Hidden
by Rein Hiirota
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Cerita-cerita riddle disini juga bukan milik Rein
.
.
.
Happy thinking and solving~
.
.
Kakatua
Nijimura mulai kesepian karena terlalu lama tinggal sendirian. Karena itu, dia memutuskan memelihara seekor burung kakatua. Kakatua itu mulai meniru semua perkataannya, bahkan menyapanya setiap hari. Setiap pagi burung itu selalu berkata, "Selamat pagi." dan setiap malam ketika Nijimura pulang kerja, burung itu selalu berkata, " Selamat datang." Benar-benar burung yang pintar.
.
.
.
Uji Nyali
Suatu hari, Aomine, Kise, Kuroko, dan Kagami iseng ingin mencoba uji nyali di sebuah pemakaman tua.
Mereka sepakat untuk jalan berdua-dua untuk melintasi kuburan tersebut. Aomine dan Kise sangat ketakutan karena saat itu sudah tengah malam.
Begitu sampai di camp, mereka berdua tertawa sambil menunjukkan tangan kanan mereka yang membiru. Pasti karena Aomine dan Kise berpegangan tangan terlalu erat saking takutnya. Kalau dipikir-pikir hal itu sangat konyol. Tak ada alasan bagi mereka ketakutan seperti itu sebab tak ada satupun hal seram terjadi pada mereka malam itu.
.
.
.
Wanita
Belakangan ini, Midorima mengalami kejadian tak mengenakkan. Begitu dia pulang, kamarnya selalu saja acak-acakan. Tak ada yang hilang sih, tapi ini mulai menganggu Ace dari Shuutoku itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk memasang kamera CCTV di pojok kamarnya.
Ketika dia pulang hari ini, iapun mengecek isinya. Awalnya tak ada apapun yang terjadi, namun kemudian manik hijau itu melihat kenop pintunya berputar. Pintu kamarnya terbuka dan seorang wanita, sambil membawa pisau di tangannya, masuk ke dalam kamar. Sambil tertawa-tawa ia mengobrak-abrik seisi kamar Midorima dan kemudian bersembunyi di dalam lemari.
Di dalam video, seseorang kembali memutar kenop pintu dan membukanya. Itu Midorima.
.
.
.
Pembunuh
Akashi terbangun tengah malam dan merasakan suatu perasaan tak enak. Dia menyalakan lampu meja dan melihat genangan darah yang sangat banyak di selimutnya. Pemuda bersurai merah itu menjerit dan berlari keluar kamar, buru-buru turun ke lantai bawah, hendak keluar melalui pintu depan ketika telinganya mendengar suara di ruang makan. Pembunuh itu masih ada di sini!
Akashi segera berlari ke atas lagi untuk menemukan orang tuanya, berharap mereka masih hidup. Ia membuka pintu kamar orang tuanya dan melihat kolam darah di lantai. Darah menetes dari atas tempat tidur dimana kedua orang tuanya terbaring tak bernyawa.
Ia mendengar sang pembunuh naik ke atas. Pelan namun pasti, membuat suara decitan ketika kakinya menginjak anak tangga yang terbuat dari kayu. Akashi meringkuk di pojok ruangan,tak ada lagi jalan keluar. Pembunuh itu masuk melalui pintu. Namun setelah melihat sosok yang membuka pintu itu, ia bernapas lega. Itu bukan pembunuh, ternyata itu pria berseragam polisi.
Akashi hendak berlari ke arahnya, meminta tolong. Namun si polisi justru bergerak mundur ketika ia melihat Akashi.
"Ke...kenapa?" tanya Akashi ketakutan, "A...apa ia ada di belakangku?"
Kemudian si polisi berkata dengan suara tegas sambil berusaha meraih pistol yang ada di sabuknya. "Nak, tenanglah dan berikan kepadaku pisau itu!"
.
.
.
.
.
.
.
A/N: Haloooo! Duh lama banget gak update fic ini wwww maafkan kemalasan Rein ini.
Maaf gak sempet bales review dan ngasih tau jawaban, semuanya akan dibalas di chapter depan, yaitu hari Sabtu depan ya, tanggal ... 28?
Yah itu aja, maaf updatenya juga sedikit.
Sampai ketemu chapter depan!
.
.
Rein Hiirota
