Disclaimer: Not own anything.
Hmmm...sudah sebulan, tumben agak cepat ni chapter. Yah...lagi pengen sih ngerjain yang ini. Suntuk dengan cerita yang lainnya.
Terimakasih sudah mereview chapter yang kemaren. Saya sangat menghargai, meskipun ada yang tidak saya balas, tapi saya baca kok reviews kalian-kalian. Untuk usulan meskipun tidak terlalu saya pertimbangkan, namun saya memikirkannya bersamaan plot cerita ini. Jika kemungkinan dan suatu keajaiban saya bisa membuat plot yang sesuai dengan keinginan saya. Berharap bisa berhasil atau nggak...bagus atau jelek...atau terlihat dipaksakan atau terlihat alami...
Hal itu saya pertimbangkan. Saya bukan tipe Author yang suka memberikan Harem kepada MC karena gadis/wanita yang bersangkutan cantik atau mempunyai body-killer. Namun, saya lihat dulu karakter mereka, apakah bisa atau nggak. Saya mencoba untuk membuat sang tokoh memiliki karakter yang sama dengan canonnya. Ok terimakasih untuk mendengar...
"Hoo...begitu, begitu." Naruto menepuk-nepuk punggung pemuda di sampingnya.
Sementara orang yang melihat itu hanya bisa terdiam, karena memang tidak tahu harus berkata apa.
Kini mereka berada di dalam Penginapan Izumo tersebut. Dengan Naruto berada di seberang meja, bersama Minato yang tepat di sampingnya. Sedangkan Akitsu berada di samping kiri Naruto. Musubi yang merupakan Sekirei Minato pun tidak ambil diam, mencoba mengajak bicara Akitsu yang saat ini seperti melamun.
Dan tentu saja usaha Musubi untuk memulai perbincangan dihiraukan Akitsu.
"Ara ara... Naruto-san, aku tidak tahu kamu memiliki masa lalu dengan Minato.." Miya melanjutkan pembicaraan, serasa tertarik mendengar kisah masa lalu antara penghuninya dan tetangga barunya.
Naruto hanya tertawa dengan lebarnya sambil menggaruk lehernya.
"yap, begitulah. Minato merupakan teman baikku saat SMP.."
"bukan! kau Yankee!" Minato berteriak dalam mode-penolakan.
"dia selalu membantuku dalam segala masalah, selalu membantuku membawa barang-barangku. Dan juga selalu membelikan minuman dan makanan untukku. Dia sahabat yang bisa kuandalkan.." Naruto menghiraukan ucapan Minato awalnya.
"Dengan kata lain dia ...kacungmu." Dengan blak-blakan, Miya menyimpulkan.
"Masa sih? Padahal dia selalu saja nurut jika kusuruh membelikan makan siangku di Kantin..." Naruto mengusap air mata buaya dari ujung matanya, "Padahal aku selalu menganggapmu sebagai sahabat...ternyata begini ya... setelah beberapa tahun tidak bertemu..."
"Sahabat dengkulmu, aku melakukan semua itu karena kau mengancam akan menjahiliku jika aku tidak melakukannya! Dan itu terbukti seperti Mori-san yang sekelasku pada saat itu, entah mengapa setelah ia datang ke kelas, cat oranye dan bulu ayam sudah memenuhi tubuhnya! Dan hari itu masih kuingat. Saat itu Mori-san menolak membelikan kau minuman!"
"Ah..." Naruto menepuk tangannya serasa mengingat sesuatu, "...Aku tidak ingat...dia yang ke berapa ya? Ke-tiga-ratus-eee..."
"TUH, KAN!"
Naruto hanya menghela nafasnya...
"Tapi...itu kan masa lalu... tidak baik kita mengingat hal buruk yang terjadi di masa lalu. Kita sekarang sudah tumbuh dewasa dan menjadi Pria.." Naruto menghentikan perkataannya, "Eh, kau belum menjadi Pria, kamu masih bocah.. belum melakukan 'itu' kan? HAHAHAHA~ Jadi teringat nih, saat kamu nembak cewek di kelas sebelah pas kelas 3 SMP...tapi karena kau terlalu gugup, kamu malah nyatakan cinta ke ketua Basket yang katanya Gay itu HAHAHAHA."
"AHHHH! 'tidak baik kita mengingat hal buruk yang terjadi di masa lalu' -Kau aja masih mengungkit masalah itu!" Minato dengan nada yang serak membalas perkataan Naruto. Mencoba untuk mengganti topik pembicaraan selain.
Miya menyembunyikan senyumannya di balik kain pakaiannya, mendengar canda tawa yang keluar dari mulut Pria berambut kuning tersebut. Sepertinya ia salah menganggap akan orang yang di depannya. Miya menyadari sesuatu dan melihat jam yang berada di dinding..
"Ah sepertinya sudah waktunya jam makan..."
"Begitu ya, sebaiknya kami pulang du-" Naruto hendak beranjak dari posisi duduknya, mengingat jam yang sudah menunjukan waktu cukup larut. Ia tidak ingin mengganggu aktifitas tetangga barunya. Namun, Naruto menghentikan aksinya ketika melihat tatapan dari wanita berambut ungu tersebut.
"Maukah kalian bergabung untuk makan malam?"
Naruto memijat dagunya dan melihat Akitsu... mengingat jadwalnya...
"Maaf merepotkan..."
XXXXXXXX
Mata Minato melebar melihat sosok yang berada di seberangnya, ia pun melihat Musubi, sekireinya yang tidak mau kalah dengan kompetisi dengan Pria berambut kuning tersebut. Ia pun melihat Wanita berambut kecoklatan yang sepertinya merupakan sekirei dari 'teman' lamanya. Kecepatan tinggi dari kedua tangan pria tersebut seperti membuat ilusi yang membuat jantungnya hampir copot untuk kedua kalinya.
Yang pertama adalah 'topeng' pemilik penginapan.
Dan yang kedua adalah..
"Waah~ Naruto-san, tanganmu menjadi enam!" Musubi dengan mata berbinar-binar melihat Naruto yang sedang makan dengan kecepatan tinggi. Saking cepatnya Naruto menyantap makanan yang berada di depannya, terciptalah bayangan tangan yang berada di belakangnya dan semuanya memegang sumpit. Dan seperti banyaknya tangan tersebut...
Makanan yang berada di depannya juga menipis dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
"Hei, itu punyaku!" Minato berusaha mengambil daging kecap yang tadinya berada di piringnya dari sumpit Naruto. Namun sepertinya, hal itu tidak berhasil...
"Siapa cepat, dia dapat." Naruto menghiraukan tatapan yang diberikan orang-orang kepada dirinya. Matanya menoleh sebentar ke Akitsu, "Hei, kau tidak makan?"
Wanita yang disebutkan hanya menatap Naruto datar..."...Aku menunggu Tuan...setelah itu aku baru makan apa yang disisakan.."
Naruto menghela nafasnya, dengan kecepatan yang tidak biasa. Potongan daging yang terlihat enak sudah berada di sumpitnya.
"Buka mulutmu.."
Akitsu hanya memiringkan kepalanya mendengar permintaan aneh dari Tuannya, tanpa banyak pikir-panjang; Akitsu membuka mulutnya...
"Gimana? Enak kan?"
Akitsu terdiam sebentar, merasakan tekstur daging empuk yang berada di mulutnya. Rasa manis dan sedikit pedas terasa di lidahnya...
"Enak..."
"Benar kan? Akitsu...jika kamu mau makan...makan saja. Kau tidak perlu menungguku atau apa... aku tidak akan melarang atau memarahimu, karena apapun yang kamu minta akan kuberikan." Dengan gampangnya, kata-kata itu keluar dari mulut Naruto. Hal itu memang benar, jika masalah uang, hal itu mudah untuk diselesaikan.
"Ara...sepertinya kamu tidak pernah diajari tata-krama saat makan...Naruto-san."
Aura aneh memenuhi ruangan itu. Sebuah topeng 'Hannya' muncul di samping wanita berambut ungu tersebut.
Dan semua menjadi tegang. Minato seperti hendak pingsan, dan Musubi bersembunyi di belakang Ashikabinya. Sedangkan Akitsu...perlahan namun pasti mendekat kepada Tuannya.
Naruto...menutup matanya. Dengan sumpit yang masih menempel di mulutnya.
"Bukannya aku tidak bisa menggunakan tata-krama...Miya-san. Namun..entah mengapa masakanmu nikmaaaaat sekali. Aku sudah pernah merasakan dan mencicipi semua masakan yang ada di muka bumi ini. Dari tempat Matahari terbit, hingga ujung dunia...Namun, aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Sungguh hebat...bahkan Koki terhebat di dunia kalah dengan keterampilanmu. Aku tidak bisa mengutarakan satu patah katapun untuk mendeskripsikan Sajian para dewa ini..."
"Rayuan tidak akan membawamu ke mana-mana, Naruto-san." Miya membalas dengan nada datar. "Itu hanya daging sapi yang di masak kecap. Kau terlalu melebih-lebihkan.."
"NO NO NO NO. Aku sih...No." Naruto melambai-lambaikan jari telunjuknya. "Jangan terlalu merendahkan diri, Miya-san. Lidahku sudah terlatih untuk merasakan seribu rasa."
"Kau melebihkannya lagi." Miya menghela nafasnya, serasa kesabarannya mulai habis untuk menghadapi manusia dengan tingkah laku seperti orang di depannya. Namun, meskipun tidak menunjukannya, Miya juga sedikit terkejut dengan Pria berambut kuning itu, karena tidak merasa takut setelah melihat topengnya. Pertama manusia sampah bernama Seo, sekarang seorang yang tidak kenal tata-krama saat makan.
Naruto kemudian memalingkan pandangannya ke Minato yang sepertinya sudah kembali ke alam sadar. Menunggu air yang ia teguk masuk ke dalam tenggorokannya, Naruto kemudian menatap Musubi, dan bertanya...
"Jadi...Musubi-chan, apakah kalian telah melakukan...sex? mengingat kalian sudah dalam hubungan dan sebagainya.."
Musubi memiringkan kepalanya, dan menaruh jari telunjuknya ke sisi bibirnya. "Sex? Apa itu? Apa itu makanan?"
"WAA...Musubi-chan, jangan dengarkan orang berbahaya itu berbicara, nanti kau akan tercemar kekotorannya!" Dengan cepat, Minato mencoba untuk mengalihkan perhatian Musubi, Sekirei lugunya dari pembicaraan yang cukup dewasa.
'OI Pulang sana! Semakin lama kau berada di sini, semakin banyak ingatan masa lalu yang muncul ke permukaan!"
"Minato-chan~ gitu kah kamu sama sahabatmu yang super-duper-keren ini?"
Tanpa panjang pikir dan tanpa ragu-ragu, Minato menjawab;
"YA!"
"Akitsu-chan~ hatiku sakit. Minato tidak menganggapku sebagai sahabat lagi! Biarkan aku memelukmu~"
Wanita es itu hanya menatap aneh Naruto. Namun, membiarkan Naruto memeluknya dan menepuk-nepuk kepala Tuannya dengan lembut.
"...aman."
"Hehehehe...iya, Akitsu-chan...kamu membuatku aman...dan empuk."
Urat berkedut muncul di dahi Miya melihat aksi Naruto. Dia telah melanggar peraturan yang dibuat oleh dirinya. Peraturan mengenai larangan aktifitas yang berhubungan dengan seksual. Dan di sini, Pria itu dengan beraninya menunjukan aksi tidak tahu malu dengan manaruh kepalanya ke dalam belahan dada wanita tanpa ekspresi wajah tersebut. Dan dari nada suaranya yang mesum, Miya sudah tahu bahwa Pria itu menikmati setiap detik apa yang ia lakukan.
Meskipun bukan penyewa penginapan yang Suaminya bangun, namun Naruto berada di dalam bangunannya dan peraturan tersebut juga berlaku pada siapa saja yang menginjakkan kaki di penginapan yang dibangun Suaminya.
Miya mengeluarkaan wajan penggorengan entah-dari-mana, dan siap memukul Pria tidak sopan itu dengan sisi tumpulnya.
*PLANK!*
Mata Miya melebar sedikit, menambahkan sedikit tekanan dari kekuatan Sekireinya untuk menggerakan tangannya...yang sayangnya saat ini tidak bisa bergerak.
"Mou~ berbahaya, itu berbahaya Miya-san. Bagaimana nanti jika aku kena!?" Dengan sedikit histeris, Naruto menaikkan nada suaranya. "Nanti wajah tampanku akan rusak lagi, Akitsu jadi tidak bisa membanggakan tuannya yang keren. Dan...tentunya kamu akan kecewa bukan? Jika pria keren ini tidak tampan lagi?"
Meskipun maksud Naruto adalah membuat wanita di depannya semakin kesal. Sepertinya Miya sekarang lebih dari...kesal.
"Itu tujuanku..Sekarang biarkan aku memukulmu!" Meskipun tersenyum, Namun aksi Miya berbalikan dengan ekspresi wajahnya. Tidak kabur dari penglihatan, bahwa sisi wajan tersebut mulai...penyok dari pertahanan satu jari Pria-tidak-tahu-malu di depannya.
"Dan...Akitsu, tidak. Jangan ikut campur akan hal ini. Tidak berbahaya kok." Dengan wajah yang juga tersenyum, meskipun menahan tekanan dari Miya, Naruto menatap Akitsu, yang saat ini dalam sikap siap menyerang. Terbukti dengan hawa dingin yang terpancar dari tubuhnya.
Meskipun tidak terlihat oleh Naruto, namun di dalam, Akitsu merasa...sakit. entah mengapa? Kenapa tuannya tidak ingin dirinya dilindungi? Padahal wanita itu jelas-jelas memiliki niat jahat kepada tuannya. Namun Naruto-sama tidak ingin dirinya ikut campur...
Meskipun merasa enggan, namun itu perintah Tuannya, dirinya harus mengikutinya. Rasa sakit di dadanya entah mengapa semakin menguat...
Minato dengan keringat jatuh melihat perselisihan di depannya. Selama waktu singkatnya di Izumo, dirinya tidak pernah melihat seseorang yang berani berselisih dengan Miya... apalagi berani bercanda selevel seperti itu. Mengingat Naruto, ia merasa tidak perlu terkejut dengan hal ini. Naruto sudah tidak asing lagi di ingatannya.
Dari mengerjai murid. Guru. Kepala Sekolah. Bahkan yang cukup ekstrem adalah; tante-tante juga pernah di rayunya!
"Yoo, Miya-chan. Jangan terlalu marah dong. Nanti kamu cepat tua lagi, Cowok nggak suka sama cewek yang cepatan marah."
Naruto kini berlari di dalam penginapan tersebut. Diikuti oleh Miya yang saat ini memegang sendok besar besi, yang tujuannya untuk memukul kesadaran ke otak batu Pria di yang sedang berlari itu. "Aku tidak ada tujuan untuk menunjukan sisi baik kepada orang yang tidak mengenal aturan sepertimu. Lebih baik kau ke sini dan terima hukumanmu!"
"Tidak! Aku tidak akan menerimanya! Kau sadis! pantas saja kau masih perawan...Pff-AWWW!"
"KAU!"
"EH!? Benar ya? Padahal tadi aku hanya becanda lo." Naruto memiringkan kepalanya dan bisa melihat Miya yang semakin mendekat. Dengan Killer-intent yang siap membunuh siapa saja di jalanya. Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang sepert ini...
Dengan kelenturan tubuh dan kelincahannya, Naruto melompat 6 meter menuju pekarangan penginapan.
"Sekarang kau tidak bisa kabur lagi. Seiza! Dan akan kuberikan kau hukumanmu!"
Benar apa kata Miya, pagar dinding tinggi sekarang menghalangi pergerakan Naruto. Meskipun tersenyum lebar, Namun Naruto dengan perlahan melihat Postur tubuh wanita yang menggunakan pakaian tradisional Miko tersebut. Tidak ada cacat. Tidak ada celah yang terbuka. Apalagi saat wanita itu memegang sendok besar tersebut.
"EEHH...bagaimana kalau...tidak?"
"Maka...setelah ini berakhir, kau pun tidak akan bisa berjalan 7 hari 7 malam. Itu janji."
"Aku takut~" Untuk menambah efeknya, Naruto menarik wajahnya seperti baru melihat film horror. Dan tentu saja itu berhasil membuat Miya...semakin marah.
Dengan kecepatan tinggi dan sendok besar siap memukul, Miya menghilang. Dan tidak mengenai apa-apa...
Matanya melebar, dan sesuatu seperti menyentuh bokongnya...
"HEHEHEHE! Kau gagal Miya-chan. Akitsu! Ayo kita kabur!" Tidak perlu menunggu lama, sosok yang disebutkan sudah berlari dengan Naruto keluar dari pagar. Meninggalkan Miya yang terdiam di tempatnya. Minato yang dari tadi menyaksikan kejadian tersebut, kemudian menarik tangan Musubi untuk keluar dengan alasan mencari angin. Tidak ingin menyaksikan kemarahan sang pemilik penginapan.
Dan aura keunguan berkobar-kobar terlihat dengan jelas dari tubuh Miya. Dan membentuk topeng Hannya besar yang sepertinya membuat tumbuhan di sekitarnya mati layu.
"Tetangga bodoh."
XXXXXXX
Akitsu dengan pelan, menengadah ke atas langit. Suasana dan suhu yang panas pada malam hari itu tidak membuatnya terganggu. Karena tubuhnya bisa mendinginkan permukaan tubuhnya sendiri jika ia ingin. Saat ini ia berada duduk di kursi yang berada di tengah taman. Sedangkan Naruto saat ini pergi ke Mini-Market untuk membeli sesuatu. Padahal dirinya sudah mengatakan ingin ikut, namun Naruto mengatakan hanya sebentar..
"Hei, cewek cantik..." Akitsu menatap asal suara tersebut. Beberapa orang dengan tampang sangar dan juga tatapan yang aneh. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku menunggu Tuan."
"Hahahah kau dengar itu?" Pria dengan rambut di cat berkata pada temannya. "dia menunggu tuannya..."
"Bagaimana kalau ikut dengan kami?" Mata Pria itu kemudian turun kebelahan dada yang terlihat dari pakaian Akitsu. Tidak sadar menjilat lidahnya ketika melihat hal yang bergantung tersebut. "Kami janji..kok... kami akan memberikan kamu ingatan yang tak terlupakan. Daripada kau sendiri di sini? hehehe"
"...Tidak."
"Cih, sok jual mahal. Sudah paksa saja." Pria dengan badan bongsor kemudian memberi inisiatif.
Dan ketika Pria itu ingin menarik tangan Akitsu. Pria itu sudah terbang jauh, dan menghantam dinding. Dan pingsan...
"OI-" dan tanpa sempat memalingkan badan, satu persatu dari Preman itu sudah menghantam dinding yang sama. Membuat retakan laba-laba pada dinding bangunan toko tersebut. "Dasar. Berani amat megang-megang Akitsu, Cuma aku yang bisa.. Cihh!"
"Kau tidak apa-apa? Apa mereka mengotorimu!? Sini aku tendang lagi bokongnya!" Naruto hendak beranjak menuju tempat pingsannya para preman abal-abal tersebut. Namun tangan sudah memegang bajunya...
"Aku tidak apa-apa...terimakasih..." Akitsu tersenyum lembut. Senyum kedua kali yang membuat Naruto memalingkan wajahnya. Sialan, senyumnya cantik banget...
Dan kedua insan berbeda ras itu melanjutkan jalannya ke Rumah mereka yang baru. Merasa kemarahan tetangga barunya sudah mereda...
"Ah cuacanya panas banget lagi." Naruto melebarkan matanya, membuka kantongan plastik besar tadinya yang ia bawa. Dengan cepat Naruto mengeluarkan isinya, yaitu' botol sake. Dua buah bungkusan yang sepertinya es-krim, namun dari teksturnya itu sepertinya hal itu tidak bisa dikatakan sebagai es krim lagi deh...
"Uuuuuu~ aku lupa... gara-gara tadi, es-krimnya jadi mencair deh... udah panasnya begini lagi! Hah!"
Akitsu dengan diam melihat Tuannya yang sepertinya dalam mode-panik. Ia tidak mengerti mengapa tuannya harus bertingkah konyol hanya gara-gara masalah sepele seperti itu. Dengan pelan, Akitsu kemudian menunduk dan mengambil bungkusan es-krim tersebut. Dengan kiriman sedikit dari energinya...
Es-krim yang berada di bungkusan itu sudah kembali menjadi padat...
"...Tuan.."
"Ah...huahhh! Akitsu! Kamu memang yang terbaik!" Naruto mengambil bungkusan itu dn membukanya, memasukannya ke dalam mulut dan mulai mencicipnya dengan wajah orang masuk surga.
"Nih..."
Akitsu memperhatikan bungkusan kedua yang dibuka tuannya, tidak tahu harus apa... melihat gerak-isyarat yang ditunjukan tangan tuannya, Akitsu kemudian membuka mulutnya. Naruto dengan tersenyum kemudian menaruh es krim itu ke dalam bibir merah muda tersebut. Membawa perlahan jari Akitsu kemulutnya dan membiarkan wanita itu memegang tangkainya...
"...Enak."
Naruto tersenyum lembut, dan menaruh tangannya memeluk Akitsu lewat pundaknya. Dengan spontan atau refleks, Akitsu menempelkan tubuhnya ke Naruto lebih dekat. Merasakan kehangatan meskipun tubuhnya yang sangat dingin pada saat itu. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka...
Akitsu melihat sesuatu di dalam kantongan plastik itu...
"...Botol itu, untuk apa...Tuan?"
"Oh ini, tadi ada Nee-chan yang bergelantung di atas pohon tidur. Dan dia memegang botol Sake ini...jika jatuh, pasti kena orang kan? Jadi karena aku orang yang baik, makanya aku mengambilnya. Dan menyelamatkan orang dari bahaya yang mengancam mereka.."
N aruto meneguk sake tersebut..
"Uwaah...Enak juga. Nee-chan tadi memang punya rasa!"
Tanpa menyadari seorang wanita yang terbangun dari tidurnya saat ini sedang dalam mood yang tidak baik. Dan keliling Shinto-teito, mencari orang yang berani mengambil minuman kesayangannya...berjanji akan memberi pelajaran pada orang tersebut.
"ACHOOO!"
And done. Chapter four of Ninja and Sekirei. Tidak banyak yang mau saya katakan, namun enjoy. Jika sudah membaca, sisakan waktu kalian 5-10 detik untuk mengetik review. mengetahui bahwa cerita ini masih ditunggu oleh orang membuat saya semangat. Jika ada pertanyaan silahkan, jangan sungkan. Akan saya jawab kok...Tapi ingat...loe sopan, gw segan. Loe main bacot, ya gw bacok...
Jadi gunakan bahasa formal dan sopan jika ingin bertanya. Ok?
Saya sedang berusaha untuk menyeimbangkan cerita saya. Saya sekarang punya 11 cerita. Dan saya perlakukan sama, tidak peduli itu lebih banyak review atau fav, saya membuat semuanya adil agar dapat jadwal update bergantian. Saya tidak suka main publish namun cerita itu ditinggalkan dan melanjut cerita lain...harus ada keseimbangan dong. Paling tidak beda update semua cerita yaitu paling jauh adalah dua bulan. Karena saya akui, saya paling bisa membuat chapter, terserah itu cerita yang mana, palingan 5 update dalam sebulan. Berkisar satu chapter 2500-5000 words. Ya salahkan, kehidupan dan juga pacar saya yang minta perhatian terus. Ah...this a life...
TYPE YOUR REVIEW, HERE!
VVVVVV
V
VVV
V
