Rate M untuk kekurang-ajaran Hiruma dan penculikan Mamori.

Chapter 12

.

"There is darkness in light, there is pain in joy, and there are thorns on the rose." - Cate Tiernan -

.

Tanpa basa-basi, Hiruma mendobrak pintu rumah kakeknya. "Keluar kau Pak Tua sialan!"

Penjaga pintu yang terbirit-birit mengejar Hiruma berkata, "tunggu Tuan Muda. Tuan besar sedang sarapan."

"Persetan dengan sarapan." Dengan tidak peduli, Hiruma lalu ke ruang makan yang berada di lorong sebelah kirinya.

"Selamat pagi, Nak," sapa kakek Hiruma saat melihat Hiruma muncul di ambang pintu.

"Apa yang sudah kau lakukan sialan!?"

"Aku melakukan penawaran. Kau mau mendengarnya?" balasnya santai.

"Dimana dia?"

Kakek Hiruma membersihkan mulutnya dengan kain yang diselip di kerahnya. "Gadis itu?" tanyanya. "Tenang. Dia ada di tempat yang nyaman. Dan pelayanmu, dia juga aman," jawabnya. "Bagaimana? Apa kamu mau mendengar penawaranku?"

Hiruma tidak menjawab, tapi kakeknya langsung melanjutkan. "Kalau kamu mau gadis itu aman, maka jauhi dia dan turuti perintahku. Dan kalau kamu tidak mau melakukannya, maka jangan salahkan aku jika anak-anak buahku menginginkannya."

"Berani kau melakukannya, maka aku akan membakar rumah ini," geramnya, sambil mengokang senjata yang dia bawa dan mengarahkan ke kakeknya. "Katakan dimana dia."

"Aku tahu itu hanya ancaman. Kamu tidak mungkin berani menembakku nak."

Detik itu juga, suara pistol berdesis tepat melewati pipi kakek Hiruma dan menembak guci di belakangnya, membuat orang-orang yang ada di ruangan kaget setengah mati. "Aku tidak butuh ocehanmu. Cepat katakan dimana dia sekarang!"

"Tenang Tuan Muda," tahan supir Hiruma. Karena satu-satunya orang yang berani menahan Hiruma di antara pelayan yang lain adalah dirinya.

Tanpa mendengarkan ucapan supirnya, Hiruma menembak lagi jam dinding yang berada tepat di sampingnya. "Aku tahu guci sialan yang kau beli dengan harga satu koma dua juta dollar itu tidak seberapa dibanding jam antik yang kau beli dari kolektor di Rusia itu." Hiruma lalu membidik ke lukisan di atas kepala kakeknya. "Dan lukisan sialan itu, hanya ada lima di dunia. Tidak telalu berharga," lanjutnya, lalu menembaknya lagi.

Kakek Hiruma yang sedari tadi berusaha untuk terlihat tenang, merasa gusar melihat koleksi berharganya hancur berkeping-keping.

"Kalau kau mencoba menghancurkan milikku, maka aku bisa dengan mudah menghancurkan barang-barang sialan milikmu," lanjut Hiruma lagi. "Bagaimana kalau kita coba ke balik tembok di belakang meja kerjamu?"

Kakek Hiruma kaget dan tambah panik saat melihat seringaian di wajah Hiruma. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya hati-hati.

"Aku rasa kau hanya menganggap lukisan dari Jepang yang kuberikan padamu beberapa bulan lalu sebagai pajangan saja, heh? Perhatikan baik-baik Pak tua, dari sana aku bisa melihat aktivitasmu di ruang kerja yang tidak boleh seorangpun memasukinya."

Kepanikan kini mulai melanda kakek Hiruma. Dia memang punya ruang pribadi di balik dinding itu. Yang jadi pertanyaan, kenapa cucunya ini bisa tahu kalau ruangan itu berisi barang-barang koleksi kesayangan miliknya. Tapi ada sedikit kelegaan disana, karena yang tahu password ruang kerja, hanya dirinya sendiri. "Kau tidak akan tahu passwordnya," belanya.

"Berani bertaruh?" sahut Hiruma langsung. Tanpa memedulikan kepanikan kakeknya itu, dia lalu membalik badan menuju ruang kerjanya.

"Tunggu!"

Hiruma menoleh melihat kakeknya ketakutan setengah mati.

"Hotel ES lantai 21."

Hiruma memutar bola matanya sambil berpikir. Dia tahu hotel baru itu adalah milik kakeknya yang akan dibuka dua bulan nanti. "Nomor?"

"Aku tidak tahu."

Hiruma lalu mengokang senapannya lagi dan mulai berjalan kembali, namun kakeknya menahannya. "Aku tidak tahu! Aku hanya memberikan secara asal dari laci kunci lantai 21 kepada anak buahku."

"Akan kuledakkan ruang rahasia sialanmu kalau kau berbohong."

"Aku sungguh tidak tahu!"

Hiruma menatap dengan serius. Dia lalu beralih ke sopirnya, sementara sopirnya mengangguk mengerti maksud Hiruma.

.

.

Satu hari sebelumnya...

Setelah keluar dari rumah kediaman kakeknya, Hiruma kembali ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Tanpa diketahui siapapun, Hiruma berhenti di samping tembok pagar rumah jauh dari jangkauan kamera pengawas di pintu gerbang. Beberapa menit dia menunggu, sopirnya, yang tak lain adalah anak dari Paman Harrold muncul dengan memanjat tembok pagar dari dalam rumah.

Hiruma lalu kembali mengambil laptopnya dari kursi belakang. Sementara pintu samping terbuka dan supirnya masuk sambil membuka sarung tangannya. "Apa ada yang melihatmu?" tanya Hiruma

"Tidak ada," jawabnya dengan napas yang masih terengah-engah. "Jangan suruh aku lagi melakukan tugas seperti ini Tuan."

Hiruma menyeringai. "Sayangnya tidak bisa."

Andrew, sang supir, sudah tahu kalau bosnya akan menjawab seperti itu dan dia hanya bisa menghela napas.

"Berhasil kau pasang?" tanya Hiruma

Andrew mengangguk sambil membuka jaketnya. "Aku tidak menyangka apa yang kulihat di dalam sana," jawabnya.

"Keh. Kita lihat apa yang ada di dalam ruang sialan itu."

Hiruma lalu menyambungkan laptopnya, ke kamera pengawas yang sudah Andrew pasangkan tadi saat Hiruma mengalihkan perhatian kakeknya yang ada di perpustakaan. Setelah tersambung, Hiruma lalu memperhatikan dengan serius layar laptopnya. " Pak tua sialan itu ternyata benar-benar suka mengoleksi benda-benda sialan ini."

"Ya. Yang Tuan pasang di ruang depan itu tidak seberapa. Di dalam itu ada ratusan! Semuanya koleksi antik dan mahal."

"Kenapa tidak kau ambil satu yang bisa masuk kantongmu, heh?"

Andrew mengerutkan dahi, "memang boleh?"

"Kenapa tidak. Dia juga tidak akan menyadarinya asal kau tidak menjualnya saat itu juga."

Andrew memamerkan senyum kecut. "Sayang sekali aku tidak sempat berpikir untuk mengambilnya. Yang kupikirkan cuma bagaimana kalau nanti aku ketahuan," sahutnya. "Tapi Tuan. Anda benar-benar sudah mengkamuflase kamera cctv-nya kan?"

"Tenang saja bodoh. Aku sudah mengontrol kamera yang di lorong itu. Kau tidak akan ketahuan, asal kau mengikuti saranku dengan lewat jendela langsung ke tempat lorong itu."

"Tapi Tuan besar benar tidak memasangnya di kantor dan di ruang rahasia itu kan?"

Hiruma menoleh dan melototi supirnya. "Sudah kubilang kau tenang saja! Untuk apa aku repot-repot menyelipkan kamera kecil di lukisan sialan itu kalau dia memasang juga cctv di kantornya. Kalau iya, aku tinggal menyadap saja. Tidak perlu repot-repot seperti ini, bodoh!" balas Hiruma kesal. "Dan ruang rahasia brengsek itu juga tidak ada cctv-nya. Tidak ada!"

Andrew, bukannya merasa takut, dia malah tersenyum dimarahi oleh Hiruma. "Aku kan hanya berjaga-jaga. Bagaimana nanti kalau anda salah dan ada cctv lain tapi anda tidak tahu." Dia lalu melihat Hiruma melototinya lagi. "Oke-Oke. Anda selalu benar dan tidak mungkin melakukan kesalahan."

"Aku butuh kerjasamamu lagi," sahut Hiruma.

"Apa?"

"Saat hari itu tiba. Saat Pak tua sialan itu memulai aksinya. Kita akan memojokkannya dan kau harus melakukan tugasmu, apapun itu."

- End of Flashback -

.

.

Mamori bergerak membuka matanya perlahan. Tapi yang ada hanya kegelapan. Matanya ditutup kain dan tangannya diikat di belakang. Samar-samar Mamori mendengar suara berat yang berbicara.

"Sudah lewat tiga puluh menit. Bos bilang kita boleh melakukan apapun yang kita suka kepadanya, kalau dia tidak menelepon kita dalam tiga puluh menit."

Mamori mendengar salah satu dari mereka berbicara dalam bahasa Inggris yang aneh. Suaranya dekat. Itu berarti mereka berada satu ruangan dengannya.

"Wanita Jepang ini cantik. Bagaimana?" sahut yang satunya.

"Ya. Tapi tidak seru kalau kita melakukannya tanpa ada perlawanan," jawabnya sambil tertawa dan pria yang satu lagi ikut tertawa.

Saat itu juga Mamori mengurungkan niatnya untuk bergerak.

"Kau benar," sahutnya. "Tapi dia begitu menggoda. Lihat. Dia hanya mengenakan jubah mandi."

Pria yang satunya tidak membalas, namun Mamori tahu dua orang itu sedang mengamati dan memandangi tubuhnya lekat-lekat. Saat ini, dia hanya berharap mereka tidak melakukan hal macam-macam kepadanya.

"Kalau kita menyentuhnya sedikit, dia mungkin akan bangun," jawabnya terdengar senang.

Detak jantung Mamori makin berdebar kencang. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sekarang dia merasa takut dan gelisah.

"Kalau begitu aku dulu."

"Kenapa kau dulu? Aku yang memberi usul, maka aku duluan."

Mamori hanya terus berdoa di tengah ketakutannya. Dia hanya bisa menghitung detik sampai mereka menyentuhnya. Ketakutannya sudah memuncak dan keringat dingin mengucur di pelipisnya. Rasanya Mamori ingin menangis, tapi dia menahannya. Dia hanya berharap ada yang menolongnya. Hiruma datang menolongnya.

Mamori mendengar suara dobrakan pintu kencang. Detik setelahnya, dia mendengar suara pukulan dan suara benda patah. Mamori mendengar suara perlawanan dari kedua pria itu yang tersela dengan suara pukulan dan dentuman keras.

"Keluar kalian brengsek!"

Hiruma.

Mamori mendengar suara Hiruma. Kelegaan menyelimutinya. Mamori bisa bernapas lega dan dia bangun dari tempat tidur tempatnya berbaring. Dia merasakan Hiruma membuka ikatan matanya. Dan saat itu air mata langsung tumpah begitu saja saat Mamori menatap lekat-lekat wajah Hiruma.

"Youichi," isaknya. "Aku takut sekali."

"Aku tahu," balas Hiruma. "Sudah. Jangan bicara lagi. Aku tahu."

Hiruma merentangkan tangannya ke belakang Mamori dan membuka ikatannya. Saat sudah terlepas, Mamori langsung meraih leher Hiruma dan memeluknya kencang. Dia menangis sejadi-jadinya. Hiruma memeluk Mamori balik tanpa kata-kata dan hanya bisa bersyukur dia bisa menolong Mamori tepat pada waktunya. Dia lalu mencium rambut Mamori. Setelah itu dia menyelipkan lengan ke kaki Mamori dan menggendongnya keluar. Sementara Mamori masih memeluk Hiruma kencang.

.

.

Setelah sampai di mobilnya, Hiruma lalu mendudukkan Mamori di kursi belakang. Dia lalu memutari mobil dan masuk lewat pintu yang lainnya. Hiruma membuka jaket dan memakaikannya ke Mamori.

"Sudah. Jangan menangis, bodoh," sahut Hiruma. "Kau tahu, mungkin kau bisa menciptakan rekor baru," lanjutnya. "Mana ada orang yang diculik pagi-pagi saat dia selesai mandi dan hanya mengenakan jubah mandi."

"Tidak lucu," sahut Mamori lemah sambil sibuk menghapus air matanya.

Hiruma hanya bisa menyeringai mencairkan ketegangan Mamori, walau dirinya lah yang paling ketakutan kalau sampai hal yang tidak dia inginkan terjadi pada Mamori. Mamori miliknya. Tidak boleh ada satupun yang berani menyentuhnya.

"Kau tunggu disini. Aku mau menolong kakek tua dulu."

"Paman Harrold?" tanya Mamori bingung.

Hiruma mengangguk. "Dia disekap di sebelah kamar sialan itu," jawabnya. "Kau tunggu sebentar."

Mamori menahan baju Hiruma yang hendak keluar mobil.

Hiruma menoleh. "Tidak akan lama. Kau kunci mobil ini. Nyalakan AC dan musiknya. Aku akan kembali dalam beberapa menit."

"Aku ikut," pinta Mamori.

"Kau gila. Tidak. Kau tunggu disini." Hiruma lalu mengecup kening Mamori. Setelah itu dia keluar dan menutup pintu. Dia beralih ke pintu depan, menghidupkan mobil, menyalakan AC dan musiknya. "Kunci dari dalam."

Mamori mengangguk dan mengunci semua pintu setelah Hiruma masuk ke dalam hotel.

.

.

"Kau tahu apa yang lucu?" tanya Hiruma saat mereka sedang duduk berdampingan di sofa depan televisi, dengan tangan kanan Hiruma direntangkan ke punggung sofa belakang Mamori sambil menonton televisi.

Mamori menoleh sebentar, lalu kembali mengelus-elus Cerberus di pangkuannya. "Jangan bilang soal aku yang menciptakan rekor baru itu."

"Bukan, bodoh," balas Hiruma cepat.

"Lalu apa?"

Hiruma menyeringai. "Kau tadi langsung memelukku cepat saat baru melihatku. Seharusnya aku menggunakan ide itu sebagai perangkap agar kau datang ke Amerika."

"Konyol," sahut Mamori. Tidak mau menanggapi kegilaan Hiruma itu.

"Kenapa, heh? Itu lebih baik daripada mendapatimu kesal padaku, marah-marah seperti orang gila, menamparku, lalu menangis, dan menolakku berkali-kali."

"Tapi kalau kamu pura-pura menculikku. Maka setelahnya aku akan kesal, marah dan menamparmu saat tahu kau biang dibalik semua itu," balas Mamori. "Jadi kamu pilih yang mana?"

"Benar juga, heh," jawab Hiruma menyeringai.

Sesaat, keheningan melanda mereka. Hiruma tahu Mamori masih tenggelam dalam pikirannya atas peristiwa tadi walaupun dia berusaha untuk tidak mengingatnya.

"Kau lapar?" tanya Hiruma.

Mamori menoleh, kemudian dia hanya menggeleng.

"Aku akan pesan pizza," sahut Hiruma. "Bagaimana bisa kau tidak lapar padahal seharian ini kita belum makan, heh?"

Mamori tersenyum lalu menurunkan Cerberus dari pangkuannya, dan membiarkannya tidur di pojok ruangan. "Terus, kita tidak jadi pulang ke Jepang sekarang?"

"Pak Tua itu tidak bisa berulah lagi. Jadi biar saja."

"Tapi tinggal beberapa hari lagi."

Hiruma tidak menjawab dan hanya menatap kosong ke Mamori.

Mamori lalu melanjutkan. "Kamu sendiri yang bilang. Hanya sebulan. Setelah itu terserah aku mau kemana. Ya kan?"

"Jadi kamu mau kemana?"

Mamori terdiam sesaat memandang wajah Hiruma. "Aku mau pulang ke Jepang."

.

.

To Be Continue