Disclaimer: Not own anything.
"Jangan kabur kau! Aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang kau lakukan!"
"Ogah!"teriak balik Seorang pemuda yang terlihat di akhir masa remajanya dan kemudian menghindari beberapa objek yang dilempar sosok sebelumnya. Suara keras dari bunyi barang bertabrak ke dinding, membuat seisi Rumah gaduh. Mereka ingin sekali memisahkan kedua orang yang berselisih itu, tapi mengingat kehancuran yang dibawa mereka sepanjang kejadian membuat masing-masing individual memikirkan niatnya kembali.
Sahashi Minato yang duduk di dekat pintu panel ruang utama hanya bisa tertawa gugup. Musubi yang merupakan Sekirei-nya harus ia tahan sendiri agar tidak bergabung dengan 'Pertarungan antar teman' yang ia sebut. Suara gaduh semakin mengeras dan mulai membuat orang-orang terganggu.
Apalagi seorang wanita berambut ungu yang saat ini duduk bergaya Seiza.
Jujur saja, melihat ekspresi dari wanita itu sudah ingin membuat Minato kabur ke ujung dunia dan tak pernah kembali lagi. Miya, yang pada saat ini duduk Seiza itu memiliki ekspresi yang tenang nan kalem layaknya wanita jepang yang didambakan banyak orang. Tapi jika melihat tatapan mata dan aura yang seperti berdansa di permukaan kulit tubuhnya membuat gambaran itu hancur dengan seketika.
Minato menghela nafasnya kembali merasakan tidak nyamannya suasana di kediaman yang ia tinggali. Semua gara-gara Naruto. Karena memang semua kekacuan dan keributan yang terjadi bersumber dari pembawa masalah itu. Naruto, yang merupakan Sahabat-bukan-sahabatnya. Pemuda berambut hitam itu kemudian menoleh ke arah wanita berdada besar yang merupakan Sekirei temannya.
Dari mana pun kau melihat, Akitsu sudah menunjukkan aura sebagai Sekirei, yang tentunya Minato tahu. Dirinya tidak sebodoh itu untuk tidak menangkap cara Akitsu memandang teman kecilnya pada saat ini, begitu juga dengan tato yang berada di dahi wanita itu. Yang memiliki corak hampir sama namun berbeda dengan Sekireinya, Musubi.
"Hyeaaa!"
Dan Naruto melompat gaya berenang di depannya, melewati meja makan tempat Asama Miya berada.
"Sial! Kembalikan punyaku!" seorang wanita kembali mengikuti lompatan dari Naruto. Berniat menangkap pembuat onar yang telah berani mencuri barangnya ketika ia menurunkan pertahanannya pada waktu lalu.
"Kalian! Berhenti!" Dan kedua tangan kasat mata milik Miya menangkap kerah baju masih-masing kedua individual yang bermain kejar-kejaran tersebut. Dengan tenaga yang Minato tidak pernah tahu berhasil menahan batu Naruto dan wanita yang belum ia ketahui namanya itu. Wajah yang berwarna tercekik akibat tekanan yang berlawanan tersebut membuat keduanya jatuh bersamaan di bawah Miya.
"Ee... Tante Miya, itu sakit banget..." Ucap Naruto dengan ekspresi kusam sambil mengelus lehernya yang sepertinya lecet. "Kalau aku mati gimana!? Akitsu akan sendirian tahu!"
Sosok yang dikatakan serasa terbangun dari lamunannya sesaat Tuannya menyebut namanya. "Ah..."
Tidak membantu sama sekali.
"Miya, lepasakan aku! Diriku belum selesai memberi pelajaran pada orang bego ini karena telah berani mengambil botol sake milikku!" Wanita berambut hitam panjang itu kemudian berusaha melepaskan diri dari cengkraman tuan rumahnya dan mencekik Naruto.
"Apa sih maksudmu!? Aku nggak pernah ingat ketemu sama perempuan gila sepertimu!"
"Apa kau bilang!? dasar monyet berbulu pirang! pura-pura bego lagi!"
"Naruto... Kazehana... Diam." Aura ungu kembali ke kehidupan, merangkak dari tubuh wanita itu dan bertebaran ke udara untuk memadat membentuk sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Topeng hanyya dengan dua mata melotot kini menatap dua sosok yang ia pegang. Oh, jangan lupa dengan sususan gigi yang tajam dan berdarah.
"Ya, Ibu!" Jawab kedua orang yang berada di depan Miya secara bersamaan. Menghentikan segala aktivitas gila yang mungkin kedua orang itu panggil dari alam baka ke Izuma inn.
Miya membiarkan topeng miliknya berada dalam kenyataan untuk beberapa saat lalu melepaskannya, di waktu yang bersamaan sambil menatap kedua sosok di depannya yang sudah duduk seiza dan gemetaran bagaikan ketahuan mencuri. Dengan menghela nafas pendek Miya kemudian berbicara dengan nada senetral yang mungkin ia bisa.. "Jadi, katakan.. mengapa kalian bertingkah seperti ini? apa kau tahu... berlari dan membuat kegaduhan di tempat ini dilarang?"
"Aku tidak tingg—" Naruto hendak membela diri, tapi dari tatapan yang diberikan Miya, yang seperti bertanya berani melawan. Singkat kata, Naruto belajar untuk tidak melawan balik jika ada orang yang hendak menasehatinya.
"hehehe.. maaf?" Sedangkan wanita yang bernama Kazehana itu tertawa gugup sambil mengelus lehernya, tapi dari pancaran matanya. Mereka tahu wanita itu menyesal. Apalagi setelah melihat teknik terkutuk yang dikeluarkan oleh Miya.
Sinopsis kejadian: Naruto kembali berkunjung ke Izumo inn untuk kesekian kalinya. Tentunya tidak diundang. Hal itu terus dilakukan pengganggu bernama Naruto, sehingga Miya sudah mulai—Meskipun tidak ingin sama sekali—terbiasa akan kehadiran pemuda seumuran Minato tersebut. Miya juga tidak memiliki niat untuk mengusir seseorang meskipun seberapa menjengkelkannya sosok di depannya.
Hari seperti biasa berlalu, dengan Minato yang pergi kerja sampingan di kontruksi bangunan untuk menambah penghasilan, dan Musubi yang membantu Miya dalam beberapa hal rumah tangga. Sedangkan Naruto layaknya Boss di ruang tamu tiduran sambil baca manga dengan cemilan di sampingnya. Miya pernah berpikir jika Naruto ini merupakan seorang pengangguran. Tapi melihat Rumah dan uang yang dimiliki Naruto, ia meragukan itu.
Mungkin anak pejabat? Atau anak seorang konglomerat yang tidak punya waktu mengurus anaknya. Miya rasa itu menjelaskan mengapa Naruto sering cari perhatian. Dan Miya tidak ada masalah dengan itu Asalkan orang yang datang ke tempatnya memiliki niat yang baik, Itu saja sudah cukup bagi dirinya meskipun orang yang dikatakan memiliki rahasia yang tidak ingin dibagi ke orang lain.
Oh.. seandainya dia tahu.
Yang hanya jadi masalah adalah Naruto yang sering numpang makan. Apalagi biaya penghasilan dengan pengeluaran sangat kontras satu lain, membuat ia harus menggunakan cadangan uang yang disediakan mendiang suaminya hanya untuk menanggung para Sekirei yang notabene memiliki lubang hitam di perutnya masing-masing. Miya menggelengkan kepalanya... uang bukanlah masalah, yang penting kebahagian orang disekitarnya.
Kembali ke cerita utama.
Ya Naruto sering menghabiskan waktunya bersama Sekirei rusak miliknya di Izumo inn. Tentu saja ada bermacam kegaduhan yang dibuat Naruto, tapi masih bisa Miya toleransi dan hiraukan untuk sesaat, tapi dengan peringatan yang sama. Apalagi ketika hal memalukan pada beberapa waktu lalu yang dilakukan Naruto kepadanya. Akhir cerita, Miya berhasil menemukan Naruto dan memberikannya palu pengetahuan sopan santun untuk menghargai derajat wanita.
Dan permasalahan timbul dari situ, karena Naruto sering berkunjung tentu juga dengan persentase kemungkinan bertemu dengan penghuni lainnya. Termasuk Homura yang memakai nama palsu Kagari. Keduanya adem-anyem aja tanpa ada masalah, karena memang Kagari sibuk dengan pekerjaannya menyebabkan jarang bertemu dengan sosok Naruto ataupun Minato. Uzume juga sudah bertemu dengan Naruto, katakanlah saja karena sifat alaminya yang menggoda orang lain, Naruto menyemburkan darah dari hidungnya dan membasahi fusuma atau Shoji ruangan tamu.
Katakan saja Uzume tidak mendapatkan makan untuk satu hari penuh sebelum memperbaiki cara berpakaiannya di rumah.
Dan terakhir Kazehana... wanita patah hati yang terlarut dalam sake yang ia minum.
Pada awalnya Miya merasa mereka akan baik-baik saja, tapi ternyata... Naruto tidak bisa menjaga keburuntungan sialnya yang selalu membuat orang jengkel tanpa alasan. Kazehana menginjakkan kaki, Naruto sedang minum sake botol entah dari mana... dan katakanlah bentrok tidak bisa dihindarkan lagi. Mengingat betapa simpelnya jalan pikiran Kazehana dan tetangganya, Ia merasa dirnya tahu mengapa kejadian ini terjadi.
"Jadi.." perempuan berambut ungu itu mulai memijat dahinya, seperti tahu sakit kepala apa yang akan datang mendengarkan kedua versi jalan kejadian yang berbeda-beda. Yang seperti bertujuan untuk membuat dirinya memihak ke salah satu orang. "Hanya gara-gara sebotol.. Sake..?"
"Umm...ya?"
Sedangkan Naruto menggembungkan pipinya sambil melihat arah lain. Dasar kekanak-kanakan.
"Umur kalian berapa sih?"
Kazehana kedengaran tersinggung mendengar pertanyaan Miya, dan menepuk Meja di bawahnya. "Hei, dia mengambil punyaku tanpa seizin dan membawanya kabur!" ia kemudian menunjuk Naruto. "Padahal itu Sake terakhir yang aku punya!"
"Aku tidak pernah melakukan itu!" Naruto membela diri dengan cepat, "Seingatku ada botol sake yang bergantung di atas pohon, sedangkan pejalan kaki banyak lalu lalang. Kau tahu betapa bahayanya aksi seperti itu!? Kau tertidur sambil memegang botol sake! Kalau jatuh gimana? Orang bisa terkena tau!"
"Sudah diam!"
Kedua orang bermasalah itu dengan cermat menuruti Miya. Tidak ingin menerima kemarahan dari sosok yang berkuasa di benteng ini.
"Kazehana... sudah berapa kali aku bilang jangan pernah membahayakan orang lain dengan aksi gilamu itu?"
"Tapi-"
"Dan lagipula Sake siapa yang kau curi? Itu Pu. Nya. Ku." Dan itu cukup untuk mendiamkan Kazehana. Naruto menggeliat bagaikan anak kecil dengan senyum lebar di wajah ketika melihat Kazehana yang saat ini dalam belunggu Miya. "Dan Naruto.. kau juga salah!"
"Apa!?"
"Mencuri merupakan suatu kelakukan yang tidak terpuji." Naruto hendak membela diri lagi, tapi didiamkan oleh kata-kata selanjutnya, "Meskipun untuk tujuan yang baik. Mencuri tetap saja mencuri." Merasakan situasi sudah reda, Miya melihat kedua orang di depannya.. "Sekarang minta maaf, satu sama lain. Kalian memang anak-anak dalam tubuh dewasa."
Naruto dan Kazehana terlihat tidak sudi untuk menjabat tangan masing-masing, tapi dari tekanan tatapan Miya, dengan segala rasa malu yang mereka tahan masing-masing kemudian berjabat tangan.
Dan sekaligus mencoba menghancurkan tangan masing-masing lawan.
*PLOK!**PLOK!*
"Aw..aw.."
Kazehana dan Naruto secara bersamaan memegang kepala mereka yang baru ditubruk dengan sendok besar.
"Kali ini kau kumaafkan karena mencuri sake-ku, tapi lain kali jika kau melakukannya aku akan menghembusmu melewati tujuh lautan!" Kazehana dengan senyum menyeringai memperingatkan Naruto.
"Terserah apa katamu Tante."
Kazehana langsung membuang muka, dirinya tidak suka melihat wajah manusia yang berani mempermainkan dan mencuri sake kesayangan miliknya. Dan tanpa sadar, ia melirik ke arah Minato. Ia terhenti...
Serasa bisa mengenali anak itu; dari struktur wajah... alis mata... hidung...
Serasa bisa membayangkan mirip siapa anak itu; seseorang yang ia cintai dengan seluruh hatinya, namun ditolak tanpa pikir panjang.
Membuat dadanya sakit seketika hanya karena memikirkan masa lalu yang telah terlewat di makan pasir waktu. Hanya membawa rasa jenuh yang tak akan hilang jika ia tidak menemukan jalan untuk menghilangkan atau meredakan sedikit perasaan yang membuatnya seperti ini.
Kazehana berusaha menyingkirkan beban pikiran yang membuatnya menjadi seperti ini. Di saat dirinya mulai melupakan, maka akan ada orang lain yang selalu bisa membuatnya mengingat kenangan itu. Pikiran seperti ini tidak baik untuk ditunjukkan kepada publik. Tapi jika dia memang...
"Hei, Minato.. hati-hati.. ada tante naksir kamu."
"Wa-Wah! Naruto... jangan bicara seperti itu." Minato terlihat panik mendengar apa yang dikatakan Naruto. Wajahnya memerah dengan seketika membayangkan wanita dengan tubuh seksi seperti sosok yang berada di depannya. Minato jujur di dalam hati, dirinya butuh penahan diri jika berada di sekitar wanita cantik seperti ini. Melihatnya saja sudah berpikiran tidak jelas, apalagi.. haha!
"Jangan panggil aku 'Tante'." Kazehana melepas nafasnya pendek dan kemudian menatap Minato dengan senyum, "Kau mirip dengannya..."
"Huh?"
Dan kemudian senyum itu berubah menjadi senyum pahit. "Tapi kau bukan dia..."
Wanita dengan pakaian sedikit terbuka itu kemudian berdiri dan pergi, dengan langkah yang aneh di setiap jalan yang ia lewati. Hingga wanita itu menghilang di ujung mata. Minato serasa tidak tahu apa yang ia pikirkan dengan apa yang dikatakan oleh wanita bernama Kazehanan tersebut. Sedangkan sekirei miliknya masih tenang-tenang saja dengan mencoba mengajak bicara Akitsu. Yang pada saat ini berada di dunia fantasinya sendiri.
"Apa aku salah...?"
Miya menoleh ke Naruto yang pada saat ini menatap ke mana Kazehana pergi, dengan ekspresi yang jarang ia lihat selama Naruto berkunjung ke tempatnya. Penyesalan terlihat di wajah tampan pemuda itu, bagaikan tidak cocok dengan ekspresi ceria yang selalu ia bawa ke tempat ini. "Kau tidak salah... Naruto-san."
"Tapi kenapa raut wajahnya seperti itu..?" Naruto berbisik dengan pelan, "Apa kata-kataku membuatnya mengingat ingatan yang tidak mengenakkan?"
"Ara ara, Naruto-san, aku tidak mengerti kau begitu peduli dengan Kazehana.."
"Ya, aku peduli." Naruto menjawab tanpa malu. Membuat Miya terdiam sesaat. "Karena aku tidak suka melihat orang yang aku kenal maupun tidak kukenal memasang wajah tidak bahagia. Dunia seperti tidak sempurna jika hanya diri kita yang bisa tersenyum sedangkan orang lain tidak. Karena itulah... aku merasa bersalah jika membuat orang menjadi sedih."
"fufufufu..." Miya terkikik halus dan sedikit menutup wajah bagian bawahnya dengan tangannya. "Ara ara.. aku tidak pernah mengira makhluk buas yang haus akan tubuh gadis sepertimu bisa berpikiran seperti itu." Namun melihat wajah Naruto yang masih serius, akhirnya Miya menutup matanya sesaat dan kemudian membukanya secara perlahan.. "Kazehana.. dia pernah memiliki kenangan buruk akibat hubungannya dengan seorang pria. Dan Sahashi-kun mengingatkannya pada orang itu. Hanya itu yang bisa diberitahu janda muda ini.."
Kedua pemuda itu menanggukkan kepalanya secara perlahan.
*PIP~POOP~~PIP~PIIPP~*
Minato memberikan tatapan maaf sebelum mengambil telepon genggam yang berada di sakunya. "Ah... adik hutan itu.." Wajah Minato mengambil rupa terkejut ketika mendapat pesan singkat dari nomor sang-GM. "Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti ini.."
Pemuda dengan rambut hitam itu kemudian berdiri, menatap dengan panik "Musubi, kita harus menyelamatkan Kuu-chan." Sekirei yang dikatakan itu juga ikut berdiri dan bersiap akan perintah yang diberikan Ashikabinya.
"Tentu saja, Minato-sama! Aku tidak sabar lagi!"
"Oi oi oi... bisakah kau jelaskan kepada sahabatmu di sini?" Naruto melambaikan tangannya dari posisi ia tengkurap. "Apakah kau mendapat pesan yang sama denganku orang gila itu?"
"Eee.." Minato bingung harus menjawab bagaimana, pandangan berpindah antara Naruto dan juga Miya. Lagipula pemilik penginapan tidak mengetahui tentang Sekirei, tapi..
"Fufufufu, katakan saja Sahashi-kun.. aku tahu mengenai rencana apa yang telah dijatuhkan Minaka terhadap kota ini." Dengan wajah tersenyum Miya menjawab, meskipun ada aura gelap yang mengitari dari belakangnya serasa menduga pesan singkat apa yang telah dikirimkan oleh pria gila itu.
"Eh?" Tidak percaya itulah ekspresi Minato pada saat ini. Disaat dirinya mati-matian melindungi agar pemilik penginapan tidak mengetahui mengenai Musubi dan kekuatannya, ternyata... orangnya sudah tahu duluan. Jadi apa gunanya melakukan semua itu? Ingin dirinya mengatakan itu tapi menahan diri, jika tidak, adik kecil yang berasal dari mimpinya itu akan diculik oleh orang lain yang memiliki niat jahat. Dirinya tidak bisa membiarkan itu.
"Minaka-san mengirimkan pesan ini.."Dengan sopan, Minato menunjukkan pada Miya. Wanita itu membaca dengan bibir yang tersenyum. Namun kelama-lamaan jatuh menjatuh masam.
"Kalau begitu.. kau harus cepat Sahashi-kun. Kau tidak tega bukan meninggalkan anak kecil di tangan orang lain yang memiliki niat buruk. Bukankah kau telah mengatakan kau merasakan hubungan dengan anak perempuan ini?"
"..?"
"Aku punya caraku sendiri, Sahashi-kun." Miya kemudian memberikan senyuman lagi, "Sekarang pergilah, aku akan menyiapkan makan malam. Aku harap kau datang sebelum jam 6 sore. Mengerti?"
"Baik." Dengan wajah penuh tekad, Minato berlari dari pintu luar diikuti dengan Sekireinya yang tidak sabar akan kemungkinan bertarung dengan Sekirei lainnya.
Wanita berambut ungu itu hanya terdiam melihat Minato yang melewati pintu. Dengan menghela nafas berat, ia berancana untuk ke dapur dan memasak. Ia yakin Minato dapat menyelamatkan sekirei kecil itu. Dan jika berhasil.. maka pengeluaran juga bertambah besar lagi. Cuma Minato dan Homura yang membayar uang sewa bulanan. Sedangkan Uzume terkadang telat 2 bulan. Dan penghuni terakhir tidak bisa keluar untuk bekerja karena masalah internal.
Sebelum beranjak dari posisinya, Miya menatap Naruto. Hanya satu pikiran yang pada saat ini ingin ia keluarkan. "Apa kau tidak membantu Sahashi-kun? Naruto-san?" Tidak ada respon. "Bukankah kau sahabatnya?"
Naruto perlahan duduk dan menatap Miya dari mata ke mata. "Aku sudah mengirimkan Akitsu..."
Dan benar apa kata Naruto, wanita es itu sudah tidak ada lagi di bawah pandangan. Sesuatu yang pergi tanpa sepengetahuan Miya. Akitsu..nomor rusak, yang sebelumnya nomor 7. Miya tahu bahwa sekirei tercoreng itu berbahaya dari pertama kali ia melihatnya. Ia dapat merasakan energi dalam pusat tubuh Akitsu tidak terkendali dan berbahaya bagi siapa yang mendekatinya. Tapi jika bersama pemuda di depannya, wanita itu langsung tenang bagaikan es yang membeku.
No 7. Yang tanpa Norito dan selalu dalam kekuatan penuhnya. Sekirei yang termasuk berbahaya jika kondisi mentalnya tidak seperti yang ia lihat pada saat ini. "Ara... jika benar begitu? Mengapa kau tidak mengikuti Akitsu-san dan juga Sahashi-kun dan sekireinya? Kau tahu bukan bahaya yang akan mengincar mereka jika berani mendekati pusat itu?"
Namun jawaban bukanlah yang ia dapat, melainkan senyuman. "Karena aku percaya pada Minato. Karena aku percaya pada Musubi-chan. Karena aku percaya akan kekuatan Akitsu.."
"Huh?" Miya memiringkan kepalanya serasa tidak mengerti.
"Miya..." Panggilan itu membuat Miya menatap Naruto dengan dingin sesaat, namun ia hentikkan karena tatapan yang diberikan oleh Naruto.
"Kau tahu? Jika Minato yang dulu masih berada di diri Minato yang sekarang. Aku yakin dia akan memiliki keraguan untuk langsung menuju ke tempat yang tidak pernah ia ketahui... apa kau melihatnya? Dia berbeda dari Minato yang dulu aku kenal... untuk menyelamatkan seseorang, dia akan langsung maju ke depan barisan tanpa banyak pikir."
"...Karena..kau...?"
"Siapa tahu?" Naruto menaikkan kedua bahunya sesaat, "Begitu pula dengan Musubi atau Akitsu. Karena aku percaya dengan mereka, aku tidak perlu khawatir.. .karena pada akhirnya yang berdiri terakhir adalah mereka, dan pasti mereka menyelamatkan Sekirei kecil itu.."
"Kenapa kau bisa yakin?" Pertanyaan itu keluar langsung dari mulut Miya setelah mendengar jawaban dari Naruto. Ia tidak mengerti mengapa orang di depannya begitu percaya akan keselamatan orang lain dengan begitu santai seperti ini. Bagaikan Naruto tidak peduli dengan apa yang terjadi pada temannya sendiri...
"Karena..." Naruto mengambil jeda sesaat, dan bisa melihat Miya yang mulai kehabisan kesabaran. "—Karena aku percaya dengan mereka."
Miya menggelengkan kepalanya, dan kemudian tertawa halus sambil menutup wajah bawahnya dengan lengan bajunya. "Aku tidak mengerti jalan pikiran orang sepertimu, Naruto-san. Kau tidak mengerti apa yang kau katakan.. bisa saja mereka mati pada saat ini."
"Oh.. Miya.." Naruto mendorong wajahnya mendekat kepada wanita itu.
Dan ekspresi wajah Naruto yang pernah ia lihat, kini menghilang digantikan dengan sosok yang tidak pernah ia lihat. Bukan Naruto yang kekanakan, bukan Naruto yang sering bercanda, atau sering mengerjai Minato. Melainkan sosok dari kebalikan itu semua. Nafasnya serasa tertahan melihat mata biru itu menajam di bawah pandangannya..
"Kau yang tidak mengerti bagaimana cara dunia ini bekerja.."
Dan Miya hanya terdiam karena tidak bisa melawan balik. Karena dirinya tidak bisa menemukan jawaban yang pasti untuk menjawab balik apa yang dikatakan Naruto. Karena sesaat dirinya melihat tatapan itu.. Miya tahu.. ia menatap dirinya sendiri. Cerminan masa lalunya.
"Oh, iya..." Naruto mengambil sesuatu dari kantong belakangnya. Sebuah amplop cokelat. Melihatnya untuk terakhir kali, Naruto menaruh amplop itu di depan Miya.
"Apa ini..?"
"Aku tahu keuanganmu lagi sempit pada saat ini. jadi aku juga ikut membantu..." Naruto dengan senyuman di wajahnya berbicara. Miya melihat amplop itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menggeser ke arah Naruto dengan pelan..
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Aku memaksa." Naruto mendorong balik. "Lagipula ini merupakan biaya makanku dan Akitsu selama ini dan untuk satu bulan kedepan. "300.000 yen cukup bukan?"
"Itu... sangat cukup."
"Nah... kan." Naruto kemudian berdiri dan memberikan Miya senyum besar untuk terakhir kalinya. "Lagipula aku sangat menyukai masakanmu, dan aku harap bisa menikmatinya setiap hari. Begitu juga dengan Akitsu.."
"...Terimakasih."
"Kalau begitu aku harus pergi dulu, mau cari tante itu dan minta maaf."
Dan Miya hanya menghabiskan waktunya menatap punggung Naruto hingga pemuda itu keluar dari pintu. Orang yang merepotkan...
Meskipun begitu, senyum berada di pipi wanita itu.
Kazehana melihat bulan yang berada di atas langit dengan ekspresi tenang. Memikirkan kembali apa yang terjadi di ruang tamu sebelumnya. Dirinya merasa bodoh bertingkah di luar karakter seperti tadi. Tidak salah lagi, kejadian tadi pasti akan menjadi bahan candaan manusia bernama Naruto itu. Mengingat kejadian yang menyebabkan dirinya bertengkar dengan Naruto seperti itu membuatnya tertawa.
Ia tidak menyangka ada orang seperti itu... bodohnya. Sekaligus menyenangkan bersama. Apalagi ia tidak pernah merasakan perasaan untuk memburu Naruto seperti tadi... tidak sebelum ia bertemu dengan Naruto. Semua menyenangkan... kenangan baru yang tadinya berhasil menekan ingatan pahit yang dahulu ia coba pendam.
"Hah... seandainya ada Sake...kurasa itu sudah cukup untuk malam ini. Tapi Manusia itu sudah mengambil jatah terakhirku dari Miya.." Kazehana bergumam sendiri sambil menatap langit.
Suara baru membuatnya melirikkan mata dengan sekejap. Dan matanya melebar kemudian kembali menjadi lembut..
Beberapa botol Sake merk teratas kini berada di sampingnya. Dengan sebuah kertas yang menempel bertuliskan:
Maaf..
Kazehana tidak tahu harus tertawa atau merasakan apa pada saat ini. Dirinya memang tidak apa yang harus ia rasakan. Dengan senyum di wajah, akhirnya Kazehana melihat kembali kertas dan Sake tersebut..
"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja... tentu saja tidak. Naruto.."
Tapi di dalam hatinya, kata-kata itu sudah terbalik. Lagipula dirinya tidak mengerti mengapa Naruto harus minta maaf, padahal dia tidak melakukan kesalahan apa-apa seingatnya.
"Dasar pria yang aneh."
.
.
Siapa juga yang mengatakan Naruto normal?
And done. Chapter kali ini menurut saya tidak saya kerjakan sepenuh kemampuan saya. Kalau ada typo tolong dimaklumi karena pada kali ini saya nggak sempat membaca ulang chapter ini. tapi di waktu ke depan akan saya perbaiki jika ada yang salah.
Pairing:
Naruto: Akitsu/?/?/?
Minato: Musubi/Kusano/Tsukiumi/?/?/?
masih dalam pemikiran. jika ada sugesti, saran, kritik jangan ragu-ragu. Akan saya baca semuanya... dan tentunya saya pikirkan juga. Jika ada saran mengenai pairing, sebutkan siapa dan jelaskan kenapa. Jika alasannya : dia berdada gede. maka out dah.
