HAPPY READ!

~DLDR~


KITCHEN

Chapter 3


Y. Ino (21), U. Itachi (27), N. Naruto (27), H. Hinata (25), U. Karin (25), Tsunade (65), U. Sasuke (22), H. Sakura (21)

~o~

Sakura menatap kepergian Ino yang tergesa dengan dahi berkerut, kemudian matanya menemukan yang menjadi penyebabnya karena bukan hanya Ino yang tergesa menuju meja itu tapi sepupu berwarna surai hampir serupa dengan sahabatnya Itu juga.

"Nenek Tsunade" ujarnya pada Sasuke. Sasuke hanya berkata "Hn" saja menanggapi ucapan Sakura yang menjawab keingintahuannya juga.

"aku tidak menyangka dia akan menemukanku secepat itu tadi" lanjut Sakura dengan nada tidak percaya sembari menatap Sasuke.

"dia tahu dari warna rambutmu, sayang" ucap Sasuke sambil membelai surai merah muda Sakura.

"hentikan Sasuke, ini tempat umum" peringat Sakura, dia tidak ingin terbawa dengan belaian-belaian tangan Sasuke di rambutnya eh yang sudah mulai menyentuh tengkuknya seperti sekarang. Lengan Sakura menangkap pergelangan tangan nakal Sasuke mencoba menghentikannya lalu Sakura menggeser kursinya agar lebih dekat dengan kursi Sasuke, bibirnya sengaja didekatkan ke telinga Sasuke dan membisikan sesuatu yang membuat mahasiswa jurusan teknik mesin itu merinding merasakan hembusan nafas Sakura.

"Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuhku sepulang dari sini nanti kalau kau terus menggodaku!" bisik Sakura tegas membuat mau tidak mau Sasuke mengangguk menurut, tapi setelah Sakura selesai mengatakan itu Sasuke mengecup bibir Sakura cepat dan membuat lengan gadis pink itu reflex memukul paha Sasuke, kemudian menjauhkan jarak kursinya lagi. Jaraknya lebih lebar dari yang tadi.

"aaww .. kau brutal sayang" erang Sasuke sembari mengelus pahanya. Sakura hanya mendengus dan tidak memperdulikannya.

~o~

Ino menatap Itachi dengan tidak percaya. Dihadapannya berdiri tegak lelaki yang ditemuinya kemarin dan seketika saja sekelebat tentang kejadian yang ingin sekali Ino lupakan tengah menari-menari seperti mengejeknya. Ino yang mematung tersentak ketika Tsunade menyentuh pundaknya lembut,

"Dan ini cucu perempuanku" Tsunade memperkenalkan Ino pada Itachi. Dengan gugup dan sedikit gemetar Ino menyodorkan tangannya yang segera diraih Itachi sambil menyebut nama masing-masing.

"Yamanaka Ino"

"Uchiha Itachi"

Setelah adegan perkenalan itu, nenek Tsunade bertanya banyak hal pada Itachi juga Naruto yang tiba-tiba mengusulkan untuk berduel. Sedangkan Ino tentu saja tidak ingin ikut terlibat dalam pembicaraan, begitu selesai berkenalan tadi dirinya langsung menyibukkan diri dengan makanan penutupnya. Ino berharap Itachi segera enyah dari hadapannya!

"Saya pamit kembali ke dapur, Ny Senju"

Finally!

Kata-kata yang ditunggu Ino akhirnya keluar juga!

"Selamat menikmati" lanjutya. Dengan dibalas anggukan dari Tsunade dan cengiran dari Naruto, koki muda itu pergi meninggalkan meja atasannya itu. Ino menatap kepergian Itachi dari ujung mata, setelah yakin Itachi sudah pergi. Ino menyandarkan punggungnya sembari menghembuskan nafas lega.

"oh ya, perasaan kau tidak bertaya sama sekali pada Itachi, Ino? Bukannya tadi kau ya yang ingin bertemu dengannya?" Tanya Naruto heran. Ino menegakkan tubuhnya lagi kemudian memandang Naruto dengan ekspresi tidak terbaca. Lengannya meraih gelas dan menyesap isinya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Naruto yang menurutnya SULIT untuk dijawab. Ini adalah situasi yang tidak Ino duga!

'Kenapa kau masih ingat kalau aku yang memanggilnya, Naruto?!' Teriak Ino frustasi dalam hati.

Ino tidak mungkin bilang tentang kejadian memalukan kemarin, kan? Apalagi sampai bilang kalau sebenarnya tadi Ino shock? Ino harus mencari jawaban yang pas dan masuk akal agar Naruto dan nenek Tsunade tidak curiga dan tidak bertanya lagi.

"ng.. aku lupa, aku.. aku terlalu senang dengan makanannya" jawab Ino sembari memamerkan cengiran khasnya.

'jawaban konyol macam apa itu, INO! Kau bukan anak sekolah dasar lagi!' makinya dalam hati, gagal sudah!

"ha? Kau bocah Ino? Anak SD saja rasanya masih lebih pintar darimu" ejek Naruto. Ino mendelik sebal. Tapi Ino juga lega karena Naruto bodoh, mau saja dibohongi dengan jawaban konyolnya. Aman! Eh sepertinya tidak.

"Iya ya nenek juga merasa tadi hanya nenek dan Naruto yang terus bertanya tanpa bemberimu kesempatan" jawab Tsunade dengan tersenyum hangat, tangannya menggenggam jari lentik Ino. Ino menatap lengan dan wajah neneknya bergantian, Ino sungguh tidak mau mengerti dengan maksud nenek awet mudanya itu.

Naruto menepuk-nepuk punggung Ino dengan sayang. Apa ini ada apa?

"Kau pasti sangat ingin berbincang dengan Itachi ya sampai merwajah seperti itu, maafkan nenek ya" Tsunade mengusap punggungnya lembut lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ino sembari memeluk tubuhnya. Ino membatu, neneknya sudah salah paham dengan arti raut wajahnya, gawat! Apa ekspresinya sebegitu terlihat sangat berharap ingin mengobrol dengan Itachi? Tentu saja tidak! Ino tidak akan pernah memperlihatkan raut wajah bodoh seperti itu! Ini pasti ada kekeliruan!

"Tidak apa nek, aku bisa menemuinya sendiri nanti" putus Ino dengan nada semeyakinkan mungkin, tangannya menggenggam erat tangan Tsunade. Eh.

Ino terdiam lagi baru sadar dengan apa yang dikatakannya, 'ada apa dengan otak-ku? Heh?' Umpatnya dalam hati, rasanya Ino ingin menabrakkan kepalanya ke tebok sekarang juga!

"Nanti aku akan memberi tahu Itachi kalau kau ingin menemuinya lagi" tukasnya. Tsunade terlihat senang sekali begitupun dengan Naruto. Sedangkan Ino hanya cengengesan dan meneguk jus jeruknya sampai tandas, mencoba menormalkan perasaannya. Ino harus segera mengecek raut wajahnya nanti! Apa yang akan terjadi nanti, bagimana nanti. Ino tidak mau memikirkannya!

~o~

Sekembalinya dari menemui Tsunade dan kedua cucunya, pikiran Itachi tidak bisa lepas dari bayangan cucu perempuan Tsunade -Ino- yang begitu menawan. Tapi Ino terlihat seperti tidak nyaman saat melihatnya tadi, gadis itu cenderung menghindari bertatapan dan berinteraksi dengan dirinya. Sepanjang percakapannya dengan Tsunade dan Naruto, Ino hanya terus mengaduk makanannya dan menyuapkannya sedikit demi sedikit. Tidak sedikitpun tertarik dengan topik yang sedang dibicarakan. Apa dia masih memikirkan kejadian yang kemarin? Pikir Itachi cemas.

Pundaknya ditepuk dari belakang oleh seseorang yang diketahuinya sebagai pelayan. Itachi mengangkat sebelah alisnya seakan berkata 'ada apa?'. Si pelayan itu mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan sebelum membisikan sesuatu yang tidak diduga sulung Uchiha itu.

"Benarkah?" Tanya Itachi dengan alis bertaut. Omoi, si pelayan yang ditugasi Tsunade itu mengangguk dengan semangat.

"jangan sampai lupa ya!" pesannya sebelum meninggalkan Itachi,

"Ada apa Tsunade memanggilku, ya?" gumam Itachi bertanya-tanya.

~o~

Jarum pendek pada jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya sudah hampir menyentuh angka 22.30, Karin mengedarkan pandangannya kekiri dan kanan dengan gelisah. Kereta yang akan membawanya dari Kumo ke Konoha akan segera datang 10 menit lagi dan perempuan bersurai indigo itu belum datang juga.

"sudah kau telepon?" Tanya Kankuro mencoba menenangkan Karin. Karin memamerkan ponselnya yang tengah mencoba tersambung.

"dia tidak mengangkatnya sejak tadi"

"mungkin sebentar lagi dia sampai" timpal Kankuro sembari mengecup puncak kepala Karin.

"Aku harap" sahut Karin.

Hinata menggusur koper besarnya sembari berlari diikuti oleh sepupu dan adiknya dibelakang menuju peron dimana Karin sedang menunggunya. Dia telat hampir 30 menit dari yang dijanjikannya dan sekarang kereta yang akan dinaikinya akan datang sekitar 10 menit lagi. Hinata harus segera bergegas!

"pelan-pelan, kak!" teriak adiknya yang terdengar terengah-engah.

"aku terlambat!" balas Hinata tanpa menoleh malah menambah kecepatan berlarinya.

Matanya melihat warna rambut yang sangat dihafalnya, mencolok sebenarnya. Yang tengah didekap kekasih hatinya, Kankuro.

"KARIN MAAF …." Teriak Hinata sembari berlari. Yang dipanggil Hinata langsung melepaskan diri dari pelukan Kankuro begitu tahu yang ditunggunya datang juga. Karin berkacak pinggang menatap Hinata dengan tatapan 'aku akan mencuit pipimu, Hinata. Bersiaplah!'

Sesampainya Hinata ditempat Karin menunggu, lengannya langsung menyilang mencoba menghalangi lengan Karin yang sudah bersiap mencubit pipinya.

"kau … harus … dengar … alasanku … dulu" ucapnya disela nafasnya yang masih terengah.

Tring…

Bel tanda kereta datang berbunyi.

"aku yang membuatnya terlambat" ujar lelaki yang diketahui Karin adalah kakak sepupu Hinata dengan terengah. Karin mencoba mendengar apa alasan keterlambatan mereka sembari membantu memasukkan koper ke gerbong.

"saat berhenti di pom bensin ada fans yang mengenaliku dan mereka memaksa meminta poto dan tanda tangan, aku tidak bisa menolaknya karena mobilku kehabisan bensin jadi tidak bisa kabur dan mau tidak mau harus meladeninya. Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Maafkan aku" ujarnya panjang lebar.

'fans?' Karin mengernyit kemudian mendengus, dia baru ingat selain orang itu adalah kakak sepupu Hinata tapi juga artis terkenal mancanegara. Wajar kalau banyak orang yang mengenalinya. Karin jadi maklum, dia tidak bisa menyalahkan sepupu Hinata yang ternyata sangat terkenal ini kan? Kalaupun Hinata pergi sendiri sudah pasti tidak akan diijinkan oleh ayahnya yang super protektif itu.

"ah ya tidak apa, emmh siapa?" Tanya Karin, jujur dia benar-benar lupa dengan nama aktor kenamaan itu.

"Neji, Hyuuga Neji"

"ah iya, Hyuuga Neji eh Neji. Yang penting kau harus mempercayakan Hinata padaku sekarang" Neji mengangangguk setuju.

"terimakasih Karin" ucap Hinata tulus,

"tapi pipimu tetap akan kucubit, Hinata" bisik Karin sebelum masuk ke gerbong, Hinata hanya menatap punggung Karin dengan mengernyit. 'apa katanya?'

"Hinata" panggil Neji setelah beres membantu mengangkat koper ke gerbong.

"Ya? .. oh aku tahu kak" sahut Hinata cepat, dia tahu apa yang dimaksud oleh kakak sepupunya itu juga termasuk adiknya.

"aku hanya khawatir" ujar Hanabi yang sudah berlinang air mata, Hinata terkekeh sembari mengacak rambut Hanabi.

"tenang saja ok, Karin akan menjagaku (aku yang menjaga Karin sebenarnya – tambah Hinata dalam hati). Aku berangkat" tukas Hinata sembari melambaikan tangan tepat sebelum pintu tertutup rapat. Karin membentuk tangannya seperti telpon dan menggoyangkannya, tanda untuk Kankuro kalau dirinya akan segera menghubunginya begitu sampai.

Kereta mulai bergerak menjauhi stasiun Thunder Negara Petir perlahan menuju Stasiun Green Leaf Negara Api tepat pukul 22.55.

Gyuuuttt ...

Jari lentik Karin langsung mencubit kedua pipi Hinata dengan gemas setelah dirinya menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan gadis lavender itu,

"hukuman karena kau telat!" ujar Karin, Hinata mengelus pipinya yang sedikit nyeri.

"padahal aku sudah minta maaf" keluh Hinata, Karin terkikik geli.

"eh tolong bantu aku mengeluarkan ini" pinta Karin menunjuk tas kecil yang berusaha dikeluarkan dari kopernya, yang sepertinya menyangkut.

"trims Hinata" ucapnya begitu tas kecil yang entah isinya apa itu keluar dari koper besar si gadis Uzumaki, Hinata mengangguk sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa butir permen yang sengaja disiapkannya.

"mau?" tawar Hinata,

"nanti saja"

"oh ya btw, kita nanti menginap dimana?" tanya Hinata, lengannya sibuk membuka sebungkus permen. Karin masih sibuk dengan tas kecilnya mencari penutup mata yang akan digunakannya untuk tidur.

"di rumah Ino, aku tidak mau menginap di Hotel" jawabnya tanpa menglihkan perhatian.

"nah ini dia .."

"kau sudah menghubunginya?" tanya Hinata lagi, Karin menoleh sembari memamerkan giginya lalu menggeleng.

"belum, aku lupa. Akanku coba menghubunginya sekarang" lengan Karin merogoh saku jaketnya mengeluarkan benda persegi panjang itu dan dengan lincah langsung mencari kontak Ino diponselnya lalu mendialnya. Tanpa berlama-lama panggilannya langsung diangkat,

"halo, Ino?"

"..."

"bisa jemput aku di stasiun besok?"

"..."

"aku tidak mau, jangan lupa ya. Daaa" Karin memasukkan ponselnya lagi ke saku jaket dan mengangkat jemponya pada Hinata 'ok'.

~o~

Tepat pukul 10 malam Ino sampai di rumah dengan diantar Naruto. 'langsung istirahat' pesannya begitu sampai didepan rumah Ino di kawasan elit Uzumaki. Setelah mengantarkannya sepupu kuningnya itu memilih langsung pulang saat ditawari untuk singgah sejenak atau menginap sekalian. 'besok ada rapat yang harus ku hadiri pagi-pagi' katanya.

Ino melepas stiletonya asal. Kaki jenjangnya dilangkahkan menuju dapur, membuka lemari es mengambil sebotol jus lemon lalu menuangkannya ke dalam gelas. Sebelum meneguknya, Ino membuka gaun yang sedari tadi melekat ditubuhnya. Tubuhya sudah tidak nyaman lagi memakainya dan kini Ino hanya memakai pakaian dalam saja. Toh tidak akan ada yang protes juga dirinya hanya berpakaian dalam saja. Ino baru ingat dengan ponselnya yang sempat berdering tidak santai di perjalanan pulang tadi. Naruto menyuruhnya untuk mengangkatnya 'siapa tahu penting' katanya, tapi Ino menggeleng dan lebih memilih membiarkan ponselnya bernyanyi.

Ino langsung memencet tombol membuka kunci setelah mengeluarkannya dari tas tangannya, layar 5 inc itu menyala dan menampilkan pemberitahuan panggilan dan beberapa sms. Ino menaikkan sebelah alisnya, disana ada 3 panggilan tidak terjawab dan 2 sms.

Ino langsung membuka pesan singkatnya. Sms pertama hanya berisi nomor ponsel seseorang yang tidak dikenalnya membuat Ino bingung dan sms kedua membuat Ino membulatkan matanya,

From: Nenek Tsunade

Itu nomor Itachi, hubungi dia kapanpun kau mau .

Ternyata neneknya itu menganggap Ino yang ingin menemuni Itachi lagi itu serius. Ino setengah melempar ponselnya keatas meja lalu meraih gelas dan meneguk isinya sampai tandas.

Drrrrtttt ...

Ino menatap ponselnya yang berkedip dan bergetar dengan malas, matanya membaca siapa yang menelponnya di jam seperti ini, tapa babibu Ino langsung mengangkatnya.

"ya, Karin?"

"naik taxi saja ya"

"..." Ino menatap ponselnya sembari menggelengkan kepalanya setelah orang yang menelponnya menutup secara sepihak. Ino tidak habis pikir dengan kedua sepupunya itu, sangat hobi menelpon tiba-tiba dan menutupnya secara sepihak.

"ada apa dengan mereka berdua? oh sepertinya aku harus segera tidur" Ino melangkahkan kakinya menuju kamar dan sengaja meninggalkan ponselnya diatas meja makan, tidak ingin waktu tidurnya terganggu.

~o~

Pukul 8 pagi Ino sudah stand by di peron menunggu kereta yang membawa Karin dari Kumo. Ino menatap jadwal kedatangan,

"aku datang terlalu cepat" gumamnya. Ino mengeratkan jaketnya, dan berjalan menuju kedai kopi untuk menghangatkan tubuhnya juga itung-itung menghabiskan waktu sampai kereta yang membawa Karin datang 20 menit lagi.

Ino membawa kopi yang sudah dipesannya ke meja dekat jendela, dari sana dia bisa melihat dengan jelas kereta yang datang silih berganti. Ino menyesap kopinya perlahan, jarang-jarang Ino bisa menikmati kopi paginya di di stasiun seperti ini biasanya Ino ngopi di kantin kampus atau kedai di mall saat jalan berdua degan Sakura. Oh ya Sakura, Ino belum menyapanya lagi sejak meninggalkan mejanya secara tiba-tiba. Dia harus menghubunginya nanti.

Ino mengedarkan pandagannya kesegala arah, kereta yang ditunggunya telah datang tapi yang dicarinya belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Karin mana ya?" Ino terkejut begitu pundaknya disentuh seseorang, tubuhnya refleks berbalik dan menatap gadis bersurai indigo tengah tersenyum padanya.

"kau, Yamanaka Ino?" tanyanya. Ino mengangguk 'siapa?' pikirnya. Gadis yang tidak dikenalnya itu menarik tangan Ino menuju ke salah satu kursi tunggu yang tengah ditiduri gadis berambut merah menyala dan Ino sepertinya mengetahui siapa.

"Karin?" Ino mendekati karin yang tengah meringkuk di kursi.

"I.. Ino bantu aku bangun" Ino menarik tangan karin pelahan membantunya duduk.

"dia mabuk" ujar gadis yang membawanya tadi.

"oh, terimakasih sudah membantu sepupuku turun dari kereta dan membawanya kemari, bisa-bisanya dia minum-minum sampai mabuk seperti ini" Ino menggeleng-gelengkan kepalanya 'bikin malu saja sih' pikirnya.

"ah ya, sama-sama. Aku sudah biasa kok direpotkan olehnya" ujarnya sembari tersenyum dan menatap Karin dan Ino bergantian

"aku mabuk bukan karna minum, bodoh!" bentak Karin tidak terima dituduh telah minum-minum,

"mana mungkin, eh jangan bilang" kata Ino tidak percaya, gadis bersurai indigo itu mengangguk,

"Karin? Ini kereta loh" ejek Ino,

"jangan banyak bicara, cepat bantu aku bangun dan bawa aku dan Hinata pulang ke rumahmu!"

"Hyuuga Hinata" ucapnya memperkenalkan diri sesaat setelah Ino berhasil merangkul Karin dan memapahnya menuju mobil. Kedua lengan Hinata sibuk menggusur dua koper berukuran sedang dan tas kecil yang diselempangkan di pundaknya, Ino tebak salah satunya pasti milik Karin. Hinata terlihat agak kewalahan membawa semuanya sembari mengikuti Ino. Ino kira gadis bersurai indogo itu hanya orang lewat yang dengan sukarela menolong sepupu super cerobohnya itu tapi ternyata dia adalah orang yang sengaja Karin ajak untuk menemaninya pergi ke Konoha.

"ini pertama kalinya aku datang ke Konoha" akunya.

~o~

"Kita harus naik ini?" Tunjuk Karin enggan. Hinata memasukkan koper ke bagasi yang sudah dibukakan oleh Ino sebelumnya.

"Iya Karin, kau harus naik ini untuk ke rumahku" tukas Ino sembari menepuk atap mobilnya. Karin mulai merengek dan menahan tangannya di pintu mobil tidak ingin masuk.

"Aku tidak mau! Lebih baik aku jalan kaki!" Ino mendorong Karin paksa masuk kedalam mobil dibantu oleh Hinata. Dan adegan dorong mendorong yang diselingi saling teriak tak dapat dihindari, tapi pada akhirnya Karin pasrah masuk ke mobil karena kalah kuat.

"Nah begitu dari tadi" tukas Ino setelah berhasil memasukkan sepupunya paksa kedalam mobil.

"Tidaaakkk ..." teriaknya sok dramatisir.

"Ayo Hinata!" Ajak Ino menghiraukan teriakan Karin.

Hinata melihat pemandangan kota Konoha, daerah yang baru pertama kali dikunjunginya itu dengan kagum. Perasaannya mulai meletup-letup, Hinata baru menyadari bahwa sekarang dirinya berada di negara tempat Naruto berada!. Hinata jadi tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Naruto. 'Karin! Cepat kenalkan aku dengan Kak Naruto!' Katanya tidak sabar dalam hati.

Ino membelokkan mobilnya ke arah kawasan elit Uzumaki di sebelah timur Konoha, sekitar 1 jam dari stasiun. Kendaraan roda empat itu berjalan perlahan saat sudah dekat dengan kediaman Ino. Hinata melihat mobil lain yang tengah terparkir didepan rumah Ino, sebuah ferrari dengan warna mencolok menghalangi gerbang masuk. Ino mengklaksonnya keras agar mobil yang didepannya segera bergerak karena menghalangi akses menuju gerbang rumahnya. Tapi mobil berwarna ngejreng itu tetap bergeming di tempatnya, Ino mulai jengkel dan mengklakson lagi agak lebih lama, "oh come on!". Ino masih bisa bersabar dengan menunggu beberapa menit sampai mobil itu bergerak tapi setelah ditunggu beberapa menit masih belum ada tanda-tanda mobil berwarna yang cukup bikin sakit mata di siang hari itu akan bergerak. Ino mendengus sebal lalu bersiap keluar dari mobil untuk meminta memindahkan mobilnya.

"Aku yang akan menghampirinya" usul Hinata sembari melepas sabuk pengaman dan keluar dari mini cooper Ino.

Hinata berjalan perlahan menuju mobil itu, sebenarnya Hinata tidak yakin dengan keputusannya yang menurutnya berani itu beberapa detik lalu. Manik sewarna bulannya menjelajahi isi mobil itu dari jendela yang sepertinya sengaja dibuka. Hinata menemukan pengemudi yang tengah tertidur, kedua telinganya disumpal dengan headset dan samar bisa terdengar lagu yang tengah diputar. 'Pantas saja tidak kedengaran' pikir Hinata.

Dari sudut matanya, bisa dilihat Ino mengeluarkan kepalanya keluar melalui jendelanya dan menatap Hinata dengan pandangan 'cepatlah!'. Hinata yang tidak ingin sampai disusul Ino langsung membuka pintu dan memasukkan setengah tubuhnya kedalam berusaha menggapai si pengemudi untuk membangunkannya. Setelah Lengannya cukup untuk menggapai si pengemudi, langsung saja Hinata menggoyangkan lengan pengemudi itu. Laki-laki yang dibangunkan Hinata menggeliat sembari melepaskan sumpelan ditelinganya dan sedikit terkejut begitu melihat gadis bersurai indigo tengah tersenyum padanya. Setelah merasa si pengemudi itu bangun Hinata buru-buru mengeluarkan tubuhnya dan berkata,

"Ng... anooo bisa kau pindahkan mobilnya? Mobil temanku ingin masuk lewat gerbang itu tapi mobilmu menghalangi jalannya. Maaf..." pinta Hinata.

"Oh ya?" Katanya sembari melihat kebelakang mencari tahu siapa. 'Ino' pikirnya. Lelaki bersurai blonde itu mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan berteriak pada Ino.

"Bukakan dulu pintunya!"

"ada apa si kuning itu datang ke rumahku? Pamer mobil baru heh?" Gumam Ino sebal. Dengan memencet salah satu tombol di dashboard, pintu gerbang kediaman Yamanaka Ino itu terbuka lebar. Segera saja mobil berwarna ngejreng iu masuk kemudian diikuti mini cooper Ino juga Hinata yang setengah berlari dibelakangnya sebelum gerbang tertutup secara otomatis saat mobil terakhir masuk.

Hinata berdiri mematung begitu menyadari yang keluar dari mobil berwarna ngejreng dan sempat diajaknya bicara beberapa menit lalu adalah Naruto. Naruto! 'aku menyentuhnya, aku menyentuhnya!' teriak Hinata histeris dalam hati 'Kenapa kau tidak menyadarinya lebih cepat, Hinata?' Rutuknya.

"Jangan hanya menatap kami seperti itu! Bantu juga mengangkatnya!" Teriak Ino kesal. Naruto mendengus sebal sebelum membantu membopong Karin kedalam rumah.

"Hinata" panggil Ino membuat Hinata yang masih larut dalam khayalannya mengerjap saat Ino mengajak gadis lavender itu untuk segera mengikutinya. Hinata mengangguk lalu mengikuti Ino dan kedua orang lainnya yang sudah masuk lebih dulu.

Hinata duduk di sofa dekat jendela. Menatap kedua saudara itu -hanya Naruto sebenarnya- berdebat, mendebatkan hal yang sangat tidak penting menurut Hinata. Tapi gadis lavender itu menyukainya karena melihat berbagai ekspresi yang dikeluarkan lelaki idamannya itu untuk pertama kalinya. Karena selama ini Hinata melihat Naruto hanya dari foto dan mengkhayalkanya saja.

Hinata menatap Naruto intens. Dimatanya Naruto adalah sosok lelaki sempurna idaman wanita. Wajah yang tampan, tubuhnya tegap dan kekar. Juga garis mirip kumis kucing itu yang paling menarik dari lelaki bersurai pirang itu. Hinata sangat ingin meyentuhnya!

Kalau sedang berada di kamarnya, Hinata pasti akan langsung berteriak histeris yang diredam dengan bantal walaupun hanya menatap fotonya saja.

Hinata langsung mengalihkan pandangan begitu manik bulannya beradu pandang dengan milik Naruto yang sebiru lautan itu.

Naruto menatap Hinata dengan alis bertaut seakan bertanya 'siapa kau?' Ino yang menyadari arti tatapan Naruto pada Hinata langsung menjelaskan siapa Hinata.

Naruto hanya ber'O' ria lalu mengatakan hal konyol yang membuat perut ratanya mendapat hadiah bogem mentah dari Ino.

~o~

Keesokan harinya, Ino menelpon Sakura dan memintanya untuk bertemu di kedai kopi langganannya tapi Sakura bilang datang saja ke rumahnya 'sedang malas untuk keluar rumah' katanya. Ino pun langsung setuju dan meluncur dengan mini cooper hitamnya menuju kediaman Haruno Sakura di kawasan Industri Hasu, sekitar 20 menit ke sebelah utara dari kawasan elit Uzumaki.

"Sakuraaaa ada yang ingin kucertakan!" Teriak Ino setelah berhasil masuk ke rumah Sakura.

"Seperti biasanya ya" sindir Sakura begitu Ino muncul dari balik pintu dengan cengiran khasnya.

"Kan ibumu yang bilang begitu, aku cuma nurut saja" jawabnya, tangannya meraup keripik kentang di meja dan memakannya.

"Jadi, ada apa datang kemari?" Tanya Sakura to the point. Ino menelan keripik yang memenuhi mulutnya sebelum menjawab pertanyaan dari Sakura.

"Kau juga seperti biasanya" cibir Ino, tangannya menyuapkan keripik kentang lagi sampai mulutnya penuh.

"Kalau kau cuma mau makan pulang sana" usir Sakura kesal. Ino sengaja memasukkan lebih banyak keripik kentang lagi sampai pipinya menggelembung.

"Oh baiklah baiklah, Sasuke tidak akan datang kan?" Tanya Ino memastikan setelah keripik yang memenuhi mulutnya beberapa detik lalu sudah tertelan sempurna. Sakura menggeleng,

"Dia sedang sibuk dengan mobilnya, kenapa? Jangan bilang kau naksir Sasuke?" Tuduh Sakura, Ino berdecak.

"mana mau aku sama laki-laki model robot seperti itu, eh sori Saki"

"tenang saja, aku sudah biasa" timpal Sakura enteng.

"ok, nah ini tentang insiden 2 hari yang lalu di kampus. Aku ... aku ... aku ... "

"Aku apa?" Potong Sakura.

"Aku bertemu dengan kakaknya Sasuke" Sakura memutar bola matanya bosan.

"Cuma itu?" Ino menggeleng cepat.

"Aku mempermalukan diriku didepannya" lirih Ino, pipinya sudah semerah tomat. Keputusannya sudah bulat untuk memberi tahu Sakura perihal insiden memalukan itu, siapa tahu kan Sakura bisa membantunya. Sakura tersedak jus yang tengah diteguknya.

"Uhuuk .. uhuukk..." Ino menepuk punggung Sakura mencoba sedikit meringankan batuknya walaupun sebenarnya tidak berefek apa-apa.

"What!? Are you serious?" Saki bertanya dengan nada tidak percaya setelah batuknya reda. Ino hanya bisa menganggukan kepalanya sembari menunduk.

"Aku belum meminta maaf eh sudah sebenarnya tapi rasanya seperti masih ada yang mengganjal di hatiku, perasaan itu masih menyangkut dan membuatku selalu ingin berteriak tak jelas kalau mengingatnya"

"Jangan teriak disini!" larangnya lalu Saki memeragakan orang yang menghirup udara dalam lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut, Ino mengikutinya dan perasaannya menjadi lebih baik.

"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Ino terlihat bingung,

"Nah btw, kau melakukan apa dengan kakaknya Sasuke? Menciumnya ditempat umum?" Tebak Sakura asal,

"Bukaann, aku ..." Ino menceritakan dari awal sampai akhir insiden itu secara rinci pada Sakura. Dan tanpa ragu Sakura menertawakannya dengan puas.

"Kenapa tertawa?" Protes Ino lalu menggelembungkan pipinya. Sakura menarik nafas dan membuangnya perlahan mencoba menghentikan tawanya, perutnya serasa sakit sekali karena terlalu puas tertawa.

"harusnya segera lupakan itu, jangan menjadikannya sebagai beban" Ino telihat mendung. That face! Kemudian Sakura bedeham sebelum melanjutkan perkataannya, dia tidak tega juga dengan sahabatnya ini.

"Akan aku bantu.." lanjut Sakura sembari terkekeh geli. Ino langsung berbinar dan menghambur memeluk Sakura dengan erat.

"Terimakasih, Saki! You are the best, Kalau kau berhasil aku akan mentraktirmu makan sepuasnya di tempat yang kau mau!" Sakura mengangguk-ngangguk setuju, dia tidak mungkin melewatkan hal semacan itukan?

"Btw, kita mulai dari mana?"

"Aku punya nomor ponselnya" Sakura menatap Ino dengan sebelah alis terangkat penuh curiga.

"Kau .." selidiknya.

"Aku mendapatkannya dari nenek, aku salah bicara sewaktu dinner party kemarin dan walla aku dapat nomornya. Tapi aku tidak berani memakainya makannya aku meminta bantuanmu" potong Ino panjang lebar.

"Kenapa?"

"Apanya? Oh, kakaknya Sasuke itu bekerja sebagai head chef di Hidden Leaf resto. Hanya itu yang ku tahu" jelas Ino.

"Kau tahu orang yang mengajakku ke dinner party kemarin itu Sasuke dan Sasuke dapat undangan itu dari kakaknya, sepertinya pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada Sasuke terjawab olehmu"

"Kau.. kenal dengan kakaknya Sasuke?"

"Tidak, aku bertemu dengannyapun belum pernah" jujur Sakura.

"loh kau kan pacarnya?"

"aku memang pacarnya, tapi tentang keluarganya aku tidak tahu. Sasuke selalu menghindari pertanyaanku yang satu itu" Ino membulatkan mulutnya.

"ah, kau mau... melibatkan Sasuke juga?" usul Ino,

"Sepertinya iya, mau memanggil dia kemari sekarang?" Tawar Sakura, Ino mengusap dagunya berpikir. Ino merasa harus melibatkan mahasiswa teknik mesin itu, sepertinya tidak buruk juga.

"Tapi dia berjanji harus tutup mulut"

"Aku bisa menjaminnya"

"Baiklah..."

~o~

Sasuke datang 20 menit setelah di telpon Sakura. Jarak dari rumah Sasuke ke rumah Sakura hanya berbeda 3 blok, 10 menit berjalan kaki.

"Maaf aku telat" ucapnya setelah sampai. Lelaki bersurai pantat ayam itu hanya memakai kaos putih polos dan celana denim selutut. Santai sekali.

"Ada apa?" Tanyanya tanpa basa basi. Ino pun dengan terpaksa menceritakan lagi kejadian yang telah menimpanya. Sepanjang jalan cerita, Sasuke tidak sedikitpun merubah ekspresi wajahnya tetap dingin dan tenang berbeda dengan kekasihnya yang kembali menertawakannya walau tidak seheboh tadi. Ino menatap Sasuke dengan penuh harap setelah menyelesaikan ceritanya.

"Aku bisa membantumu" ucapnya santai. Ino mengusap dadanya lega, Sasuke ternyata mau membantunya!

"tapi .." lanjutnya. Sasuke menyeringai samar.

"tapi?" ulang Ino tidak sabar.

"tapi.. kau harus membantuku untuk membuat kakakku resign dari pekerjaannya yang sekarang" eh?

~o~


Konoha, ibukota negara api juga sebagai pusat perdagangan, restoran Naruto dan Tsunade ada disini dan juga di Matsu. Uzumaki adalah kawasan elit, perumahan kelas atas dan perkantoran ada disini. Hasu adalah Kawasan Industri, dan Matsu adalah kawasan pendidikan dan rekreasi. Ino, Sakura dan Sasuke kuliah disini. Anggap seperti jabodeta :3 hahaha.

Oh ya, perbedaan waktu antara Konoha dan Kumo adalah 1 jam.


Jull lagi keranjingan variety show – nya AKB48 dan 48 yang lain. Jadi macet-macet nulis lanjutannya karena greget pengen langsung nonton begitu selesai di download :3, tapi akhirnya bisa diselesaikan juga xD yattaaa hhhoo

Chap ini asalnya mau dibuat Ino langsung ketemu Itachi, baikan terus dekat dan seterusnya tapi aku masih ngerasa ada yang kuraaang gitu dan akhirnya scene itu diundurkan untuk berikutnya. jang! jadilah seperti ini pada akhirnya :3


#Review; guest: whooa trims hoho ^^, de-chan: yeay, aku gatau yang diatas itu cute apa engga ._., Rae: apayapayapaya :o. yang log in silahkan cek pm-nya ya . sankyu~ :D

Leave a Review, Readers! ^^