Chapter 3

Place To Hide

Main Cast : Byun Baekhyun

Park Chanyeol

EXO support member

Genre : Yaoi, Boys Love , Romance, Absurd.

Rating : T

Author : Yeolvin

Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.

Music Recomented : Ye Eun WG - Hello To My Self [OST Dream High 2]

Warning : Sorry for Typo

Don't like don't read!

.

.

.

Happy Reading

"Hyung, kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Baekhyun duduk di sofa.

"Tidak apa-apa kan kau sendirian di rumah? Hyung ada urusan. Mungkin aku pulang jam dua malam." Ucap Suho sambil memakai jaket dan hoodie.

"Mwo? Kau tidak sedang bekerja kan? Mengapa selarut itu hyung?"

Teeeettt –teeeeeett...

Suho menoleh pada pintu dan membukanya.

"Annyeong Haseyo." Chanyeol berdiri di sana.

"Ahh.. Kau rupanya, Ada apa? Ayo masuk."


Place To Hide(?)

.

.

.

"Aku hanya akan mengembalikan penyedot debu yang kemarin aku pinjam Suho hyung."

"Ahh.. duduk dulu." Suho menyuruh Chanyeol untuk duduk di sofa bersama Baekhyun.

"Kebetulan kau disini. Aku akan pergi jadi kau bisa temani Baekhyun kan?"

"Ehhh...?" Meskipun Chanyeol tahu apa maksudnya tapi ia pura-pura tidak mengerti. Dan saat itu Suho mengedipkan satu matanya.

"Mwo? aku tidak perlu di temani olehnya hyung." Protes Baekhyun.

"Lagi pula ini sudah malam, kau juga pasti mempunyai urusan yang lebih penting dari pada harus menemaniku disini kan?" bicaranya teralih pada orang di sampingnya yang duduknya agak berjauhan.

"Hmm.. aku tidak keberatan." Kalimat yang di lontarkan oleh suara berat milik Chanyeol bukanlah jawaban yang di harapkan Baekhyun.

.

.

.

Di dalam satu ruangan yang hanya mereka berdua, duduk di sofa yang sama dan tanpa berbicara sepatah kata pun dengan keheningan bersama orang asing. Baekhyun benar-benar tidak signifikan serta kegelisahan muncul di benaknya. Rasanya ia ingin menendang orang itu dan menyeretnya keluar dari tempatnya. Jika saja waktu itu orang ini tidak menyelamatkan rasa lapar di perutnya untuk memberikan samgyetang, Baekhyun akan benar-benar mengusirnya. Untuk bersama Chanyeol di dalam kesunyian (tidak keramaian) saja begitu mengganggu kenyamanannya apalagi jika harus bertemu nanti dengan Sehun saat di keramaian. Ohh no ,jangan sampai Baekhyun membatalkan janjinya.

Baekhyun tidak berani untuk sekedar memandang, bertatap muka, atau saling kontak mata. Di lihat dari penampilannya saja cuek. Memakai kaos oblong yang memperlihatkan otot bisepnya, tinggi badannya yang sangat menjulang membuat Baekhyun semakin elfeel dengan bentuk tubuhnya yang mungil, dan gaya rambut yang tampak sedikit acak-acakan.

Baekhyun sedikit kesal karena beberapa jam lalu ia harus mengurung diri di kamar dan menutup telinganya dengan bantal saat orang ini dan teman-temannya menyalakan musik dengan sangat keras terdengar sampai kamarnya mengganggu ketenangannya saja. Ia ingin sekali merecokinya saat itu tapi Baekhyun tidak mau mencampuri urusan orang lain dan itu membuat Baekhyun sebal pada orang di sampingnya kini. Tidak harus berlama-lama memikirkan sesuatu ia langsung berdiri dan menyimpan penyedot debu yang di sebelah Chanyeol ke tempatnya semula. Lalu ia kembali duduk di sofa seperti tadi namun Baekhyun membawa ponselnya dari kamar untuk tidak menciptakan kebosanannya. Saat akan mengenakan headset ke telinganya...

"Aku... aku.." Chanyeol mendekati Baekhyun memegang perutnya dan kepalanya yang terasa pening membuat wajahnya sedikit pucat.

"Mulutmu bau alkohol, kau mabuk?"

"Aku ingin mengeluarkan sesuatu. Huweeeee..." Chanyeol segera berdiri dan Baekhyun mengantarnya ke toilet.

"Kau baik-baik saja." teriak Baekhyun di luar pintu.

"Huweekkkk...huwaa... uuooo...uooo..." Baekhyun yang mendengar suara berat di dalam toilet memiriskan sedikit wajahnya. Lalu ia kembali duduk ke sofa.

Saat Chanyeol sudah selesai ia menghampiri Baekhyun pelan yang sedang duduk di sana memainkan ponselnya.

Chanyeol menenggelamkan wajah di lengannya karena merasa perbuatannya tadi bodoh untuk pertama kalinya datang ke rumah Baekhyun hanya untuk mengeluarkan muntahnya.

"Sebaiknya kau pulang dan istirahat. Aku tidak perlu di temani." Ucap Baekhyun yang membuat Chanyeol langsung menengadah menatapnya.

"Baekhyun..." ujar Chanyeol membuat jemari Baekhyun yang saat itu menari-nari di layar ponsel terhenti dari acara mengotak-atiknya.

"D.. dari mana... kau tahu namaku?" Baekhyun masih belum mau menatap Chanyeol.

"Aku ingin bersamamu. Aku ingin bersama Baekhyun. Aku tidak mau pulang sebelum Suho hyung datang."

DEG

Baekhyun dengan refleks menatap Chanyeol lalu setelahnya ia membuang muka dan seperti gugup.

"A..apa hubunganmu dengan Kakak ku?"

Chanyeol masih terdiam tidak menjawab karena sepertinya Baekhyun belum selesai berbicara. Dan tatapannya masih terarah pada Baekhyun di sampingnya.

"Apakah kalian sudah saling mengenal? Tampaknya Suho hyung... mempercayaimu. maka dari itu dia menginjinkan orang baru menemaniku disini dan... kau tahu namaku darinya benar kan?"

"Benar. Sebenarnya aku mengenal Suho hyung secara kebetulan. Kau tahu, Kakak mu adalah dokter dan kau tahu beberapa tempo hari yang lalu aku pergi ke rumah sakit bersama Ibuku. Apa kau mengerti maksudku."

Baekhyun berfikir sejenak dan sedikit memiringkan kepalanya lalu Chanyeol melanjutkan.

"Dia.. aku sangat berterimakasih padanya karena berhasil menyembuhkan luka dengan mengoperasi kaki Ibuku setelah kecelakaan karena kecerobohan salah satu murid Ibuku yang tidak sengaja menancapkan pedang saat mereka berlatih pembelaan diri karena Ibuku adalah seorang guru Hapkido."

"Benarkah?" Baekhyun menyahut sedikit terkejut.

"Dunia terasa begitu kecil. setelah aku pindah ke apartemen baru, ternyata tetanggaku adalah Suho uisanim yang ku kenal. Dia ramah seperti pertama kali kami bertemu di Rumah Sakit dan begitupun saat kami bertetangga."

"Ahhh.. aku mengerti. Aku harap Ibumu baik-baik saja." Ucap Baekhyun tulus sambil tersenyum simpul dan kali ini menatap Chanyeol.

"Neh, Ibuku sudah baikkan berkat Suho hyung."

Hening sejenak.

"Aku.. akan pergi membuatkan minuman untuk mu." Baekhyun berdiri dan akan beranjak menuju dapur. Tapi sebuah tangan besar menghentikan pergerakan tubuhnya.

"Maafkan aku.. karena merepotkan." Ujar Chanyeol pelan. lalu setelah itu Baekhyun kembali ke ruangan dengan membawa minuman untuk Chanyeol.

"Sebaiknya kau minum teh hangat ini. Suho hyung bilang ini baik di minum jika sudah muntah, hanya untuk menetralisir saja."

"Gomawo."

.

Beberapa menit kemudian Baekhyun terlihat mencari sesuatu di kolong meja, laci, atas tv, dan sofa yang ia duduki.

"Kau mencari apa?" Tanya Chanyeol yang masih duduk melihat Baekhyun mengobrak abrik bantal sofa di dekatnya.

"Eoh? Aku.. mencari remot tv." Tidak sengaja pandangannya melihat ke sudut Chanyeol. " Ahh.. aku menemukannya."

"Apa?" Chanyeol tertegun saat dirasa Baekhyun mendekat dengan aroma parfum khas nya yang tidak menyengat. Chanyeol menelan saliva karena jarak mereka begitu dekat sementara Baekhyun tidak sengaja meraba bokong Chanyeol pada sofa untuk mengambil remotnya yang menyudut terhalang oleh pantat Chanyeol.

"Aku bilang remotnya sudah kutemukan." Baekhyun menunjukkan remot yang di pegangnya tanpa menyadari ekspresi Chanyeol saat ini yang sedang merona malu.

Baekhyun meyalakan televisi untuk tidak menciptakan rasa cangung diantara mereka karena tidak ada hal yang perlu di bicarakan. Baekhyun terus mengotak-atik channel sampai berulang kali. Entah apa yang ada di pikirannya setelah meraba pantat Chanyeol. ia menjadi malu sendiri tapi ia berusaha untuk tidak memperdulikannya karena memang itu adalah kesalahan yang tidak di sengaja. Dan saat itu pula ia tidak berani menampakkan wajahnya.

"Sepertinya tidak ada acara yang bagus." ucap Chanyeol menyelidik tiap Channel yang Baekhyun pindahkan. Dan perkataannya itu sukses membuat Baekhyun berhenti pada film action yang banyak adegan pembunuhannya.

"Wahhh.. sepertinya film ini seru!" Chanyeol menjadi bersemangat.

"B..benarkah?" Baekhyun terlihat gugup sementara Chanyeol mengangguk mantap. Baekhyun memaksakan untuk tersenyum dan menggigit bibirnya gelisah. pas di saat adegan menegangkan tiba, iklan dalam film menjadi jeda membuat Baekhyun sedikit lega tapi tidak bagi Chanyeol.

.

.

menit-menit berlalu dan film pun sudah berakhir.

"Baekhyun..." Ucap Chanyeol pelan yang mungkin masih bisa di dengar Baekhyun atau mungkin tidak. merasa tidak ada sahutan dari Baekhyun, Chanyeol mendekati orang yang lebih mungil untuk mengambil remot yang sedari tadi di genggamnya oleh Baekhyun. jarak mereka bisa di bilang cukup dekat

"Baekhyun..." Chanyeol kembali bergumam. Tapi saat di lihatnya wajah teduh Baekhyun, orang mungil itu sudah tertidur. lalu Chanyeol meraih remot dan memperhatikan sekilas tangan dan jemari lentik Baekhyun yang halus. tanpa sadar Chanyeol mengusap dan menggenggam tangan hangat itu. sebuah senyuman Park Chanyeol terukir. ia mematikan televisi dan kembali memperhatikan Baekhyun di sampingnya.

Arah jarum jam menunjukkan pukul 11 malam. Baekhyun tidak menyadari sanggahan bantal yang ia gunakan adalah bahu Chanyeol karena Chanyeol sendiri yang sengaja meminjamkan bahunya untuk Baekhyun. Baekhyun benar-benar sudah terlelap tapi Chanyeol masih belum bisa memejamkan matanya karena terus melihat pada Baekhyun di sampingnya yang begitu sangat dekat.

Bisa dengan jelas melihat wajah indahnya, Chanyeol menyadari wajah Baekhyun begitu cantik dan menggemaskan. Dan Chanyeol sangat menyukai aroma shampo pada surai hitam Baekhyun yang harum tercium ke hidung mancungnya.

Chanyeol sedikit menyapu poni Baekhyun yang menutupi keningnya karena Chanyeol ingin melihat lebih luas wajah rupawan Baekhyun.

Jantungnya berdetak tidak normal saat pandangannya terus melihat dari kening, turun ke mata, hidung dan... bibir yang menggoda itu. Chanyeol langsung kepikiran tentang murid di sekolahnya yang berciuman di depan matanya. Dan menurut Jongin mungkin benar Chanyeol sudah sedikit di pengaruhi. Chanyeol terus melihat bibir pink cherry milik Baekhyun tanpa mengedipkan matanya.

Tiba-tiba Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol yang di sangka guling bantal yang selalu di peluknya saat tidur. Chanyeol semakin tak karuan di buatnya saat nafas Baekhyun menghembus kulit lehernya yang begitu menggelitik. saat itu juga Chanyeol seperti lupa caranya untuk bernafas. Chanyeol benar-benar membeku di tempatnya. Jantungnya berpacu sangat kencang dan pipinya memanas.

Lalu Chanyeol mengubah posisinya dan menjaga jarak dengan Baekhyun. Di tidurkan pelan dan di luruskan tubuh mungil Baekhyun di sofa. Sedangkan Chanyeol duduk di lantai dan lengannya di sanggakan pada meja di depannya. Chanyeol sudah mengantuk dan ia masih menunggu Suho untuk menemani Baekhyun. Beberapa menit Chanyeol sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya dan ia pun tertidur dengan posisinya yang tidak nyaman.

.

.


.

.

Pagi harinya dengan cuaca yang sangat menusuk, Baekhyun terbangun dan melihat ke ponselnya. Ia mendapati pesan dari Suho katanya saat malam ia tidak bisa pulang karena tiba – tiba tadi malam hujan sangat deras. Suho bilang ia menginap di rumah temannya dan langsung pergi bekerja saat itu. Baekhyun melebarkan pandangannya ke sekitar ruangan dan mendapati Chanyeol tengah tertidur dengan posisi tertunduk. Baekhyun segera membuka tirai jendela dan melihat hawa suasana kota Seoul yang tadi malam di guyur hujan, semua basah dan tampak genangan air di jalanan. Sangat dingin sekali dan Baekhyun melihat ke arah Chanyeol. Ia merasa bersalah membiarkan Chanyeol tidur dengan posisi yang tidak nyamam dengan kedinginan memakai kaos oblong tanpa selimut. Ia mendekati Chanyeol dan membangunkannya pelan sedangkan orang yang di gubris baru membuka matanya.

"Chanyeol, mengapa kau tidak pulang? Percuma kau menunggu Suho hyung. Dia tidak datang."

"Huh?" Sepertinya Chanyeol masih belum mencerna dan ia tidak menyadari bahwa ia tidur di rumah Baekhyun.

Chanyeol langsung berdiri dan terkejut saat ponselnya bergetar.

"Yeobseyo?"

"Mengapa kau belum datang ke sekolah?"

"Jong-in, Aku..." Chanyeol melihat pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan. Ia menyadari bahwa dirinya telat pergi ke sekolah.

"Aku tidak akan sekolah hari ini. aku tidak enak badan." Jujurnya yang memang sepertinya masuk angin di tambah mabuk semalam.

"Ahh.. geurae. Yasudah aku tutup dulu."

"Ne." Chanyeol memasukkan ponselnya ke saku celana.

"Aku akan pulang."

"Ch...chakkaman."

"Wae?"

"Mianhae."

"Untuk apa?"

"Kau pasti tidak enak badan karena menungguku dan tidur dengan seperti itu. Mianhae."

"Ahh.. tidak apa-apa. Itu salahku. Hmm... memangnya Suho hyung mengapa dia tidak pulang?"

"Saat malam tadi hujan deras. Jadi ia tidak bisa pulang dan menginap di rumah temannya." Chanyeol sedikit terkekeh pelan mengingat semalaman ini ia bersama Baekhyun.

"Jinjja? woahhh pantas saja udara sangat dingin sekali." Chanyeol mengusap-usap lengannya.

.

.


.

.

Siang hari Chanyeol sedang berdiri di atas balkon apartemen melihat – lihat dan mencari udara. Ia melihat Baekhyun sedang membuang sampah tak jauh dari matanya memandang.

"Baekhyun!" pekiknya, sedangkan orang yang di panggil menoleh ke arahnya.

"Wae?"

Chanyeol mendekati Baekhyun.

"Kau sedang apa?"

"Kau tidak lihat.." Baekhyun menutup tempat sampah.

"Aku tahu. tapi maksudku, Hmm..- Chanyeol menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

"Apa?"

"Lupakan, kau mau pergi denganku?"

"Eodiga?"

Chanyeol semakin mendekat sehingga perbedaan tinggi anatara keduanya terlihat jelas. Sekali lagi Baekhyun bertanya. "Kau mau mengajakku?"

"Iya. Kita pergi ke suatu tempat."

"A..apa?" Baekhyun sempat terkejut " A..aku t..tidak bisa. Aku harus kembali." Baekhyun berbalik membelakangi orang yang lebih tinggi.

"Baek." Rasanya aneh ketika orang itu memanggil namanya yang terlihat seperti akrab itu.

"Temani aku. Temani aku makan karena aku belum makan sejak tadi pagi." Baekhyun kembali menghadap Chanyeol perlahan.

"Kau bisa pergi tanpa ku. lagi pula.. aku tidak mengenalmu."

"Jadi, jika kita saling mengenal kau mau temani aku?"

"T..tidak begitu juga." Baekhyun memandang ke sisi lain.

"Aku Park Chanyeol kelas 12 pecinta Alam. Lahir 27 November 1997 Sekolah di Daejeon High School. pindah kemari karena kemauan Ibu dan Ayahku yang mengharuskan aku untuk tinggal sendiri dan hidup mandiri. Sekarang kau sudah mengenalku." Chanyeol tersenyum dengan deretan gigi-giginya yang putih sedangkan Baekhyun mengedipkan matanya.

"Aku memperkenalkan diriku karena sepertinya kau tidak mau tahu tentang aku. Jadi sekarang giliranmu yang memperkenalkan dirimu padaku Baekhyun."

"Cih. untuk apa aku memperkenalkan diriku bila Kau sudah tahu namaku."

"Aku ingin mendegarnya sendiri dari mulutmu agar aku bisa lebih jelas mengenalmu."

"Lebih jelas mengenalku? memangnya apa yang kau harapkan? aku yakin kau akan menyesal jika sudah mengenalku karena aku mugkin tidak sebaik atau sama sepertimu."

"Apa maksudmu? Kau hanya perlu mengatakan marga mu dan apa yang harus ku tahu seperti aku memperkenalkan diriku padamu sebelumnya."

"Kau tidak perlu tahu karena aku tidak akan berhubungan atau berurusan denganmu."

"Mengapa kau seperti itu? Aku ingin tahu tentang dirimu karena aku...

Ingin menjadi kekasihmu "ingin menjadi temanmu." Chanyeol menatap Baekhyun yang tidak melihatnya. "Baiklah jika kau tidak mau aku mengenalimu. tapi.. aku ingin sekali menjadi temanmu maka dari itu aku ingin kau temani aku. yah?" Baekhyun menghela nafas dan mereka bertatapan.

"Aku bilang... aku tidak akan berurusan denganmu atau siapapun itu." jika tidak siapapun lalu dengan Sehun?

"Baek! Biarkan aku menjadi satu-satu nya orang yang bisa... kau percaya." Tidak ada tanggapan dari Baekhyun dan tiba-tiba Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun membuat orang mungil itu tersentak.

"Aku sudah sangat lapar. Apakah kau mendengar bunyi perutku huh?" Chanyeol menarik Baekhyun dari balkon dan keluar. Baekhyun menurut saja walau ia tidak mau saat itu karena Chanyeol menggenggam tangannya dengan erat seperti tidak ingin lepas.

.

.

Hanya perlu berjalan beberapa meter dari apartemen, restaurant yang di tuju Chanyeol sudah tampak terlihat.

"Kita sampai." Chanyeol tersenyum riang sementara Baekhyun hanya diam. Chanyeol melepaskan genggamannya dari Baekhyun dan memasuki pintu masuk.

Mereka berdua telah memesan di meja yang sudah di hidangkan. Chanyeol tampak lahap memakan sup hangatnya dan beberapa potong daging yang masuk ke mulutnya. seorang pelayan menghampiri mereka terutama pada Chanyeol

"Tuan, kebetulan anda disini. Sajangnim bilang jika anda datang..."

"Shuttt! Aku tahu. lain kali saja, kau tidak lihat aku sedang bersama seseorang."

"Ahh.. baik tuan." pelayan itu sudah berbalik dan pergi.

"Mengapa kau tidak makan? kau tidak suka?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun.

"B..bukan begitu. aku rasa aku harus membayar banyak untuk ini dan aku lupa membawa dompetku karena kau memaksaku pergi."

"Hei.. tenang saja. kau tidak perlu khawatir tentang itu. cepat makanlah ini enak."

Baekhyun tersenyum canggung dan memasukkan satu potongan daging dengan sumpitnya perlahan. Banyak pelanggan yang makan di sana saat musim dingin yang menusuk ini.

"Apakah.. kau adalah atasan?" Tanya Baekhyun kemudian yang tidak mengetahui bahwa Restauran mahal ini adalah milik Ayah Chanyeol.

"Jika aku bilang iya kau akan percaya? sebenarnya kadang aku juga bekerja disini semauku untuk sekedar membantu. semua pelayan disini memanggilku tuan karena aku adalah anak atasannya yaitu Ayahku."

"Ahh... lalu kau juga membantu memasak dengan chef? bagian apa yang kau dapat? mengetahui bahwa kau adalah anak presdir kau begitu beruntung." Chanyeol menggeleng.

"Tidak seperti yang kau bayangkan. Kau tahu, aku di tempatkan di tukang cuci piring." wajah Baekhyun berubah menjadi tanpa ekspresi.

"Benarkah?"

"Iya.. dengan itu aku dapat mengambil uang jajanku darinya."

Hening...

"Chan-Yeol?" Chanyeol langsung mendongak dan menatap mata Baekhyun saat Baekhyun pertama kalinya memanggil namanya. "Apa yang membuatmu ingin menjadi temanku?"

Greekkk

Chanyeol memposisikan dirinya untuk berdiri. Ia menyeret Baekhyun ikut dengannya dan menarik Baekhyun ke sebuah ruangan pribadi meninggalkan meja dan hidangan.

"Aku tanya mengapa kau ingin menjadi temanku. bukan menyeretku pergi ke tempat ini." Baekhyun memprotes saat di ruangan kantor pribadi yang hanya mereka berdua di sana. Chanyeol menutup pintu dan mulai mendekati Baekhyun menyudutkannya membuat Baekhyun takut sampai punggungnya menyentuh dinding sementara Chanyeol terus mendekat.

"A..apa yang k..kau lakukan Ch..Chanyeol?" Baekhyun tampak gugup tidak berani menatap Chanyeol yang begitu dekat sehingga ia melihat ke dada Chanyeol tepatnya pada kancing mantel Park Chanyeol.

"Kau ingin tahu jawabannya?" Chanyeol terus melihat pada manik Baekhyun dengan lekat. Dan jarak diantara mereka membuat Baekhyun sesak dan keringat keluar dari pelipisnya. "Bagaimana dengan Agoraphobia?" Ucanya pelan tapi masih jelas terdengar di telinga Baekhyun. Dan perkataannya itu membuat Baekhyun mendongak sehingga mereka bertatapan satu sama lain.

"K..kau bilang apa? d..dari mana kau-

"Tampaknya Suho hyung mempercayaiku maka dari itu dia mengatakannya padaku." Chanyeol sedikit menyunggingkan senyumannya dengan smirk.

"Ahh.. jadi kau ingin memanfaatkan kelemahanku?"

"Apa?! tidak sama sekali. justru itu aku ingin melindungimu dan menjadi temanmu. Cobalah untuk percaya."

"Apakah hanya karena itu? apa lagi yang kau dengar dari Suho hyung tentang aku?"

Chanyeol menurunkan kepalanya dan mendekatkan jaraknya dengan cepat, jarak kepala Baekhyun dan Chanyeol hanya dua inci sukses membuat Baekhyun tak berkedip menatapnya.

"Aku tidak tahu banyak tentang kau dan aku tidak banyak mendengar apapun tentangmu dari Suho hyung. Hanya saja aku ingin lebih dekat dengan orang ini jadi... aku sangat penasaran dengan sosok dirimu yang selalu muncul dalam mimpiku setiap hari."

DEG

Chanyeol tersenyum dengan sangat tampan lalu menjauhi kepalanya dan berjalan membelakangi Baekhyun menuju jendela dan berdiri di sana.

"Sebenarnya aku berbohong bahwa aku ingin menjadi temanmu. Aku.. ingin lebih dari itu." Baekhyun masih terdiam menunggu perkataan Chanyeol selanjutnya.

"Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan seorang pria dalam mimpiku saat bersamamu."

Baekhyun sedikit melangkah dan mendekati sofa.

"Itu aneh, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa saat kau berada di sisiku, aku merasa bahagia." Chanyeol menoleh ke belakang dan masih tersenyum lalu menggiring Baekhyun untuk duduk dengannya.

"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di rumah sakit? Eomma bilang kau pria yang tampan dan baik. Tapi aku menyangkalnya."

"Wae?"

"Aku bilang, aku lebih tampan dari dia. Dan menurutku kau memang tidak tampan."

Baekhyun mempoutkan bibirnya.

"Aku memihak Ibumu." Ucap Baekhyun.

"Memang benar kan? Untuk seukuran wajahmu itu kau lebih pantas di sebut cantik dari pada tampan."

"Apa? Aku bukan yeoja. Aku namja yang tampan Park Chanyeol." Kesal Baekhyun. "Lihat sekarang. bahkan kau memanggil nama panjangku.

"Memangnya kenapa?"

"Tidak, hanya saja aku juga ingin memanggil namamu."

"Namaku Byun Baekhyun lahir 6 Mei 1997. jadi intinya aku lebih tua darimu Chanyeol."

"Ahh.. jadi marga mu Byun. tidak di sangka kau lebih tua dariku." Chanyeol terkekeh pelan. sementara Baekhyun berdiri melihat ke luar jendela.

Cuaca di luar tampak begitu mendung dan gerimis kecil berjatuhan.

"Chanyeol... aku ingin pulang." Baekhyun memohon untuk pulang bersama.

"Ehh..? tapi di luar grimis."

"Cepat Chanyeol, aku ingin pulang." rengeknya yang sudah berdiri di pintu.

.

.


Keduanya berjalan dengan hujan yang semakin deras.

"Baekhyun, mengapa kau buru – buru sekali? Aku sampai lupa untuk membawa payung. Jika tadi kau mau menunggu sebentar saja di tempatku kita tidak akan kehujanan." Ucapnya tidak terlalu terdengar karena suara hujan menguasainya.

Baekhyun memegang sisi mantel Chanyeol meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sendirian di tempat terbuka yang membuatnya takut sekarang.

Chanyeol berhenti melangkah membuat langkah Baekhyun juga terhenti.

"Sebaiknya kita menunggu saja di halte sampai hujannya reda." Chanyeol melihat pada tempat yang bisa membuatnya dan Baekhyun berteduh sementara dengan banyak orang yang berteduh di sana.

Baekhyun menggeleng.

"Ani, jangan di sana. Kita teruskan saja jalan kita untuk pulang."

Baekhyun menarik mantel Chanyeol dan terdengar gemuruh suara dari langit.

"Baekhyun, mengapa kau keras kepala? Hujannya sangat deras bagaimana jika kita sakit dan besok aku tidak bisa sekolah?"

Baekhyun mematung dan melepaskan pegangannya di sisi baju Chanyeol. Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol di depannya dan terus menerjang hujan yang membasahi dirinya.

"Ya! Byun Baekhyun!" Teriak Chanyeol menyamai suaranya dengan hujan. Lalu ia berhasil mendapatkan Baekhyun dan menggiringnya ke tepi jalan untuk berteduh ke tempat yang cukup jauh dari halte tadi. Tidak ada banyak orang disana, yang terlihat hanya mereka berdua saja. Baekhyun dan Chanyeol duduk di kursi yang terbuat dari paralon di depan sebuah bangunan seperti toko yang pagarnya di tutup.

"Kita berteduh saja disini. Aku mengerti keadaanmu." Ujar Chanyeol pada orang yang lebih mungil di samping berdekatan dengannya.

Baekhyun tidak banyak bicara. Bergelung dengan rasa takut dengan apa yang di alaminya tadi adalah sesuatu yang langka bagi Baekhyun. Ini pertama kalinya lagi ia berada di tempat terbuka dengan hujan yang tak kunjung reda sejak duduk di sekolah dasar. Sesuatu seperti menghimpit dadanya yang terasa sesak. Kaki dan tangannya dingin gemetar. Bibirnya menggigil dan membiru. Rambut yang sudah tidak kering dan pakaian yang tampak basah membuat lekukan tubuh mungil Baekhyun terlihat. Tangannya ia masukkan ke dalam saku mantel tebal yang tidak hangat lagi. Sesuatu yang ia tahu ponselnya masih menyala dan tidak terkena air hujan karena di simpan di kantong celana.

Sama seperti Baekhyun, Chanyeol juga sama basahnya. Hanya saja badannya sudah mulai menghangat dan perasaanya tenang karena Baekhyun mau menurut padanya.

Gemuruh hujan terus saja terdengar keras kadang di sertai aliran listrik.

Chanyeol memandang Baekhyun dan merengkuh tubuh mungil itu perlahan. Chanyeol tahu perasaan Baekhyun sekarang. Terlihat sangat jelas raut wajah Baekhyun yang cemas dan pucat di basahi hujan. Chanyeol semakin memeluknya erat karena merasa bersalah dan kedua tangannya semakin di rekatkan pada tumpuan dada dan lengan Baekhyun. Orang yang di peluk sama sekali tidak berontak. Karena ia memang butuh pegangan dan kehangatan dari seseorang untuk membuatnya tenang dan tidak takut.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Kau boleh salahkan aku." Ucapnya pelan di dekat telinga Baekhyun.

"Chanyeol, kapan kita pulang? Ini sudah mau sore."

"Sebentar lagi. Bertahanlah ku mohon." Chanyeol menenggelamkan kepalanya di bahu Baekhyun dan Baekhyun menatap ke sisi kanannya lalu Chanyeol sedikit mendongak ke arah Baekhyun.

Tatapan sayu Baekhyun terhadapnya membuat Chanyeol ingin meyakinkannya bahwa Baekhyun bisa bertahan. Chanyeol memandangnya lekat begitu pula dengan tatapan sayu Baekhyun. Chanyeol melihat ke bibir Baekhyun yang sudah biru karena kedinginan. Ia sedikit mendekatkan bibirnya untuk bisa meyakinkan Baekhyun bahwa ia ada di sana untuk memberinya kehangatan dan kekuatan. Chanyeol memiringkan kepalanya dan jarak bibir mereka tinggal satu inci.

DEERRR DAARRR DUUUUGGG...

Suara gemuruh dari langit menyadarkan Baekhyun yang terkejut. Ia langsung melompat pada dada bidang Chanyeol dan memejamkan matanya. Chanyeol semakin memperdalam pelukannya. Ia bisa mendengar detak jantung Baekhyun tidak normal. Sebenarnya Chanyeol juga terkejut mendapatkan perlakuan Baekhyun yang tiba – tiba seperti itu.

Beberapa menit hujan berlalu dan beberapa menit setelah Baekhyun merasa tenang, Baekhyun melepaskan tumpuannya perlahan. Ia merasa malu dan rasa canggung menyelimuti keduanya.

"Kau sudah merasa nyaman?" Tiba – tiba Chanyeol menanyainya saat hujan sudah reda walaupun masih tampak grimis kecil. Baekhyun mengangguk dan tatapannya bukan pada Chanyeol yang membuatnya malu setengah mati, tapi pada tanah yang dipijaknya.

"Kajja." Chanyeol berdiri di ikuti Baekhyun. Seperti tadi, Baekhyun tidak mau kehilangan jejak Chanyeol. Ia tidak mau tersesat di jalanan besar yang membuat tubuh mungilnya harus terseretkan. Pegangannya memegang sisi baju Chanyeol yang sedang berdiri di sampingnya.

"Baekhyun, Jangan memegang sisi bajuku. Peganglah tanganku Baek." Chanyeol menyodongkan tangan besarnya untuk Baekhyun. Tanpa harus berfikir, Baekhyun langsung meraih tangan raksasa Chanyeol dan menautkan jari – jari mereka di sana.

"Omona, tanganmu dingin sekali!" Chanyeol semakin mempererat tautannya dan lengan kanannya memegang pipi Baekhyun yang dingin membeku seperti es. Berkat perlakuan Chanyeol padanya, pipi Baekhyun memanas seketika.

"Kau perlu menghangatkan tubuhmu." Chanyeol melepas tautannya sementara dan memakaikan tudung mantel Baekhyun ke kepalanya. Lalu Chanyeol kembali meraih jemari lentik Baekhyun membawanya pulang.

Di perjalanan pulang mereka masih bertautan. Dalam hidup Baekhyun ia tidak pernah menemukan orang seperti Park Chanyeol. Sekarang Baekhyun bisa mempercayakan Chanyeol untuk jadi temannya. Baekhyun tersenyum di dalam hatinya karena akhirnya ia bisa mempunyai teman baik dan tetangga yang sebaya dengannya.

"T..tunggu!" Baekhyun menghentikan langkahnya saat melihat ke atas bangunan tinggi di layar besar terpajang idola yang di sukainya beriklan di suatu produk merk ipad terkenal.

"Waahhhh... daebak." ujarnya dan Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun. Setelah iklannya selesai Baekhyun kembali melangkah dan tersenyum tidak jelas.

"Memangnya apa yang membuatmu menyukai mereka sampai kau baru bisa tersenyum?" Chanyeol yang tidak mengerti akan sikap Baekhyun.

"Mereka adalah segalanya bagiku. Temanku, sahabatku dan kekasihku."

"Mwo! Kekasih? Kau itu berlebihan. Dia tidak akan bisa kau miliki."

Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal.

"Walau bagaimanapun aku sangat mencinta mereka. Dan aku selalu berkhayal aku menjadi kekasih Kyungsoo."

"Hha! itu khalayanmu saja. Aslinya tidak akan pernah terjadi." Baekhyun langsung melepaskan genggamannya dan menatap Chanyeol tajam.

"Apa?... Kau mau membunuhku?"Chanyeol.

"Jika saja aku masih punya kekuatan untuk membunuhmu. Aku tidak akan segan – segan Park Chanyeol." Ucapnya serius tapi setelahnya tertawa dengan renyah.

BLUSHH

Ini pertama kalinya Chanyeol melihat Baekhyun tertawa seperti itu. Senyuman yang memikat hatinya ini membuat Chanyeol terpana tanpa mengerjapkan matanya. Di tambah angin yang menyapu poni Baekhyun terbang, sungguh seperti ada yang menggelitik di dalam perutnya. Sebuah perasaan yang ingin terus, terus dan terus bersama Baekhyun untuk tetap di sisinya. Seperti dalam mimpinya belakangan ini.

"Dengar Byun Baekhyun, cintailah orang yang benar – benar menyukaimu dengan tulus. Kau akan mendapatkan cinta yang sebenarnya tanpa menggunakan khayalanmu. Apa kau tidak pernah merasakan yang namanya di cintai seseorang? Yah.. seperti merasa penuh cinta dengan orang yang kita sukai?" bicaranya serius dengan sebuah tatapan mematikan.

"Aisshh kau bicara apa sih park Chanyeol." Baekhyun mendorong dada Chanyeol pelan.

Hoksi neodo weropgo jichimyeon

(Jika kau kesepian dan lelah)

Yeogi kkumkudeon nal gieokhaejullae

(Di sini kau mengingatku yang memimpikanmu)

Hello To My Self, Hello To My Self

Yeogi nal saenggakhamnyeo useo jullae

(Akankah kau memikirkanku di sini dan tersenyum)

Hello To My Self, Hello To My Self

Gaseum bokchage haengbokhae jullae

(Akankah kau bahagia dengan perasaanmu yang berlebihan)

Hello Hello useobwa Hello Hello geureohke

(Hello Hello tersenyumlah Hello Hello seperti itu)

Di sepanjang jalan mereka terus mengoceh dan sudah dekat di apartemen. Baekhyun mendahului Chanyeol karena ingin cepat – cepat berada di zona amannya. Chanyeol mengikuti di belakang. Baekhyun melihat mobil Suho di basahi hujan terparkir dekat bagasi. rupanya Suho lebih cepat pulang dan sepertinya baru saja mampir karena asap mobilnya mengepul.

"Adakah seseorang yang menyukaimu saat ini?"

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun jadi mengingat Sehun yang besok akan bertemu.

"Kau sendiri... sudah merasakan yang namanya cinta?"Baekhyun yang tidak menjawab pertanyaan Chanyeol malah menanyai balik saat menaiki tangga yang agak licin.

"Oh, aku pernah menjalani hubungan dengan seorang wanita."

TANGG...

Baekhyun tergelincir. Untung saja ada lengan besar Chanyeol di belakang yang sigap memopang Baekhyun agar tidak jatuh. Keduanya saling bertatapan.

"Hati – hati." Chanyeol melepaskan tangannya pada punggung Baekhyun.

"G..gomawo." Baekhyun memegang besi pada tangga dan terus berjalan.

Ia berfikir terpelesetnya tadi memang tangganya yang licin di tambah keseimbangannya kurang atau mungkin perkataan Chanyeol barusan. Baekhyun tidak sepenuhnya menyalahkan perkataan Chanyeol yang membuatnya harus terjatuh, tapi memang benar Baekhyun terkejut saat itu. mengapa Baekhyun harus terkejut? Toh wajar saja orang seperti Park Chanyeol pernah merasakan cinta. Siapa yang tidak pernah merasakan cinta? Park Chanyeol pasti sudah sangat sering melakukan hal itu. terlihat dari perlakuannya saja padanya sudah jelas terlihat bahwa Park Chanyeol itu namja yang pervert, pikir Baekhyun. Tapi yang Baekhyun pikirkan adalah park Chanyeol berhubungan dengan wanita itu berarti dia bukan Yaoi.

Entah mengapa ada sesuatu semburat di wajahnya yang tidak ceria saat sudah di pintu rumahnya. Saling membelakangi dengan Chanyeol, Baekhyun langsung masuk saja dan Chanyeol memperhatikan tingkahnya yang tidak di hiasi senyuman manis malaikatnya. seharusnya Baekhyun senang karena sudah berada di tempatnya. Pikir Chanyeol.


CHANYEOL

Shower mandi ku nyalakan. Aku sedang membersihkan tubuhku dan terpejam menjernihkan pikiran setelah mengajak Baekhyun bermain. Tidak, niatku untuk mengajaknya bersenang – senang malah sepertinya membuat Baekhyun tidak betah. Yahh aku mengerti situasinya.

Ada sesuatu yang membuat hidung ku gatal dan keluar cairan lendir. Bahkan aku bersin – bersin setelah keluar dari kamar mandi. Jika aku tahu aku akan terkena flu, sebaiknya tadi setelah kehujanan aku ganti baju saja dan tidak usah mandi. Ahh hujan itu yang membuatku terserang flu dan demam.

Perutku berbunyi sesuatu, cacing – cacing di dalamnya seperti meraung –raung ingin cepat di beri asupan. Aku memakan ramen duduk di sofa sambil menonton televisi. Orang yang kulihat tadi bersama Baekhyun di iklan, dia menjadi bintang tamu acara hari ini. jika Baekhyun tahu, pasti ia akan senyum – senyum tidak jelas seperti sebelumnya.

Tentang aku pernah berhubungan dengan wanita, iya aku pernah menjalaninya saat memasuki kelas 11. Aku seperti di permainkan olehnya. Dia bilang aku tidak bisa memuaskannya dalam bercinta. Jujur saja tidak ada rasa cemburu atau amarah saat dia bersama pria lain. Aku tidak mengerti saat itu, mungkin karena aku tidak mencintainya. Dia memintaku untuk putus dan aku mengiyakan saja karena sejujurnya aku tidak mengerti dan tidak begitu tertarik dengan wanita. Tapi aku selalu menyangkalnya di depan Sehun dan Kai, aku tidak ingin image ku berubah walau aku tahu sebenarnya ada sedikit gambaran bahwa aku menyukai sesama.


BAEKHYUN

"Kau pergi keluar?" Suho hyung langsung bertanya seperti sudah menunggu kedatanganku saat aku baru saja masuk.

"H... hyung."Aku langsung pergi ke kamar mengganti baju ku yang basah.

Suho hyung memanggilku dan aku segera menghampirinya ke ruang tamu.

Hening sejenak, tidak ada suara di antara kami. Sepertinya Suho hyung membutuhkan penjelasan ku yang tadi pertanyaannya tidak sempat ku jawab karena langsung pergi mengganti baju.

Aku mendekati sofa dan duduk karena Suho hyung di sana.

"Kau masuk jam kantor? Pulangmu lebih cepat, ini kan baru jam empat."

"Ya, tidak banyak yang harus ku kerjakan. Tadi dari mana ?" Suho hyung membuka dasi kemeja.

"T.. tadi siang, aku di ajak Chanyeol pergi keluar. Dia menyuruhku untuk menemaninya. Awalnya aku tidak mau ikut dengannya tapi ia..."

"Jadi kau pergi bersama Chanyeol di hujan begini?"

"N..ne"

"Kalau begitu aku tidak perlu khawatir."

"Kau tidak marah?"

"Anio."

"Hyung, Kau memberitahu Chanyeol? Dia tahu tentang ku."

"Iya, aku mengatakannya."

"Mengapa di beritahu? Dia bukan siapa – siapa Suho hyung." Aku menyalakan televisi karena teringat jadwal tayang CNBlack.

"Arrayo, hyung mengatakannya karena kau membutuhkan teman. Kau harus punya teman setidaknya satu dalam hidupmu. Jika kau selalu sendirian, hidupmu akan terasa bosan dan hampa. Apa hanya aku yang berarti dalam hidupmu? Aku tidak bisa sepenuhnya bersamamu. Karena kita mempunyai jalan kehidupan yang berbeda. Jika aku menikah nanti, kita tidak akan tinggal bersama. Kau jangan sepenuhnya menggantungkan hidupmu padaku. Carilah teman yang banyak atau seorang kekasih. Kau akan merasakan indahnya dunia bersama pasanganmu. Kau mengerti maksudku?"

"Yeayyyy... CNBLACK. Ya ampun aku tidak telat kan?"

Aku menatap Suho hyung, wajahnya datar dan mulutnya agak sedikit menganga.

"Baekhyun, kau mendengarkan ku?"

"Ahh... tadi kau bilang mau menikah? hyung sudah punya kekasih?"

"Kau memang tidak mendengarkanku." Suho hyung berjalan ke kamarnya.

.

.


AUTHOR

"Bagaimana dengan penjualan album terbaru, bertajuk Dark your face?" Sang MC mewawancarai.

"Kami sudah mempersiapkan usaha dengan maksimal, kerja keras hasil pencapaian terbayarkan dan tidak sia - sia. Ini semua berkat fans yang selalu mendukung kami. Album ke empat kami terjual hingga delapan ratus copy dalam satu minggu dan itu membuktikan kemajuan kami berkembang pesat." Sang main bass kris mewakili pertama.

"Apakah ada sesuatu atau makna tersendiri dari arti judul album tersebut?"

"Inti dari lagu ini sebenarnya kami ingin membuat fans bahagia. Ada banyak makna di dalamnya. Orang yang merasa sangat rindu tapi tidak bisa menemuinya. Itu salah satu arti dan sebuah motivasi untuk tetap tersenyum dan ceria."Main gitar Luhan menjelaskan.

"Ahh... dan saya rasa yang tahu mendalam tentang lagu ini Kyungsoo. Karena dia yang membuat liriknya. Kyungsoo-ssi kau lebih memahami ini." tambah Luhan pada Kyungsoo di sebelahnya. Sedangkan di sisi kirinya Xiumin dan Kris.

"Tidak hanya untuk fans, aku mempersembahkannya untuk seseorang. Aku harap orang itu sedang menonton acara ini..."Kyungsoo.

"Jinjja! kau belum mengatakannya sebelumnya?" Xiumin berbicara.

"Lebih terbuka jika mengatakannya pada media Xiumin hyung." Kyungsoo kembali melihat ke layar.

" hmm... lagu itu juga sebuah gambaran yang ingin ku lakukan bersamanya. Tapi dengan khayalan dan angan – angan yang sengaja di buat sendiri. Aku tidak perlu menghabiskan waktu dalam membuatnya karena itu sudah ku pikirkan sejak awal debut."

"Sepertinya orang itu begitu special untukmu. Apakah dia kekasihmu?" MC kembali bertanya tapi bukan pada pertanyaan yang sudah di buat pada kolom kartu.

"Yah, aku rasa dia begitu berarti. Tapi sekarang ini fans yang lebih berarti untuk kami. Aku tidak akan mengecewakan mereka."

"Ahh.. lalu apakah ada persiapan untuk melakukan konser perdana?" MC mengulang pertanyaan pada kartu yang di pegangnya.

"Iya, dalam waktu dekat ini setelah selesai promosi album terakhir. Tetapi produser kami belum mengkonfirmasi tanggal kepastiannya." Xiumin mengklarifikasi.

"Kami juga mengadakan tour ke luar negeri. Jepang salah satunya karena kami lebih terkenal di negara tersebut dari pada negara Asia lainnya." Kris.

"Kami akan mendatangi berbagai kota – kota besar di korea. Busan masuk dalam kategori daftar list yang telah di sediakan oleh pihak promotor." Kyungsoo.

"Sebelum berlanjut jeda iklan, ini adalah pertanyaan terakhir. Apa yang ingin di sampaikan pada para fans di rumah atau yang berada di studio."

"Kami begitu tersentuh atas dukungan para fans yang setia memantau kami, mencintai kami, dan mengorbankan segalanya untuk kami." Luhan.

"Sampai bertemu di konser perdana kami. Aku akan melihat kalian semua. Saranghae yeoreubeun." Xiumin.

"Kami sangat berterima kasih. Aku harap kalian tidak pernah berhenti untuk mencintai karya – karya CNBlack." Kyungsoo.

"Kami akan tampil lebih keren. Nantikan dan tunggu kami, I Love You and see you next time."

.

.

.

.

.

To Be Countinued...

Review?