...
Chapter 5
Place To Hide
Author : Yeolvin
Main Cast : Byun Baekhyun
● Park Chanyeol
- Oh Sehun
- Kim Jong In
● Other cast temukan sendiri
Pairing : ChanBaek - HunBaek
Genre : Romance, Drama, Humor
Warning : Yaoi, Boys Love, Shounen ai, Boy x Boy
Rating : T
Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.
Sorry for Typo
Don't like don't read!
Hope you enjoy for reading...
..
Mengapa Chanyeol tiba-tiba ada di hadapannya, memeluknya, memberi sebuah ketenangan, dan bahkan menciumnya di saat Baekhyun membutuhkan seseorang untuk melampiaskan rasa takut terhadap phobia nya itu. Dalam ciuman lembutnya bersama Chanyeol, Baekhyun benar-benar bisa hilang kendali. Sebenarnya jika hanya memeluk itu tergolong wajar. Tapi apa arti dari Chanyeol menciumnya seperti ini? Apakah setiap orang yang merasa takut di hadapannya, Chanyeol akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap Baekhyun? entahlah atau mungkin sesuatu yang lain pikir Baekhyun.
Baekhyun tidak bermaksud melakukan apapun. Dorongan untuk membalas ciuman Chanyeol sebelumnya tak ada dalam pikirannya sungguh! Apakah ia terlalu hanyut dalam kehangatan? Apakah dengan melakukan hal semacam itu mampu mengusir rasa takutnya? Atau mungkin dorongan itu tersalur lewat nafsu birahinya karena titik sensualnya tadi yang tiba-tiba menurun dan sempat tertunda karena hal yang menganggunya datang saat menonton blue film bersama Sehun sehingga ia ingin menuntaskannya di sini dengan Park Chanyeol teman yang sudah resmi ikut bagian memasuki di kehidupan Baekhyun.
Bahkan dengan Chanyeol yang sekarang masih menempelkan bibirnya membuat Baekhyun melupakan seseorang yang menjadi tujuan utamanya untuk datang kemari. Tapi di menit sebelumnya bukankah ia melihat Sehun mencarinya tadi?
Baekhyun langsung melepaskan ciuman itu saat dirinya mengingat Sehun. Keduanya dalam keadaan awkward. Untuk mengurangi rasa canggungnya Baekhyun segera memalingkan wajahnya dan berbalik untuk menemukan seseorang. Baekhyun menyipitkan matanya saat menilik punggung pemuda yang di rasa kenal semakin jauh dari pandangannya. Sehun menghentikan taxi di perbatasan jalan lalu memasuki kursi penumpang dan pergi.
"Bodoh.. apakah dia melihatnya?" Baekhyun tertunduk lesu bergumam kecil pada dirinya sendiri tapi Chanyeol mendengarnya. –'Tentu saja'.
"Ekhm.. mengapa kau ada disini?" Tanya Chanyeol pura-pura tidak tahu.
Baekhyun kembali memutar badannya untuk menghadap sumber suara "B..bukan urusanmu." Baekhyun masih merasa cangggung dan tidak menatap Chanyeol. Mana mungkin jika ia mengatakan pada Chanyeol bahwa ia habis menonton blue film bersama Sehun. Bahkan ia masih ragu untuk menyebutkan Sehun pacarnya. Dan di rasa Baekhyun tidak perlu bertanya lagi mengapa Chanyeol ada di sini karena sepertinya Chanyeol baru pulang sekolah.
"Kita pulang bersama?" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eoh?"
Chanyeol berbalik ke belakang untuk melangkah menghindari tatapan dengan Baekhyun karena ia merasa malu dan canggung dengan apa yang ia lakukan sebelumnya.
"T..tunggu!" Perkataan Baekhyun membuat langkah kecil Chanyeol terhenti. "M..mengapa.. kau menciumku?" Tanya Baekhyun pelan. Chanyeol tidak bergeming malah ia terus melangkah dengan di susul Baekhyun dari belakang. "Ya! Chakkaman."
...
"Ya, Jawab pertanyaanku Chanyeol." Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya lagi saat menunggu di Halte Bus.
Chanyeol menatap ke arah Baekhyun. "Kau ingin tahu?" Chanyeol memberi jeda sejenak sebelum kembali berbicara "Aku melakukannya karena aku 'merasa harus' melakukannya. Itu saja"
"Apa kau bilang?"
"Aku hanya ingin melakukannya."
"Hanya ingin? Apa kau mempermainkan aku? Karena perlakuanmu itu hati seseorang bisa saja terluka. Berikan aku jawaban yang masuk akal Chanyeol."
"Lalu kau ingin aku memberi jawaban seperti apa? Kau ingin aku mengatakan bahwa aku menciummu karena aku menyukaimu?" Tanpa sadar Chanyeol mengatakan salah satu jawaban mengapa Chanyeol mencium Baekhyun. Sedangkan orang yang lebih mungil mengedipkan matanya dua kali.
"M..maksudku lihat sekarang, setelah aku menciummu kau jadi lebih baik kan? Kau sudah tidak pucat lagi. D..d..dan mengapa tadi kau juga membalas ciuman dariku? Ayo jawab aku?"
"Huh? I..itu... karena... karena... " Baekhyun tampak berfikir "Aku juga tidak tahu. Aihhh sudahlah lupakan, ciuman seperti itu mana berarti dalam pertemanan kita. Kau juga mana mungkin menganggap hal itu serius karena kau kan menyukai yeoja."
"Apakah kau beranggapan seperti itu, baiklah itu tidak buruk." Greekkkk- Chanyeol berdiri dan menyimpan tas gendongnya "Kau tunggu sebentar saja dulu. Aku akan segera kembali."
"Hei, Kau mau kemana?" Tanya Baekhyun
"Aku akan ke supermarket."
"Tapi-
"Hanya sebentar. lagi pula kau sudah tidak takut lagi kan?"
"Ehh?" Sepertinya Baekhyun sudah lupa dengan phobianya. Chanyeol mulai pergi meninggalkan Baekhyun sendirian di sana. Tepat saat Chanyeol sudah menghilang, Bus di perempatan jalan halte menghampiri dan datang. Baekhyun ragu-ragu untuk naik tapi ia memilih untuk menunggu temannya dan mendengus sendirian di halte. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia melihat-lihat untuk tidak menemukan orang yang mencurigakan seperti penguntit yang memakai hoodie bertuliskan YODA. Penguntit lagi? Mengapa pikirannya terus melayang menuju penguntit? Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mungkin sebenarnya tidak ada penguntit, ia hanya asal menerapkan pemikiran bodoh seperti itu. Sekali lagi ia mengecek keadaan sekitar dan sama sekali tidak ada orang semacam itu. Ia berlega hati karena mungkin pemikiran itu tercipta lewat halusinasi nya saja dan mulai saat ini ia akan melupakan hal-hal yang tidak jelas di kepalanya. Setelah beberapa menit, Chanyeol kembali datang dengan membawa kantung di tangannya lalu duduk di samping Baekhyun.
"Bus nya sudah lewat jadi terpaksa kita harus menunggu lagi." Ujar Baekhyun mendesah.
"Maafkan aku." Chanyeol mengeluarkan obat luka dan plester dari kantung belanja satunya untuk mengobati daerah yang terkena goresan luka di punggung tangan kanannya akibat aksinya tadi bersama pencuri.
"A..apa yang terjadi?" Baekhyun terlonjak kaget saat mengetahui temannya terluka. Chanyeol terus meniup-niup rasa perih di kulitnya.
"Bantu saja aku mengobati ini." Dengan ragu Baekhyun meraih tangan besar Chanyeol. Perbedaan kedua tangan sangat mencolok. Jari-jari Baekhyun yang lentik dan munggil membawa tangan raksasa ke dalam genggamannya. Lalu ia menuangkan cairan antiseptik sedikit demi sedikit "A..aaa... perih." Chanyeol mengernyit.
"Katakan apa yang terjadi? Huh? Sejak kapan kau terluka?" Ujar Baekhyun sambil menempelkan plester untuk perban.
"Sejak hari ini. Kau tidak tahu?"
"Benarkah? bagaimana aku tahu jika kau tidak menceritakan. Ahh dengan kau yang memakai baju seragam seperti ini, mungkinkah kau berniat membolos saat jam sekolah mu belum berakhir. Dan kau di kejar guru killer sehingga kau memanjat gerbang sekolah dengan luka di tanganmu?"
Chanyeol tertawa dengan tangan kiri menepuk pahanya. "Itu sangat konyol. Aku bahkan tidak pernah melakukannya. Tapi apakah kau benar-benar tidak melihatku berada di sekitar um...-" Chanyeol berharap Baekhyun tidak mencurigainya karena ketahuan menguntit tadi sore.
"Tidak." sepertinya penyamaran Chanyeol saat memakai hoodie tidak di kenali Baekhyun. Chanyeol merasa lega. "Ahh.. mungkinkah itu kau?" Baekhyun menunjuk Chanyeol dengan jari telunjuknya dan menatap dengan pandangan menyelidik membuat Chanyeol gugup jika Baekhyun mengetahui ia mengikuti Baekhyun sejak pulang sekolah.
"A..apa?" Chanyeol memundurkan kepalanya ke belakang.
"Aku mendengar suaramu saat itu. Yah, mungkin saja itu benar-benar dirimu. Dengan jelas aku seperti mengenal suaramu." Baekhyun meyakinkan perkataannya "Kau terlibat perkelahian di jalan itu? Benarkah?"
Chanyeol menghela nafas karena sepertinya Baekhyun tidak mencurigainya. Ia kembali menegakkan kepalanya dan bersikap santai "Kurang tepat jika kau menyebut perkelahian. Aku bertarung dengan seorang ahjussi yang mencuri tas. Aku tidak bisa berdiam diri saat seseorang membutuhkan pertolongan. Karena itu aku mendapatkan luka ini. Kau tahu, setelah aku melakukan tindakan yang membuat diriku bangga dan berguna untuk orang lain, aku merasa bahwa diriku tampak special. Mungkin karena hal itu juga kau jadi takut karenanya. Aku minta maaf."
Baekhyun sudah selesai mengobati luka Chanyeol dan melepaskan tangan raksasa dari genggamannya "Ohh, bagaimana ini? Kau mengatakan itu seolah aku sangat lemah di hadapanmu. Apakah aku memang tampak selemah itu? Sejujurnya aku benci diriku seperti ini." Baekhyun memperbaiki posisi bokongnya dan menghadap orang yang lebih tinggi "Chanyeol... jika menurutmu itu adalah hal yang benar kau lakukan, untuk apa kau meminta maaf. Tindakan yang kau lakukan itu patut di puji dan di acungi jempol. Karena ada kau, aku sangat bersyukur. Terimakasih karena kau datang saat aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku."
'Membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Bukankah tadi ia pergi di temani Sehun? Apakah dalam keadaaan Baekhyun seperti itu Sehun tidak di butuhkannya? Lalu Baekhyun menganggap Sehun seperti apa? Dan saat keluar gedung mereka tidak bersama-sama. Apa yang terjadi diatara mereka?' Chanyeol membayangkan jika hubungan Sehun dan Baekhyun tidak terlalu dekat seperti yang ia pikirkan.
"Hei, Mengapa kau diam saja. Kau tidak akan masuk?" ujar Baekhyun menyadarkan Chanyeol dari lamunannya karena Bus yang di tunggu-tunggu telah datang.
Di perjalanan Bus, Chanyeol memakan roti yang sempat di belinya tadi untuk menganjal rasa laparnya dan ia menawari satu bungkus rotinya untuk Baekhyun tapi Baekhyun tidak menerimanya malah ia tampak mengerucutkan bibirnya dan menyenderkan kepalanya untuk tidak menatap Chanyeol. memikirkan kembali pertemuan pertamanya dengan Sehun yang berakhir dengan ia meninggalkannya. Baekhyun merasa sangat bersalah. Dan Baekhyun berharap Sehun tidak melihatnya berciuman dengan pria lain. Itu akan membuat hati Sehun terluka. Baekhyun benar-benar menyesal jika Sehun melihat semuanya. Ia bisa saja menyalahkan Chanyeol dan tidak akan menjadi temannya lagi. ia harus menjelaskan dan berbicara dengan Sehun nanti untuk tidak membuatnya kecewa. Baekhyun memang tidak mengenal Sehun aslinya dalam wujud nyata tapi ia cukup tahu sifat Sehun dari bagaimana Sehun berbicara di sosial media dan bagaimana ia memberitahukan sesuatu untuk mengobrol pada Baekhyun yang bahkan hal itu tidak perlu. Berarti Sehun benar-benar mempercayai Baekhyun untuk boleh mendengarkan keluh kesahnya. Karena itu setiap mengobrol atau mengirim pesan dengannya Baekhyun tidak merasa gugup atau canggung karena ia mengenal Sehun di sosial media sejak ia memutuskan sekolah, itu cukup lama. Baekhyun memang tidak terlalu terbuka untuk menceritakan tentang dirinya pada Sehun. ia merasa kejam dan Baekhyun memang tidak pernah sekalipun membalas jika ia menyukai Sehun. ia hanya ragu untuk mengatakannya dan juga bingung menerapkan perasaaannya pada Sehun. Secara fisik Baekhyun akui Sehun sempurna tapi Baekhyun belum mengetahui sepenuhnya tentang kepribadian Sehun. Bisa saja Sehun tergolong orang yang pervert atau ada sesuatu hal seperti sifat Sehun yang tidak Baekhyun ketahui yang menjurus ke negatif. Tapi Baekhyun tidak menyimpulkan bahwa Sehun seperti itu. Ia perlu untuk tahu dan lebih berhati-hati saja karena ia tidak bisa membuat kesimpulan Sehun yang di kenalnya baik dan polos bukanlah sifat Sehun yang sesungguhnya. Baekhyun mengingat kala Sehun tersenyum menyeringai padanya saat menonton film yang membuat matanya ternoda itu. Tapi bukankah Sehun bilang ia tidak ada rencana untuk menonton film seperti itu? jadi apakah ia harus menyalahkan Sehun?
Tapi hari ini bersama Sehun dengan rupa nyata, Entah mengapa Baekhyun merasa Sehun terasa asing baginya walaupun wajahnya sama dalam foto. Dan juga bagaimana ia mendengar suara husky Sehun pertama kali saat berbicara tidak lewat telepon. Yang membuat Baekhyun kagum ternyata Sehun benar-benar tampan dan Sehun tidak berbohong saat ia mengatakan pada Baekhyun bahwa itu memang foto aslinya. Satu hal lagi yang Baekhyun kagumi, Sehun lebih tinggi darinya. Itu membuat Baekhyun menyadari bahwa dirinya seperti uke. Apakah ada seseorang yang lebih pendek darinya sehingga ia bisa menjadi seme? Ohh jika ia di takdirkan untuk menjadi kekasih Kyungsoo ia berjanji untuk menjadi seme sejati. Ia bertekad dalam dirinya. Tapi nyatanya Baekhyun lebih pantas menjadi uke walau kadang ia menyangkalnya.
Saat Baekhyun dan Chanyeol telah turun dari Bus, Baekhyun berpapasan dengan teman sekolah lamanya Deahyun yang sedang berjalan di tepian.
"Eo? Kau Baekhyun..!" Daehyun menyapa dengan sumringah.
"D..Daehyun?" Baekhyun tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan seseorang yang ia kenal sebagai teman di sekolahnya saat itu.
"Lama tidak bertemu, Kau kemana saja? Mengapa tidak mengabariku jika kau pindah sekolah?" Nada nya masih sama sumringah saat menyapa.
Baekhyun bingung harus menjawab apa, rupanya Daehyun berfikiran bahwa dirinya pindah sekolah . itu tidak buruk batinnya.
"Sepertinya itu bukan urusanmu. Ayo Chanyeol-ah!" jawabnya ketus lalu memegang pergelangan tangan Chanyeol dan menyeretnya hingga berbalik memunggungi pria yang ada di belakangnya dan itu membua raut wajah Daehyun berubah.
"Hei tunggu! Mengapa kau bersikap dingin padaku? Aku hanya ingin tahu tentangmu karena jujur saja aku sangat merindukanmu. Kau tahu, aku sulit menghubungimu dan menunggu pesan darimu tapi mengapa kau menon-aktifkan nomor ponselmu seolah kau ingin mencoba menghindariku?"
Langkah Baekhyun terhenti seketika dan kembali menatap Daehyun. Chanyeol pun ikut mendelik dan merenungkan alisnya atas perkataan seseorang yang tidak di kenalinya itu. Ia mulai penasaran.
"Lalu, apa yang ingin kau ketahui tentangku, Bukankah kau sudah mengenalku? Apa mungkin itu masih belum cukup?"
"Hei ada apa denganmu? Apa aku salah ingin menanyakan sesuatu pada temanku yang sudah lama tidak bertemu, atau hanya sekedar menanyakan sebuah pertanyaan untukku kau tidak ingin mengetahuinya? Dulu kita selalu makan bersama di bawah pohon karena kau tidak ingin makan di kantin. Kita juga mengobrol di atap sekolah saat orang-orang tidak mengetahuinya. Dan... siapa pria di sampingmu ini. Kau tidak pernah cerita apapun. Apa kau sudah melupakan aku? Secepat itukah kau berubah Byun Baekhyun?"
Baekhyun melonggarkan genggamannya pada Chanyeol "Kau benar. Tapi apa kau tahu bahwa kau telah menyakiti perasaanku?"
"Menyakiti perasaanmu?"
"Aku tidak perlu menjelaskannya karena kurasa kau tahu. sekarang biarkan aku pergi."
"Maksudmu apa? Aku benar-benar tidak mengerti?"
"Kejadian yang ku alami hari itu tidak mungkin hal yang bukan sengaja. Seseorang telah merencanakannya."
"Apa kau mengalami hal buruk? Aku benar-benar tidak tahu maksud yang kau bicarakan."
"Kau pura-pura tidak tahu atau berusaha untuk mengelaknya?"
Daehyun bingung dan juga tidak mengerti "Katakan lebih jelas supaya aku bisa mengerti dan mengingat sesuatu."
Baekhyun memutar bola matanya malas "Menurutmu saat kau pergi meninggalkanku di lantai 4, kau tidak bisa mengingat kejadian itu?"
"A..ahh.. itu! memangnya kenapa?"
"Kau masih tanya.. kenapa?"
"Eh?"
"Sepertinya ada kesalahpahaman disini." Chanyeol ikut menyelangi.
"Hei, Aku belum pernah melihat Baekhyun jalan denganmu sebelumnya. Siapa Kau? Apa kau kekasihnya?"
"Kenalkan aku Park-
"Apa kau benar tidak mengerti? Jelas-jelas waktu itu kau yang menyuruhku untuk menunggu di ruangan kelas E di lantai 4. Dan kau tahu apa yang ku alami sejak kejadian itu? Hha! Kau pasti tidak akan merasakannya. Dan keesokan harinya kau tidak masuk sekolah. Membuatku curiga padamu." Ucap Baekhyun menggebu-gebu juga memotong ucapan Chanyeol. Chanyeol merasa dirinya seperti di jadikan tameng saat ini.
"Dengar, waktu itu aku menyuruhmu untuk menunggu di lantai 4 karena perintah Jongdae. Kau masih ingat dia kan? Kau bertemu dengannya di sana kan?"
"P..perintah Jongdae?!"
"Aku tidak tahu persis apa yang dia lakukan. Awalnya dia memberitahuku bahwa sepulang sekolah kau ada janji dengannya di lantai 4 atasku."
"Sebuah janji? Bahkan aku tidak pernah-
"Ya, aku juga tidak percaya dengan ucapannya karena kau tidak pernah menyempatkan dirimu mengobrol dengan Jongdae selain aku. Tapi akhirnya aku menuruti saja apa perintahnya karena aku tahu alasan mengapa dirinya ingin kau menunggunya saat itu."
"Memangnya apa yang ingin dia katakan padaku?"
"Eh? Mana aku tahu. Yang jelas dia mengakui padaku bahwa dia menyukaimu. Bukankah kau sudah menemuinya saat aku pergi meninggalkanmu?" ucapan Daehyun membuat Chanyeol lebih ingin terus untuk tahu karena ini meyangkut orang yang menyukai Baekhyun.
"Apa?"
"Mengapa kau yang terlihat bingung. Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang di bicarakan Jongdae padamu? Apakah dia menyatakan perasaannya padamu atau... kau dan dia melakukan-
"Tunggu! Apa yang kau bicarakan? bahkan aku sama sekali tidak melihat sosoknya di sana."
"Tidak mungkin. Jelas-jelas saat aku pulang meninggalkanmu Jongdae berada di tepi kelas lalu memberikan aku sebuah minuman."
Baekhyun tampak bingung dan menyampingkan kepalanya menatap Daehyun. "Minuman?"
"Iya, aku meminum minuman pemberiannya di perjalanan pulang. Dan saat aku sampai di rumah, aku merasakan kepalaku sangat pusing dan perutku sakit sehingga keesokan harinya aku tidak sekolah."
"Benarkah itu?"
"Memangnya apa yang terjadi saat Jongdae tidak datang menemuimu? Tadinya aku mencurigaimu dan Jongdae bahwa kalian melakukan hal yang tidak senonoh. Ruangan itu kan sudah lama tidak di pakai jadi mungkin dia bisa leluasa melakukan 'itu' padamu. karena waktu itu aku percaya bahwa dia menyukaimu saat ia mengatakannya padaku. Tapi kurasa itu tidak benar. Dia juga telah menipuku."
"Sialan. Bahkan itu lebih parah dari yang kau bayangkan. Dia berniat mencelakaiku." Chanyeol langsung memandang ke arah Baekhyun dengan wajah yang sama terkejutnya dengan Daehyun.
"Waktu itu aku mempunyai firasat buruk padamu setelah tahu bahwa minuman pemberian Jongdae tidak seharusnya ku minum yang menyebabkanku sakit."
"Daehyun... maaf. Maafkan aku karena telah menuduhmu. Seharusnya aku berfikir lebih dalam dan tidak langsung mengira kaulah yang telah mencelakaiku karena kau yang terakhir kali bersamaku di sana."
Daehyun menghela nafas. "Tak apa. Syukurlah jika kau mengetahuinya. Tapi setelah itu... apa kau baik-baik saja?"
"Tidak. Sangat tidak baik."
"Memangnya hal buruk apa yang dia lakukan padamu dan apakah karena hal itu pula kau tidak lagi sekolah di sana?"
.
.
FLASHBACK ON
.
.
8 bulan yang lalu
.
Baekhyun sangat suka pergi ke perpustakaan saat di sekolahnya karena disanalah ia bisa mengeluarkan penatnya dan menjauhi suara bising di dalam kelasnya yang selalu berisik di jam kosong. Apalagi Jongdae dan beberapa temannya yang selalu menganggunya dengan membuly sebuah lelucon yang menurutnya tidak penting dan itu kekanakan.
Ia mencari tempat kosong di perpustakaan untuk membaca bukunya. Tempat yang menurutnya nyaman dan tentram. Satu halaman sudah ia baca dan seterusnya seperti itu hingga ia mulai bosan.
"Sudah ku duga kau pergi kesini." Tiba-tiba Jongdae menghampirinya dan duduk bersamanya.
Orang yang Baekhyun tidak harapkan datang menemuinya. "Ada apa?" ucapnya ketus tanpa menatap Jongdae yang terus melihat ke bukunya.
"Hei, aku hanya ingin memberimu ini." Jongdae menyimpan satu bungkus roti di meja dekat lengan Baekhyun dan Baekhyun melihatnya sebentar lalu fokus ke bukunya lagi walaupun ia sudah lupa di mana ia membaca tadi.
"Aku tidak pernah melihatmu makan di kantin. Mengapa? Apa karena aku ada di sana?"
Baekhyun mendengarnya tapi ia tidak ada minat untuk berbicara dengan siapapun karena itu bukan keahliannya.
"Aku khawatir karena sekarang tubuhmu bertambah kurus. Apa kau tidak pernah makan?"
"Apa pedulimu?" ucap Baaekhyun lagi dengan nada yang sama.
"Aku peduli karena aku temanmu! Sekarang biarkan aku melihat kau memakan roti pemberianku."
Baekhyun menutup bukunya dan menatap Jongdae dengan tajam.
"Sebenarnya sifat mu itu bagaimana? Apakah sekarang kau ingin membuatku kesal? Padahal kau selalu membuatku tidak nyaman dengan tingkahmu yang terlalu hyperaktiv itu."
"Apa salahnya? Lalu kau sendiri, bagaimana sifat aslimu? Kau tampak aneh. Aku sudah berbaik hati untuk mengajakmu dan Daehyun pergi ke kantin bersama-sama dan bermain. Tapi kau selalu menolaknya . Seharusnya aku yang marah padamu karena sepertinya kau membenciku."
"Bukan begitu, aku sama sekali tidak membencimu."
"Lalu kenapa jika Daehyun yang mengajakmu kau mau? Sedangkan aku?"
"Aku hanya tidak menyukaimu. Bukan berarti aku membencimu."
"Oh jadi sekarang kau mengakuinya,Bukankah itu sama saja? Sebutkan alasan mengapa kau tidak menyukaiku?"
"Kau berbeda dengan Daehyun. Dia satu-satunya teman yang mempunyai kemiripan denganku dan pemikiran kita sama."
"Aku tanya mengapa kau tidak menyukaiku? Bukan jawaban kau lebih memilih Daehyun dari pada aku."
Baekhyun membuat jeda sejenak "Kau... terlalu berisik. Dan itu membuatku tidak nyaman dengan suaramu yang selalu berteriak kelewat wajar itu."
GREKKK- Baekhyun beridiri dan masih menggenggam bukunya.
"Kau menyukai Daehyun?" Jongdae langsung menghentikan pergerakan Baekhyun dengan memegang pergelangan tangannya.
"Tentu saja."
Tangan di sebelah Jongdae mengepal. "Setidaknya kau memakan roti pemberianku walau hanya sedikit."
"Aku mohon jangan bersikap baik padaku. Terimakasih karena niat baikmu itu."
Setelahnya Baekhyun melenggang pergi dan menghempaskan tangannya dari Jongdae.
Aku mohon jangan bersikap baik padaku- kata-kata Baekhyun mengiang di kepala Jongdae.
.
.
Baekhyun lebih suka makan siang di kelas atau di bawah pohon karena Daehyun yang mengajaknya. Daehyun sempat tidak mengerti mengapa temannya tidak mau makan di kantin tapi ia menuruti saja apa kata Baekhyun. Daehyun mulai terbiasa dengan sifat Baekhyun yang selalu membawa bekalnya dirumah, alasan yang Daehyun tahu karena Baekhyun tidak mau mengantri dan menunggu untuk membeli makanan yang sudah tersedia di kantin. Juga Baekhyun bilang bahwa makanan buatan sendiri lebih sehat. Dengan itu Daehyun juga terbawa oleh pemikiran Baekhyun yang menghargai dirinya.
Cukup hanya Daehyun yang menjadi teman satu-satunya yang bisa Baekhyun percayai walau kadang Daehyun meninggalkannya karena lebih pergi dengan temannya-temannya yang lain mungkin karena menurutnya Baekhyun kurang asyik dan membosankan. Namun menurut Baekhyun, Daehyun sangat baik dan selalu menemaninya mengobrol di atap sekolah. Daehyun juga tidak banyak bicara dan tidak banyak bertanya hal-hal pribadi yang menyangkut masalah pada dirinya karena Daehyun sudah mengenalnya jadi untuk apa lagi ia mengenal lebih dalam? Mereka bukanlah pasangan kekasih.
Baekhyun memang sengaja tidak terlampau aktif di kalangan sekolah. Ia tidak ingin dirinya di ketahui banyak orang. Mengenal Jongdae saja sudah merupakan musibah baginya. Jongdae mempunyai banyak sekali teman yang sama-sama berisik. Walaupun memang Jongdae itu baik dan agak naif, Baekhyun merasa risih jika dekat dengannya. ia bisa hilang konsentrasi dan ketenangannya terganggu. Jongdae benar-benar tidak bisa diam. Tangannya selalu merangkul Baekhyun dengan seenaknya dengan sok akrab dan memperkenalkannya pada teman-teman Jongdae. Itu membuat Baekhyun gugup. Ia ingin menyalahkan dirinya sendiri karena Jongdae tidak berbuat salah apaun. Baekhyun benci jika seperti ini.
.
.
2 Hari kemudian
.
.
"Daehyun, bisakah kau memberitahukan Baekhyun untuk menungguku di ruangan E lantai 4?" ucap Jongdae saat menghampirinya.
Daehyun sempat merengutkan kedua alisnya saat dirinya tengah membereskan buku kedalam tas untuk pulang karena pelajaran sudah berakhir. "Hei, sebentar lagi Baekhyun akan kembali ke kelas. Jadi tunggu saja dia dan katakan padanya langsung." Daehyun meresleting tasnya. Baekhyun memang sedang ke toilet saat itu.
"Sekarang aku harus mengumpulkan tugasku yang di tagih Kim Sonsaengnim kemarin ke ruangannya. Aku tidak boleh terlambat mengumpulkannya jadi tolong beritahukan padanya. Ya?"
"Ruangan E lantai 4... bukankah kelas itu sudah lama tidak di pakai karena akan di perbaiki? Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan Baekhyun?"
"Itu... a..aku sudah janjian dengannya." ucap Jongdae gugup dengan nada cepat.
Daehyun mencurigainya "Kalau janjian seharusnya dia tahu akan datang tanpa aku harus memberitahukannya." Daehyun memicingkan matanya "Apakah kau..." Raut wajah Daehyun berubah menjadi tersenyum menyeringai dari perkatannya.
"Sepertinya kau tahu maksudku. Aku... menyukainya."
"Ahahahah... baiklah. Aku memang tahu sebelumnya jika kau menyukai Baekhyun. Cepat kau kumpulkan tugasmu!"
"Kau memang yang terbaik. Oh iya, kalau bisa kau antarkan dia sampai di sana. Aku ragu jika dia tidak datang." Setelah itu Jongdae berbalik dengan wajah menyeringai di wajah kotaknya yang terkesan dingin.
"Mengapa kita lewat lantai 4? Bukankah tangga untuk pulang seharusnya di lantai 3?"
SREETTT- "Kau jangan pulang dulu. Masuklah !" Daehyun menyeret Baekhyun ke ruangan kelas E. Sedangkan Baekhyun menatapnya bingung "Tunggu beberapa saat dan kau akan mengerti." Daehyun membalikkan tubuhnya untuk melangkah keluar. "Aku pergi."
"Ya! Maksudmu apa? Kau mau tinggalkan aku sendirian disini?"
"Hanya menunggu apa itu sulit? Nanti kau akan mendapatkannya." Ucap Daehyun yang memunggunginya. Baekhyun tahu Daehyun berbicara padanya dengan ekspresi tersenyum walau dirinya tidak bisa melihat.
"Daehyun!" percuma Baekhyun memanggilnya karena orang itu telah pergi.
Baekhyun terduduk di bangku dan melihat-lihat ruangan kelas tersebut yang tampak sepi dan juga kosong. Perasaannya menjadi tak enak menginggat kelas ini yang tidak pernah lagi di pakai karena tempatnya sudah tak layak untuk digunakan belajar. Ia tidak mengerti maksud ucapan Daehyun tapi setidaknya ia masih menunggu disana. Baekhyun percaya bahawa teman satu-satunya itu tidak akan mengecewakannya dan segera kembali. Lalu Ia melihat pada arloji nya yang menunjukkan pukul 6 lewat 10 menit.
Setelah Daehyun pergi meninggalkan Baekhyun sendirian, dirinya berjalan menuju koridor dan di sanalah ia bertemu Jongdae.
"Ini." Jongdae memberikan minuman pada Daehyun yang sudah di campur obat yang berefek sakit perut.
"Untukku?"
"Iya."
"Oh.. Gomawo." Ucap Daehyun sambil tersenyum. "Cepat. Dia menunggumu. Aku harap kau tidak menyesal saat Baekhyun tidak menerima cintamu." Dirinya tersenyum jahil dan juga terkikik.
"Tenang saja." Jongdae menepuk bahu Daehyun. "Sekarang kau pergi."
"Aku tahu. Aku tidak mau ketinggalan kereta sore ini."
Setelah itu keduanya berjalan dengan arah yang bertolak belakang saat di koridor.
.
.
KRIIEEEEEKKK- "Daehyunn..!" Baekhyun yang sedang melihat ke luar jendela memekik saat suara pintu kelas tertutup menyadarkannya dari pandangannya. Ia tidak menemukan orang yang di carinya atau siapapun itu tapi ia menemukan sesuatu. Benda berbentuk silindris menyerupai gas kecil bergelinding ke arahnya. Baekhyun mengernyit bingung tapi setelah benda itu mengeluarkan asap tebal yang mampu tercium ke hidungnya, ia menyadari bahwa dirinya tidak boleh mendekati benda tersebut.
Baekhyun dengan cepat berlari ke arah pintu untuk keluar dan menyelamatkan dirinya. Ia berusaha untuk membuka pintu tersebut namun pintu itu terkunci dari luar membuat dirinya sulit membukanya atau mendobrak benda mati yang terbuat dari kayu itu dengan cara apapun. Ia yakin orang yang melakukan perbuatan itu padanya masih di sekitar. "Daehyun! kau berada di sana? Heyyy... jangan bercanda. Cepat buka pintunya!." Ucap Baekhyun dengan nada yang begitu keras. Mendengar derap langkah kaki dari luar ruangan yang menjauh dan semakin tidak terdengar lagi, ia yakin orang itu tidak bercanda. Baekhyun tertegun dan menelan salivanya saat orang yang di maksud pergi dan mengecewakan dirinya. Semuanya menjadi menegangkan bagi Baekhyun.
Ia benar-benar panik saat dirinya melihat asap semakin menghalangi penglihatannya. Ia merasa sesak dan juga pandangannya kabur. 'Apa ini yang di maksud Daehyun?'- batinnya berucap. Baekhyun segera lari menuju jendela.
Sial.
Lagi-lagi tidak ada jalan keluar untuknya. Ia mengelurkan ponselnya dari dalam saku celana seragamnya untuk mendapatkan bantuan.
Dan sial.
Tidak ada sinyal di tempatnya. Baekhyun tidak berteriak meminta pertolongan kala itu karena sepertinya itu percuma. Sekolah sudah benar-benar sepi dan tidak ada seorang pun di sana kecuali jika mungkin itu di lantai bawah dan itu juga hanya beberapa murid yang sudah akan pergi meninggalkan area. Lebih baik ia menggunakan tenaganya yang tersisa untuk memecahkan kaca jendela dengan bantuan kursi yang ada di hadapannya dari pada membuang-buang tenaga dengan berteriak.
'DUUUUUUGGGG' satu atau dua dobrakan tidak berhasil pada kaca jendela.
'DUUUUUUUUUUUGGGGGGGG' Dobrakan yang lebih keras dari sebelumnya membuat kaca menjadi retak. Setidaknya walau hanya retak itu bisa berpengaruh untuk hidupnya.
Baekhyun berharap dirinya masih mempunyai kesempatan. Ia merasa takut dan dirasa darah tidak lagi mengalir dengan lancar hingga membuatnya lemah dan bisa saja menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri. Kepalanya mengalami pusing saat asap itu kian memenuhi penciumannya. "Uhukkk-uhuukkkkk" Keringat membanjirinya.
Dengan sekuat yang ia bisa, Baekhyun percaya Tuhan akan menyelamatkannya...
'DUUUUUAAAAAAAAAAAAANNNGGGGG' Guys sepertinya Dewi Fortuna memihaknya.
Baekhyun segera melompat ke luar saat kaca jendela sudah ia pecahkan. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan berjalan di koridor seorang diri dengan tergopoh. Ia tidak mempunyai kekuatan untuk pulang. Baekhyun merosot dan duduk di lantai koridor dengan nafas yang masih terengah. Ia merasakan takut yang luar biasa tidak rasional. Ia menyenderkan punggungnya pada dinding kelas yang bukan di ruangan E. Perasaannya kembali seperti yang selalu ia rasakan jika berada dalam kecemasan hingga semuanya menjadi gelap.
Baekhyun telah bangun dari mimpinya. Ia tertidur di sekolah setelah dirinya mengingat kejadian malam tadi. Untuk hari ini ia berniat tidak masuk kelas. Dirinya merasa sangat buruk dan berantakan. Beberapa murid yang berjalan melewatinya pagi ini menatapnya heran. Mereka berfikiran bahwa mereka merasa asing dengan wajah Baekhyun karena tidak pernah melihatnya dan sempat tidak percaya Baekhyun termasuk murid dari sekolahnya. Mereka mengira Baekhyun adalah murid baru tapi apa yang dilakukannya saat ini? beberapa murid sempat menggeleng dengan keadaan Baekhyun yang masih menggunakan seragam terduduk lemas dengan wajah pucat menghiasinya. Tapi ada beberapa murid wanita yang terpesona olehnya karena menurutnya Baekhyun tampan.
Baekhyun menjadi pusat perhatian setiap murid yang melewatinya. Ia gusar dan segera pergi. Tapi untuk saat ini Baekhyun harus memastikan sesuatu sebelum dirinya pulang dan berbaring di kasur king size empuk miliknya. Merasa jam pelajaran sudah di mulai, ia berjalan menuju kelasnya di lantai 3 ruangan B. Ia sedikit mengintip ke dalam kelasnya saat murid-murid tengah belajar oleh pengarahan Kim Sonsaengnim. Dirinya tidak menemukan Daehyun di bangku kelasnya. Daehyun tidak mengambil pelajaran hari ini dan itu tidak diragukan lagi bahwa temannya sudah berniat berbuat jahat padanya. Baekhyun sempat meneteskan air mata lalu mengusapnya dengan kasar. Daehyun yang satu-satunya ia percayai ternyata telah mengkhianatinya. Padahal Baekhyun sangat menyukai Daehyun sebagai temannya. Menurut Baekhyun, Daehyun adalah yang terbaik tapi setelah ia mengetahuinya Baekhyun jadi membencinya.
.
.
Esok Harinya
Daehyun melihat ke bangku Baekhyun tanpa ada orangnya di sana. Baekhyun tidak masuk sekolah dan itu membuat Daehyun heran karena tidak biasanya Baekhyun membolos. Daehyun menelponnya saat jam istirahat tapi ponselnya tidak tersambung. Lalu ia melihat Jongdae di bangkunya pada arah jam 10. Seperti biasa Jongdae mengobrol dengan teman-temannya dan bersikap tenang. Daehyun mencurigai jika Jongdae lah yang telah membuat Baekhyun tidak masuk sekolah hari ini. ia menyesal telah menuruti perintah Jongdae lusa kemarin dengan meminum minuman sialan itu.
"Ya! Mengapa Baekhyun tidak masuk?" Daehyun berjalan menghampiri Jongdae
"Aku kira kau tahu. Kemarin dia juga tidak sekolah."
"Apa? Kau... apa yang kau lakukan padanya saat itu?"
"Aku tidak bisa katakan. Kau tahulah disini ada teman-temanku." Ucap Jongdae dengan nada menggoda.
"Brengsek! Kau melakukannya?! Ohhh aku tidak bisa bayangkan. Ternyata kau... se- frontal itu sampai-sampai Baekhyun... astaga!" Daehyun terkejut mengingat Baekhyun yang menurutnya polos itu.
"Dia sangat menikmatinya begitupun aku."
"Hm.. apa kalian tahu? kemarin aku mendengar seorang siswa membicarakan Baekhyun yang berjalan dengan gusar. Aku mengerti apa yang kalian berdua bicarakan." Salah satu teman Jongdae berkata dengan menyeringai. " Baekhyun dan kau.. melakukan itu kan.." ucapnya menunjuk Jongdae. "Jangan kalian sembunyikan lagi. Berapa ronde yang kau dan Baekhyun lakukan? Ceritakan pada kami."
"Aiihhh..." Daehyun menggeleng lalu pergi ke tempat bangkunya semula.
"Ohh iya, mengapa saat aku meminum minuman pemberianmu aku jadi sakit? kemarin aku tidak masuk karena hal itu. Jongdae! Apakah kau mencoba... merencanakan sesuatu padaku?"
.
.
FLASHBACK OFF
.
.
...
"Hun, apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya orang yang kulitnya lebih gelap saat dirinya berbicara pada si albino di ruang tamu. Merasa Sehun tidak menjawab pertanyaannya, Jongin kembali berbicara.
"Ya! Katakan sesuatu. Mengapa kau tiba-tiba datang kerumahku malam-malam begini? Jika saja yang memencet bel pintu rumahku bukanlah kau, aku tidak akan membukakan pintu itu. karena kau tahu, aku tidak ingin tidur ku terganggu!"
Sehun masih saja terdiam. Jongin merasa omongannya tadi hanyalah omong kosong.
"Sehun?.. Sehun...? Oh Sehun!" Teriaknya di telinga si albino karena dirinya sudah mulai kesal.
"Yah aku dengar! bisakah kau tidak berteriak seperti itu?!"
"Lalu mengapa kau-"
"Aku hanya sedang berfikir hal apa yang harus aku ceritakan padamu!" tanggapan Sehun saat itu.
Jongin jadi teringat tentang kencan Sehun yang Sehun katakan padanya beberapa hari yang lalu saat di apartemen Chanyeol. Dirinya jugalah yang merekomendasikan Sehun untuk menonton blue film di bioskop saat ia dan Sehun berbincang di aula sekolah. Chanyeol sedang tidak ada di sana karena ia disibukkan dengan rapat siswa sebagai ketua ektrakulikulernya.
"Apakah.. tentang kencanmu hari ini? benarkah? Bagaimana? Apakah berjalan lancar?" Tanya Jongin bertubi-tubi dengan penasaran.
"Itulah masalahnya." Ucap Sehun tidak menampakkan ekspresi.
"Dia... tidak menyukai filmnya?" Ucap Jongin pelan tapi membuat Sehun menatap ke arahnya.
"Mungkin saja iya. Seharusnya tadi aku tidak mengikuti saranmu untuk menonton film semacam itu. Tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya karena bukan itu yang ku maksud." Tiba-tiba rahang Sehun mengeras dan tangannya mengepal.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Jongin merasakan aura kesal pada diri Sehun.
"Chanyeol."
Jongin mengerutkan alisnya . "Uh?"
"Dia... aku tidak tahu Chanyeol bisa mengenal Baekhyun."
"Tunggu! Jadi namanya Baekhyun?" Sehun mengangguk sebagai jawaban. Jongin pun semakin penasaran walau ia tidak tahu wajah Baekhyun seperti apa karena Sehun tidak memperlihatkan fotonya. "Lalu bagaimana kau tahu Chanyeol mengenal Baekhyun?"
"Aku tidak tahu pasti hubungan mereka seperti apa. Tapi setelah aku melihatnya aku jadi mengartikan bahwa hubungan mereka terlihat sangat dekat."Kekecewaan itu di rasakannya lagi.
"Dan apa yang kau lihat?"
"Saat Baekhyun keluar dari gedung bioskop tiba-tiba Chanyeol datang menghampirinya lalu memeluknya dan...dia menciumnya tepat di bibirnya. Padahal dia tahu keberadaanku disana. Tapi mengapa dia melakukan itu?" Terdengar nada Sehun begitu terluka. "Jongin. Aku takut jika dia merebut Baekhyun dariku. Apalagi setelah Chanyeol bilang bahwa dia menyukai seseorang saat dia mengatakannya langsung pada kita. aku.. aku takut orang yang Chanyeol sukai adalah Baekhyun. Setelah aku melihat dengan rupa Baekhyun, aku jadi menginginkan hal lebih untuk memilikinya. Aku sangat menyukainya." Lirih Sehun meluapkan semuanya.
"Woww. Aku rasa kau harus berfikir positif dahulu. Mungkin saja Chanyeol mempunyai saudara atau ikatan darah dengannya. Yang aku dengar, Chanyeol mengatakan bahwa ia menyukai tetangga di sebelah apartemen miliknya saat kita berpesta di rumah Chanyeol. Tapi dia belum mengumbar dengan jelas siapa yang dia sukai. Apalagi jika itu adalah hmm.. siapa tadi?"
"Baekhyun."
"Iya. Baekhyun juga pasti akan langsung bilang padamu dan menolak tawaran kencan mu kalau dia sudah mempunyai kekasih jika itu memang benar-benar Chanyeol. Tapi mengapa ia mau berkencan denganmu? Itu artinya dia mau menerimamu. Bukankah begitu?"
Sehun merasa omongan Kai ada benarnya. "Tapi ciuman yang ku lihat itu... mereka.. saling melumat dan menyesapnya. Terlihat begitu menuntun. Bukan ciuman seperti yang biasa di lakukan oleh ikatan persaudaraan."
"Ahh, aku baru ingat." Jongin membuat jeda untuk Sehun agar Sehun setidaknya bisa menagkap arah pembicaraannya.
"Chanyeol tidak mempunyai saudara laki-laki yang lebih tua darinya!." Ucap Sehun dan Jongin berbarengan.
"Tunggu! Apakah Baekhyun lebih tua dari Chanyeol?" Tanya Jongin.
"Baekhyun bulan Mei."
"Hm.. coba aku lihat foto Baekhyun, kau masih menyimpannya."
"Tentu saja." Sehun memencet tombol di ponselnya dan menunjukannya pada Jongin.
"Dia.. apakah orang ini yang kau maksud?" Jongin lebih mendekati Sehun untuk melihat ke smartfone Sehun. "Dia sangat manis. Ouhhh pantas saja kau menyukainya. Tapi.." Raut wajah Jongin berubah. "Dia kan.. dia yang.. orang itu yang tinggal di sebelah apartemen Chanyeol juga membeli album Cn black itu!" Jongin memekik dan sempat terkejut. "Wahhh.. pantas saja!."
"Kau mengenal Baekhyun juga?"
"Apa, tidak ! aku hanya tahu saja. Kau tidak tahu kalau Baekhyun tinggal di sebelah apartemen baru Chanyeol?"
"Dia.. tinggal di s..sana?!"
"Bagus! Itu membuktikan bahwa Chanyeol memang menyukai Baekhyun! Hubungan mereka bisa saja lebih dekat seperti yang kau katakan." ucapan Kai membuat Sehun menatapnya tajam.
"Mengapa kau berkata itu bagus?" Ucapnya tidak suka.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi kau dan Chanyeol saat memperebutkan Baekhyun. itu akan sangat menarik!."
"Hei, itu tidak benar. Lihat saja nanti. Siapa yang pantas untuk mendapatkannya."
.
.
...
Hari ini Baekhyun baru menyadari kesalah pahamannya setelah bertemu Daehyun. Ia cukup lelah untuk sekarang. Ia pun masuk ke dalam apartemennya setalah Chanyeol mengatakan selamat malam saat keduanya sama-sama berpisah ke dalam apartemen masing-masing.
"Aku pulang." Baekhyun melepas sepatunya.
"Kau pulang bersama Chanyeol?" Tiba-tiba Suho bertanya saat dirinya tengah menonton acara televisi.
"I..iya.."
"Lain kali jika kau akan pergi, beritahukan dulu padaku." Ucap Suho menasehati.
"Maafkan aku hyung, Aku benar-benar ceroboh sehingga membuat ponselku jatuh ke dalam wastafel."
Suho menghela nafas "Baiklah sekarang kau istirahat."
"Hyung, kau tidak marah padaku?"
"Sama sekali tidak. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Tapi setelah aku tahu kau bersama Chanyeol aku bersyukur."
Baekhyun tersenyum dan berjalan menuju kamarnya "Aku akan tidur. selamat malam hyung."
"Ahh Baekhyun! kau sudah bertemu... Yixing?"
"Iya, dia datang kemari. Kenapa?"
Suho tidak menjawab pertanyaan Baekhyun dan hanya terdiam. Sebenarnya ia merindukan sosok Yixing kekasihnya yang tidak di ketahui Baekhyun.
"Aku rasa dia tahu banyak mengenai masalahku. Setidaknya dia dapat membantuku mengatasi semua hal yang terjadi padaku." Baekhyun tersenyum. Lagi.
.
.
.
.
To Be Continued..
.
.
Thanks buat review nya kalian sebelumnya :) Adakah yang tidak di mengerti atau merasa bingung sama chap ini? Maaf kalo FF nya jelek atau banyak yang tidak suka. Soalnya Author baru di FFN dan butuh kritikan dari readers semua..
.
.
~ Review Please ~
[Yeolvin]
.
.
