Last Chapter guys~!
.
Chapter 14
.
"I wondered what happened when you offered yourself to someone, and they opened you, only to discover you were not the gift they expected and they had to smile and nod and say thank you all the same time." - Jodi Picoult -
.
Setelah seharian Mamori beres-beres pakaian dan segala macam keperluannya masuk ke dalam koper, sekarang Mamori sudah terlelap di pinggir tempat tidur. Dia memang selalu tidur di pinggir seperti ini untuk berjaga jika seandainya Hiruma ingin tidur di tempat tidur tanpa perlu membangunkannya.
Barang-barangnya―seperti yang sudah dia duga, tidak muat masuk ke dalam koper, jadi dia meninggalkan beberapa dan meminta Hiruma membawanya saat di ke Jepang. Walau Mamori tidak yakin Hiruma mau melakukannya. Jadi dia hanya meninggalkan barang yang sekiranya bisa ditinggalkan jika dia datang lagi ke Amerika.
Seharian ini pun, pertengkaran tidak lepas dari mereka dan itu membuat Mamori sangat lelah. Semua hal selalu mereka perdebatkan. Dia tidak tahan. Padahal dia mau pulang ke Jepang. Apa tidak bisa mereka menghabiskan waktu bersama dengan santai dan damai tanpa harus bertengkar? Hiruma sangat keras kepala, sedangkan Mamori juga sama keras kepalanya. Semuanya membuat Mamori kehabisan energi sehingga dia cepat tidur terlelap walau hanya beberapa menit merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Mamori terbangun seketika dan membuka matanya perlahan. Dia merasakan Hiruma menyelinap ke balik selimut, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Mamori dan memeluknya dari belakang. "Oh, Youichi. Ada apa?" tanyanya menoleh perlahan ke belakang masih dalam kantuknya.
"Diam," sahut Hiruma. "Biarkan aku seperti ini."
"Kamu ini," gumamnya pelan seraya tersenyum melihat tingkah Hiruma yang sangat tidak biasa dia lakukan. Dia kemudian menarik tangan Hiruma dalam genggamannya.
Hiruma memejamkan mata dan merasakan kehangatan Mamori. Besok Mamori sudah tidak disini lagi dan apartemen ini akan kembali sepi dan dingin. Hanya ada dirinya dan Cerberus. Jadi sebisa mungkin Hiruma ingin mendekap Mamori sejenak karena seharian ini mereka tidak ada waktu untuk melakukannya.
"Sudah tidur?" tanya Mamori lembut.
"Hm? Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku mau tidur lagi," jawabnya lalu kembali memejamkan mata.
"Mm," jawab Hiruma lalu mencium rambut Mamori dan mendekapnya lebih erat.
.
.
Pagi datang dengan cepat. Mamori rasanya tidak mau bangkit dari tempat tidur untuk bersiap-siap. Pesawatnya akan lepas landas jam delapan nanti. Dengan malas, Mamori bangun dan menyibakan selimut dari tubuhnya.
"Bangun Youichi, aku mau siap-siap," sahutnya sambil mengguncang-guncang kaki Hiruma. Mamori lalu beranjak dari tempat tidur tanpa memedulikan Hiruma yang masih tengkurap malas di tempat tidur. "Aku akan naik taksi kalau kau tidak bangun juga."
Hiruma perlahan bangun sambil mengumpat. Sementara Mamori sudah melesat ke kamar mandi, Hiruma mengumpulkan kesadarannya sambil mengacak-acak rambut yang memang sudah berantakan.
Dia lalu meraih ponsel di samping tempat tidur dan menekan nomor Paman Harrold. "Belikan aku kopi dan Mocacinno di cafe bawah. Kalau ada belikan juga beberapa kue. Sepuluh menit."
"Baik Tuan," sahut Paman Harrold lalu menutup teleponnya.
Paman Harrold sudah datang dengan pesanan Hiruma sebelum Mamori selesai dari mandinya. Hiruma menyerup kopi hitam pekat yang biasa dia beli sendiri saat berangkat ke kantor. Namun karena sekarang dia akan mengantar Mamori ke bandara, dia meminta Paman Harrold― yang selalu bersiaga di tempat parkir sebelum Hiruma bangun untuk membelikannya.
"Cepat kau mandi," sahut Mamori yang sudah keluar dari kamar mandi.
Hiruma lalu beranjak dari sofa, menaruh kopinya dan menuju kamar mandi.
Sesampainya mereka di bandara, Mamori sudah bersiap untuk berpisah dengan Hiruma. Namun Hiruma menyeringai dan mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, yaitu passport dengan tiket pesawat di dalamnya.
"Apa-apaan!?" tanya Mamori bingung lalu menyambar passport dari tangan Hiruma dan membukanya. Dia melihat satu tiket pesawat dengan tujuan dan jadwal penerbangan yang sama dengan dirinya. "Bagaimana kau―bahkan kamu bisa memesan kursi tepat di sebelahku?"
"Kenapa kau kaget, heh?" sahut Hiruma mengambil kembali passport-nya kembali dan menyimpannya di balik jas. "Bukannya kau senang aku juga ikut denganmu ke Jepang?"
"Tapi―" Mamori masih dalam kagetnya. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Kau lupa kalau perusahaan sialan itu juga ada di Jepang? Aku mau mengurus sesuatu disana."
"Lalu pakaianmu? Kau hanya bawa dompet di kantong celanamu!"
"Aku masih punya baju di rumah, bodoh."
Mamori menaikkan bahunya. "Baiklah."
"Kau tidak terdengar senang?"
Mamori mengangguk-angguk lalu mengalihkan pandangannya dan berjalan kembali ke dalam. "Aku senang," jawab Mamori. "Cuma rasanya bosan saja kalau terus melihatmu."
"Apa katamu, heh?" ketus Hiruma.
Mamori tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke lengan Hiruma. "Aku bercanda. Ayo."
.
.
Pagi hari mereka sudah sampai di Jepang. Di bandara mereka sudah disambut oleh Keith yang menghampiri mereka dengan membawa map di tangannya.
"Direktur Hiruma," sapanya menundukkan kepala lalu tersenyum kepada Mamori. "Anezaki-san." Setelah itu Keith lalu langsung berjalan di samping Hiruma sembari membuka mapnya. "Maaf Direktur Hiruma. Saya butuh tanda tangan anda cepat."
Mamori menarik kopernya dan berjalan di samping mereka melihat betapa sibuknya Keith yang membutuhkan tanda tangan Hiruma secepat mungkin. Sementara Hiruma hanya membaca cepat dan menandatangani lembaran yang disodorkan padanya.
"Apa si kacamata sialan itu berhasil mendapatkan kontraknya?" tanya Hiruma.
"Ya Direktur. Seminggu lagi games baru kita dengan perusahaan K akan segera luncur," jawabnya.
"Apa sudah mendapat kerjasama dengan media sosial yang baru itu?"
"Jiro-san akan ke Korea siang ini untuk merundingkannya," jawabnya lagi.
"Bilang pada bagian animasi untuk menambah karakter baru. Aku sendiri saja bosan memainkannya, apa lagi orang lain."
"Baik Direktur."
"Di Amerika butuh orang untuk programing. Segera carikan orang yang bersedia di-tranfer kesana."
"Akan saya carikan," jawabnya sembari menerima kembali map yang sudah selesai ditandatangani Hiruma. "Kalau begitu saya akan ke perusahaan K segera. Mobil anda sudah ada di tempat parkir."
"Ya," balas Hiruma.
Keith lalu menunduk lagi kepada Hiruma dan tersenyum kepada Mamori. Dia lalu meninggalkan mereka.
"Wah. Keito-san sepertinya sibuk sekali," sahut Mamori.
"Dia si sialan yang serba cepat," jawab Hiruma. "Disini, dia lebih ditakuti saat lewat di ruang karyawan dibanding aku."
Mamori menoleh dan menatap tidak percaya. "Yang benar. Padahal dia sepertinya ramah dan murah senyum."
"Memang benar. Dia punya dua kepribadian yang beda. Saat di luar jam kerja, dia jadi si sialan yang menyenangkan. Tapi saat jam kerja, dia tidak mentolerir orang yang malas."
"Hebat." Mamori yang sibuk dengan pikirannya, lalu teringat sesuatu. "Ah, ngomong-ngomong, berarti Keito-san juga ikut dalam rencana penjebakanku?" tanyanya kemudian melihat Hiruma yang memasang wajah malas menjawab. "Kamu ini kurang kerjaan..."
"Harusnya kau curiga, bodoh."
Mamori mencibir. "Dari awal aku sudah curiga. Tapi aku orang yang berpikir positif. Mana aku sangka kamu seniat itu untuk membawaku ke Amerika."
"Keh, berhenti bicara tentang pekerjaan brengsekku lagi. Aku akan mengantarmu, dan langsung ke kantor," sahutnya. Kemudian mengambil alih koper Mamori.
"Kamu jangan lupa sarapan dulu."
Hiruma malas menjawab dan terus berjalan ke tempat parkir bandara.
.
.
Beberapa hari kemudian Mamori mulai kembali melakukan aktivitasnya. Dia kembali kuliah dan kerja sambilan. Hari ini dia mulai kembali kerja dari jam dua sampai jam lima sore. Karena itu, selesai makan siang dengan teman-temannya, Mamori langsung bergegas ke perpustakaan kota.
Mamori mendorong pintu ke dalam. Perpustakaan hari ini tidak terlalu ramai. Dia lalu berjalan ke belakang meja petugas dan disapa oleh rekan kerjanya. "Hai Mamori-san. Bagaimana Amerika?" sahutnya.
"Lumayan," jawab Mamori tersenyum. Dia lalu merasakan ponselnya bergetar. Dia lalu mengecek pesan masuk dan mendapat pesan dari mobile banking-nya. Mamori membaca sesaat, lalu dia kaget dan menutup mulutnya. Tidak menyangka apa yang dilihatnya. "Aku keluar sebentar, Nana-san," sahutnya.
Diluar, Mamori dengan cepat mencari nomor Hiruma dan meneleponnya.
"Apa-apaan kamu ini!?" sahutnya langsung saat telepon sudah tersambung.
"Cepat sekali kau menelepon. Padahal baru aku transfer beberapa menit lalu."
"Aku tidak bekerja padamu. Untuk apa kamu mengirim uang padaku!?"
Hiruma tidak menjawab.
"Jumlahnya sangat tidak masuk akal Youichi!"
"Tidak apa."
"Aku akan kembalikan."
"Tidak usah, bodoh."
"Aku tidak berhak menerimanya."
"Aku membayarmu sesuai dengan kontrak sialan itu. Aku tidak mau dituntut karena tidak membayarmu."
"Tapi Youichi, kau dan aku tahu kalau itu hanya sekedar kontrak."
"Bisa tidak, heh, kau terima itu tanpa banyak omong? Aku heran ada orang bodoh yang tidak suka uang."
"Aku hanya tidak ingin berhutang padamu."
"Berhutang apa, sialan? Kau pacarku!"
Wajah Mamori memerah sesaat mendengar kata-kata Hiruma.
"hal sialan itu saja yang mau kau keluhkan?" lanjut Hiruma. "Aku masih banyak kerjaan."
"Ya sudah," jawab Mamori kecewa. "Sampai nanti."
"Sore nanti setelah kau selesai berkerja, datanglah ke apartemenku. Ada yang mau aku bicarakan. Aku email alamatnya."
"Apar―" sahut Mamori namun teleponnya sudah terlebih dulu diputus Hiruma.
Saat mau kembali ke dalam, ponsel Mamori bergetar lagi. Dia lalu melihat email masuk dari Hiruma. Alamat apartemennya.
.
.
Kalau apartemen kecil yang biasa ditempati Hiruma saat kuliah dulu, Mamori sudah sering kesana. Tapi kalau apartemen bak hotel dengan dua puluh lantai yang menjulang tinggi di depannya, Mamori sama sekali tidak menyangka dia akan menginjakan kakinya disini. Memang tidak semewah apartemen Hiruma yang di Amerika, tapi tetap saja tempat ini cukup berkelas.
Mamori naik ke lantai empat belas seperti yang dikatakan Hiruma dalam email. Di lantai ini hanya ada tiga pintu, jadi Mamori tidak perlu repot-repot mencarinya. Kalau nomor satu, ada di dekat lift. Berarti nomor tiga ada di paling ujung. Itulah nomor apartemen Hiruma.
Mamori menekan belnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara Hiruma di interkom.
"Kau datang, heh?" sahut Hiruma.
"Tentu saja aku datang," balas Mamori. "Cepat buka pintunya."
Hiruma terdiam sesaat. Namun tidak ada tanda-tanda pintu apartemen akan dibuka.
"Youichi?" sahut Mamori. "Kamu masih disana?"
"Aku akan membuka benda brengsek ini kalau kau mau menjawab pertanyaanku."
"Apa?"
Hiruma terdiam lagi.
"Apa Youichi? Kamu mau tanya apa?"
"Apa kau...," Hiruma berhenti memikirkan kata-katanya. "Apa kau bersedia menikah denganku?"
Mamori terhenyak. Matanya menatap tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau serius melamarku disini? DISINI!? Saat aku di luar, kamu di dalam dan bersembunyi di balik pintu ini?"
"Cepat jawab saja, bodoh."
"Aku akan menjawabnya saat aku melihatmu," jawab Mamori yakin. "Sekarang buka pintunya."
"Aku tidak bisa. Aku tidak mau kau menolakku lagi," jawab Hiruma. "Jadi apa kau mau menikah denganku?"
"Kamu tahu jawabannya," sahut Mamori lelah.
"Kalau begitu katakan."
"Ya," jawab Mamori tidak sabar. "Aku mau menikah denganmu."
"Kau berjanji akan selalu bersamaku dan terus mencintaiku?"
"Oh Tuhan, Youichi. Ya. Apa perlu aku menjawabnya?"
Pintu apartemen terbuka dan Mamori melihat Hiruma berdiri disana, dengan tatapan serius yang sulit dielakkan. "Sekali kau masuk, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu meskipun kau menangis memintanya."
Mamori tersenyum lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. "Tidak akan pernah melepaskanku? Aku suka mendengarnya."
"Aku akan menjadikanmu milikku. Hanya untukku."
"Apapun itu, Hiruma Youichi. Aku milikmu." Mamori lalu melompat ke pelukan Hiruma.
Hiruma bernapas lega. Mereka berdua bernapas lega dan tersenyum bahagia, seolah tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka. Hiruma melepaskan pelukannya dan menyapu rambut Mamori ke belakang telinga. Dia menatap dalam-dalam kedua bola mata indah yang tengah menatapnya. Tidak yakin apa yang harus dia katakan, Hiruma masih tetap memegang pipi Mamori dengan kedua telapak tangannya. "Terima kasih," gumamnya pelan. Hampir seperti sebuah bisikan dan hanya terbaca dari pergerakan bibirnya saja.
Mamori tersenyum seraya meraih ke belakang leher Hiruma dan menariknya turun perlahan. Dia mencium lembut bibir Hiruma singkat dan langsung melihat seringaian di wajahnya. Hiruma lalu mencium balik Mamori. Memanggut bibirnya seolah itu sudah bagian dari dirinya, dan semuanya terasa tepat. Tidak ada lagi yang menghalanginya, mempermainkannya, atau memisahkannya dari Mamori. Tidak seorang pun. Dan selamanya mereka akan selalu bersama.
.
.
END
.
Catatan Kecil:
Hai~~! Saya tahu kalian tidak sabar menunggu saya update. Dan semoga kalian tidak kecewa dengan ending-nya. Memang tidak menikah, karena saya sengaja tidak buat begitu. Okay? Ga apa-apa kan?
Di atas segalanya, saya sangat ingin berterima kasih kepada semua pembaca yang sudah membaca LOVE TRAP ini. Yang mem-favorite dan follow cerita atau pun akun saya, yang sudah me-riview. Terima kasih semuanyaaaa~~
Saya sudah ada project cerita baru. Jadi saya harap bisa mem-publish ceritanya sesegera mungkin. Naaah... Karena itu, lagi-lagi kalian harus bersabar XD
Okey guys... See ya~~
Salam: De
