"Wah... Kirei!" seru Hinata ketika memasuki toko bunga dan dekorasi. Di dalam toko yang cukup besar itu terdapat berbagai macam aneka bunga. Dan sebagai penyuka bunga, Hinata terlihat sangat antusias sekali, amethysnya menjelajahi seluruh sudut toko dengan pandangan berbinar.
Sedangkan Naruto hanya berdehem pelan. Melihat Hinata yang dalam moe mode saat ini mau tak mau membuat wajahnya merona. Walaupun dia sempat beberapa kali melihat sisi lain dari Hinata yang amat menakutkan, tapi pemuda berusia dua puluhan itu tetap tidak bisa menahan dirinya apabila sudah melihat pose wajah Hinata yang menggemaskan seperti ini. "E-hem, Hinata-chan." Bahkan Naruto merasa gugup hanya untuk memanggil sang kekasih.
"Ah, pertama-tama aku harus ke sana terlebih dahulu." Dan naas sekali karena sepertinya Naruto lagi-lagi diabaikan oleh Hinata. "Tidak, di sana lebih bagus. Ah bagaimana ini semuanya tampak bagus," gumam Hinata bersemangat, tanpa memperdulikan sosok di sampingnya yang tiba-tiba memberengut kesal. Bahkan gadis itu langsung berjalan meninggalkan Naruto sendirian.
"Hei, tunggu Hinata-chan!" teriak Naruto kencang. Tapi sekencang apapun dia berteriak, terasa percuma karena Hinata sama sekali tidak memperdulikannya. "Ah, selalu seperti ini," gumamnya putus asa. Naruto tahu kalau Hinata saat ini dikuasai oleh naluri kewanitaannya, tapi seharusnya gadis Hyuuga itu tidak meninggalkannya sendirian pada saat kondisinya yang seperti ini.
Dengan langkah terseok-seok dan dengan wajah yang biru lebam, Naruto berjalan pelan untuk menyusul Hinata. Beberapa kali dia menghela nafas panjang. Sebenarnya Naruto bisa saja tidak menemani Hinata hari ini, tapi gadis berambut indigo itu mengancam akan mengajak Kiba kalau Naruto tidak mau menemaninya. Dan sebagai pacar yang posesif tentu saja Naruto tidak akan tinggal diam mengetahui Hinata berdekat-dekatan dengan pria lain.
"Ano, Tuan, anda baik-baik saja?" Salah salah satu pelayan mendekatinya. Perempuan muda itu menatap Naruto dengan pandangan khawatir. Melihat keadaan Naruto yang cukup mengenaskan membuatnya merasa iba.
"Daijoubu," jawab Naruto seraya tersenyum malu. Ah, bahkan gadis itu lebih perhatian kepadanya daripada Hinata.
Tapi Naruto sama sekali tidak tahu kalau senyumannya berefek besar pada sang gadis pelayan. Walaupun tingkah laku Naruto bisa dinilai minus, tapi dari segi wajah dan penampilan dia mendapatkan nilai plus, bahkan hanya dengan melihatnya senyumannya saja Si pelayan bisa tersipu malu. "Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan Tuan seperti ini?" Mungkin terdengar sangat basa-basi tapi si pelayan hanya ingin mengajak Naruto berbincang lebih lama.
"Eto..."
"Apa karena Tuan menangkap sekawanan penjahat?" simpul sang pelayan.
"Tepat sekali!" timpal Naruto cepat. "Yah, padahal aku hanya berniat menolong seseorang, tapi penjahat-penjahat sialan itu memukuliku," aku Naruto sambil memasang wajah sok-pahlawannya. Dia bahkan merasa bangga bisa menceritakan cerita khayalannya yang baru dibuatnya beberapa detik lalu.
"Sugoi! Tuan benar-benar baik," puji sang pelayan dengan mata berbinar, dan membuat Naruto makin besar kepala.
"Ah, kau benar, seperti itulah aku. Aku benar-benar orang baik bukan?" Dan si kepala duren itu semakin menyombongkan dirinya. Naruto tertawa senang mengetahui dia dapat terlihat (sok) keren di depan orang lain. Seharusnya bukan hanya si pelayan saja yang tahu kalau dirinya sebenarnya adalah pemuda yang keren, Hinata seharusnya juga harus tahu betapa kerennya dia.
"Dan sekarang penjahat sialan itu ada di belakangmu, Tuan!"
"Heh, benarkah?" Dengan refleks Naruto langsung berbalik. Pemuda dengan tiga garis di wajahnya itu merinding ketika melihat tatapan tajam Hinata yang langsung mengarah kepadanya.
"Eh Hinata-chan sejak kapan di sini?" tanya Naruto terkejut. "E-eto, soal yang tadi aku hanya bercanda. Hinata-chan tahu kan kalau aku ini humoris, suka sekali bercanda. Bahkan pelayan itu sampai tertawa kencang. Ya kan?"
Naruto menoleh ke belakang, mencoba mencari bantuan kepada si pelayan. Tapi setelah di carinya, pelayan itu tidak ada di tempat terakhir dia melihatnya. "Hee, sejak kapan dia pergi?" tanyanya kebingungan, kalau sudah begini dia akan sendirian menghadapi kemungkinan amukan Hinata yang akan segera terjadi.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Wedding Preparation
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Humor
Rated: T
Warning: Garing, absurd, OOC, AU, gajeness, typo(s), abal, DLL
.
.
Hinata berkali-kali menarik nafas panjang. Gadis berkulit putih itu mencoba meredakan emosinya yang hampir saja keluar. Hanya dalam beberapa menit saja Naruto sudah kembali berulah, padahal mereka baru saja memulainya.
Sebenarnya Hinata sudah berjanji pada dirinya sendiri agar untuk hari ini dan seterusnya dia harus lebih sabar dalam menghadapi Naruto. Dia tidak mau menggunakan cara kekerasan lagi untuk menjinakkan bocah pirang tersebut. Hinata tahu dua luka Naruto yang disebabkan olehnya belum sembuh benar, dan apabila dia menggunakan kekerasan lagi untuk mengatasi calon suaminya itu hanya akan memperburuk keadaan.
Kakak dari Hanabi itu tahu kalau sekeras apapun cara yang dilakukannya pada Naruto tidak bisa membuat bocah pirang itu marah padanya, Hinata hanya takut akan kondisi Naruto. Dia takut kalau Naruto tiba-tiba jatuh sakit pada saat hari pernikahannya karena ulahnya.
"Apa Hinata-chan marah padaku?" tanya Naruto takut. "Aku benar-benar minta maaf. Gomenasai Hinata-chan." Naruto terus menerus membungkuk minta maaf. Dari pada Hinata terus mendiamkannya seperti ini, Naruto lebih memilih Hinata memakinya dan meluapkan segala kemarahannya.
"Hentikan itu. Aku tidak marah padamu," ucap Hinata malas. Kalau dia tidak berbicara seperti itu, bisa dipastikan kalau kekasihnya itu akan membungkuk berulang-ulang sambil menggucapkan kata maaf selama berjam-jam.
"Ah, arigatou, aku sangat lega mendengarnya," kata Naruto sambil tersenyum senang. "Hinata-chan memang sangat baik."
Mereka berdua berjalan menuju ruang manager dipandu oleh seorang pegawai. "Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sambut sang manager sopan. Setelah itu Hinata dan Naruto langsung disunguhkan sampel-sampel yang mereka miliki. "Soal dekorasi, Tuan dan Nyonya ingin yang seperti apa?"
"Yang sederhana dan tidak terlalu mewah. Iyakan Hinata-chan?" tanya Naruto kepada Hinata. Dia mengingat kejadian di toko perhiasan ketika Hinata menolak dibelikan cincin yang harganya mahal. Dan Hinata menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala, Naruto tersenyum bangga atas dirinya sendiri, setidaknya kali ini dia tidak melakukan kesalahan.
"Warna apa yang anda inginkan?"
"Hitam/putih," jawab Naruto dan Hinata hampir bersamaan.
Hinata langsung menoleh ke arah Naruto dan menatapnya bingung. "Hitam?" tanyanya tidak percaya. "Kau mau melakukan upacara pernikahan atau pemakaman, Naruto-kun?" ucapnya sedikit kesal.
"Tentu saja pernikahan. Apa Hinata-chan lupa?" Dan bahkan Naruto sama sekali tidak menyadari kalau Hinata tengah menyindirnya.
"Lalu kenapa harus memakai warna Hitam. Kau mau para tamu undangan merasakan aura mistis ketika berada di pernikahan kita?"
"Eeh, tentu saja tidak," sangkal Naruto cepat. "Aku pernah menghadiri resepsi pernikahan yang dekorasinya serba hitam. Dan itu sama sekali tidak buruk bahkan keren malahan," jelasnya.
Hinata mengernyit, sedikit ragu akan ucapan Naruto. "Benarkah? Memangnya di pernikahan siapa?"
"Kau ingat temanku yang bernama Pain. Waktu itu aku sempat mengajakmu ke pernikahannya, tapi kau tidak bisa datang. Dan di pesta Pain benar-benar menakjubkan, Hinata-chan," jelasnya panjang lebar. "Dekorasi di sana penuh dengan nuansa hitam, bahkan banyak tamu yang menangis bahagia, em... mungkin juga takjub."
"Benarkah?" tanya Hinata sekali lagi. Semakin banyak dia mendengar penjelasan Naruto, dia makin ragu akan kebenaran cerita Naruto.
"Ya, selain itu banyak sekali bunga melati. Dan pesta itu juga bertema cosplay. Bahkan Pain berdandan seperti kakek-kakek."
"Hee? Kau tidak bercanda?"
"Tentu tidak. Seharusnya kau datang bersamaku, Hinata-chan. Aku yakin kau akan melihat pesta pernikahan yang sangat berbeda dari semua pesta pernikahan yang pernah kau datangi."
Saking asyiknya berbincang, sepertinya kedua pasangan itu melupakan seseorang yang sedari tadi mengamati mereka dengan diam. "Ano Tuan, Nyonya, jadi bagaimana dengan dekorasi pernikahan kalian?" Dan seperti angin lalu, baik Naruto maupun Hinata dengan sangat kompak mengabaikan sang manajer yang hanya bisa menghela nafas panjang.
.
.
.
"Apa benar ini rumahnya ya?" gumam Naruto sambil mengaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
Hari ini dia harus menghadiri pesta pernikahan Pain, salah satu teman lamanya. Sebenarnya dia dan Pain sudah lama sekali tidak bertemu. Terakhir kali mereka bertemu saat Naruto masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan setelah lulus, Pain dan keluarganya memutuskan untuk pindah, maka dari itu Naruto saat ini tengah kebingungan karena ini pertama kalinya dia berkunjung ke rumah Pain yang baru. Kalau bukan karena mereka yang masih sering berhubungan via telephone dia akan tidak mau datang, toh Hinata tidak bisa menemaninya, dan teman-temannya yang sekarang seperti Sasuke, Sai dan lainnya tidak ada yang bisa dia ajak karena mereka semua tidak mengenal Pain.
"Yah pasti ini rumahnya. Selain rumah ini, tidak ada rumah lain yang berisi banyak orang." Walaupun Naruto merasa ragu, tapi tidak ada pilihan lain untuk tidak masuk ke dalam. Toh sepertinya hanya rumah ini saja yang menggelar suatu acara. "Permisi, dimana saya bisa bertemu si pemilik rumah?" tanya Naruto pada salah seorang tamu.
Pria paruh baya itu memberi tahu kalau si pemilik rumah dan istrinya berada di ruang tengah. Dan setelah Naruto berterima kasih, pemuda berkulit tan itu langsung masuk ke dalam. Dia hanya ingin bertemu dengan Pain dan setelah itu langsung pulang, karena tidak ada satu tamu undanganpun yang dikenalnya.
Di dalam rumah, sebenarnya Naruto merasa ada yang janggal, tapi dia mencoba mengabaikannya. Matanya menjelajah mengamati seluruh sudut ruangan yang bernuansa gelap. "Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya," ucapnya pelan. Bau melati tercium sangat menyengat dan para tamu berpakaian seba hitam. "Pain tidak pernah memberitahuku kalau dress codenya harus hitam." Naruto mengamati kemeja merah yang dikenakannya sangat kontras dengan para tamu undangan yang lainnya.
Tapi pikiran-pikiran anehnya langsung hilang ketika menemukan dua orang yang mengenakan baju pengantin. "Yo Pain," sapa Naruto. Pemuda Namikaze itu mengernyit heran ketika mendapati orang yang diajaknya bicara berpenampilan seperti kakek-kakek.
"Waw, bahkan kau cosplay dia acara pernikahanmu. Aku tahu kalau kau dari dulu gila, tapi aku tidak menyangka kau segila ini. Dan lihat bahkan kau dan istrimu sampai masuk ke peti segala. Benar-benar cosplay orang mati yang mengagumkan," decak Naruto kagum. Dia tidak menyangka kalau Pain lebih gila dari yang dapat dia bayangkan.
"Oh, tapi apa perlu kau sampai berakting seperti orang mati? Kalau aku sih akan memakluminya, tapi itu sangat tidak sopan untuk para tamu yang lain," nasehat Naruto pelan. Naruto mengedarkan pandangannya kepada para tamu yang datang. Ada yang berbincang, dan sedikit dari ada yang mereka menangis.
"Apa bibi yang di sana itu mertuamu?" Naruto mendekatkan tubuhnya pada Pain yang sedari tadi menutup matanya dan berbisik pelan. "Bibi itu sepertinya sangat menyesal karena menikahkan anaknya denganmu. Lihat saja sedari tadi dia terus menangis," canda Naruto sembari tertawa pelan.
"..."
"Kau benar-benar sangat mendalami peranmu ya?" Lama-lama Naruto merasa kesal juga karena terus-menerus didiamkan oleh Pain. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa terlalu lama di sini. Yah, kau tahu kalau aku ini orang sibuk. Ja nee Pain."
"Ah ya, selamat atas pernikahanmu. Kalian benar-benar pasangan yang serasi," ucap Naruto sebelum benar-benar pergi.
Dan sampai sekarangpun Namikaze baka itu tidak pernah menyadari kalau rumah yang dimasukinya itu bukan rumah Pein. Rumah yang dimasukinya adalah rumah sepasang suami istri lanjut usia yang meninggal karena kecelakaan.
Bahkan Naruto juga tidak tahu kalau selepas kepergiaanya dari rumah itu para tamu undangan sibuk membicarakan dirinya.
"Kau tahu itu siapa?" tanya seorang tamu undangan kepada orang di sampingnya.
"Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Mungkin dia cucu dari almarhum, lihat saja sepertinya dia menjadi gila karena kepergian kakek dan neneknya."
"Ah, malang sekali, padahal dia pemuda yang sangat tampan"
.
.
~To be Continue~
.
.
Thanks to:
DiRa-cchi 7ack, Danar Naruhina, Amu B, Lynhart Lanscard, Chess Sakura, Kk, mintje.
.
.
.
REVIEW PLEASE
