"Pokoknya Kook-ie mau berhenti naik jemputan!"

Nada merajuk yang berasal dari seorang bocah remaja lantas membuat lawan bicaranya begitu pening mendengar kalimat berulang yang menusuk gendang telinganya. Salah apa aku Ya Tuhan, kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini pada hambamu yang begitu tampan ini. Oke, mari abaikan isi hati seorang Kim Seok Jin.

"Tapi sayang, jarak sekolah dengan rumah kita 'kan jauh. Apalagi sudah mendekati musim hujan— Appa khawatir kalau nanti Kook-ie kehujanan di jalan." Sang Ayah mencoba untuk terus bersabar, katanya 'sih biar barokah.

"Appa jahat! Appa gak ngerti rasanya naik jemputan! Kook-ie 'tuh gak bisa diginiin." Anaknya mulai berulah lagi. Tolong, sejak kapan Jungkook yang terkenal polos, baik hati, dan penurut jadi melankolis begini? Dan setelahnya —BRAK! Pintu kamar sang anak tertutup rapat, tepat di depan wajah Seokjin yang katanya tampan itu.

"Taehyung-ie, cepatlah pulang." Batin Seokjin merana.

.

.

.

Our Absurd Life.

Main Character(s) : Kim Seok, Kim Taehyung with kid!Jungkook.

Other Character(s) : BTS members.

Genre(s) : Family, Humor(fail), Romance(fail).

Disclaimer : Semua cast yang ada disini milik mereka masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja, untuk kelangsungan cerita.

Warning(s) : OOC, Typo(s), Marriage!AU, Yaoi. I told you, guys! Be the nice readers :)

HAPPY READING~ :)

-000-

.

.

.

At Morning, Friday.

。。。

Seokjin menguap. Untung saja ia segera menutup mulutnya. Kalau tidak aroma memabukkan yang keluar dari mulutnya bisa tercium oleh kalian. Yah, khas orang bangun tidur pasti baunya sedap, bukan? Sebenarnya ia enggan untuk membuka mata pada pagi hari seperti ini— apalagi kerjaan di kantor sedang berstatus 'santai'. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa Seokjin bisa tidur sepuasnya sekarang.

Namun perkataan sang tercinta terus berputar di dalam pikirannya; "Jangan lupa bangunkan Kook-ie tepat pukul 5 pagi! Tidak boleh telat ataupun terlalu cepat. Atau kau akan menerima 'hadiah' dariku, hyung."

Ringisan pelan selalu dirapalkan saat mengingat titah mutlak sang 'istri'. Rasa sayang juga cinta yang tulus membuat Seokjin mau tidak mau menuruti apapun kata yang diperintahkan oleh Taehyung. Suami yang baik bukankah harusnya begitu?

Ah, ngomong-ngomong Jungkook masih marah tidak, ya? Perihal acara Kookie-tuh-gak-bisa-diginiin tadi malam membuat Seokjin menyendiri alias tidak ada yang menemani. Bisa saja ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar sang anak waktu itu —karna adanya kunci duplikat— tetapi Seokjin masih sayang umur. Walaupun sudah beranjak kepala tiga, Seokjin tetap terlihat awet muda 'kok. Macam om-om hidung belang, oke, abaikan kalimat ini.

Yah, karena pengalaman memang berguna. Saat waktu silam, Seokjin pernah juga mengalami hal serupa— tapi beda alasan. Dulu masalahnya itu appa-jahat-gak-mau-beliin-kookie-bajaj. Bayangkan saja, memangnya ada kendaraan macam itu di Korea?! Seokjin hampir terjun dari lantai tiga rumahnya saat mendengar permintaan sang anak yang begitu awesome.

Sungguh, itu hal ter-absurd yang pernah ia dengar— namun masih banyak 'sih hal-hal aneh yang ada pada keluarga ini. Mari, kita berlanjut lagi pada masa sekarang. Jangan flashback mulu 'deh, nanti gak bisa move-on 'kan bahaya. eaaa.

"Kook-ie, anakku yang paling appa cintai sehidup semati, appa masuk 'ya, nak?" Seokjin mencoba merayu sang anak sambil mengetuk pintu kamar Jungkook.

Hening.

Tidak ada sahutan dari dalam sana. "Kim Jungkook? Kau masih marah pada appamu, ya?"

Masih hening.

"Jangan marah sayang, appa hanya ingin keselamatanmu terjamin. Kalau naik jemputan 'kan appa maupun eomma bisa tenang menunggumu pulang di rumah."

Tidak ada respon.

Seokjin mulai panik, langsung saja ia membuka pintunya— yang ternyata tidak dikunci. Ia terkejut saat ranjang yang seharusnya ditempati sang anak malah kosong tak berpenghuni. 'Jangan-jangan kabur?! Ah tidak, Jungkook anak baik. Tidak mungkin karena masalah sepele begini ia kabur dari rumah. Tenang Jin, tenang…'

Seokjin menenangkan diri sendiri. Namun tidak bisa, karena rasa khawatirnya semakin besar kala ia memeriksa setiap sudut kamar Jungkook, tetapi sama sekali tidak terdeksi dimana keberadaannya saat ini.

'Tuhan, cobaan macam apa lagi ini…'

Apakah ia harus menghubungi kantor polisi? Tim FBI? CIA? Atau bidan? Lah, kenapa bidan dibawa-bawa. Seokjin mulai bingung harus memanggil siapa. Sementara Taehyung masih belum pulang sejak kemarin, oh, haruskah ia menelpon sang istri perihal kejadian ini? Tapi, ia tidak mau mengganggu waktu sang istri. Jadi biarkan Seokjin menjadi super appa sekarang.

Ah, tunggu. Sepertinya ada satu tempat yang belum ia periksa. Segera saja Super-Jin-Appa melesat terbang ke area terakhir yang sekiranya menjadi tempat terlacaknya seorang bocah bernama Kim Jungkook— balkon kamar.

DEG— Seokjin mematung. Objek yang dilihatnya saat ini membuat hatinya terasa pilu. 'Ini… pasti bohongan,' Seokjin membatin dan mencoba berpikir positif seraya mendekat ke arah objek di depannya. Ia melihat kain panjang yang terjuntai dari tiang balkon menuju ke bawah balkon. "Kook-ie!"

Teriakan histeris dari sang appa terdengar menyedihkan ketika ia memeluk tubuh sang anak yang tampak tergeletak di lantai balkon kamarnya dengan lilitan kain tadi di sekitar lehernya. "Jungkook bangunlah! Mengapa jalan pikiranmu sependek ini, nak. Mengakhiri hidupmu dengan gantung diri? appa tidak percaya ini. Cepat bangun!"

Tak ada respon. Seokjin makin kelimpungan. "Maafkan appa Kook-ie! Appa tidak tahu sebegitu inginnya 'kah kau berhenti naik jemputan sampai melakukan hal nekat begini. Ayolah, bangun! Jangan bercanda seperti ini! Tidak lucu!" Ia menepuk-nepuk pipi sang anak keras agar bocah itu berhenti bermain-main seperti ini.

Masih hening.

'Ini… nyata?' Seokjin bergeming. Ia tak kuat lagi untuk menumpahkan liquid bening yang menumpuk di kedua kelopak matanya, sebentar lagi ia akan—

"Kokie-yaaaa!"

—menangis.

Seokjin tidak menyangka. Benar-benar di luar ekspetasi. Seorang Kim Jungkook yang terkenal polos dan mendapatkan peringkat dua saat semester lalu rela mati karena tidak diiznkan berhenti naik jemputan oleh appa-nya. Serius, pikirannya kosong sekarang— dan tetap setia memeluk sang anak remaja dengan erat. Berat untuk meninggalkan. KENAPA DUNIA INI BEGITU KEJAM, TUHAN!

'Apa yang harus kukatakan pada Taehyung nanti— aku jahat. Ya, seorang appa yang jahat—'

"Appa sedang apa?!"

'Walaupun Kook-ie sudah tidak disini. Tapi aku masih bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas. Apa ia menyanyangiku?'

"Appa! Kook-ie tidak bisa bernapas!"

'Iya, appa tahu nak. Kamu 'kan sudah mati, mana mungkin bernapas lagi. Tenanglah di alam sana, appa selalu mendoakanmu.'

"APPA SADARLAH! ANAKMU INI SEKARAT!"

—eh?

Itu suara Jungkook 'kok terasa dekat sekali ya. Saking dekatnya seperti diteriaki langsung. Lho, jangan-jangan—

"APPA MAU MEMBUNUH KOK-IE?!"

Seokjin mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk —mendoakan Jungkook— seraya melepaskan pelukan super eratnya pada Jungkook. Bola matanya terbelak kaget melihat Jungkook yang kini tengah mengambil oksigen dengan rakus. Hampir saja dirinya beneran mati.

"Kook-ie… 'kok, h-hidup lagi?"

"MAKSUD APPA APA 'SIH? KOOK-IE GAK NGERTI— Hosh, hosh…" Sewot Jungkook sambil tetap menstabilkan deru napasnya.

Senyum lebar menghiasi wajah Seokjin dan tanpa memikirkan sang anak yang kembali sekarat karna dipeluk erat —kali ini lebih erat— lagi.

"ALHAMDULILLAH! KOOK-IE KAU MASIH DISINI! APPA HAMPIR JANTUNGAN KALAU KOOK-IE BENERAN MATI! "

Jungkook melongo a.k.a cengo. Sungguh, setelah insiden tadi malam —ketika Jungkook meminta berhenti naik jemputan— Jungkook tidak menyangka bahwa Ayahnya menjadi stress begini. Oh, atau karena faktor tidak adanya Taehyung juga berpengaruh pada mental seorang Kim Seokjin? Jungkook berpikir keras akan kewarasan sang appa yang patut dipertanyakan.

"Maafkan appa Kook-ie. Appa setuju-setuju saja kalau kau ingin berhenti naik jemputan. Appa janji tidak akan melarangmu lagi, yang penting kau bahagia anakku. Dan jangan mencoba untuk kembali mengulang yang seperti tadi." Ucap Seokjin sambil mengelus sayang pucuk kembali anaknya yang masih dalam mode cengo.

Eh, tapi. Serius Seokjin setuju tentang keinginan Jungkook? Bocah remaja yang masih dalam pelukan sang ayah menyeringai kecil. Walaupun sejujurnya ia sama sekali tidak mengetahui seluk beluk akan kenapa-appa-nangis-dan-setuju-atas-keinginannya, Jungkook tidak peduli. Yang penting Seokjin sudah setuju, jadi tidak perlu mengadu pada eomma, 'deh. Pikir Jungkook.

"Appa serius?"

"Iya, sayang."

Jungkook sumringah, "Gomawo appa!" —CUP. Pipi sebelah kanan Seokjin mendapat ciuman selamat pagi dari sang anak.

"Aku harus siap-siap sekolah, appa. Kook-ie mau mandi! Nanti keburu jemputan yang baru datang~" Bocah remaja itu langsung saja pergi meninggalkan Seokjin yang terdiam— masih di balkon.

Tadi kalau tidak salah dengar… anaknya bilang jemputan baru? OH. Jadi Jungkook meminta untuk berhenti naik jemputan karena ingin naik jemputan yang baru. Seokjin menggeleng maklum. Padahal kalau tadi malam Jungkook mengatakan alasan tersebut, pasti Seokjin langsung setuju saja, toh sang anak tidak akan berjalan kaki ke sekolah. Mungkin ia bosan kalau naik jemputan yang lama. Mencoba suasana baru mungkin? Entahlah. Seokjin tidak mengerti jalan pikiran sang anak.

'Taehyung-ie, anak mu yang satu itu benar-benar hampir membuatku jantungan.'

。。。

Terlihat ayah dan anak itu sedang menikmati sarapan bersama. Mungkin sedikit sepi karena biasanya mereka makan bertiga— tetapi yasudahlah, yang penting tidak sendirian seperti orang-orang jomblo ngenes diluar sana.

"Appa, eomma kapan pulang?" Pembicaraan di pagi hari dibuka oleh sang anak.

"Entahlah. Eomma-mu belum memberi kabar, appa harap secepatnya." —karna appa rindu.

"Kook-ie juga! Kook-ie rindu eomma~" Seokjin tersenyum kecil melihat Jungkook yang tampak cemberut. "Memangnya eomma ngapain 'sih ke Busan? Bukan buat selingkuh 'kan, appa?"

JLEB— pertanyaan kok sakit ya. Please, ini pasti karna pengaruh pacarnya Jungkook—Seojin tidak mau mengakuinya—yang menularkan virus-virus 'dewasa' pada anaknya yang polos.

"Tidak, sayang. Eomma-mu tidak mungkin selingkuh. Ia cinta mati pada appa." Jawab Seokjin enteng.

Jungkook hampir mengeluarkan isi perutnya saat mendengar jawaban tadi. "Ewh~ appa percaya diri sekali. Di Busan 'kan orangnya tampan dan cantik, lho."

Ini anaknya 'kok malah ngompor-ngomporin ayahnya sendiri supaya cemburu? "Eomma-mu itu tipe yang setia. Lagipula tidak ada yang setampan appa. Kook-ie emangnya mau kalau eomma meninggalkan appa dan membuat keluarga baru?"

"Mau aja,"

JLEB JLEB— tadi itu lebih nyelekit. Kuatkan hati Seokjin ya tuhan.

"tapi Kook-ie ga mau punya appa baru. Soalnya Kook-ie sudah nyaman tinggal bertiga di rumah ini~"

Bagaikan pelangi yang muncul saat hujan reda, Seokjin begitu bahagia mendengar ucapan tulus yang terlontar dari mulut sang anak.

TIN TIN— Bunyi klakson mobil terdengar dari luar. Oh, apakah itu jempuatn baru yang dimaksud Jungkook?

"Nah, sudah datang! Appa aku berangkat ya!" Jungkook menggendong tas sekolahnya dan meninggalkan kecupan yang kedua kalinya pada sang appa, yang kali ini di pipi sebelah kiri.

"Hati-hati di jalan, nak!"

Suara pintu tertutup terdengar oleh Seokjin. Sang appa mengendap-endap berjalan menuju jendela besar depan rumah— mencari tahu seperti apa jemputan baru itu. Dan ia menggerutu. Sial, ternyata si J—fake—Hope itu yang menjemput anaknya. Berani sekali bocah bernama asli Hoseok itu membawa anaknya. Seokjin harus memberikannya sedikit pelajaran.

Tiba-tiba lampu imajiner mampir di atas kepala Seokjin. Ia punya ide. Seringai jahat terlihat.

Waspadalah, nak Hoseok. Dan, berbahagialah Jungkook karena ia dapat berangkat sekolah bersama sang pacar hari ini!

END

.

.

.

Haohaaa! Ketemu lagi sama Kay~ hehe. Sebenernya ini iseng aja sih, karena malming kali ini begitu sepi /eaaa.

Nah, sekedar info aja kalau fic ini bukan cerita bersambung. Jadi sekali story langsung end. Semacam oneshoot gitu. Dan cerita ini akan mengeluarkan kisah-kisah baru keluarga Absurd nantinya. Di update kalau Kay lagi mood dan ide cerita ngalir /slapped. Request? Boleh~ Kay malah seneng kalau ada yang ngasih ide cerita. Biar nanti saya kembangin, hohoho.

Terimakasih bagi yang sudah membaca juga review sebelumnya!

Maafkan jika fic ini begitu maksa dan aneh /bow/

Sampai bertemu di kisah yang lain!

Review, please?

Salam hangat,

-Kay-

'