Tsumiki-nyan : Bah..romance kan keahlian saya walaupun secara RL nggak pernah merasakannya. Maaf lama update nya~

SakuraTatsumi: Bernarkah? Untung udah ke ending-ending gk hambar lagi. Semoga chapter ini gak hambar ya~ Maaf lama updatenya. Btw, disini dikasih tau kok darah siapa walaupun kayaknya ketauan banget haha /ketawa hambar

NumpangLewat : Aw aw! Ini tisunya! Duh gk punya biaya bawa ke RS pula /plakk/ Maaf update kayak keong~

Lien Lie : Guguknya akan saya siksa (?) Say amah dari awal gk pandai humor tapi nekat..

Izumo Mikoto : Internet positif memang menyebalkan. Saya butuh waktu untuk menjebolnya (?) Nggak apa-apa nanya. Banyak nanya itu baik. Semuanya akan terjawab seiring chapter bertambah~

The Romance of Two Kingdoms

-A Parody of Romeo and Julliet-

Disclaimer :
Cardfight! Vanguard © Bushiroad
Romeo and Julliet © William Shakespeare

Genre :
Romance | Parody | Humor

Warning :
AU, OOC, TYPO, humor garing, parody gagal, jelek, bikin mules, ada bahasa yang tidak baku, shounen-ai, dll

Don't like? Don't read!
Di atas kanan ada tombol unyu-unyu warna merah. Klik aja.

Badai yang menerjang kedua kerajaan masih belum mereda walaupun sudah enam jam berlalu. Angin dan petir saling beriringan dengan langit gelap yang semakin malam semakin kelam saja. Tidak jauh berbeda dengan kondisi langit di luar sana, istana kerajaan Kagerou juga sedang diserang badai lokal di dalam istana.

"Bagaimana kau bisa menolak gadis pilihanku, Kai?" Kenji dan Gai melihat sosok iblis di belakang Yuri yang sedang memarahi Kai habis-habisan. Pasalnya baru tadi sepulang Kai entah darimana, Yuri ingin mengenalkan Kai dengan gadis pilihannya namun ditolak Kai mentah-mentah. Jelas saja, ia sudah menikah dengan Aichi dan ia diminta untuk berjalan-jalan di kota dengan gadis yang dipilihkan ibunya. Itu sama saja dengan selingkuh. Dan maaf Kai bukanlah tipe orang yang suka selingkuh.

"Aku sudah menyukai orang lain." Kai membalas ibunya dengan datar tanpa mempedulikan sang ibu yang sudah nyaris diikat di pilar kerajaan oleh Kenji dan Gai karena nyaris menghajar prajurit terdekat.

"Kalau begitu kenapa kau tidak pernah membawanya ke istana? Apa dia rakyat biasa?" Yuri menyerang balik Kai dengan kata-kata pedas. Kenji sedikit meringis ketika Yuri mengatakan 'rakyat biasa' karena dulunya ia adalah pemuda kampung yang tidak sengaja bertemu dengan putri raja yang cantik dan berhasil menikahinya dan jadilah ia seorang raja yang sudah ia idam-idamkan sejak kecil. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi arogan, malah ia menjalankan tugas kerajaannya dengan baik sehingga rakyatnya mencintainya. Ah, hidupnya sekarang mirip dengan kisah dari negeri Arab sana.

"Itu bukan urusan ibu." Kai berdiri dari posisi duduknya di sebuah kursi mahal dan berjalan keluar dari ruangan megah tersebut. Ia pusing dan butuh udara segar.

"Kai! Kai, kembali kau!" Yuri berteriak namun Kai sudah keburu keluar. Ia terduduk di kursi yang ada di belakangnya dengan telapak tangan di keningnya tanda ia sedang pusing. "Apa kau sudah mengetahui ini, Koutei?"

Yang empunya nama panggilan menghadap sang istri dan menjawab, "Sebenarnya aku tahu dari Gai."

"Dan kau tidak memberitahuku?" Yuri menuntut penjelasan dari suaminya tercinta itu.

"Aku tidak tahu siapa kekasihnya tapi yang aku tahu itu adalah laki-laki dan..." Kenji memberi jeda pada perkataannya. Siap-siap dengan ledakan sang istri. Namun tidak ada ledakan disana, yang ada hanyalah mata yang berbinar-binar padahal detik sebelumnya mata itu menyiratkan stress yang luar biasa.

"Benarkah? Kai belok?" Suaranya yang sudah habis untuk memarahi Kai kembali ketika mendengar berita bahwa putra kebanggaannya itu menyukai sesama jenis. Kenji mengangguk tidak menyangka reaksi sang istri yang sedang mengkhayal di alamnya. "Dan..?"

"..seorang pangeran."

Suhu ruangan turun menjadi minus mendadak. Kondisi sang ratu yang awalnya stress menjadi senang lalu kembali menjadi stress. Lebih parah dari stress sepertinya.

"Pangeran, eh?" Wajah Yuri menggelap dan suasana yang ada membuat Kenji merasa dipanah seribu anak panah. Prajurit yang berjaga di luar ruangan dapat merasakan dinginnya suara sang ratu membakar jiwa mereka. Bertahun-tahun bekerja di istana tersebut membuat mereka paham dengan sifat sang ratu.

"Se-sepertinya." Kenji sudah meringkuk di belakang kursi tempat Kai duduk beberapa menit yang lalu. Namun naas, umur kursi itu tidak terlalu lama karena dengan kakinya Yuri menghancurkan kursi tersebut. Kenji berdoa kepada Tuhan agar kursi itu tidak mengutuk sang istri yang cantik menjadi kuris. Entah dapat pepatah darimana raja yang satu ini.

"Anak dari ratu sirkus kerajaan sebelah 'kah?" Kursi yang sudah patah kakinya semakin patah karena diinjak dengan kekuatan badak yang dimiliki tubuh kecil sang ratu.

"A-aku ti-tidak ta-tahu.." Kenji menjawab dengan terbata-bata.

"Cari tahu sekarang juga!" Yuri memerintah Kenji layaknya memerintah seorang pelayan. Kenji mengangguk dan pergi dari sana. Ia harus berbicara dengan Kai sekarang juga atau−

Suara sebuah guci pecah dari dalam ruangan dapat terdengar dengan jelas.

−istana akan hancur bagaikan kapal pecah.

.

.

.

"Aichi." Lirih Naoki yang sedang terbaring di kasurnya yang empuk. Tangan dan tubuhnya diperban karena luka yang ia terima dari Kai beberapa jam yang lalu. "Tch." Naoki membalikkan badannya menghadap tembok dingin. Ia gagal merebut Aichi dari Kai. Ia merasa bulir-bulir hangat turun dari matanya.

Setetes darah jatuh ke rerumputan yang kering. Angin berhembus dengan kencang. Kai berbalik melihat Naoki yang jatuh ke tanah bersimbah darah. Ia bersihkan pedangnya dengan sarung tangannya dan membuangnya kemudian ia masukkan pedangnya di tempatnya. Naoki menatap Kai dengan pandangan benci luar biasa dari posisinya sekarang.

"Aku adalah suaminya. Kami sudah menikah hari ini." Terang Kai sebelum Naoki pingsan.

Ketika ia terbangun, ia sudah berada di kamar tidurnya. Tubuhnya dibungkus perban layaknya mumi dan ia tidak dapat merasakan bagian tubuhnya. Mati rasa. Tetsu mejelaskan bahwa ia dipapah Kai kembali ke rumahnya.

"Naoki-kun?" Suara Aichi tiba-tiba saja menyambangi pendengarannya. Ia menghapus air matanya dan berusaha bangun untuk melihat Aichi yang berada di ambang pintu kamarnya. Ia dapat melihat Aichi yang memasang raut khawatir. Pakaiannya hanya terdiri dari piyama warna biru kesukaannya. Tumben ibunya tidak bermain dress-up, pikir Naoki bingung.

Ketika melihat Naoki yang berusaha untuk duduk, Aichi segera masuk ke kamar dan membaringkan Naoki yang penuh dengan luka. "Jangan terlalu banyak bergerak. Lukamu bisa terbuka lagi nanti." Aichi mengambil kursi di dekat tempat tidur Naoki dan duduk di sana.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Tidak ada yang berani membuka suara. Masing-masing pihak sudah mengetahui duduk permasalahan mengapa Naoki bisa terluka berat begitu.

"Karena mereka memperebutkanmu."

Itulah yang diucapkan Tetsu kepada Aichi ketika ia berhasil menyusup ke rumah kediaman sang penasehat kerajaan Paladin tersebut. Aichi merasa bersalah. Andaikan saja ia bisa mengubah ini semua.

"Aichi." Naoki menjulurkan tangannya untuk menghapus air mata Aichi yang tanpa disadari sang pemilik jatuh di pipi putinya. "Ini bukan salahmu."

"Tapi..!"

"Aku memang tidak terlalu kuat untuk menjagamu. Aku ini bodoh. Harusnya aku melepasmu sejak awal supaya kau tidak perlu menangis seperti ini." Naoki mengelus pipi itu dengan lembut. "Aku kalah darinya. Dia bisa menjagamu. Aku yakin. Tapi katakan padanya jika ia lengah sedikit saja, aku akan mengambilmu dari sisinya." Aichi membulatkan mata. Apakah itu berarti Naoki−

"Kuterima tantanganmu, Naoki Ishida." Suara Kai tiba-tiba saja terdengar. Kedua orang yang ada di ruangan itu segera menoleh ke arah balkon dan melihat Kai yang berdiri di atas pegangan balkon dengan gagahnya. Kemudian ia melompat turun dan memasuki ruangan itu. "Tapi sekarang aku ada urusan dengan istriku." Dengan itu Kai menggendong Aichi ala bridal style dan pergi dari ruangan itu seolah-olah ia tidak melakukan sebuah kesalahan.

Naoki hanya bisa mendecih saja. Ia kembali melihat tangan yang ia gunakan untuk mengelus pipi lembut milik Aichi. Ia berharap Kai tidak membuat Aichi sedih.

.

.

.

Badai tidak menandakan akan berhenti walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua belas kurang. Aichi yang dengan nyaman berada di tangan Kai hanya menenggelamkan kepalanya di pundak Kai. Angin dingin dan rintik-rintik hujan membasahi keduanya namun tidak mereka pedulikan. Yang ada hanyalah kehangatan yang dipancarkan sang pasangan saja. Tidak ada yang lain. Ketika sampai di balkon kamar Aichi, Kai menurunkan Aichi dan mengecup keningnya sebelum melompat turun dari balkon setinggi tiga meter itu.

"Kai-kun.." Aichi menarik lengan baju Kai ketika sang empunya nama hendak melompat. Hujan badai semakin menjadi-jadi diiringi dengan petir yang menyambar sana-sini.

Kai berbalik dan melihat wajah sang istri. Wajah lembut dan cantik itu mampu melelehkan hati es balok Kai yang terkenal dengan julukan pangeran es. Ingin rasanya ia menghabiskan malam pernikahan mereka di sini, namun Kai tidak ingin memaksa sang istri yang bertubuh lemah itu. "Kau kedinginan. Masuk dan mandi air hangat."

Aichi menggeleng dan memeluk tangan Kai. Kai agak terkejut dengan tingkah sang istri yang berbeda. Kai melihat iris yang lebih indah dari batu permata manapun di dunia itu dengan tatapan rindu, menyelidik, dan cinta. "Aku ingin Kai-kun menemaniku di sini." Ucap Aichi pelan. Jika Kai tidak peka mungkin ia akan melewatkan suara Aichi yang menyiratkan kemaluan.

"Kau..?" Kai menatap Aichi dengan tatapan tidak percaya. Aichi mengundangnya menuju kamar tidurnya. Itu sama saja dengan mengundang serigala yang kepalaran menuju sarang mangsanya. Aichi menatap Kai malu-malu namun Kai langsung mencium bibir manis memabukkan itu dengan cepat, membuat sang pemilik terkejut bukan kepalang.

Kai mengangkat tubuh Aichi yang lebih ringan darinya menuju tempat tidurnya di dalam kamar. Masih berciuman dan mencari kehangatan di tubuh satu sama lain. Setelah sampai Kai menidurkan sang istri dan mulai membuka kancing kemeja Aichi dengan lembut lalu dengan tangannya ia menyentuh istrinya untuk pertama kalinya. Aichi hanya bisa menahan rasa malu dengan menutup mata namun Kai menyuruhnya untuk membukanya. Jarak mereka sangat dekat dan mereka kembali berpagutan.

Setelah itu dapat didengar suara-suara erotis yang memenuhi kamar tersebut namun dihalangi oleh suara badai di luar sana.

.

.

.

Matahari sudah beranjak dari peraduannya menuju langit biru yang indah. Ketika Aichi terbangun dari tidurnya ia tidak menemukan Kai yang kemarin malam sudah menghabiskan malam pernikahannya dengannya. Aichi juga merasa tubuhnya sudah dibalut dengan baju kering walaupun tubuh bagian dalamnya masih agak nyeri dan kotor setelah aktivitas mereka.

Aichi pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia lihat langit yang begitu cerah dari jendela kamar mandi. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk hari ini. Dengan cepat ia membersihkan diri dan pergi ke ruang makan istana yang besarnya bukan main. Jalannya agak lambat dan terseok-seok namun tidak ada yang menyadarinya, kecuali Misaki. Misaki menghela nafas dan membuat catatan mental untuk memberitahukan hal ini kepada Miwa.

"Pagi, Misaki-san." Sapa Aichi sambil tersenyum seperti biasa. "Kemana semua orang?" Aichi menengok ke kanan dan kiri namun tidak menemukan satu orang pun di sana selain beberapa prajurit dan Misaki.

"Entahlah." Misaki mengajak anak asuhnya itu sarapan pagi. Namun ketika hendak duduk di meja makan seorang pembawa pesan menerobos masuk dan membawa berita buruk.

"Yang Mulia, Anda akan menikahi Tuan Naoki malam ini. Diharapkan kehadiran Anda di ruangan Yang Mulia Ratu setelah sarapan." Dengan itu Aichi membeku di tempat. Menikah dengan Naoki malam ini? Apa ini firasat buruk yang ia dapatkan sejak bangun tidur tadi pagi?

"Aichi." Panggil Misaki yang melihat Aichi pucat seketika. "Kau harus makan terlebih dahulu. Setelah itu kita akan memikirkan semua ini." Misaki memberikan Aichi sepotong roti dengan selai dan segelas susu coklat. Aichi yang mendadak tidak selera makan memakannya dengan ogah-ogahan.

Berbeda dengan kerajaan Paladin yang sedang berbahagia, kerajaan Kagerou sedang dirundung awan hitam lokal yang dikeluarkan oleh sang ratu setelah mengetahui putra kebangaannya itu kembali dini hari. Sekarang Kai dan Yuri sedang berada di ruang kerja raja untuk kedua kalinya. Mereka menatap orang yang ada di hadapannya itu dengan tatapan tidak suka. Bukan benci namun tidak suka. Yuri merasa dikhianati oleh putranya sendiri, sedangkan Kai merasa ibunya terlalu mencampuri urusannya.

"Jadi kau sudah menghabiskan waktumu dengan Pangeran kerajaan sebelah semalam?" Yuri bertanya dengan sinis. Ia tidak suka jika anaknya menentang kehendaknya seperti ini. Perbuatan mempermalukan nama keluarga.

"Memangnya kenapa?" Balas Kai tak kalah sinis. Memangnya kenapa jika ia menghabiskan waktu dengan istri tercintanya? Apakah itu salah?

"Kau bisa mencari pemuda manis lainnya di luar sana. Kenapa harus putra ratu sirkus itu?" Kai tidak suka dengan cara ibunya menyebut sang istri dengan nada mengolok dan menyiratkan rasa jijik.

"Karena ia seperti malaikat suci yang turun dari langit hanya untukku seorang."

Yuri cengo di tempat.

Kenji memuncratkan air yang ia minum.

Emi yang ada di sana langsung menjatuhkan kue yang hendak ia makan.

Sejak kapan pangeran berhati es ini pandai berkata-kata romantis? Yuri langsung mengecek suhu tubuh sang anak dengan telapak tangan namun suhu tubuhnya normal-normal saja. Kenji dan Emi malah bahagia karena akhirnya Kai benar-benar menemukan cintanya walaupun terbelit dengan masalah keluarga seperti ini.

"Aku baik-baik saja." Kai menepis tangan sang ibu. Ia merasa diremehkan. Ia tahu kata-kata romantis bukanlah bidangnya, namun yang ia rasakan pada Aichi adalah benar adanya. Bagaimana bisa sang ibu meragukan hal itu?

"Kai, lupakan anak ratu sirkus itu dan mulailah kehidupan yang baru dengan orang yang kupilih." Yuri menggenggam kedua tangan sang anak namun sang anak menepisnya dan segera melenggang pergi.

Sebelum benar-benar pergi ia membalikkan badan dan mengucapkan, "Aku sudah menikah dengannya dan aku tidak berniat untuk selingkuh."

Slam!

Yuri kehilangan setengah nyawanya.

Kenji terjatuh dari kursi kerjanya dengan tidak elit.

Emi menganga lebar mendengar kata-kata sang kakak.

"K.A.I!" Teriakan sang ratu menggema di seluruh penjuru istana dan orang yang bersangkutan sudah memacu kudanya menjauh dari istana tempat ia dibesarkan selama ini.

"Gai, kirim surat kepada kerajaan Paladin yang berisi genderang perang telah dibunyikan dan akan kutunggu mereka di sungai Cray sore ini jam tiga. Jika mereka tidak muncul akan kuserbu istananya langsung." Titah Yuri dengan ganasnya kepada Gai yang sedaritadi hanya menunggu di luar, tidak berani masuk.

"B-baik, Yang Mulia!" Gai segera ngacir ke tempatnya untuk melaksanakan titah sang ratu.

"Papa, apa ini tidak apa-apa?" Bisik Emi kepada Kenji.

"Entahlah. Mamamu kalau sudah marah akan sangat mengerikan sekali." Kenji membalas putri kecilnya itu. Ia hanya berharap bahwa semuanya ada jalan keluarnya. Berharaplah, Kenji. Berharaplah.

.

.

.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, Misaki berjalan di distrik netral menuju sebuah toko yang menjadi tempat kerja sang gebetan. Sebelum pergi ia sudah mengatakan kepada Aichi untuk tetap di kamarnya dan jangan keluar. Kemarin ia tahu sang anak asuh kabur dengan pangerannya namun ia berhasil mengelabui kedua orangtuanya dengan dalih bahwa sang anak tidak enak badan dan butuh istirahat.

Setelah sampai di toko yang dimaksud ia segera mendorong pintunya dan melihat banyak sekali orang di dalam sana. "Yo, nee-chan!"

"Miwa, ini gawat!" Misaki menghampiri sang pemilik toko dan menarik perhatian semua pengunjung toko. "Ini bukan urusan kalian." Misaki berbicara dengan ketus dan dingin membuat semua pengunjung langsung kembali ke aktivitasnya. Miwa hanya memasang senyum maklum.

"Ada apa?" Miwa bertanya kepada Misaki yang beraut panik.

"Aichi. Aichi akan dinikahkan dengan Naoki malam ini!" Bisiknya dengan suara kecil namun masih dengan suara panik. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Dan kudengar Kai juga ingin ditunangkan dengan gadis pilihan sang ratu namun ditolak Kai mentah-mentah. Istana Kagerou sedang dirundung badai lokal karena kemurkaan sang ratu." Tutur Miwa.

"Lama-kelamaan mereka seperti tokoh protagonis di novel-novel cinta." Misaki berkomentar tentang hubungan Aichi dan Kai yang ditentang keluarga.

"Sekarang Aichi ada dimana?" Tanya Miwa sambil memikirkan solusi terbaik.

"Dia ada−"

"Misaki-san!" Suara anak laki-laki terdengar dan membuat semua orang ada di tempat itu menoleh ke arahnya.

"Kamui?" Misaki menatap Kamui yang berdiri di ambang pintu dengan nafas terengah-engah.

"Dimana, onni-san?" Kamui segera menghambur ke Misaki sambil memborbardir sang pengasuh dengan pertanyaan yang sama.

"Bukannya dia di kamar?" Misaki menjawab pertanyaan sang pangeran kedua.

"Dia tidak ada disana!" Kamui menjerit panik.

"EH?!"

.

.

.

Yang menjadi objek pencarian, Aichi, malah kabur dari kamarnya. Sebelumnya ibunya sudah mendatangi kamarnya dan mendadaninya. Sudah seminggu terakhir ini ibunya bermain dress-up dan tidak selesai-selesai. Namun bukan itu masalahnya, tapi perkataan sang ibu yang mendadak memajukan pernikahannya jadi jam dua belas siang nanti. Aichi tentu saja panik bukan main.

"Apa yang harus kulakukan?" Aichi berhenti untuk mengambil nafas. Ia sudah berlari jauh hingga ke kotanya. Berharap saja tidak akan ada pengawal kerajaan yang mencarinya sampai sana.

Ia tidak punya tujuan sekarang. Ia saja tidak tahu mengapa ia kabur dari istananya sekarang. Pikiran simpelnya hanya memikirkan Kai yang mungkin saja menemukannya di kota. Dan dengan indahnya ia baru ingat kalau Kai tidak mungkin ada di kota Paladin karena biasanya ia menyusup lewat hutan terlarang. Bagus, sekarang apa yang harus kau lakukan Aichi?

"Maaf, nona." Sapa seorang pemuda dengan rambut pirang jambul tiga. Orang itu memiliki iris mata violet yang indah. "Apa kau tersesat?"

"Eh?" Aichi menegakkan tubuhnya dan melihat pemuda itu dengan tatapan bingung. Tersesat?

"Bajumu. Apa kau ingin ke gereja?" Tanya pemuda itu lagi memahami kebingungan pemilik surai biru itu. Jelas saja, pakaian orang yang ada di hadapannya ini benar-benar menggambarkan seorang pengantin wanita. Gaun putih lengan pendek dengan bagian bawah yang menggembung layaknya gaun pernikahan dengan berbagai macam renda dan lipatan-lipatan. Selain itu gaun itu tidak hanya menampilkan kecantikan orang yang ada di hadapannya, gaun itu juga menampilkan sosok bangsawan kelas atas.

"Leon, apa yang kau lakukan?" Seorang pemuda dengan rambut coklat menghampiri orang yang dipanggil Leon tersebut. Aichi kemudian melihat pemuda yang lebih tinggi dari mereka berdua itu.

"Maaf, namaku Leon Soryuu. Seorang pedagang. Ini teman perjalananku Daigo." Leon menunjuk Daigo yang membalasnya dengan, "Tidak, aku ini kekasihnya tapi dia malu untuk mengatakannya." Dan dihadiahi Leon dengan tendangan cinta.

"Namamu?" Tanya Daigo memamerkan senyuman mautnya itu.

"Ai−" Aichi berhenti karena ia berpikir bisa saja kedua orang ini akan segera melaporkannya ke pengawal terdekat dan pengawal membawanya kembali ke istana. "Ai." Jawab Aichi dengan mantap. Sekarang ia sudah tahu tujuannya.

"Ai? Cinta? Nama yang bagus." Leon tersenyum membuatnya tambah manis. Daigo yang melihat itu hendak mencium Leon di depan umum tapi kembali mendapat tendangan cinta.

"Um.." Aichi ingin merebut perhatian kedua orang baik yang ada di hadapannya ini namun tidak tahu caranya.

"Ada apa?" Leon bertanya kepada 'Ai'.

"Bisakah kalian mengantarku ke gereja di bukit tidak jauh dari sungai Cray?" Aichi bertanya dengan malu-malu. Ya, ia ingin kesana. Siapa tahu Takuto dan ketiga biarawati itu bisa membantunya.

"Eh? Tapi kami sedang terburu-buru ingin mengantarkan pesanan klien." Sahut si jangkung namun dibalas dengan sikutan sang −katanya− kekasih.

"Tentu kami bisa. Ayo!" Leon mengajak Aichi ke sebuah kereta kecil berisi barang-barang yang diperkirakan untuk diantar ke klien.

"Maaf merepotkan dan terima kasih." Aichi naik ke kursi di sebelah Leon yang sudah duduk di kursi pengendali kuda. Sedangkan Daigo duduk bersama barang bawaan di belakang sana. Aichi tersenyum meminta maaf kepada Daigo.

"Ayo jalan!" Dengan itu Leon memecut kudanya dengan cambuk dan kereta kecil itu bergerak dengan stabil di jalanan kota yang agak ramai.

.

.

.

"Nee, Ai-chan~" Panggil Daigo dari belakang. "Kenapa kau mau ke gereja kecil di pinggiran kota begini? 'Kan masih banyak gereja di kota."

Mereka bertiga sedang berada di jalanan sepi yang hanya dihiasi padang rumput di kanan dan kiri serta beberapa suara hewan seperti domba dan penggembala yang sedang tertidur di bawah pohon rindang. Suasana di sana benar-benar berbeda dengan suasana kota yang bising dan padat merayap.

"Sebenarnya aku sedang kabur." Aichi merasa tidak baik berbohong kepada dua orang yang sudah membantunya ini kemudian berkata jujur.

"EH?!" Sontak kedua orang itu melotot dan menatapnya dengan tampang tidak percaya. Kereta kecil itu berhenti karena sekerumunan domba yang sedang menyebrang jalan bersama-sama.

"Ka-kabur?" Daigo membenarkan posisi topi jerami yang ia kenakan.

"Iya. Ibuku memaksaku menikah dengan teman kecilku tapi di sisi lain aku menyukai orang lain dan sudah menikahinya. Jadi aku hendak meminta bantuan pendeta yang menikahkan kami itu. Siapa tahu ia puny aide bagus." Cerita Aichi dengan kalimat yang dibuat efisien namun tidak meninggalkan jejak bahwa ia adalah pangeran kerajaan Paladin.

"Wah, kau berani juga. Aku salut padamu." Kereta kembali berjalan ketika Daigo berkomentar. "Aku harap pendeta itu mempunyai ide bagus untukmu dan suamimu." Leon tersenyum lembut kepada Aichi seolah-olah mereka sudah lama mengenal.

"Maaf, tapi aku lelaki." Akhirnya Aichi berhasil mengatakannya!

"EH?!" Untuk kedua kalinya kedua orang baik itu berteriak kata yang sama.

"Biar kutebak. Korban dress-up ibumu?" Leon menebak sambil melihat Aichi yang memerah karena malu. Sudah berapa kali ia disangka perempuan selama hidupnya? Tidak terhitung.

"Well, kau memang manis seperti perempuan." Daigo berkomentar membuat Aichi tambah malu.

"Kita sampai!" Leon memberhentikan kereta kecilnya itu dengan menarik tali kekang sang kuda. Aichi dapat melihat jala setapak menuju gereja kecil yang ada di atas bukit. Ia kemudian turun dan menunduk tanda terima kasih kepada Leon dan Daigo yang telah membantunya.

"Terima kasih, Leon-san, Daigo-san. Aku tidak akan melupakan jasa kalian." Aichi tersenyum sambil melambaikan tangannya ketika Leon dan Daigo sudah berjalan kembali dengan kereta kudanya.

"Aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Ai-chan!" Daigo berteriak dari kursi penumpang sebelah Leon.

"Semoga kau dapat berbahagia, Aichi!" Dengan kata-kata Leon itu kereta kecil itu menghilang di ujung jalan. Aichi yang menyadari panggilan Leon hanya bisa membelalakan mata. Jadi Leon sudah tahu bahwa ia adalah pangeran kerajaan Paladin?

Tapi ia enyahkan pikiran itu dan berlari menyusuri jalan tersebut. Ia dapat merasakan angin yang berhembus membuat gaunnya jadi agak terangkat. Walaupun hari ini cerah, namun ia tahu hari ini tidak akan secerah langit biru di atas sana. Apakah pangeran Aichi akan mendapatkan kebahagiaannya?

.

To Be Continued

.

Author Note :

Wah, satu chapter lagi cerita ini selesai. Chapter depan adalah final dari fairytale abal buatan author ini. Jadi gimana chapter ini? Kayaknya mengecewakan deh. Tapi disini muncul Daigo Leon loh! Padahal nggak ada niatan munculin mereka tapi tiba-tiba pas ngetik dapet inspirasi begitu. Ya, lumayanlah.

By the way, maaf nih update lama kayak keong (walaupun nggak kayak fic tetangga yang gak saya update SATU tahun!). Soalnya banyak masalah nih di RL. Dari tugas yang merengek dikerjain setiap minggu sampai nggak sempet ngetik sampai computer yang harus diservis dua kali. Anakku ini memang sering sakit hiks hiks (?)

Yak, sudah selesai cuap-cuap saya. Jangan lupa review ya~ Itu semangat saya melanjutkan fic ini~