...
Chapter 6
Place To Hide
Author : Yeolvin
Main Cast : ● Byun Baekhyun
● Park Chanyeol
● Oh Sehun
● Other cast find alone
Genre : Romance, Drama, Humor
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love , Boy x Boy
Rating : T
Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.
Sorry for Typo
Don't like don't read!
Hope you enjoy for reading...
.
.
Di Mohon membaca setelah berbuka puasa di malam hari atau saat sahur :v
.
.
.
Chanyeol baru saja masuk ke dalam kelasnya pagi ini tapi saat ia akan meletakkan tas gendongnya, seseorang menempati kursi belajarnya dan orang itu yang tak lain adalah Sehun. Chanyeol sudah memberikan kode pada Sehun untuk menyingkir dari bangkunya namun Sehun malah menatapnya lama dengan tatapan menyelidik. Chanyeol pun menghela nafas dan melihat ke arah Jongin yang berada di sebelah bangkunya seolah bertanya – Ada apa – sedangkan Jongin hanya mengedikan bahunya sebagai respon.
"Chanyeol... apa hubunganmu dengan Baekhyun." Tanya Sehun sakartis. Chanyeol langsung mengerti dengan arah pembicaraan Sehun saat ini tapi ia tidak menjawab pertanyaan Sehun itu. Ia menduga bahwa Sehun telah memikirkan hal itu lama dan mempertanyakannya sejak kemarin sehingga dirinya menuggu kedatangannya dengan masuk ke kelasnya.
Merasa Chanyeol tidak menanggapinya, Sehun semakin mencurigai jika ada sesuatu antara Chanyeol dan Baekhyun . "Kau tahu kalau aku ada kencan dengannya kan? Apa mungkin... kau menyukai Baekhyun?"
Kali ini tatapan keduanya bertemu. seperti ada sorotan ketidak nyamanan di dalam aura saling men- death glare tersebut. Sedangkan Jongin merasakan hawa dingin menusuk dan mendengarkan percakapan kedua sahabatnya.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku gay..." Tentu saja murid-murid lainnya yang berada di sana tidak mendengar karena Chanyeol berucap dengan nada pelan. Lalu Chanyeol menyimpan tas ke hadapan Sehun di bangkunya dan mengeluarkan buku Bahasa Inggris seolah ingin mengatakan – cepat kau pergi ke kelasmu. Pelajaran akan segera di mulai – atau mungkin Chanyeol tidak ingin membahas masalah ini.
Sehun menginginkan jawaban yang lebih jelas dari Chanyeol tetapi sepertinya Chanyeol ingin mengusirnya dengan cara halus.
"Baiklah, aku tahu bahwa Chanyeol kita adalah gay. Tapi aku tidak tahu jika ciuman yang kau lakukan termasuk dalam kategori hubungan antara orang gay. Dan... kau tahu bahwa Baekhyun milikku jadi setidaknya kau mengerti." Setelah Sehun berbicara ia berdiri dari duduknya di bangku Chanyeol dan melenggang pergi keluar dari kelas sahabatnya itu. Sementara Chanyeol melirik tajam pada punggung Sehun yang sudah menghilang.
.
.
.
"Sebenarnya siapa yang salah disini.. lihat, Sehun tidak bergabung bersama kita." Ucap Jongin sambil melempar minuman kalengnya yang telah habis ke tong sampah sejauh dua meter. Dan Chanyeol melihat itu cukup keren.
" Mengapa kau tidak jujur saja pada Sehun kalau kau menyukai Baekhyun? huh.."
"Apa Sehun mengatakan sesuatu padamu? Dan kau tahu Baekhyun?"
"Hha! Aku rasa Sehun tidak pernah marah atau sekecewa itu. dia benar -benar menyukai Baekhyun. Aku tahu kalau Baekhyun adalah tetanggamu kan? Karena waktu itu aku sempat bertemu dengannya saat aku dan Sehun ke apartemenmu."
"Ahh.. begitu. Apa kebetulan Sehun juga bertemu Baekhyun saat itu?"
"hmm... ku rasa dia tidak. Chanyeol-ah apa kau ingin membiarkan Sehun membencimu karena masalah ini? dia terlihat begitu cemburu."
"Di dalam satu sisi aku merasa bersalah padanya. Di sisi lain juga aku tidak bisa menolak perasaanku yang telah jatuh pada Baekhyun."
"Dan sayangnya hanya satu yang perlu kau butuhkan. Itu berarti kau harus lebih yakin dalam memilih." Jongin kini melempar kaleng soda Chanyeol yang baru saja habis. Berniat melemparnya seperti tadi pada tong sampah Tetapi sayangnya tidak tepat pada sasaran karena kaleng soda itu mengenai pantat seorang gadis yang sedang lewat. Membuat gadis itu mendelik kesal ke arah Jongin.
"Itu berarti kau harus lebih berhati-hati dalam melempar."
.
.
.
.
Kyungsoo menghembuskan nafasnya panjang dan meneguk air minum setelah mengakhiri jadwal padatnya bersama grup yang membesarkan namanya. Kemudian ia pergi turun untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil Van karena ia dan grupnya baru saja pulang dari showcase saat di Music Core.
Kyungsoo langsung masuk ke mobil tersebut yang memang hanya dia sendiri di sana. Ia melihat semua pesan yang masuk ke ponselnya dan beberapa panggilan tidak terjawab dari orang yang sama yang tentunya Kyungsoo sangat mengenal orang itu. Merasa bersalah karena tidak mengabarinya, Kyungsoo berniat untuk menghubungi Jongin.
"H..halo?" Ucap suara di seberang sana saat mengangkat telepon dari Kyungsoo.
"Jong in~ " Jongin bisa merasakan bahwa Kyungsoo sedang tersenyum memanggil namanya sekarang.
"..."
"Jong in? Kau mendengarku..?" Kyungsoo bergumam lagi tanpa tahu orang yang di telepon ingin berteriak saking senangnya. Tapi nyatanya Jong in tidak bisa melakukan itu karena ia sedang berada dalam kelas mengikuti pelajaran. Jika Jong In tahu yang menghubungi dirinya bukanlah Kyungsoo di dalam situasi yang mungkin ia bisa di tendang keluar oleh gurunya, ia tak akan berani mengangkat telepon tersebut.
"..."
"Halo? Kim Jong-
"Apa kau tahu betapa sekarang aku ingin menangis?"
"K..kau baik-baik saja?"
"..."
"Maafkan aku Jong in.."
"Kyungsoo... kapan kita bertemu lagi.. huh? Aku sudah tidak bisa lagi menunggu."
"Aku mengerti.. hmm... ayo kita bertemu."
"S..sekarang ?"
"hmm..umm.."
"Aku akan menemuimu setelah tugasku berakhir."
Semua siswa dan murid-murid berhamburan keluar setelah mengakhiri pelajaran mereka. Chanyeol dan Jong In baru saja muncul dari kelasnya untuk pulang sekolah dan berjalan menuju pintu gerbang.
"Hari ini aku menumpang di motormu. Ya?"
"Soal itu.. maaf aku tidak bisa Chanyeol." Orang yang lebih tinggi menghentikan langkahnya dan menoleh ke sisi Jong In "Tadi... aku mendapatkan telepon dari Kyungsoo dan kami akan bertemu."
"Benarkah? Jadi tadi di kelas kau berkomunikasi dengan Kyungsoo di telepon?" Jong In mengangguk sebagai jawaban dan senyuman mengembang terpatri di wajah tampannya.
"Jika aku ikut dalam urusanmu. Bagaimana?" Jong In yang semula tersenyum berubah menurunkan sudut bibirnya. "Aku ingin melihat pujaan hatimu itu. Apakah dia benar- benar Kyungsoo yang di televisi atau bukan. Aku hanya ingin memastikannya saja. jadi aku boleh iku –
"Tidak boleh.." Jong in langsung memotong lawan bicaranya. "kau tahu betapa aku sudah menantikan moment kami berdua tanpa siapa pun? Pokonya kau tidak boleh ikut." Jong in kembali berjalan mendahului Chanyeol dengan raut kesal.
"Eyyyyy berdua saja? memangnya moment apa yang ingin kalian lakukan?" Chanyeol sedikit menggoda dan segera mensejajarkan kaki nya dengan Jong In menuju motor Jong In.
"Aiissshh.. aku tidak punya banyak waktu sekarang." Orang dengan warna kulit terbakar matahari itu memakaikan helm nya dan bersiap- siap menyalakan mesin.
"Ck.. dasar."
"Aku pergi dulu Chanyeol. Bye..." Jong In terlalu bersemangat sekarang lalu ia pergi meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol yang sedang berdiri berbalik untuk menuju ke halte Bus. Di sana ia juga melihat Sehun yang sedang menumpangi motornya untuk berbelok. Jelasnya saat itu Sehun juga menatap pada Chanyeol melalui kaca helmnya. Chanyeol ingin bertanya pada Sehun mengapa ia pulang lewat jalan kiri yang memang arah tersebut bisa menuju apartemen Chanyeol sedangkan rumah Sehun berada di arah kanan. Si albino memutuskan tatapannya dan menancap gas dengan kecepatan medium. Merasa aneh memang tidak saling menyapa untuk status sahabat, Chanyeol pun bergegas pulang dan mengingatkan pada dirinya untuk membawa motornya lain kali.
Baekhyun tampak serius di sibukkan dengan buku. Ya, kenyataannya sekarang ia home schooling. Manik matanya melirik ke kanan lalu ke kiri secara berulang karena buku yang di bacanya. Sesekali ia mencatat pada notebooknya hingga seseorang yang lain memencet bel pintu rumah Baekhyun hingga terpaksa orang itu terhenti dari pekerjaannya. Baekhyun membuka pintu dan muncul pria albino di hadapannya.
"O..Oh ..Sehun."
"Boleh aku masuk?"
"Eh..?" Baekhyun tampak bingung. Ia menoleh pada sekitar ruangan yang untungnya tidak berantakan. "S..silahkan. Tapi Mengapa... k..kau bisa-"
"Kita perlu bicara dan meluruskan sesuatu." Mata keduanya bertemu.
...
"Aku.. minta maaf soal itu."
"Ini adalah kedua kalinya."
"Sehun-ah.. apa kau marah padaku?"
"Tidak,"
"Jika tidak, kau mendatangiku dengan cara seperti itu dan kau tidak menjelaskan dari mana kau tahu alamat rumahku." Baekhyun menoleh ke sisi Sehun "Katakan saja apa yang ada di pikiranmu.." lirihnya.
"Chanyeol... kau tahu dia kan? Chanyeol adalah teman satu sekolah sekaligus sahabatku sejak SMP." Mata Sehun terlihat sedikit memerah "Ada hubungan apa kau dengannya? itulah yang ingin aku tanyakan sehingga aku menemuimu langsung dengan mendatangi rumahmu."
"S..Sehun, a.. aku tidak. Maafkan aku.. Aku tidak tahu kalau kau dan C..Chanyeol-
"Baekhyun, apa kau serius menjalin hubungan denganku ? aku tidak ingin menjalin cinta dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku. Karena kurasa kau hanya main-main saja.." Baekhyun terdiam karena ia bingung untuk menyatakannya. "Aku sungguh sangat menyukaimu Baekhyun." Dan kata tersebut setetes liquid jatuh dari kelopak mata Sehun.
DEG
Baekhyun tersentuh. Perlahan tangan kanannya menyusuri pipi Sehun yang basah oleh air mata. "Maafkan aku. Kau jangan salah paham. Aku dan Chanyeol hanya teman. Jadi jangan khawatir." Baekhyun tersenyum lalu menggenggam tangan Sehun. "Terimakasih karena kau membiarkan hatimu menyukai orang seperti diriku. Aku akan menyimpannya dan menjadikan kau seseorang yang spesial di mataku."
"Baekhyun..."
"Apa nantinya setelah kau tahu banyak mengenai diriku kau akan tetap.. menyukaiku?"
"Apa itu artinya kau serius..?"
Baekhyun kembali tersenyum dan Sehun menanggapi senyuman manis Baekhyun itu sebagai jawaban. Lalu Sehun memeluknya membuat empu sang pemilik terlonjat kaget. Tapi di detik berikutnya Baekhyun membentuk lengkungan ke atas di sudut bibirnya.
"Apa sekarang kau mau mengantarku membeli ponsel?" Tanya Baekhyun ketika dagunya menempel di bahu Sehun. Dan saat itu pula Sehun melepaskan pelukannya dengan mata berubah menjadi berbinar.
Motor milik Sehun terparkir di sana. Chanyeol berspekulasi sahabatnya itu berada tak jauh dari apartemennya. Tapi untuk apa Sehun di sana? Mereka tidak mempunyai janji apapun. Chanyeol terus melangkah setelah turun dari Bus hingga dirinya sudah berada di tangga apartemen. Samar – samar ia mendengar sebuah percakapan juga langkah kaki. itu adalah Baekhyun dan munculah seseorang yang lain dari belakang.
"Sehun, Itu motormu ?" Tanya Baekhyun menunjuk pada kendaraan beroda dua tersebut.
"Iya, kita akan menggunakannya."
"Apa aku boleh mencobanya? Maksudku jika aku yang mengendarainya."
Sehun menatap Baekhyun dengan pandangan – Apa kau serius-
"Ahaha aku hanya bercanda kok"
"Jika kau mau boleh saja. tapi bila kau menumpanginya apakah kaki mu itu bisa sampai menginjak tanah? Aku meragukannya."
"Yak, kau pikir aku tidak bisa?" Baekhyun langsung meraih pergelangan tangan Sehun " Ayo kita buktikan Oh Sehun." Baekhyun membawa Sehun dan menariknya. Sedangkan orang yang masih menggunakan baju seragam terkik. "Tapi, kau masih belum menjelaskan padaku dari mana kau tahu alamat rumahku."
"Kim Jong In. Dia yang memberitahuku." Baekhyun langsung terhenti saat akan menuruni tangga karena entah perkataan Sehun atau orang yang berada di hadapannya. Baekhyun rasa sekarang hal itu tidak penting Sehun tahu alamat rumahnya.
"Chanyeol.."
"Hai, Baek." Sapa Chanyeol tanpa ekspresi. Chanyeol merasakan aura tidak menyenangkan saat ini. Lalu Baekhyun menatap Sehun dan kembali pada double eyelid Chanyeol.
"Kau sudah pulang sekolah.." Kata Baekhyun tersenyum canggung.
"Ne.." Chanyeol melihat ke sisi Sehun "Kau tentukan kegiatan kita minggu ini. aku terlalu lelah." Ucapnya seraya menepuk bahu Sehun dan tersenyum kecil lalu melenggang masuk ke koridor. Sehun langsung mengerti dengan topik Chanyeol. Sementara Baekhyun kembali melangkah tanpa mau melepaskan genggamannya yang masih bertautan dengan Sehun.
"Mengapa kau diam? Bukankah tadi kau bilang ingin mengendarainya?" Tanya Sehun saat keduanya sudah berada di depan kendaraan beroda dua itu.
"Aku rasa.. aku berubah pikiran."
"Kenapa?"
Baekhyun tampak berfikir untuk mengeluarkan kata-katanya "Karena aku ingin memelukmu. Jadi aku ingin duduk di belakang saja." Sehun tersenyum menanggapinya lalu memakaikan Baekhyun helm.
"Kau tampak manis jika seperti itu."
"Sehun-ah" Cicit Baekhyun.
"hmm..." gumamnya yang sedang mengaitkan sesuatu di helmnya.
"Apa kau marah pada Chanyeol?" Sehun menurunkan kedua lengannya karena acara memakaikan helm sudah selesai.
"Ayo naik." Baekhyun sudah berpegangan pada Sehun di belakangnya. Sedetik kemudian Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun.
"Aku tidak ingin kalian marah karena aku. Berbaikanlah dengannya apalagi Chanyeol itu sahabatmu."
.
.
.
.
Seseorang menepuk bahu Kyungsoo saat dirinya tengah asyik dengan fikirannya sendiri. Dan sang empu langsung menorehkan badannya ke belakang ketika orang yang di tunggu- tunggu datang.
"Jong In!" Pekiknya dengan sumringah.
"Yak! Siapa yang kau bilang Jong In?"
"Ohh aku kira..." Raut wajah Kyungsoo berubah menjadi datar.
"Kau akan kedatangan seseorang?"
"Hmm..."
"Sepertinya kau akan pulang malam. Kalau begitu aku duluan."
"Hyung, kau pergi dengan Luhan dan juga Kris ?"
"Hanya dengan Luhan. Kris sedari tadi sudah pergi."
Xiumin yang di panggil Minseok melihat pada seseorang yang baru muncul di ruangan. Tepatnya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Apa ada perlu?" tanya Xiumin pada orang berkulit tan tersebut.
"H..halo Xiumin hyung." Jong In membungkukkan dirinya sembilan puluh derajat. Sedangkan Kyungsoo memberi isyarat kepada Jong In untuk masuk.
"Xiumin hyung, Kenalkan dia temanku Jong In." Ucap Kyungsoo
"Ahh.. jadi kau menunggu dia. Baiklah aku pergi." Drummer CN Black tersebut menepuk bahu Kyungsoo seraya tersenyum pada Jong In dan meninggalkan ruangan pribadi milik Kyungsoo yang di penuhi dengan bau musik.
Greppp
Dengan gerakan cepat Jong-In berhambur memeluk Kyungsoo.
"Kyungie~"
Kyungsoo tersentak saat itu. Kedua tangannya perlahan membalas pelukan Jong-In.
"Kau masih tetap sama."
"Apa kyungsoo lelah?"
"Tidak.."
"Jangan bohong.."
"Jika aku berkata iya, kau akan pergi menyuruhku untuk tidur dan beristirahat. Sedangkan aku hanya ingin bersamamu."
Jong In yang semula mencondongkan dagunya di bahu Kyungsoo kini beralih menatapnya.
"Kita bisa tidur besama." Ucap Jong In halus dengan tatapannya yang dalam.
"Jong- in..."
"Seseorang seperti dirimu butuh pelampiasan." Orang yang lebih tinggi mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan manis di bibir kisseble milik Kyungsoo. Orang yang lebih pendek tersipu malu dan terlihat gugup.
"T..tidak di sini Jong-In." Kyungsoo melepaskan pelukannya dan mengambil kunci mobil yang berada di mejanya lalu melewati Jong In menuju pintu.
"Kau kira dengan pergi ke hotel akan aman?"
Kyungsoo terlihat ragu untuk membuka knop pintu. ia menggigit bibir bawahnya. "Kita pergi ke rumahku."
Jong In sedikit terkejut akan hal itu. Pasalnya ia sudah lama sekali tidak pergi ke rumah Kyungsoo. Mungkin semenjak umur Jong In lima dan Kyungsoo delapan.
.
Baekhyun sibuk memilih smartfone di toko yang Sehun kunjungi. Cukup terkenal memang tapi Baekhyun tidak mengetahui toko tersebut. Beberapa menit Baekhyun sudah menemukan satu yang di rasa cocok. Benda persegi panjang berwarna case hitam serta merk keluaran terbaru lah yang menjadi seleranya. Baekhyun menyukai ponsel tersebut karena gadget itu salah satu merk yang di iklan kan oleh CN Black. Tak heran ia begitu menginginkannya. Sehun kira Baekhyun akan berlama-lama belanja di sana karena tempat itu begitu luas dan Baekhyun belum melihat- lihat seluruhnya tapi ia sudah begitu cepat mendapatkannya. Sehun terkekeh kecil tanpa Baekhyun ketahui karena secepat itu Baekhyun bisa memilih.
Mereka telah bertukar nomor ponsel dan keluar dari toko itu.
"Baekhyun, Ayo kita pergi ke Namsan Tower." Ajak Sehun.
"A..aku kan tadi hanya bilang pergi membeli ponsel."
"Apa setidaknya kau mau menghabiskan waktumu bersamaku? Lagi pula ponsel kan sudah kau beli."
"Aku tahu tapi kita pulang saja." Sehun melihat ke arloji nya
"Masih ada waktu kok."
"Ini sudah malam Sehun-ah. Lebih baik kau ganti baju mu. Aku tahu sepulang sekolah kau langsung menemuiku. Jangan membuat orang tua mu cemas."
"Ku mohon. Aku janji kita pulang jam sembilan."
Baekhyun mendesah kecil " Baiklah. Kita pergi hanya satu jam."
Sehun tersenyum senang dan mendongak "Orang tua ku sangat mempercayaiku. Jadi mereka tak akan cemas padaku."
"Apa kau yakin?"
Sehun mengangguk " hmm.. memangnya kenapa kau ingin buru-buru pulang?"
"I..itu karena aku harus belajar."
"Kita harus segera pergi ke Namsan.
"Aku tidak suka berdiam diri di rumah." Sehun berdiri di samping Baekhyun ketika keduanya menaiki kereta gantung.
"Aku tahu orang-orang seperti dirimu. Kau lebih menyukai alam terbuka dan menganggap berdiam diri di rumah adalah hal yang membosankan."
"Maka dari itu jika kau ku ajak pergi kemanapun kau ikut ya?"
Hening
"Sehun.. apa sebelumnya kau pernah pacaran dengan wanita?" Orang yang lebih tinggi langsung menoleh pada Baekhyun.
"Tidak."
"Ohh.."
"Kau..?"
"Tidak pernah. Karena aku tidak mempunyai teman wanita."
"Jadi kau benar-benar gay?"
Baekhyun mengangguk.
"Baekhyun..."
"Hmm..."
"Apa aku boleh mendengar dari mulutmu bahwa kau menyukaiku?"
"Apa itu yang ingin kau dengar Sehun-ah.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "S..sejujurnya aku tidak pernah kencan dengan siapapun kecuali denganmu... saat ini. Karena aku menyukai Kyungsoo idolaku." Sehun mengernyit. " T..tapi kau bisa membuatku jatuh. Karena itu aku bilang Aku menyukaimu." Walau Baekhyun masih belum sepenuhnya yakin dengan hatinya tapi ia setidaknya ingin membuat Sehun senang dan tidak ingin mengecewakannya.
Saat itu pula Sehun memeluk Baekhyun dalam dekapannya. Pelukan yang mengingatkan Baekhyun pada seseorang. Pelukan yang lebih nyaman pada orang itu. Pelukan yang dapat membuat hati Baekhyun tenang dan tentunya perasaan berbeda dari orang yang berbeda.
"Jadi kau menyukai CN Black ? jika kau menyukai Kyungsoo, aku menyukai Luhan."
"Kau penggemar CN black?" ucapnya yang masih berada di pelukan kekasihnya.
"Tidak. Hanya menyukai Luhan saja."
"Aisshhh.. kalau begitu lepaskan aku."
"Kenapa? Kau cemburu?"
"Aku akan berpacaran dengan Kyungsoo saja. cepat kau lepaskan ak..
CHU~
Sedetik kemudian Baekhyun mengerjapkan matanya. "A..apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak boleh pacaran dengan Kyungsoo. Kau milik ku sekarang." Sehun semakin memperpendek jarak antara keduanya yang mana membuat Baekhyun gugup. Bibir mereka nyaris menempel dan Sehun memejamkan matanya ketika benda kenyal itu bersentuhan. Kedua tangan Baekhyun berada di bahu Sehun untuk menghentikan ciuman yang mungkin bisa menjadi gila. Tapi nyatanya Baekhyun tidak bisa tertahan karena pikirannya di kendalikan oleh insting ketika Sehun melumat kecil bibirnya. Walaupun ia menikmati Tapi anehnya ciuman ini tidak membuat Baekhyun merasa nyaman seperti yang Chanyeol lakukan padanya. Apa yang salah?
"S.. Sehun-ahh..le..pas.." Baekhyun merasa mulai tidak nyaman dengan semua ini.
Sehun melepaskan pelukannya pada Baekhyun dan keluar dari kereta tersebut. Sedangkan Baekhyun mengikuti dengan langkah pelan.
"Ayo pulang. Kau harus belajar kan?"
Sehun menarik lengan Baekhyun untuk bertautan dengannya. Baekhyun tidak menolak dan terlihat memikirkan sesuatu. Semenjak turun di kereta, ia tidak banyak bicara. Alih-alih Sehun mengerti dengan sikap Baekhyun dan fokus kembali ke depan mengendarai motornya menuju apartemen Baekhyun.
"Masuklah.." Ucap Sehun saat di luar gedung apartemen.
"T..terimakasih." Baekhyun membungkukkan dirinya. "Hati –hati di jalan." Setelah kata itu Baekhyun membalikkan badannya dan pergi. Sehun melihat punggung mungil itu semakin menjauh dan ia tersenyum.
"Selamat malam Baekhyun." Ucap Sehun hampir berteriak. Dan membelokkan motornya dengan roda yang bergerak menggelinding.
.
"Siapa dia?" Ujar seseorang di hadapan Baekhyun yang membuatnya terkejut.
"Hyung.."
"Aku bilang siapa orang yang mengantarmu?" Suho menyeringai.
"I..itu.. em... hyung.." Baekhyun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal
"Aisshh sudahlah, aku juga sebenarnya tidak ingin tahu."
"Aku tadi membeli ponsel." Potong Baekhyun.
"Benarkah ? hmm...pantas saja uang ku hilang. Ternyata diambil olehmu."
"Hehehe Maaf hyung. kau bisa memotong uang harianku."
"Tidak apa. Sering – seringlah pergi keluar dan bermain. Ajak Chanyeol jika kau tidak ada teman."
"Terimakasih hyung. Lalu apa yang hyung lakukan?"
"Ahh iya aku lupa. Jaga rumah untuk malam ini ya? Hyung akan pergi." Suho tersenyum dan menepuk bahu Baekhyun.
"T..tapi, kemana ?" Sepertinya pertanyaan Baekhyun saat ini di abaikan oleh Suho. Orang dengan nama asli Byun Junmyeon itu telah menghilang dengan berjalan kaki.
"Mengapa akhir –akhir ini Suho hyung selalu pergi? Apa itu adalah hal penting?" Baekhyun bermonolog sendiri dan ia sudah berada di apartemennya.
Baekhyun mendesah ketika dirinya dihadapi dengan buku. Ia tidak ada minat untuk belajar sekarang tapi setidaknya masih ada hari esok. Jadi ia putuskan untuk mandi setelah dirinya bersama Sehun. Ngomong – ngomong soal Sehun, pipi Baekhyun merona merah ketika ia membayangkan kejadian tadi. ia tersenyum malu dan memegang bibirnya dengan jari tangannya. Tapi selintas pikiran muncul di benaknya. Mengapa ia merasakan gugup itu kembali datang dan akhirnya membuat perasaan itu tidak nyaman. Baekhyun menepis pikiran itu jauh –jauh dengan menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower.
Sehelai demi sehelai kain Baekhyun lepaskan. Ia tidak berniat menggosok giginya karena tidak ingin jejak atau bekas ciumannya hilang. Aroma shampo strawbery yang ia sukai tercium wangi ke hidungnya dan itu membuat perasaan senang pada dirinya. Busa sabun yang sudah melekat pada tubuhnya ia mainkan dengan meniup – niup gelembung. Ia tampak seperti 5 dan begitu kekanakan.
Senyuman yang menghiasi wajahnya tiba –tiba saja berubah ketika situasi yang tidak memungkinkan.
"Ada apa ini?" Ucapnya pada diri sendiri. Baekhyun mulai panik ketika lampunya tiba –tiba saja mati di saat ia belum menyelesaikan mandinya. Semua yang terlihat sangat gelap dan tidak ada sisi cahaya apapun di sana.
Sial
Baekhyun mengumpat. Ia sedikit tersandung ketika akan membuka pintu kamar mandi bermaksud untuk mendapatkan light. Tapi nyatanya semua lampu di apartemennya mati.
Sial
Padahal Suho tidak pernah telat membayar tagihan listrik. Tapi mengapa listrik padam ini bisa terjadi?
Baekhyun tidak ada waktu untuk mencari sebuah lilin atau benda yang bisa membuat ruangan ini menjadi terang. Jadi ia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk segera menyelesaikan apa yang dia lakukan.
Tok- Tok – Tok. Suara pintu menginterupsi bahwa seseorang mengetuk pintu apartemen Baekhyun.
"Suho Hyung..." Panggil lelaki itu di sana.
Kreekkk
Chanyeol membuka pintu yang tidak di kunci. Ia masuk ke dalam dengan perlahan. "Suho hyung.." Panggilnya lagi. Lalu Chanyeol mendengar suara air dari dalam kamar mandi. "Itukah kau.. ?"
Samar – samar Baekhyun mendengar suara seseorang yang bericara di ruang tengah. Percikan air yang mengalir dari shower membuatnya kurang jelas mendengar. Ia tidak tahu pasti apa yang orang itu katakan tapi ia yakin orang yang datang bukanlah Suho. "S..siapa di sana?" Tanyanya.
"Baekhyun?"
Baekhyun mematikan shower nya lalu meraih handuk yang tergantung di dinding. Walaupun ia tidak bisa melihat dalam gelap tapi Baekhyun ingat di mana letak handuk itu berada.
"Baekhyun..?"
"Y..ya. Ada apa Chanyeol ?" cepat- cepat Baekhyun melingkarkan sehelai kain di pinggangnya.
"Mengapa semua listrik di apartemen ini mati?" Tanya Chanyeol sedikit berteriak karena takutnya Baekhyun tidak mendengar di dalam kamar mandi sana.
Baekhyun membuka pintu seraya mengeringkan rambutnya yang basah.
"Benarkah? Aku kira hanya lampu apartemenku saja yang mati. Kalau begitu tanya saja pada petugas listrik."
"Suho hyung mana?"
"Dia tidak ada. Katanya pergi."
"Oh, jadi kau baru pulang setelah bersama Oh Sehun.."
DUG – " Awww.." Baekhyun tersandung sesuatu di sana. Entah kursi atau meja. Baekhyun mau mengambil kaos nya di lemari kamarnya tapi penglihatannya sama sekali tidak membantu.
"Apa yang kau lakukan? kau tidak apa-apa?" Tanya Chanyeol
"Ahh.. shh... kaki ku sakit. Chanyeol-ah bisa kau membantuku mencarikan lilin atau alat penerangan lainnya? Aku harus menemukan kaos."
"Sebenarnya tadi aku ke sini juga ingin meminjam lilin."lelaki yang masih berada di ambang pintu ruang tamu itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal yang pasti tidak dapat di lihat Baekhyun.
"Ahh ! aku lupa menyimpan benda itu di mana. Coba kau cari di laci itu."
"Dimana?"
Baekhyun mendesah karena percuma ia menunjuk pada tempat laci karena Chanyeol tidak akan bisa melihat "Benda seperti itu pasti sulit di temukan." Baekhyun berjalan menuju Chanyeol dengan langkah kaki yang tidak seimbang. Baekhyun meraba – raba sesuatu bermaksud untuk menemukan Tangan Chanyeol untuk pegangan. "Chanyeol... mana tanganmu.." pintanya.
"Aku di sini." Ucapnya seraya mengulurkan tangan raksasanya.
"Aku mendapatkanmu Chanyeol."
Chanyeol menelan air liurnya saat tangannya di pegang oleh Baekhyun. Chanyeol juga mencium aroma shampo Baekhyun di sampingnya.
"Baek, kau baru saja mandi?"
"Hmm.. karena itu aku harus mendapatkan kaos."
Beberapa menit Baekhyun mencari lilin. Benda itu tidak di temukannya.
"Chanyeol, apa kau membawa ponsel?"
"Ponselku mati. Punyamu?"
"Aku menaruhnya di kamar di atas tempat tidur."
"Kalau begitu ambil."
"Ayo antar aku."
"Kau takut ?"
"T..takut? hha, aku tidak."
"Jangan bohong."
"Aku.. hanya butuh bantuanmu. Jadi tolong.. aku sedang kedinginan sekarang karena belum menemukan baju ku."
"Baiklah. Cepat sebelum kau masuk angin." Chanyeol mengantar Baekhyun menuju kamarnya. Sementara Baekhyun sudah memegang ponselnya yang setidaknya bisa sedikit menerangi ruangan tersebut walau samar – samar.
Chanyeol melihat dada Baekhyun telanjang dengan dua titik di sana dan pinggangnya di lingkari handuk. Rambutnya setengah basah dan kulitnya begitu mulus. Chanyeol berdecak kagum. Ia palingkan penglihatannya ketika ia sadar bahwa di rasa ia mulai gugup dengan keadaan yang seperti ini. Chanyeol memikirkan hal – hal aneh bersama Baekhyun yang tidak mungkin terjadi, tapi mungkin hal yang di pikirkan Chanyeol bisa juga terjadi.
"Bisa kau pegang ponselku untuk menerangi? aku harus mencari pakaian."
"Cepatlah." Ucap Chanyeol menyuruh dengan nada intens. Baekhyun agak terkejut dengan ucapan Chanyeol karena nada nya terdengar seperti mengancam baginya.
"Y..ya." Di sana di dalam lemari Baekhyun menemukan bajunya berlengan pendek berwarna putih. Ia cocokkan dengan celana trening abu – abu.
"Aku akan keluar." Chanyeol menyimpan ponsel Baekhyun di tempatnya tadi.
"K..kau mau kemana?"
"Kau mau memakai baju kan ?" Baekhyun mengangguk.
"Terima kasih."
Setelah Baekhyun selesai menggunakan pakaian, dirinya tidak menemukan Chanyeol di ruang tamu atau di manapun. Ia membuka pintu dan berjalan di koridor apartemen.
"Chanyeol – ah.. " panggil Baekhyun. Tapi tidak ada suara yang menyahut disana. "Chanyeol –ah.." panggilnya sekali lagi dengan setengah gugup. Koridor tempat Baekhyun berjalan sepi dan tidak ada seorang pun disana. Ia mengetuk pintu apartemen Chanyeol. tapi pintu itu terkunci. "Chanyeol kau disana? Cepat buka pintunya." Dengan bercahayakan penerangan dari ponselnya ia tidak menemukan jejak Chanyeol. Baekhyun menelan saliva nya berat. Lebih baik ia masuk kembali ke dalam apartemennya dan segera tidur atau menelpon Sehun untuk tidak membuatnya bosan di kegelapan ini.
"Baekhyun.." Suara itu..
"Chanyeol kau dari mana?"
"Kata petugas, listrik padam ini akan berlangsung semalaman. Mereka sedang memperbaiki jaringan listrik yang perlu pembauran. Jadi bertahanlah dengan kondisi ini." Chanyeol membuka kunci pintu apartemennya yang di beri kode.
"Benarkah? S..semalaman..?"
"Iya, mungkin di pagi hari sudah kembali normal."
"Apa kau sempat membeli lilin..?"
"Ya ampun.. bagaimana aku bisa lupa ! bahkan tadi aku sempat melewati supermarket. Aisshhhh.." Chanyeol mendesah.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Tadinya aku sedang belajar, tapi aku akan tidur saja. Ini kan sudah malam." Chanyeol membuka pintunya dan masuk.
Baekhyun gelagapan ketika hendak mengatakan tersenyum dengan gelagat Baekhyun karena menurutnya lucu.
"Ayo masuk." Tawar Chanyeol. "Jika bersamaku, kau pasti tidak akan takut."
"Mengapa kau yakin?"
"Itu sebabnya kau berada di sini. Kau berada di luar karena mencariku kan.."
"A..aku rasa kau salah mengira. Aku berada di luar... karena aku gerah. Ya. Aku gerah."
"Jangan mengelaknya. Udara malam ini terasa dingin." Chanyeol tersenyum mengejek dan mendapatkan satu pukulan ringan di perutnya karena Baekhyun.
Baekhyun mulai terjaga di pergantian hari. Ia terbangun ketika listrik sudah menyala dan tertidur di apartemen Chanyeol. Ia baru sadar kalau ternyata semalam ini ia tidur di sofa. Seingatnya di malam tadi ia makan ramen bersama Chanyeol di meja makan. Lalu kapan dirinya berpindah tempat?
Baekhyun menemukan satu memo singkat di dekatnya. – "Jika kau akan pergi, mengunci pintu." Tahu – tahu Chanyeol meninggalkannya pergi sekolah. Sebelum ia keluar dari tempat Chanyeol, Baekhyun melihat – lihat sesuatu di sana. Ruangan yang sedikit berantakan, sampah bekas cup mie, dan pakaian yang tergantung di mana- mana. Menurutnya Chanyeol tidak bisa mengurusi hal –hal seperti membereskan rumah.
Baekhyun ingin membantu membersihkan rumah Chanyeol. jadi ia menyapu juga melihat – lihat foto Chanyeol dan temannya. Ia melihat ke Sehun, Chanyeol, dan Jongin. Baekhyun pikir persahabatan mereka begitu dekat dan akrab. Baekhyun jadi merasa bersalah karena sepertinya Sehun bertengkar dengan Chanyeol karena dirinya. Lalu ia fokuskan pada Jongin yang masih belum sepenuhnya ia kenali tapi ia tahu Jongin adalah fans Kyungsoo. Jika ia mempunyai waktu untuk bertemu Jongin, ia pasti akan mengobrol dengan Jong In untuk menanyakan hal –hal tentang Kyungsoo yang tidak di ketahuinya.
Saat Baekhyun akan mengumpulkan semua pakaian kotor yang tergantung di tangga ke mesin cuci, pandangannya teralih pada sebuah hoodie yang pernah di lihatnya di suatu tempat. Ia sempat menyipitkan matanya untuk memastikan sesuatu. Baekhyun mulai mendekati hoodie dengan noda saus yang terpampang di pintu kamar. Sepertinya itu kamar Chanyeol. Baekhyun meraihnya untuk ia cuci. Dan Baekhyun yakin bahwa hoodie bertuliskan YODA dengan warna yang sama tersebut bukan hanya kebetulan.
"Apa penguntit itu Chanyeol? kalau benar untuk apa dia mengikutiku?"
Baekhyun mereka ulang semua hal yang terjadi.
"Sejak hari ini. Kau tidak tahu?"
... Aku baru menyadarinya...
"Tapi apakah kau benar-benar tidak melihatku berada di sekitar ? "
... wajah Chanyeol tampak aneh dan gugup...
"Aku bertarung dengan seorang ahjussi yang mencuri tas"
... Chanyeol berada di sana bukan hanya sekedar untuk pulang sekolah...
"A...apa?"
... itu memang dirimu Chanyeol...
7 jam yang lalu di apartemen Chanyeol
.
Baekhyun mengotak atik ponselnya di dekat jendela. Sinar bulan yang bulat tampak indah jika di lihat dari kegelapan karena itu Baekhyun duduk di sana. Entah apa yang di mainkan Baekhyun dalam ponsel barunya yang jelas itu membuat Chanyeol tidak senang karena ia merasa di acuhkan.
"Jika ponselku tidak mati, sekarang aku pasti sedang bermain game." Rutuk Chanyeol di kantung tidurnya. Ia tidak tidur di kamar karena itu Chanyeol membawa kantung tidur ke ruang tamu. Tapi sialnya ia belum bisa terlelap. Chanyeol mencoba memejamkan matanya berkali – kali tapi rasa kantuk belum datang menemuinya. Ia mendesah saat terdengar suara dari dalam perutnya yang kosong. Chanyeol beranjak menuju meja makan untuk membuat ramen instan. Mungkin rasa lapar itu yang belum bisa membuatnya terlelap. Jadi Chanyeol berakhir dengan memakan ramen itu sendiri. Tiba – tiba saja Baekhyun duduk di hadapannya.
"Kau makan ini tidak mengajak ku?" Tanya Baekhyun. " Aku kan mau." Rengeknya.
"Sedari tadi kau hanya asyik dengan ponselmu, jadi aku tidak ingin mengganggumu."
Baekhyun cemberut "Kau ini teman yang baik sekali." Ucapnya dengan mengejek.
"Ambil di dalam lemari."
Chanyeol melihat ke wajah Baekhyun yang tenang dengan di sinari cahaya rembulan yang masuk dari celah jendela. Baekhyun tertidur setelah mereka menghabiskan mie ramen. Chanyeol menopang dagunya untuk bisa menikmati wajah malaikat pria mungil di hadapannya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan sendu dan jarinya ia usapkan pada tulang pipi yang terlelap itu.
"Baek, tadi kau pergi kemana bersama Oh Sehun?" Lirih Chanyeol pelan. Takut membangunkan sang empu.
"Apa yang kau lakukan dengannya?"
"Apa kau tidak takut dengan fobia mu?"
"Kau merasa senang?"
"Kau menyukainya?"
Beberapa pertanyaan itu muncul meluapkan rasa emosi yang tidak dapat di dengar Baekhyun. Chanyeol menggendong Baekhyun ke tubuhnya bermaksud untuk memindahkannya ke sofa. Biar Chanyeol tidur di kantungnya menemani Baekhyun dalam dunia mimpi.
.
.
Kyungsoo bangun lebih awal dan memunculkan semburat merah di rona pipinya ketika melihat Jong in yang tidur di sisinya. Kyungsoo teringat akan kejadian semalam yang belum pernah ia lakukan bersama Jong In. Seketika ia melupakan pekerjaannya dan bermain – main dengan anak sekolah. Umur mereka berpaut tiga tahun bedanya. Kyungsoo merasa dirinya di kendalikan oleh bocah seperti Jong In. Itu memalukan tapi ia menyukainya.
Jong In tiba – tiba tersenyum di dalam tidurnya. Kyungsoo ragu jika pria Tan itu masih terlelap. Jadi ia menepuk pipi Jong in pelan.
"Kyungie..." ucap Jong in yang masih terpejam. Kyungsoo hendak menurunkan tangannya tapi lengan Jong in mengentikannya bermaksud untuk terus berada di sana. Berada di pipi Jong In. Kyungsoo agak terkejut sementara Jong In membuka matanya.
" Mengapa kau beri judul album baru itu dengan Dark Your Face? Apa kau sedang mengejekku hmm..?"
"Kau sudah mendengarnya?"
"Tentu saja. Aku juga telah menonton siarannya."
"Menurutmu mengapa?"
"Kau begitu merindukanku bermaksud menguji keberadaanku benarkah? Aku selalu melihatmu tapi kau tidak bisa melihatku."
"Itu menyakitkan."
"Tapi aku benar- benar berterima kasih karena kau selalu mengingatku dengan membuat lagu itu Kyungie."Jong In beralih memeluk Kyungsoo. " Tapi aku masih saja tidak percaya kau bisa menemukan kata itu di judulmu."
"Hei.. itu sangat pas untukmu. Aku menyukainya." Jong In merenggangkan pelukannya.
"YA! Bisa kau ganti sebutan itu?" Ucap Jong In setengah merengek.
"Jika kau tak menyukainya, aku tidak akan membagi satu tiket konser ku padamu."
"Aku sudah membelinya."
"Benarkah? Secepat itu kau sudah beli !"
"Hmm..."
"Kalau begitu aku berikan pada siapa ya?"
"Berikan saja padaku. Aku akan membaginya pada temanku."
.
.
.
.
To be continue...
Ddu ddu ddu ddu ~ Author lama banget ya update nya ! kemana aja Thor?
Hehehehe baru nongol lagi. Tapi serius author waktu itu lagi males soalnya review nya dikit jadi gak ada semangat buat nulis gitu di tabah imajinasi yang error terus sibuk sama dunia nyata. Tapi emang yah ini FF baru di publish jadi yang baca juga dikit. Tapi Author mau segera nyelesein FF ini secepatnya walaupun gak ada yang minat buat baca. Yahh cuman sekedar nyalurin hobi doang. Kalau ada yang tidak suka sama karakter, main cast, atau story boleh klik tanda close di ujung kanan tab. jika ada sesuatu yang tidak di mengerti atau merasa kurang paham dengan jalan cerita tanyakan saja. Ohh iya berhubung ini bulan puasa mungkin author bakal mengurangi adegan – adegan yang perlu sensor. Tapi Author juga penasaran apa yang ada di benak kalian setelah membaca FF ini. SO REVIEW PLEASE !
[YEOLVIN]
...
