"Yosh, persiapan terakhir!" ucap Naruto bersemangat. Tinggal mempersiapkan baju untuk pernikahan mereka dan semua list yang dibuatnya dan Hinata sudah terlaksana semua. Naruto tidak sabar ingin mengahirinya. Disamping hari H acara pernikahan mereka sudah tinggal menghitung hari, dirinya juga sudah tidak sabar untuk kembali bersantai di rumah setelah menyelesaikan semua kerepotan bahkan segala amukan yang diterimanya dari Hinata selama proses persiapan pernikahan mereka. "Ayo masuk, Hinata-chan. Aku tidak sabar melihatmu mencoba baju pengantin yang akan kau gunakan nanti. Pasti akan sangat cantik."
Sebelum Hinata berhasil menjawabnya, Naruto langsung menarik tangannya untuk memasuki butik milik Yamanaka Ino, salah salah satu dari sekian banyak teman mereka. Hinata hanya bisa tersenyum maklum menyaksikan begitu semangatnya Naruto hari ini. Ya, tinggal hanya perlu satu persiapan terakhir dan semua tekanan akan kesabarannya yang terus saja diuji dalam menghadapi Naruto selama persiapan pernikahan mereka akan berakhir.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Wedding Preparation
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Maybe Only Romance for This Chapter
Rated: T
Warning: Garing, absurd, OOC, AU, gajeness, typo(s), abal, DLL.
.
.
"Akhirnya kalian datang juga," keluh Ino lega, pasalnya dua orang temannya ini memasukkan Mencari-Baju-Pengantin di daftar list terakhir mereka. Ya walaupun mereka percaya sepenuhnya kepadanya untuk mengurus urusan baju pengatin, tapi Ino juga merasa kerepotan kalau dituntut untuk membuat baju pengantin dalam jangka waktu sesingkat ini. "Kalian seharusnya, kemari lebih awal! Aku tidak berjanji akan tepat waktu menyelesaikan baju kalian dalam waktu seminim ini," omelnya kesal.
"Gomen Ino-chan, kami benar-benar sibuk mengurus semua persiapan," jawab Hinata merasa bersalah.
"Tapi kami percaya kalau kau akan berjuang menyelesaikan baju pernikahan kami dengan tepat waktu. Jadi ganbatte!" sahut Naruto kemudian.
Ino berdecak kesal. "Dasar kau ini. Aku tidak habis pikir kenapa Hinata mau menikah denganmu." Sebenarnya Ino merasa benar-benar kesal. Apa mereka pikir dia adalah ibu peri yang bisa dengan cepat membuat sepasang pakaian hanya dalam satu malam. "Terserah apa katamu. Sekarang kita mulai dari Hinata dulu. Kau mau memakai kimono atau gaun di acara pernikahan nanti?" tanyanya kepada Hinata dengan semangat, kekesalan Ino tiba-tiba menghilang menggingat dia sebentar lagi akan mendandani Hinata. Gadis Yamanaka itu selalu merasa senang apabila dia bisa bereksperimen dengan menggunakan manekin hidup seperti Hinata. Di samping Hinata memiliki wajah yang cantik, postur tubuh Hinata bahkan lebih bagus dari pada beberapa teman model yang dikenalnya.
"Tentu saja memakai Kimono, Ino-chan," jawab Hinata tanpa ragu.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku mempunyai banyak desain gaun pernikahan yang cantik," ucap Ino sedikit merasa kecewa.
"Ya, kau tahu kalau..."
"Hinata-chan akan memakai gaun di acara pernikahan kami!" Dan sebelum Hinata selesai mengutarakan alasannya, Naruto memotongnya dengan cepat dan tegas.
"Hm? Apa maksud Naruto-kun? Tentu saja aku harus memakai kimono," bantah Hinata sambil menatap Naruto dengan pandangan tidak suka.
"Tidak. Hinata-chan harus memakai gaun! Aku hanya ingin kau memakai gaun." Naruto masih tetap teguh pada pendiriannya tanpa sedikitpun terlihat mau mengalah.
"Tapi maaf, aku tidak bisa. Aku sudah membicarakan ini kepada Kushina Okaa-san dan beliau setuju kalau aku memakai kimono."
"Dan bagaimana kalau aku yang tidak setuju?" Naruto mulai merasa kesal. Kenapa Hinata keras kepala sekali tidak mau menuruti permintaanya? Padahal dirinya juga tidak meminta sesuatu yang sulit ataupun aneh. Hanya masalah pakaian saja kenapa harus serumit ini?
"Oh ayolah, tidak perlu bertengkar hanya untuk masalah kecil seperti ini," lerai Ino. Lama-lama dia merasa gerah juga kalau harus melihat pertengkaran Hinata dan Naruto yang seperti anak kecil. "Menurutku ucapan Naruto juga ada benarnya. Aku sangat setuju apabila kau memakai gaun, Hinata. Kau akan tampak lebih cantik," bujuk Ino kepada teman baiknya itu.
"Tidak bisa Ino-chan. Kau tahu Otou-sanku seperti apa. Di dalam keluargaku selalu menganut tradisi yang ada. Dan Otou-san memintaku dan Naruto-kun memakai kimono di pesta pernikahan kita," keluh Hinata. Dia sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan baju yang akan dipakainya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan permintaan ayahnya begitu saja. Sebagai seorang yang telah lama kehilangan sosok ibu, Hinata hanya memiliki seorang ayah saja di hari pernikahannya nanti dan untuk itu dia tidak boleh mengecewakan ayahnya sedikitpun.
"Aku akan berbicara pada Hiashi Otou-san nanti," tawar Naruto kepada Hinata. "Jadi Ino tolong buatkan gaun yang cantik untuk Hinata-chan."
"Tidak bisa." Hinata berucap pelan. Dia merasa putus asa karena Naruto tidak juga paham akan keadaannya. "Tidak bisakah Naruto-kun mengerti?"
"Bagaimana denganmu? Kau sama sekali tidak mau mendengarkanku! Bukankah sudah ku bilang kalau aku akan berbicara dengan Otou-san. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat dia mengijinkan kau memakai gaun," kata Naruto dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kenapa Naruto-kun keras kepala sekali?" tanya Hinata tidak mengerti. Biasa pemuda itu akan menuruti apapun permintaanya, dan biasanya Naruto lebih sering memilih mengalah pada situasi seperti ini. Hinata tidak mengerti apa yang membuat Naruto sangat mempermasalahkan pakaian yang akan dipakainya.
"Dan kenapa kau egois sekali?!" ucap Naruto kesal. Tapi bukan kesal lagi kali ini dia juga merasa marah. "Aku selalu menuruti apa katamu selama ini. Dan sekarang tidak bisakah kau menyetujui satu permintaanku? Apa itu begitu sulit? Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri Hinata-chan." Dengan nada tinggi Naruto meluapkam segala emosinya. Untuk pertama kalinya dia bisa semarah ini kepada Hinata. Bahkan pemuda berambut pirang itu tidak menyadari saat Hinata tertegun mendengar ucapannya.
"Hei, berhenti berteriak seperti itu, kau akan membuat pelangganku kabur, Naruto," geram Ino marah. Gadis berambut pirang itu tidak habis pikir bisa-bisanya Naruto marah-marah di dalam butiknya.
Naruto hanya membuang muka, tanpa sedikitpun berniat untuk menjawab ucapan Ino. Naruto juga mencoba menstabilkan nafasnya yang terengah-engah akibat amarahnya.
Sedangkan di lain sisi, Hinata masih terdiam. Gadis berambut panjang itu tertunduk. Ini pertama kalinya dia melihat Naruto seperti itu. Untuk pertama kalinya Naruto membentak padanya. Hinata seakan tidak mengenal sosok Naruto di depannya.
Perlahan cairan-cairan bening keluar dari amethys indahnya. Hinata menangis dalam diam. Kali ini, giliran dia yang meluapkan emosinya. Hinata tidak bisa marah, memaki, atau memukul Naruto seperti apa yang dilakukannya beberapa hari ini. Dia hanya bisa menangis untuk menumpahkan segala emosinya. Gadis yang sebernarnya sudah sangat lelah akan semua persiapan yang dijalani beberapa hari ini, itu merasa sangat sedih sekarang.
Ino yang melihat tubuh Hinata yang bergetar segera menghampiri gadis itu. "Lihat apa yang lakukan Naruto. Kau membuat Hinata menangis," amuknya murka. Melihat temannya itu menangis karena ulah Naruto, lebih buruk dari melihat para pelanggannya pergi karena teriakan Naruto.
Mendengar ucapan Ino, mau tak mau menyadarkan Naruto akan perbuatannya yang dipikirnya memang terlalu berlebihan. Pemuda bermata shappire itu langsung menghampiri Hinata. Dan dia seketika merasa sangat bersalah melihat gadis yang sangat dicintainya menangis karena ulahnya. "Hinata-chan maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud berbicara seperti itu pada Hinata-chan," pinta Naruto menyesal. "Ku mohon jangan menangis seperti ini. Hinata-chan boleh memukulku, memakiku, atau apapun. Asal jangan menangis." Bahkan Naruto rela kalau akan di habisi secara bersamaan oleh Okaa-sannya dan Hiashi Otou-san asalkan dia tidak melihat Hinata menangis seperti ini.
"..." Hinata masih terus diam dengan kepala tertunduk.
"Hinata-chan? Hinata-chan kumohon berhenti menangis." Dengan menggunakan kedua tangannya, Naruto menangkup wajah Hinata pada kedua sisi pipinya. Dengan lembut dia menegakkan kepala Hinata, mencoba memaksa Hinata untuk menatap wajahnya. Tapi ketika Naruto melihat wajah Hinata yang sembab dan penuh dengan air mata, rasa bersalahnya makin kental terasa. "Maafkan aku," ucapnya dengan nada sedih.
"Apa aku ini egois?" tanya Hinata dengan suara parau. Untuk pertama kalinya gadis itu berbicara setelah sekian lama menutup mulutnya.
"Tidak, Hinata-chan baik sekali. Lupakan ucapanku tadi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku ucapkan tadi."
"Maaf kalau selama ini aku selalu bertindak semauku sendiri," ucap Hinata menyesal.
"Tidak perlu cemaskan hal itu. Aku benar-benar tidak mempermasalahkannya. Tapi soal baju pernikahan, maaf aku tetap tidak setuju kau memakai kimono."
Hinata mengela nafas panjang. Mungkin kali ini dialah yang mesti mengalah. Naruto sepertinya benar-benar menginginkan dia memakai gaun.
"Kau tahu kenapa aku begitu memaksamu untuk memakai gaun?" tanya Naruto.
Hinata hanya diam, karena dia tahu kalau Naruto akan segera melanjutkan kalimatnya.
"Di hari pernikahan kita nanti adalah hari yang sangat istimewa untukku. Hari yang sudah lama ku nantikan sejak dulu. Dan di hari sespesial itu aku tak mau rambut indahmu ini di sembunyikan," kata Naruto sambil mengusap rambut panjang Hinata.
"Aku tahu kalau baik memakai gaun ataupun kimono, Hinata-chan akan selalu tampak cantik, tapi di hari bersejarah itu aku ingin semua orang tahu betapa cantiknya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya. Dan kau tahu? Tidak akan adil kalau mereka tidak melihat kau dengan rambut indahmu yang terurai pada saat kau menjadi satu-satunya perempuan tercantik di hari itu," ucap Naruto lembut seraya tersenyum manis.
Hinata tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum bahagia setelah mendengar penuturan Naruto. Di balik sikap konyolnya selama ini, ini adalah satu dari begitu banyak sikap memakjubkan yang dimiliki Naruto dan hanya diperlihatkan kepadanya saja. Gadis cantik itu dengan cepat mencium pipi Naruto kemudian memeluk tubuh pemuda yang sangat dicintainya itu dengan erat. "Kau membuatku tidak bisa berkata apapun untuk menjawab ucapanmu, Naruto-kun," aku Hinata malu.
Naruto hanya tertawa pelan. "Kupikir Hinata-chan akan mencium tempat yang lebih menyenangkan daripada hanya sekedar pipi," candanya sambil membalas pelukan hangat Hinata.
"Kita harus menyimpan sesuatu yang spesial untuk hari pernikahan kita bukan?" Hinata hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona merah ketika menyadari Ino yang masih berada di sana sejak tadi.
"Ck! Kalian benar-benar menyebalkan! Kalau begini aku ingin sekali segera bertemu dengan Sai!" gerutu Ino kesal.
.
.
.
Naruto tidak pernah merasa segugup ini. Tangannya terasa dingin, wajahnya pucat pasi, bahkan tubunya terasa gemetar. Padahal dia sudah mempersiapkan hari ini dengan baik, tapi entah kenapa dia masih merasa segugup ini. "Huh, ayo tenanglah sedikit," gumamnya pada dirinya sendiri. Saat ini pemuda yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai suami dari Hinata itu tengah berdiri di depan altar menunggu kedatangan Hinata.
Sesaat jantungnya berhenti berdetak saat mendengar aba-aba dari Sakura kalau Hinata akan segera memasuki ruangan. Tanpa perintah dari otaknya, mata shappirenya langsung terfokus pada pintu gereja. Dia benar-benar tidak sabar menanti seorang yang akan muncul dari balik sana. Keringat dingin perlahan mengucur dari pelipisnya. Berkali-kali Naruto menarik dan menghembuskan nafasnya, mencoba menenangkan dirinya.
Dan ketika pintu itu terbuka. Naruto benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Hinata yang tengah berjalan menuju tempatnya. Naruto dapat merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Hinata benar-benar memukau dirinya saat ini. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun putih buatan Ino dan make up cantik karya dari Sakura. Naruto tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum bahagia. Dia sangat bersyukur kepada Kami-sama yang telah memberikan kado terindah dalam hidup.
Dan ketika Hinata sudah berada tepat di depannnya, dengan lembut Naruto mengenggam kedua tangan Hinata. Saat pandangan saling mereka bertemu, saat shappirenya menatap amethys indah sang gadis, Naruto merasa kalau dia mampu mengabaikan semua yang ada di sekitarnya hanya untuk bisa menatap lebih lama lagi sang pemilik amethys indah. Bahkan dia sama sekali tidak memperhatikan sumpah apa yang diucapkan sang pendeta. Entah sumpah apa yang dituntutkan kepadanya, Naruto sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, karena hal yang terpenting untuknya adalah hanya bisa terus berada di samping gadis di hadapannya ini selamanya.
Hatinya berdebum keras ketika dang pendeta mempersilahkan dia mencium mempelainya. Mencium satu-satunya wanita yang ingin dinikahinya. Dan Naruto benar-benar merasa dunianya runtuh ketika mata lentik itu menyembunyikan manik indahnya. Dia merasa dunianya dipenuhi dengan Hinata saja ketika bibir mereka saling bertemu. Walaupun ini bukan ciuman pertama mereka, tapi ciuman kali ini benar-benar berbeda. Bibir manis Hinata terasa lembut di dalam kunkungannya. Semuanya terasa seperti mimpi, mimpi indah yang tak ingin membuatnya terbangun lagi. Naruto sama sekali tidak keberatan untuk tidak bangun lagi asal di dalam mimpinya ini hanya ada dirinya dan Hinata.
Bahkan ketika ciuman mereka berakhir, dia tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hinata. Hari ini begitu terasa menakjubkan baginya. Semua yang dilaluinya terasa terbayar tepat pada hari ini dan hari inilah puncak semua rasa kebahagiaanya.
Sebenarnya inilah alasan kenapa Naruto sempat menunda hari pernikahan mereka. Mungkin orang lain bahkan Hinata berpikir kalau dia ingin menunda pernikahannya hanya karena urusan pekerjaannya yang menumpuk, tapi sebenarnya bukan hal itu yang menjadi alasannya. Dia hanya ingin hari inilah satu-satunya hari dimana dia mendapatkan satu-satu yang begitu diinginkannya. Hari ini, tepat pada tanggal 27 Desember, dia ingin menunjukkan kepada dunia kalau dia sangat bersyukur karena tepat di hari ini sosok yang dicintainya terlahir di dunia. "Selamat ulang tahun, Namikaze Hinata. Aku sangat mencintaimu," bisik Naruto pelan.
.
.
.
END
.
.
Thanks to:
Roo, hqhqhq, Guest, Belindattebayo1, MeV, GazzelE VR, Ardnith, Vampire Uchiha, DiRa-cchi 7ack
.
.
.
REVIEW PLEASE
