Flawlessaliens present:
"The Idol and His Secret Admirer"
Oh Sehun x Lu Han with other pairs
.
.
.
Hanya cerita tentang si Pangeran Es, Oh SeHun dan Penggemar rahasiannya Lu Han.
.
-Sehun POV-
"APA!? KALIAN GILA!" aku menjerit dengan suara lantang layaknya seorang gadis remaja yang terkejut mendengar kabar gebetan-nya ternyata sudah punya pacar. Sontak saja seisi kelas menatap aneh ke arahku, namun tak aku hiraukan.
"Santai, Sehun-ah. Bukankah itu hal yang mudah? Kau bisa menggait wanita manapun kalau kau mau kan?", Chanyeol berujar dengan nada kelewat entengnya yang aku hadiahi jitakan keras di kepalanya.
"Aish sakit, Hun-ah! Apa salahku!?", Chanyeol berucap dengan bibir dimaju – majukan layaknya anak gadis yang sedang merajuk jelas saja itu membuatku kembali menjitaknya.
"Aish, yak! Berhenti menjitak kepalaku! Dan kalian bertiga berhenti tertawa!", ucapan Chanyeol sontak menghentikan tawa Hoseok, Taehyung, dan Yifan.
Aku hanya bisa menghela nafas melihat tingkah ke-empat sahabatku yang aneh bin ajaib itu.
"Jadi bagaimana, Hun? Kau mau tidak?", tanya Yifan padaku yang diikuti pandangan antusias ketiga orang lainnya.
Sial. Sial. Sial. Apa – apaan mereka itu.
"Ya Sehun! Kenapa diam saja! Kalau kau tidak mau kau harus membelikan kami masing – masing 1 buah mobil Ferrari keluaran terbaru!" kali ini si Taehyung yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka suara—saking tak sabarnya mungkin.
Oh ya apa katanya tadi? Membelikan mereka masing – masing 1 buah mobil Ferrari? Hell. Aku bisa dicincang ayah kalau ketahuan membeli mobil mahal sebanyak itu. ck.
"Tapi kenapa harus Luhan..?", aku berucap putus asa. Well kalian pasti bingung sebenarnya apa yang sedang kami bicarakan, right? Jadi begini aku diajak bermain dare or dare oleh ke-empat orang idiot ini. Awalnya aku pikir dare yang mereka berikan tidak akan sulit, jadi kuputuskan untuk ikut saja.
Tapi ternyata, ke-empat anak setan ini sudah merencanakannya dari awal. Mereka malah menyuruhku untuk 'mengencani' Luhan saat tau tadi pagi aku tiba bersamanya. Sial.
"Memangnya kenapa? Bukankah dia sama saja dengan gadis lainnya? Gadis yang mudah diajak pacaran kemudian mudah dibuang."
BRAK!
Aku menggebrak meja dihadapanku saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Hoseok. Aku tidak tau kenapa, aku hanya refleks melakukannya saat mendengar kalimat Hoseok.
"Eitss… sepertinya ada yang marah. Apa kau menyukai gadis itu?", tanya Hoseok.
Aku hanya menatap mereka dengan pandangan tajam tanpa berniat menanggapi perkataannya.
"Sepertinya benar Sehun menyukai si adik kelas itu, guys. Bukankah tadi pagi dia tiba bersama Luhan? Dia bahkan tidak pernah mengijinkan kita untuk masuk ke mobilnya. Bukan begitu, Sehun-ah?"
"T-tidak. Aku tidak menyukainya! Aku hanya kasian padanya karena ia terlalu lama menunggu bus jadi ku ajak saja.", aku mengelak dengan nada gugup.
"Huh? Kau bahkan tidak menawariku tumpangan saat aku menunggu bus hingga larut malam! Sudahlah Sehun-a, kau tidak bisa membohongi kami. Mungkin kau memang 'belum' menyukainya, tapi—kau tertarik padanya kan?"
Apa!? Apa katanya!? Tertarik pada gadis itu!? Aku bahkan bisa mendapatkan yang lebih cantik dan lebih baik darinya.
"Tidak."
"Kalau begitu terima tantangan kami, toh kau tidak menyukainya jadi kau tak perlu khawatir akan melukai perasaan gadis itu.", ucap si Park –idiot—Chanyeol dengan smirk menyebalkannya. Ck baiklah Oh Sehun, kau hanya perlu mengencani gadis itu selama beberapa minggu kemudian memutuskannya.
"Baik aku terima tantangan kalian."
.
.
.
Luhan menepuk keras bahu sahabat sekaligus teman sebangkunya , menghasilkan ringisan kesakitan dari gadis bermarga Park itu.
"Ya! Apa - apaansi Lu!'' desis Hyejin sepelan mungkin agar tidak terdengar Guru Kimia yang sedang mengajar di depan sana. Sementara sang pelaku 'penepukan' hanya bisa menyengir ria.
"Habis kau asik sekali memperhatikan si Jongin itu sih.", balas Luhan tak kalah pelan.
Pipi Hyejin menampilkan semburat merah saat mendengar ucapan Luhan namun ia masih berusaha mengelak, "S-siapa yang memperhatikannya! Aku tak memperhatikannya!"
Luhan terkikik mendengar penuturan sahabatnya, padahal sudah jelas dari tadi ia memperhatikan lapangan dimana anak kelas X-A ((kelas Jongin)) sedang melangsungkan pelajaran olahraga.
"Ya, tak usah mengelak, aku dengan jelas melihat kalau kau memperhatikan anak itu kekeke~"
Hyejin menghela nafas dan hendak menimpali perkataan Luhan kalau saja suara Jung-saem tidak menginterupsi mereka.
"Ya Park Hyejin, Lu Han! apa yang kalian bicarakan ?"
Luhan langsung memfokuskan pandangannya ke papan dan menggeleng singkat sebagai jawaban, begitupula Hyejin.
"Fokus dengan pelajaran atau nilai kalian akan ku kosongkan di rapot."
"B-baik ssaem."
.
.
.
KRINGGG
Bel istirahat telah dibunyikan disambut helaan nafas lega dan senyum sumringah dari semua siswa di kelas Luhan, karena itu artinya jam pelajaran Kimia di hari ini telah selesai.
"HUWAAA Akhirnya . . .", jerit Luhan sambil merentangkan tangannya ketika guru Kimia yang menyebalkan itu keluar dari ruangan. Hyejin yang melihat tingkah laku temannya hanya menggeleng sambil memasukan buku – bukunya ke dalam tas.
"Hey ayo ke kantin!", ajak Hyejin pada Luhan.
"YEY KANTIN!", teriak Luhan kegirangan sambil refleks menarik tangan Hyejin.
"YA LU HAN! PELAN – PELAN!"
.
.
.
Luhan dan Hyejin memasuki area kantin. Terlihat para siswa – siswi lainnya telah memenuhi kursi dan meja yang tersedia disana ada juga yang masih mengantri untuk memesan makanannya. Luhan dan Hyejin melihat kesekeliling kantin –berusaha mencari tempat kosong. Namun sayangnya tak ada lagi kursi yang kosong kecuali—yang berada ditempat Oh Sehun dan teman – temannya dan satu lagi berada di tempat Kim Jongin.
Baru saja mereka akan pergi namun sebuah suara yang menyebut nama luhan menghentikan langkah mereka.
Luhan dan Hyejin membalikan langkah mereka dan betapa terkejutnya mereka melehat seorang Oh Sehun kini tengah melambaikan tangannya ke arah mereka dan mengisyaratkan mereka untuk bergabung bersamanya.
Hyejin dan Luhan saling bertatapan sebentar, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk mendekati Sehun dan teman – temannya.
"Sunbae memanggil ku?", tanya Luhan ketika ia sudah sampai dihadapan Sehun. Sehun mengangguk sekilas.
"Ya, ku lihat kau kebingungan mencari tempat duduk dan karena masih ada satu kursi tersisa disini jadi kau bisa duduk bersama kami." Ucap Sehun.
"Tapi sunbae—bagaimana dengan Hyejin?"
Sehun melirik Hyejin sekilas,"Dia bisa duduk dengan Kim Jongin." Ucap Sehun yang sukses membuat tubuh Hyejin membeku seketika.
"Hey Jongin-ah!"
"Ya, Sunbae?"
"Kau—tidak keberatankan jika gadis ini duduk denganmu?"
.
.
.
.
.
TBC
Hua! Apa ini T_T saya tau ini mengecewakan. Maaf banget. Tapi saya bener – bener ga ada ide sama sekali + saya lagi masa males – malesnya karena tugas yang numpuk. Saya ga menyangka masa SMA akan semelelahkan ini ;;
Big Thanks buat yang udah review di chapter sebelumnya. Saya usahakan kalo chapter ini banyak yang ngekomen (ngarep banget) chapter depan akan saya kerjakan dengan cepat.
Sekali lagi maaf karena updatenya telat –banget—and makin kesini makin garing kriuk kriuk gitu.
Ok last words,
Thanks and See ya!
