudah terlelap.
"Aku tidak bisa diam saja menunggu apa yang akan direncanakan Pak Tua sialan itu. Tidak ada tempat yang aman disini, tadi pagi pun dengan mudahnya dia bertemu Mamori. Pak Tua itu tahu kalau saat itu Mamori sedang diluar sendirian."
"Itu artinya, Tuan Besar punya mata-mata yang mengawasi Nona di sekitar apartemen ini."
"Kau benar," sahut Hiruma. "Saru-satunya jalan ialah memulangkannya ke Jepang."
"Tapi Tuan Muda, bagaimana dengan anda?"
"Aku akan ikut dengannya."
Paman Harrold bernapas lega. "Berarti Tuan rela mengorbankan semuanya?"
"Tidak. Dari awal itu semua bukan milikku. Jadi tidak ada yang kukorbankan."
Paman Harrold tersenyum. "Kalau begitu, ini akan jadi saat-saat terakhir saya bekerja pada anda."
"Ya," balas Hiruma. Dia lalu membuka laci mejanya, mengambil amplop berkas dari dalamnya, dan memberikannya kepada Paman Harrold.
"Apa ini Tuan Muda?"
"Aku punya rumah kecil di pinggiran California. Itu bukan rumah perusahaan. Itu rumah dari hasil kerjaku selama ini. Pak Tua itu tidak akan mengusiknya karena itu sudah menjadi hakku."
"Tapi kenapa Tuan memberikannya kepada saya?"
Hiruma menyeringai. "Aku tidak memberikannya padamu kek. Aku titip rumah itu sementara aku pulang ke Jepang. Kau bisa bebas menempatinya."
Paman Harrold menatap berbinar ke arah Hiruma. Walau bagaimana pun, dia merasa terharu karena memiliki majikan yang begitu memikirkan nasibnya setelah dia tidak bekerja lagi kepadanya. "Saya akan menjaganya baik-baik Tuan Muda. Terima kasih."
"Kau boleh pergi," sahut Hiruma.
Paman Harrold menunduk. "Baik. Saya permisi."
.
.
Mamori kembali duduk di kasurnya, setelah dia bersandar di pintu kamar dan mendengarkan percakapan Hiruma dengan Paman Harrold.
"Berarti Tuan rela mengorbankan semuanya?"
Mamori hanya bisa terdiam sambil berpikir. Hiruma akan kehilangan semua miliknya hanya untuk Mamori. Sekarang, Mamori menyadari kalau dia akan menjadi beban Hiruma nanti. Hiruma sudah punya segalanya. Kehidupan yang nyaman yang sudah dicapainya. Kalau bersama Mamori, Hiruma akan kembali menjalani hari-hari yang biasa, tanpa American Football.
"Saya harap Nona tidak bersikap gegabah. Apapun yang terjadi, percaya saja dengan Tuan Muda. Percayalah beliau bisa menyelesaikan semuanya."
Mamori menggelengkan kepala menyadarkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Walau rasanya aneh dan terlihat begitu percaya diri, Mamori harus yakin bahwa dirinya adalah kebahagiaan Hiruma itu sendiri. Mereka bisa bahagia, tanpa harta milik Hiruma yang seolah mencekik dan menghantui kehidupan mereka.
"Aku tahu kau belum tidur," sahut Hiruma mengalihkan perhatian Mamori kepadanya. Dia lalu berjalan mendekat dan duduk di di samping Mamori.
"Kamu yakin Youichi?" tanya Mamori dengan pertanyaan yang mengalir begitu saja.
"Dari awal aku sudah yakin."
Mamori memikirkan perkataan Hiruma. "Kalau dari awal kamu sudah yakin, kenapa tidak kamu lakukan dari dulu?"
"Entahlah," jawab Hiruma. "Aku masih muda. Aku masih bingung. Setelah aku meninggalkan Amefuto, dan seandainya saja aku tidak menuruti permainan Pak Tua itu, apa aku masih bisa kembali bermain. Apa lapangan masih mau menerimaku. Karena itu, aku merelakannya, dan meneruskan perusahaan itu."
"Aku yakin kamu masih bisa bermain lagi nanti."
"Ya," jawab Hiruma. "Tapi tidak sebagai Atlet profesional."
"Tidak apa," sahut Mamori tersenyum. "Mungkin suatu saat nanti, kamu bisa membangun sekolah Amefuto."
"Heh, itu impian yang muluk sekali," balasnya menyeringai.
"Lho... Kenapa? Tidak ada mimpi yang mustahil bagi Hiruma Youichi."
"Kau ini," balasnya sambil mengacak-acak rambut Mamori.
"Aku akan selalu bersamamu dan mendukungmu."
Hiruma lalu menunduk dan menyeringai. "Padahal dulu aku sampai memaksamu untuk tetap bersamaku dan kuliah di Saikyoudai. Sekarang kau malah melakukannya dengan suka rela."
"Kamu mengingatnya?" tanya Mamori.
"Tentu saja, bodoh."
"Sebenarnya waktu itu aku memang berencana masuk ke universitas yang sama denganmu dimanapun itu, walau bukan di Saikyoudai," ujarnya lalu tertawa.
"Tunggu," sela Hiruma. "Aku belum pernah dengar soal itu."
"Masa?" sahut Mamori tersenyum jahil. "Yah... Kalau aku tidak melakukan itu, mungkin kamu tidak akan pernah memintaku untuk jadi pacarmu."
"Sialan, kau. Ternyata dari dulu kau sudah berani mempermainkanku."
"Tidak masalah kan." Mamori mengangkat bahunya. "Pada akhirnya kamu juga mendapatkan aku yang begitu berharga ini."
"Si sialan yang berharga siapa yang kau maksud?" Hiruma mencubit pipi Mamori. "Tapi tunggu," sahutnya teringat sesuatu. "Itu artinya kau sudah menyukaiku sebelumnya? Dari kapan?"
Mamori melingkarkan tangannya ke pinggang Hiruma dan bersandar padanya. "Aku tidak ingat. Semuanya mengalir begitu saja. Yang aku ingat, saat itu aku bertekad ingin terus bersamamu. Apapun itu," jawabnya. "Kalau kamu? Sejak kapan?"
"Sejak kapan?" tanya Hiruma balik, menunduk ke Mamori yang mendongak menatap wajahnya menanti jawaban. "Kalau aku kasih tahu, apa imbalannya?"
Mamori kembali bersandar ke dada Hiruma dan tidak peduli lagi. "Kalau begitu tidak usah. Sama pacarmu sendiri saja masih perhitungan seperti itu," ambeknya.
"Keh. Aku tidak akan kasih tahu kamu kalau begitu."
Mamori mendongak lagi dan menatap marah.
"Apa, heh?"
"Kenapa semudah itu? Kau seharusnya mengalah. Padahal kau tahu aku marah."
"Aku tidak peduli. Malah untung bagiku kalau kamu memang sudah tidak mau tahu."
Mamori melepaskan rangkulan. "Dasar kau laki-laki menyebalkan. Aku heran dengan perempuan yang mau jadi pacar kamu." Dia lalu beranjak naik ke kasur menuju bantalnya.
"Ya. Kau benar. Aku rasa dia perempuan sialan yang bodoh."
"Kau menyebalkan Youichi! Sudah sana keluar. Aku mau tidur," kesalnya lalu menyelimuti dirinya sendiri.
"Kau tidak memintaku tidur bersamamu, heh?"
"Tidak akan," jawab Mamori langsung. "Kamu bau. Aku tahu kamu tidak mandi sore tadi."
"Kalau begitu aku akan mandi dan tidur disini," sahutnya. Dia lalu melihat Mamori. Dia tahu Mamori tidak akan membalasnya dan pura-pura tertidur tidak mendengar. "Ah, atau aku langsung tidur saja disini. Sudah malam juga."
Mamori mendadak langsung membuka matanya. "Mandi dulu," sahutnya. "Dan jangan tidur disini," sambungnya lagi, lalu langsung meletakkan kepalanya kembali ke bantal.
"Terserah aku. Kau berisik sekali," balas Hiruma menyeringai lalu keluar kamar.
.
.
Pagi harinya, Mamori memandang ke ranjang dan melihat Hiruma yang duduk santai di sana dengan laptop di pangkuannya. Dia lalu menghela napas. "Bisa keluar sebentar Youichi?" tanyanya sambil membuka pintu lemari.
Hiruma melirik sesaat ke Mamori, lalu kembali lagi ke layar laptopnya. "Aku tidak akan lihat."
Mamori, yang memang baru selesai mandi, dan hanya mengenakan jubah mandi milik Hiruma, yang entah sejak kapan menjadi hak milik Mamori, berbalik sambil bertolak pinggang ke Hiruma. "Aku mau ganti baju!" protesnya.
"Sudah kubilang aku tidak akan lihat, bodoh," balas Hiruma datar, tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Kau ini...," sahut Mamori. "Biasanya jam segini kau sudah ke kantor. Tapi sekarang, kenapa malah main laptop di kasur bukannya di meja kerjamu!?"
"Disini lebih santai dan udaranya bagus," jawabnya merujuk ke jendela kamar yang terbuka lebar dan menghembuskan angin pagi yang sejuk. "Dan aku bukan lagi main, bodoh. Ada yang harus aku urus," jawabnya panjang, masih tetap tidak melihat ke Mamori.
"Terserah," balas Mamori lalu mengambil pakaiannya secara asal untuk dia pakai di luar kamar.
"Jangan lupa kemasi barangmu. Malam ini kita pulang ke Jepang," sahut Hiruma.
Mamori menghentikan langkahnya saat ingin keluar kamar, lalu berbalik. Dia memandang Hiruma yang masih sibuk dengan laptopnya. Tanpa bertanya macam-macam, Mamori menjawab, "oke."
.
.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Hiruma yang masih tetap tidak bergerak dari tempatnya, sudah jenuh menunggu Paman Harrold yang dia panggil setengah jam lalu. Seharusnya dia hanya butuh waktu beberapa menit untuk kesini. Hiruma pun keluar kamar sambil menghubungi ponselnya. Tidak ada yang menjawab. Setelah itu dia mencoba menghubungi lagi, sambil matanya berkeliling ke penjuru ruangan mencari Mamori yang juga tidak terlihat. Mungkin dia di dapur atau di kamar mandi, pikirnya. Saat menghubungi Paman Harrold, samar-samar dia mendengar suara ponsel yang sudah sangat familiar di telinganya. Hiruma mengikuti ke asal suara tersebut, dan mendapati suara itu berasal dari balik pintu apartemennya. Suara ponsel Paman Harrold.
Hiruma lalu membuka pintunya dan mendapati ponsel Paman Harrold disana.
"Kenapa benda sialan ini ada disini?" gumam Hiruma.
Sembari sibuk dengan pikirannya, Hiruma menghubungi sopirnya, yaitu anak dari Paman Harrold. "Dimana kakek itu?" tanya Hiruma langsung saat ponsel tersambung.
"Bapak sudah naik ke atas saat menerima telepon dari Tuan tadi. Apa belum sampai?"
Dengan cepat otak Hiruma mencerna situasi yang terjadi. "Sesuatu terjadi. Segera siapkan mobil."
"Baik."
Hiruma lalu kembali ke dalam untuk mengambil jaketnya. "Heh, Mamori. Aku mau keluar. Kau jangan keluar ataupun buka pintu untuk orang lain."
Saat sudah memakai jaketnya, Hiruma sama sekali tidak mendengar jawaban dari Mamori. Dia lalu menengok ke dapur, namun Mamori tidak ada disana. Dia lalu menuju kamar mandi, dan matanya berhenti ke pakaian yang tergeletak di pintu kamar mandi yang terbuka. Hiruma berubah panik dan menyadari bahwa Mamori juga tidak ada. Dia telah diculik.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Okey... Saya tau kalian penasaran. Jadi yang sabar yaaa...
Nah semuanya, bersiap-siap yaa untuk chap 12 nanti XD
Salam: De
