Cece Mayuyu : Dari dulu kepengen bikin parody Romeo and Julliet, yang pertama itu bener-bener mirip sama RnJ asli ngikutin dialog yang bahasanya bikin saya mumet juga sih jadi saya stop. Lalu lagi addicted sama Kaichi jadi sengaja bikin di fandom ini aja deh. Makasih udah review. Saya berusaha mengurangi typo dan edit lagi tapi nggak tahu masih ada typo atau nggak wkwk
dracokid : Iya, ini Kaichi karena saya cinta pair ini. Mereka terlalu canon di mata saya. Sampe punya anak lagi di anime saudara Vanguard XD Saya bukan masalah sama cara download, tapi sama koneksi internet. Berenti langganan s****y karna lemot dan belom ada gantinya hiks. Unsur utama dari Romeo and Julliet kan love at the first sight. Hm..endingnya disimpen buat nanti aja deh ya. Biar nggak spoiler /dihajar
Twinted Twining Tails : Makasih udah review. Nggak nyangka Hyuuchi-san mau baca cerita saya loh /nangis terharu/ sebenernya sih interaksi Asaka sama Ren itu lucu cuma saya juga lebih suka RenAichi atau KouteiRen huahaha cuma untuk menunjang cerita ya jadilah begini. Celana dalamnya tuh kayak jimat gitu kalo pake bisa makmur (?) Btw, ini saya baca reviewnya 19 menit sebelum update loh jadi pas saya mau update saya bingung kok nambah 1 tuh review. Tapi saya sih tentu aja seneng huahaha
Thanks to TsubasaKEI yang udah fave and follow cerita ini. And YOU, who read this story /wink
The Romance of Two Kingdoms
-A Parody of Romeo and Julliet-
Disclaimer :
Cardfight! Vanguard © Bushiroad
Romeo and Julliet © William Shakespeare
Genre :
Romance | Parody | Humor
Warning :
AU, OOC, TYPO, humor garing, parody gagal, jelek, bikin mules, ada bahasa yang tidak baku, shounen-ai, dll
Don't like? Don't read!
Di atas kanan ada tombol unyu-unyu warna merah. Klik aja.
Dua hari telah berlalu setelah insiden pesta dansa kerajaan Paladin yang berakhir rusuh karena sang pangeran yang menjadi objek permainan menghilang di tengah pesta dan malah bermesraan dengan pemuda lain. Kesampingkan hal itu karena sekarang Kai sedang berlatih pedang dengan salah satu anak buahnya. Seminggu tiga kali ia akan berlatih pedang bersama anak buahnya untuk melatih mereka dan kemampuan berpedangnya sendiri.
Bruk!
Suara tebasan benda tajam bernama pedang dapat terdengar bersamaan dengan suara debuman keras yang ditimbulkan oleh lawan main sang pangeran yang terjatuh terduduk karena kalah melawan sang pangeran. Yang bersangkutan hanya menatap anak buahnya itu dengan tatapan mata yang dingin khasnya. Namun dibalik tatapan yang dingin itu ia sedang bergejolak karena memikirkan Aichi. Kasmaran rupanya.
"Latihan hari ini selesai. Bubar!" Ucap sang pangeran berambut brunette dengan tegas dan memerintah. Semua pasukan yang ada di sana langsung bubar dan Kai sendiri berjalan masuk ke istana.
"Onii-chan!" Suara tinggi khas seorang anak perempuan dapat terdengar ketika ia baru memasuki istana. Dilihatnya adiknya bersama teman baiknya sedang berjalan menuju arahnya.
"Pagi, Pangeran Kai." Gadis yang merupakan teman baik adiknya, Mai, menunduk hormat. Sedangkan gadis bernama Emi tersebut hanya tersenyum melihat itu.
"Onii-chan, bolehkah aku menginap di rumah Mai-chan?" Tanya Emi dengan senyum manis.
"Kenapa kau meminta izinku? Minta pada ayah dan ibu." Kai yang melihat itu hanya bisa menaikkan sebelah alis.
"Ayah dan ibu sedang sibuk dan tidak bisa diganggu jadi aku kesini meminta izinmu saja." Kai tahu maksud Emi. Salahkan ia karena selalu membela adik perempuannya itu ketika ia melakukan hal yang salah dan membuat kedua orangtuanya marah. Tidak ia sangka Emi akan tumbuh menjadi anak kakak daripada anak ayah atau anak ibu.
Kai menghela nafas berat sebelum mengangguk tanda ia setuju dengan ide adiknya itu. Emi dan Mai langsung berlari meninggalkan Kai sendirian. Tanpa sengaja Kai melihat sebuah vas dengan bunga blue bell didalamnya. Bunga itu memenuhi vas sehingga terlihat seperti ingin keluar dari tempatnya. Warna bunga itu mengingatkannya dengan rambut biru dan mata biru milik Aichi. Gejolak perasaan itu membuatnya memutuskan untuk menemui Miwa untuk konsultasi cinta.
Ketika sampai di perpustakaan kerajaan, ia dapat melihat Miwa yang sedang meminta bayaran dari Gai. Hari ini Miwa mengantar barang keperluan kerajaan yang diminta Gai.
"Yo, Kai!" Sapa Miwa ketika menyadari kehadiran teman baiknya itu.
"Selamat siang, pangeran." Gai langsung berdiri dan menyapanya. Kai mengangguk dan Gai segera keluar dari sana meninggalkan kedua pemuda yang sudah berteman sejak balita tersebut sendirian.
"Jadi apa yang membawamu menemuiku? Ingin berburu wanita cantik di kota?" Goda Miwa dengan tawa geli.
"Aku jatuh cinta pada seseorang."
Diam. Hening.
Miwa membuka mulutnya lebar seolah-olah ia baru saja melihat penampakan hantu di siang bolong. Matanya masih fokus kepada Kai untuk mencari jejak kebohongan di matanya namun hasilnya nihil. Jika ia bukanlah sahabat baik Kai sejak balita mungkin ia akan berteriak 'Matahari terbit dari barat! Dunia akan hancur sebentar lagi!'. Namun tidak, yang ada adalah sebuah senyum tulus yang terukir di wajahnya yang tampan itu.
"Haha jadi siapa yang beruntung mendapatkan hati sang pangeran es, eh?" Miwa merangkul sahabat sejak balitanya tersebut. Ia tidak menyangka bahwa Kai akhirnya menemukan tambatan hati juga. Jika raja dan ratu mendengar ini mereka pasti akan langsung menyeret orang yang beruntung dan langsung menikahkan mereka.
"Aku bertemu dengannya di pesta topeng dua hari yang lalu. Namanya Aichi." Tutur Kai dengan raut wajah yang tampak merindukan seseorang.
Miwa diam di tempat. Tawanya hilang dan menatap temannya itu dengan tampang serius. Sangat sangat serius. "Kau bercanda 'kan?"
"Apa aku tipe yang suka bercanda?" Kai melirik Miwa tidak suka. Memangnya kenapa kalau ia suka pada Aichi?
"Kau tahu, Aichi adalah pangeran dari kerajaan Paladin dan ia yang berulang tahun dua hari yang lalu." Bumi bergetar gonjang-ganjing ketika Miwa mengatakan hal tersebut. "Kau menyukai musuh besarmu!"
.
.
.
"APA?!" Suara khas sang pangeran bluenette dari kerajaan Paladin dapat terdengar dengan jelas. Saat ini Aichi sedang berada di ruang kerja sang ayah. Ibunya juga hadir dan mereka membawakan berita pertunangan Aichi dengan Naoki.
"Tapi, ma, aku 'kan masih enam belas tahun. Baru saja ulang tahun dua hari yang lalu." Protes Aichi kepada sang bunda yang sudah membuat daftar bagaimana pernikahan putra sulungnya akan berlangsung.
"Karena kau masih berusia enam belas tahun akan banyak pelamar yang akan datang dan akan sulit bagiku untukku memercayakan dirimu pada mereka jika aku salah pilih. Jadi aku memilih Naoki yang sedari kecil bersamamu dan sepertinya ia tidak keberatan sama sekali. Iya 'kan, sayang?" Balas Asaka yang disetujui sang suami.
"Aichi, aku takut kalau kau tidak akan menemukan kebahagianmu jika terus sendiri seperti ini jadi kami memutuskan hal ini. Jangan mau jadi jomblo seperti Tetsu." Tetsu yang sedang mengerjakan tugas kerajaan mendadak bersin-bersin.
"Tapi, pa, aku ingin menikah dengan orang yang aku sukai." Aichi masih terus kekeuh dengan pendiriannya. "Lagipula Naoki-kun 'kan temanku sejak kecil. Dia yang selalu menjaga dan bersamaku di saat aku tidak boleh keluar istana. Dia lebih seperti kakak daripada kekasih."
"Aichi, aku akan membahagiakanmu! Aku berjanji!" Tanpa ba-bi-bu Naoki masuk ke ruang kerja sang raja tanpa mengetuk. Ia menggenggam kedua tangan kecil Aichi sambil menatap mata pemuda yang sebaya dengannya itu.
"Lihat 'kan Aichi. Naoki sangat menyukaimu." Ujar Ren seadanya.
"Kalian tidak mengerti!" Aichi keluar dari ruang kerja ayahnya dan berlari menuju kamarnya di sayap timur istana. Ia mengunci dirinya di kamar. Ngambek. Di dalam ia menangis dan berharap bahwa pemuda bernama Kai yang dua hari lalu ia temui untuk membawanya kabur sekarang juga.
"Aichi, makan siang." Suara Misaki dapat terdengar dari luar sana.
"Aku tidak lapar!"
"Buka pintunya." Suara Misaki melembut. Ia dapat mendengar suara isakan dari luar.
"Tidak lapar!"
"Buka sekarang atau kudobrak!" Misaki yang khawatir langsung keluar sifat aslinya yang merupakan mantan jenderal wanita tertinggi kerajaan Paladin. Pintu langsung terbuka sedikit dan ia mendorong kereta makanan masuk ke dalam. Ia dapat melihat Aichi yang sedang meringkuk di kasurnya.
"Ada apa?" Tanya Misaki yang duduk di sebelah Aichi dan mengusap helaian biru milik Aichi dengan lembut khas seorang ibu.
"Papa dan mama menjodohkanku dengan Naoki-kun." Aichi menggigit bibir bagian bawahnya. Air mata meluncur ke pipinya yang putih.
"Naoki orang yang baik. Kurasa ia akan membahagiakanmu." Misaki memeluk Aichi dengan lembut.
"Nee, Misaki-san. Dua hari yang lalu aku bertemu dengan seorang pemuda tampan dan jantungku berdegup kencang dan tadi saat papa dan mama mengatakan aku dijodohkan dengan Naoki-kun aku berharap pemuda itu mengajakku kabur. Apa yang sebenarnya terjadi?" Aichi bertanya dengan polosnya.
"Aichi! Kau sedang jatuh cinta!" Misaki terlonjak kaget sambil tersenyum dan memeluk putra asuhnya itu.
"Jatuh cinta?" Aichi menggumamkan kata-kata yang sering ia lihat di buku dongeng yang biasa Misaki bacakan sewaktu ia kecil.
"Jadi siapa pemuda yang beruntung ini? Apa ia benar-benar tampan hingga membuatmu terpesona?" Misaki membuat pemuda berparas lembut yang ada di hadapannya memerah hebat.
"Namanya Kai."
Misaki terdiam namun langsung bertanya, "Apa benar namanya Kai?" Tidak mungkin pangeran kecilnya ini menyukai−
"Iya."
−pangeran dari kerajaan Kagerou yang merupakan musuh besar mereka.
.
.
.
Di sebuah toko di distrik netral, Emi dan Mai sedang melihat-lihat pakaian. Sesekali mereka tertawa bersama ketika memakai salah satu baju disana. Rencananya mereka ingin pergi ke pesta ulang tahun teman malam ini dan sebagai seorang putri kerajaan, Emi tidak mau mempermalukan kerajaan dengan memakai pakaian biasa jadi ia menyeret Mai untuk membeli gaun baru padahal gaunnya di rumah sudah banyak sekali.
"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya Emi kepada Mai yang sedang memilih gaun di rak yang tersedia.
"Tidak buruk. Tapi kurasa Emi-chan lebih cocok dengan yang ini." Mai menunjukkan sebuah gaun berwarna oranye dengan pita di sana-sini.
"Tapi itu tidak lucu. Terlalu banyak pita." Komentar Emi.
Brak!
Pintu toko pakaian tersebut terbuka dengan kasar oleh seseorang dengan rambut putih. Orang itu memakai pakaian yang androgini jadi Emi dan Mai tidak tahu apakah dia perempuan atau laki-laki. Wajahnya dibuat beraut seram. Mata ungunya meneliti setiap pelosok toko dengan tajam.
"Hei, kau bocah bangsawan!" Orang itu menunjuk Emi. "Ikut aku sekarang!" Orang itu menarik tangan Emi dengan paksa dan yang dipaksa masih berada dalam posisi terkejut.
"Emi-chan!" Suara tinggi Mai memanggil nama sahabat baiknya tersebut. Ia panik dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Hei! Beraninya pada perempuan! Lawan aku kalau berani!" Seorang bocah lainnya dengan rambut biru donker langsung menghajar pemuda berambut putih tersebut. Diputuskan untuk mengatakan orang berambut putih adalah pemuda karena dadanya rata. Bahkan suara orang itu masih tergolong androgini bagi sebagian orang.
Genggaman tangan si pemuda bersurai putih yang diperkirakan preman itu melonggar dan itu tidak disia-siakan oleh Emi. Dengan segera ia melepaskan diri dan berlari menuju tempat Mai berada. Mereka langsung berpelukan.
"Terima kasih." Emi tersenyum kepada pemuda berambut biru donker tersebut dan orang yang bersangkutan langsung memerah wajahnya. Jantung si bocah laki-laki berdegup kencang tidak karuan.
"Kamui-san! Bertahanlah!" Salah seorang teman dari anak berambut biru donker itu berusaha menyadarkannya. Yang berusaha dibangunkan menggumamkan kalimat seperti 'dewi' dan 'menikahlah denganku'.
"Bocah sialan! Beraninya kau menonjok Kyou-sama yang hebat ini!" Pemuda berambut putih yang mengaku bernama Kyou itu langsung menyiapkan kepalan tangan dan bersiap untuk balas menonjok Kamui yang masih berada di alam khayalannya. Namun yang bersagkutan segera menghindar dan membuat Kyou terjatuh tersugkur di tanah dengan tidak elitnya, kemudian ia menginjak punggung Kyou guna menekan si pemilik punggung agar tidak bisa bangkit berdiri. Tidak disangka ternyata bocah berambut biru donker itu sangat kuat untuk ukuran anak berusia dua belas tahun. Detik berikutnya beberapa orang polisi datang dan membawa Kyou pergi dari sana.
Emi dan Mai yang menyaksikan aksi heroik dari anak laki-laki misterius yang diperkirakan juga salah seorang pelanggan toko tersenyum dan berterima kasih padanya. Yang dibicarakan tersenyum malu-malu ketika Emi mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum. "Perkenalkan, namaku Emi."
Kamui yang berhasil mengendalikan ekspresi dan kondisinya segera memasang pose keren untuk membuat gadis kecil di hadapannya itu terpesona dan mengatakan, "Namaku Kamui."
.
.
.
Langit senja yang jingga membuat pemandangan kerajaan semakin indah. Misaki yang sedang berjalan di tengah kota untuk mengambil pesanan Ratu Asaka tenggelam dengan pikirannya. Ia tidak percaya bahwa anak asuhnya jatuh cinta dengan pangeran negeri tetangga. Di satu sisi ia bahagia karena akhirnya Aichi menemukan cinta sejatinya namun di sisi lain ia sedih karena orang yang merupakan cinta sejatinya itu adalah pangeran negeri tetangga.
Misaki berbalik sebentar dan melihat matahari tenggelam di balik dua istana yang berdiri dengan megah. Istana itu bersebelahan. Dari jauh mungkin terlihat kedua istana itu dibangun tepat bersebelahan, namun aslinya kedua istana itu dipisahkan oleh sebuah hutan lebat. Tempat ia berdiri ini adalah sebuah distrik di antara dua kerajaan yang menjadi pihak netral dan menjadi tempat perdagangan besar bagi kedua kerajaan. Orang-orang di distrik ini tidak memilih salah satu kerajaan dan hidup damai. Andai saja kedua kerajaan itu damai mungkin hubungan asmara anak asuhnya dengan pangeran negeri tetangga tidak akan terganggu seperti ini.
Bruk!
Tanpa sadar ia berdiri di tengah-tengah jalan dan ditabrak seseorang yang sepertinya terburu-buru hingga terjatuh. Orang itu segera membungkuk dan membantu Misaki untuk berdiri. Ketika Misaki membuka matanya ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"Kau kan.." Misaki menunjuk pemuda berambut pirang dengan iris abu-abu itu dengan tatapan tidak percaya. Yap, mereka saling kenal.
"Misaki?" Pemuda yang menabraknya tersebut membantu Misaki berdiri. "Sepertinya kita ditakdirkan untuk bersama haha.." Guraunya setelah Misaki berdiri dengan kedua kakinya.
"Mungkin. Tidak kusangka akan bertemu denganmu lagi disini, Miwa." Misaki tersenyum tanpa menyadari bahwa tangan Miwa masih melekat pada pergelangan tangannya. Namun kedua langsung menyadari hal itu dan segera melepaskan kontak fisik mereka. Suasana menjadi canggung mendadak.
"Haha aku rindu berdansa denganmu. Lain kali kita harus jalan bareng." Goda Miwa dengan senyum lebar agar suasana tidak canggung lagi. Misaki hanya bisa menunduk malu mendengar itu. Semburat merah menghiasi pipinya yang putih.
"Bisa saja. Tapi aku sedang terburu-buru. Lain kali kita bisa jalan bareng dan berbincang." Misaki hendak pergi namun Miwa menahannya. Untuk kedua kalinya mereka langsung masuk ke zona canggung.
"Mau kemana? Aku temani, boleh kan?" Miwa tidak tahu apa yang merasukinya namun ia masih ingin berlama-lama dengan gadis berambut lilac tersebut.
Misaki tersenyum lmbut namun menolak tawaran si pemuda pirang tersebut. "Aku ingin mengambil pesanan Ratu Asaka di Card Capital."
"Eh, kau yang disuruh mengambil gaun milik Ratu Asaka? Kebetulan aku yang menjaga tokonya. Aku anak pemilik toko, Miwa Taishi." Miwa memperkenalkan dirinya dengan hormat layaknya seorang gentleman. Di pesta dansa kemarin mereka hanya memperkenalkan nama depan saja.
"Kebetulan sekali." Miwa mengajak Misaki menuju toko ayahnya yang sebenarnya tidak jauh dari sana. Sesampainya di sana Miwa langsung menyerahkan apa yang diminta sang ratu dari kerajaan Paladin.
"Ngomong-ngomong kenapa kau bengong di tengah jalan? Wajahmu juga terlihat sedih." Tanya Miwa ingin kepo ke wanita yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama tersebut.
"Er..janji jangan bocor ya." Misaki melihat ke kanan dan ke kiri dengan waspada padahal di dalam toko hanya ada mereka berdua saja. "Jadi ceritanya begini, anak asuhku, Aichi, pangeran kerajaan Paladin, jatuh cinta dengan pangeran kerajaan tetangga. Mereka bertemu di pesta dansa dua hari yang lalu."
"Demi banci kecebur sumur! Jadi pangeran Aichi juga jatuh cinta dengan Kai?!" Miwa berteriak histeris. Ini baru yang namanya seru!
"Kai? Kau tidak memakai embel-embel pangeran?" Misaki menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar itu. Sepertinya Miwa terlihat akrab dengan pangeran negeri tetangga, pikir Misaki.
"Aku teman sejak kecilnya. Kami saling kenal sejak balita dan tadi siang dia curhat bahwa ia suka dengan pangeran Aichi juga! Kebetulan yang indah namun menyakitkan!" Miwa mendramatisir keadaan dengan gerakan tangan yang memegang jantung seolah-olah sedang sakit.
"Senang mendengar bahwa cintanya terbalaskan namun kedua kerajaan tidak akan setuju. Kisah cinta yang tragis. Oh iya, sebagai info tambahan Aichi sudah dijodohkan dengan keponakan penasehat Tetsu, Naoki." Misaki dan Miwa mendadak menggosip tentang hubungan kedua pangeran berbeda negeri itu. Mereka akan membuat pasangan yang cocok.
"Kalau tidak salah mereka teman kecil 'kan? Wah, Kai harus melewati cobaan berat nih. Tapi kalau ia sampai mendengar ini.." Miwa membayangkan Kai dan Naoki yang bertarung untuk memperebutkan Aichi. Begini-gini ayahnya selalu membawanya untuk melakukan transaksi dengan orang-orang penting jadi ia mengetahui banyak orang dari kalangan atas maupun kerajaan.
"Jangan! Bisa-bisa Aichi langsung murung seminggu!" Misaki berteriak ala ibu-ibu ketinggalan diskon akhir bulan. "Aichi itu kondisi fisiknya lemah jadi tidak bisa keluar istana, yang menemaninya di istana hanya Naoki yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri jadi ia akan sedih kalau Naoki kalah ataupun mati. Tapi di lain sisi ia menyukai Kai dan pasti tidak mau Kai kalah juga. Merepotkan!"
Miwa mengengok ke jendela yang dibingkai kusen kayu tokonya dan berkata, "Hari sudah malam, lebih baik kau kembali ke istana. Mungkin kita bisa membantu mereka dari belakang." Miwa tersenyum menenangkan Misaki. Misaki pamit dan kembali ke istana.
Tanpa sepengetahuan kedua insan ini, sesuatu sedang terjadi.
.
.
.
Langit senja sudah berganti menjadi langit malam yang indah dengan bulan sabit yang bersinar lembut. Bintang terlihat beberapa namun tidak terlalu banyak. Hembusan angin malam yang dingin membuat dedaunan bergemerisik dengan indahnya bersama kicauan burung yang entah kenapa masih bernyanyi di malam hari. Beberapa orang yang ada di istana Paladin dan Kagerou sudah tertidur mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Seseorang mengendap-endap masuk ke dalam hutan perbatasan antara dua kerajaan dengan kuda hitamnya. Kuda yang sudah terlatih dan merupakan kesayangan sang pemilik tidak meringkik ketika berlari menuju hutan terlarang tersebut. Disebut terlarang karena merupakan daerah perbatasan di antara dua kerajaan yang berselisih. Tidak ada yang menyadari kepergian sang pangeran negeri Kagerou menuju markas musuh mereka.
Di sayap timur tepatnya di kamar Aichi, sang pemilik kamar sedang bersandar di balkon kamarnya sambil menatap langit malam yang indah. Suara orkestra jangkrik menemaninya malam itu. Sesekali ia menghela nafas karena kejadian hari ini. Ia menatap sebuah istana milik kerajaan Kagerou yang berdiri dengan megahnya di seberang hutan terlarang dan kebetulan kamarnya menghadap ke arah sana. Ia berharap Kai mendatanginya dan mereka bisa berbincang-bincang. Tapi satu kenyataan menyambarnya tadi siang, Misaki bilang padanya kalau Kai adalah pangeran dari kerajaan Kagerou. Ia menghela nafas entah untuk keberapa kalinya.
"Bisakah hari ini menjadi lebih buruk dari ini?" Gumamnya sambil menopang wajahnya yang cantik dan manis dengan satu tangan sambil menatap bulan sabit dengan raut kecewa bercampur sedih.
Tidak jauh dari tempatnya, memang tidak terlalu jauh karena hanya di bawah balkon Aichi dan di belakang semak-semak yang ada, Kai sedang bersembunyi sambil memerhatikan sang pujaan hati yang sibuk menatap bulan. "Wajahnya benar-benar indah dan auranya dilapisi oleh kesucian Diana. Kenapa dia harus seorang Paladin?" Entah setan apa yang menyambarnya tapi ia benar-benar mengatakan hal itu.
"Oh, Kai-kun, campakkanlah ayahmu dan keluargamu. Kenapa harus Kagerou? Nama yang sangat dibenci oleh ayah dan ibuku." Aichi bermonolog seperti seorang gadis yang sedang menunggu pangerannya untuk datang menyelamatkan. Mata dengan iris samudra tersebut masih menatap bulan sabit yang terhalangi oleh istana Kagerou di seberang hutan terlarang.
Kai di bawah sana yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Aichi. Kenapa mereka harus dipisahkan oleh kerajaan begini? Apa mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama? Namun kalau begitu mengapa mereka bisa bertemu dan akhirnya jatuh cinta? Ketika ia melihat Aichi yang hendak masuk ke kamarnya, Kai keluar dan memanggil namanya.
"Aichi!"
Aichi berbalik dan menatap sumber asal suara yang ia rindukan setiap malam sejak pertemuan pertama mereka dengan tidak percaya. "Bagaimana kau bisa disini? Bagaimana kalau penjagaku menemukanmu?!" Aichi langsung melihat ke kanan dan ke kiri takut ada penjaga yang lewat.
"Aichi, aku kesini ingin bertemu denganmu dan memastikan apa benar kau seorang Paladin. Ternyata benar adanya." Kai menatap Aichi dengan tatapan rindu yang bergejolak.
"Dan kau adalah seorang Kagerou. Kedua kerajaan tidak akan suka dengan ini." Aichi menatap Kai dengan tatapan berkaca-kaca. Ini pertama kalinya ia jatuh cinta dan mengapa harus berakhir dengan tragis?
"Persetan dengan dua kerajaan. Kau adalah kau. Aku adalah aku. Tidak ada yang bisa memisahkan kita." Kai membuat resolusi di tempat ia berdiri sekarang. Jika mereka perlu pergi ke tempat yang tidak bisa ditemukan kedua orangtua mereka, ia akan melakukannya. Semua untuk sang pujaan hati yang bisa melelehkan hati esnya.
Guk! Guk! Guk!
"Hush! Jangan ganggu dia, Wingal!" Seekor anjing berbulu biru keluar dari kamar Aichi dan menggong-gong ke arah Kai yang berada di bawah.
"Aichi, apa kau masih bangun?" Suara Misaki dapat didengar dari depan kamar Aichi.
"Ya!" Aichi membalas Misaki dan beralih kepada Kai yang masih berada di bawah sana. "Pergilah! Penjaga akan datang jika Wingal sudah menggong-gong. Cepat pergi!" Dan dengan itu Aichi berlari masuk ke kamarnya dan membukakan pintu untuk Misaki. Kai sendiri segera pergi setelah mendengar peringatan Aichi. Ia harus meminta saran Miwa untuk langkah selanjutnya. Harus ia akui, ia membutuhkan saran Miwa saat ini.
Tanpa sepengetahuan kedua insan yang sedang jatuh cinta tersebut, seorang pemuda berambut merah oranye memerhatikan kedua interaksi mereka sejak awal mereka bertukar kata. Ia mengeratkan kepalan tangannya dan segera pergi dari tempat persembunyiannya yang merupakan batang pohon besar dengan daun-daun yang rindang. Jubah warna merahnya berkibar karena angin yang berhembus malam itu.
.
-To Be Continued-
.
Author Note :
Makasih yang udah review. Saya terharu. Dikira nanti nggak bakal dapet review karna fandom ini kan fandom kecil. Soalnya review itu bahan bakar saya. Abaikan yang sebelumnya. Awalnya saya galau mau pake dialog Romeo and Julliet beneran atau kagak, tapi rasanya kalo 2 dialog di atas nggak dimasukin rasanya nggak srek aja. Kai terkesan OOC tingkat dewa dan Aichi jadi putri solo dadakan. Maafkan mama, nak~
Lalu disini sudah muncul tokoh lain seperti Kamui dan Emi. Hint Miwa Misaki juga udah ada. Tapi fokus tetaplah anak saya (baca: Aichi) dan menantu saya (baca: Kai). Saya update ini fic sekarang karena minggu depan adalah final test week di sekolah saya /nangis/ doain saya bisa mengerjakannya dengan baik dan dapet nilai yang bagus. Amin.
Jangan lupa review, ya~
