Newbie Author...
pertama kali coba bikin angst ._.v maaf kalau feelnya ga dapet :'3a
Chapter 1~ Douzo~ ^0^)/
.
.
.
Yah... Minggu keduaku disini magang sebagai seorang dokter. Aku sudah berusaha keras... tapi entah kenapa senior-seniorku masih sangat ketus. Bukan hanya mereka, tapi seantreo rumah sakit ini seperti tidak mau berkenalan dengan orang yang masih hijau seperti aku ini. Ah.. biarlah, yang penting aku tidak macam-macam. Ini rumah sakit yang lumayan terkenal, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Yosh~! Ganbaruzo, Kuroko Tetsuya!
"Kuroko sensei!" Seseorang berteriak kepadaku. "Kau dipanggil ke ruangan Midorima sensei sekarang."
Eh? Aku dipanggil Midorima sensei? Baru saja aku merasa aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Baiklah, aku memberi hormat dan mengucapkan terimakasih pada orang tadi dan segera melangkahkan kakiku ke ruangan paling atas.
"Douzo.." kata seorang wanita yang bertugas di depan ruangan Midorima sensei.
"Sumimasen..." Aku membuka pintu dan melangkahkan kakiku ke dalam. Ini kedua kalinya aku datang kesini. Yang pertama tentu saja sewaktu aku ditugaskan universitasku disini.
"Kuroko sensei, hisashiburi ne.." katanya, masih ramah seperti dulu. Dia satu-satunya orang yang bisa ramah padaku, sayang aku jarang melihatnya di sekitar koridor rumah sakit.
"Hai..." Aku menunduk. Beliau terlalu berwibawa, aku tidak berani lama-lama menatapnya.
"Kau tahu kan aku tidak suka bertele-tele, jadi langsung saja-nanodayo... Kise sensei besok ada acara bersama keluarganya selama seminggu-nanodayo. Kau kutugaskan untuk menggantikan posisinya selama dia cuti. Kau mengerti-nanodayo?"
LOH..!
"D..demo... posisis saya masih sebagai dokter magang, sensei... apa tidak apa-apa menggantikan dokter yang sudah senior seperti Kise sensei?"
"Hm... Kau sudah punya potensi, Kuroko sensei. Kau berhak mencoba-nanodayo"
"Ta...Tapi... ini soal hidup seorang pasien,"
"Untuk itu.. aku perlu kau bekerja keras dan buktikan padaku bahwa kau bisa-nanodayo. Ada satu pasien yang baru datang hari ini, kalau kau bisa menanganinya dengan baik, kau bisa mempromosikan dirimu."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Antara senang, heran, dan khawatir memenuhi hatiku. Ini kesempatan besar lainnya. Aku menerimanya.. dengan sangat senang hati.
"Hai... Arigatou gozaimasu," kataku. Aku berjalan mundur dan meninggalkan ruangan mewah itu.
Tanpa menunggu apapun, well.. lagipula aku tidak punya apa-apa untuk ditunggu, aku segera menghubungi Kise sensei untuk meminta data pasiennya yang baru datang itu.
"Ini sudah semuanya?" tanyaku.
"Un... Bekerjalah dengan baik," jawab Kise sensei sangat formal dan ketus sambil membawa kopernya. Kukira dia akan pergi besok, tapi katanya dia perlu membereskan yang lainnya hari ini juga.
"Hati-hati Kise sensei..." Aku melambaikan tanganku pada Kise sensei yang sudah menghilang.
"Baiklah... aku akan menemui pasienku," kataku tersenyum lebar. Entah kenapa aku merinding setelah mengucapkan kata 'pasienku'. Ya ampun.. aku senang sekali.
.
.
.
"Sumimasen..." Aku memasuki ruangan Edelweis 07, dimana disana pasienku sedang terbaring lemah.
"Ah.. douzo.." katanya menyilahkan aku masuk.
"Namaku Kuroko Tetsuya, mulai sekarang aku yang akan merawat anda, Akashi-kun," kataku membungkukkan diri.
"Kuroko sensei desu ne... yoroshiku onegaishimasu," katanya ramah.
Aaah.. Yokatta. Batinku, orang ini sepertinya tidak merepotkan.
"Ah, mazu wa... Aku akan mengukur tekanan darahmu, sumimasen," kataku sambil melingkarkan alat tensi di tangan Akashi.
Rendah sekali... tidak heran dia terlihat sangat lemas. Lagipula disini juga tertulis ginjalnya kurang berfungsi dengan baik. Hanya sebuah ginjal, yang satunya sudah didonorkan sebulan yang lalu. Ahk.. lebih tepatnya dijual, dia hidup sendiri dan sangat membutuhkan uang untuk tetap menjalankan bisnisnya yang mulai bangkrut.
Hari demi hari berlalu, aku dan pasienku sudah mulai akrab. Dia bahkan memintaku untuk memanggilnya Sei-kun. Dan aku pun memintanya untuk memanggilku Tetsuya, tanpa sensei. Yahh.. memang umur kita sebaya, jadi rasanya aneh kalau memanggil dengan nama marga masing-masing.
Hari ke-4... Kondisi Sei-kun sudah mulai membaik. Sore itu aku sengaja mengajaknya berjalan-jalan ke sekitar rumah sakit yang berada di wilayah asri itu, tentu saja, dia memakai kursi rodanya dan aku mendorongnya dari belakang. Kasihan dia berada di ruangan terus.
"Ahh..." Akashi menghela nafasnya, "Sejuk sekali, apa kau sering kesini?"
Aku mengangguk, "Saat aku merasa penat dan bosan"
"Hm.. pasti kau sangat sering kesini," katanya tersenyum tipis.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kondisiku yang lemah dan ruang gerakku yang terbatas hanya bisa membuatku memperhatikan orang-orang, dan kurasa... kau sering merasa tertekan oleh rekan-rekanmu. Iya kan?"
Aku tersenyum... "Kau memperhatikanku ya?"
DEG.
Apa yang barusan kukatakan? Sudah jelas tadi Sei-kun mengatakan dia memperhatikan orang-orang. Pipiku seketika memerah.
"Maa... Kurasa begitu," katanya enteng.
"Eh?" Aku semakin salah tingkah.
"Entahlah, aku merasa senang melihatmu," katanya memberikan senyum tulus padaku. Kurasakan panas mengalir di pipiku, kenapa aku jadi salah tingkah begini?! Kupalingkan mukaku, tidak mau membiarkan Sei-kun melihat wajahku yang mungkin sudah seperti kepiting rebus saus mayonaise.
"Kau berbeda dari yang lainnya Tetsuya. Kau lebih hidup... aku jadi merasa termotivasi."
"Um... Arigatou," entah kenapa aku merasa sangat senang. Bagi dokter pemula sepertiku... kata-kata itu membuatku seperti... anak kecil yang mendapat tiga truk permen gula. Tapi aku tetap menjaga poker face-ku. Padahal aku ingin sekali memeluk orang ini dan mengatakan terimakasih berulang kali sampai besok pagi.
"Ja... kita pulang.. sudah mulai gelap," kataku bersiap membalikkan kursi Sei-kun. Tapi dia memintaku untuk menunggu sebentar. Sei-kun menjejakkan kedua kakinya ke tanah. Sepertinya dia ingin berdiri. Aku hampir mencegahnya, tapi melihat keinginan kuat yang terpancar dari wajahnya, akupun membiarkannya mencoba.
Sei-kun terlihat sangat kesusahan untuk berdiri, tangannya gemetar menopang berat badannya, sebelum akhirnya dia benar-benar berdiri.
"Aaah... pegal sekali rasanya kakiku," katanya sambil meregangkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Hati-hati Sei-kun.." kataku penuh khawatir.
"Tidak ap..." baru saja kukatakan untuk hati-hati, Sei-kun tiba-tiba rubuh. Aku sempat melingkarkan tanganku ke Sei-kun, tapi tidak kusangka, dia cukup berat, jadi kami berdua jatuh bersama. Ahh... sial, aku merasa seperti di sebuah drama.
"Da...Daijoubu?" kataku masih dalam pose tadi.
"U..un.. gomen ne..." katanya terlihat kesakitan. Matanya tertutup menahan sakit.
"Gomen janai yo.. ayo kita kembali," kataku bersiap mengangkatnya kembali ke kursi roda. Tapi dia menghentikanku, tangannya memegang erat tanganku. Jantungku berdegup lebih kencang. Lebih kencang, lebih kencang 100 kali. Ini tidak normal.. menurut medis ini tidak normal.
"Arigatou Tetsuya..." Katanya mulai membuka matanya perlahan. Sejenak aku merasa sangat nyaman. Tatapan Sei-kun... aku tidak bisa menahannya. Tatapan hangat itu... semakin mendekat. Dan mendekat. Aku tidak ingin lari. Aku ingin semakin dekat. Dan..
"Ah.. Gomenasai..." Ucap kami berbarengan. Sepertinya kami sudah berada di dunia nyata lagi. Kenapa.. kenapa tidak jadi?! Eh.. Ada apa denganku. Kami berdua salah tingkah. Astaga... apa aku mulai menyukainya?
.
.
.
.
.
TBC
Gimana? maaf yah characternya OOC banget /\
RnR yah /\
ini cuma 2 chap a
chap berikutnya... rasakan feels nya! #plak XD
