Naruto mengusap pelan pipinya yang saat ini berubah warna menjadi biru gelap. Dia tidak habis pikir, Hinata yang selama ini dikiranya sebagai gadis yang lemah lembut bisa berubah menjadi gadis bertenaga monster hanya dalam hitungan detik. Untung saja saat itu dia masih sempat lari dan bersembunyi di salah satu punggung pelayan toko sampai emosi Hinata mereda, kalau tidak, bisa dipastikan Naruto tidak akan bisa berdiri tegak saat ini.
Dengan takut, dia melirik ke arah Hinata yang berjalan di depannya. Bahkan Naruto sengaja menjaga jaraknya dari Hinata, bisa dibilang dia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu.
"Naruto-kun?" panggil Hinata pelan. Gadis cantik itu menatap bingung pada Naruto yang berada jauh di belakangnya. "Ada apa?"
"T-tidak. Tidak apa-apa Hinata-chan." Naruto segera mengibas-kibaskan tangannya dengan cepat sambil memasang senyum yang sangat kentara dipaksakan. Dia tidak mau lagi mencari gara-gara yang membuat Nasibnya bertambah sial.
"Tidak biasanya kau menjaga jarak dariku. Apa Naruto-kun marah padaku?" Hinata memasang wajah sedih. Ia tahu kalau apa yang dilakukannya tempo hari mungkin agak terlalu berlebihan. Tapi sepertinya waktu itu dia terlalu kalut untuk berpikir tenang. Hinata hanya ingin memukul Naruto untuk melampiaskan segala kekesalannya.
"Tentu saja tidak," jawab Naruto cepat. "Ini bahkan tidak sakit sama sekali," ucapnya sambil menunjuk pipinya yang lebam. Mungkin dia bisa berkata seperti itu pada Hinata saat ini, tapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat pertama kali dia pulang dengan wajab penuh luka beberapa hari yang lalu. Pemuda berambut spike itu bahkan sempat merengek kepada sang Okaa-san tentang betapa sakitnya wajahnya.
"Kalau begitu, kemarilah Naruto-kun." Hinata melambaikan tanganya sebagai insyarat menyuruh Naruto untuk mendekat padanya. "Lebih dekat denganku," pintanya.
Dengan ragu, Naruto berjalan mendekat. Dia bahkan sempat menghindar karena takut saat Hinata berniat memegang tangannya.
"Kau benar-benar aneh, Naruto-kun."
"Dan menurutmu, siapa yang membuatku ketakutan, Hinata-chan?" tanya Naruto dalam hati. Ingin sekali dia mengungkapkan itu secara langsung, tapi Naruto mengurungkan niatnya karena sepertinya bayangan horor tentang bagaimana Tragedi-Amukan-Hinata terjadi masih melekat di ingatannya.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Wedding Preparation
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Humor
Rated: T
Warning: Garing, absurd, OOC, AU, gajeness, typo(s), abal, DLL.
.
.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko. Laki-laki berusia dua puluhan itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Naruto dan Hinata.
"Kami ingin mencoba sampel makanan. Ah atas nama Namikaze," jawab Hinata ramah. Beruntung calon ibu mertuanya sudah mau berbaik hati untuk memesankannya terlebih dahulu, jadi dia dan Naruto saat ini hanya perlu mencoba semua menu yang di tawarkan untuk menentukan pilihan
Sang pelayan itu mengangguk pelan kemudian segera membawa mereka ke ruangan khusus yang sudah disediakan sebelumnya.
Di sana berbagai menu sudah tertata dengan rapi, bahkan ketika Naruto masih berada di depan pintu, bau dari makanan-makanan itu sudah tercium olehnya. Ah, kalau sudah seperti ini Naruto sudah tidak sabar untuk mencicipinya satu per satu.
"Silahkan Tuan dan Nyonya untuk mencobanya. Anda tidak perlu merasa sungkan," kata sang pelayan mempersilakan.
Tanpa babibu Naruto langsung menerobos masuk. Matanya berkeliling menjelajahi semua makanan yang ada. "Ah, baiklah kalau kau berkata seperti itu. Aku tidak akan sungkan lagi untuk menyantapnya. Itadakimasu!" ucap Naruto bersemangat. Tanpa perlu ancang-ancang terlebih dahulu, anak dari Namikaze Minato itu dengan lahap menyantap semua makanan yang ada.
"Oishii... Ini juga enak sekali," gumamnya dengan mulut penuh dengan makanan. Baru terhitung dua menit, dan naruto sudah hampir mencicipi separuh makanan yang ada.
Hinata hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bisakah kau berhenti sekarang, Naruto-kun?!" tanyanya ketika melihat wajah sang pelayan yang dalam mode sweaty face. Hinata benar-benar menyesal telah mengajak Naruto. Kalau dia tahu akan menanggung malu seperti ini, lebih baik dari awal dia mengajak Kushina Okaa-san saja.
"Tunggu sebentar Hinata-chan. Aku belum selesai menghabiskan semuanya." Walaupun pemuda pirang itu masih sempat menjawab ucapan Hinata, tapi dia tidak bisa mengalihkan matanya dari makanan-makanan lezat di depannya. "Selain ini gratis, ini juga sangat enak lho," ucapnya tak tahu malu.
Hinata semakin bertambah tidak enak ketika melihat senyum sang pelayan yang sangat terlihat dipaksakan. "Tidak apa-apa Nyonya. Nyonya tidak perlu khawatir."
Hinata membalas senyum pelayan dengan enggan. "Naruto-kun, hentikan sekarang!" perintahnya sekali lagi. Bahkan kali ini nada yang digunakan Hinata tidak selembut sebelumnya.
"Lima menit lagi, dan aku akan selesai menghabiskan semuanya." Bahkan saking asiknya Naruto menyantap makanannya, dia sama sekali tidak merasakan aura hitam Hinata yang kembali menguar seperti beberapa hari yang lalu, bahkan si pelayan yang sempat merasakannya memilih menjauh dan memberi jarak lebih antara posisinya dan Hinata.
Dan karena kesabarannya yang sudah habis, Hinata langsung berjalan ke arah Naruto dan menarik kerah bagian belakangnya dengan cepat, supaya si pemuda-tak-tahu-malu itu menyingir dari meja makan.
"L-le-pas Hina-chan... Ter-s-sedak! Ti-tidak b-bisa bernafas!" racau Naruto tak jelas. Namikaze muda itu menggerak-gerakkan tubuhnya dengan brutal agar terlepas dari cengkraman Hinata. Dan setelah upayanya berhasil, dia segera meraih minuman di dekatnya. "Apa kau berusaha membunuhku? Tadi aku sama sekali tidak bisa bernafas," omelnya marah. Tapi ketika Naruto sudah sadar bahwa Hinata saat ini telah berubah menjadi monster mode, pemuda berkulit tan itu hanya bisa menengguk ludahnya dengan susah payah.
"Dan sayang sekali upaya untuk membunuhmu, selalu gagal dilakukan," bisik Hinata tajam. Sedangkan sosok yang diberitahunnya seakan membeku di tempat.
"Aku benar-benar minta maaf atas semua kekacauannya. Dia memang selalu seperti itu apabila melihat banyak makanan. Akalnya tiba-tiba menghilang entah kemana," jelas Hinata pada sang pelayan.
"Ah, lagi-lagi dia secara tidak langsung mengataiku gila," tangis Naruto dalam hati. Entah kenapa beberapa hari ini Hinata seolah membuat dia merasa nista-senista-nistanya. "G-gomenasai," ucap Naruto yang merasa tidak enak sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"T-tidak masalah." Si pelayan menjawab dengan kaku. "Ano, jadi menu apa yang Tuan pilih sebagai hidangan?"
"Eto... Sebenarnya tidak ada yang bisa ku pilih." Bahkan setelah dia menghabiskan hampir semua makanan dengan brutalnya, Naruto yang dasarnya baka tidak sedikitpun merasa malu mengucapkan hal itu. "Em... Maksudku tidak ada ramen paman Teuchi di menu makanan kalian, padahal aku ingin sekali ada makanan itu di acara pernikahan kami. Kau seharusnya memasukannya di daftar menumu. Dan kau tau ramen itu..." Sebelum Naruto semakin meneruskan ocehannya tentang bagaimaimana rasa ramen kesukaannya, bahkan cerita tentang riwayat pertama kali dia bisa merasakan makanan kegemarannya itu, Hinata dengan cepat menginjak kaki Naruto dengan penggunakan sepatu heelsnya.
"ITAI, HINATA-CHAN!" pekiknya keras. Naruto terus mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya.
Sedangkan Hinata yang sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya, memilih mengabaikan racauan Naruto. "Maafkan kami sekali lagi. Seperti yang sudah ku bilang sebelumnya kalau akalnya sering kali menghilang. Bahkan dia terkadang tidak punya akal." Hinata tersenyum kepada si pelayan dengan terpaksa, antara menanggung malu dan kesal. "Soal menu makanan, tidak perlu khawatir saya sudah putuskan untuk menggambil beberapa." Gadis berambut panjang itu terus berbincang dengan si pelayan, bahkan Hinata sengaja mengajak si pelayan ke luar dari ruangan tanpa sedikitpun mengecek keadaan sang tunangan yang masih terus merengek tidak jelas.
"Itai... Itai... Itai.. Okaa-chan, Itai!"
.
.
.
~To be Continue~
.
.
.
Maaf karena kemarin gak sempat upadate, karena saya revisi dulu isi cerita yang menurut saya kurang greget. Tapi besok bakalan update kok, dan pas tanggal 27 udah complete.
Dan ternyata update tiap hari itu susah, mestinya saya pos jauh-jauh biar gak ribet kayak gini...
Special thanks to:
2nd silent reader, kayyashima, anna-fitry, Hyuugazan, Guest, Vampire Uchiha, DiRa-cchi 7ack, kripik-tikus, napas, rikarika, enischan, dylanNHL, sofia-siquelle, Ares, hanazonorin444, durarawr, qoha-uzumakey, marukocan, anonymous, utsukushi hana-chan.
.
.
.
REVIEW PLEASE
