dracokid : Saya juga nggak suka kalau Kaichi dipisah, jadi saya tidak akan memisahkannya di fic ini (nah kalo yang lain?). Gimana ya.. Endingnya disimpen dulu deh buat terakhir nanti. Sebenernya sih kayaknya nggak harus disimpen-simpen banget karena udah jelas banget kayaknya. Tenang, nggak ada yang mati kok disini. Makasih udah review.
Cece Mayuyu : Hehe sekarang udah update chapter 3. Ya, mereka salah satu pair straight yang saya sukai selain KamuiEmi di Vanguard haha.. Wingal itu guguk yang unyu.. Makasih udah review~
AngelWaltz : Saya memang tidak jago humor jadi garing dan kadang hilang sama sekali walau dipasang genre humor. Tetsu 'kan FA sejati karena dia suka sama anak-anak (inget satu episode yang Tetsu dikerubungi anak kecil). Aichi kayak putri Solo disini makanya saya hampir jedukin pala karna itu. Ada kok adegannya. Masa nggak saya masukin sih XD Thanks for reviewing, yo~
chacharat : Sebanarnya itu typo terus saya sempat galau mau ganti atau nggak soalnya biar lucu. Saya juga inget kak SakiGane jadi rada kayak 'duh kalo sama nanti saya dicekal lagi. Tidakk' begitulah ceritanya *pundung di pojok* Parody-nya memang nggak keliatan lagi. Kayaknya sih saya ganti aja jadi romance tanpa yang lainnya. Soalnya cuma ngambil ide RnJ yang ditentang orangtua lalu mati gitu. Makasihudah reiew~
SakuraTatsumi : Makasih! Ini sudah update ^.^
Twinted Twining Tails : Kita semua punya kesibukan real life, jadi it's okay. Aww, saya malu dibilang gaya penulisannya unik dank has, padahal saya nggak tahu dimana unik dan khasnya *lirik ke bawah* Saya juga suka Wingal disini. Anjing warna biru yang ngekorin Aichi kemana-mana lol. Saya memang lebih jago romansa daripada komedi atau parody kayaknya. Padahal saya nggak pernah merasakan hal itu -_- Makasih udah review~
NumpangLewat : Makasih! Ini udah update~
flame haze : Maaf lama nih updatenya. Gimana ya? Udah jelas Kai dan Aichi bersama tapi apakah happy ending? Entahlah /author disambit
yume : Udah lanjut. Makasih sudah review~
Thanks to SakuraTatsumi and Carina Quarene yang udah fave fic fanfic ini. Karna saya terlalu malas mengecek follow *plakk* jadi nggak saya cantumin. Makasih semuanya. And last thanks for YOU too~
The Romance of Two Kingdoms
-A Parody of Romeo and Julliet-
Disclaimer :
Cardfight! Vanguard © Bushiroad
Romeo and Julliet © William Shakespeare
Genre :
Romance | Parody | Humor
Warning :
AU, OOC, TYPO, humor garing, parody gagal, jelek, bikin mules, ada bahasa yang tidak baku, shounen-ai, dll
Don't like? Don't read!
Di atas kanan ada tombol unyu-unyu warna merah. Klik aja.
Tidak terasa hari baru sudah datang. Matahari baru saja terbit dan kembali bersinar hangat di atas langit yang masih agak gelap sana. Tidak lupa dengan hembusan angin sejuk dan nyanyian burung di pagi hari. Selintas hari ini dapat diperkirakan akan menjadi hari yang indah seperti hari lainnya. Namun ternyata tidak karena Kai dengan nekatnya kembali ke tempat Aichi di pagi hari. Kemarin setelah mengunjungi Aichi, ia segera berderap menuju tempat tinggal Miwa di distrik netral dan meminta bantuannya.
"Aichi!" Panggil sang pangeran dengan baju merah tersebut dengan suara yang dibuat sepelan mungkin namun dapat menarik perhatian sang pujaan hati. Ia sempat bersembunyi ketika salah seorang prajurit dengan pakaian metalnya berjalan ke arahnya. Patroli sepertinya.
"K-Kai-kun?" Aichi berjalan dengan cepat menuju balkonnya. Ia masih mengenakan piyama birunya. Tidak ia sangka ia bisa melihat wajah dan mendengar suara Kai di pagi buta begini.
"Aichi aku ingin kau−"
"Aichi! Sudah waktunya kau bangun!" Suara Misaki memanggil Aichi dapat terdengar oleh Kai dan membuatnya langsung bersembunyi di semak-semak tempat ia bersembunyi kemarin malam.
"Aku sudah bangun, Misaki-san." Balas Aichi sambil masuk ke kamarnya dan menutup pintu kaca yang menuju balkonnya.
Bruk!
Dengan tidak elitnya pintu kamar Aichi ambruk dan membuat sang pemilik kamar diam di tempat. Ia hanya bisa melihat pintu yang terbuat dari kayu itu dengan kasihan. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya namun pelaku yang mendobrak pintu tersebut.
"Mama?" Aichi terkejut ketika Asaka memeluknya dengan erat.
"Selamat pagi, Aichi." Asaka mengecup kening Aichi dan melepaskan pelukannya. Misaki yang berada di belakang sana tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu. Aichi menyadari bahwa tangan Misaki berada di belakang dan ia sudah bisa merasakan hal buruk akan menimpanya sebentar lagi.
"Aichi~ Aku punya hadiah untukmu~" Asaka mengatakannya dengan senyum kelewat lebar. "Misaki bawa 'itu'." Misaki mendekati Aichi dan memperlihatkannya sebuah gaun selutut dengan lengan pendek berwarna biru muda namun bagian bawahnya tidak dibuat menggembung seperti gaun biasanya ditambah dengan pita biru tua yang diikat menyamping di bagian pertemuan bagian atas gaun dengan bagian bawahnya. Setidaknya gaun itu tidak terlalu mencolok dan menampilkan kesan santai karena bagian bawahnya yang tidak memiliki hiasan apa-apa. Hanya gradasi warna yang lama-kelamaan menjadi putih saja.
"Hari ini kau akan berjalan-jalan dengan Naoki di kota jadi kau harus tampak cantik." Asaka menarik lengan Aichi menuju kamar mandi.
"TIDAAAKKK!" Aichi berteriak dan membuat Kai yang bersembunyi sedikit khawatir. Apa pujaan hatinya baik-baik saja?
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di koridor kerajaan Kagerou terlihatlah Yuri yang sedang berlari tergopoh-gopoh sambil mengangkat gaunnya yang kelewat besar itu. "Kenji! Kenji!" Yang dipanggil namanya langsung muncul entah dari mana.
"Ada apa, Yuri?" Kenji menyentuh pundak sang istri dengan lembut sambil tersenyum tampan.
"Aku tidak bisa menemukan Kai! Padahal hari ini aku ingin mengenalkannya dengan putri kenalanku!" Yuri mengguncang tubuh Kenji dengan kekuatan yang luar biasa. "Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ketemu!"
"Kau ingin menjodohkannya tanpa sepengetahuannya?" Kenji yang sudah kembali normal berkomentar. "Dia tidak akan suka ini."
"Aku yakin dia akan suka dengan gadis ini. Dia sangat cantik dan manis. Berpendidikan tinggi dan baik hati. Pandai memasak dan sayang pada anak-anak. Sikapnya sangat sopan dan mencerminkan seorang lady." Yuri mulai membeberkan apa yang ia sukai dari gadis ini.
"Bagaimana kalau ia sudah menyukai orang lain? Terburuknya bagaimana kalau ia menyukai laki-laki?" Hening melanda pasangan kerajaan Kagerou tersebut. Yuri tidak berpikir sejauh itu. Kerajaannya memang mengizinkan hubungan sesama jenis.
"Kalau ia punya kekasih kenapa dia tidak mengatakannya pada kita?" Tukas Yuri masih tidak percaya bahwa putranya itu memiliki kekasih. "Tidak mungkin Kai menyembunyikan hal di belakang kita. Dia anak yang baik dan penurut, aku tahu itu."
"Dia sudah delapan belas tahun dan tahu apa yang ia inginkan dan yang mana yang tidak. Kau tidak bisa memaksanya begitu saja." Kenji menatap sang istri. Berusaha memberi Kai peluang untuk memilih kehidupannya sendiri. Tapi ia tahu betul bahwa istrinya−
"Haha Kai adalah anak manis dan tidak akan melakukan hal yang tidak kusukai. Aku yakin pilihanku ini akan membuatnya jatuh hati."
Keras kepala.
Kenji menghela nafas dan melihat sang ratu kerajaan Kagerou berjalan menjauhinya. Kemarin Gai melapor padanya bahwa putra sulungnya itu menyukai seorang pangeran. Gai tidak mendengar dari kerajaan mana karena ada pelayan yang memanggilnya.
"Bukannya aku melarang namun kau harus tahu apa yang kau lakukan, Kai." Kenji menatap langit biru yang cerah di atas sana. "Sepertinya akan ada badai."
.
.
.
Karena Naoki ada urusan mendadak selama dua hari, Aichi tidak jadi berjalan-jalan di kota dengannya. Sebagai gantinya ia hanya duduk di balkonnya sambil memerhatikan penjaga yang berjalan seperti setrika di wilayahnya. Ia tahu Kai masih bersembunyi di balik semak-semak itu dan tidak bisa keluar.
BLDAR!
Suara kencang yang berasal dari sayap barat dapat terdengar dengan jelas. Aichi yang mendengar itu segera bangkit berdiri dan hendak menuju ke tempat asal suara namun sebuah batu kerikil terantuk pada punggung kecilnya yang dibalut gaun satin berwarna biru sederhana tersebut. Ia melihat Kai yang mengisyaratkan untuk tetap di sana.
"Oi! Bantu kami di sayap barat!" Teriak salah satu prajurit memanggil prajurit yang sedaritadi menjaga sayap timur tempat Aichi berada dan prajurit tersebut segera berlari mengikuti rekannya tersebut.
Kai segera keluar dari tempat persembunyiannya selama kurang lebih setengah jam. Kakinya terasa pegal dan lelah setelah berjongkok selama itu. Namun ia kesampingkan hal itu karena dengan cekatan ia memanjat menuju balkon Aichi yang memiliki ketinggian tiga meter dari permukaan tanah dengan tumpuan pada hiasan dinding yang dapat dijadikan pijakan. Aichi yang melihat itu terkejut dan terkagum-kagum di saat yang bersamaan. Ia tidak akan pernah bisa melakukan hal tersebut.
"Aichi." Dengan nafas terengah-engah Kai sudah berdiri dengan tegap di hadapan Aichi. Ia menggenggam kedua tangan Aichi dengan tangannya yang besar. Aichi merasakan hangat yang menjalar menuju seluruh tubuhnya. "Ikut denganku." Tanpa basa-basi Kai langsung mengangkat Aichi ala bridal style dan melompat dari balkon itu. Aichi yang mendapat serangan jantung mendadak hanya bisa mengeratkan pegangannya pada leher Kai dan menutup mata.
Hap!
Layaknya badut di sirkus, Kai berhasil mendarat di semak-semak yang memang agak tebal dengan sempurna. Tidak ada yang terluka, paling bajunya hanya tersangkut daun-daun namun itu bukan hal yang besar asal tidak sobek saja.
"Aichi." Panggil Kai dengan lembut tepat di sebelah telinga Aichi. Aichi yang masih menutup mata dan bersandar pada pundak Kai yang lebar akhirnya membuka mata dan menatap Kai yang jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Kai-kun.." Panggil Aichi dengan sorot mata bahagia dan hati yang meluap-luap. Belum pernah ia rasakan hal ini sebelumnya.
"Kita akan menikah hari ini." Ucap Kai dengan suara bariton dan dingin khasnya. Namun Aichi suka itu. Tunggu.. menikah?
Kai langsung berlari keluar dengan Aichi yang masih bersarang di tangannya. Dengan mudahnya mereka keluar dari bagian belakang istana karena tidak ada penjaga yang bertugas. Sepertinya mereka difokuskan untuk memadamkan api yang bergejolak di gudang yang terpisah dengan istana. Aichi yang melihat itu menatap horror api yang memang tidak terlalu besar namun asap hitamnya itu membumbung tinggi.
"Kai-kun yang melakukan ini?" Tanya Aichi takut-takut pada pemuda yang merebut hatinya tersebut. Ia khawatir dengan kondisi istana dan penghuninya. Bagaimana kalau saat ia kembali istana sudah dilahap api?
"Tenang saja. Tidak akan ada yang terluka maupun terbakar karena itu hanya asap saja." Kai yang mendeteksi kekhawatiran sang calon istri langsung mengeratkan pelukannya terhadap sang pemuda beraut manis tersebut dan menciumi rambutnya yang memiliki wangi lavender. Wajah Aichi memerah hebat dan ia mengangguk.
Di gudang kerajaan Paladin yang tiba-tiba saja mengeluarkan suara ledakan, semua prajurit, pelayan, bahkan raja dan ratu beserta penasehatnya mendatangi tempat itu dan tidak menemukan api, yang ada hanyalah asap hitam yang tebal.
"Apakah ada orang di dalam?" Tanya Ren dalam mode serius. Wajahnya yang biasanya terlihat santai dan main-main mengeras dan memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bergerak.
"Ohok ohok!" Suara batuk terdengar dari arah gudang yang berasap tersebut. "Syukur aku bisa keluar dari sana." Seorang pemuda yang diketahui bernama Miwa keluar dari gudang dengan wajah dan pakaian yang awut-awutan. Serba hitam.
"Apa kau tidak apa-apa?" Ren, Asaka, dan Tetsu menghampiri anak pedagang yang menggantikan ayahnya yang sedang keluar kota itu. "Apa kau melihat orang mencurigakan di dalam sehingga membuat ledakan itu?"
"Tidak." Miwa yang masih cemong menggeleng. "Saat aku menaruh barang pesanan Anda, aku melihat tungku yang menyala dengan ganasnya dan aku segera kabur mencari air kemudian menyiramnya. Namun ternyata hal itu membuat ledakan asap yang luar biasa. Untungnya hanya asap saja." Miwa memamerkan gigi putihnya yang nampak lebih putih karena wajahnya yang cemong.
"Terima kasih. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi kalau gudang ini terbakar." Ren menunduk berterima kasih dan Asaka beserta Tetsu juga membungkuk tanda terima kasih. Miwa hanya bisa nyengir malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kai harus berterima kasih padanya nanti karena sudah membantunya menculik sang putri dari kerajaannya, pikir Miwa.
.
.
.
Kai dan Aichi berdiri di sebuah jalan setapak dengan sisi kanan dan kiri berupa rumput hijau yang indah. Keadaan di sekitar mereka sangat asing bagi Aichi yang tidak pernah keluar istana. Jangankan sekarang, tadi saat Kai berhasil sampai di kota saja Aichi langsung terkagum-kagum dan menarik Kai kesana-kemari layaknya anak TK yang dibawa jalan-jalan keluar rumah. Ia bertanya tentang barang yang ia lihat menarik kepada Kai. Dengan senang hati Kai menjelaskannya kepada Aichi yang ia tahu tidak pernah keluar istana. Kai tahu dari Miwa. Kata Miwa ia punya informan di dalam kerajaan Paladin.
"Kai-kun, ini dimana?" Aichi melihat sekelilingnya yang sepi dan hanya hijaunya rumput yang dapat ia lihat sejauh mata memandang. Di ujung jalan setapak yang menapaki sebuah bukit hijau kecil itu terdapat sebuah gereja kecil. Di samping gereja itu terdapat sebuah pohon besar yang rindang.
"Ini adalah tempat kita menikah." Kai menarik tangan Aichi dengan lembut sambil berlari kecil menuju gereja tersebut. Aichi yang tidak terbiasa berlari berusaha mengikuti langkah Kai yang ia yakin sengaja diperlambat. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang amat sangat.
Sesampainya di depan pintu gereja yang ternyata megah itu, mereka dapat melihat tiga orang wanita berpakaian putih dengan tinggi yang berbeda-beda. Sepertinya mereka adalah biarawati gereja tersebut.
"Kami sudah menunggumu Pangeran Kai dan Pangeran Aichi." Yang paling tinggi di antara ketiga wanita tersebut menyambut kedua orang tersebut dengan senyum lembut. "Namaku adalah Suiko dan yang ada di sebelah kiriku adalah Kourin, sedangkan di sebelah kananku adalah Rekka. Kami adalah biarawati gereja ini."
Kai menggangguk dan Suiko membuka pintu gereja yang terbuat dari kayu tersebut. "Selamat datang di gereja kami." Gadis berambut pirang bernama Kourin membuka suaranya.
Berbeda dengan interior depan yang terlihat sederhana, ternyata bagian dalam dari gereja tersebut begitu menakjubkan. Seperti gereja pada umumnya mereka memiliki kursi-kursi untuk para jemaat duduk. Di tengah jajaran tempat duduk yang terletak di sebelah kanan dan kiri terdapat sebuah karpet merah. Di ujung karpet tersebut terlihatlah sebuah altar megah yang indah. Sebuah salib terpajang di atas meja altar. Kaca warna-warni yang membentuk sebuah gambar bersinar karena tertimpa sinar matahari.
"Dengan segala hormatku kepada Pangeran Kai dan Pangeran Aichi, selamat datang di rumah Bapa." Seorang pemuda dengan rambut putih dipotong pendek berdiri tepat di ujung karpet di belakang podium tempat biasa para pendeta berkhotbah.
"Mari kita mulai acara pernikahan suci ini. Kami akan menjadi saksi pernikahan kalian berdua di sini." Biarawati pendek yang diketahui bernama Rekka tersebut tersenyum lebar. "Kalian hanya perlu berjalan berdampingan menuju tempat pendeta Takuto berada dan kita bisa memulai pemberkatannya." Suiko menjelaskan sedangkan Kourin menutupi kepala Aichi dengan kain transparan yang biasa digunakan saat pernikahan. Dengan itu ketiga biarawati tersebut berjalan duluan dan duduk di kursi paling depan.
"Ini akan menjadi sangat menarik." Suiko tersenyum lembut sambil memandangi Takuto yang sedang mempersiapkan kitab sucinya. Rekka menggangguk antusias sedangkan Kourin melihat pasangan yang akan menikah itu dengan was-was.
"Kau khawatir dengan anak yang kau urus saat ia mau dibaptis ya, Kourin?" Suiko yang menyadari kekhawatiran salah satu saudarinya itu tersenyum maklum. Saat Aichi masih bayi, Kourinlah yang membantu kedua orangtuanya mempersiapkan hal yang diperlukan untuk pembaptisan sang pangeran kecil. Kourin merasa Aichi sudah seperti anaknya sendiri.
"Kurasa Kai bisa mengatasi semuanya." Rekka tersenyum lebar. Mereka sudah sampai di tempat duduk dan duduk di sana. Mereka mengangguk pada Takuto yang sudah siap dengan jubah putihnya.
"Pangeran Kai dari kerajaan Kagerou." Kai menatap Takuto. "Pangeran Aichi dari kerajaan Paladin." Aichi menoleh ke arah Takuto. "Kalian bisa berjalan kemari." Kai membentuk tangan kanannya seperti busur dan Aichi memasukkan tangannya ke dalam sana dan mereka berjalan menuju Takuto. Suara kicauan burung dan hangatnya sinar mentari menjadi pemandangan saat mereka menikah.
Setelah sampai di tempat tujuan, Kai dan Aichi melepaskan genggaman mereka dan menghadap Takuto yang berkata, "Apa kau, Pangeran Kai dari kerajaan Kagerou, apa kau menerima Pangeran Aichi dari kerajaan Paladin sebagai istrimu dalam suka maupun duka?" Takuto mulai membacakan deretan kata-kata sakral dalam pernikahan.
"Aku menerimanya." Ucap Kai mantap tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Apa kau, Pangeran Aichi dari kerajaan Paladin, menerima Pangeran Kai dari kerajaan Kagerou sebagai suamimu dalam suka maupun duka?" Tanya Takuto kali ini kepada Aichi yang masih dalam balutan gaun yang dipakaikan ibunya tadi pagi.
"Aku menerimanya." Ucap Aichi dengan lembut khasnya dengan wajah yang memerah. Ia tidak pernah menyangka hari seperti ini akan datang dalam kehiupannya. Dulu ia selalu berpikir bahwa ia tidak akan pernah menikah karena sudah meninggal karena kondisi fisiknya yang semakin melemah setiap tahunnya.
"Saudaraku yang berbahagia, aku resmikan kalian sebagai sepasang suami istri yang sah." Takuto tersenyum lembut sambil mengangkat tangannya ke atas. "Kau bisa mencium pasanganmu."
Dengan itu Kai mengangkat penutup kepala Aichi dan mendekatkan wajah mereka berdua. Aichi dapat merasakan hembusan nafas Kai menimpa wajah dan hidungnya. Jarak mereka semakin sempit dan akhirnya benar-benar hilang ketika Kai menempelkan bibirnya pada Aichi dengan lembut. Kai dapat mengecap bibir Aichi yang manis dan membuatnya mabuk. Tidak ada hasrat sekarang, yang ada hanyalah cinta yang meluap-luap dan tidak bisa ditahan. Ketika dirasa cukup, Kai melepas pagutan mereka dan melihat wajah Aichi yang memerah hebat namun masih tersenyum. Itu adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Di belakang sana, ketiga biarawati dan Takuto tersenyum sambil bertepuk tangan. Kourin menitikkan setetes air mata ketika melihat Aichi yang sudah dianggap anak sendiri menikah. Ia juga tahu kondisi Aichi yang setiap tahunnya menurun jadi ia sangat senang karena anaknya itu bisa menemukan cinta sejatinya.
.
.
.
Di distrik netral, Kamui sedang berjalan bersama kedua temannya di jalanan yang sedang ramai tersebut. Ia sedang mencari dewinya yang tidak sengaja menjatuhkan sapu tangannya kemarin. Dengan semangat yang menggebu-gebu sang pangeran kedua dari kerajaan Paladin tersebut bertekad untuk mencari sang dewi. Ketika hendak memasuki toko yang kemarin menjadi tempat pertemuan mereka berdua, ia melihat Misaki yang sedang makan siang bersama dengan seorang pria berambut pirang di restoran seberang toko tempatnya berada. Dapat ia lihat Misaki tertawa dan sang pria juga ikut tertawa.
Kamui mendorong pintu kayu toko tersebut dan memasukinya. Ia hendak menanyakan siapa gerangan gadis yang berhasil merebut hatinya tersebut kepada sang pemilik toko. Siapa tahu ia mengetahuinya, bukan?
Di tempat lain, masih di distrik yang sama namun berbeda tempat, Aichi sedang berdiri di depan sebuah toko pernak-pernik yang menarik perhatiannya. Kai sendiri pergi untuk mengurus beberapa hal di distrik itu dan meninggalkan Aichi sendiri dengan berat hati. Dan dengan senang hati Aichi menuruti perkataan sang suami yang resmi menjadi pasangannya satu jam yang lalu.
"Hei! Tunggu kau pencuri!" Suara tinggi khas anak-anak menyambangi pendengarannya dan ia segera menoleh ke kanan dan melihat seorang pria dengan rambut putih menggenggam sebuah tas yang sepertinya mahal dan di belakangnya dua orang anak perempuan mengejarnya dengan tergopoh-gopoh sambil memegangi topi ascot yang mereka kenakan.
Aichi yang melihat pencuri tersebut mendekat ke arahnya hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Ketika pencuri itu mendekatinya tanpa sengaja Aichi melangkahkan kakinya hendak kabur dan dengan indahnya sang pencuri terpelanting ke depan karena tersandung. Aichi yang kaget hanya menatap pencuri itu dengan tatapan bingung.
"Te-terima kasih, o-onee-san!" Ucap salah satu gadis kecil dengan rambut peach beriris biru tersebut sambil terengah-engah. Si pencuri sudah diamankan oleh pihak berwajib. Inginnya Aichi mengoreksi si gadis kecil namun sepertinya tidak ada gunanya ketika ia memakai gaun seperti ini jadi ia biarkan saja.
"A-ah!" Aichi segera mengambil tas yang diduga milik sang gadis kecil dan memberikannya kepada sang pemilik sambil tersenyum dan menasehati sang gadis kecil agar berhati-hati.
"Onee-san sedang menunggu seseorang 'kah?" Emi bertanya pada Aichi dengan suaranya yang khas. Mai yang ada di sampingnya malah sibuk menatap Aichi dengan kagum karena kecantikkan yang ia miliki.
"Oh, aku sedang menunggu suamiku." Terang Aichi dengan senyum yang merekah di wajahnya dan itu membuat kedua gadis kecil itu menahan nafas. Tapi pernikahan di usia muda tidaklah asing bagi mereka berdua.
"Apa onee-san mencintainya?" Emi bertanya dengan penasaran. Biasanya pernikahan muda seperti ini adalah perjodohan.
"Tentu saja!" Aichi tersenyum dengan lebar tanda bahwa ia senang. "Aku yakin kau akan menemukan pangeranmu juga." Dan dengan itu Emi serta Mai langsung menyukai kakak berambut biru dengan paras cantik tersebut. Mereka ingin mempunyai kakak seperti ini.
"Maaf tapi aku harus pergi. Sampai jumpa, onee-san!" Emi dan Mai memeluk Aichi yang jauh lebih tinggi dari mereka seolah-olah mereka adalah kakak dan adik. Aichi yang kaget hanya bisa menatap kepergian dua gadis kecil itu.
"Apa yang kau lihat?" Kai yang baru selesai dengan urusannya menghampiri Aichi yang menatap jalanan penuh orang-orang.
"Ti-tidak. Hanya beremu dengan dua gadis kecil yang manis saja." Aichi tersenyum mengingat Emi dan Mai. Kai hanya bisa memasang tampang datar saja.
Ketika Kai mengajak Aichi untuk pulang ke istananya, dapat dilihat Kamui yang sedang berlari mencari sang dewi yang diketahui baru saja meninggalkan toko yang ia kunjungi tadi. Nafasnya sudah terengah-engah dan ia masih menggenggam sapu tangan sang dewi.
"Aku akan menemukanmu!"
.
.
.
Setelah mengantar Aichi dengan selamat ke istananya, Kai berpacu di hutan terlarang dengan kuda hitamnya. Matahari yang masih bersinar walaupun sudah jam empat sore itu tiba-tiba saja tertutupi oleh awan gelap yang kelamnya bukan main. Kanopi hutan yang semula masih membiaskan sinar matahari kini bergemerisik karena angin dingin yang tiba-tiba berhembus. Sepertinya langit sedang marah sekarang. Dan seiring dengan rasa penasaran Kai mengenai kondisi yang tiba-tiba berubah, kudangnya berhenti mendadak dan meringkik. Hampir saja Kai terjatuh jika ia tidak cepat menenangkan kudanya.
"Ada apa?" Kai mengelus kudanya yang sudah agak tenang sedikit.
"Kai!" Suara berat milik seorang laki-laki menarik perhatian Kai dan ia melihat seorang pemuda dengan rambut oranye kemerahan menatapnya dengan tatapan tidak suka. Pemuda itu berdiri di samping pohon besar yang berjarak hanya sepuluh meter dari tempat Kai.
"Siapa kau dan apa maumu?" Kai bertanya dengan dingin dan turun dari kudanya. Jika orang yang ada di hadapannya ingin bertarung tentu ia akan meladeninya.
"Naoki Ishida dan aku ingin merebut Aichi dari tanganmu!" Ucap Naoki dengan penuh rasa dendam. Tangannya menggenggam pedangnya dengan sangat erat. Bajunya yang berwarna hitam dengan jubah berwarna merah membuatnya tampak seperti seorang jenderal.
"Siapa kau beraninya menyuruhku melepaskan Aichi?" Kai menahan emosinya dengan baik karena wajahnya masih saja beraut datar dan dingin. Ia tidak suka dengan pemuda yang ada di hadapannya ini. Jika perkiraannya benar, maka pemuda yang ada di hadapannya ini adalah−
"Aku tunangan Aichi yang sah!"
Musuh besarnya dalam merebut sang pujaan hati.
Kai menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang jarang terlihat di wajahnya yang datar itu. Bukan senyum lebar maupun senyum bahagia yang ia tunjukkan, namun senyuman yang biasa ia tunjukkan di medan perang. Senyum meremehkan bercampur dengan senyum angkuh. Tangan kanannya menarik pedang yang sedaritadi hanya bersarang di pinggangnya dengan nyaman.
"Akan kubuat kau menyesal karena sudah menantangku." Kai mengayunkan pedangnya dengan lihai sebagai pemanasan. Sedangkan pihak yang satunya lagi menatap Kai dengan tatapan mantap sambil mengeratkan tangannya pada pedang kesayangannya itu.
Awan gelap berarak-arak di atas langit sana dan angin berhembus dengan kencang. Jubah yang dipakai kedua pemuda itu berlambai-lambai karena hembusan angin namun tidak mampu membuat pemiliknya yang sedang sibuk menatap musuhnya dengan tatapan intens. Kaki mereka berjalan ke samping –terlihat memutar− di atas dedauan kering yang menjadi pijakan. Ketika sebuah daun kering berwarna kuning terjatuh dan sampai di tanah dengan lembut, kedua pemuda itu langsung mengadu pedang mereka dengan lihainya. Suara metal yang saling beradu berulang-ulang kali membut suara yang cukup kencang di dalam hutan, namun tidak mungkin ada orang yang dapat mendengarnya.
"Kau tidak tau apa-apa tentang Aichi." Di tengah-tengah pertarungan mereka, Naoki menggeram di hadapan wajah Kai dengan raut wajah marah dan kesal. "Kau hanya akan menyakitinya saja!" Naoki mendorong Kai dengan pedangnya yang berhasil lepas dari adu pedang.
"Aku akan membahagiakannya! Atas nama leluhur dan namaku sendiri aku akan membahagiakannya!" Kai menangkis pedang Naoki yang nyaris menusuk perutnya itu dengan gerakan memutar dan membuat sang pemilik pedang nyaris terjatuh namun tidak jadi karena Naoki berhasil bertahan dan sekarang sudah mengambil jarak aman sejauh lima meter dari Kai. Mereka bertatapan dengan penuh emosi.
"Kau sudah dianggap kakak oleh Aichi jadi berhentilah sekarang karena aku tidak mau melihatnya menangis." Kai menatap Naoki dengan tajam namun tangannya masih saja menggenggam pedangnya dengan erat.
"Hanya aku yang bisa membahagiakannya!" Dengan itu Naoki berlari ke arah Kai. Jubahnya berkibar ke belakang disertai dengan angin dan petir yang menggelegar di atas langit sana. Tidak jauh beda dengan Naoki, Kai juga berlari mendekati musuhnya serta membuat jubahnya berkibar ke belakang. Wajahnya yang dingin tidak menampakkan emosi sedikitpun.
Setetes darah jatuh ke rerumputan kering yang menjadi pijakan mereka berdua.
.
To Be Continued
.
Author Note :
Kok makin kesini makin keju ya (?) Bodoh ah~ /ditembak
Hai, saya kembali dengan chapter 3. Tau gak sebenernya pengen langsung update pas selesai ulum kelas 10 eh ternyata internet mati dan saya lagi males re-read wkwkwk jadi ketunda sampe sekarang deh.
Awalnya saya nggak nyangka dapet banyak review loh. Ini baru dua chapter dan udah ada 12 review. Ini paling banyak dalam sejarah saya jadi author loh. Makasih banyak kalian semua. Pengen rasanya kasih peluk cium satu-satu tapi nggak bisa.
Sekian dulu. Jangan lupakan review karena itu adalah bensin saya menulis!
