Special thanks to :
cha'py muetz
Sabaku tema-chan
nona fergie
Shu 2022
Lisa larasati
atas review-nya yang bikin aku semangat lagi buat nulis lanjutannya ^^.
:: :: ::
Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Rinzu15
Bab 3
Raja Minato dan Ratu Kushina masih terlihat syok dengan reaksi mengejutkan Sakura, tak terkecuali sang pangeran blonde. Sakura menatap lurus kedua penguasa kerajaan itu, meminta penjelasan.
"K-kalian memberikan gelang ini padaku … lalu menyeretku kemari untuk … untuk menikah dengan pangeran ini? Aku benar-benar tidak mengerti …" Sakura meremas helaian rambut soft pink-nya.
"Tenanglah, Sakura-hime. Kami melakukan semua ini bukan tanpa alasan," ucap Raja Minato.
"Itu benar. Mungkin Puteri tidak ingat tepatnya peristiwa itu terjadi. Tapi perbuatan Puteri saat itu sejujurnya merupakan hal besar bagi kerajaan kami," Ratu Kushina menambahi.
Pangeran Naruto tampak mengangguk-ngangguk. "Yah … dan aku bersyukur karena calon isteriku nggak jelek-jelek amat," komentarnya santai. Sakura yang mendengarnya kontan mendelik tajam kearahnya.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Maksudnya peristiwa yang mana?" tanya Sakura bingung. Seingatnya, ia tidak pernah berurusan dengan orang-orang asing macam ini sebelumnya.
"Tepatnya sebulan yang lalu. Apa Hime ingat pernah menolong seekor rubah berbulu oranye yang terluka di taman?" tanya Raja Minato.
Sakura mengernyit, mencoba mengingat-ingat. "Hm … rubah oranye kecil yang tergores kawat duri waktu dikejar anjing itu, ya?"
Raja dan Ratu terkekeh kecil, sementara Naruto terlihat merengut.
"Ya, ya, benar sekali," jawab Raja Minato.
"Lalu apa hubungannya?"
"Perlu Hime ketahui kalau rubah kecil itu adalah Pangeran Naruto yang tengah berubah wujud … " sahut Raja Minato kembali.
"Haaahh?" Mulut Sakura terbuka lebar dan menatap Naruto tak percaya.
"… Itu adalah pertama kalinya Pangeran pergi ke dunia manusia. Memang bukanlah sesuatu yang baru bagi kami ―para penyihir, mengunjungi dunia manusia. Tanpa kalian ketahui, sebenarnya kami berada diantara kalian, berbaur seperti layaknya manusia biasa. Dan Pangeran yang saat itu terpisah dari pengawalnya, tersesat entah kemana. Penyamaran Pangeran yang kurang sempurna saat itu tercium oleh anjing. Hime pasti sudah tahu tajamnya insting dan penciuman anjing, bukan? Akhirnya Pangeran malah dikejar anjing itu dan tanpa sengaja tergores kawat duri saat akan bersembunyi didalam semak-semak taman."
"Ya, dan saat itulah Sakura-hime muncul menolong Pangeran dan mengobati lukanya," sahut Ratu Kushina seraya tersenyum. "Bagi kami, itu adalah hal besar. Kau menyelamatkan Pangeran. Dan menjadikanmu sebagai calon pengantinnya adalah suatu kebanggaan bagi kerajaan."
"Gelang itu juga …" Raja Minato menatap gelang berlian dipergelangan tangan Sakura. "… bukan sekedar gelang berlian. Itu adalah gelang magis yang diciptakan oleh Raja pertama Konoha ―Raja Hashirama, yang merupakan penyihir terkuat kala itu. Jika seorang penyihir yang menggunakannya, maka kemampuan sihirnya akan menjadi berlipat ganda. Sementara, jika manusia biasa yang menggunakannya, maka orang itu akan mempunyai kekuatan sihir yang sebelumnya tidak pernah dipunyai," jelas Raja Minato. "Karena itulah, tidak sembarang orang bisa memakai gelang itu. Tapi, melihat ketulusan Hime yang sudah menyelamatkan Pangeran, kami bisa mempercayakan gelang itu padamu."
Sakura tertegun mendengar penjelasan panjang Raja dan Ratu. Sudah ia duga sebelumnya kalau gelang yang ada ditangannya bukanlah gelang biasa. Tapi ia tidak menyangka, hanya gara-gara menyelamatkan seekor rubah kecil saja akan membawanya pada masalah rumit seperti ini.
"Tapi aku sama sekali tidak ingin menikah dengan Pangeran! Aku bukan penyihir seperti kalian. Dan aku masih sekolah, jadi mana boleh menikah!" seru Sakura.
"Huh, aku benci penolakan! Pokoknya kau harus menikah denganku, suka atau tidak suka, titik!" timpal Naruto.
"Apa? Enak saja! Mana bisa begitu?"
"Tentu saja bisa. Penyihir atau bukan, itu bukan masalah."
"Ya, tapi itu masalah bagiku! Kau pikir ini main-main, hah?"
"Kau tetap tidak bisa menolak, HI-ME!
"Tentu saja bisa, PA-NGE-RAN!"
"Tidak bisa!"
"Bisa!"
"Tidak bisa!"
"Bisa!"
"Tidak bis―"
"CUKUP!" teriak Ratu Kushina dengan suara menggelegar, membuat Naruto dan Sakura seketika menghentikan perdebatan dan merinding ketakutan melihat raut wajah Kushina yang tiba-tiba saja berubah menyeramkan.
'Y-ya ampun … apaan, tuh?' batin Sakura syok.
"Pangeran, berhenti menekan Sakura-hime. Dan Hime, kami berharap besar padamu. Seperti kata Pangeran, penyihir atau bukan, tidak masalah dalam kerajaan kami. Toh, dengan memakai gelang itu pun, sebenarnya tanpa kau sadari, kau sudah menjadi seorang penyihir meski bukan darah penyihir murni. Hime tetap bisa tetap menjalani kehidupan sebagai pelajar sampai lulus nanti karena ini masih termasuk dalam tahap pertunangan. Jadi, jika saatnya tiba nanti, pernikahan kalian akan diresmikan," ucap Ratu Kushina.
"Tapi bagaimana dengan masa depanku? Aku juga punya cita-cita. Mana bisa kalian seenaknya memutuskan sendiri!"
"Kami menjanjikan masa depanmu sebagai Puteri Kerajaan kami," jawab Raja Minato singkat.
"Tapi aku tidak ingin menjadi seorang Puteri Kerajaan manapun! Aku hanya ingin kalian mengembalikanku ke rumah dan … melepaskan gelang ini dariku!" seru Sakura kesal. Tanpa ingin berdebat lagi, ia pun beranjak keluar dari ruangan.
"H-Hime!" seru Matsuri. Namun Sakura tidak menghiraukannya. Setelah pamit sambil membungkukkan badan, Matsuri pun segera menyusul Sakura.
Raja dan Ratu tampak menghela nafas. Mungkin ini akan menjadi hal yang sulit bagi mereka. Namun keduanya tidak bisa menyerah secepat ini. Mereka harus bisa meyakinkan Sakura. Bagaimanapun, hal itu sudah menjadi ramalan besar dari Tetua Jiraiya-sama ―sang master Raja Minato, bahwa Sakura adalah jodoh yang tepat untuk Pangeran-nya.
"Ayah, Ibu … pokoknya aku tidak mau ditolak untuk yang kedua kalinya! Kalau itu terjadi, lebih baik aku tidak usah menikah saja. Aku ini seorang Pangeran, wajahku tampan dan aku dihormati. Mana bisa dipermalukan seperti itu! benar-benar tidak elit 'ttebayo!" ceracau Naruto seraya melangkah keluar diikuti para pengawalnya.
Raja Minato hanya bisa menatap kepergian putera mahkotanya itu tanpa bisa membantah. Ia mengerti bagaimana sebuah penolakan begitu menjadi sebuah paranoid tersendiri bagi Naruto. Bagaimanapun, Minato juga ikut bersalah.
Kushina terlihat memijat keningnya seraya menghela nafas. "Benar-benar rumit …" gumamnya.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Hime … sampai kapan mau mengurung diri terus?" Matsuri mengetuk-ngetuk pintu kamar Sakura dan terus memanggilnya.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri!" jawab Sakura tanpa beranjak dari tempat duduknya di kamarnya. Ia menangkupkan kedua tangannya diatas meja, menjadikannya alas bagi kepalanya untuk berbaring.
Sakura benar-benar tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran Raja Minato dan Ratu Kushina. Hanya karena menolong Naruto, masa harus menjadi calon isterinya juga? Balas budi, sih balas budi. Tapi tidak harus dengan menikah 'kan? Usianya masih terlalu muda untuk menikah. Semuanya sungguh sulit dipercaya.
Kembali, Sakura memandangi gelang berlian ditangannya. Ia menghela nafas panjang. Mereka bilang kalau gelang ditangannya adalah gelang magis. Manusia biasa yang memakainya akan mempunyai kekuatan sihir. Masa iya hal seperti itu bisa terjadi? Kalau memang benar, Sakura jadi penasaran, kekuatan sihir seperti apa yang kini didapatkannya.
"Hmm … mungkin aku bisa terbang seperti para penyihir di film-film." Sakura tiba-tiba saja bangkit dari kursinya dan matanya menyisir ruangan kamarnya yang luas. Akhirnya zamrudnya tertuju pada sebuah sapu di sudut kamar. Sepertinya Matsuri lupa tidak menyimpannya. Dengan sebuah senyum kecil, Sakura perlahan meraih sapu itu dan menaikinya.
"Um … ok, mungkin ini konyol, tapi siapa tahu benar-benar berhasil," gumamnya. Ia pun memegang erat gagang sapunya seraya memejamkan mata. "Terbang!"
Beberapa detik berlalu, namun tidak ada sesuatu terjadi. Sakura membuka matanya dan mendapati dirinya masih berdiri ditempat.
"Hmm … mungkin harus ada kalimat sihirnya, ya?" Sakura berpikir sejenak sebelum kemudian berseru. "Abrakadabra! Ayo terbang!"
Masih tidak ada yang terjadi juga. Sakura kembali menghela nafas.
"Gelang ajaib, ayo bawa aku terbang," bisiknya. "Abrakadabra! Simsalabim! Alakazam!"
Tetap tidak ada yang terjadi. Sakura mulai jengah. "Hah~ memang mustahil … seperti orang bodoh saja. Tidak bisa percaya begitu saja pada perkataan Raja. Bagaimanapun, ini pasti cuma salah satu dari bujukannya," keluhnya sambil mengembalikan sapu itu ketempatnya semula.
"Sekarang apa? Tidak mungkin aku terus-terusan di sini … harus cari car― Aaaahhh!" pekik Sakura kaget ketika dilihatnya Matsuri sudah berada disampingnya."
"Hime-sama."
"K-kau … b-bagaimana bisa?" Sakura tergagap dan menatap Matsuri kemudian bergantian pada pintu kamarnya yang kini sudah terbuka. Ia yakin kalau sudah mengunci pintunya tadi.
"Karena pintunya tidak menggunakan kunci segel sihir, jadi aku bisa dengan mudah membukanya dari luar tanpa menggunakan kunci biasa," jelasnya sambil tersenyum, sementara Sakura masih terbengong-bengong.
"T-tapi bagaimana caranya?"
Sekali lagi Matsuri tersenyum. "Tentu saja dengan menggunakan sihir. Seperti ini …"
SYUUUTT!
Tiba-tiba saja butiran pasir keluar dari tangan Matsuri. Butiran itu membentuk padat menjadi sebuah kunci dan bergerak menuju lubang pintu. Sesaat kemudian terdengar bunyi 'klik' sehingga pintu kembali terkunci. Sakura terperangah.
"H-hebat!"
Matsuri hanya tersenyum simpul. "Aku menggunakan elemen pasir sebagai sihir. Tapi kemampuanku masih jauh dari hebat. Kalau Hime-sama ingin tahu, Gaara-sama jauh lebih hebat dan keren!"
"Gaara-sama? Siapa?"
"Dia adalah master elemen pasir sekaligus guruku," jelas Matsuri dengan wajah yang tiba-tiba merona.
Sakura hanya mengangguk kecil. Pasti ada banyak penyihir hebat didalam istana besar ini.
"Sebelumnya, saya minta maaf,karena lancang masuk kedalam kamar yang terkunci. Tapi, saya mengkhawatirkan Hime-sama. Saya tahu Hime-sama masih merasa tertekan. Saya hanya ingin mencoba menghibur …"
Mendengar perkataan Matsuri, Sakura jadi sedikit tersentuh.
"Tapi ini semua benar-benar tidak masuk akal! Mana mungkin 'kan aku menikah dengan Pangeran kuning itu. Aku bahkan tidak mengenal dia."
Matsuri terkikik pelan. Ia pun merapikan rambut Sakura yang agak kusut. "Saya mengerti kalau Hime-sama merasa asing. Semua perlu waktu, jadi Hime-sama tidak perlu khawatir. Saya yakin, lambat laun Hime-sama akan menemukan pesona Pangeran Naruto."
"Pesona apa? Kau sendiri tadi lihat 'kan sikapnya seperti itu."
Lagi-lagi Matsuri tersenyum. "Um … daripada itu, bagaimana kalau kita jalan-jalan pagi disekitar istana? Hime-sama pasti akan menyukainya, ne?"
Sakura sesaat tampak menimbang. Mungkin jalan-jalan pagi ide yang bagus untuk menghilangkan kekesalan dalam hatinya. Siapa tahu juga ia bisa menemukan pintu keluar istana, bukan? Seperti kata peribahasa, sambil menyelam minum air.
"Baiklah. Tapi … bisa aku mengganti pakaian? Rasanya risih."
"Sayang sekali, Hime-sama harus memakai gaun seperti ini didalam istana."
Sakura hanya bisa mendengus pasrah. "Benar-benar merepotkan …"
"Hihi … Hime-sama jadi mirip seperti Shikamaru-sama."
"Siapa lagi?"
"Master bayangan. Shikamaru-sama sering berkata seperti itu pada sesuatu yang tidak disukainya."
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Matsuri pun mengajak Sakura keluar dari kamar untuk jalan-jalan. Beberapa pengawal istana yang berpapasan dengan mereka spontan langsung menghentikan langkahnya lalu membungkukkan badan untuk penghormatan. Jujur saja, Sakura merasa tidak nyaman diperlakukan sedemikian rupa.
Beberapa menit berlalu begitu saja. Banyak ruangan istana yang Sakura lalui. Meskipun tidak bisa Sakura lihat satu-persatu, namun ia yakin banyak ruangan yang menarik. Seperti ruang perpustakaan yang besarnya seukuran rumah Sakura, bahkan lebih besar lagi. Rak-rak tinggi menjulang hamper menyentuh langit-langit dengan dipenuhi ribuan buku. Lampu Kristal raksasa menggantung indah tanpa penyangga apapun. Cahayanya berkilau begitu mewah. Ditambah dengan dinding mozaik yang mengkilat, memberi kesan artistik yang hebat. Buku-buku melayang kesana kemari tanpa harus meraihnya dengan tangan. Ia bergerak dengan sendirinya menuju sang pembaca. Tentu saja dengan menggunakan kekuatan sihir.
Semuanya membuat Sakura begitu takjub. Baru kali ini ia melihat pemandangan sehebat itu. ia jadi ingin menunjukkannya pada Ino. Sudah pasti sahabatnya itu akan sama terpesonanya pada tempat menakjubkan ini.
Bicara tentang Ino, Sakura jadi penasaran apa yang tengah dilakukannya saat ini. Mungkin ia sedang belajar Matematika bersama Danzou-sensei yang galak. Mungkin Ino juga bertanya-tanya kenapa Sakura tidak masuk sekolah hari ini, terlebih lagi jika membayangkan bagaimana dengan orangtua Sakura saat menyadari kalau dirinya tidak ada di rumah.
Menit berikutnya, Sakura dan Matsuri sudah berada di taman belakang istana yang tak kalah indahnya. Tamannya sangat luas dan ditumbuhi berbagai macam pohon dan bunga cantik. Air mancur besar berada ditengah-tengahnya. Itu adalah taman yang menjadi pemandangan kamar Sakura.
Mengelilingi istana seluas ini cukup membuat kaki Sakura pegal. Padahal hanya baru beberapa bagian istana saja, belum seluruhnya mereka jelajahi. Beristirahat sebentar, Sakura duduk dibangku taman yang dirindangi pohon oak tua, sementara Matsuri terlihat berbincang dengan seorang maid lainnya.
"Ayo, Pangeran yang semangat, jangan loyo begitu!" seru seseorang dari seberang taman. Suara itu tentu saja menarik perhatian Sakura. Gadis itu bergerak mencari sumber suara.
Matanya membulat tatkala melihat si rambut kuning bersama pria berambut keabuan yang tengah sibuk dengan benda biru bulat yang berputar seperti angin didalam air. Sakura menyipitkan mata agar bisa melihat dengan lebih seksama. Matanya semakin terbelalak saat melihat ada dua pangeran yang sama berdiri berdampingan.
"Apa-apaan ini? Masa Pangeran kembar?" bisik Sakura tak percaya. Ia mengucek matanya beberapa kali.
"Gah, cerewet! Terima ini!" seru Naruto seraya melemparkan benda biru itu kearah sang pria.
BLAARR! Tanah disekitar mereka tampak berhamburan saat bola biru itu ditembakkan. Kepulan asap tipis mulai menghalangi pandangan.
"Serangan seperti itu masih terlalu lemah, Pangeran. Mudah sekali untuk dihindari bahkan oleh penyihir pemula," ujar sang pria.
"Berisik!" Sang Pangeran tampak kesal diremehkan seperti itu oleh sensei-nya. "Aku bosan latihan begini terus. Capek!" keluhnya.
"Ini baru beberapa menit latihan, masa sudah menyerah, Pangeran? Bahkan Pangeran belum berhasil menyentuhku."
"Masa bodoh, ah! Latihan ini membuat badanku pegal. Aku mau istirahat."
Mengabaikan sensei-nya yang kini tampak menghela nafas, Naruto beranjak menuju bangku taman yang berpayung. Para pelayan pribadinya segera mengipasinya dan memberikan minum. Hal yang membuat Sakura semakin terkejut adalah ketika satu dari kedua pangeran yang sama itu tiba-tiba saja menghilang, menyisakan kepulan asap putih.
"A-apa yang terjadi?" tanya Sakura bingung.
"Kenapa, Hime-sama?" tanya Matsuri sekembalinya dari perbincangan bersama seorang maid.
"Apa Naruto punya kembaran?"
"Hah? Apa maksud Hime?"
"Aku melihat dua orang pangeran tadi, tapi tiba-tiba saja yang satunya menghilang."
Matsuri kemudian terkekeh pelan.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak, tidak, Hime-sama. Pangeran tidak kembar, kok. Yang Hime lihat barusan pasti kloningnya."
"Kloning?" Sakura semakin tidak mengerti.
Matsuri mengangguk. "Setiap latihan, Pangeran selalu berlatih menggunakan kloningnya untuk menciptakan kekuatan sihir. Kloning itu sama saja dengan bayangan nyata Pangeran, namun bisa hilang dengan kondisi tertentu."
Sakura tampak tertegun. Ternyata ada juga hal yang seperti itu? Dunia sihir benar-benar aneh dan tak henti-hentinya membuat Sakura tercengang.
"Untuk apa Pangeran berlatih?"
"Untuk pertahanan diri tentu saja. Pangeran merupakan bakal calon Raja. Sudah menjadi kewajiban baginya untuk melatih kemampuan sihirnya. Bagaimanapun, Pangeran nantinya akan bertanggung jawab atas istana juga rakyat Konoha. Menjadi seorang Raja tidak hanya harus piawai, namun juga harus kuat, bukan?"
Sakura hanya mengangguk pelan.
"Wah, wah, ada Matsuri dan Tuan Puteri rupanya. Selamat pagi …" sapa sang pria berambut keabuan ketika menyadari kehadiran dua gadis itu. Ia lalu membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Kakashi-sama. Saya sedang mengajak Tuan Puteri jalan-jalan," sahut Matsuri.
"Begitu?" Pria bernama Kakashi itu tersenyum lalu menatap Sakura. "Salam hormat, Hime-sama. Saya Hatake Kakashi, guru latihan Pangeran."
"S-salam kenal juga, Hatake-san," jawab Sakura canggung. Ia membungkuk kikuk.
Naruto yang tengah bersantai dikursinya merasa terusik dengan suara dibelakangnya. Ia pun beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Sakura, Kakashi dan Matsuri.
"Oh, ada kau rupanya? Sedang apa disini?" tanyanya pada Sakura.
"Bukan urusanmu," jawab Sakura ketus. Wajah Naruto tampak kesal.
"Aku tahu, kau pasti sengaja kemari untuk melihatku latihan 'kan? Ayo mengaku saja!"
"Tidak juga. Lagipula kalau latihannya begitu mana bisa kuat," cibir Sakura. "Pasti banyak istirahatnya dibanding latihannya."
"Nggak, kok! Aku ini 'kan sudah hebat, jadi latihan sebentar saja sudah cukup. Terlalu memforsir tubuh itu tidak baik."
Sakura melongo mendengar jawaban santai Naruto. Kakashi hanya geleng-geleng kepala sementara Matsuri tersenyum kaku.
Tiba-tiba sebuah seringai tipis muncul diwajah Sakura. "Hm … hebat, ya katamu? Kalau begitu, ayo kita duel!" tantangnya penuh percaya diri.
"Haaahh?" Naruto, Kakashi juga Matsuri terperangah mendengar kalimat Sakura.
"H-Hime!" Matsuri tidak percaya.
"Bagaimana? Berani tidak?" Sakura tersenyum.
"K-kau gila!" seru Naruto.
"Kenapa? Karena aku perempuan jadi tidak berani?"
Naruto tampak gugup. "B-bukan begitu. Kau 'kan tidak punya kekuatan sihir. Walaupun kau memakai gelang sihir itu, tapi kau 'kan belum tahu kekuatan apa yang akan kau dapatkan, jadi bagaimana mau melawanku?"
Sakura tersenyum mendengarnya. Ia menekuk sebelah siku tangannya. "Tentu saja dengan tanganku sendiri. Begini-begini aku juga belajar bela diri, tahu!"
"Apa? Maksudmu dengan tangan kosong begitu? Jangan bercanda, deh!"
"Huh, bilang saja kalau kau takut."
"Apa? Enak saja! Aku sama sekali tidak takut! Apalagi kalau cuma melawan manusia biasa sepertimu."
"Kalau begitu ayo buktikan!"
Naruto tampak menggigit bibir bawahnya ragu. Masa iya seorang Pangeran harus bertarung melawan perempuan? Rasanya kurang gentleman. Namun, ia juga tidak mau sampai dikatai Sakura sebagai seorang pengecut. Mau dikemanakan gelarnya sebagai Pangeran?
"Kalau kau terluka, jangan salahkan aku, ya!"
"Coba saja kalau kau bisa."
Wajah keduanya kini mulai berubah serius. Perlahan kuda-kuda pun siap dipasang.
"H-Hime-sama, Pangeran, kalian tidak boleh melakuka―"
Kalimat seruan Matsuri terpotong saat Kakashi menahannya untuk tidak menghentikan duel Sakura dan Naruto. Terang saja Matsuri menatap Kakashi horror.
"Kakashi-sama!"
"Biarkan saja, Matsuri. Ini akan menjadi tantangan pertama untuk Pangeran."
"T-tapi, bagaimana kalau Tuan Puteri sampai terluka? Baginda Raja dan Ratu pasti akan marah besar!"
Diluar dugaan, Kakashi justru malah tersenyum. "Aku rasa Tuan Puteri punya strategi sendiri. Kau bisa melihat bagaimana percaya dirinya wajah Tuan Puteri. Sekali-sekali Pangeran harus diberi sedikit tekanan agar tidak lagi menyepelekan latihannya."
Matsuri tidak mampu membantah lagi. Kalau Kakashi saja ―orang yang dipercaya Baginda Raja, sudah bicara seperti itu, apa boleh buat. Kalaupun sampai sesuatu terjadi pada Tuan Puteri-nya, Kakashi tidak mungkin hanya akan berdiam diri saja.
Matsuri menatap Sakura dan Naruto yang kini tengah bersiap dengan harap cemas. Ia sungguh tidak berani melihat kemungkinan yang akan terjadi di depan.
Bersambung …
Aku bersyukur akhirnya bisa update chapter 3 nya juga, setelah sempat mumet dengan tumpukan pekerjaan yang rasanya menekan dan gak ada beresnya =,= bikin nggak mood buat lanjutin fic. Begitu baca lagi review-an readers, aku jadi merasa terpacu buat segera bikin lanjutannya, meski bukan cuma fic ini aja yang harus segera dilanjutkan, hehe …
Mengenai karakter Naruto disini jujur aku agak bingung menentukannya, jadi aku simpulkan aja kalau karakternya agak manja, terutama dengan gelarnya sebagai Pangeran. Lalu kekuatan sihir Matsuri … karena aku tidak begitu hafal dengan ability-nya jadi aku pilih elemen pasir seperti Gaara agar tidak sulit dibayangkan, sehingga didukung dengan peran Gaara sebagai sensei-nya.
Ok, deh sekali lagi makasih buat yang masih mau lanjut baca maupun yang baru nemuin ini fic. :P
See u!^o^/
