Chap terakhir ;;u;;semoga feelsnya dapet :')

Chap 2~ Douzo~

.

.

.

"DIMANA AKASHI SEIJUUROU?!" Aku berteriak di sepanjang koridor. Menanyakan keberadaan Sei-kun pada orang-orang berseragam yang lewat.

Sial... Hari ini aku kesiangan. Bangun tidur aku segera bersiap dan langsung lari ke rumah sakit. Tadinya aku ingin menyapa Sei-kun lebih dulu. Tapi kulihat kamarnya sudah kosong dan rapi. Aku bertanya pada suster yang ada disitu, tak ada satupun yang mau menjawab.

Kuputuskan untuk pergi ke ruangan Midorima sensei.

BRAKK!

Ehh... Nani... aku melihat Kise sensei juga disitu. Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.

"Ah... kebetulan kau datang Kuroko sensei," kata Midorima sensei.

"Kenapa kau terlambat?" tanya Kise sensei ketus.

Aku tidak mempedulikan pertanyaan senior yang kusegani itu, "Dimana Akashi Seijuurou?"

Mereka berdua terlihat shock. Aku yang dikenal penurut dan sopan itu kini menatap tajam Midorima sensei setajam silet(?)

"Anak itu..." Kise sensei tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Aku merasa sesak. Kami-sama... kumohon, ini tidak seperti yang kupikirkan...

"Dia meninggal tadi pagi, kira-kira pukul 3.30" kata Midorima sensei.

Lututku lemas...

Jadi... tadi malam adalah...

"Dimana dia dimakamkan?" suaraku bergetar.

"Kenapa kau begitu peduli padanya?" tanya Hiza sensei.

"Dia... Karena dia pasien pertamaku,"

Dan juga cinta pertamaku...

"Pemakaman umum yang ada di bukit dekat planetarium kota ini. Sesuai dengan apa yang dia tulis disini," Kise sensei berubah jadi orang yang ramah, tapi aku tidak punya waktu untuk memujinya. Aku segera merebut kertas yang dia sodorkan padaku. Aku tidak mau membacanya, aku segera melangkahkan kakiku keluar.

"Matte..."

Kise sensei menghentikanku, "Dia juga menaruh rekaman suara ini di atas kertas itu, aku tidak sempat menyetelnya," katanya.

Aku mengambil alat itu, menganggukan kepalaku dan bergegas menuju pemakaman yang disebutkan Kise sensei.

.

.

.

Akashi Seijuuro.

Tertulis jelas di atas nisan itu.

Semua kenangan tentang pertemuan kami yang singkat berkelebat di pikiranku. Aku memejamkan mataku, harusnya gelap... harusnya aku tidak melihat apapun... tapi senyum Sei-kun terukir di situ.

"NANDE?!" aku berteriak. Seakan menumpahkan kekesalan dan penyesalanku. Kenapa? Kenapa begitu singkat aku bertemu dengannya? Aku menyesali kebodohanku... harusnya aku lebih sering memeriksa catatan kesehatannya... kenapa?! Kenapa Sei-kun tidak memberi tahu apapun padaku?! Atau aku yang tidak peka?!

Kami-sama...

Kenapa kau lakukan ini padaku?!

Saat aku menemukan orang yang kukira bisa menemani kesendirianku...

.

.

.

Hari itu aku bolos kerja.

Dengan lunglai kulangkahkan kakiku ke tempat dimana aku membawa Sei-kun pertama kali. Kubaringkan diriku di atas rumput yang lembut itu. Tidak jauh memang dari rumah sakit yang bising oleh pasien yang kesakitan. Tapi hanya kurasa hening. Hanya aku dan senggukku.

Waktu itu pukul 06.34

Kulihat bayangan saat aku menangkap Sei-kun yang tidak bisa menjaga keseimbangannya. Kuingat kembali bagaimana pipiku memerah karena hangatnya hembusan nafas Sei-kun menyentuh pipiku. Tapi sekarang yang kurasa hanya hangat air mataku yang mengalir deras.

Ah iya... rekamannya... kuambil alat perekam yang dititipkan Sei-kun pada Kise-sensei untuk-ku.

Kutekan tombol play...

Hanya suara burung berkicau yang terdengar. Lalu terdengar sebuah suara

Moshimo boku ga shinde shimattemo Yoru wa hoshi wo nagameteokure Waratteru darou sore ga boku da yo Issho ni waratte okure Hora goran kanashikunai daro

Air mata ini tiba-tiba menetes setelah mendengar apa yang Sei-kun katakan…

Moshi moshi..Tetsuya..

Gomen ne.. karena aku tidak memberitahumu apapun. Tapi.. itu karena aku ingin bersama Tetsuya yang sebenarnya. Aku tidak mau membuatmu khawatir. Aku ingin bersama Tetsuya yang hidup.

Aku tahu aku tak akan lama lagi di sampingmu, jadi aku membuat rekaman ini khusus untukmu. Hehe... berlebihan ya..

Tapi selama ini untuk Tetsuya, aku akan melakukannya.

Karena aku menyayangimu.

Jadi dengarkan aku...

Pandanglah bintang di langit malam hari...

Mereka tersenyum kan? Itu aku...

Tersenyumlah bersamaku... lihat, tidak menyedihkan kan?

Arigatou ne, Tetsuya.

Hening.

Hanya ada isakku.

Tapi tangisku sudah berhenti.

Aku memandang langit yang sudah gelap. Kupandangi bintang yang bertaburan itu satu persatu.

"Kau benar Sei-kun... mereka tersenyum padaku... ah.. bukan... itu kau kan yang memberiku senyuman. Aku mengerti sekarang Sei-kun... kau tidak mengucapkan sayounara... karena kau akan selalu ada disini."

Kutaruh tanganku di dada dan memejamkan mata. Hembusan angin malam itu terasa seperti belaian Sei-kun. Ini tidak normal... menurut medis ini tidak normal... ahh... memang tidak normal, karena ini tidak ada hubungannya dengan medis dan logika.

"Sei-kun, aku akan terus tersenyum bersamamu.

Aishiteru yo.. Sei-kun"

.

.

.

.

.

END

Gimana Minna-san? :"""

feels nya dapet ga? :"" menutut Author sih enggak dapet :""

kayak ada yang kurang"" tapi Author udah nyerah buat ngedit" lagi #slap

Review yah :"D