Disclaimer: what?


"Kami pulang."

Suara baru dari pintu, dan Naruto yang terbaring dengan membaca komik hanya melirikkan matanya sesaat. Miya dengan menghela nafas berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Ara... Sahashi-kun, apa yang harus kulakukan jika kejadiannya seperti ini." Miya menaruh wajahnya ke telapak tangannya dan menutup matanya dengan tatapan khawatir. "Membawa Musubi-chan, aku masih mentolerir, tapi... membawa anak orang kabur. Aduh ada seorang kriminal berada di penginapanku."

"B-Bukan begitu Miya-san!" Minato membantah dengan gugup, wajahnya penuh panik dengan seorang gadis kecil tertidur lelap di gendongannya. "A-Aku hanya menyelamatkannya ketika mendengar adanya-"

"Aku hanya bercanda Minato-san." Miya menyembunyikan senyumnya dengan lengan yukatanya. "Tapi, jika itu benar, aku harus menelepon polisi, fufufu."

Minato hanya tertawa gugup. Ia yakin apa yang dikatakan pemilik penginapan itu benar apa adanya jika ia menculik seorang anak kecil dan membawanya pulang. Tapi untung saja, Miya-san merupakan orang yang mengetahui rahasia mengenai sekirei, jadi dirinya aman. Lagipula dirinya tidak ingin diusir dari tempat tinggalnya sebelum genap satu minggu. Itu akan menjadi kebiasan nantinya. Tapi...

Minato melirik ke arah wanita yang berada di belakangnya, yang menunduk hormat kepada Miya-san dan kemudian berjalan menuju di mana Ashikabi-nya berada dan duduk seiza dengan setia di sampingnya. Dirinya tidak menyangka bahwa Sekirei dari Naruto-san membantunya dalam menyelamatkan adik kecil ini dari dalam hutan yang dia buat sendiri untuk melindunginya dari Ashikabi lain yang ingin mengambilnya. Pada awalnya Minato tidak yakin dirinya akan bisa menyelamatkan Kuu. Bukan berarti dirinya tidak mempercayai kekuatan Sekirei miliknya, Musubi. Hanya saja, pada saat itu ada beberapa Sekirei atas perintah Ashikabi-nya yang sudah menunggu.

Dan Akitsu, wanita pendiam yang selalu ia lihat mengikuti Naruto ke mana saja itu datang sebelum ia sadari. Dan membuat setengah hutan buatan Kuu menjadi hutan es dengan kekuatannya. Kekuatan yang ditampilkan Sekirei tanpa ekspresi itu cukup membuat Minato gemetar, dan menggigil. Gemetar karena kekuatan yang dia keluarkan begitu saja, yang membuat Sekirei lainnya mundur karena ketakutan. Dan juga menggigil karena sekelilingnya sudah berubah menjadi es. Minato yang menggunakan pakaian tipis sudah cukup merasakan penderitaan itu. Dan menyakitkan lagi, Sekirei milik temannya itu menatapnya dengan tidak tertarik. Seperti tidak peduli dengan apa yang telah dia lakukan.

"Yo, Minato-chan." Suara Naruto terdengar dari ruang tamu. "Di mana Terimakasih yang kutunggu? Kau berutang budi, lo? Pada Akitsu-chan dan aku." Pria itu berbaring di lantai dengan kepala berputar dengan malasanya menatap Minato.

Urat kedut muncul di dahi Minato. "Lagipula siapa yang meminta bantuan, padamu!? Tiba-tiba saja Akitsu datang, dan langsung mengubah semuanya persis seperti zaman Es. A-Ashuuu!" Pemuda berambut hitam itu mengusap hidungnya, "Aku sampai terkena flu!"

"Emang aku ambil peduli?" Naruto mengorek hidungnya dengan jari kelingking, "Nona Akitsu dan Tuan Naruto memerintah agar kau menjadi Pelayan kami selama 3 hari!"

"K-Kurang aj—Aduh!" Minata memegang kepalanya, yang telah ditubruk dengan ayunan karate dari Miya. "M-Miya-san?"

"Tidak boleh ada kata-kata kasar di Penginapan Izumo." Miya memberikan peringatan dengan senyuman manis seraya menggendong Kuu yang tertidur. "Sekarang, Minato-san, mandi dan bersihkan tubuhmu. Aku akan menyiapkan makan malam." Mata Miya kemudian melirik sosok yang berada di samping Minato. "Hal itu juga berlaku bagimu, Musubi-chan. Aku tidak ingin ada orang yang tinggal di penginapanku kotor."

"Ehehe." Musubi tertawa malu. "Kalau begitu, Musubi juga akan membantu membersihkan punggung Minato-sama!"

"Hee!" Minato tersentak dengan terkejut. Wajahnya langsung memerah membayangkan berada di kamar mandi yang sama dengan Musubi. Dan meningati bentuk tubuh Musubi, hal itu cukup membuatnya menutup hidung menahan darah yang keluar karena pikirannya yang kotor. Dirinya juga laki-laki yang normal.

Dan balasan yang diterima Musubi sama dengan yang diterima Minato. Ayunan tangan Karate ke kepala. "Fufufufu, hal yang berhubungan dengan seksualitas dilarang di penginapan ini Musubi-chan. Apa penjelasanku bisa dimengerti, Minato-kun?" Pemilik penginapan itu memberikan tatapan kepada pemuda itu. Aksi yang dibalas Minato dengan mengangguk cepat berulang kali.

"Baguslah kalau begitu. Sekarang, aku akan membawa putri kecil untuk tidur. Dia terlihat lelah sekali." Miya berbicara halus, dan menatap lembut dengan Sekirei muda yang berada di tangannya. Hatinya sakit, melihat adik kecilnya yang masih berumur muda seperti ini sudah masuk ke dalam permainan tidak waras yang dibuat oleh Minaka.

Naruto menatap Miya yang membawa Sekirei kecil itu ke kamarnya sendiri. Dan termenung sesaat. Sebelum menatap Minato yang berjalan menuju kamar mandi dengan handuk di pundak.

"Pfft—dasar bocah cherry." Naruto menyeringai, "Baru memikirkan saja sudah tahan, apalagi mau melakukan. Aku kasihan masa depan Musubi dengan Ashikabi sepertimu." Naruto mengusap air mata palsu. "Bayangkan saja, Musubi yang hyperactive, dengan dirimu. Musubi pasti tidak menemukan kepuasan."

Sabar. Sabar, Minato. Ingatlah kau bukan orang yang mudah terpancing emosi. Kau anak yang baik, tidak pernah berbuat jahat. Tidak pernah berurusan dengan melanggar peraturan, baik itu sekolah atau umum. Kau tidak pernah berurusan dengan polisi. Kau warga Tokyo yang baik.

"Minato, aku masih ingat. Siapa itu, Ayako, bukan? yang salah menaruh surat cintanya ke lokermu. Aku masih ingat betapa bahaginya kau saat mendapatkan surat itu. Dan membanggakannya padaku. Tapi pas sampai di belakang sekolah... pfff."

Minato telah kehilangan kesabaran, dengan nafas memburu ia kemudian mengambil ancang-ancang layaknya pegulat yang hendak memberikan serangan fatal pada musuhnya yang tidak bisa bergerak lagi di kanvas ring. Namun sebelum ia bisa melakukan itu, Minato dihadapkan dengan mata dingin Akitsu yang memegang pisau tajam yang terbuat dari es yang saat ini berada di ujung lehernya. Menelan ludah, hal itu yang bisa dilakukan oleh Minato.

"Akitsu!" Suara Naruto berubah sedikit serius melihat aksi Sekirei miliknya.

"Dia ingin menyerang Naruto-sama." Jawaban singkat dari Akitsu seperti jawaban paling benar yang ada.

Minato menelan ludahnya, dan mengambil langkah mundur yang gemetar. "S-Sebaiknya aku ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku."

"Mou, Minato-sama, Musubi ada melindungimu!" Minato menghiraukan suara dari Sekirei-nya dan kemudian menarik Musubi ke ruangan yang berbeda. Tidak baik jika Musubi tiba-tiba menyerang Sekirei lain.

Naruto menepuk dahinya, dan kemudian menarik wajahnya ke bawah. "Akitsu.." dengan lembut pemuda itu kembali menyebut nama Sekirei miliknya serta mengambil sikap duduk menghadap Akitsu yang menatap tuannya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Aku tahu, kau ingin melindungiku..." Pemilik rambut pirang itu memulai dengan pelan, "Tapi, kau harus tahu bagian di mana yang serius dan bercanda." Naruto menatap Akitsu yang memiringkan kepalanya seperti tidak mengerti. "Yang tadi itu adalah bercanda. Tidak berbahaya. Apa yang dilakukan antara teman satu sama lain. Tidak ada yang terluka. Itu hanya candaan. Bukan saling membunuh satu sama lain. Minato adalah teman, bukan musuh."

Akitsu menatap mata Naruto untuk sesaat. Dan, Naruto sadar emosi apa yang terlintas di mata wanita yang jarak menunjukkan ekspresinya itu. "Aku.. hanya ingin berguna."

Tangan Naruto perlahan meraih jemari Akitsu, dan menyatukan jemarinya satu sama lain dengan milik Akitsu dan kemudian memegangnya dengan erat. "Aku tidak pernah memandangamu dengan tidak berguna, Akitsu. Kau berada di sampingku itu saja sudah cukup. Aku sudah mengatakannya berapa kali padamu. Kau bukan senjata. Kau bukan alat. Kau dan aku sama. Jangan pernah menyimpan keinginanmu karena merasa dirimu membeniku. Selama itu berada di batas kekuatanku, aku akan memberikan apa yang kau inginkan. Uang bukanlah masalah untukku. Yang kuinginkan... hanyalah agar kau tetap berada di sampingku. Temaniku. Jangan membuatku merasa kesepian..."

"Naruto-sama..."

Mata dari wanita itu berkaca-kaca. Rambut berwarna cokelat tersebut, disisipkan rapi menggunakan jari Naruto, agar ia bisa melihatnya. Pandangan dari Sekirei itu berpindah, seperti tidak sanggup menatap mata Ashikabi-nya.

"Akitsu, lihat aku." Suara lembut Naruto memanggil, dan Akitsu tidak memiliki keinginan untuk menolak sama sekali. "Apa ini pandangan yang menganggapmu lebih rendah darimu? Tidak... ini adalah tatapan yang menerimamu. Menerimamu apa adanya meskipun kondismu. Aku akan selalu peduli padamu. Itu adalah janjiku."

Akitsu merasa senang. Meskipun ia kesusahan menunjukkan ekspresi itu kepada Ashikabi-nya. Ia ingin, sangat ingin memperlihatkan senyumannya kepada Naruto. Ia ingin terlihat cantik di matanya. Hanya dia. Tidak ada yang lain yang ia pedulikan asalkan sosok di depannya tetap memberikannya rasa kehangatan yang berada di dadanya ini.

Tidak tahu tenaga dari mana, Akitsu memberanikan dirinya. Ia memajukan tubuhnya, dan menangkap Naruto dalam ciuman. Ia tidak tahu harus melakukan apa, karena ia tidak tahu bagaimana berciuman yang seharusnya. Akitsu ingin mencurahkan seluruh rasa cintanya kepada Naruto. Meskipun ia tidak bisa menjadi miliknya secara hubungan Sekirei. Tapi, Akitsu tidak akan pernah mengganti Naruto dengan yang lain. Ia akan mengikuti Naruto-sama ke mana saja. Ia akan menghancurkan siapapun yang berbahaya bagi Naruto-sama. Kekuatan, tubuh, dan jiwa ini adalah milik Naruto-sama.

Dan Akitsu akan memberikan itu sebelum kata itu keluar dari mulut Tuannya. Karena itu, ia meletakkan seluruh perasaannya pada ciuman itu. Cara bercumbu yang amatir, namun perlahan Tuannya membimbingnya dengan benar. Dan Akitsu merasakan sesuatu yang membuat kakinya merasa lemah. Dan Akitsu ingin lebih dari itu. Ia ingin mengukir tubuhnya lebih dalam kepada Tuannya.

"Wow... Wow, Akitsu!" Naruto dengan tenaga yang cukup dan berusaha untuk tetap lembut mendorong Akitsu. Air liur masing tersambung satu sama lain, sebelum putus ketika Naruto berhasil melepaskan diri dari Akitsu. "Aku mengerti, tapi ini bukan saat yang tepat. Ini terlalu cepat!"

Akitsu tidak tahu apa yang Tuannya bicarakan, tapi itu tidak cukup untuk menahannya dari melakukan hal yang lebih. "Naruto-sama..." Kesahan lembut keluar dari celah bibir wanita itu. Wajah memerah dengan nafas yang memburu.

"Katsuragi..."

Mendengar nama keluarga dari Ayahnya itu sudah cukup membuat Naruto memutar matanya dengan cepat. Dari sudut dinding terlihat Miya yang memegang wajan dengan aura hitam yang mengelilinginya.

"Mati aku." Naruto langsung berdiri dan mengangkat Akitsu dengan gaya pengantin, dan berlari menuju dinding yang memisahkan Rumahnya dan penginapan Miya.

"Aku tidak akan membiarkanmu kabur. Sudah berapa kali aku bilang, kelakuan seperti itu dilarang berat di penginapan Izumo. Kau sudah melanggarnya beberapa kali." Miya mengambil ancang-ancang.

"Tapi aku 'kan tidak tinggal di sini!" Naruto berusaha memberikan alasan.

"Tapi tetap sama saja."

"Ya.. Tuhan, pantas saja wanita tua itu masih perawan." Komentar itu terdengar langsung oleh telinga Miya yang tajam. Menambah kemarahan yang sudah ada. Miya tanpa menahan batas, melemparkan wajannya ke arah Naruto. Mengharapkan laki-laki tidak tahu diri itu sekarat dengan luka yang berat. Dia bisa saja membunuh pemuda berambut pirang itu, tapi menahan diri.

Naruto entah mengapa merasakan ada yang datang dari belakangnya, dan mengambil langkah ke samping menghindari serangan itu sebelum menyentuh tubuhnya. Hal itu ia lakukan dengan mudah, seperti tubuhnya terasa sangat ringan, dan kemudian yang ia tahu, tubuhnya sudah melompat tinggi melewati pagar dinding dengan mudahnya dan mendarat tanpa ada rasa sakit dengan Akitsu di kedua tangan.

"Akhirnya, kita terbebas dari Iblis peraturan." Naruto hendak tertawa lepas, tapi matanya mendarat ke dinding pagarnya, dan hanya bisa mengeluarkan nafas tersendak. Terlihat dengan jelas, apapun yang dilempar Miya telah membuat lubang pada dindingnya. "Miya! Apa kau mencoba membunuhku!? Kau tadi menembakkan rudal, ya!?"

"Aku tidak peduli! Kembalikan wajanku sekarang, atau aku laporkan polisi karena pencurian yang kau lakukan!" Ancaman terdengar jelas dari tetangga sebelah, dan Naruto hanya bisa keringat jatuh, karena betapa tidak logisnya apa yang dikatakan oleh pemilik penginapan sebelah.

"Kau tidak waras. Siapa juga yang melemparnya ke sini, hah!?"

Tidak mendengar jawaban dari sebelah, Naruto kemudian menatap Akitsu dan menurunkannya dengan pelan. Wanita itu seperti tidak ambil peduli dengan kejadian tadi, menatap Naruto dengan pandangan itu. Meskipun pandangan itu sudah berkurang dari yang tadi akibat stimulasi yang dihentikan ditengah jalan. Naruto tidak memikirkan itu sekarang.

Ia melihat kedua tangannya. Apa ini saat yang tepat di mana ia menyadari kekuatan asli yang tersimpan sejak lahirnya? Atau kekuatan yang diberikan kedua orang tuanya yang bereksperimen pada tubuhnya sebelum meninggal. Seperti di film-film?

Naruto memainkan otot kakinya, dan melompat-lompat kecil. Ia tahu dirinya kuat, itu terbukti dari ingatan yang seharusnya bukan miliknya terlintas beberapa kali ketika bermimpi. Tapi, hal itu tidak pernah sekuat ini. Naruto menambah kekuatan itu pada otot kakinya, dan melompat.

*BRAK!*

Kaki yang melayang di udara. Dan tubuh yang tersangkut menembus langit-langit.

"Akitsu..."

"Ya, Tuan?"

"Ingatkan aku untuk tidak lagi menonton film superhero lagi. Sepertinya aku mulai tidak waras... lagi. Bertingkah layaknya si MC yang baru pertama kali mendapatkan kekuatannya."

Naruto dan terkadang kebodohannya. Salahkan ingatannya yang terkadang bermain-main dengan dirinya sendiri. "Naruto dan kebosanan bukan kata yang cocok untuk digabungkan. Lagipula siapa yang percaya reinkarnasi di abad ini? Uzumaki Naruto, Iya. Akitsu, panggil Noa, aku ingin langit-langitku diperbaiki. Jika dia bertanya kenapa? Katakan saja tetangga dengan darah tinggi memutuskan itu hal yang baik untuk melemparkan wajannya untuk menyerang tetangga baik hati."

"..."

Akitsu hanya memiringkan kepalanya dengan tatapan datar. Dirinya tidak tahu apa yang salah dengan Ashikabi miliknya.

Penjelasan kecil mengenai Akitsu: Tumbuh dan besar dalam ruangan isolosi membuatnya sebagai sosok yang tidak tahu apa itu perbedaan normal dan ketidakwajaran. Dan Kejadian yang seharusnya tidak wajar di depannya, seperti Naruto-sama yang jelas-jelas manusia memiliki kekuatan yang jauh di atas rata-rata manusia biasa. Sesuatu yang tidak normal dari mana pun kau lihat. Adalah hal normal di mata Akitsu. Karena itu ia tidak pernah merasa terkejut atau merasa ada yang aneh. Naruto-sama tetaplah Naruto-sama.

Ke esokan harinya.

"Yo, Miya-san!" Naruto dengan normalnya turun melewati tangga yang taruh di pekarang penginapan Izuma sebagai alat penghubung rumahnya dengan Miya. Sedangkan Akitsu dengan mudahnya melompati dinding 2,5 meter.

"Pagi, Naruto-san." Terdengar nada netral dari wanita itu, dan senyuman wajar yang selalu ia miliki. Meskipun bisa dilihat dengan jelas, bahwa Wanita itu masih belum melupakan apa yang terjadi kemaren. "Aku harap hari ini kamu bisa bertingkah layaknya Laki-laki di usiamu dan tidak melakukan kekacuan di kediaman orang lain."

"Aku tidak janji itu." Pemuda itu kemudian mengambil duduk di meja makan yang lebar, dengan Akitsu berada di sampingnya. "Tumben, apa aku yang terlalu kepagian atau apa?"

"Sarapan pagi akan dihidangkan sebentar lagi." Miya menjawab seraya kembali ke dapur, dan kemudian memanggil penghuni penginapan yang lain untuk turun.

Naruto dengan sumpit yang ia jadikan stik drum dan memainkannya di meja menatap satu per satu penghuni lainnya turun. Yang pertama adalah Kagari, si pria tampan dengan wajah lembut seperti wanita. Naruto merasa kejantanannya di pertanyakan pada saat itu karena dirinya sadar bahwa dia tidak setampan itu. Terlihat jelas, masih ada sisa kantuk dari wajah pemilik rambut silver tersebut.

Yang kedua adalah Minato dan juga Musubi, diikuti oleh anak kecil yang Naruto lihat kemaren. Berpegangan tangan dengan Minato dengan wajah paling bahagia yang bisa dikeluarkan bocah itu.

"Pagi, Naruto-san!" Sapa Musubi dengan senyuman ceria.

"Kenapa sih, kau datang terus..."

"Pagi Musubi, pagi Minato-chan." Naruto membalas, tidak terlalu terpengaruh dengan suasana hati Minato. Minato mah dari dulu gitu, terlihat rapuh dan lemah lembut ketika berada di sekitar orang lain, dan menjadi orang paling ceroboh yang bisa ditemui siapa saja. Tapi, ketika bertemu dengannya, Minato mengeluarkan kepribadian baru yang merupakan pertahanan utama dari subyek yang berhubungan dengan Naruto. Seandainya saja Minato bertingkah seperti dirinya saat berada di sekitar Naruto, dia sudah pasti masuk Universitas incarannya itu.

Yang terakhir datang adalah wanita dengan pakaian yang cukup *ehem* menunjukkan banyak kulit. Namun, dari lototan yang diberikan oleh Miya, wanita itu langsung kembali ke ruangannya dengan pakaian yang lengkap, meskipun tidak menutupi orang lain untuk berimajinasi dari bentuk lekuk tubuhnya. Naruto tanpa melihat pun tahu bahwa dia adalah Sekirei. Uzume, itulah nama sekirei itu dari perkenalan mereka beberapa hari yang lalu.

"Yo, Nii-chan." Perempuan itu memanggil Naruto dengan panggilan yang seperti sudah dekat begitu, matanya kemudian dengan sedikit licik memberikan isyarat dan menunjukkan Minato dan sekirei kecil yang dibawa Minato. "Sepertinya ada berita gembira untuk kita semua."

Naruto melebarkan matanya sesaat, "Minato! Jangan katakan kau..." pandangannya tertuju pada penghuni kecil baru tempat Miya tersebut.

"Apa yang kau maksud!?" Minato membalas dengan nada panik.

"Jangan katakan kau sudah membuat Kushano sebagai Sekirei mu!?" Naruto menaruh tangannya di wajahnya dengan mulut terbuka terkejut. "Sekarang aku mengerti, ternyata ka-kau lolicon!" Pengusaha kaya raya itu mengambil telepon genggamnya dan menghubungi sebuah nomor. "Halo, pak Polisi, di sini ada tindak asusila yang dilakukan seorang Pria terhadap anak keci—"

Belum selesai Naruto berbicara, Minato telah menimpa dirinya, dan mengambil telepon itu dengan paksa sebelum mematikannya. "Naruto, biarkan aku menjelaskan dulu! Bagaimana nanti Ibu ku menanggapi jika anaknya ditangkap karena kesalahpahaman yang kau buat lagi!?"

Naruto membiarkan Minato mengambil telepon tersebut dan menaikkan bahunya dengan tatapan tidak peduli. "Fakta tidak bisa disembunyikan, lagipula sudah ada bukti di sini." Pandangan pria itu kemudian tertuju pada gadis kecil itu, "Hm, jadi... kau ini apanya, Minato?"

Kuu menatap Naruto dengan tatapan bingung untuk sesaat, menaruh jari telunjuknya di bawah bibir dan memiringkan kepalanya dengan berpikir. Sebuah aksi yang akan membuat orang melihatnya dengan imut. "Kuu adalah Istri Ashikabi-sama!" Jawaban itu keluar seperti pernyataan paling benar yang ada. Senyum yang berada di wajah Naruto kini sudah membeku, dan matanya dengan gerakan robot menatap mantan anak buahnya dulu.

Minato seperti sudah tahu apa yang terjadi hanya menaikkan kedua tangannya ke atas dengan menyerah. "Sumpah demi Tuhan yang ada di seluruh kepercayaan, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Apalagi Kuu-chan masih anak kecil."

"Fufufufu, seberapa menyenangkannya mendengar kalian bercanda satu sama lain..." Suara lembut namun diiringi nada yang menusuk terdengar dari belakang, dan secara insting Naruto memiringkan kepalanya menghindari timpukan dari alat masak Miya. Sedangkan Miya seperti tidak tahu menahu dengan aksinya hanya menutupi senyumnya, "...Ini adalah waktu makan pagi."

Tidak lebih dari tiga detik, masing-masing penghuni dan juga penumpang sarapan pagi sudah mengambil tempatnya masing-masing. Musubi tepat di samping Minato dengan senyum lebar terbahagia seperti tidak ada masalah sama sekali di hidup, Kusano dengan ceria dan juga sifat kekanakannya berada di pangkuan Minato. Sebuah Insting Sekirei yang baru diberikan sayap untuk selalu berada tepat di samping Ashikabi miliknya.

Uzume dengan malasnya dan wajah masih mengantuk mencoba kembali memasuki dunia mimpi dengan menaruh wajahnya di meja, namun dari ancaman pemilik penginapan, hal itu disingkirkan dengan mudahnya.

Miya datang dengan elegan membawa hidangan yang baru ia masak, dan yang lain membantu meletakannya. Naruto menghirup nafas yang dalam di samping Akitsu, tepatnya kepada makanan yang berada di atas mejanya. "Astaga Miya, aku tidak tahu kau belajar masak dari mana, kau hebat sekali!" Kata-kata itu keluar bersamaan saat ia menyantap.

Meskipun tidak menyetujui cara makan Naruto yang tidak sopan, tetap saja ia menerima pujian tersebut ke dalam hati. Mendapat pujian dari orang lain mengenai masakanmu merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi Ibu Rumah tangga.

"Seandainya saja aku tidak punya Akitsu, tentu saja aku akan mengejarmu hingga berhasil, dan menjadikanmu sebagai istriku sendiri." Kata-kata itu keluar tanpa batas dari mulut Naruto, seperti tidak memikirkan sebab apa yang terjadi akan ucapan yang ia keluarkan. Naruto tidak sadar, hanya sumpitnya saja yang masih bergerak memasukan makanan, Sedangkan yang lain membisu terdiam.

Akitsu menatap Tuannya untuk beberapa saat, terlintas emosi yang mulai terlihat jelas bagi orang yang tidak pernah melihat Akitsu bereaksi. Sedangkan Miya seperti membeku di tempat tidak memberikan ekspresi atau respon yang jelas. Hal itu tidak berlangsung lama, ketika Miya menutup mulutnya dengan kain lengan tangannya, dan tertawa halus, "Fufufufu, sampai kiamat pun, aku tidak akan mau denganmu."

"Ahahaha!" Balasan dari Naruto hanya tertawa lebar yang diiringi dengan keselek beberapa detik, "Lagipula siapa yang mau dengan Perawan tua sepertimu!?"

Jari berkedut.

"Ee... sepertinya aku, Musubi, Kuu-chan sudah kenyang. Ah lihat, aku sudah terlambat." Tanpa minum, Minato langsung menarik dua sekirei miliknya. Tidak memperdulikan protes Musubi yang masih belum kenyang.

"Ah, Nii-chan, Miya-Nee-chan, permisi, sepertinya pekerjaanku juga sebentar lagi akan dimulai." Uzume berdiri dan berjalan cepat menuju arah lain. Meskipun sebenarnya dia tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi tetap saja, mentalnya belum siap dan tidak akan pernah siap untuk menyaksikan apa yang terjadi.

"..." Tanpa suara, Akitsu berjalan menuju pintu luar dan melompati dengan mudahnya dinding tinggi. Tujuan hidupnya memang melindungi Naruto-sama dan mengabulkan semua apa yang ia inginkan dengan seluruh kemampuannya. Tapi, dirinya masih kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Tuannya tadi. Sedikit hukuman kecil sudah cukup untuk pelajaran kepada Naruto-sama.

Naruto terhenti, dan menatap sekitarnya. Dan keringat dingin mulai bercucuran dari dahi tanpa ada sebab. Pandangan menatap kiri dan kanan, tidak ada orang. Akitsu, wanita kesayangan yang sangat ia sayangi meninggalkannya begitu saja tanpa pemberitahuan. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Akitsu sebelumnya. Pandangan dengan kaku menatap ke depan. Tepat di seberang meja, tempat di mana pemilik penginapan Izuma berada. Aura ungu bergojolak dengan membara.

Dan Naruto tahu dirinya dalam masalah besar.

Naruto pun membuka mulutnya, mengeluarkan kata-kata terakhir yang mungkin bisa menyelamatkan dirinya dari keadaan ini.

"Kau dalam periodemu?"

Jawaban yang tidak benar.

Dan hari itu Naruto menyadari... Miya, Selama ini menahan diri. Menahan sekali...


Setelah beberapa bulan(1 tahun lebih) terlewat akhirnya saya bisa mengupdate cerita ini. Hah, mudahan nggak terlalu berkarat dengan fandom Sekirei. Hah, beberapa hari yang lalu baru selesai OSPEK Universitas, dan sekarang lagi sibuk menyusun KRS online yang banyak error nya. Jadi maaf jika cerita yang lain terlambat dalam update karena kesibukan saya sekarang sebagai seorang Mahasiswa. Tapi, karena saya masih berada di semester 1, di mana masih ada waktu luang yang bisa dipakai, akan saya usahakan untuk mengupdate cerita yang lain.

Review, dan katakan opini anda mengenai chapter ini. Terimakasih karena setelah ini masih tetap mengikuti saya sebagai Author maupun cerita-cerita saya yang nggak jelas statusnya.