Summary: Ketika Yoochun berfikir bahwa ide bagus untuk mengundang 'teman baru' Yunho ke pesta dimana Junsu akan menyanyi secara gratis untuk temannya. Yunho dibuat kaget soal selera musik Changmin. Dan Changmin dibuat kaget dengan pergaulan Yunho. *summary macam apa ini-_-"
Note: Maaf menunggu lama.. Semoga masih ada yang mau baca..
Part 3
"Yunho!"Yoochun melambai-lambai sok mesra dari kejauhan. Membuat Yunho ingin muntah dibuatnya. Di sebelahnya ada Junsu yang tersenyum riang tidak jelas. Pasti sudah baikan..
Yunho memasang wajah datar,"Apa traktiranku kali ini?"
"Kamu tidak tanya dulu gimana kami baikan?"Junsu menyambar bicara begitu Yunho duduk.
"Tidak perlu.." Yunho mengambil gelas Frappuchino Yoochun dan meminum isinya. "Pasti persis seperti yang kuceritakan.."
"Tidak juga.."Yoochun terkekeh melihat tampang tersinggung Junsu. Junsu meneruskan kalimatnya,"Yoochun ditantang seorang crew bertaruh, siapa yang bisa paling banyak minum tidak perlu membayar tagihan minumannya dan yang kalah harus mau dipakaikan lipstick lalu menarikan lagu Wonder Girls.." Yunho menggaruk kepalanya. Alasan yang dikarangnya jauh lebih keren dibandingkan alasan yang sebenarnya.
Bagaimana kalu mereka sampai putus coba kemarin? Kan alasan salah pahamnya konyol sekali.."Kalian benar-benar berhutang besar padaku kali ini.."Yunho mengangguk-angguk membenarkan pendapatnya sendiri.
Yoochun tertawa,"Mungkin sebaiknya Kau yang cari pacar Yun.. Kalau single terus kan Junsu jadi tidak cangggung sama sekali untuk merepotkanmu.."
Yunho memandang sinis ke arah pemuda dengan suara husky itu. Café di dekat stasiun subway ini salah satu langganan pasangan ini untuk mentraktir Yunho kalau mereka baru saja baikan setelah sebuah pertengkaran. "Sudahlah.. Nanti juga datang sendiri jodoh sih.. Ya kan Yun? Daripada manusia satu ini, getol cari kesana-kesini, nyangkutnya sama yang deket-deket juga.."
"Siapa memang?"Tanya yoochun pura-pura tak mengerti. Junsu memajukan bibirnya, bersikap sok imut. Semantara Yoochun tertawa jenaka, menjawil gemas pipi erisi Junsu.
"Hentikan! Ingat umur Jun.."Yunho yang dibuat merinding melihat tingkah laku dua sahabatnya ini.
Yoochun berhenti dari tawanya,"Kamu sudah pikirkan soal tawaran drama berikutnya?"
"Sudah mulai menyusun plotnya malah.."Yunho nyengir. "Aku punya teman baru, komikus. Jadi, mulai sedikit terbayang ceritanya." Yoochun memainkan alisnya. Merasa sedikit kaget dengan keputusan Yunho. Beberapa hari kemarin Yunho masih terlihat sangat tidak yakin soal proyek ini. Pertama, karena ia merasa ini waktu yang tepat untuk hiatus sementara dari pekerjaan menulis naskah drama dan focus pada proyek novelnya. Kedua, karena yunho bukan penggemar web cartoon, jadi nyaris tidak punya informasi apa-apa soal background cerita yang diminta oleh produser Han, Bos paling baik hati di rumah produksi tempat Yoochun dan Yunho bernaung.
"Teman baru?"Junsu malah lebih tertarik pada pokok pembasan lain dalam kalimat Yunho. Yunho orang yang mudah bergaul, tapi selalu ada batasan tertentu yang dibangun pemuda itu. Junsu tahu betul soal itu, mungkin karena golongan darah A-nya atau mungkin memang begitu saja orangnya. Entahlah.
Itu sebabnya frasa 'teman baru' tidak cocok dengan fakta bahwa ia bisa mempengaruhi keputusan Yunho soal sesuatu. Junsu tahu dari Yoochun bahwa Yunho bilang tak akan ambil proyek lagi dalma waktu dekat.
"Kami tetangga, beda lantai sih.. Pria yang baik, tapi yah.. tidak banyak bicara."lalu Yunho menggeleng pelan," setidaknya di pertemuan pertama."
"Laki-laki? Ga asik.."Junsu terdengar sekali kecewa. Yunho dibuat mengernyit mendengar nada itu dari Junsu.
"Kenapa memangnya?"
"Kukira kau dapat mangsa bagus untuk dijadikan pacar.. soalnya setelah kejadian terakhir kau bilang tidak ingin berurusan dengan laki-laki lagi."Junsu mengistirahatkan dagunya di atas kedua tangannya yang bertumpu di sisi meja, sambil perlahan menghembuskan nafas lelah. "Kau harus mencari seseorang, Yun.. Aku serius. Ini sudah hampir—"
"Mungkin sebaiknya kita pesan makanan."Yoochun buru-buru memotong kalimat Junsu. Mengabaikan bibir Junsu yang mengerucut memprotes tindakan kekasihnya. Dan melambaikan tangan pada pelayan yang sebenarnya sudah dari tadi memandangi mereka karna sudah lewat hampir 10 menit dan mereka belum memesan apapun.
Yunho menutupi senyum tak nyamannya dengan buku menu di tangannya. Ia tahu apa yang Junsu ingin katakan. Ini soal kekasih Yunho sebelumnya. Ini soal Yunho yang terlihat belum juga bisa move on, setelah hampir 4 tahun. Yunho tidak akan memungkiri hal itu. Ini bukan seperti ia tidak bisa atau tidak ingin melupakan orang itu. Hanya saja, memang belum waktunya. Belum ada orang yang tepat. Dan entahlah, mungkin Yunho harus akui juga bahwa ia masih sedikit trauma untuk memulai hubungan baru lagi..
"Soal teman barumu itu…"Yoochun mulai bicara lagi setelah mereka semua selesai memesan makanan. "Junsu minggu depan tampil di pembukaan café baru temannya. Ajak dia.. Aku penasaran pada orang yang bisa membuatmu berubah pikiran soal proyek yang awalnya kau tolak mentah-mentah ini."
Yunho tersenyum tipis sebelum menjawab. "Hari apa? Aku harus tanya dulu apa dia sedang dikejar deadline atau tidak.."
"Jumat malam, siapa yang kerja di malam sebelum weekend memangnya?" Yoochun entah mengapa menurut Yunho terlihat terlalu bersemangat soal 'teman baru' ini.
Yunho membuat ekspresi mencibir yang unik dengan bibir bawahnya yang tebal." Mereka yang sedang menyelsaikan shooting drama kejar tayang misalnya?" sindir Yunho. Yoochun memang kadang suka lupa dengan dedikasi yang dibutuhkannya dalam pekerjaannya sebagai actor dan sutradara drama- drama paling sibuk di korea.
Apapun itu. Ia Cuma berharap jika Changmin benar bisa datang, Yoochun tidak terlalu banyak flirting dengannya dan membuat Yunho kehilangan jam tidur untuk mendengarkan curhatan Junsu yang cemburu pada 'teman baru' Yunho.
Changmin sedang hunting beberapa objek background untuk inspirasi chapter berikutnya di sebuah desa kecil di pegunungan Namsan. Changmin yakin sekali bahwa ini adalah tempat yang cukup terpencil dimana ia bisa menyendiri dari semua orang. Dan semua hal. Termasuk sinyal handphone. Tapi itu tidak berlaku untuk pesan singkat dari tetangganya.
Jumat depan ada acara?
Changmin terlebih dulu mengingat-ingat jadwalnya. Setelah hunting background ia ada beberapa jadwal untuk bertemu dengan asisten-asistennya untuk membicarakan proyek komik lain. Bukan webtoon jadi changmin butuh bantuan untuk melakukan beta dan background. Jadwal pertemuannya belum pasti, tapi selama seminggu ini mereka sudah sepakat untuk bertemu sebanyak dua kali.
Selain itu tidak ada pekerjaan lain untuk minggu ini. Deadline plot webtoonnya masih dua minggu lagi. Changmin sepertinya bisa membuat jumat malam kosong. Para asistennya rata-rata punya kekasih, jadi sepertinya mereka akan keberatan jika jumat malam mereka digunakan untuk bertemu changmin yang semi anti-sosial membahas komik yang luar biasa suram.
Kurasa kosong. Kenapa?
Just wondering if you want to hang out?:)
Changmin sedikit mengernyit. Setahu dia Yunho bukan seseorang yang suka pamer dengan kemampuannya di bahasa asing. Dan sebagai penulis pria itu sepertinya cinta sekali dengan bahasa korea. Kenapa sekarang tiba-tiba pakai bahasa inggris? Dan kenapa juga ia harus pakai emoticon senyum begitu..?
Kemana?
Kenalan temanku baru buka café di dekat universitas seoul. Dan Junsu bilang ia akan menyanyikan beberapa lagu sebagai ucapan selamat.
Changmin sedang membereskan kameranya dan membereskan beberapa peralatan ketika pesan tadi masuk. Ia duduk di sebuah batu besar di dekat sawah yang mulai menguning. Menggaruk tengguknya pelan, merasa awkward dengan antusiasme yang terasa dari kalimat di pesan pria itu. Jung Yunho. Changmin berusaha untuk tidak terlalu merasa aneh dengan keakraban yang ditawarkan pria itu. Tapi tetap saja changmin merasa canggung dengan begitu mudahnya pria itu mengajaknya pergi ke acara teman-teman dekatnya.
Dan siapa pula itu Junsu? Tanpa penjelasan apapun Changmin dipaksa seperti masuk ke dalam point of view Yunho yang supel dan terbuka. Changmin membuat dirinya terdengar tua dan kaku. Tapi ia memang begitu, tidak seutuhnya begitu. Tapi itu bagian dari dirinya dan saat ini Changmin merasa Yunho merasa terlalu dekat dengannya. Memang salah Changmin juga. Menginap di apartemen pria itu ketika mereka baru saja saling kenal. Masalahnya memang tidak ada pilihan lain, tetangga sebelahnya ribut sekali dan Changmin harus konsentrasi untuk menyelsaikan deadline dan salah Yunho kenapa ia jadi satu-satunya orang yang ia kenal dan paling dekat untuk dimintai bantuan.
Changmin berfikir lagi untuk beberapa saat. Bahwa tidak enak jika ia berkata tidak setelah tadi ia bilang jumat malam ia kosong. Tapi pesta pembukaan café baru dengan sekumpulan manusia yang tidak ia kenal? Bukan gaya changmin sekali. Ia lebih memilih marathon menonton ulang seluruh series film Harry Potter untuk menghabiskan akhir pekannya. Tapi sekali lagi, ia berhutang sekali pada Yunho.
Jad,i ia memilih mengiyakan ajakan itu. Dengan sedikit berbohong soal antusiasme dan sedikit memamerkan kemampuan bahasa inggrisnya.
That's sound great. But Who's Junsu?
Junsu? Ada 5 kata mudah untuk menggambarkan manusia satu ini; Adorable, berisik, tapi bersuara melaikat.
Jawaban dari Yunho masuk ke telepon genggam Changmin kurang dari 1 menit. Changmin tersenyum tipis. Ia suka cara Yunho menggambarkan temannya itu.
Kau terdengar seperti sedang membanggakan anakmu. Jam berapa acaranya?
Memang :p Sekitar jam 7 malam, mau ku jemput ke apartemenmu atau ketemu di lobby?
Fix, Changmin yakin ia blushing saat ini. Entah untuk alasan apa. Tapi Changmin merasa ia punya alasan untuk blushing pada kalimat Yunho di pesan ini. Walau sekali lagi entah apa. Ayolah Changmin.. Yunho hanya sedang berbaik hati menawarkan padanya tumpangan. Changmin tahu. Yunho juga mungkin terbiasa menjadi manusia yang terlalu baik di seluruh korea selatan. Entahlah. Tapi bagian ku jemput di apartemen atau menunggu changmin di Lobby membuat saat ini changmin dan Yunho sedang mendiskusikan detail sebuah kencan.
It's just Hang Out Changmin.. Not Go Out!
Changmin membuat catatan mental dan menempel memo itu di pikirannya agar pikirannya tidak berputar-putar sesuka hati mereka dan membuat kesimpulan yang tidak- tidak dari kebaikan hati Yunho. Yunho hanya berusaha menjadi teman yang baik.
Changmin mengetik jawabannya dan menarik nafas sebelum menekan tombol kirim.
Ok. 6:30 di Lobby. -Dan setelah beberapa saat berfikir, akhirnya changmin menambahkan sebuah emoticon ':)'
"Kau tidak bilang kalau Junsu itu KIM JUNSU!"Changmin menahan diri sebisa mungkin untuk tidak berteriak histeris saat ini pada Yunho. Begitu mereka memasuki café bernuansa merah marun dengan aksen batu bata dan berbagai hiasan dinding foto-foto musisi tahun50-an, 60-an, 70-an dan 80-an. The Beatles dan David Bowie memang lebih mendominasi. Lampu kuning temaram yang menenangkan, wangi aroma terapi berpadu dengan aroma wine dan beberapa minuman segar lainnya dan pojok baca yang berisi berbagai novel dan komik. Changmin langsung tahu bahwa ia akan kembali lagi ke tempat itu dalam waktu dekat. Tempat yang funky untuk hang out dengan menu makanan ala restoran internasional, Changmin tidak akan bilang tidak jika Yunho mengajaknya datang lagi ke sini.
Sebentar.. kenapa harus tunggu diajak Yunho?
Changmin tidak punya kesempatan untuk memikirkan ulang hal tadi. Yunho langsung menarik tangannya menuju sekumpulan orang yang Changmin perkirakan sebagai teman-temannya Yunho yang ia bicarakan sepanjang perjalanan menuju tempat itu. Changmin dipaksa mengingat beberapa nama sekaligus ; Leeteuk- yang terlihat gelisah ketika besalaman dengan changmin sepertinya sedang menunggu seseorang datang, Siwon-yang tersenyum tampan dan berbasa-basi bahwa ia menyukai jaket kulit yang Changmin kenakan, Yoochun-yang sejak awal changmin datang tidak berhenti tersenyum penuh makna pada Yunho- , JungKook –yang sepertinya tak begitu ambil pusing soal siapa yang itu Changmin dan langsung mengajak yunho untuk mendiskusikan sesuatu- dan Junsu –yang kemudian dengan senyum ramah mengajak changmin mengobrol soal bahwa just the way you are milik Billie Joel yang tengah mengalun pelan dari speaker café adalah lagu kesukaannya dari Billie Joel. Dan dengan riangnya Junsu tersenyum dan kemudian membicarakan kaus Linkin Park yang Changmin kenakan dibawah jaket kulitnya. Lalu kemudian mulai mengajak berdebat Changmin soal album terbaik dari band kesukaan Changmin itu. Junsu tergila-gila dengan Thousand Sun, Changmin tidak begitu setuju tapi dia berusaha tak terlihat keras kepala di perjumpaan pertama.
Begitu Yoochun memanggil Junsu untuk bersiap-siap di panggung kecil, dan Yunho kembali dengan senyum permintaan pemakluman ke Changmin beberapa menit kemudian. Changmin tidak perduli. Ia baru saja mendiskusikan-garis miring berdebat kecil- dengan KIM JUNSU soal album Linkin Park terbaik menurut masing-masing.
"Kenapa Kau tidak bilang teman Junsumu ini Kim Junsu yang mengisi soundtrack film Iris? Kim Junsu yang diundang menyanyi di festival musim semi di China? Kim Junsu yang kukoleksi semua albumnya, bahkan sejak album pertama? Kim Junsu a. k. a. Xia Junsu?"
Yunho tertawa dan menarik Changmin terlebih dahulu untuk duduk di salah satu meja dekat panggung. "Karena Kupikir Kau bukan salah satu fans yang terobsesi pada suara si dolphin satu itu.."
"Aku tidak terobsesi."Changmin mengoreksi. Yunho memainkan alisnya menunjukan keraguan. "Ok.. sedikit mungkin. Tapi dia memang salah satu musisi paling berbakat saat ini di Korea selatan."
"Aku tidak akan mendebatmu soal itu."Yunho menangkat tangannya tanda menyerah pada kilat antusias di mata Changmin.
"Aku punya semua albumnya. Meskipun album terbarunya bukan favoritku sih.. terlalu dance dan ia mengubah gaya panggungnya secara radikal, tapi masih keren, kurasa."
"Kau suka album yang mana?"
"Musical December.."Changmin sedikit ragu. "Meskipun lagu pertamanya All Rise di album kompilasi dengan beberapa artis newbie di SM itu luar biasa.. tapi kalau untuk album aku pilih musical December."
Yunho mengangguk-angguk. "Kalau boleh jujur aku lebih suka album terbarunya Junsu. Kurasa mungkin karena album ini yang paling mendekati seleraku. Dan Incredible juga dipilih dengan baik sebagai single pembuka. Aku tidak pernah sesetuju ini sebelumnya dengan tindakan Junsu. Biasanya ia sering melakukan hal-hal yang kurang pikir panjang, termasuk menerima Yoochun menjadi kekasihnya."Changmin melihat ada senyum nostalgia di wajah Yunho. Jelas sekali bahwa Junsu bukan sekedar teman biasa bagi Yunho, Junsu lebih terlihat seperti anak yang dibesarkan dengan susah payah olehnya.
"Tapi herannya hal-hal yang ia putuskan dengan tergesa-gesa itu selalu berbuah baik, untungnya. Seperti ketika ia keluar dari sekolah atlet dan memilih focus ke dunia music. Atau ketika akan kuliah ia menolak tawaran beasiswa sepakbola dan memilih luntang-lantung sendirian di Seoul untuk audisi artis. Atau keluar dari SM untuk bergabung dengan perusahaan kecil ketika posisinya di SM sudah mulai bagus.."
"Kau benar-benar ayah yang baik ya.."Changmin menggunakan nada jenaka pada kalimat ini. Yunho tersenyum cukup lebar, membuat Changmin merespon dengan kekehan ritmis.
Yunho memperhatikan tawa terkekeh Changmin membuat ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih rileks, Changmin terlihat jauh lebih muda dari umurnya. Setelah tawanya mereda Changmin meminum sedikit air putih yang ada di gelasnya. "Jadi, apa yang enak disini?"
"Entahlah.. Tapi menurut Yoochun pasta buatan temannya tidak ada tandingannya di seoul. Kurasa aku akan memesan spagetty seafoodnya, pemilik restorannya kenal dengan seorang pemilik perusahaan besar di bidang perikanan."Yunho menunjuk meja sebelah kanan mereka dengan bola matanya. Changmin melirik perlahan ke seorang wanita dan lelaki di umur 50 tahunan, necis, Nampak sekali seperti pasangan suami istri kaya.
"Hyung tahu darimana?"
"Pernah shooting sebuah drama di induk cabang perusahaannya di Jepang."Changmin mengangguk-angguk.
"Uhm.. Kalau begitu ikan tuna panggang dengan saus anggur boerdeaux bukan pilihan buruk kan?"Changmin membuat wajah pertimbangan yang datar. Yunho mengangguk-angguk.
"Menu pembukanya kurasa sup yang bening akan cocok.." Yunho menilik beberapa nama di daftar. Sementara Changmin sibuk memilih salad.
Setelah terlihat memutuskan, hampir bersamaan Yunho dan Changmin mengangkat wajah mereka dari buku menu. Dan ketika pandnagan mereka bertemu, dalam sekejap saja keduanya tertawa. Entah apa yang lucu. "Kau tahu, ini aneh tapi kurasa akan sepakat dengan ku.. sup miju-miju..?"
Changmin mengangguk,"Dan salad sayuran musim semi dengan olive oil? Dan dessertnya puding chocholate pie?"
"Aku ikut.."Yunho memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka. Changmin membiarkan Yunho memesankan untuknya juga sementara ia memperhatikan Junsu bersiap di depan stand mic. Tiba-tiba saja terasa ada tepukan di pundaknya. Changmin berbalik sambil mengernyit, ia tidak begitu suka skinship terutama dari siapapun orang ini. Ia hanya mengenal Yunho disini, benar-benar mengenal.
"Aku datang untuk membantu memilihkan menu tapi sepertinya kalian tidak punya masalah dengan itu.."Ada Yoochun disana berdiri di antara tempat duduk Yunho dan Changmin dan tangan satunya ada di pundak Yunho.
"Kami baik, kurasa.."Changmin menggeser sedikit duduknya agar tangan pemuda itu terlepas dari pundaknya. Dan ia yakin wajahnya meanmpilkan ekspresi tidak nyaman.
Karena setelah itu Yoochun berkata,"Oh! Sorry.."
"Yun.. Kau punya request untuk Junsu?"Yoochun berkata sambil tersenyum, terlihat sekali lagi berusaha meminta maaf pada Changmin lewat gesture.
Yunho nyaris menggeleng, tapi kemudian berhenti dan menatap Changmin,"Aku tidak. tapi seseorang sepertinya akan senang jika Junsu menyanyikan lagu All Rise.."
"All Rise? Tidakkah itu terlalu tua.."Yoochun terkekeh.
Changmin tiba-tiba saja masuk ke pembicaraan,"Atau I Can Soar.."ujarnya cepat. Yoochun berbalik pada Changmin, terlihat sedikit kaget tapi buru-buru tersenyum.
"Baiklah.. akan aku akan bilang soal All Rise atau I can soar.. sementara kalian mungkin bisa menikmati champange.."
"Aku akan memesan ginger ale saja.. Kau tahu, aku harus menyupir dan memastikan temanku selamat sampai kamar apartemennya.."Yunho berkata sambil menatap Changmin jenaka.
Changmin mengernyit tidak suka atas dua fakta. Pertama, Yunho membicarakannya sebagai orang ketiga padahal ia ada di depan mereka. Kedua, Yunho membuatnya terdengar seperti harus mengorbankan kesenangannya dengan minuman keras untuk Changmin. Ayolah Changmin tidak memintanya.
Yunho tersenyum, melihat alis Changmin yang terangkat tidak suka," jangan salah paham.. Kadar toleransi alcohol ku memang tidak begitu bagus dan aku sudah dapat peringatan dari dokter soal kebiasaan minumku."Yunho memainkan jemarinya sebelum kemudian menunjuk bagian kiri perutnya,"salah satu ginjalku mulai aus.."ujarnya.
Changmin meneguk sedikit air putih di mejanya. "Dasar tua.."ujarnya dengan nada bercanda. Yunho terkekeh geli dan tidak terlihat tersinggung sama sekali. Changmin menatap pada Yoochun. "Kurasa pesankan untukku saja tidak masalah.."Yoochun mengangguk dan memanggil kembali seorang pelayan. Ia menyebutkan sebuah merk yang tidak begitu familiar di telinga Changmin. Tapi ia bersyukur yang Yoochun minta adalah minuman keras dari tahun 98. Jika lebih tua lagi Changmin tidak akan bisa menghandle sendirian rasa pahit manis dan serangan alcohol di dalamnya.
"Selamat Malam.. Baiklah.. Pertama, sudah pasti kalian bisa menebak bahwa saya akan mengatakan Selamat atas pembukaan café ini. Ji Hye.. sudah kubilang Kau bisa melakukannya jika benar-benar berusaha menabung lebih banyak dan tidak menghabiskan uangmu untuk berbelanja sepatu.."Beberapa hadirin tertawa mendnegar lelucon Junsu. Gadis yang dibicarakan berdiri di dekat counter bar dan mengacungkan tinju main-main pada Junsu, tapi di matanya yang cokelat muda ada kilat kebahagiaan.
Changmin merasa seperti mimpi bisa melihat Kim Junsu akan perform secara akustik hanya 5 meter dari mejanya. Meskipun ketika pertama kali memasuki tempat ini Changmin merasa salah kostum dengan jeans khaki dan setelan ala rocker wanna be-nya. Yah.. Yunho memang memakai baju casual juga. Tapi ia masih memakai sepatu kulit dan kaus polo dipadu dengan jas berwarna cokelat yang tidak di kancingkan.
"Ok.. Jadi, untuk lagu pertama kurasa untuk menghangatkan suasana Guapun Gaji Saranghan- Goya.. bukan pilihan buruk. Dan Ji Hye suka lagu itu." Ia terkekeh kecil,"Selera musiknya memnag tua sih.."Junsu tersenyum dan mulai mengambil posisi untuk menyanyi.
"Champagne.. Tuan?"Changmin mengangguk. Nyaris mengumpat karna lirik pertama yang Junsu nyanyikan tak terdengar dengan baik karena suara pelayan tersebut. Pemuda tersebut tidak memakai seragam tertentu hanya kaus putih lengan pendek celana jeans hitam dan celemek yang terikat di pinggangnya. Setidaknya pelayan disini tidak pakai tuxedo, jadi Changmin masih merasa baik-baik saja dengan bajunya kini. Changmin membiarkan pelayan menuangkan ke gelasnya.
Yunho mengangkat ginger ale-nya. "Untuk Junsu yang ternyata Kim Junsu?"ujar Yunho menawarkan toast pada Changmin. Changmin tertawa kecil dan sedikit memutar bola matanya.
"Lain kali aku harus mengingat kalau Hyung itu berada di lingkungan entertainment dan kenal banyak artis.."ujar Changmin sambil mengangkat gelasnya. Berfikir bahwa ia mungkin tidak akan perlu terlalu merasa bersalah karena tidak menonton Harry Potter minggu ini.
Changmin hanya ingat bahwa ia sedang menenggak gelas ke enam dari minuman kerasnya ketika Junsu menariknya dan Yunho untuk bernyanyi bersama di atas panggung. Dan setelah itu pesta perayaan pembukaan café itu jadi gila-gilaan. Tallantalegra lalu incredible, Changmin is not a good dancer. Tapi ia tidak bisa membiarkan wajah songong Yunho yang mengajaknya battle di lagu intoxication. Dan lebih daripada battle bisa dibilang mereka lebih terlihat sedang merayu satu sama lain.
Dan selebihnya Changmin lupa.
"erm.."Alcohol is suck. Changmin menambahkan catatan kecil di kepalanya. Changmin tidak terbangun karena ia ingin bangun. Tapi karena ada tekanan dari dalam perutnya. Ada cairan muntahan yang akan keluar, tapi Changmin berhasil menelannya lagi. Dan rasa pahit cairan itu membakar tenggorokannya. Ia membuka matanya dan cepat mencari tempat aman untuk muntah.
Apartemen Yunho Hyung? Ujarnya bingung dalam hati. Ia tidak tidur di meja kerja Yunho lagi kali ini. Ia tidur di sofa panjang. Changmin mendudukan dirinya dan berusaha menahan pusing berat di kepalanya. Bersyukur bahwa ia masih bisa menahan muntahannya dan tidak muntah di sofa bersih Yunho.
"Yo! Changmin…" Yunho muncul dengan apron hitamnya sambil membawa pring berisi setumpuk pancake. Dan wangi mentega membuat Changmin kehilangan kekuatannya untuk menahan mual. Ia bergegas berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Yunho yang dibuat terbengong-bengong dengan kecepatan pelari olimpiade yang dilihatnya barusan.
Yunho menengok sedikit dari celah pintu kamar mandi yang tak berhasil Changmin tutup dengan benar. Pemuda jangkung yang semalam ia papah dengan susah payah ke apartemennya sedang duduk di dekat toilet. Setelah menyiram hasil muntahannya ia berbalik dan bersandar pada dinding. " Yo! Hyung.." ujar changmin dengan suara buruk yang tidak dikenalinya sendiri.
"Kau mau aspirin sebelum sarapan?"
Changmin menggeleng. Aspirin tidak bekerja untuknya. Ia ingat ketika pertama kali mabuk ketika kuliah dan meminum aspirin besoknya ia dibuat pusing luar biasa dan muntah berkali-kali sepanjang hari itu. Mungkin itu efek detoksifikasi. Tapi Changmin lebih memilih tidak melakukannya lagi,"chamomile tea.. Tolong jangan bicarakan aspirin.."Ujarnya lemah. Kali ini ia mulai lebih bisa mengenali suaranya.
Yunho menganggok dan menghilang dari celah pintu kamar mandi itu. Changmin diam selama beberapa saat di lantai kamar mandi. Setelah pergelutan dengan isi perut barusan, ia merasa bahwa lantai kamar mandi Yunho jadi sangat nyaman dan ia nyaris terlelap jika Yunho tidak muncul lagi di celah kamar mandi. "Bangun Changmin.." ada nada jengkel di suara Yunho. Tapi pemuda itu dengan cekatan dan hati-hati mendekati Changmin dan membantunya berdiri. Changmin menahan langkah Yunho yang akan membawanya keluar kamar mandi. "Aku harus sikat gigi.."Changmin lebih seperti berujar pada dirinya sendiri. Jadi Yunho menyandarkan changmin di dinding dekat cermin dan mengambil sikat gigi yang pernah Changmin gunakan sebelumnya, menyiapkan odolnya dan memberikannya pada Changmin.
Dengan sedikit susah payah dan beberapa gerakan konyol akhirnya Changmin berhasil memasukan sikat gigi itu ke mulutnya dan mulai menyikat. Yunho tersenyum lemah,"Aku tunggu di luar."Katanya smabil berlalu. Setelah sikat gigi, Changmin merasa jauh lebih bisa menguasai diri dan mulai membasuh mukanya. Baru menyadari bahwa ia sudah tidak menggunakan jaket kulitnya. Dan ada noda muntah di kaus Linkin Park kesayangannya. Changmin menggeram kesal pada diri sendiri.
Ia berjalan dengan sedikit oleng, menemukan Yunho bersenandung lagu intoxication sambil membaca Koran pagi. Begitu melihat Changmin, Yunho entah mengapa merasa harus langsung berkomentar,"Sepertinya Kau butuh kaus Linkin Park baru.."Changmin memamerkan senyum antagonisnya. Kenapa pria ini harus menaburkan garam di lukanya? Sial..
"Aku tidak tahu kalau Kau tipe yang suka gila-gilaan di pesta.."
"Aku juga baru tahu.."ujar Changmin masih setengah dongkol soal kaus Linkin Parknya.
Yunho mengernyit mendengar nada kesal Changmin. Tapi memakluminya dan menyodorkan secangkir cairan cokelat terang pada Changmin. "Untung aku masih punya sisa.."
Changmin mengumamkan 'terima kasih' sepersekian detik sebelum menyeruput tehnya. Tidak yakin Yunho mendengarnya atau tidak. setelah beberapa tegukan Changmin merasa kerongkongannya sudah lebih baik. Jadi ia mengulang ucapan terima kasihnya,"Thank's.."
Yunho terkekeh. "Iya.. tidak usah diulang-ulang."Ouh berarti tadi dengar, Changmin berujar kesal sendiri dalam hati. Dia jadi terlihat bodoh. Setelah mabuk dan terlihat konyol kemudian terlihat bodoh. Changmin tidak yakin kebanggaan apa yang masih tersisa dalam dirinya di mata Yunho.
"Masih mual?"Changmin membuang fikiran buruknya soal Yunho yang mungkin sedang mentertawakan Changmin dalam hati. Ia terlihat benar-benar khawatir saat ini. Terlihat sangat perduli soal indra pencernaan Changmin yang kemarin Changmin pakai dengan ceroboh. "Kemarin kamu minum setengah botol Champagne, sebotol whiskey dan segelas soju. Ingat?"
Changmin Cuma ingat gelas ke enam champagnenya. Jadi ia menggeleng.
Yunho menatap Changmin yang masih menggunakan setelan kemarin dan bermbut acak-acakan dan muka yang kelewat kusut. Dia maish tampan. Tapi kusut. "Mau kubuatkan bubur?" Changmin menggeleng.
"Hyung terlalu baik."ujarnya pendek. Tidak terkesan seperti pujian, tidak juga ada nada protes di dalamnya. Sekedar pemberitahuan saja.
"Aku yang mengajakmu, jadi seharusnya aku lebih mengawasimu sebelum Yoochun dan Ji Hye sempat memberimu macam-macam minuman keras. Dua setan kecil itu.."Changmin tidak bisa menahan senyum melihat kekesalan di mata Yunho. Ia merasa dimanjakan dengan sikap mengayomi itu. Dan entah mengapa Changmin menyukainya, mengingat biasanya ia adalah seorang yang terlalu dingin untuk memperlihatkan sisi lemahnya di depan orang lain.
"Tidak masalah. Semalam menyenangkan kok.."Changmin bisa mengeluarkan suara lagi setelah sebuah tegukan pada tehnya.
"Memangnya Kau ingat kejadian semalam?" frasa 'kejadian semalam' membuat Changmin sedikit bergidik. Ia harap ia tidak-terlalu- mempermalukan dirinya di depan banyak orang.
"Sebagian.."Yunho menyadari bahwa air muka Changmin Nampak memucat akibat cemas.
Yunho terkekeh,"Sayang sekali.. padahal kau keren sekali semalam ketika menarikan intoxication dan menyanyikan tallantalegra." Ouh, ujar Changmin. Ia ingin bilang ia ingat bagian itu. Tapi sepertinya Yunho gembira sekali karna Changmin tidak ingat dan ia bisa menyimpan memori itu untuk dirinya sendiri. Jadi Changmin tidak merasa perlu untuk mengoreksi soal ingatannya.
"Tapi kalau mau aku bisa minta rekaman kemarin.. kemarin ada seorang teman Ji Hye yang merekam semuanya."Changmin merinding mengingat battle yang kemarin ia lakukan dengan Yunho. Sebaiknya tidak usah, pikirnya. Changmin buru-buru menggeleng. Bagian yang paling ia ingat bahwa ada bagian dimana Changmin dengan seduktif meraba perut Yunho dan dibalas Yunho dengan bergerak seakan menciumi lengan jenjang Changmin. Changmin bergidik lagi dan kali ini menggeleng lebih keras.
"Yakin? Kau tidak mau lihat bagaimana Kau menangis ketika Junsu mulai menyanyikan All Rise?"Changmin melotot, nyaris menyemburkan seteguk teh chamomile yang sedang diminumnya.
"Junsu? Kim Junsu menyanyikan All Rise untukku?"Yunho mengangguk. Sial.. umpat Changmin dalam hati. Kenapa bagian keren dari pesta semalam justru ia benar-benar lupa. "Aku mau lihat rekamannya."Ujar Changmin yakin dan sedikit memaksa. Yunho dibuat menegrnyit lalu terkekeh. cepat sekali berubah pikirannya?
Yunho mendiamkan permintaan Changmin dan puppy eye-nya yang sedikit menyeramkan bagi Yunho. Tidak, bukannya Changmin tidak terlihat imut atau membuat hati luluh dengan ekspresi seperti itu. Hanya saja menyeramkan ketika kamu sadar yang mengeluarkan ekspresi seimut itu adalah pria dewasa dengan badan kekar dan lebih tinggi dari Yunho beberapa senti. Harusnya ada peraturan yang melarang para pria bertubuh kekar untuk menggunakan ekspresi semanis ini.
"Makan dulu.." Yunho menyiapkan beberapa potong pancake di piring Changmin dan menyiramnya dengan sirup maple. "Nanti aku tanya Ji Hye soal rekaman itu."Changmin langsung sumringah. Ia menerima dengan semangat sarapan yang Yunho tawarkan. Tiba-tiba saja setengah rasa mualnya menguap, mungkin karena teh Yunho atau mungkin karna antusiasme untuk melihat Kim Junsu menyanyikan lagu All Rise. Entahlah. Pokoknya Changmin tahu perutnya kosong dan sebaiknya diisi.
"Kau tahu apa yang paling membuatku bingung.."Yunho membuka pembicaraan setelah beberapa potong pancake ludes dari piring Changmin. Changmin menatap Yunho dengan pandnagan bertanya sambil menyisir poninya ke belakang. Menunggu Yunho meneruskan kalimatnya. "Kau sama sekali tidak terlihat kaget soal Junsu..?"Changmin mengernyit sambil memenuhi mulutnya dengan sesendok pancake berikutnya.
"Kau tidak terlihat kaget soal Junsu adalah seorang gay."
"Aku justru heran kenapa mereka belum membuka soal hubungan mereka ke publik? Mereka.. apa ya? Adorable?.. Maksudku Junsu terlihat bahagia dengan pasangannya. Lagipula apa salahnya dengan menjadi gay?"
Yunho tersenyum,"Yah.. Junsu tidak bisa begitu saja mengungkapkan hubungan mereka ke publik. Ia ada di puncak karir setelah sebelumnya sempat diragukan karena perpindahan agensinya. Dan Yoochun mulai semakin diakui kualitas aktingnya. Ji Hye sengaja hanya mengundang teman-teman dekatnya saja kemarin karena ia ingin sesekali membiarkan Yoochun dan Junsu bermesraan."
Changmin mengangguk-angguk setelah menelan potongan terakhir pancakenya. "Hyung juga kelihatan tidak keberatan?" Yunho merasa ada nada integrosai di kalimat tanay ini. Tapi Yunho berusaha untuk mengabaikannya.
"Sekarang? Ya. Seperti katamu mereka melengkapi satu sama lain."
"Dulu?" sekali lagi, Yunho mencatat keinginan menelisik dari nada suara Changmin.
"Aku tahu Yoochun.. Dia baik tapi tidak pernah ada satupun hubungannya yang bertahan lama. Kau bisa lihat sendiri kenapa.."Changmin terkekeh. Ya, Changmin menyaksikan sendiri Yoochun tidak bisa menahan dirinya untuk merayu wanita atau pria lain. Dan dengan sendirinya Yoochun memang punya aura menggoda yang sulit ditolak.
Yunho melanjutkan,"Junsu sebaliknya.. dia itu.."
"pure?"Yunho berfikir sejenak lalu mengangguk mengiyakan pernyataan Changmin.
"Tapi mereka sudah bertahan selama 5 tahun lebih.."
"sudah selama itu?"Yunho mengangguk. Setelah itu mereka seperti kehabisan bahan pembicaraan. Keheningan memenuhi ruangan. Yunho biasanya tidak suka jika terjebak keheningan seperti ini ketika bersama seseorang yang seharusnya bisa ia ajak bicara. Tapi dengan Changmin keheningan ini tidak memuakan. Keheningan ini menenangkan. Ia memperhatikan Changmin yang menatap ke figura lukisan abstrak yang Yunho pajang di ruang makannya itu.
Changmin membuka mulutnya hendak bicara. Tapi kemudian ia menutup kembali bibirnya dan menghempaskan nafas lelah. Yunho heran dengan hal itu tapi tidak merasa perlu untuk membahasnya. Ia melanjutkan memperhatikan Changmin yang memperhatikan lukisan. Garis-garis meliuk warna merah yang kemudian divariasikan dengan garis-garis hitam dan sebuah lingkaran putih yang mengungkung semua warna itu. Yunho lupa apa makna yang pernah dijelaskan pelukisnya tentang lukisan ini. Yunho yang butuh sebuah lukisan untuk menutupi sesuatu di dinidng tersebut.
"Kurasa sebaiknya aku pulang."Changmin akhirnya bicara, sambil bangkit membawa piringnya ke bak cuci piring.
Yunho cepat-cepat mengambil piring itu dari tangan Changmin,"Aku saja."katanya cepat. Mereka berdiri berhadapan di pinggir meja makan. Terlalu dekat.. pikir Yunho. Sekarang ia bisa melihat bulu mata Changmin yang lentik dan noda-noda bekas jerawat di sekitar pipi Changmin. Ada garis kerutan tipis di dahi lelaki itu, Changmin dari dekat terlihat sangat serius, pikir Yunho.
Changmin melepaskan pegangannya pada piring yang kini dicengkram Yunho. "Ok" ujarnay lirih dan berbalik menuju sofa. Ia melihat jaket kulitnya disana tadi.
"Perlu kuantar?"
"aku bukan anak TK Hyung.."
"Memang bukan.. Anak TK tidak akan mabuk-mabukan seperti kamu kemarin.."Ujar Yunho tanpa sedikit pun nada bercanda. Changmin memutar bola matanya.
"Aku baik-baik saja. Ok?"
Yunho membuntuti di belakang langkah Changmin. Ketika Changmin sedang memasang sepatunya Yunho membukakan pintu,"Istirahat dulu, jangan langsung kerja lagi.."Kata Yunho, ia sendiri kaget dengan kecerewetannya.
Changmin mengangguk. Lalu tiba-tiba saja seperti mengingat sesuatu ia berhenti menlaikan sepatunya,"Ouh Ya! Mimi mana?"baru sadar sedari tadi ia tidak melihat kucing kecil itu.
Yunho menggaruk belakang kepalanya pelan,"Dia menolak makan dan terlihat lemas selama beberapa hari kemarin. Jadi, aku membawanya ke dokter hewan. Belum jelas Mimi kenapa.. Jadi untuk beberapa hari ini ia menginap di dokternya."Changmin terlihat sekali cemas dengan keadaan anak kucing itu.
"kenapa tidak bilang?"Changmin nyaris terdengar membentak. Lalu kemudian ia cepat-cepat merasa menyesal,"Maaf.." Itu kucing Yunho, pikir Changmin. Ia tidak perlu mengatakan pada Changmin setiap kali sesuatu terjadi pada kucing itu.
"Tidak apa-apa. Aku tahu seharusnya bilang.. Tapi kalau aku bilang Kau akan cemas seperti sekarang.."Changmin mengangguk dan tersenyum kecut.
Changmin menyelsaikan tugas menalikan sepatunya, lalu berdiri. "Maaf soal semalam… dan barusan.."Yunho menepuk pundka pemuda itu dan memberikan ekspresi penuh penegrtian pada Changmin. "Aku juga.."Changmin ragu melanjutkan.
Ia menarik nafas dan melanjutkan,"Alasan kenapa aku tidak terganggu soal hubungan Junsu-ssi dan Yoochun-ssi"Yunho mencatat ini pertama kalinya ia mendengar Changmin menggunakan Yunho. "Tapi itu bukan berarti aku akan menyukai setiap pria yang kulihat.. Jadi, tidak perlu takut padaku atau berfikir aku akan tiba-tiba melakukans esuatu pada Hyung atau—"
"Iya Changmin.. Kamu baik dan menyenangkan dan orientasi seksualmu tidak merubah apapun soal itu.."Yunho tersenyum. Senyum kebapaan yangs angat mengayomi. Changmin menyukai ketenangan yang ditawarkans enyum itu tapi juga membenci jarak yang dipertegas dalam senyum itu, bahwa Changmin adalah sesuatu yang harus dilindungi dan Yunho bertanggung jawab untuk memastikan perlindungan itu.
Yunho tidak bersikap seperti hanya pada Changmin. Nyaris pada semua orang ia bisa merasakan bahwa tanpa sadar Yunho selalu berusaha menjadi seorang pelindung yang sempurna. Bagi semua orang tanpa kecuali. Dan itu bukan sesuatu yang buruk. Hanya saja.. jarak yang kemudian terbentuk mengganggu Changmin.
Changmin buru-buru menarik senyum. Menghela nafas,"Ok. Bye, Hyung.."Yunho mengangguk pada Changmin dan sepanjang koridor itu Changmin bisa merasakan pandnagan mata Yunho yang mengikutinya. Memastikan ia sampai di depan lift dengan selamat. Mungkin semacam itu. Dan benar ketika ia berbalik ada Yunho berdiri di depan pintu apartemennya, dengan senyum mengayomi Yunho yang disukainya, sekaligus dibencinya.
TBC
Note: Maaf baru up date, maaf kalau ada kesalahan pengetikan. Junsu disini penyanyi solo dan beberpa lagu DBSK saya buat jadi seakan lagu dia. Tapi selebihnya pas ngomongin album semuanya album Junsu kok.. Yoochun itu aktor, Ji Hye disini cuma nama karangan aja. apalagi ya? udah kayaknya.. paling biasalah.. review please..:)
