Place To Hide
Main Cast : Byun Baekhyun
● Park Chanyeol
● EXO support member
Genre : Yaoi, Boys Love , Romance, Absurd.
Rating : T
Author : Yeolvin
Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.
Warning : Sorry for Typo
Don't like don't read!
Happy Reading...
Keesokan harinya
.
Baekhyun mulai belajar hari ini. Buku – buku menumpuk di mejanya, ia akan mendapatkan banyak soal yang harus di kerjakannya.
Suatu pemikiran melintasi kepalanya saat teringat ucapan Kyungsoo di televisi. Dark your face, dari judulnya saja sudah jelas bahwa orang yang di maksud Kyungsoo adalah Jongin. Mungkinkah itu memang tertuju pada Jongin? Baekhyun rasa memang benar karena mengingat ucapan dari Kai dan Chanyeol. Lalu Baekhyun memutar album yang baru di belinya beberapa waktu lalu yang sudah di dengarnya tapi kali ini di dengar dengan sangat cermat. Hatinya tersentuh, seseorang seperti Kyungsoo juga ingin mendapatkan cinta yang murni. Baekhyun hanya bisa tersenyum walau ada sedikit kekecewaan dalam benaknya. Tapi ia akan menjadi fans yang baik untuk idolanya, Baekhyun akan selalu menyemangatinya dan mendukung karirnya.
.
.
.
.
Hatcuuuuu...
Chanyeol hampir terlambat masuk sekolah. Ia berlari kecil menuju gerbang sebelum pak satpam menutupnya. Ia paksakan untuk pergi sekolah karena Chanyeol harus mengumpulkan tugasnya pada guru yang super heboh akan kegalakannya. Jika bukan karena guru menyeramkan itu, Chanyeol tidak akan masuk sabtu ini padahal ia sedang tidak enak badan.
Chanyeol melihat ke arah jam dinding. Rasanya waktu ingin sekali cepat berlalu. Hanya beberapa menit lagi jam istirahat berbunyi dan ia masih mendengarkan ocehan salah satu seongsangnim yang paling tidak di favoritkannya begitu juga dengan Jongin. Malah jongin terlihat sudah sangat bosan dan mencoret- coret tidak jelas di kertasnya dengan tinta pada pena yang di pegannya. Tapi walaupun begitu Chanyeol bisa menangkas dan berkonsentrasi dengan baik.
Chanyeol langsung membereskan bukunya saat jam istirahat yang di tunggu – tunggu telah terdengar nyaring ke semua penjuru sekolah. Sehun datang dari kelas lain menunggu Chnayeol dan Kai di luar untuk pergi ke kantin.
"Aku yang akan memesan dengan Kai. Kau tunggu di sini yeol." Sehun.
"Ahh... aku tidak dengan saus."
"Ne, algesseumnida."
Chanyeol duduk di meja kantin sedangkan Sehun dan Jongin sedang pergi membeli makanan.
Tiba- tiba mantan pacar Chanyeol yang bernama Sooyoung datang menghampirinya dengan memberinya satu buah minuman kaleng dingin dan duduk di kursi berhadapan dengan Chanyeol.
"Semua meja penuh, aku akan ikut di sini. Bolehkan?" Sooyoung mengibaskan rambut panjangnya yang terurai. Sedangkan Chanyeol bersikap biasa saja dan tidak menjawab.
Chanyeol mendorong minuman kaleng itu kembali pada Sooyoung.
"Aku tidak minuman dingin."
"Wae?"
"Sudahlah, langsung masuk ke inti. Bicara dan setelah itu pergi." Chanyeol melirik meja kosong di ujung.
"Aku... putus dengan Siwon." Sooyoung menegak haus minumannya dan menghela.
"Aku ingin kembali padamu, memulainya dari awal karena aku belum bisa melupakanmu dan aku masih mencintaimu." Kedua tangannya memegang tangan Chanyeol.
Chanyeol langsung melepaskan genggaman perempuan itu dan tidak sengaja menyenggol ponsel Sehun sampai akan terjatuh dari meja di sampingnya yang sengaja di tinggal oleh pemiliknya.
Chanyeol menangkap ponsel itu dengan cepat sehingga jarinya menekan tombol pada layar sampai menyala. Alisnya merenung dan matanya sukses membulat ketika walpaper yang di lihatnya adalah Baekhyun yang sedang tersenyum manis dengan puppy eyes.
"Kau tidak mau? Aku tahu... kau marah karena aku lebih memilih Siwon. Maafkan aku, seharusnya aku tidak...
"An...nyeong." Sehun dengan wajah bodoh sudah berdiri di sana.
"Lihat siapa disini. Sooyoung benarkah?" Kai kembali membawa jajjangmyeon di tangannya.
Sehun duduk di sebelah Chanyeol dan Kai duduk di sebelah Sooyoung.
Chanyeol melepaskan ponsel Sehun dan menyimpannya seperti tadi.
"Apa yang membawamu ke sini?" Kai menatap Sooyoung dan Chanyeol bergantian.
"Dia membawa minuman kaleng bodoh, kau tidak lihat?" Sehun memberi Chanyeol jajjangmyeon pesanannya.
"Terimakasih." Chanyeol.
"Maksudku perempuan ini, apa yang dilakukannya hingga membuat mantan pacarnya ini begitu tidak senang dengan kedatangannya."
"Ahh... mungkin dia ingin menjadikan Chanyeol sebagai sasaran lagi."
"Sasaran atau bentuk perhatian semua orang karena tidak sebanding. Menjadikannya untuk satu kemungkinan kebutuhan pribadi lalu, menyampingkan disisi sederajat termasuk sebagai... pecundang." Kai melirik Sooyoung lalu kembali menghadap ke depan. Sooyoung sudah terlihat kesal.
"Kau mencoba untuk meyudutkannya kkamjong. Itu bagus."
"Hey... ayolah sekarang Chanyeol kita bukan straight."
"Apa maksudmu Chanyeol bukan straight?" Suara Sooyoung meninggi membuat beberapa orang yang mendengarnya saat itu menoleh ke arah mereka.
ZEESSSS... Kai membuka tutup minuman milik Sooyoung yang masih utuh.
"Kau membawa ini untuk Chanyeol kan? Sayang sekali karena dia sedang flu." Kai meminumnya dan terlihat jakunnya naik turun.
"Chanyeol... kau sakit?" Sooyoung menempelkan tangannya pada kening Chanyeol yang langsung di tepis.
"Wae? salahkah aku mengkhawatirkanmu?"
"Kau sudah selesai berbicara, pergilah."
"Tapi... kau belum menja...
"Dengar, aku tidak akan kembali untukmu dan jangan pernah memaksaku karena aku sama sekali tidak mencintaimu. Kau itu tidak masuk dalam tipeku. Jadi.. berhentilah merajuk."
"Chan...
"Dan kau salah paham. Aku tidak marah ataupun cemburu saat kau bersama pria lain. Hha! Siapa peduli. Aku yakin Siwon tidak akan pernah betah dengan yeoja seperti dirimu makanya dia memutuskan. Dua bulan bersamamu walaupun itu singkat tapi cukup untuk menyesakkan bagiku. Sekarang... kau jangan menghalangiku menurunkan nafsu makan."
"Benarkah? Lalu jika seperti itu mengapa kau mau menerimaku dulu?"
"Kau tahu lah aku sedikit memanfaatkanmu untuk kepentingan imageku. begitu juga kau yang mempermainkanku."
"Yeol, sebaiknya kita pindah tempat saja, sepertinya dia tidak mau pergi." Kai berdiri.
Greekkkk
"Hhah! Tidak usah, kalian sudah cukup memojokkanku. Aku akan pergi." Sooyoung berdecik kesal.
"Ngomong-ngomong terimakasih minumannya." Kai kembali duduk dengan smirk di wajahnya. Dan Sooyoung sudah benar-benar tidak terlihat di tempat mereka entah pergi kemana yang jelas bukan di kantin.
"Kau tidak pernah mencintai Sooyoung dari awal atau sudah tidak pernah lagi mencintainya, dan apa maksudmu untuk kepentingan image?"
"Sehun, baiklah. Dari awal aku memang tidak pernah mencintai Sooyoung tapi aku selalu bilang pada kalian aku mencintainya karena aku tidak mau kalian berdua menyangka ku seorang gay."
"Ohh... itu alasan yang masuk akal. Seharusnya kau tidak melakukannya untuk membuat Sooyoung berharap lebih padamu."
"Aku tahu."
"Berarti kau tahu bahwa kau juga pecundang yang memanfaatkan kebutuhan pribadi seperti apa yang di bilang Kai tadi."
"Iya, ku akui. Tapi aku tidak membandingkannya sederajat denganku. Cih."
"Hm.. teman-teman sepertinya aku harus ke toilet sebentar. aku akan segera kembali." Kai benar-benar harus mengeluarkan rasa mulas di perutnya yang sudah tak tertahankan. Mungkin karena setelah meminum minuman Sooyoung atau karena hal lain. Ia meninggalkan Chanyeol dan Sehun saat itu.
Tidak ada yang berbicara dari keduanya. Yang terdengar hanya suara memasukan jajjangmyeon ke dalam mulut mereka.
"Siapa dia?" Chanyeol bertanya dengan nada pelan untuk mengurangi rasa penasarannya dan untuk tidak mengurangi rasa keheningan mereka.
"Siapa apanya?" Sehun masih memasukkan beberapa helai jajjangmyeon dengan sumpit dan melahapnya.
"Ponselmu."
"Eh? Maksudmu ini?" Sehun menunjukkan ponselnya pada Chanyeol. dilihatnya tidak ada yang berubah di layar itu. Hanya ada senyum Baekhyun yang sangat manis di sana yang sempat ia save beberapa hari yang lalu. Sehun tampak bingung.
"Iya, orang itu... siapa?"
"Orang yang akan kencan denganku hari ini." Sehun tampak tersenyum lalu setelah itu bertanya. " kenapa?"
"A..a..ahhh tidak. Bagaimana kau?" Chanyeol menurunkan sumpitnya di meja dengan pelan.
"Namanya Baekhyun. Dia tampan kan? Ahh... tidak! Aku rasa menggemaskan." Sehun terkikik geli.
"Apakah dia yang selalu chat denganmu?" Sehun menjawab dengan anggukan.
"Kapan kalian memulai kencan?"
"Setelah pulang sekolah aku akan menemuinya."
"Apa dia akan datang?"
"Hmm..." Sehun kembali menganggukkan kepalanya. "Lalu mengapa kau ingin tahu tentang dia?"
Chanyeol tidak menjawab dan itu membuat Sehun curiga.
.
.
.
Baekhyun sedang menyisir rambutnya melihat pantulan dirinya di cermin dengan menggunakan kemeja bergaris hitam putih dengan sepasang celana jeans.
Ia tampak ragu dengan apa yang dia lakukan sehingga Baekhyun memeriksa ponselnya dan akan mengirimi pesan pada Sehun bahwa ia tidak akan datang. Tapi dengan cepat Baekhyun menghampus ketikkannya sebelum ia berubah pikiran.
Lalu Baekhyun teringat dengan ucapan Yixing saat pertemuan pertama mereka siang tadi.
"Kau bisa mengendalikanmu pikiranmu. Buatlah sugesti atau kata hati dalam dirimu yang bisa menenangkanmu. Bisikkanlah dan terpejam. Kau tidak bisa larut membiarkan ketakutan itu menguasai dirimu sepenuhnya. Buatlah ketakutan itu sebagai predator dan kau akan memangsanya. Jika kau sudah memegang mangsamu. Dia akan mati dalam artian hilang dalam benakmu."
Dan saat itu Baekhyun menelan air ludahnya kasar lalu meraih jaket yang tergulai di kursi . – mengenakkannya dan pergi.
.
.
Tiga jam yang lalu
Baekhyun membungkuk pada seseorang dan mempersilahkan Yixing masuk saat orang itu memencet tombol pintu.
Baekhyun sudah mengetahui mengenai Yixing yang seorang ahli Psikologis karena Suho meminta penjelasan darinya untuk membantu Baekhyun. Yixing adalah rekan sekaligus teman dekat Suho yang baru saja pindah ke Korea satu tahun yang lalu.
Walaupun Suho adalah Dokter, ia kurang tahu menahu bila sudah mengenai pertentangan gangguan psikis karena ia bukan ahli jiwa. Suho bersyukur karena Yixing mau menangani masalah pada adiknya.
"Ni hao ma Yixing gege" Sapa Baekhyun menggunakan bahasa mandarin karena Yixing adalah Chinese.
"Aku tersanjung, kau mempelajari bahasa mandarin?" Dengan lancar, Yixing menggunakan bahasa Korea.
"Ahh... hanya sebagai perumpamaan. Silahkan duduk."
Yixing menempelkan bokongnya pada sofa sementara Baekhyun pergi ke dapur mengambilkan air minum.
...
"Setidaknya memori ingatanmu baik karena kau masih bisa dengan jelas me- reka semua kejadian di masa lalu sampai kau berfikiran selumrah itu."
"Ya tentu saja, bagaiman mungkin aku melupakannya. Aku rasa semua orang yang berada di Myeong-dong masih mengingat kejadian itu." Baekhyun duduk di sofa lainnya yang tidak di tempati orang dengan lesung di pipinya.
"Dan pasti kau mempunyai hal-hal kejadian sekecil apapun lainnya yang tidak bisa di ingat orang lain tapi kau masih mengingatnya sampai saat ini."
"Tunggu, mengingat hal kecil yang selalu ku pendam yang mungkin sudah di lupakan orang lain maksudmu?"
"Benar. Orang yang masih mengingat dan tidak bisa melupakan peristiwa, berarti ia mempunyai dendam dalam hatinya."
"Dendam?"
"Oh, kau menyimpan dendam dalam hatimu. Aku tidak bisa katakan itu tapi aku yakin kau menyimpan rasa kesal yang mendalam pada seseorang sehingga membuatmu tidak berdaya di hadapannya dan malas untuk menemuinya lagi jadi kau berakhir memilih berdiam di rumah yang menurutmu aman ini."
"Bagaimana kau bisa berfikiran seperti-
"Karena itu bisa saja terjadi. Aku tebak ingatanmu sangat bagus. Kau bisa mencerna dengan baik karena otakmu bekerja di luar kemampuan orang lain."
"Benarkah?" Baekhyun menatap Yixing ingin tahu dan hatinya sumringah karena di puji seperti itu dan Baekhyun akui ingatannya memang baik. Pantas saja setiap pelajaran di sekolah ia selalu ingat jika mengenai hapalan tentang sejarah atau semacamnya. Dan jangan lupa, Baekhyun pernah memenangkan penghargaan saat mengikuti lomba hapalan tingkat provinsi seperti buku tebal yang sangat rumit dalam waktu yang singkat saat SMP dulu walau ia tidak menginginkan lomba itu karena gurunya yang mendesak.
"Begini, kau sulit menghapus ingatanmu yang sudah melekat menempel di kepalamu. Berbagai perasaan bisa kau rasakan semuanya begitu juga dengan hal kecil yang menyangkut dalam dirimu semasa kanak-kanak atau di bangku sekolah. Apalagi jika itu menyangkut hal-hal besar seperti gempa bumi."
"Apa kejadian sekecil lainnya berlaku?"
"Yah..menurutku, kau orang yang menarik. Jangan pikirkan masa lalu karena kita tidak akan kembali ke masa itu. ingat ini adalah masa depan. Kau akan menyongsong hari esok dan terbang menuju cahaya matahari. Jika kau terus bersembunyi berada di rumah bagaimana kau akan meraih matahari yang di ibaratkan mimpi tertundamu?"
"Lalu mengapa aku bisa merasakan bagian fisikku ikut larut dalam kesakitan?"
"Gejala seperti yang kau alami memang bisa menunjukkan bahwa tubuhmu tidak siap menerima perlakuan mendadak dari serangan panik itu sendiri. Kau tahu MacKay mengatakan bahwa Agoraphobia adalah phobia yang paling buruk?"
"Tidak."
"Karena sulitnya penderita Agoraphobia mengendalikan rasa panik, mereka akan merasa sudah begitu dekat dengan kematian. Tapi kau santai saja, aku tahu para phobik menganggap segala sesuatunya berbahaya jadi mereka yang seperti itu akan benar-benar bergantung pada orang lain termasuk kau."
"Iya..." Jawab Baekhyun menunduk dengan nada putus asa karena itu semua benar.
"Dan aku tahu perasaan itu sangat menyiksa. Trauma yang berulang tidak bisa kau lepaskan. Ini memakan banyak waktu untuk di sembuhkan. Kau bisa datang untuk terapi melatih diri dan jangan menganggap semua hal itu serius karena kita berada di dunia yang sementara."
"Apa obat-obat penenang bisa membantu? Hanya saja aku...
"Untuk sebagian orang iya, jika kau mau mencobanya kau bisa menggunakan Setraline atau paroxetine di minum 2 kali sehari. Tapi aku tidak terlalu menganjurkan karena takut untuk beresiko ketergantungan."
"Um... apa ada cara lain yang sangat ampuh untuk menyembuhkanku?"
"Iya, itu adalah Hypnoterapi tapi aku belum mengizinkan kau melakukan itu. karena sepertinya kau harus mencoba teknik dasar terlebih dahulu untuk mengatasinya. Namun... jika kau benar-benar sudah tidak bisa mengatasi atau mengendalikan karena phobia itu terus menghantuimu, kita bisa lakukan hypnoterapi.
"Jadi aku harus bagaimana?" Nada suaranya kini terdengar lirih dan pelan.
Sebelum menjawab, Yixing meraih gelas di meja bundar dan menyeduh teh hangat itu lalu menyesapnya.
"Kau bisa mengendalikanmu pikiranmu. Buatlah sugesti atau kata hati dalam dirimu yang bisa menenangkanmu. Bisikkanlah dan terpejam. Kau tidak bisa larut membiarkan ketakutan itu menguasai dirimu sepenuhnya. Buatlah ketakutan itu sebagai predator dan kau akan memangsanya. Jika kau sudah memegang mangsamu. Dia akan mati dalam artian hilang dalam benakmu."
Baekhyun mengangguk-angguk mengerti.
"Jika kau mau menanyakan sesuatu, hubungi aku di pertemuan kita selanjutnya."
.
.
.
.
.
Chanyeol yang saat itu pulang sekolah dengan masih menggunakan seragam baru saja turun dari Bus di pemberhentian halte. Ia merasa melihat Baekhyun memasuki Bus lain kala itu. Chanyeol tidak terlalu yakin orang itu adalah Baekhyun tapi setelah Bus itu melaju melewatinya, ia dapat melihat dengan jelas orang yang sedang duduk di balik kaca, sedang tertunduk melihat ke ponselnya yang membuat cahaya kecil dari layar menerpa wajahnya terang dan Chanyeol yakin itu adalah Baekhyun.
Chanyeol tidak perlu berfikir lebih lama tentang Baekhyun karena tidak tahu mengapa ia ingin segera menghentikan Bus itu dan mengikuti Baekhyun pergi.
Setelah Chanyeol berhasil menghentikannya, dengan segera ia memasuki pintu Bus dan menggunakkan hoddie di kepalanya untuk menutupi sebagian kepalanya agar Baekhyun tak mengenalinya.
Chanyeol berdiri dan tangan kanannya berada di atas untuk memegang besi memopang tubuhnya agar tidak jatuh saat bus itu mengerem mendadak. Chanyeol terus memperhatikan Baekhyun yang sibuk membaca dan memainkan jemari lentiknya pada ponsel case putih miliknya yang sesekali melirik ke luar jendela dari sisi kanan belakang tempatnya berdiri.
Chanyeol tahu Baekhyun akan menemui Sehun. Seharusnya ia tidak melakukan ini untuk menguntit acara kencan mereka tapi entahlah Chanyeol merasa ia harus terlibat kedalamnya. Chanyeol hampir tidak percaya saat Sehun mengatakan dia akan bertemu dengan Baekhyun saat di sekolah tadi. Ia menyangkal semua pemikiran yang benar saja, Chanyeol tidak pernah berfikir bahwa Sehun sering mengobrol dengan Baekhyun tanpa sepengetahuannya. Ia jadi penasaran apa saja yang mereka bicarakan. Dan itu membuat Chanyeol kesal karena rasa marah,iri, atau mungkin... 'cemburu'
...
"Kau akan pegal jika terus berdiri. Duduklah." Wanita yang memakai baju lengan panjang dan rok mini yang tidak di kenal Chanyeol menepuk kursi di sebelahnya dan menawarkan Chanyeol untuk duduk.
"Ahh.. tidak." Chanyeol terus melihat ke depan walau ia tahu wanita itu terus memandanginya dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa?"
Bus berhenti ketika itu. Beberapa penumpang keluar termasuk Baekhyun.
"Karena... aku sudah sampai." Pandangannya terus melihat pada punggung Baekhyun yang sudah berjalan di trotoar. Buru-buru Chanyeol turun tanpa memperdulikan wanita di belakangnya.
Baekhyun melirik jam di tangannya. Ia telat sepuluh menit untuk datang. Lalu Baekhyun menerawang ke setiap tempat di Sungai Han untuk mencari Sehun. Lalu ia memilih untuk berjalan lagi lebih memasuki area di mana tempat itu berada. Angin di sore hari yang sedikit menusuk mengantarkan Baekhyun ke sebuah tempat cafe. ia lebih memilih tempat aman baginya. Baekhyun duduk di meja kosong dekat pintu masuk. Ia melirik pada jam di tangannya lagi dan ia harus telat karena Baekhyun belum menemukan Sehun saat ini.
Baekhyun tidak percaya bahwa ia melakukan untuk pergi demi Sehun. ia tersenyum simpul sambil melihat-lihat tempat yang baru saja di kunjunginya. Lalu tatapannya tidak sengaja melihat orang yang baru saja membalikan badannya saat ketahuan basah mencuri pandang dengannya sedang berdiri di balik pohon dekat cafe. Baekhyun memandanginya curiga. Kini punggung pria yang bertuliskan YODA di hoodienya, sedikit menunduk dan tidak bergerak. Dan itu membuat Baekhyun tidak nyaman. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak menggunakan Bus. Pikirannya mulai berubah negatif, rasa takut mulai menghantui dirinya dan ia terlihat gugup.
Baekhyun berniat untuk menelepon Sehun tapi ia tidak yakin jika harus bertemu dengan keadaannya sekarang. Lalu ia menenangkan dirinya sejenak dan menghela nafas. Celana di bagian sakunya bergetar saat ada kiriman masuk ke ponselnya.
From : Sehun
Kau bilang kau datang. Aku menunggumu. Sekarang kau dimana? :)
Baekhyun mengatakan dia akan datang saat mengirim email pada Sehun di Bus tiga puluh menit yang lalu.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Baekhyun mengetik cepat pada layar touch.
To : Sehun
Jika kau melewati pagar saat pertama masuk, kau akan langsung melihat cafe. aku berada di sana
.
_Send_
Setelah itu seorang pelayan menghampiri mejanya. "Anda akan memesan?"
"Um.. itu... maaf toilet dimana?"
Chanyeol berdiri tidak jauh di tempat cafe itu berada. Memastikan Baekhyun dari pinggir pohon sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoddie untuk menghangatkannya di sana. Apa yang dilakukannya memang bodoh, sekali lagi ia hanya khawatir jika sesuatu terjadi pada Baekhyun. Ia terus menyelidik orang mungil itu di perbatasan kaca besar di hadapannya yang langsung terarah pada Baekhyun.
Chanyeol tersentak di tempatnya dan ia langsung membalikkan tubuhnya saat Baekhyun mengetahui ia memperhatikannya. Chanyeol harap Baekhyun tidak melihat pada wajahnya yang masih terkait dengan penutup di kepalanya.
Chanyeol mengantisipasi jika Baekhyun sekarang mungkin mengetahui tingkahnya. Setelah beberapa saat, Chanyeol kembali melirik kebelakang dengan perlahan kalau-kalau Baekhyun masih menatap ke arahnya. Kemana dia pergi? Orang itu tidak lagi berada di sana dan pandangan Chanyeol menelusuri setiap tempat yang mungkin akan mengarahkannya pada Baekhyun. Chanyeol segera beranjak ketika ia tidak menemukannya di manapun area cafe tersebut. Dan tiba-tiba suara dering di ponselnya membuat langkahnya terhenti. Nomor tidak di kenal.
"Nuguseyo?"
"Chanyeol-ah, aku Suho."
"Iya? Dari mana Suho hyung tahu nomorku?"
"Itu tidak penting, aku menemukannya di berkas Rumah Sakit saat kau menulis nomor ponselmu untuk mendaftar."
"Ahh... lalu mengapa kau menelponku?"
"Setelah pulang, aku tidak menemukan Baekhyun dirumah. Aku mencoba melihat ke apartemenmu tapi kau juga tidak ada di sana. Apakah kau bersamanya?"
"Itu.. aku t..tidak."
"Lalu kemana dia? Apa kau tahu? aku mencemaskannya karena dia tidak menerima panggilanku. Ponselnya mati."
Chanyeol tidak tahu harus mengatakannya. Karena ia kehilangan jejak Baekhyun. Wajahnya menjadi bingung. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa ia mengikuti Baekhyun pergi. Karena Chanyeol tidak mempunyai alasan logis jika Suho menanyai mengapa dirinya membuntuti Baekhyun? itu seperti tidak ada kerjaan. Tapi walaupun begitu Chanyeol memang mengatakan yang sejujurnya bahwa ia memang tidak bersama Baekhyun tapi setidaknya ia tahu Baekhyun masih berada di daerah Sungai Han saat itu.
Chanyeol kembali melangkah ke asal arah dan dirinya melihat sosok familiar Sehun yang tidak mengenakan seragam berjalan mengitari cafe. Chanyeol menyeringai tipis.
"Tenang saja. Aku akan mencoba menemukannya. Yeah..walau aku tidak yakin."
"Maaf merepotkanmu-"
.
.
...
Baekhyun melihat dirinya di cermin wastafel. Beberapa orang baru saja keluar dari toilet. Dan ia yakin sekarang, hanya ia yang berada di ruangan itu sendirian. Tidak ada suara apapun di sana karena tampak sepi. Dan gemercik tetesan air yang mengalir dalam keran adalah satu-satunya suara yang bisa di dengarnya.
Baekhyun memegang sisi wastafel dan menatap pantulan dirinya dengan mata tajam dan nafas yang sedikit terengah. Ia menyeka keringat yang mengalir di dahinya dan berusaha untuk setenang mungkin karena ia harus benar-benar rileks. Tangannya bergetar saat menyalakan air keran untuk membasuh wajahnya yang terasa memanas. Baekhyun memejamkan matanya untuk bisa mengendalikan semua pikiran aneh yang merasukinya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar tanda panggilan masuk untuknya. Karena terlalu gugup untuk mengangkat telepon dari Suho, ponselnya jatuh ke dalam wastafel yang di genangi air mengalir dari keran. Ia tampak ceroboh saat itu menandakan bahwa ia belum terjaga. Baekhyun memungut ponselnya dan mendesah kesal saat ponselnya sudah tidak lagi menyala. Dengan segera ia mematikan air dan mengelap wajahnya dengan tisue.
Setidaknya ia bersyukur karena bisa menjaga kontrolnya. Dia juga tidak klimaks saat itu. Baekhyun mulai berjalan keluar cafe karena ia sudah bisa mengendalikan rasa cemasnya. Ia kembali memeriksa ponselnya yang basah dan merutuki kesalahannya. langkahnya terhenti karena ada seseorang yang lebih tinggi menghalangi jalannya tepat di hadapannya. Baekhyun menatap orang itu yang kini sedang menatap kearahnya memegang ponselnya yang di letakkan di telinga kanannya.
"Mengapa kau tak mengangkat teleponku Baekhyun?"
Mulut Baekhyun sedikit menganga.
.
.
.
...
"Kau tak senang di pertemuan kita ini?" Canda Sehun pada Baekhyun saat mereka berjalan beriringan di trotoar. Pikir Sehun mungkin Baekyun sedang merasa kesal karena sebelumnya Baekhyun sudah mengatakan ada masalah dengan ponselnya.
"A..ahh bukan."Jawabnya gugup sambil menatap Sehun sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada tanah yang di pijaknya.
Sehun berhenti dari derap langkahnya lalu menatap orang yang lebih mungil. Baekhyun mendongak ke arahnya.
"Lalu, biarkan aku melihat senyummu." Sehun mengarahkan kedua lengannya pada orang di hadapannya.
"seperti ini." orang yang lebih tinggi memegang dua sudut di bibir Baekhyun bermaksud untuk melengkungnya ke atas dan mereka saling bertatapan.
"Sehun-ssi..."
"Kita bisa saling berkomunikasi walau tidak lewat ponsel. Jadi kau jangan bersedih karena kau tidak bisa mengobrol denganku."
Baekhyun tersenyum kaku. Memang benar ini menyangkut masalah pada ponselnya. Tapi bukan itu, ia tidak menjawab panggilan kakaknya tadi saat menelpon. Pikirnya mungkin Suho mencemaskannya karena sebelumnya ia tidak memberitahukan Suho kemana ia akan pergi. Yang membuatnya terlihat enggan dalam pertemuannya dengan Sehun adalah Ia mencemaskan dirinya kalau-kalau ia kambuh di hadapan Sehun. Karena ia sangat memahami di mana ia berada sedangkan hari sudah mulai gelap dan beberapa tiang lampu di pinggir jalan menerangi tempat.
Baekhyun meraih dan menggenggam tangan Sehun di sudut bibirnya.
"Iya, kita bisa saling berkomunikasi tapi aku akan usahakan untuk membeli ponsel baru." Ucapnya agar Sehun terlihat senang karena perkataan Sehun yang sebelumnya menyangka bahwa Baekhyun bersedih menyangkut dirinya yang pede itu.
"Umm..." Sehun mengangguk dan tersenyum tampan.
"Kau... sebenarnya mengapa tiba-tiba ingin mengajakku? "
"Kau sudah tahu alasannya. Aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu."
Baekhyun mendorong pelan kedua tangan Sehun yang masih di genggamannya.
"Bukan itu. jelas – jelas kita tidak pernah mengenal. Bagaimana bisa, pria... tampan sepertimu menggunakan cara kencan seperti ini. Tadinya aku kira kita LDR. Aku masih belum mem-
"Baek, jadi kau ingin kita LDR? Kita sudah melakukannya. Tapi kau belum juga mengatakan bahwa kau menyukaiku lewat email."
Baekhyun menelan saliva nya dan mengalihkan pandangannya pada tempat terbuka yang kadang orang-orang lewat di sekitar.
"Jadi, aku ingin menujukkan diriku yang asli. Aku ingin kau percaya bahwa rasa suka ku padamu memang nyata."
"Tapi mengapa kau lakukan ini?"
"Menjadi seorang gay itu tidak mudah. Aku sulit menemukan satu yang cocok untuk ku. Di sekolah, aku jarang menemukan orang berkepribadian homoseksual kecuali dengan dua temanku dan mungkin beberapa yang tidak ku kenal. Sehingga aku mencari di dunia maya dan aku merasa kau adalah satu yang ku pertimbangkan. yahh... walaupun kau tidak pernah mengungkit tentang masalah pribadimu padaku."
"Sehun..."
Orang yang lebih tinggi melanjutkan langkahnya sementara Baekhyun mengikuti dan mencoba mensejajarkan dirinya dengan Sehun.
"Aku harap kau menikmati filmnya denganku." Sehun meraih dua tiket di saku depan mantelnya dan menunjukkannya pada Baekhyun tanpa mereka tahu sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya berada tidak terlalu dekat dengan mereka, membuat Chanyeol tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi ia terus mengikuti di belakang dengan hati-hati.
Chanyeol menunggu dalam diam di luar area di mana Baekhyun dan Sehun memasuki wilayah gedung. Ia tidak bisa masuk karena tidak mempunyai tiket jadi ia berakhir dengan omelan ahjusi yang mengusirnya keluar. Beberapa saat setelah ia menunggu sampai kaki nya pegal, Chanyeol merenung. Kepalanya di sandarkan pada dinding sisi gedung dan kedua lengannya di lipat pada dada. Mungkin Baekhyun akan baik-baik saja dengan Sehun pikirnya. Lagi pula mereka belum terlihat batang hidungnya sampai saat ini dan pasti mereka akan menggunakan banyak waktu untuk berkencan jadi untuk apa ia terus menunggu seperti orang bodoh yang tidak ada keperluan menyangkut mereka? Dan sialnya, itu akan membuat hatinya sakit melihat orang yang di sukainya berkencan dengan temanya sendiri. Chanyeol membayangkan kembali saat Baekhyun dan Sehun saling bertatapan menggenggam tangan mereka dan saling melempar senyuman menjijikkan di hadapannya tadi. jika saja orang itu bukan Sehun, Chanyeol akan menendang bokongnya sampai terbang ke Antartika dan jika bisa, sekalian masuk ke dalam lubang jamban Sooman. Tunggu, apa Chanyeol baru saja bilang itu Jamban Sooman? Oh baiklah lupakan.
Tiba-tiba suara dari dalam perutnya menyadarkan lamunannya yang kini pandangannya masih tertuju pada kendaraan lalu lalang yang melewati setiap penglihatannya sekitar jalan raya. Bunyi kriuk kriuk terus di rasakannya membuat Chanyeol ingat bahwa dirinya terakhir kali makan saat jam siang istirahat sekolah. Ia perlu mendapatkan sesuatu seperti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Chanyeol memilih akan pulang saja dan beranjak meninggalkan tempat karena harus mempertahankan hidupnya dari pada menunggu sesuatu yang membuang-buang waktu.
Sebelum pulang, Chanyeol menghampiri pedagang teobeoki di seberang jalan yang setidaknya dapat membantu rasa perih di lambungnya dekat tempatnya berdiri tadi.
.
.
.
.
.
"Sehun-ssi, apa kau tidak salah memilih film?" Tanya Baekhyun pelan sedikit berbisik saat duduk bersampingan dengan Sehun di kursi barisan tengah.
"Sudahlah nikmati saja. Lagi pula aku menyukainya." ucapnya tak kalah berbisik dengan senyum menyeringai. Sementara Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah dan melanjutkan kembali menonton film dewasa dengan orang-orang yang mungkin sudah menegang di bagian bawahnya. Terdengar desahan-desahan absurd pada sound speaker membuat Baekhyun merinding. Apa Sehun sengaja memilih film dengan rated M untuknya? Pikir Baekhyun ia harus berhati-hati menjaga jarak dengan Sehun karena bisa jadi si albino ini berotak mesum. Tiba-tiba pikiran Baekhyun buyar ketika Sehun bersuara berbisik kepadanya.
"Kau jangan salah paham. Aku tidak ada rencana untuk menonton film semacam ini."
"Lalu mengapa-"
"Salahkan saja petugas yang meyarankannya."
"Dan kau menyetujuinya?"
"Aku.. itu tidak seperti-
"SHUUTTT!" Tiba-tiba seseorang yang juga menonton menyahut bermaksud untuk menghentikan bisikan-bisikan yang mengganggu sukses membuat Sehun terhenti.
...
Dan perasaan aneh Baekhyun kembali datang tak lama setelah ia menikmati film. Sial umpat Baekhyun di saat bagian bawahnya sudah menegang untuk mencapai titik. Membuat ia kesal karena titik sensualnya menurun padahal hanya beberapa detik lagi ia akan mencapainya. Mustahil jika Baekhyun tidak terpengaruh atau tidak terjerat. Bahkan bokongnya bergerak gelisah. Satu yang membuat Baekhyun terhenti tertahan. Sialan di saat ia bahkan sama sekali tidak mengundangnya untuk datang, serangan itu hadir di saat yang tidak tepat seperti teror. Baekhyun melirik pada Sehun seperti ingin mengatakan sesuatu dan Sehun mengetahuinya tapi ia tidak menanggapi tatapan Baekhyun karena ia terus melihat ke depan.
Persetan dengan semuanya. Baekhyun tidak peduli lagi dengan adiknya di bawah sana. Yang Baekhyun inginkan adalah pergi dari tempat ini segera sebelum semua orang menjadi panik karenanya.
Detak jantung berdetak tidak normal, keringat dingin menetes di pelipis keningnya. Takut yang tidak rasional. Dan rasa seperti terlepas dari lingkungan. Bisa saja Baekhyun pingsan sekarang tapi sebuah tangan menepuk bahunya.
"Gwaenchana?" Tanya Sehun sedangkan Baekhyun terlihat gugup.
"Ak..aku.. harus pergi." Baekhyun bergerak cepat. Ia berdiri dari tempatnya tapi Sehun menahan lengannya –Dingin
"Tapi..." Sehun tidak bisa menangkap dengan jelas raut wajah Baekhyun karena pencahayaan yang minim dari dalam ruangan.
"Maafkan aku. Tolong biarkan aku pergi." Baekhyun melepaskan tangan Sehun tanpa mau menatapnya dan berjalan dengan rusuh melewati setiap orang yang mungkin beberapa dari mereka melirik ke arahnya yang memperhatikan tingkahnya.
.
.
.
.
.
Chanyeol selesai membeli tteobeoki. ia masih berdiri di persimpangan jalan dekat pedagang teobeoki itu berada. Baru saja ia akan menyuapkan tteobeoki pertamanya... –BLAAAKK tteobeoki dengan bumbu saus itu tumpah pada hoodienya membuat pakaiannya kotor karena seorang ahjusi menabraknya. Sial. Chanyeol sempat mengumpat pada ahjusi yang sedang terburu-buru itu lalu ia membuka hoodinya yang kotor dan memasukkanya pada kantung kresek yang ia minta dari pedagang tteobeoki tersebut. Sedangkan ia masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Pencuri! Dia mencuri tas ku!" teriak wanita parubaya menunjuk sosok pencuri yang menabrak Channyeol tadi sambil mengejarnya. "Tolong! Kembalikan tas ku."
Chanyeol tidak tinggal diam. Kakinya yang panjang langsung meleset untuk menghentikan si pencuri. Dan kini Ahjusi itu berhasil terhenti dari langkahnya saat Chanyeol menggapai. Lebih tepatnya membalikkan badan ahjusi lalu satu pukulan keras di layangkan Chanyeol mendarat tepat di wajah pencuri sampai ahjusi itu tidak dapat menyeimbangkan pertahanannya. Sontak saja semua orang yang berada di sana memperhatikan pemuda jangkung nan tampan yang baru saja membuat keributan kecil yang menjadi pusat perhatian termasuk Baekhyun yang baru saja keluar dari gedung bioskop.
"Kembalikan tas Ibu itu." dengan napas yang terengah tapi husky, Chanyeol memainkan bogemnya dan menjetakan jari-jarinya. Efek pukulan keras karena kesal mengingat bagimana ia laparnya saat itu mengharapkan mulutnya penuh dengan kenikmatan tteobeoki yang tidak sempat ia makan.
"Hah! Berani sekali kau bocah! HAAAAA.." tantang Ahjusi jelek itu balik ingin memukul Chanyeol tapi Chnayeol berhasil menahan lengan pencuri dengan satu gerakan. Sedangkan satu tangan kirinya, Chanyeol biarkan mengapung untuk meninju perut buncitnya. Dan gerakan memutar untuk memelitir tangan pencuri yang memegang tas Ibu tadi. BRUKK tas berwarna merah itu terjatuh. Lalu Chanyeol mendorong kuat ahjusi itu hingga tersungkur ke tanah.
"Sebaiknya kau pergi dan jangan lakukan lagi perbuatan bodohmu." Chanyeol meraih tas dan beralik memberikannya pada wanita parubaya yang sempat berterimakasih berkat jasanya. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan melihat pertunjukan yang seperti ada di drama.
"AWAS!" Pekik Ibu itu pada Chanyeol. SREETTT walaupun Chanyeol berhasil menghindar, goresan pisau sedikit melukai tangannya. Cairan merah keluar dari pori-pori kulitnya. Rupanya si pencuri itu belum sepenuhnya terkapar. Ayo buat ini menjadi lebih panas.
"Dasar brengsek!" Chanyeol menggeram. ia terlalu lelah untuk membuatnya menjadi keributan yang lebih besar karena energinya kurang tercukupi. Kini Pandangannya teralih pada orang-orang yang masih berdiri melihatnya dengan menjerit histeris.
BUGGG – Chanyeol kembali melayangkan bogem mentahnya untuk menunjukkan betapa kuatnya dia. Tapi terkadang ia meleset dari tinjunya saat pencuri berhasil menghindar. Hampir saja ia terjatuh ketika pencuri menendangnya kuat tapi ia kembali bangkit dan menunjukkan betapa hebatnya pria tinggi ini. Jangan lupakan bahwa Chanyeol ahli dalam bergulat. Ibunya yang seorang guru taekwondo sudah sangat sering mengajarinya di masa kecil.
Beberapa menit kemudian petugas polisi datang di saat pencuri sudah di habisi Chanyeol. Dan di saat itu pula Chanyeol sekilas melihat Baekhyun yang pergi begitu saja sendirian.
.
.
BAEKHYUN POV
.
"Aku sudah tidak tahan." Nafasku sesak. Aku mencengkeram bagian dadaku sambil terus berjalan dengan gontai mencari tempat yang nyaman terlebih dulu. Aku perlu menenangkannya sejenak. Dan sekarang aku berhasil keluar dari gedung itu membuatku setidaknya lega tapi, kedua mataku menangkap sekumpulan orang-orang di hadapanku yang membuatku tambah cemas. Aku benar-benar sangat muak. Aku tidak ingin tahu apa yang terjadi di tengah-tengah keramaian itu karena aku tidak peduli. Tapi satu yang ku tahu, aku mendengarnya. Aku mendengar kejadian itu seperti di film action saat aku dan Chanyeol menonton bersama di rumahku tempo hari lalu. Wait- Apa aku baru saja memikirkan Chanyeol? iya karena aku samar-samar seperti mendengar suaranya tapi itu tidak mungkin. Pasti aku hanya berhalusinasi.
Aku tidak dapat melangkah lebih jauh karena aku merasakan akan klimaks pada perasaan takut yang menyiksa ini. Tapi aku sangat tidak mengharapkan itu terjadi. Lalu aku teringat pada orang yang mencurigakan saat aku berada di cafe. Orang itu.. orang yang memakai hoodie bertuliskan YODA. Aku merekam memoriku dengan jelas sejak di cafe. Gerak-geriknya terlihat seperti dia sedang menguntitku. Bodoh! mengapa aku memikirkan hal-hal negatif seperti ini.
Aku menoleh ke belakang memastikan apa orang itu ada atau tidaknya dari pandanganku yang ku sangka penguntit itu. lalu aku malah menangkap sosok Sehun yang terhalang oleh orang-orang yang akan bubar tak jauh dari langkahku. Ia sedang mengacak rambutnya frustasi dan terlihat sedang mencari seseorang. Mungkin Sehun mencariku. Aku menatapnya lemah berharap dia tidak melihatku dan aku paksakan terus untuk menghindarinya kemanapun aku melangkah asal tidak ketahuan olehnya dan tepat sampai aku benar-benar klimaks saat ini.. GREEEPPP –
Hangat..
Seseorang di hadapanku memelukku dengan erat. Aku menenggelamkan kepalaku di dadanya dengan mata terpejam. Merasakan sensasi yang nyaman pada orang yang lebih tinggi dariku. Pelukannya mampu mengusir rasa takut dan cemas yang sedang menggandrungiku. Ia seperti obat penenang untukku. Perlahan ku dongakkan mataku ke arahnya yang juga sedang menatapku dengan pandangan khawatir.
"Chan..Yeol..." Lirihku pelan dan parau. Aku kembali memeluknya saat aku tahu siapa orang itu. Kedua tanganku membalas dengan semangat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol. Suaranya yang menyapa dan bicara kepadaku sekali lagi membuatku senang karena aku bisa tenang jika seseorang yang ku kenal berada di sampingku di saat aku kambuh.
"Yeol.. Ak.. hiks.. hiks...aku takut." Suaraku bergetar dalam dekapannya.
Dan setelah itu aku merasakan kehangatan lain kala Tangan Chanyeol mengusap-usap punggungku lembut.
.
BAEKHYUN POV END CHANYEOL POV
.
.
Semua masalah sudah selesai karena petugas polisi menghampiri kami tepatnya untuk menangkap pencuri yang sudah ku habisi dengan tanganku sendiri. Orang-orang yang berada di sana meninggalkan tempat kami.
Aku semakin mempercepat langkahku untuk mendekati Baekhyun. Ia tampak pucat dan seperti kebingungan. Aku sudah sangat dekat dengannya dan -
GREPPP
Muncul keberanian untuk memeluknya karena merasa harus melindunginya. Perlahan Baekhyun menatapku dengan sendu dan Ia terlihat ketakutan.
"Chan..Yeol..." ia kembali memelukku dengan erat seperti tidak ingin kehilangan.
"Kau baik-baik saja?" Tanyaku lembut tapi khawatir.
"Yeol.. Ak.. hiks.. hiks...aku takut." Ia terisak dan suaranya sedikit terpendam di baju seragamku. Kini bahunya bergetar dalam dekapanku. Aku melihat orang-orang sudah mulai pergi dan jalan sudah tidak ramai seperti tadi. Apakah aku yang menyebabkan ia ketakutan seperti ini karena aku yang menciptakan keramaian tadi? Oh Baekhyun maafkan aku. Tapi tunggu, mengapa ia sendirian. Dimana Sehun?
Tepat saat aku mengalihkan pandanganku ke arah lain yang berada tak jauh dari hadappanku, Aku melihat Sehun menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Tangan kiriku memegang kepala Baekhyun dan tangan kanan ku biarkan mengusap-usap punggungnya bermaksud untuk menenangkannya. aku dan Sehun masih setia saling melempar tatapan yang mungkin Sehun juga tidak mengerti.
Perlahan ku tangkup wajah Baekhyun untuk menatap ke arahku. Jarak kami begitu sangat dekat.
"Apakah kau sampai setakut itu?" tanyaku pelan yang jelas tidak bisa di dengar Sehun yang terus berdiri di sana melihat ke arahku dan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk dengan bola matanya yang mengeluarkan liquid.
Lalu aku melihat Sehun sekilas sebelum aku benar-benar mendekatkan wajahku untuk mencium Baekhyun.
1 detik
2 detik
3 detik
Aku mengecup bibirnya lembut. Baekhyun terpejam dan ia membuka mulutnya untukku. Dan di saat itu aku melumatnya kecil sambil memberinya nafas buatan di rongga mulutku untuk mengirimkan udara padanya. Mataku terpejam dan menikmatinya. Sebenarnya itu juga bermaksud untuk membuat Baekhyun tenang karena aku merasa bersalah padanya atas keramaian yang ku buat. Itu menjadi ciumanku yang paling berkesan dengnan seorang pria yang aku cintai walau aku tahu Baekhyun menyukai Sehun.
.
.
.
.
.
To Be Continued...
[Yeolvin]
Eotteokhae? makin absurd aja nih FF -_-
Review? O.o
