Dua chapter terakhir
.
Chapter 13
.
"There is always some madness in love. But there is also always some reason in madness." - Friedrich Nietzsche -
.
"Jadi kau mau pulang ke Jepang, heh?" tanya Hiruma, mempelajari setiap mimik wajah Mamori.
"Ya," jawab Mamori. "Bukannya kau yang bilang, kalau kita akan pulang? Jadi apa masalahnya?" Kali ini Mamori yang menatap lekat-lekat ke wajah Hiruma. "Kamu juga mau kan? Bukannya masalah dengan kakekmu sudah selesai? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Hiruma mengingat saat tadi siang supirnya kembali menyerahkan surat pernyataan hukum yang telah Hiruma buat. Surat itu berhasil ditandatangani kakeknya yang berisi bahwa dia sudah tidak akan ikut campur urusan pribadi Hiruma, dan segala detail yang merugikannya. Surat itu juga sudah dia serahkan ke pengacara. Jadi saat ini, Hiruma lebih memegang kuasa dan kakeknya tidak bisa berbuat macam-macam. "Memang," sahut Hiruma. "Karena semuanya sudah beres, maka aku masih tetap bekerja―memimpin perusahaan."
Mamori mengangguk-angguk dan sibuk dengan pikirannya. "Kalau begitu aku saja yang pulang."
Hiruma menahan tangan Mamori yang hendak berdiri dari sofa. "Kau tidak mau tetap disini?"
Mamori kembali duduk, dan menghela napas. Dia lalu menoleh ke Hiruma. "Youichi," sahutnya sabar. "Ini bukan tentang kita saja. Aku juga punya kehidupan. Aku harus kuliah, kerja, aku juga punya keluarga."
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, maka kau seharusnya mengerti."
"Lalu bagaimana dengan aku, heh?" tanya Hiruma tidak sabar.
"Bagaimana denganmu?" tanya Mamori tidak percaya. "Kau bisa tetap disini. Kau bekerja, pimpin perusahaan seperti biasa, karena itu memang milikmu sekarang," jelas Mamori.
"Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu, bodoh!?"
Mamori terpaku mendengar pernyataan Hiruma. Ya, tentu saja itu juga yang jadi masalah Mamori, tapi sedari tadi dia berusaha untuk bersikap dewasa. "Ada webcam. Tenang saja, sekarang aku sudah bisa melakukannya," jawab Mamori tersenyum menenangkan.
Bagaimana kalau aku ingin menyentuhmu. Kata-kata itu tertahan di mulut Hiruma. Dia lalu perlahan melepaskan tangan Mamori. "Terserah," sahutnya dingin. "Aku akan pesan pizza." Dia lalu bangun meraih gagang telepon di samping sofa.
.
.
Mamori terbaring menyamping di pinggir tempat tidur. Dia tidak bisa tidur memikirkan kejadian tadi pagi. Bagaimana jadinya kalau Hiruma telat datang menolongnya? Mamori lalu menggelengkan kepala dan menenangkan dirinya. Mengingat itu, Mamori jadi ingat setelah perbincangan tadi, Hiruma sama sekali tidak bicara dengannya. Mamori tahu alasannya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena yang terjadi di depan mereka, Mamori harus pulang ke Jepang dan melanjutkan kuliahnya. Tidak ada jalan lain. Seharusnya Hiruma juga mengerti itu.
Pintu kamar terbuka. Dia tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang masuk. Dia mendengar Hiruma membuka pintu lemari dan menarik lacinya. Dia mengambil sesuatu dari dalam sana, entah apa Mamori tidak tahu. Setelah itu Hiruma pergi keluar lagi. Kalau terus seperti ini, mungkin Mamori harus mempercepat kepulangannya. Mungkin lusa.
.
.
"Kau mau kemana?" tanya Hiruma keesokan paginya dari balik meja, melihat Mamori dengan pakaian lengkap dan tasnya.
"Aku mau ke bandara. Beli tiket," jawab Mamori. Tentu saja dia harus ke bandara. Mamori tidak tahu bagaimana orang-orang bisa membeli sesuatu secara online. Selain tidak mengerti, dia juga tidak percaya untuk melakukan transaksi online.
"Kita belum berunding soal itu," sahut Hiruma langsung.
"Oh ya?" Mamori menatap ke Hiruma lalu kembali berjalan ke teras depan. "Seingatku kau tidak mau bicara denganku dari kemarin."
Entah bagaimana, Hiruma sudah mendahului Mamori dan menahan pintu di depannya. "Sialan," balas Hiruma. "Bisa tidak kau pikirkan baik-baik? Bukan karena aku tidak bicara denganmu maka kau bisa memutuskan seenaknya."
"Kemarin aku sudah bilang kalau aku mau pulang ke Jepang," jawab Mamori. "Dan kau bilang terserah aku. Lalu apa masalahnya?"
"Aku tidak mengizinkanmu! Tidak kemarin, tidak sekarang, tidak sampai kapanpun!"
"Kau jangan egois, Youichi," sahut Mamori masih tetap tenang walaupun dia tahu Hiruma sudah sangat emosi di depannya. "Oke, begini. Kita masih bisa bertemu sebulan sekali atau sesering yang kau mau. Kau masih bisa kembali ke Jepang. Tidak ada yang melarangmu lagi, kan?" jelas Mamori. "Aku tidak mengerti kenapa kau membuatnya terlihat rumit seperti ini."
"Bagaimana nanti kalau perasaanmu berubah dan kau sudah tidak lagi mencintaiku!?" tanya Hiruma. Persetan dengan semuanya. Dia sudah tidak bisa menahan pemikiran itu di otaknya.
Mamori terbelalak dan menatap tidak percaya. Sama sekali tidak yakin dengan apa yang sudah didengarnya. "Kau meragukanku, Youichi!" balas Mamori sama kerasnya. "Kau kira aku perempuan apa? Aku pernah menjalani dua tahun tanpamu dan aku masih tetap mencintaimu. Kalaupun aku sampai lupa ingatan, aku pasti akan mencintaimu lagi! Dasar kau bodoh!" jelas Mamori, sudah tidak bisa menahan luapan emosinya lagi.
Hiruma hanya terdiam dengan tatapan tidak percayanya.
"Padahal akulah yang lebih cemas. Perempuan disini cantik-cantik. Mereka tinggi, seksi, dan agresif. Aku tahu semua lelaki tidak akan menolak kalau disodorkan perempuan seperti itu. Kau mungkin berkata cinta padaku. Tapi pada saat yang sama kau melupakanku dan bersenang-senang sendiri!"
"Kau menyamakanku dengan lelaki macam itu?" tanya Hiruma sama emosinya.
"Apa?" tantang Mamori. "Kau juga mengataiku seolah aku perempuan yang tidak punya pendirian!"
Ting-Tong
Keduanya sama-sama beralih ke pintu di samping mereka. Hiruma menyalakan interkom dan melihat Emily di layar, sementara Mamori mengatur napasnya agar kembali normal.
"Hai You. Bisa buka pintunya?" Suara Emily terdengar interkom.
Hiruma lalu memasukkan password-nya dan pintu terbuka.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi disini, tapi suara kalian terdengar sampai depan pintu," sahut Emily, yang sudah beberapa menit di depan pintu dan ragu untuk menekan bel karena mendengar pertengkaran―yang tidak dia mengerti antara Mamori dan Hiruma. Tapi karena terdengar tidak akan selesai begitu saja, akhirnya dia memaksakan diri menekan bel.
"Ada apa, heh?" ketus Hiruma, tidak memedulikan basa-basi Emily tadi.
"Aku mau menemani Mamori ke bandara. Memang kamu tidak tahu?" jawabnya polos, memanaskan kembali amarah Hiruma tanpa diketahuinya.
"Ayo Emily," sela Mamori sambil melingkarkan tangannya ke lengan Emily. "Bilang pada sepupumu yang egois itu, jangan bersikap bodoh dan kekanak-kanakan," lanjutnya.
Emily memandang kebingungan dari Mamori ke Hiruma lalu ke Mamori lagi. Dia lalu mengangkat bahu tidak mengerti. Yang dia lihat, hanya sorotan tajam mata Hiruma yang tidak lepas dari mereka sampai Mamori membanting pintu di depannya.
.
.
"Apa yang terjadi?" tanya Emily saat mereka di mobil. Dia menunggu saat yang tepat untuk bertanya pada Mamori karena melihat emosinya yang masih meluap-luap.
"Youichi si bodoh itu," geram Mamori. "Dia melarangku pulang ke Jepang dengan alasan yang tidak masuk akal."
Emily hanya menoleh sambil memundurkan mobilnya meminta Mamori untuk melanjutkan.
"Dia bilang kalau aku pulang, aku akan melupakannya dan mencari laki-laki lain. Dia pikir aku perempuan apa?" lanjut Mamori. "Padahal aku yang seharusnya lebih cemas meninggalkannya disini. Di Amerika―seperti yang kau bilang, kehidupan yang 'bebas'."
"Kau benar," sahut Emily mulai menjalankan mobilnya ke jalan raya. "Memang sudah seharusnya kau cemas." Emily melirik ke Mamori sesaat dan melihat bagaimana reaksinya. "Tapi Mamori, dia bersikap seperti itu karena dia mencintaimu."
"Aku tahu. Aku juga mencintainya."
"Kau bilang kepadanya?" tanya Emily dan melihat Mamori mengangguk yakin. "Kalau begitu dia bodoh," sahutnya tersenyum meledek. "Aku tidak mengerti apa yang kalian permasalahkan. Kalian sudah dua tahun berpisah, tapi masih tetap saling mencintai. Aku rasa hubungan jarak jauh bukan masalah."
"Aku juga sudah bilang begitu kepadanya," balas Mamori. "Tapi dia tetap keras kepala." Mamori yang berhasil menenangkan dirinya menatap jauh ke luar jendela.
"Tapi apa kamu sudah bilang kalau kamu bersedia menikah dengannya?"
Mamori menoleh ke Emily, lalu mengerutkan dahinya. "Apa aku perlu bilang? Aku mencintainya, sudah pasti aku mau menikah dengannya."
"Pantas saja dia begitu," sahut Emily. "Laki-laki butuh kepastian Mamori. Mereka tidak akan mengerti kalau tidak kamu katakan."
"Dia tidak memintaku lagi. Tidak mungkin kan tiba-tiba aku bilang aku mau menikah dengannya, sementara dia belum bertanya lagi?"
Emily menghela napas. "Kalau kalian berdua seperti itu, bagaimana mau terus berlanjut."
Mamori lalu terdiam memikirkan kata-kata Emily dan kembali menatap keluar jendela. "Aku rasanya tidak mau kembali ke apartemennya setelah ini."
"Kalau begitu kita jalan-jalan," usul Emily. "Kau bisa bermalam di hotelku, dan lupakan dulu si bodoh itu."
.
.
Setelah dari bandara, mereka menonton fashion show jalanan yang sengaja ingin dilihat oleh Emily. Emily bilang, inspirasi itu selalu datang dari tempat yang tidak terduga. Dan seperti yang dikatakan Emily, fashion show ini tidak terlihat murahan, malah terlihat elegan dan mewah. Pakaian dan model-modelnya pun sama cantik seperti yang pernah Mamori lihat-lihat di televisi. Tidak ada panggung catwalk. Model dan penonton sama-sama berada di jalan. Semua berdiri dan mengerubungi karpet merah, sambil terpana dan terkagum-kagum. Emily bilang, beginilah cara designer memperkenalkan rancangannya kepada publik yang tidak punya kesempatan untuk menonton fashion show megah secara langsung dan mereka bisa menonton ini di jalanan secara gratis. Designer ternama sangat jarang untuk melakukan hal seperti ini, karena target pasar mereka adalah masyarakat kalangan atas. Tapi untuk designer kelas menengah, mereka tidak akan segan-segan ikut meramaikan acara ini.
Tiga puluh menit lewat, Mamori tidak merasa lelah berdiri di kerumunan karena memang dia sangat menikmati fashion show ini.
"Kita ke kafe sana saja, Mamori," sahut Emily kencang-kencang karena suaranya terbanting dengan latar musik fashion show itu. "Kita duduk di lantai duanya " Dia lalu menunjuk ke lantai dua dari kafe di seberang jalan.
Mamori mengangguk. Mereka lalu menyebrang jalan dan masuk ke dalam kafe. Setelah mereka berdua memesan dua cakes dan ice lemon tea. Mata Mamori masih juga menikmati fashion show dari lantai dua kafe.
"Nah Mamori," sahut Emily. "Sebenarnya aku ada satu permintaan."
Mamori menoleh dan tersenyum. "Apa?"
"Aku tahu You pasti tidak akan setuju. Tapi apa kamu mau jadi modelku?"
Mamori menatap kaget. "Aku? Model?"
"Ya. Aku buat rancangan yang―aku membuatnya sambil membayangkanmu. Jadi aku rasa kamu cocok untuk jadi modelnya."
Tapi aku tidak mau melakukannya karena pasti Youichi tidak mengizinkan. Mamori ingin sekali menjawab seperti itu, tapi dia menahan diri karena, sekarang ini dia kesal dengan Hiruma. Bagaimana mungkin seseorang kesal dengan kekasihnya, tapi masih juga memikirkan pendapat kekasihnya itu. "Aku tidak bisa Emily. Aku kan harus pulang ke Jepang," jawabnya. "Lagipula aku tidak tahu bagaimana harus tersenyum di depan kamera."
"Tapi aku melihat rekaman video waktu kamu dan You di klub Amefuto. Kamu bisa tersenyum lepas walau disorot kamera seperti itu."
Aku bukan tersenyum kepada kamera. Aku tersenyum kepada Youichi yang ada dibalik kamera video itu. Lagi-lagi Mamori tidak bisa menjawabnya. Kenapa lagi-lagi harus selalu Hiruma yang menjadi alasan dari semua tindakannya. Mereka sedang bertengkar. Mamori harus berkali-kali mengingatkan itu pada dirinya sendiri. "Itu berbeda. Aku tetap saja tidak bisa melakukannya."
Emily menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu, tolak aku terus jika aku terus-terusan memaksamu. Aku hanya tidak ingin You marah-marah kepadaku lagi seperti waktu itu. Dia menyeramkan kalau sedang marah. Aku heran bagaimana kamu bisa menanganinya yang emosian seperti itu."
"Aku sudah biasa melakukannya. Saat SMA, dari belasan anggota klub, hanya aku dan teman kita yang bernama Musashi yang berani menentangnya. Youichi sangat keras kepala. Pemaksa. Dulu aku sangat tidak menyukainya."
Emily mengangguk-angguk. "Jadi kamu akan tetap pulang lusa nanti walaupun You tidak mengizinkanmu?"
"Ya," jawab Mamori. "Walau sebenarnya aku berencana besok."
"Sayang sekali. Padahal aku lebih suka kamu disini. Orang yang kukenal di Amerika hanya rekan bisnis saja. Mereka tidak bisa diajak mengobrol seperti kamu."
"Kalau begitu kamu main ke Jepang. Nanti menginap di rumahku."
"Mungkin aku akan mencari tahu designer disana dan bekerja sama dengannya."
Mamori tersenyum. "Ide bagus."
Mamori menoleh ke tas di samping kursinya. Dia mendengar nada dering, dan dari sana dia langsung tahu siapa yang meneleponnya. Karena beberapa hari yang lalu dia meminta nomor ponsel Hiruma dan memilih nada dering khusus untuknya.
"Tidak kamu angkat?" tanya Emily.
"Biar saja," sahut Mamori. "Aku tahu siapa yang menelepon. Paling dia hanya marah-marah kalau aku angkat."
Telepon berhenti berdering beberapa sesaat, kemudian berbunyi lagi.
"Angkat saja."
Dengan malas Mamori merogoh ponselnya. "Apa?" sahutnya saat sudah tersambung.
"Dimana kau sialan?" tanya Hiruma langsung.
Mamori hening sesaat. Kesal dengan panggilan dan nada suara Hiruma.
"Cepat pulang sekarang."
"Bisa kau minta baik-baik?"
"Tidak," balas Hiruma cepat. "Aku belum sarapan dan juga makan siang. Cepat kau pulang."
"Bukannya ada pizza sisa kemarin malam?"
"Aku tidak mau itu. Aku mau kau buatkan makan siang."
"Aku bukan pembantumu, Youichi!"
"Aku tidak peduli. Aku ingin kau pulang. Jangan coba-coba menginap di tempat Emily, atau aku akan menyeretmu pulang."
Mamori menahan mulutnya terbuka tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sementara Hiruma sudah memutuskan sambungannya.
"Ada masalah?" tanya Emily penasaran karena dia tidak mengerti dengan apa yang Mamori katakan.
"Youichi merengek meminta aku pulang."
"Merengek? Kata yang bagus," sahut Emily geli. "Aku tidak bisa membayangkan You merengek." Dia lalu melihat Mamori yang terlihat bersiap-siap untuk pergi. "Kamu mau menurutinya?"
"Apa boleh buat. Dia kelaparan," sahut Mamori tersenyum kecut.
Emily lalu menggelengkan kepala. Dia lalu mengambil tas dan menaruh uang di atas meja, dan mengikuti Mamori keluar kafe.
"Maaf ya Emily. Aku tidak bisa menginap bersamamu di hotel. Nah, bagaimana kalau kamu yang menginap di apartemen?"
Emily memandang Mamori dan membayangkan apa yang terjadi kalau dia menginap dan membuat Hiruma melototinya sepanjang malam karena mengganggu ketentramannya bersama Mamori. "Tidak apa."
"Dia kekanak-kanakan sekali. Padahal dia bisa memesan makanan. Tapi malah repot-repot meneleponku dan memintaku cepat pulang dan membuatkan makanan."
Emily tersenyum mendengar penjelasan Mamori. Dia heran dengan pasangan kekasih ini. Padahal Mamori bisa saja menolak Hiruma, tapi tidak dia lakukan.
"Dasar kalian ini," gumam Emily.
Mamori menoleh. "Hm? Kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak," jawabnya tersenyum lalu menggeleng lagi terheran-heran.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Wow! Chap ini isinya berantem terus. Saya jadi ikut emosi juga.
Okey, cerita ini hanya fiksi belaka. Kalau ada kesalahan mengenai fashion show jalanan benar-benar ada atau tidak, semuanya hanya berasal dari ide penulis saja XD
Untuk FJS-san, maaf ya aku ga bisa update hari senin karena memang tidak sempat. Dan kamu jangan sedih, walau tidak diterima di negeri, aku yakin banyak universitas swasta yang bagus. Tapi kamu jg punya cadangan di swasta kan? Karena pengalamanku dulu, sebelum dapat negeri, aku sudah terdaftar di swasta duluan. Begitu...
Oke deh FJS-san, Ganbatte~!
So my dear readers, keep calm and wait the next chapie~!
Salam: De
