:: :: ::

Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Rinzu15

Bab 4

"Berhati-hatilah, PUTRI." Naruto menyeringai saat tangannya terjulur ke depan. Sakura mencondongkan tubuhnya ke depan, bersiap dengan sihir apa yang akan dikeluarkan Naruto. Kakinya yang tertutup gaun panjang istana menjejak dengan erat.

"Sihir angin : pisau angin!" seru Naruto.

Mata Sakura membulat tatkala desing angin melesat cepat menuju sisi kiri wajahnya dan berhasil memotong sehelai rambut merah muda Sakura.

"Ck, meleset. Sial!" rutuk Naruto.

Matsuri tercengang. Tak menyangka kalau Pangeran kerajaannya benar-benar berniat melawan Sakura. Meski Kakashi bilang tidak apa-apa, Matsuri tetap saja cemas kalau sampai terjadi apa-apa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana akan marahnya sang Raja dan Ratu.

"Boleh juga." Sakura menyeringai. Ia pun mulai bergerak mendekati Naruto dengan tangan terkepal kuat. Tinjunya kemudian diarahkan pada wajah Naruto. Dengan cepat Naruto menghindar. Pukulan lain datang dari sisi kirinya, namun berhasil dihindari kembali. Pukulan-pukulan lain pun mulai menyusul dan berkali-kali Naruto mengelak tanpa diberi kesempatan untuk menyerang balik.

Naruto dibuat terkejut oleh kemampuan Sakura. Diluar dugaan, ternyata gerakannya begitu cepat meski gadis itu mengenakan gaun yang membuatnya sulit untuk bergerak bebas. Sepertinya Sakura memang terlatih dengan baik. Di dunianya, jarang sekali ada perempuan yang mempelajari ilmu bela diri seperti ini. Penyihir-penyihir perempuan biasanya lebih cenderung pada sihir-sihir yang tidak menggunakan kekuatan fisik. Pertama kalinya Naruto melihat perempuan yang tangguh seperti Sakura.

Terjadi serangan pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan Sakura pada Naruto. Berkali-kali juga Naruto nyaris kena pukul. Kakashi yang menonton di sisi taman tampak takjub.

"Kemampuan Tuan Putri ternyata tidak boleh diremehkan. Ia punya refleks yang bagus. Gerakannya cepat dan terarah. Meski dengan tangan kosong, Tuan Putri begitu berani."

Matsuri yang mendengar komentar Kakashi tidak menanggapi apa-apa. Ia masih menggigit bibir bawahnya. Wajahnya tampak begitu tegang.

"Sihir angin : Bola angin!"

Mendapatkan sedikit celah, akhirnya Naruto berhasil merapalkan sihirnya. Tiba-tiba muncullah sebuah bola biru berputar dari tangannya, sama seperti yang Sakura lihat sebelumnya. Gadis itu terbelalak. Di jarak yang sedekat ini, ia tidak akan sempat menghindar. Namun Sakura tidak mungkin pasrah begitu saja dan membiarkan bola biru itu melukainya.

Dengan selang waktu dua detik sebelum bola angin Naruto menyentuhnya, Sakura menjegal belakang lutut Naruto dengan kakinya sehingga sang pangeran otomatis kehilangan keseimbangan. Ia pun sedikit oleng sehingga bola biru yang siap diluncurkannya itu mengarah ke tanah dan …

BLAAARR!

Tanah diantara mereka berhamburan. Serangan bola angin itu berhasil membuat Sakura dan Naruto terjengkang akibat ledakannya.

"P-Putri! Pangeran!" seru Matsuri panik.

Kepulan debu merebak menghalangi pandangan sesaat. Terdengar suara terbatuk-batuk dari arah ledakan.

"Wow, nyaris saja!" Sakura mengucek matanya yang kelilipan debu. Gaunnya yang tadi rapi kini tampak lusuh dan kotor. Ia pun menatap lawan didepannya.

Keduanya bersitatap saat kepulan debu mulai menghilang. Nafas mereka terengah bersamaan dengan keringat yang mengalir dari dahi masing-masing. Matsuri menghela nafas, melepas ketegangan yang seolah mencekat tenggorokannya, sementara Kakashi tertegun, menatap takjub.

"Rupanya kau penyihir angin, ya?" tanya Sakura retorik. Ia menyibakkan rambutnya yang jatuh menghalangi wajahnya.

Naruto menatap lurus kearah Sakura, tampak kesal. "Beraninya kau menggagalkan sihirku …" geramnya pelan. Sakura hanya menyeringai.

Tiba-tiba saja Naruto merasakan cairan mengalir di pipi kanannya. Perlahan, tangannya pun mengusap cairan itu. Iris birunya melebar begitu melihat cairan berwarna merah itu kini membasahi jarinya.

Darah.

Ternyata serangan bola anginnya tadi tanpa sengaja berhasil membuat luka sayatan kecil di pipinya. Seketika itu juga wajah Naruto berubah pucat dan menatap Sakura horror.

"D-darah … DARAAAHH!" pekiknya kencang. Sakura, Kakashi dan Matsuri terkaget-kaget dan langsung menghampiri sang pangeran yang kini meringis menahan tangis.

"Pangeran tidak apa-apa?" tanya Matsuri cemas.

"Pipiku berdarah! Ayah, Ibu, Kakashi, Shizune, cepatlah! Huaaa …" serunya heboh. Sakura mengernyitkan kedua alisnya dan melihat lebih dekat luka Naruto.

"Tenanglah, Pangeran. Pipimu hanya tersayat kecil," ujar Kakashi setelah melihat lukanya.

"'Hanya' katamu? Bagaimana kalau lukaku ternyata berbahaya? Bagaimana kalau lukanya dalam? Bisa-bisa aku mati. Cepat panggil Shizune!" teriak Naruto lagi. Kini terlihat seperti anak kecil yang merajuk.

Kakashi tidak ingin berdebat lagi. Pangerannya akan terus meronta jika perintahnya tidak segera dituruti. Kakashi lalu menatap seorang pengawal di belakangnya. "Tolong cepat panggil Shizune."

Sang pengawal mengangguk lalu bergegas meninggalkan tempat menuju tempat Shizune, ―sang medis kerajaan. Para pengawal lainnya segera membantu Naruto berdiri dan menuju ke dalam istana.

Sakura benar-benar dibuat melongo untuk yang kedua kalinya melihat tingakah Pangeran Kuning di depannya. Hanya terkena luka kecil begitu saja, reaksinya sampai seperti itu.

"Apaan … cuma tersayat sedikit saja 'kan?" ucap Sakura. Kedua tangannya terlipat di dada.

"Pangeran takut melihat darah, Putri. Apalagi kalau darah itu keluar dari tubuhnya," jelas Matsuri.

"Haah?" Mata Sakura membulat.

"Begitulah. Makanya, agak sulit melatih Pangeran dengan ketakutannya seperti itu." Kakashi tersenyum kaku. "Kalau begitu, latihannya sampai disini saja. Tuan Putri tidak terluka 'kan?"

Sakura menggeleng. "Tidak. Aku baik-baik saja."

"Baguslah."

"Lalu … bagaimana kalau Baginda Raja dan Ratu tahu kalau Putri Sakura dan Pangeran bertarung?" tanya Matsuri takut.

"Jangan khawatir. Baginda Raja dan Ratu tengah keluar istana bersama Yamato dan Neji untuk urusan dengan para petinggi kerajaan. Aku yang bertanggung jawab atas istana saat ini." Kakashi tersenyum santai.

Matsuri tidak menanggapi. Ia hanya heran kenapa Kakashi bisa setenang itu padahal dirinya sudah dag-dig-dug sedari tadi, tidak bisa tenang.

"Baiklah, Tuan Putri, saya mohon pamit," ujar Kakashi seraya kembali tersenyum dan membungkukkan badan sebelum kemudian meninggalkan Sakura dan Matsuri.

Sakura menghela nafas pelan. Satu lagi ia mengetahui sifat sang Pangeran yang lain. Ia tidak menyangka kalau duelnya akan berakhir secepat ini hanya gara-gara luka sayat. Ia bahkan belum berhasil memberi pukulan telak. Padahal duel baru berlangsung beberapa menit saja.

Mungkin Sakura tidak tahu kalau saat ini seseorang disampingnya begitu lega karena duel mereka berakhir dengan singkat.

"Ayo, Tuan Putri, Anda harus segera berganti pakaian. Kotor sekali!" Matsuri segera meraih tangan Sakura dan menuntunnya kembali menuju kamarnya.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Sudah selesai. Tidak apa-apa, kok. Hanya luka ringan, Pangeran." Shizune tersenyum setelah selesai mengobati luka Naruto dengan sihir penyembuhnya.

"Benar? Wajahku tidak apa-apa 'kan? Lukanya sudah benar-benar hilang 'kan?" Naruto sibuk mengamati pipinya di depan cermin berkali-kali.

Shizune tertawa kecil. "Tentu saja. Luka kecil seperti itu sama sekali tidak akan berbekas, Pangeran. Jadi tidak usah cemas lagi."

"Bagus, deh! Kalau sampai berbekas bisa gawat. Mana ada pangeran yang wajahnya cacat? Bisa-bisa nanti disebut Pangeran Codet lagi," ujarnya. Shizune tertawa lagi. Pangeran satu itu memang lain daripada yang lain.

"Kakashi-san melatihmu dengan keras, ya?"

"Bukan, bukan itu. Tadi Sakura menjegal kakiku saat kami duel. Jadi, sihir yang tadinya akan aku lancarkan padanya malah meleset dan akhirnya menghantam tanah. Yah, sedikit kena pipiku, deh …"

"Heee?" Mata hitam Shizune membulat. "Pangeran … duel dengan Tuan Putri?" tanyanya tak percaya.

Naruto mengangguk. "Ya. Dan aku tidak menyangka, tenaganya kuat sekali padahal dia itu perempuan."

Sesaat kemudian Shizune tersenyum. "Jadi … Pangeran kalah sama Tuan Putri?"

"Apa?" Naruto seketika terlonjak. "Kalah? Yang benar saja! Kami berhenti karena ada kecelakaan kecil. Dia tidak berhasil membuatku mati kutu jadi mana bisa disebut menang!"

"Tapi bukankah Tuan Putri berhasil membuat Pangeran menghentikan pertarungan?"

"Yah … memang, sih. Tapi itu 'kan gara-gara kecelakaan." Naruto bersikeras.

Shizune hanya memutar bola matanya. Ia sudah hafal benar dengan tabiat tidak mau kalah sang Pangeran. Jadi wanita berambut hitam pendek itu tidak berkomentar lagi.

"Sepertinya Tuan Putri kita orang yang tangguh, ya? Um … menurut Pangeran bagaimana? Putri Sakura itu cantik, ya? Manis lagi."

Seketika Naruto jadi salah tingkah ditanya seperti itu. Ia mengalihkan pandangan dari Shizune. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Mana ada, kan perempuan tampan!"

"Haha … Pangeran ada-ada saja. Aku hanya ingin tahu pendapat Pangeran, apa Putri Sakura termasuk dalam kriteria Pangeran atau tidak. Tapi kalau aku lihat sepertinya Pangeran punya penilaian yang sama denganku, benar kan?" Shizune menyeringai.

"Tidak tahu, ah! Jangan tanya macam-macam, deh!" Naruto mengelak, masih tidak berani menatap Shizune. Entah kenapa ditanya begitu Naruto jadi malu sendiri.

Shizune terkekeh pelan. Ia senang sekali menggoda Naruto seperti itu, menurutnya lucu sekali. Meskipun sifat manja Naruto sering kali kelewatan, namun Shizune pun berharap sang pangeran bisa menemukan kebahagiaannya.

"Ya sudah, kau boleh pergi sekarang. Terima kasih atas pengobatannya," ujar Naruto.

"Baiklah, Pangeran." Shizune tersenyum menatap pangeran blonde itu sebelum kemudian pamit meninggalkan kamar Naruto.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Sakura berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang luas. Ia benar-benar bosan berada di kamar terus dan tidak melakukan apa-apa. Semua tatanan rambut yang tadi berantakan kini sudah rapi kembali. Sebenarnya Matsuri sudah menata rambutnya seperti semula, tapi Sakura yang tidak biasa didandani seperti itu akhirnya malah mencopot semua hiasan rambutnya dan membiarkan helai-helainya tergerai bebas, menurutnya itu lebih praktis.

"Aku tidak habis pikir ada pangeran yang seperti itu … tidak keren sekali."

"Hei, aku dengar itu!"

Sakura tersentak kaget ketika mendapati Naruto sudah berada di depan pintu kamarnya sambil berkacak pinggang dengan wajah masam.

"K-Kau!"

"Siapa bilang aku tidak keren? Hati-hati, ya kalau bicara! Kau ini tidak tahu, ya kalau aku ini termasuk salah satu model cover majalah sihir terkenal di Konoha? Sembarangan saja …"

"Hah? Apa tidak salah? Aku benar-benar tidak habis pikir …" Sakura mengusap dagunya.

"Kau jangan menghina, ya! Aku ini pangeran!" Urat-urat kekesalan mulai muncul di wajah Naruto.

"Memangnya kenapa kalau kau pangeran? Lagipula kalau benar-benar pangeran, seharusnya kan ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain. Dan … tidak akan menangis seperti anak kecil begitu …" Sakura terkekeh mengejek, membuat wajah Naruto merah karena menahan malu bercampur kesal.

"Huh, aku tidak perlu mengetuk pintu segala, aku ini kan pangeran, jadi terserah aku! Kau sendiri perempuan tapi bertenaga monster. Tidak anggun sekali!" balas Naruto dan berhasil membuat dahi Sakura berkedut.

"Apa kau bilang? Memangnya mana ada pangeran yang kalah cuma karena tersayat sedikit begitu!"

"Mana ada putri yang penampilannya berantakan begitu!" timpal Naruto.

"Oh, ya? Lalu, mana ada pangeran yang berteriak di depan putri!"

"Kau sendiri? Mana ada putri yang bicaranya keras begitu!"

"Grrrr …" Keduanya menggeram dan saling memberi tatapan tajam satu sama lain. Mereka tampak seperti kucing dan anjing. Sakura benar-benar semakin ingin segera pergi dari tempat ini. Kalau berlama-lama berada di istana ini, ia bisa meledak. Apalagi dengan sifat pangeran yang seperti ini.

"Lebih baik kau pergi saja sana!" dengus Sakura kesal.

"Apa? Kau mengusir pangeran? Itu tidak sopan! Kau harus dihukum!"

"Terserah! Kalau kau tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi!"

"Hah? Hei―!"

Tanpa mendengarkan seruan Naruto, Sakura bergegas keluar dari kamarnya. "Dasar pangeran menyebalkan!"

Setelah meninggalkan kamarnya, Sakura berjalan sendirian di koridor istana dengan perasaan yang masih dongkol. "Apa-apaan, sih pangeran kuning itu? Pakai bilang aku bertenaga monster segala lagi, memangnya aku ini Ultraman? Sikapnya itu seenaknya saja, mentang-mentang pangeran! Huh, lagipula aku ini, kan memang bukan putri, jadi tidak masalah aku mau berbicara keras atau penampilanku berantakan …" Sakura tampak cemberut. Ia menghentikan langkahnya lalu berdiri di depan sebuah jendela tinggi sambil menahan dagunya dengan kedua tangan. Matanya menerawang memandang pemandangan di luar jendela. Sakura menghela nafas. Ia sungguh merindukan tempat tinggalnya. Orang tuanya, teman-temannya, bahkan sensei-senseinya. Ia merindukan kebebasannya. "Bagaimana aku bisa pulang …?"

"Kyaaa!"

Tiba-tiba sebuah pekikan membuat Sakura terkejut dan membuyarkan segala pikirannya. Suara itu berasal dari sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempat Sakura berdiri sekarang. Sebelah pintunya tampak terbuka. Khawatir terjadi sesuatu, Sakura pun akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Ia berlari dengan panik.

"Ada apa?"

Seorang wanita muda berambut hitam pendek tampak berjongkok di lantai yang penuh dengan tanaman dan cairan hijau terang yang menggenang. Menyadari kehadiran Sakura, sang wanita terlihat terkejut dan segera berdiri. "Tuan Putri?"

"Ano … aku mendengar teriakan dan segera berlari ke sini. Apa Anda terluka?"

"Ah, begitu? Maaf sudah mengagetkan Putri." Wanita itu tersenyum lembut. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit ceroboh karena tidak sengaja menyenggol tube ramuan-ramuan obat saat akan menyimpan tanaman obat ini," jelasnya seraya menatap tanaman obat yang kini berserakan di lantai. "Aah … semuanya jadi tumpah begini … Sepertinya aku terpaksa harus membuat ulang ramuan-ramuan ini lagi …" Wanita itu kembali tersenyum tipis. Ia pun memunguti tanaman obat yang masih berserakan.

Sakura yang melihat hal itu jadi merasa kasihan. "Biar kubantu!" ujarnya. Sakura mengulurkan tangannya hendak membantu, namun segera ditahan.

"Tidak perlu, Putri. Biar aku saja yang membereskan semua ini."

"Tidak apa-apa, kok! Biarkan aku membantu. Bukankah akan lebih cepat selesai kalau dilakukan berdua?" Sakura bersikeras.

"Putri …" Sang wanita tampak tertegun mendengarnya. Sedetik kemudian ia tersenyum simpul. "Aku Shizune, tim medis istana ini. Terima kasih, senang sekali bisa bertemu dengan Putri," ucapnya.

"Ah, salam kenal, Shizune-san …" Sakura menundukkan kepalanya tanda hormat.

"Apa yang sedang Putri lakukan disini? Sendirian?"

Sakura mengangguk. "Aku hanya berjalan-jalan kecil, hehe …" ucapnya berbohong.

"Begitu? Kalau Pangeran tahu Putri disini dan memunguti tanaman obat bersamaku, dia pasti akan mengomel," ucap Shizune sambil terkekeh.

"Aku tidak peduli dengan omongan Pangeran. Memangnya salah kalau aku membantu?"

Shizune kembali tertawa. "Putri memang pemberani, ya? Aku dengar tadi pagi Putri duel dengan Pangeran, ya?"

"Shizune-san tahu?"

"Ahaha … tentu saja. Pangeran yang bilang padaku. Tadi dia merengek padaku minta segera diobati. Pangeran takut wajahnya punya bekas luka. Aku tidak percaya Putri melakukan hal itu." Shizune tampak menahan tawanya. "Ini benar-benar pertama kalinya, lho!"

"O-oh ya?" Sakura menggaruk kepalanya, tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan Shizune itu merupakan hal baik atau buruk. "Sebenarnya aku juga tidak menyangka sebelumnya kalau sihir Pangeran akan mengenai dirinya sendiri …"

"Yah … terluka dalam berlatih itu sudah biasa, bukan? Ini bisa jadi pelajaran yang baik untuk Pangeran."

"Hmm." Sakura hanya mengangguk kecil. "Ngomong-ngomong, Shizune-san ahli membuat ramuan sihir, ya?"

"Ahli? Ah, rasanya sebutan itu tidak pantas ditujukan padaku, Putri. Aku hanya biasa membuat beberapa ramuan yang umum dipakai, seperti ramuan penawar racun atau ramuan pemulihan tubuh."

"Wah, hebat! Apa Shizune-san bisa membuat ramuan awet muda juga?"

Shizune tampak tertegun sesaat mendengar pertanyaan Sakura. "Ahaha … kalau itu, sih hanya master yang bisa, Putri. Ramuan itu sangat sulit dan bahannya pun langka."

"Begitu, ya? Master Shizune-san hebat sekali! Aku jadi penasaran …"

"Master merupakan penyihir medis terhebat di dunia sihir saat ini. Sudah banyak yang disembuhkannya, bahkan beliau seringkali ditugaskan keluar kerajaan oleh Baginda Raja untuk menolong mereka yang terluka parah dan tidak bisa disembuhkan oleh medis lainnya. Master juga merupakan ahli medis khusus Baginda Raja dan Ratu sekaligus penasehat bersama Tetua Jiraiya-sama. Hanya saja Tsunade-sama orangnya sedikit galak, hihi …"

"Jadi namanya Tsunade-sama? Keren …!" Sakura tampak terpukau mendengar penjelasan Shizune. "Oh, iya, apa … para penyihir seperti kalian juga membuat ramuan sihir dengan menggunakan … um … yah, itu …"

"Itu?" Shizune memiringkan kepalanya tak mengerti.

"Um … maksudku … organ manusia?" ucap Sakura takut-takut.

Shizune menggeleng pelan, membuat Sakura menghela nafas lega. Setidaknya prasangka sebelumnya yang membuat ia cemas ternyata salah besar …

"Itu adalah peraturan yang dilarang di dunia sihir. Tapi … ada juga yang melanggar dan diam-diam melakukannya."

… atau tidak.

"A-apa?"

"Iya. Hal itu biasa dilakukan oleh para penyihir jahat yang ingin membuat umurnya panjang bahkan mungkin abadi. Selain itu ada juga yang menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan sihir."

"Mengerikan sekali!" Sakura jadi merinding mendengarnya. Dunia sihir selain menakjubkan ternyata juga menakutkan. Sudut mata Sakura menyadari perubahan raut wajah Shizune yang menjadi tampak murung. "Kenapa, Shizune-san?"

Shizune terlihat sedikit terhenyak. "Ah, tidak apa-apa, maaf …. Sepertinya sudah selesai, ya? Terima kasih sekali lagi, aku sungguh terbantu."

"Sama-sama, Shizune-san. Aku senang bisa membantu."

"Ternyata seperti yang kuduga, Putri orang yang baik dan menyenangkan. Aku senang orang seperti Putri menjadi Putri Kerajaan Konoha. Baginda Raja memang tidak salah memilih Putri."

Sakura jadi tampak malu dan salah tingkah. "A-ah … biasa saja, Shizune-san. Banyak juga yang menyebutku cewek kasar dan keras kepala." Sakura tersenyum kaku sebelum kemudian menunduk. 'Kau salah, Shizune-san … aku bukanlah orang yang akan menjadi Putri itu. Tempatku bukanlah di sini …' batinnya.

"Putri bisa mencuci tangan di wastafel di sana. Aku khawatir ada hama tanaman yang menempel di tangan Putri. Bagaimanapun tanaman obat tadi adalah tanaman liar."

"Hn, terima kasih." Sakura pun berjalan menuju sudut ruangan tempat wastafel berada. Ia mulai mencuci tangannya. Setelah bersih, ia pun mengeringkan tangannya. Tanpa sengaja, mata hijaunya melihat sebuah tumpukan buku di dekat rak ramuan-ramuan obat. Sakura jadi penasaran dan meraih buku itu, sementara Shizune tampak beranjak menuju kamar lain di dalam ruangan itu sambil membawa keranjang tanaman obat yang tadi mereka punguti.

"Macam-Macam Tanaman Obat Liar." Sakura membaca judul buku tebal itu. Ia terkejut begitu membuka buku tersebut. Tidak seperti buku biasanya, gambar-gambar di buku itu tampak timbul keluar, sama seperti gambar tiga dimensi yang disorot proyektor. Terlihat seperti aslinya. "Woow …" gumamnya seraya membalik halaman demi halaman selanjutnya. Ia pun beralih ke buku selanjutnya. Ada 'Kiat-Kiat Penyembuhan', 'Metode Pengolahan Obat yang Baik', dan 'Struktur Sihir Medis'. Keempat buku yang ada semuanya merupakan buku-buku medis, kecuali satu. Buku yang berada di tumpukan paling bawah diantara kelima buku yang ada. Buku itu tampak mencolok dan terlihat sangat kuno. Warna sampulnya coklat dan berlapis warna emas. Kuno namun artistik.

"Silsilah Kerajaan Konoha." Sakura pun membaca judul buku itu lalu kemudian membuka halaman pertamanya. Seperti buku-buku sebelumnya, di buku itu pun gambar ―atau lebih tepatnya foto, muncul seperti melihat orangnya secara langsung. Hal itu sedikit membuat Sakura terkejut. Bagaimanapun, melihat gambar orang berbeda dengan melihat gambar tumbuhan.

"Raja pertama Konoha … Raja Hashirama." Sakura bisa menilai kalau Raja Hashirama sepertinya orang yang tegas. Matanya sipit dengan rambut hitam yang panjang. Bisa Sakura lihat dibawah foto itu tertulis keterangan lengkap tentangnya. Anggota keluarganya, data pribadinya, jenis sihir yang dimilikinya bahkan biografinya. Sakura lalu membalik halaman demi halamannya secara acak. "Ah, ini Raja Minato. Benar-benar terlihat gagah dan berwibawa."

Mundur ke halaman sebelumnya, Sakura menemukan foto laki-laki yang mirip dengan Raja Minato. Hanya saja yang membedakan adalah warna rambutnya yang berwarna oranye. Sorot matanya juga terlihat begitu tajam dan dingin. Tidak ada keterangan apapun di bawah foto itu sama sekali. Di sana hanya tertulis namanya saja.

"Namikaze Yahiko …"

"Putri?"

Sakura tersentak begitu mendengar suara Shizune. "I-iya?"

"Sudah selesai?" tanya Shizune yang telah kembali dan kini menghampiri Sakura.

"Y-ya, begitulah …" Dengan cepat-cepat Sakura segera mengembalikan buku itu ke tempat semula. "Aku rasa aku harus segera kembali sekarang, Shizune-san."

"Ah, baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah membantuku hari ini. Kapan-kapan berkunjunglah lagi. Putri bisa menemuiku kapan saja. Aku akan senang sekali kalau kita bisa berbincang-bincang lagi."

Sakura mengangguk dan tersenyum. Setelah berpamitan, Sakura pun meninggalkan ruangan Shizune. Ia jadi bertanya-tanya tentang 'Namikaze Yahiko'. Nama keluarganya sama dengan Raja Minato. Mungkinkah ia keluarga Raja Minato. Tapi kenapa tidak ada keterangan sama sekali di sana?

"Aduh, kenapa aku jadi memikirkannya? Itu, kan sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Sudahlah, masa bodoh, deh!" Sakura menggumam sendiri.

"Tuan Putri!" seru seseorang yang kini berlari menuju Sakura.

"Matsuri?"

"Ya ampun, Tuan Putri, baru saja kutinggal sebentar, lagi-lagi Tuan Putri sudah menghilang. Tuan Putri benar-benar membuat saya cemas!" Matsuri tampak terengah.

"Maaf, Matsuri …" Sakura menggaruk pipinya. Matsuri hanya menghela nafas.

"Tuan Putri, kenapa tatanan rambutnya dilepas?"

"Rasanya merepotkan. Kepalaku seperti sulit digerakkan."

Matsuri mendesah pelan. "Tuan Putri harus terbiasa mulai sekarang."

"Ngomong-ngomong, Naruto sudah keluar dari kamar, kan?"

"Hah? P-Pangeran?"

"Tidak. Bukan apa-apa, kok …" Sakura mulai berlari kecil meninggalkan Matsuri.

"Tuan Putri?" seru Matsuri lalu mengejar Sakura. Sepertinya Matsuri juga harus terbiasa dengan Sakura mulai sekarang.

Bersambung …

Akhirnya bisa update jugaaaaa …! TToTT (#sujud syukur). Maaf banget atas keterlambatannya, minna-san! Doakan diriku supaya idenya dilancarkan biar bisa update tepat waktu… hehe

Special thanks to :

Fujimoto Michi 'Blue

gui gui M.I.T

Amai Yuki

Shu 2022

Lady cha'py Cherry Blossoms

nona fergie

NSL

Lisa Larasati

Masahiro 'Night' Seiran

Miyoko Kimimori

Guest

heryanilinda

PurpleTurqoiseYagami

Review kalian sangat berarti buatku!^o^b

Menjawab beberapa pertanyaan dari kalian …

Mengenai GaaMatsu aku belum tahu apa akan ada scene untuk mereka berdua atau tidak, hehe…

Lalu, mengenai pria pihak ketiga aku belum bisa memastikannya. Yang pasti aku rasa bukan Gaara orangnya, gomen…

Akan ada beberapa konflik di sini. Tentang penolakan yang dialami Naru, juga tentang masa lalu Kerajaan akan diceritakan nanti, termasuk sihir yang akan dimiliki Saku. Mungkin tebakan kalian sama dengan apa yang aku pikirkan, hehe…

Flashback waktu Naru diselametin Saku akan aku pertimbangkan, tapi aku nggak bisa janji akan memunculkannya^^ Dan sesuai rikues Night, aku tidak lagi menggunakan kata 'Hime' buat Saku, hee…

Ok, makasih banget buat yang masih mau lanjut baca. Gomen kalau ada salah-salah…

See u!