Yattaa! Chap 4 coming! :D


HAPPY READ!

~DLDR~


KITCHEN

Chapter 4


Y. Ino (21), U. Itachi (27), N. Naruto (27), H. Hinata (25), U. Karin (25), Tsunade (65), U. Sasuke (22), H. Sakura (21)


Naruto menggeliat diranjangnya, kemudian lengannya menggapai-gapai jam weker yang berdering nyaring memenuhi kamarnya. Mengganggu tidur lelapnya. Lelaki pecinta warna orange ini bangun dan melangkahkan kakinya dengan malas menuju kamar mandi untuk segera bersiap terjun kembali ke rutinitas harian yang semakin hari semakin padat.

Naruto tinggal sendirian disalah satu apartemen mewah di Uzumaki tidak begitu jauh dari komplek tempat tinggal Ino.

Pagi itu, sebelum pergi ke kantor. Naruto menyempatkan diri ke rumah Ino untuk menemui kedua sepupunya. Ingin membuatkan sarapan sebenarnya.

"pagi" sapa Naruto yang masuk begitu saja dan duduk disebelah Karin dimeja makan.

"pagi juga, tumben kau datang kemari?"

"kau tidak suka aku datang kemari, heh?" Karin menggeleng.

"aku akan memasakkan kalian sarapan, kalian belum sarapan kan?"

"kami semua sudah sarapan" jawab Karin. Naruto menatap Karin tidak percaya.

"kau pasti bohong, memangnya kalian berdua bisa masak?"

"Hinata yang memasakkannya untuk kami berdua" Karin menyebut nama Hinata dengan bangga.

"Hinata?" Naruto merasa asing dengan nama yang disebut Karin.

"eeehh .. kau belum berkenalan dengannya?"

"i .." Riiingg riinggg riinnggg

suara ponsel Karin yang bernada dering jam weker berbunyi nyaring memotong ucapan Naruto. Karin menempelkan jari telunjuknya dibibir menyuruh Naruto untuk tidak mengatakan apapaun dulu.

"hallo sayang.." sapanya keseberang telpon dengan nada ceria dan berseri-seri.

Naruto menggaruk belakang kepalanya bosan. Satu fakta yang baru Naruto ketahui tentang sepupu cerobohnya itu adalah Karin ternyata sudah memiliki kekasih. Dan itu membuat Naruto sedikit kesal dibuatnya. Neneknya pasti akan mulai membanding-bandingkannya lagi. 'Eh kira-kira nenek Tsunade sudah tahu belum ya?' Pikir Naruto.

Naruto menjadi penasaran dengan gadis bernama Hinata itu. Siapa Hinata? Memangnya kita sudah pernah berkenalan? Kapan? Naruto meninggalkan Karin yang masih asik bercerita dengan kekasihnya lewat telpon melupakan sepupu paling tampannya dengan gelas kosong. Gadis pirang itu tidak terlihat dimanapun juga gadis yang bernama Hinata Hinata itu.

"hei Naruto!" panggil Ino sembari melambaikan tangan dari halaman belakang. Naruto menoleh dengan dahi berkerut lalu berjalan menghampiri Ino yang entah sedang apa disebelah pohon apel.

"apa yang sedang kau lakukan?" tanya Naruto enggan, Naruto punya firasat buruk tentang hal ini. Walaupun Naruto mencari Ino tapi tentu saja bukan di situasi seperti ini.

"bantu aku memetiknya" tunjuknya ke salah satu apel yang berada cukup sulit dijangkau dengan tangannya dan gadis bersurai indigo disampingnya.

"ini masih pagi, kau mau sakit perut?" pandangan Naruto tidak bisa lepas dari gadis yang berdiri disamping Ino yang masih mendongak menatap buah apel itu. Tidak sadar sedang ditatap oleh manik milik sepupu sahabatnya.

"Naruto!" teriak ino merajuk, Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba memfokuskan pikirannya kembali.

"baiklah baiklah" Naruto mulai mendekati pohon apel itu dan berjinjit sedikit untuk meraih buah apel yang ranum itu.

"ini" sodor Naruto pada Ino setelah berhasih mendapatkannya.

~o~

Sasuke menatap kakaknya yang sedang menyiapkan sarapan untuknya dari seberang dapur dengan pandangan tajam. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan kakaknya. Itachi.

"kau mau susu kedelai atau susu sapi?" tanyanya ketika Itachi menyadari adiknya masuk ke dapur dan duduk di tempat biasa. Sasuke sungguh benci dengan pertanyaan yang selalu diberikan kakaknya itu setiap pagi. Ingin rasanya Sasuke berteriak didepan wajah Itachi mengatakan 'AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI! BERHENTILAH BERSIKAP SEPERTI ITU!' tapi Sasuke tidak sanggup mengatakannya dan juga bukan gayanya bicara segamblang itu.

"susu sapi" jawab Sasuke.

"aku dengar jadwal sidangmu dipercepat" Sasuke mentap Itachi dengan tatapan 'kau tau darimana?'

Itachi terkekeh sebelum menjawab karena melihat mimik wajah Sasuke yang menurutnya imut saat terkejut seperti sekarang ini.

"aku punya banyak koneksi di kampusmu, kau lupa?" Sasuke meneguk susunya sembari berpikir, terlintas dosen berwajah menyebalkan dikepalanya. Tobi-sensei.

"bagaimana pekerjaanmu?" tanya Sasuke basa basi, dia ingin tahu apakah kakaknya akan resign atau ..

"sangat menyenangkan! Kau tahu kan pekerjaan ini adalah mimpiku sejak kecil"

Sepertinya tidak ..

Sasuke kesal setelah mendengar jawaban Itachi yang begitu bersemangat dan berseri-seri dan makin kesal saat ingat Ino mengurungkan niatnya untuk meminta bantuannya hanya karena syarat yang diajukannya. Sasuke tahu hanya orang bodoh yang dengan sembrono menerima syarat konyol itu dan Ino bukan termasuk orang bodoh itu jelas perempuan pirang itu menolaknya dengan keras. Ino lebih memilih jalan bunuh diri katanya.

"terimakasih makanannya~" ucap Sasuke dan bersiap pergi ke kampus.

"kau langsung pergi, Suke?" Sasuke mengangguk dan langsung pergi sebelum Itachi menghentikannya lagi.

~o~

Ino menatap Naruto yang masih terpaku dengan gadis bersurai indigo itu, mata Ino menyipit dan bibirnya melebar membentuk senyuman.

"Hinata, kau punya rencana apa hari ini dengan Karin?" Hinata yang sedang menyuap pie apel menggeleng yang berarti belum punya rencana apapun.

"aku kira kalian berdua akan pergi kesuatu tempat"

"kenapa? Kau tidak senang kami berdua ada di rumahmu, huh?" Karin mentap tajam Ino,

"bukan begitu! Hanya saja kau sudah jauh-jauh datang ke Kasai dan hanya berdiam diri dirumahku? Kau harus pergi berjalan-jalan agar tidak menyia-nyiakan waktu cuti-mu. Iyakan Naruto?" Ino menyikut dada Naruto agak keras membuat Naruto terkesiap dan mengerang kemudian menatap Ino dengan tatapan 'apaan sih?'

"aku akan pergi ke suatu tempat sebenarnya" jujur Hinata setelah menelan pie-nya.

"kemana?" Naruto yang dengan refleks bertanya membuat senyum Ino lebih lebar,

"ke Konoha"

"mau apa kau ke Konoha?" Karin yang kini bertanya,

"ada urusan"

"pekerjaan? Kau membawa pekerjaanmu ke liburan kita, Hinata?" Hinata mengangguk membuat Karin mengeleng-gelengkan kepalanya.

"kenapa kau membawa pekerjaanmu?" Karin tidak habis pikir dengan sahabatnya ini,

"sebenarnya, aku ke Kasai bukan hanya untuk berlibur denganmu tapi juga untuk ..." Hinata berhenti sejenak, sebenarnya Hinata belum mau mengatakannya tapi sudah terlanjur Karin tahu Hinata membawa urusan pekerjaan ke liburan mereka berdua jadi mau tidak mau Hinata harus jujur. Lebih cepat lebih baik pikirnya.

"aku sedang mengurus kepindahanku ke Kasai" Karin terkejut bukan main mendengar pengakuan Hinata sampai membuat sendoknya jatuh ke lantai,

"kau bohongkan, Hinata?" wajah Karin memerah menahan amarah, Hinata mengangguk.

"maafkan aku tidak mengatakannya lebih cepat padamu, aku masih ragu-ragu dan takut untuk memberitahumu kemarin. Tentang kepindahanku ini hanya ayahku dan sekarang kau yang tahu. Adikku dan sepupuku-pun belum ku beritahu, aku tidak tahu harus mengatakan apa saat mereka tahu aku akan pergi meninggalkan mereka" Hinata menunduk menatap pie apelnya yang masih tersisa setengahnya, Karin menghembuskan nafas lalu mendongak menatap langit-langit mengontrol emosinya agar tidak meledak.

"aku megerti kau pasti akan kecewa dan marah mendengarnya, aku sudah siap untuk dimarahi olehmu. Keluarkan saja semuanya aku ingin mendengarnya" lanjut Hinata, karin mengipasi wajahnya dengan tangan.

"aku memang kecewa dan marah padamu, tapi aku senang kau sudah mau jujur padaku. Aku tahu kau pasti punya alasan lain mengapa tidak mengatakannya lebih cepat dan akupun tidak bisa mencegahmu kalau kau ingin pergi" Karin tersenyum kearah Hinata, Hinata mendongak sambil menggit bibirnya mencoba menahan tangis setelah mendengar perkataan Karin dan melihat senyuman terukir di bibirnya, Hinata kira Karin akan memarahinya habis-habisan tapi ternyata perkataan Karin jauh dari bayangannya.

Naruto tersenyum mendengar ucapan Karin, Karin memang ceroboh dan gampang sekali marah tapi dia akan memaafkan dan mengerti begitu tahu alasan yang sebenarnya. Naruto kagum pada Karin yang masih bisa berpikir jernih dan mau mendengar alasan Hinata walau emosinya sedang menyelimuti dirinya.

"Kariin .." Hinata berdiri dan mendekati Karin sambil bercucuran air mata kemudian memeluk Karin erat,

"Hinata.. sesaaakk" Ino yang sedari tadi diam menyusut air matanya, adegan yang tidak diduganya hasil dari pertanyaan asal dirinya yang sebenarnya ditunjukkan untuk memberi kode pada Naruto membuatnya terharu. Hinata ternyata lebih berani dibanding dirinya dalam mengutarakan hal yang sebenarnya, sesuatu yang harus dicontoh Ino untuk menyelesaikan masalah konyolnya itu.

"terimakasih Karin" Hinata melepas pelukannya dan tersenyum pada Karin,

"thats what friend for, darl" ujar Karin sembari mengedipkan sebelah matanya.

"kau mau mengantarku?" Karin menatap Hinata dengan dahi berkerut.

"apa yang kau katakan?"

"kau mau mengantarku ke Konoha?"

"eeehhh" Karin menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi wajah enggan,

"aku sudah bisa menebaknya"

"dasar! Cepat hilangkan penyakit mabuk kendaraanmu itu!" cibir Naruto,

"berisik!"

"kau mau ke Konoha kan Hinata? Kenapa tidak bareng saja dengan Naruto. Kau ke Konoha juga, kan?" Naruto menatap Ino yang tiba-tiba menyebut namanya,

"iya .." Naruto mengernyit tidak mengerti kemudian mengangguk dan mengajak Hinata setelah paham dengan maksud Ino.

"tentu saja, aku tidak keberatan kok"

"terimakasih, aku akan bersiap-siap dulu kalau begitu" Naruto mengangguk dan Hinata langsung melesat ke kamarnya untuk bersiap-siap.

~o~

Itachi memastikan adiknya sudah berangkat dan jauh dari rumah dengan mengintip dari jendela. Itachi merogoh saku mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.

"awasi dia"

~o~

"kau tidak usah datang kerumahku kemarin" ucap Sakura sembari menyesap mocca float nya.

"berisik! Itu sudah terjadi bisa kau lupakan saja? Aku sedang tidak ingin mengingatnya, yang penting sekarang aku sudah punya ide untuk itu"

"oh ya?" Ino mengacungkan jempolnya pada Sakura.

"wow, memangnya apa yang mau kau lakukan?"

"pergi menemuinya secara langsung"

"itu ide hebat, kenapa tidak kau lakukan sejak kemarin? Kau hanya membang-buang waktu berhargamu Ino!" Ino menggaruk belakang kepalanya sambil cengengesan.

"kau akan mengiriminya pesan? Kau pintar sekali Ino!" sindir Sakura.

"sudah jangan banyak menyindirku! Kau harus menemaniku nanti"

"aku sudah bisa menebaknya. Aku tidak mau! Itu urusanmu, uruslah sendiri jangan sangkut pautkan denganku!" Ino menggelembungkan pipinya tidak setuju,

"kau tidak ingin ya mengenal kakaknya Sasuke?" Saki mengernyit menatap Ino,

"apa maksudmu?"

"jangan pura-pura bodoh Saki sayangku! Kau pasti sudah tahu apa maksudku" Ino menaik turunkan alisnya,

"kau bisa bertanya macam-macam padanya nanti" Saki mengerling,

"sialan aku tidak bisa menolaknya!" Ino langsung mengangkat kedua tangannya keudara.

"yeaay!"

~o~

Naruto menghentikan mobilnya di tepi zebra cross, setelah melihat lampu merah menyala terang di depannya dan sebuah layar yang menghitung mundur dari angka 90 terlihat disamping lampu lalu lintas itu.

"terimakasih sudah mau mengantarku" ucap Hinata memecah keheningan yang tercipta sejak mereka berdua pergi dari rumah Ino sekitar 1 jam lalu. Naruto menoleh kearah Hinata,

"urwel, toh aku sedang tidak buru-buru jadi tenang saja"

Lampu hijau sudah menyala, Naruto langsung menginjak pedal gas perlahan dan melanjutkan perjalanan.

"oh iya, bisa beritahu aku alamat yang kau tuju, Hinata?" Hinata yang sedang asyik melihat pemandangan diluar jendela langsung menatap Naruto dengan wajah bersemu, dia lupa memberitahukan tujuannya. Hinata langsung membuka catatan di ponselnya dan mengatakan alamat yang akan ditujunya pada Naruto.

"ow, itu cukup dekat dari tempat kerjaku. Kebetulan sekali ya" Hinata hanya mengangguk dan mereka berdua tidak melakukan percakapan lagi sampai Hinata sampai di tempat tujuan.

"terimakasih sudah mengantarku" ucap Hinata, Naruto tersenyum padanya dan berkata

"tidak usah sungkan, kau kan sahabat sepupuku. Aku tidak keberatan mengantarkanmu sampai sini. Mau ku jemput nanti setelah kau menyelesaikan urusanmu?"

"aku bisa pulang sendiri nanti sekalian untuk menghafal jalan, terimakasih" tolak Hinata halus,

"eeehh, baiklah aku tidak bisa memaksamu Hinata. Kalau ada apa-apa kau bisa langsung menelponku" Naruto menyodorkan kartu namanya, Hinata mengangguk dan sekali lagi berterimakasih pada Naruto.

"hati-hati Hinata, aku pergi dulu" Mobil orange itu bergerak perlahan meninggalkan Hinata seorang diri.

Hinata mencocokan alamat didepannya dengan alamat yang ditulisnya dicatatan ponsel. Setelah yakin sama, Hinata memencet tombol bel sekali dan tak lama kemudian seseorang berpakaian tradisional menyambutnya dan mempersilahkannya masuk.

"anda sudah ditunggu Tuan Gyouten nona Hyuuga, mari ikuti saya" Hinata mengangguk dan mengikuti orang bisa Hinata tebak adalah pelayan di rumah yang sangat besar ini menuju ruangan dimana Tuan Gyouten menunggunya.

"silahkan masuk, Tuan Gyouten sudah menunggu Nona di dalam" Hinata mengangguk dan memasuki ruangan dengan perlahan.

"selamat datang Hinata, kau terlihat lebih dewasa dari pertemuan terakhir kita 20 tahun lalu kalau tidak salah, dulu kau begitu imut dan terus bersembunyi dibelakang Hiashi" ucap lelaki paruh baya berjas itu dengan tersenyum ramah, Hinata hanya bisa tersenyum karena tidak bisa mengingat hal yang dibicarakan teman ayahnya ini.

~o~

Hinata menaiki taxi menuju Hasu, mencari alamat yang sudah diberikan sahabat ayahnya itu padanya. Sebuah apartemen yang akan ditempatinya setelah benar-benar pindah ke Hasu melihat-lihatnya sebentar dan mencatat peralatan apa saja yang perlu dibeli dan dibawa ke apartemen barunya itu. Sistem pemindahan pegawai yang dulu sempat dihentikan kini berlaku kembali setelah ownernya membangun pabrik baru di Arashi. Hinata tidak percaya bahwa dirinya termasuk dari 5 orang yang dipindahkan. 3 diantaranya dipindah ke Arashi, 1 ke Dairiseki dan 1 ke Hasu, dirinya. Jujur saja, Hinata tidak tahu apa-apa tentang negara lain jangankan negara lain. Hinata saja tidak benar-benar kenal dengan kotanya sendiri, Kumo.

Hinata sampai di rumah pukul 8.30 malam, suasana rumah malam itu cukup sepi karena yang ada dirumah hanyalah Karin. Hinata tahu Ino sedang pergi karena mobil yang biasa dipakai sepupu sahabatnya itu tidak ada di garasi. Hinata menemukan Karin yang tengah bercucuran air mata didepan televisi, menonton salah satu drama yang saat ini sedang banyak disukai.

"disini tayang juga ternyata" pikir Hinata.

Hinata yang memang bukan pecinta serial drama dan sejenisnya hanya terheran-heran melihat Karin yang bercucuran air mata melihat adegan demi adegan yang diperankan para artis, Hinata tidak mengerti dimana letak sedihnya.

"sesedih itukah ceritanya?" tanya Hinata setelah menghempaskan tubuhnya disebelah Karin yang tengah menyusut air matanya dengan tisu. Karin mengangguk kemudian langsung menoleh karena baru sadar Hinata sudah pulang.

"sejak kapan kau duduk disana? Kenapa tidak ada suara saat kau masuk?"

"ng ... 15 menit yang lalu mungkin. Kau terlalu fokus dengan drama picisan itu"

"ini bukan drama picisan! Kau sudah menyelesaikan urusanmu?" Hinata mengangguk.

"lumayan luas, cukup untukku tinggali sendiri"

"heee, berarti mulai kapan kau akan bekerja di Konoha?"

"bukan di Konoha, tapi di Hasu"

"loh kan kau pergi ke Konoha tadi?"

"ke Konoha aku pergi ke rumah teman ayahku untuk mengambil kunci dan alamat apartemen yang akan ku tinggali nanti, karena orang itu yang membantu mencarikan tempat tinggal untukku di Hasu"

"ooh. Tapi, besok lusa kau masih pulang bersamaku ke Inazuma, kan?" tanya Karin dengan nada khawatir, Hinata tersenyum dan merangkul Karin.

"tentu saja! Aku mulai pindah bulan depan. Jadi kita masih punya waktu untuk bersenang-senang bersama nanti" Karin tersenyum dan balas merangkul Hinata.

~o~

Ino dan Sakura duduk disalah satu meja dekat jendela, siang itu matahari cukup terik membuat Ino buru-buru memesan eskrim berukuran besar.

"aaah senangnya~" Sakura mendelik kearah Ino,

"kita kesini bukan untuk makan eskrim, Ino!"

"aku tahu aku tau, biarkan aku menikmati dulu sebelum dia datang"

"terserahlah!"

Sepuluh menit kemudian orang yang ditunggu oleh mereka berduapun datang. Itachi. Ino tersenyum gugup ketika melihat Itachi yang dengan santainya mendekati meja mereka berdua.

"hallo" sapanya,

"apa aku telat?" tanyanya memastikan,

"tidak kok, kau tepat waktu" jawab Sakura. Mata emeraldnya menatap lelaki yang mirip dengan Sasuke ini intens. Isi kepalanya bertanya-tanya kenapa Sasuke sangat tidak ingin dirinya bertemu dengan Itachi? Sakura harus menanyakannya nanti setelah urusan Ino dan Itachi selesai. Tekadnya.

"maafkan aku memintamu datang kesini di sela waktu kerjamu" Ino membuka suara,

"tidak kok, ini hari liburku. Jadi tenang saja" jawabnya sambil tersenyum,

"jadi ada apa?" lanjutnya,

"aku ingin meminta maaf soal yang ..." Ino menggantung kalimatnya tidak sanggup untuk mengatakan lebih banyak lagi,

"ooh yang itu," tebak Itachi sambil menganggukngangguk

"tidak apa kok. Aku sudah memaafkanmu sejak kau meminta maaf waktu itu. Aku sudah biasa disebut seperti itu. Jangan terlalu dipikirkan"

"eeh benarkah? Tapi ..." tanya Ino tidak percaya,

"tentu saja, jangan jadikan itu beban. Jadi itu yang membuatmu terus menunduk di dinner party kemarin ya?" tebak Itachi. Ino menggelembungkan pipinya,

"sudah-sudah, mending kita lupakan saja ok?" Ino langsung mengangguk dengan semangat,

"ah ng ..." Itachi menatap Sakura yang sedari tadi hanya diam,

"aku Sakura, sahabatnya Ino dan kekasihnya Sasuke" ucap Sakura langsung begitu menyadari raut penuh tanda tanya di wajah Itachi dan mengulurkan tangannya,

"ooh, Sakura? Aku baru tahu kalau Sasuke ternyata punya kekasih" Itachi terlihat terkejut sekali dengan fakta yang dikatakan Sakura padanya, lengannya menyambut uluran tangan Sakura bersalaman.

"Sasuke jarang sekali bercerita tentang dirinya, dia memang seperti itu. Apa dia bercerita tentang diriku?" Sakura menggeleng,

"ah sudah kuduga .."

"mungkin kau harus merahasiakan pertemuan kita ini Sakura, aku tidak ingin mencari masalah dengan adikku itu"

"aku setuju, ng .. ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu, boleh kah?" Sakura mengatakannya dengan hati-hati,

"tentu saja, dengan senang hati"

~o~

"jawaban Itachi tidak ada yang membuatku merasa puas" Ino melirik Saki dari sudut matanya,

"mereka berdua sangat tertutup ya" Sakura mengangguk setuju,

"dan juga ternyata tidak sesulit yang kubayangkan" ucapnya sambil membanting stir ke kanan,

"sulit karena kau terlalu memikirkan semua hal yang tidak perlu, kau mempersulit diri sendiri"

"itu sangat menohokku Sakura Haruno"

"memang seharusnya, turunkan aku disana"

Ino menepikan mobilnya dan Sakura langsung meloncat keluar begitu mobil berhenti,

"terimaksih tumpangannya, sampai besok Ino!"

Ino langsung memacu lagi mobilnya setelah memastikan Sakura masuk bis yang benar dan berjalan sedikit beriringan sebelum berpisah dipersimpagan jalan.

~o~

Naruto memijat keningnya perlahan, ponselnya terus bergetar bukan karena ada panggilan masuk tapi kiriman foto Karin dan Hinata yang sedang berjalan-jalan mengelilingi Konoha. Karin sengaja mengirimkan foto-foto itu untuk memamerkannya pada Naruto. Padahal baru kemarin Naruto memuji Karin tapi sepertinya sekarang Naruto ingin menarik perkataannya kembali.

"berhentilah mengirimiku foto-foto itu Karin! Ponselku bisa nge hang!" Naruto menelpon Karin saking kesalnya,

"oh ya? Tapi aku belum mengirimkan semua fotonya padamu"

"kau bisa memperlihatkannya padaku nanti kan bisa?"

"tapi aku ingin kau melihanya sekarang!" ugh menyebalkan! Pikir Naruto. Naruto langsung mengakhiri panggilan dan melemparkan ponselnya ke atas meja dan ponselnya kembali bergetar-getar.

"ada apa dengan anak itu sebenarnya?!"

Naruto memungut kembali ponselnya dan mematikannya dengan segera sebelum melemparkannya lagi ke atas meja.

Naruto membuka aplikasi pesan instan itu dari dari laptop dan kiriman photo belum berhenti masuk,

"mau sebanyak apa dia mengirimkannya?" beberapa menit kemudian kiriman dari Karin berhenti di angka 753. Membuat Naruto mengernyitkan dahi.

"sebanyak ini?" Naruto yang agak penasaran dengan foto yang dikirimkan sepupu merahnya dengan malas membuka kiriman Karin. Discrolnya dari bawah keatas, Karin benar-benar menfoto semua hal yang dilakukannya bersama Hinata dari mulai menyebrang di zebra cross sampai mencuci tangan di toilet. Dan yang paling menarik perhatian Naruto adalah ekspresi yang di tampilkan oleh gadis bersurai indigo itu. Semua ekspresi yang tidak pernah Naruto lihat sebelumnya membuat Naruto tersenyum-senyum sendiri melihatnya.

"Hinata" gumamnya.

~o~

Itachi mengingat pertemuannya dengan Ino dan yang baru dirinya ketahui kekasihnya Sasuke, Sakura.

"tidak buruk" pikirnya saat memikirkan kekasih adiknya itu.

"aku harap gadis itu bisa merubahmu Suke" harap Itachi.

"aaah Ino ya, dia semakin menarik perhatianku. Aku jadi ingin mengenalnya lebih jauh"

"kau bicara apa?" Itachi mendongak saat lelaki berpakaian khas koki menghampirinya dan menyajikan makanan yang dipesannya.

"bukan urusanmu!" lelaki itu berdecak,

"bagaimana?"

"nothing" Itachi mengangguk-ngangguk,

"terus awasi"

"aku tidak akan mengecewakanmu" lelaki berpakaian koki itupun pergi dan Itachi mulai menyantap santap malamnya dengan tenang seorang diri sambil membayangkan gadis bersurai pirang itu.

~o~

Ino menggusur koper Karin, Karin berjalan sempoyongan menuju peron dengan dirangkul Naruto.

"baru naik mobil 20 menit saja sudah membuatmu mabuk seperti ini" cibir Naruto, Karin yang tidak terima berusaha memukul Naruto tapi Karin terlalu lemas untuk melakukannya hanya bisa mendengus sebal. Hinata yang berada dibelakangnya terkikik geli melihat tingkah dua orang didepannya itu. Ekspresi itu tertangkap jelas oleh mata sebiru laut milik Naruto saat tidak sengaja menoleh kebelakang, membuatnya tidak bisa mengalihkan tatapannya barang sedikitpun dan membuat dadanya merasakan perasaan yang sudah tidak Naruto rasakan sejak bertahun-tahun lalu. Orang yang ditatap intens oleh Naruto tentu saja tidak menyadarinya.

Ino yang cukup peka hanya menyunggingkan senyum penuh arti. Dan bergumam 'aah indahnya masa muda'

Sekelebat idepun muncul di kepala Ino, membuat senyumnya semakin lebar. Dan bergumam lagi 'menarik, sialan aku menjadi tidak sabar!'

~o~


Finally! Chap 4 selesai juga, maaf menunggu lama hihi :3

Berapa bulan yak kira-kira ngaret? Ng .. gatau ._.


Yeay! hampir semua oshi-ku masuk ranking kemarin, senangnyaa ;9


Ino akhirnya bisa minta maaf juga sama Itachi, Sakura bisa ketemu juga dengan Itachi dan sepertinya ada yang mulai tertarik :3 gehehehe~


Semuanya yang sudah mereview di chap sebelumnya, Sankyu~ :D


Leave a Review, Readers! ^^