HAPPY READ!
~DLDR~
KITCHEN
Chapter 2
Y. Ino (21), U. Itachi (27), N. Naruto (27), H. Hinata (25), U. Karin (25), Tsunade (65), U. Sasuke (22), H. Sakura (21)
~o~
Ino berlari tunggang langgang menuju parkiran setelah berhasil melepaskan diri dari genggaman erat Itachi, Ino ucapkan trims pada orang yang memanggil Itachi tadi. Dipikirannya sekarang hanya satu, harus pergi dari kampusnya sekarang juga!. Ino langsung menginjak pedal gas setelah mesin menyala, perasaannya tidak karuan. Jika dia seekor cacing pasti sudah menggali lubang dan bersembunyi didalamnya sejak tadi. Ino malu setengah mati! Ino tidak pernah semalu ini bertingkah didepan seseorang. Ino salah sangka menganggap Uchiha Itachi itu adalah ayahnya Sasuke, padahal Lelaki bersurai panjang itu Kakaknya Sasuke! Ino bodoh!
Sesampainya di rumah, Ino langsung masuk ke kamar, mengganti pakaian dengan yang lebih santai dan menggusur selimut tebalnya ke ruang tv, kemudian berlindung dibawahnya. ponselnya diletakannya jauh-jauh. Dibalik selimut tebalnya Ino meraba sela-sela kursi mencari keberadaan remote televisi, dia ingin melupakan kejadian memalukan itu dengan menonton film drama dan menjauhkan ponselnya. Ino tidak siap mendapat telepon dari siapapun sekarang terlebih yang berhubungan dengan Itachi, seperti Sakura dan Sasuke. Sampai ingatan tentang kejadian itu hilang.
Ino menonton drama yang diperankan oleh salah satu artis favoritenya, Hyuga Neji. Sedang asyik-asyiknya Ino menikmati sampai berurai air mata ada satu adegan yang mereka lakukan membuatnya mengingat sesuatu. Ino menggeplak jidatnya mengingat hal yang juga ingin dilupakannya sementara waktu. Perasaannya yang awalnya terhanyut dengan adegan mengharukan langsung hilang begitu saja digantikan rasa malu dan kesal.
"kenapa aku harus ingat sekarang?!" teriak Ino di tengah rumahnya dan berguling-guling dilantai.
"sial sial sial sial sial sial aku tidak bisa melupakan keduanya!"
Party girls don't get hurt
Can't feel anything, when will learn
I push it down, pust it down
Terdengar ponselnya bernyanyi dengan keras menghentikan kegiatan Ino yang berguling-guling dilantai. Ino bangkit dari kungkungan selimutnya, melihat dari kejauhan nama yang tertera di layar full touch screen 5 inc miliknya.
Naruto
080434xxx
Ino mengusap dadanya lega setelah membaca siapa yang menelponnya, kalau Sakura yang menelponnya? Ino akan pura-pura tidak mendengar ponselnya bernyanyi. Ino mendekati ponselnya kemudian memencet tombol hijau dan menekan loudspreaker.
"kau lama sekali sih mengangkatnya!" protes suara yang keluar dari ponselnya.
"aku sedang meratapi kebodohanku" jawab Ino asal, tapi memang benar sih.
"kau memang bodoh kan? Ups, sudah lupakan! Ehmm.. kau pergi bersama siapa besok ke dinner party?"
"Sendiri, kenapa?" Tanya Ino. Pemuda itu pasti akan memintanya pergi bersama.
"aku tidak mau!" tolak Ino sebelum Naruto mengatakan maksudnya.
"loh kenapa? Biasanya juga pergi denganku kan?" Naruto bersikeras mengajak Ino.
"Ayolaaahhh"
"bawa saja pacarmu, atau Karin. kenapa harus aku?"
"Karin masih di Kumo. Ayolah Ino, tidak ada ruginya juga kan pergi denganku. Toh kau juga sendiri"
"Naruto, jangan bilang kau menyukaiku?"
"aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri Ino. Kau sedang mabuk ya?"
"Tentu saja tidak! baiklah aku datang bersamamu. Bukan karena apapun ya, aku hanya tidak mau melihat wajah menyedihkanmu di pesta besok yang datang sendirian"
"Ino kau memang penolongku! Apa maksudnya tadi muka menyedihkan?"
"Pikir saja sendiri!"
"Ah kau. Baiklah ku jemput kau jam 6.30 malam besok dan pakai baju yang ku kirim ke rumahmu" sambungan telpon langsung terputus sepihak, Ino mendengus sebal kalau sudah mendapat permintaan Naruto yang harus selalu menemaninya, apa dia tidak laku sampai harus terus Ino yang diajak?
"Naruto bodoh!"
~o~
"Adikku yang dingin" panggil Itachi dari dapur, Sasuke mendengus sebal mendengar panggilan Itachi. Kakaknya ini kebiasaan sekali memanggilnya dengan bermacam-macam nama panggilan tergantung keinginannya.
"apa?!" jawab Sasuke ketus dari ruang tengah.
"besok malam kau dan Sakura ada acara?"
"tidak, kenapa?"
"aku mengundang kalian berdua datang ke dinner party tepatku bekerja" Sasuke menatap Itachi mencari kebenaran. Itachi terlihat sedang memamerkan giginya menunggu keputusan adiknya.
"mau tidak?" tawarnya lagi.
"aku tanyakan Sakura dulu"
"ok!"
"ada yang mau kau tanyakan lagi kak?" Sasuke tahu kakaknya mempunyai pertanyaan lain, terlihat dari gelagatnya yang ingin bertanya tapi ragu-ragu.
"kau sangat mengerti aku, adikku!"
"langsung saja"
"eehhhmm, kenal tidak dengan gadis pirang ..."
"pirang? yang pirang banyak, Ita. spesifik!" potong Sasuke cepat.
"rambutnya diikat pony tail, tingginya sebahuku, terus matanya biru ..." jelas Itachi. Sasuke berpikir sejenak, terbayang gadis yang membela kekasihnya tempo hari.
"kenal, kenapa?"
"siapa namanya?" Itachi terdengar tidak sabar. Sasuke menyeringai jahil. Sasuke jadi penasaran sebenarnya apa yang dilakukan kakaknya kemarin selain mencari jadwal sidangnya.
"nah kan, kau datang ke kampusku tadi ada apa-apanya" Itachi gelagapan. Dia tidak menduga adiknya masih ingat dengan perkataannya tadi .
"A.. a.. aku tidak sengaja bertemu dengannya, Suke!" ceplosnya.
"wah wah, kakakku sedang jatuh cinta rupanya" Sasuke jadi ingin tertawa melihat kelakuan kakaknya yang seperti pertama kali menyukai perempuan tapi ditahannya, tidak mau merusak imej.
Sasuke memencet tombol off televisinya dan berjalan menuju anak tangga. Berniat menggoda kakaknya.
"hei, kau mau kemana? kau belum memberitahuku siapa namanya!" Sasuke menoleh,
"cari tahu saja sendiri, kupikir itu lebih asyik dibanding bertanya padaku"
"inisialnya saja bagaimana?" bujuk Itachi, Sasuke berpura-pura berpikir.
"aku tidak mau, selamat berjuang kakakku!" tangannya melambai kearah Itachi,
"oh ya kak, kalau beruntung mungkin kau akan bertemu dengannya besok di dinner party" lanjut Sasuke sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
~o~
Naruto menandatangani berkas terakhirnya. Raut wajahnya terlihat lelah. Dia sudah menelpon Ino, memintanya menemani ke acara dinner party di salah satu resto milik neneknya, Tsunade. Nenek yang selalu terlihat awet muda itu pasti akan protes jika tahu dia mengajak Ino untuk yang kesekian kalinya. Mau bagaimana lagi, sampai hari ini belum ada satupun gadis yang berhasil membuatnya jatuh hati. Sebenarnya banyak sekali perempuan diluar sana yang menarik dan menggoda Naruto tapi lelaki bersurai kuning ini hanya menganggap mereka semua fans dari masakan yang dimasaknya bukan menyukai dirinya. Naruto mencari kekasih yang ingin menemaninya bukan karena masakannya dan usaha restoran yang sudah beranak pinak di berbagai negara tapi karena dirinya sendiri. Semoga Ino tidak kapok untuk selalu menemaninya sampai dirinya memiliki pujaan hati.
"ya, masuk!" Naruto bersidekap diatas meja begitu tahu siapa yang datang.
"hallo Naruto! Lama tidak bertemu, tak mau kah kau memeberikanku sebuah pelukan rindu?" katanya sambil merentangkan kedua tangan siap mendapat pelukan dari Naruto.
Naruto terkekeh mendengar permintaan menjijikan dari sahabat sejak masa kuliahnya dulu di Akademi Pariwisata All Blue. Walaupun mereka berbeda jurusan, keduanya terlihat akrab. Sabaku no Gaara, lelaki mata panda ini mengambil jurusan patiseri sedangkan Naruto mengambil jurusan tata boga. Mereka sering sekali berkolaborasi dalam membuat makanan dan menjadi saingan terberat di kontes memasak di kampusnya dulu.
"berapa tahun kita tidak bertemu, Panda? Kau terlihat tidak banyak berubah" Naruto mengalihkan pembicaraan dari adegan hug hug konyol itu. Gaara melipat tangan di dada berpikir sejenak kemudian mengendikkan bahu pura-pura tidak tahu.
"kau terlihat sibuk Naruto, wajahmu jadi terlihat lebih tua dari umurmu" Naruto meninju bahu Gaara pelan, tidak terima dikatai tua oleh orang yang punya mata dengan lingkaran hitam disekitarnya.
"jangan mengejekku, megacalah dulu Panda! siapa yang terlihat tua disini" Gaara berdecak sebal mendengar sindiran terhadap matanya.
"baiklah kita impas" tukas Gaara tidak mau memperpanjang. Matanya mengedar ke seluruh ruangan.
"kau datang bersama siapa besok?"
~o~
Ting tong ... ting tong ..
Ino membuka pintu, didepannya berdiri kurir dengan sebuah kotak ditangannya. ini pasti dari Naruto. pikirnya.
"tolong tanda tangan disini" tunjuk kurir itu tanpa basa basi. Ino men-sign di tempat yang ditunjuk oleh kurir dan menerima kotak itu.
Ino masuk ke rumah dengan menimang kotak itu sampai ruang tv. Belum juga Ino membuka kotak itu, terdengar ponselnya bernyanyi lagi.
"halo" ucapnya setelah memencet tombol hijau.
"sudah, barusan sekali. kau memang berencana memaksaku kan?"
"ck! sudahlah. sampai besok!"
~o~
"jangan bilang, Naruto" Naruto mengangguk sambil menyesap vermouth-nya dengan perlahan.
"Nenek Tsunade pasti murka mengetahuinya"
"Aku hanya tidak mau melihatnya pergi sendiri" Gaara menaikkan kedua alisnya.
"bilang saja sebenarnya kau yang tidak ingin pergi sendiri, bicara seperti itu saja sulit" Naruto hanya cengengesan,
"memangnya kau sendiri dengan siapa? Sombong sekali, jangan-jangan kau juga sendiri" cibir Naruto.
"haha .. aku bersama kekasihku, tentunya" Naruto hampir menjatuhkan gelasnya ketika mendengar kata 'kekasih' yang disebut lelaki bertato 'cinta' didahinya itu.
"sialan, kau membuatku kesal. Panda!" Gaara tergelak, lengannya meraih sebotol martini dan menuangkan isinya ke gelas.
"salahkan dirimu sendiri, kenapa begitu pemilih terhadap perempuan. Atau kau gay? Jangan coba-coba mendekat padaku" Gaara bergerak dari kursinya mencoba menjauh dari Naruto yang berada di sampingnya, Naruto dengan refleks melempar kacang yang tengah dibukanya kearah Gaara, kesal.
"siapa wanita itu?" Gaara memegang daun telinganya berpura-pura tidak mendengar.
"apa yang kau katakan?"
"siapa wanita itu? Yang mau kau bawa ke pesta besok" Gaara menggoda Naruto lagi dengan menyesap isi gelasnya perlahan, pura-pura tidak mendengar.
"hei Gaara!"teriak Naruto tepat ditelinganya. Gaara langsung mengusap-ngusap kupingnya yang pengang.
"Tak usah berteriak ditelingaku, dobe!"
"Kau yang mulai"
"baiklah baiklah, namanya Tenten" akhirnya Gaara menyerah dan menyebut sebuah nama yang tidak dikenalnya.
"dia pemilik EO di Suna, jelas kau tidak kenal dengannya" Naruto mengangguk-ngangguk mengerti.
"besok akan ku kenalkan, tapi jangan sampai kau tertarik" peringat Gaara.
"tidak akan Gaara, kau tidak percayaan sekali sih"
~o~
Itachi mencicipi soupnya berulang kali dengan menambahkan sedikit demi sedikit bumbu sampai rasanya pas dilidah. Setelah yakin, Itachi mengacungkan jempol ke partnernya dan lanjut dengan bahan makanan yang sedang di oven. Lampu timernya berkedip dan berbunyi bip.. bip.. bertanda count down yang diaturnya sudah habis, Itachi menarik nampannya keluar, bau semerbak ayam panggang dengan bumbu racikannya sediri memenuhi rongga hidung membuatnya tersenyum lebar.
"hias ini, Iruka!" titah Itachi sambil memberikan nampan berisikan ayam panggang itu pada Iruka.
Beberapa jam lagi dinner party yang memang diadakan rutin setiap tahunnya sebagai peringatan berdirinya Hidden Leaf Café & Resto, dan tahun ini yang ke-46. Juga ini adalah pertama kalinya Itachi berkontribusi langsung dalam pembuatan makanannya. Itachi merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Itachi teringat percakapan dengan adik kesayangannya semalam, Gadis yang dicarinya akan datang juga ke pesta ini, dia jadi tidak sabar untuk menemuinya, tapi masakannya harus membuatnya terkesan terlebih dulu sebelum menemuinya langsung. Pikirannya tentang gadis pirang itu membuatnya melupakan pekerjaannya sejenak dan mendapat teriakan dari Kisame.
"Itachi, udangnya!" teriak Kisame terlihat panic. Itachi terkesiap, tangannya dengan reflek langsung mengangkat udang-udang itu dari penggorengan. Punggung lengannya mengusap keringat yang bercucuran dengan lega, udang gorengnya terselamatkan tepat waktu.
"kau jangan melamun saat bekerja Ita!" tegur Kisame, asisten koki. Itachi mengangguk dan menepuk punggung kisame sambil berucap 'trims'. Raut wajahnya masih terlihat tegang.
~o~
Ino berputar di depan cermin full body miliknya. Gaun yang diberikan Naruto kemarin bertipe long - knee dress one shoulder berwarna cobalt blue, salah satu tipe gaun favorit Ino. Naruto memang pintar memilihkan gaun untuknya. Bentuk gaunnya memperlihatkan lekuk tubuh sempurna Ino yang biasa ditutupinya sehari-hari dengan menggunakan pakaian longgar. Hanya setiap ke acara penting bersama Naruto lah Ino harus tampil maksimal seperti sekarang. Rambut pirangnya diikat pony tail seperti biasa hanya mengganti jepitnya yang polos dengan yang berukirkan lambang klannya, kakinya dibalut dengan Stileto setinggi 8cm berwarna hitam memperlengkap penampilannya malam itu. Tak lupa tas tangan berwarna senada dengan rambutnya di genggamannya.
Tepat pukul 7 Naruto sudah sampai di depan rumahnya untuk menjemput. Senyum bahagia tercetak jelas di wajahnya,
"perfect Ino!" pujinya dengan mengacungkan kedua jempolnya. "Terima kasih .." ucapnya menanggapi pujian Naruto. Naruto membukakan pintu untukknya, setelah Ino masuk. Naruto berjalan memutar menuju pintu yang satunya dan duduk dibalik kemudi.
"tak biasanya kau menyetir sendiri" Naruto menjawab pertanyaan Ino setelah mobil itu bergerak menjauhi rumah Ino yang berada di kawasan elit Uzumaki.
"aku sedang ingin menyetir sendiri, kau keberatan?"
"tidak, aku hanya heran saja"
"Ooh, nah buka dashboardnya Ino. Undangannya ada disana" Ino menarik kenop, didalamnya terlihat banyak barang saling berjejal tak karuan.
"Kau tidak pernah membersihkannya ya?" Ino menatap dashboard mobil Naruto jijik.
"No comment Ino. Ambil undangannya" dengan enggan Ino mengambil undangan yang sudah kusut dan sedikit kotor oleh sesuatu.
"Ini menjijikan Naruto! Aku tidak akan pernah membuka dashboardmu lagi walaupun kau memohon sampai berlutut didepanku!" Jemarinya menutup dashboad dengan kasar.
"Kau harus mensterilkannya nanti. Kau koki macam apa sih? Jorok sekali!" Komentar Ino membuat Naruto menggelembungkan pipinya tidak setuju.
"Koki profesional Ino. Aku sibuk, jadi tidak sempat memperhatikan mobilku"
"Jangankan mobilmu, dirimu saja tidak terperhatikan. Terus saja tenggelam dalam lautan berkas" komentar Ino menohoknya.
"Jangan kaitkan itu dengan kehidupan cintaku dong. Kan kau juga tahu aku belum menemukan yang pas" Naruto membela diri.
"Kau pikir baju? Tsunade pasti kecewa berat mengetahui kau masih single"
"Seperti kau sudah punya kekasih saja"
"Aku memang belum punya. Tapi sebentar lagi, lihat saja"
"Baiklah, aku pegang ucapanmu. Dik!"
"Aku bukan adikmu!"
~o~
Ino digandeng Naruto untuk masuk ke dalam resto. Ino sudah hafal dengan acara yang pasti setiap tahun diadakan itu. Apa pendapat Tsunade kalau cucu lelakinya itu menggandeng sepupunya lagi? Ino sudah bisa menebaknya.
"ya ampun! kau tidak laku, Naruto? sampai-sampai harus mengajak Ino lagi?" Tuh kan aku benar. Tsunade memarahi Naruto begitu bertatapan, Naruto hanya mengangguk-ngangguk mengiyakan perkataan Tsunade, tapi sepertinya Naruto tidak benar-benar mendengarnya. Setelah nenek awet mudanya puas memarahi Naruto, Tsunade langsung memeluk Ino dengan erat, melepas rindu setelah cukup lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Tsunade menggandeng Ino sedangakan Naruto mengekor dibelakangnya menuju meja yang memang disiapkan khusus untuk mereka.
"Ino kau terlihat sangat cantik malam ini" puji Tsunade.
"Terima kasih .." hanya itu kata yang bisa dikatakan Ino.
"bagaimana kabarmu, sayang? Hibiki dan Inoichi sehat?"
"aku baik, mereka juga baik. Ah.. ini nek" Ino ingat bingkisan yang dibawanya tadi. Bingkisan dari orang tuanya yang dikirim langsung dengan paket kilat dari Iwa.
"apa ini?" Tsunade terlihat senang mendapat hadiah dari cucunya. Tiga botol sake khas Negara Iwa yang terkenal enak dan sulit sekali didapat karena proses pembuatannya yang lama dan tidak semua pembuat sake di Iwa mampu membuatnya.
"wah wah … ibumu sangat tahu sekali aku menginginkan ini sejak dulu. Apa ini bentuk sogokan karena mereka lagi-lagi tidak bisa datang?"
"mungkin.." jawab Ino ragu.
"aku tidak ditanyai, nek?" Tanya Naruto penuh harap.
"aku akan menyimpannya dulu" tukasnya sambil menimang bingkisan yang diberikan Ino dengan sayang seperti tidak rela dilepas begitu saja ke ruangannya di lt 3. Tidak mengacuhkan permintaan Naruto.
"yaaahh, kau sih Ino" tuduh Naruto.
"kasihan sekali, mankannya ajak pacarmu bukan malah aku"
"ngebahas itu lagi, aku kan sudah bilang Ino"
"ya ya aku tahu" jawab Ino malas.
"oh ya, aku tidak tahu kau membawa itu tadi" Tunjuk naruto ke botol yang tengah ditimang Tsunade.
"kau tidak perhatian sekali, aku membawa benda seberat itu saja tidak kelihatan" timpal Ino dengan ketus.
"maaf kalau begitu" kedua tangannya mengatup,
"oh ya sebelum nenek Tsunade kembali dan acara dimulai ayo kita berkeliling dulu. Ada teman yang ingin aku temui" ajak Naruto, tanpa pikir panjang Ino setuju mengikuti Naruto berkeliling. Dia juga tidak mau sendirian di meja. Siapa tahu dia bisa bertemu salah satu kenalannya.
"Naruto!" panggil Gaara sembari melambaikan tangannya pada Naruto dan Ino. Gaara terlihat gagah dengan tux yang membalut tubuhnya, sama dengan terakhir kali Ino melihatnya beberapa tahun lalu. Ino pernah mengagumi Gaara dulu sewaktu masih SMA tapi perasaan itu hilang bersama dengan berjalannya waktu dan riwayat pertemuan mereka yang bisa dihitung dengan jari.
"apa kabar Ino, kau terlihat cantik malam ini" pujinya. Seperti yang sebelumnya, Ino hanya berucap terimakasih setiap ada pujian yang datang padanya. Terlihat lengan Gaara menggandeng seorang perempuan cantik bercepol tengah tersenyum padanya. Ino membalas senyuman itu dengan isi kepala yang bertanya-tanya. Dan Naruto memecah rasa penasaran Ino terhadap perempuan itu,
"ini kekasih yang kau bilang kemarin itu, Gaara?" Tanya Naruto dengan nada menggoda. Gaara mengangguk dan mulai memperkenalkan perempuan digandengannya itu sebagai calon istrinya. Namanya Tenten. Ino terkikik geli sembari mengusap punggung Naruto seakan berkata 'sabar ya' melihat raut wajah lesu Naruto yang mendengar pengakuan Gaara yang akan segera menikah. Yang Ino dengar mereka akan mengadakan pesta pernikahan 3 bulan lagi. Ino terhanyut dengan percakapan mereka ber-empat, banyak hal yang mereka bahas dari mulai pekerjaan Gaara dan Naruto, hubungan Gaara dan Tenten sampai matanya tidak sengaja menemukan gadis bersurai pink yang tengah digandeng Sasuke menuju meja.
"ehm, aku melihat temanku masuk. Bolehkah .." Ijin Ino memotong percakapan. Tanpa pikir panjang mereka bertiga setuju dan membiarkan Ino menemui sobat pink-nya.
"terimakasih"
"kau langsung ke meja begitu melihat nenek Tsunade ya!" ingat Naruto sebelum Ino begitu jauh dari ketiganya. Ino mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"hei pink!" panggil Ino begitu sampai di meja nomor 35 - meja Sakura dan Sasuke -.
"INO!" pekik Sakura. Sakura tidak menyangka Ino akan menemukannya secepat ini, padahal dia ingin memberikannya surprise.
"aku melihatmu masuk dari sana" tunjukknya kearah Naruto.
"aku tidak menyangka kau akan datang kemari, padahal aku sudah berniat mengajakmu tapi si kuning itu malah mengajakku duluan"
"Sasuke yang mengajakku, katanya dia mendapat undangan dari kakaknya yang bekerja disini, benarkan?" Sasuke mengangguk membenarkan.
"si … aku ke mejaku dulu Saki, Suke. Nenek Tsunade sudah kembali dari ruangannya, sampai nanti" pamit Ino dengan tergesa. Ino melihat Tsunade muncul dari lift, Ino jadi tidak menyelesaikan kalimat yang ingin ditanyakannya. Ino tidak mau Tsunade menemukan mejanya kosong ditinggalkan kedua cucunya berkeliling. Ino dan Naruto berhasil sampai meja sebelum Tsunade sampai. Selamat!
"kapan acaranya dimulai nek?" tanya Ino begitu Tsunade duduk, Tsunade menatap jam dinding di sudut ruangan sekilas. telunjuk Tsunade bergerak memerintahkan salah satu pelayan yang berdiri cukup dekat dengan meja mereka untuk segera mendekat. Tsunade membisikan sesuatu, pelayan itu mengangguk mengerti dan pergi untuk menunaikan perintah atasannya itu.
Beberapa menit kemudian pelayan yang tadi dibisiki Tsunade datang lagi tapi sekarang dengan memegang sebuah mic dan langsung diserahkan kepada Tsunade.
"terima kasih, Omoi" pelayan yang dipanggil Omoi itu mengangguk dan kembali ketempatnya semula.
"ini, bukalah acaranya Naruto!" Tsunade menyodorkan mic itu pada Naruto. Naruto yang sedang menyesap air putih langsung terbatuk-batuk -tersedak- karena terkejut mendengar titah neneknya, 'kenapa?' ekspresinya menggambarkan pertanyaan itu. Ino menahan tawa melihat Naruto di suruh menjadi MC di acara ini, yang kemudian mendapat delikan dari Naruto.
"Aku masih cape setelah turun dari lt 3" tukasnya. Naruto dan Ino tahu itu bukan alasan yang sebenarnya, palingan juga Tsunade sedikit menyicipi dulu sake yang diberikannya dan sekarang merasa sedikit mabuk. Naruto menghembuskan nafas pasrah, harusnya dia sudah menduga ini akan terjadi. Naruto mengambil mic dari tangan Tsunade dan menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya membuat dirinya merasa baikan dan siap untuk membuka acara.
~o~
Seorang pelayan mendorong sebuah meja yang diatasnya tertutup oleh tudung saji berbahan stainles bertugas mengantar dan menghidangkan makanan. Makanan yang dihidangkannya adalah Nutty cheese spread with fruit chutney sebagai appetizer (makanan pembuka).
Ino menatap makanan pembukanya dengan tidak sabar. Ingin segera mencicipinya. Matanya terus melihat ke arah Naruto yang belum juga selesai membuka acara.
"Selamat menikmati hidangan spesial yang kami hidangkan. Terimakasih" ucapnya mengakhiri pembuka acara.
"Ini sudah boleh ku makan?" Tanya Ino ragu.
"Tentu saja bodoh, aku sudah berada dihadapanmu lagi sekarang"
"Baiklah. Itadakimasu!" Tanpa mengindahkan jawaban menyebalkan Naruto, Ino langsung menyantap makanan pembuka dengan lahap tapi masih terlihat anggun (?). Ketika Nutty cheesy-nya menyentuh lidah. Indra pengecapnya seakan terbuai dengan rasanya, Ino jadi ingin segera menghabiskannya. Kalau boleh minta tambah.
"Wow" Naruto cukup terkejut dengan rasa makanan yang disantapnya. Dia jadi ingin bertemu dengan yang memasak ini. Mengajaknya berduel boleh juga.
"Boleh aku bertemu dengan yang membuat ini, nek?" Pinta Ino excited. Naruto yang berencana sama kembali menutup mulutnya setelah maksudnya dikatakan Ino.
"Tentu saja, akan ku kenalkan dia pada kalian berdua. Koki baru yang menyajikan masakan pada kita malam ini"
~o~
*Suatu tempat di negara Kumo
"Kau tahu, Tsunade itu nenek-ku. Dia memang selalu terlihat muda. Aku jadi ingin tahu apa yang membuatnya selalu awet muda seperti itu" celoteh gadis bermarga Uzumaki ini sembari mengusap dagunya ala detektif kenamaan yang sedang berpikir mencari motif pelaku.
"Mungkin dari racikan makanannya?" Tebak gadis bersurai Indigo menimpali perkataan si gadis Uzumaki.
"Bisa jadi" tukasnya.
"Jadi kita mau membuat apa sekarang, Karin?" Tangannya membetulkan kacamatanya yang sedikit turun.
"Cup cake!" Karin mengucapkannya dengan yakin, Hinata menatap Karin serius.
"Memangnya kau bisa memasak?" Tanyanya polos, membuat jantungnya terasa tertohok. Karin membetulkan letak kacamatanya lagi bertingkah seperti tidak terjadi apapun.
"Nngg... engak" jawabnya kalem. Tapi kemudian Karin berteriak frustasi.
"Kenapa hanya Naruto yang bisa masak! Nenek tidak adil menurunkan keahlian memasaknya hanya pada Naruto!" Keluhnya sambil menyebut sepupunya yang memang mahir memasak.
"Kau kurang berusaha Karin" Karin tersenyum dan mencubit pipi cubby Hinata gemas.
"Sakit , Karin!" Hinata mengusap pipinya yang memerah.
"Aku tahu!"
"Sepupu perempuanmu itu, siapa namanya? Apa dia bisa memasak juga?" Karin menggeleng,
"Ino, Setauku sih tidak.. "
"Kau masih ada teman, Karin" ucap Hinata menyemangati. Karin langsung memberi tatapan membunuh mendengar komentar Hinata.
Hinata malah bertanya lagi tanpa mengindahkan tatapan Karin.
"Kita beli saja cup cake-nya di toko, kau mau memberikannya untuk Kankuro, kan? Aku juga ingin membelikannya untuk kak Naruto" Usul Hinata dengan tersipu.
"apa kau mengatakan kak Naruto barusan, Hinata?" selidik Karin,
"apa?" Hinata pura-pura tidak tahu. Karin menatap Hinata mencari kebenaran tapi kemudian mengendikkan bahunya tidak peduli.
"Tapi aku tetap ingin membuatkannya sebelum aku terbang ke Konoha!" Karin masih keukeuh dengan keinginannya. Hinata menepuk punggung Karin.
"Sudah, menyerah saja"
"Kau diam-diam menyebalkan juga ya Hinata!"
"Tidak juga kok"
"Itu bukan pujian!" gemas Karin kembali mencubit kedua pipi Hinata.
~o~
Seseorang dengan berpakaian khas koki, mendorong meja yang membawa makanan penutup menuju salah satu meja di tengah pesta.
Lelaki bersurai panjang itu tersenyum, bangga dengan makanan yang dibuatnya. Ini pertama kalinya dia akan menemui keluarga dari sang owner. Dia jadi tidak sabar mendengar komentar yang akan dilontarkan oleh mereka. Semoga mereka senang dengan masakannya. Dan ini juga adalah kesempatan emas untuk mencari keberadaan gadis pirang yang telah berhasil membuatnya jatuh hati.
Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan, tapi Itachi tidak berhasil menemukan gadis yang dicarinya, hanya menemukan adiknya dan kekasihnya sedang berbincang di salah satu meja. Itachi merasa dibohongi Sasuke. Itachi berjanji setelah sesampainya dirumah dia akan memberi adiknya pelajaran!
Sesampainya di meja tujuannya, Lelaki tampan itu mengangguk pada Tsunade dan mulai menghidangkan makanan penutup dengan telaten di depan setiap orang yang ada di meja itu. Senyumnya masih terpatri di wajah tampannya.
Setelah semua hidangan penutup disajikan. Tsunade berdiri dan menepuk punggung si koki dan memperkenalkannya ke seluruh orang yang duduk dimeja.
"Ini dia koki yang telah memasakan makanan untuk kita malam ini. Perkenalkan, namanya Uchiha Itachi"
Ino yang masih asyik dengan tampilan makanan penutup yang disajikan kokinya secara langsung beberapa detik lalu langsung mendongak mendengar nama yang paling tidak ingin didengarnya lagi seumur hidupnya Itachi.
Ino menolehkan kepalanya perlahan kearah Itachi yang berdiri dengan pakaian kokinya. Cocok sekali! Tapi akal sehatnya berjalan dengan cepat menyadarkannya. Salivanya terasa sulit sekali untuk ditelan.
Itachi terlihat tersenyum kearah Ino.
'aku menemukanmu, pirang!' gumamnya dalam hati. -Itachi-
"Oh my god!" -Ino-
~o~
Trims yang sudah me-review di chap sebelumnya, saran dan masukkannya sangat membantu hhohoo dan untuk chap 1 sudah ku edit, kalau mau dibaca lagi juga boleh hohoho...
Leave a Review, Readers! ^^
