.

Flawlessaliens present:

"The Idol and His Secret Admirer"

Oh Sehun x Lu Han with other pairs

.

.

.

Hanya cerita tentang si Pangeran Es, Oh SeHun dan Penggemar rahasiannya Lu Han.

.

"Kau-!"

Luhan menahan nafas sementara Sehun -seseorang yang berada di jok belakang- menyeringai. Bibir Luhan membuka dan sesaat kemudian menutup begitu terus, semua suaranya tertahan di tenggorokan.

Sumpah. Rasanya Luhan pengen enyah dari hadapan Sehun saat ini juga! Harinya sudah buruk dari awal dan kini kehadiran Sehun didepan matanya semakin memperburuk semua itu.

"Selamat pagi, Nona Lu. Butuh tumpangan?'', tanya Sehun masih mempertahankan senyuman manis yang –entah kenapa—kini terlihat menyebalkan di mata Luhan.

Luhan menghembuskan nafasnya sebentar, berusaha menormalkan emosinya agar tidak menonjok wajah Sehun saat ini juga, sebelum kemudian mulai membuka mulutnya, "Tidak terimakasih. Lagipula bus-ku akan datang sebentar lagi."

Sehun melihat jam tangannya sekilas sebelum kembali melirik Luhan yang kembali sibuk dengan aktivitas –mari-menunggu-bus-, "Benarkah? Tapi sepertinya bus-mu tak akan segera datang dan sekedar informasi sebentar lagi bel masuk akan dibunyikan. So, sekarang terserah padamu –mau ikut atau- menerima hukuman dari guru piket?"

Luhan melirik jam tangannya sekilas sebelum kembali menatap Sehun yang kini menaikan sebelah alisnya- menunggu jawaban Luhan.

Gadis itu kembali menghela nafas, "Baiklah aku ikut."

.

.

Mobil yang membawa Sehun dan Luhan kini telah tiba di parkiran sekolah. Seperti pagi – pagi sebelumnya suara teriakan fangirls Sehun selalu setia menyambut kedatangan sang Pangeran Es meskipun sekarang sudah menunjukan pukul 07.15 dan itu artinya jam pelajaran pertama sudah dimulai, namun para fans dari seorang Oh Sehun tidak akan masuk ke kelas mereka sebelum memastikan sang 'pujaan hati' masuk ke kelasnya dengan selamat. Ck terlalu berlebihan memang.

Teriakan kekaguman itu berubah menjadi jeritan iri saat melihat sang Pangeran tak keluar seorang diri melainkan bersama gadis cantik yang tak lain adalah Lu Han. Pasalnya seorang Oh Sehun bahkan tidak mengijinkan ke-empat sahabatnya untuk memasuki mobil miliknya, lalu kenapa gadis ini bisa-?

Lu Han mendengus mendengar teriakan memekakan telinga dari fans Sehun yang menurutnya lebay dan alay itu. Baiklah ia akui ia memang fans Sehun dan terkadang berubah menjadi 'sedikit berlebihan' saat berbicara mengenai Sehun. Tapi sampai berteriak di parkiran seperti ini? Oh sorry, it isn't her style.

Gadis keturunan China itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai 'fans – fans Sehun yang berlebihan' itu hingga ia tak menyadari Sehun sudah berada jauh didepannya. Ia baru tersadar saat suara berat lelaki itu memasuki gendang telinganya.

"Mau sampai kapan kau disana? Menunggu fans-ku untuk menyerangmu?"

Luhan mengerjap – ngerjapkan matanya saat ia berhasil kembali dari 'alam khayalan'nya, segera saja gadis itu berlari menuju Sehun.

"Sunbae! Terimakasih banyak! Kalau tidak berangkat denganmu mungkin aku sudah dicegat guru piket tadi." ujar Luhan lengkap dengan senyuman manisnya saat ia berada tepat dihadapan Sehun.

Sehun hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Um, kalau begitu aku duluan, sunbae. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih." Luhan membungkukan tubuhnya sebelum berlari menjauhi Sehun.

Tanpa Sehun sadari ia terus memerhatikan punggung Luhan sampai gadis itu benar – benar menghilang dari pandangannya.

"Ternyata—ia manis juga kalau tersenyum."

..

..

Sehun melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke kelasnya, tangannya ia masukan ke saku celananya dengan earphone yang menyumbat kedua telinganya.

Pria itu nampak tak terganggu dengan pandangan – pandangan 'lapar' para fansnya yang entah kenapa masih berada di luar kelas saat ini. Sesekali bibir tipisnya menyenandungkan melodi yang cukup indah untuk didengar.

Sesampainya di depan kelas ia langsung masuk tanpa harus repot – repot menunggu ijin dari guru karena memang kelas Sehun sedang mengalami 'vacum of power' di mata pelajaran Matematika karena guru mereka yang cerewet itu sedang cuti untuk menemani istrinya yang hamil tua.

Kelas yang sudah riuh semakin bertambah riuh saat Sehun sudah berada diantara keempat sahabatnya.

"Hoy Sehun-ah, ku dengar kau tadi ke sekolah bersama seorang gadis?", Sehun yang baru saja bergabung langsung dihadiahi pertanyaan oleh Park Chanyeol—sahabatnya yang terkenal akan senyum 5 jarinya itu. Yang dihadiahi pertanyaannya hanya mengangguk singkat sebelum menelungkupkan wajahnya ke atas meja tanpa menyadari ke-empat sahabatnya yang menyeringai sambil asik bertelepati.

"Sehun-ah."

Sehun hanya menggumam ketika Hoseok memanggilnya, masih menelungkupkan wajahnya di atas meja.

"Mau bermain?" Kali ini suara Yifan yang terdengar, sukses membuat Sehun mengangkat wajahnya. Bukan. Bukan karena Yifan yang memanggilnya sehingga ia mau bersusah payah menatap ke-empat sahabat idiotnya itu. Tapi karena mendengar kata 'bermain' yang tadi dilontarkan oleh si tiang Canada itu.

"Bermain apa?" tanya Sehun dengan wajah datar.

Ke-empat orang lainnya menyeringai sekilas sebelum serempak menjawab,

"Dare or Dare."

..

2014/04/03

Hari ini seorang Oh Sehun sukses membuatku bingung. Bagaimana tidak? Setelah kemarin mengata – ngataiku, ia kini dengan baik hati menawariku tumpangan –ya meski di awal ia juga sempat mengejekku sih- tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya setahu ku, seorang Oh Sehun tidak ingin orang lain masuk ke mobil miliknya. Nah lalu kenapa dia malah dengan senang hati memberiku tumpangan ? asdfghjkl. Oh Sehun kau memang aneh.

..

Luhan menutup diary-nya dan sesegera mungkin memasukannya ke dalam tas. Di depan sana ada Hwang-sonsae yang sedang mencatat beberapa vocab penting yang harus di hafal.

Entah kenapa pagi ini ia tak bersemangat menerima pelajaran bahasa inggris. Apa mungkin karena kejadian tadi pagi?

Luhan menghembuskan nafasnya pelan sebelum kembali mencoba focus ke depan.

"Baiklah Xiao Lu~ Kau ke sekolah untuk belajar! Bukan untuk memikirkan Sehun! Hwaiting!~"

.

.

.

Dilain sisi

Seorang gadis dengan rambut hitam legam sebahu baru saja menginjakan kakinya di bandara international Incheon. Mata bulat gadis itu tertutupi sunglasses yang membuatnya terlihat keren dan modis belum lagi kemeja warna biru langit dan jeans denim yang terlihat begitu pas ditubuh rampingnya.

Tangan kanannya menyeret koper yang lumayan besar untuk mencari letak pintu kedatangan bandara ini.

Baru 5 langkah keluar dari pintu kedatangan 2 orang bersetelan jas sudah datang menghampirinya.

"Nona Do. Tuan besar sudah menunggu kedatangan anda dan ia menyuruh kami untuk segera menjemput anda. Mari ikut saya." Ucap salah satu dari mereka yang memiliki tubuh tambun. Nona Do atau Do Kyungsoo tadi hanya mengangguk sekilas sebelum mengikuti ke 2 orang suruhan ayahnya yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.

Kurang lebih 15 menit berjalan kini Kyungsoo sudah berada di dalam mobil. Ia mengambil smartphone dari dalam saku celananya kemudian menghidupkannya.

Belum sampai 5 menit ia menghidupkan ponsel pintar tersebut puluhan ktalk sudah memasuki(?) ponselnya. Kebanyakan dari teman lama Kyungsoo yang mengetahui Kyungsoo akan kembali ke Korea.

Ia hanya membaca pesan – pesan itu sekilas tanpa berniat membalasnya hingga ia menemukan 1 pesan dari seseorang yang sangat Kyungsoo rindukan.

Dari sahabatnya sewaktu ia kecil dulu.

"Yo! Kyungsoo-noona! Kau akan pulang ke Korea? Wah aku tidak sabar untuk segera bertemu denganmu! Apa kau masih pendek seperti dulu? Bagaimana karirmu disana? Ugh jangan lupa kabari aku kalau sudah tiba di Korea ne?"

Nah kira – kira begitulah isi pesan dari 'sahabat' Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum sekilas sebelum mulai menari – narikan jemarinya di atas layar smarthphone tersebut.—membalas Ktalk sahabatnya.

"Ya hitam! Aku merindukanmu Aku juga ingin segera bertemu denganmu. Dan yak aku sudah lebih tinggi sekarang! Karirku baik – baik saja dan yah~ aku akan melanjutkannya di Korea saja. Oh ya Bagaimana kabarmu? Aku sudah tiba di Korea saat ini! Jangan lupa kunjungi aku malam ini di rumah arra? Awas kalau tidak! :p"

Selesai mengetikan pesan tersebut Kyungsoo tak lekas memasukan handphonenya ke tempat semula. Ia malah asik memandangi foto screen lock-nya di mana dua orang namja yang terlihat sangat kontras dari segi warna kulit sedang tersenyum sambil memegang sebuah bunga lili di masing – masing tangan mereka.

'Jonginnie, Sehunnie, aku merindukan kalian… Terutama kau Sehunnie.' Batin Kyungsoo sambil mengusap layar ponselnya.

..

TBC