:: :: ::

Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Rinzu15

Bab 5

"Perkenalkan, Tuan Putri, saya Tayuya. Atas permintaan Yang Mulia Ratu, mulai sekarang saya ditugaskan untuk menjadi guru pembimbing Tuan Putri. Dengan begitu, Tuan Putri diharapkan bisa menjadi sosok yang memiliki charisma dan dikagumi oleh rakyat Konoha nantinya …"

Sakura memandang bosan wanita berambut dark pink dihadapannya. Sudah satu jam yang lalu Sakura mendengarkan pelajaran paling membosankan dan membuatnya ngantuk setengah mati, lebih buruk dari pelajaran sejarah di sekolahnya. Sedari tadi Tayuya sudah menjelaskan bagaimana dan apa itu tata karma dan sopan santun ala bangsawan kerajaan. Bagaimana cara berbicara yang baik, cara memberi salam, cara berjalan yang anggun, dan banyak hal lainnya yang Sakura pikir terlalu merepotkan dan tidak praktis. Dan yang membuat Sakura malas mendengarkan adalah kalimat Tayuya yang sedari tadi diulang-ulangnya : 'Semua harus dilakukan secara anggun'. Anggun, adalah kata yang sangat bertolak belakang dengan karakter Sakura, tentu saja, karena ia akui ia bukanlah tipe cewek yang seperti itu. Dan disini, di sebuah ruangan besar yang katanya dinamakan ruang belajar, wanita yang memiliki warna rambut unik seperti dirinya itu mengajarkan hal yang paling tidak disukai Sakura.

Berkali-kali Sakura menguap dan mengetuk-ngetukkan kaki maupun jari tangannya, berharap sang guru pembimbing itu mengerti bagaimana membosankannya apa yang tengah diterangkannya itu. Namun alih-alih mengerti, Tayuya sama sekali tidak menghiraukannya. Entah ia tidak menyadari atau memang pura-pura tidak menyadari.

Apa yang dilakukan Ratu juga semakin berlebihan, padahal Sakura sudah menolak dari awal untuk menikah dengan Pangeran kuning itu. Sudah berkali-kali Sakura menegaskan bahwa ia bukan seorang putri, namun Raja dan Ratu malah bertindak secara sepihak dan terus mendesak Sakura. Yang lebih parahnya lagi, Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan Sakura pulang sampai gadis itu menyetujui pertunangan mereka.

Semuanya benar-benar gila!

Tayuya mulai asyik dengan pelajaran dansanya. Perlahan ia menggerakkan badannya setelah memainkan sebuah musik. Bergerak ke kiri dan ke kanan, berdansa sambil bernyanyi kecil dengan mata tertutup, menikmati alunan musik. Saat perhatian Tayuya lengah, tanpa berpikir panjang lagi Sakura mulai beranjak pelan dari kursinya dan menyelinap keluar. Sakura kabur secepat kilat menuju ke taman belakang istana. Beruntung keadaan di sana sepi sehingga Sakura bisa merasa sedikit tenang. Sejenak ia menyandarkan punggungnya ke dinding istana dengan tangan memeluk lututnya. Ia menatap awan putih yang bergerak pelan di atas langit biru siang itu. Disaat seperti ini biasanya Sakura tengah menghabiskan waktu bersama teman-temannya sepulang sekolah, sekedar jalan-jalan, makan siang bersama atau mampir ke rumah Ino dan bercerita macam-macam.

Sakura menghela nafas. Betapa ia merindukan hal itu. Sementara di tempat ini, ia hanya berkutat dengan bermacam aturan dan bujukan Raja dan Ratu. Beberapa kali Sakura mencoba untuk kabur tapi selalu saja gagal. Tapi ia belum mau menyerah. Bagaimanapun, ia tidak mungkin selamanya berada di tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Berbekal tekad itu, ia pun kembali bersemangat. "Mungkin kali ini aku akan berhasil. Masa iya Tuhan tidak melihat usahaku …" gumamnya seraya berdiri dan melihat sekitar. Ia harus bergerak cepat karena ia tahu sebentar lagi istana akan ramai saat Tayuya menyadari kalau dirinya sudah tidak ada di dalam ruangan. Setidaknya kali ini Sakura sudah bisa memperhitungkan bagaimana pengawasan di dalam istana. Dan mungkin ini adalah salah satu kesempatan langka. Ia tahu kalau Neji, penyihir yang memiliki kemampuan melihat yang ajaib itu sedang tidak ada di istana, dengan begitu mungkin usaha pencarian akan sedikit melambat. Sakura harus memanfaatkan hal ini. Setidaknya sekarang, setelah kurang lebih lima hari ia berada di istana, Sakura mulai sedikit hafal beberapa bagian istana, meski belum sepenuhnya karena saking luasnya.

Setelah memastikan sekitarnya aman, Sakura mulai bergerak. Kali ini mungkin ia bisa menemukan pintu keluar dengan mudah karena ia berada di luar istana. Dan Sakura yakin, seberapa luasnya halaman istana, pasti ia bisa menemukan pintu gerbang keluarnya.

Dengan perasaan berdebar-debar, Sakura berlari sambil mengendap-endap. Ketika ia melihat sebuah jalan panjang yang terbentang lurus di depannya, bukan main senangnya hati Sakura. Tidak salah lagi, ia melihat pintu gerbang yang besar. Sakura seperti menemukan sebuah oase di tengah teriknya padang pasir. Ia semakin bersemangat melihat jalan keluar yang ada di depannya. Namun ada satu permasalahan lagi, bagaimana ia melewati dua orang pengawal istana yang tengah berjaga di depan gerbang itu?

Sakura mendecih. Bagaimanapun ia harus mencari cara agar bisa lolos tanpa diketahui pengawal istana.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Bagaimana ini, Baginda? Sudah lima hari tapi Putri Sakura belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyetujui pertunangan ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kushina mulai merasa cemas.

Minato tampak memegangi dagunya dan berpikir. Sesungguhnya ia pun hampir kehabisan ide untuk membujuk Sakura. Di sisi lain, ia tidak mungkin menyerah dan membatalkan pertunangan. Aturan tetaplah harus dilaksanakan; wanita yang telah menolong Pangeran, maka orang itu akan menjadi calon pengantinnya. Sebelumnya, hal ini pun telah terjadi, namun kali ini berbeda cerita. Ia tidak mungkin membatalkannya kali ini karena ramalan Tetua Jiraiya yang mendasari pertunangan ini tidak boleh diabaikan. Jika dilanggar dan memilih perempuan lain, bukan tidak mungkin hal itu akan menimbulkan sesuatu yang buruk bagi kerajaan. Bagaimanapun banyak wanita yang begitu mendambakan menjadi seorang putri namun dengan niat jahat dibaliknya. Sementara itu, Minato juga tidak bisa meminta nasehat dari Jiraiya secara langsung, karena Jiraiya biasa berkelana keliling negeri selama beberapa lama, bahkan bisa sampai bertahun-tahun. Karena itulah, saat meminta ramalan langsung dari Jiraiya amatlah sulit. Ramalan yang dipercaya terbukti selama ini dan begitu sakral.

"Mungkin memang belum cukup waktu. Aku pikir Putri harus menghabiskan waktu lebih banyak dengan Pangeran. Kita harus mengatur hal ini. Banyak orang jatuh cinta karena mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Kuharap dengan begitu lambat laun hati Putri bisa luluh."

Kushina mengangguk-angguk setuju. Matanya pun kemudian tertuju pada sang Putra Mahkota yang kini tengah duduk dihadapan mereka sambil memainkan bola angin ditangannya. Kushina tampak mengernyit.

"Pangeran, kau juga harus melakukan sesuatu. Buatlah Putri Sakura jatuh cinta padamu agar pernikahan ini bisa secepatnya dilakukan," ujar Kushina.

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanyanya setengah acuh.

Kushina memijat keningnya. "Ya, lakukan apa yang seharusnya laki-laki lakukan! Kau harus berhenti bersikap manja dan kekanak-kanakkan seperti ini. Bujuk Putri Sakura dan yakinkan kalau dia begitu beruntung memiliki suami sepertimu. Tanggung jawab kerajaan cepat atau lambat akan berada dipundakmu. Ayahanda dan ibu sudah tidak muda lagi, Pangeran! Memang usia para penyihir seperti kita lebih panjang dibandingkan dengan manusia biasa, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Meskipun beberapa penyihir memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, namun itu juga tidak sepenuhnya berjalan lancar. Terkadang ada hal-hal yang terjadi diluar kemampuan para penyihir, bagaimanapun kita bukanlah Tuhan…" Kushina mulai kembali dengan nasehatnya yang panjang, membuat Naruto semakin bosan. Ia pun mulai mengalihkan pandangan ke arah jendela besar di ruangan sang Raja itu. Mata birunya tiba-tiba membulat tatkala melihat sesuatu diluar sana. Perlahan ia pun mulai bangkit dari duduknya.

"… kau mengerti, kan, Pangeran?"

Tanpa menghiraukan pertanyaan sang ibu, Naruto justru malah beranjak meninggalkan ayah dan ibunya tanpa pamit, membuat Raja dan Ratu tidak habis pikir dengan sikap puteranya itu.

"Pangeran, kau mau kemana? Sungguh tidak sopan pergi ditengah pembicaraan begitu saja!" seru Kushina kesal.

"Kushina, sudahlah…" Minato mencoba bersabar dan menenangkan isterinya.

"Tapi, Baginda… Naruto itu pangeran. Dia harus bersikap layaknya seorang pangeran. Kalau seperti ini terus aku jadi cemas memikirkan masa depannya dan juga masa depan kerajaan ini. Dia sudah bukan anak kecil lagi…"

"Aku mengerti. Aku pun punya perasaan yang sama sepertimu. Tapi kita harus mempercayai Pangeran. Aku yakin dia akan berubah seiring berjalannya waktu. Kita sudah berusaha mengajari Pangeran segala macam, kini tinggal Pangeran sendiri yang menentukan jalannya, apa dia mau berubah atau tidak kita lihat saja…"

Kushina menghela nafas dan tidak mendebat lagi. Walaupun ingin mempercayai ucapan suaminya, dalam hati Kushina tetap saja merasa ragu.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Yaaayy! Akhirnya aku berhasil keluar juga!" Sakura berseru gembira. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sekali hembusan. Ia masih tidak percaya, setelah lima hari terkungkung di dalam istana, akhirnya kini ia bisa menghirup udara bebas juga. Sakura merentangkan kedua tangannya ke atas dan menggeliat pelan. "Hmmhh… aroma kebebasan. Aku benar-benar rindu!"

Kalau ditanya bagaimana Sakura bisa keluar dari istana tanpa ketahuan oleh para pengawal gerbang, jawabannya adalah karena ia menemukan jalan keluar lain yang bisa dibilang tidak terduga. Kalau memikirkan caranya tadi sebenarnya sangatlah beresiko. Sakura melewati jalan disisi istana yang mengarah ke gorong-gorong. Saat itu ia harus memberanikan diri menapaki jalan sempit selebar 20 cm yang dibawahnya terdapat kolam yang mungkin saja didalamnya dimasukkan beberapa ekor buaya. Sampai kemudian ia menemukan jalan kedalam gorong-gorong istana yang tingginya hanya 2 meter, gelap dan bau. Seperti yang sudah dikiranya kalau gorong-gorong itu mengarah ke luar istana. Memang cara yang buruk, tapi Sakura tidak peduli, yang penting sekarang dirinya lega bisa berhasil lolos.

"Pertama-tama harus mencari pakaian yang nyaman…" Sakura mulai berjalan menuju ke sebuah tempat yang tampak ramai. Banyak pedagang di sepanjang jalan . hiruk pikuk para pejalan kaki, pembeli, penjual, dan kereta-kereta pengangkut tampak memenuhi jalan itu. Sakura mengamati satu-persatu dagangan yang dijajakan diatas meja kayu. Buah-buahan, sayuran, kain, barang pecah belah, pedang, dan banyak sekali yang lainnya. Sakura pun menuju ke sebuah toko kecil yang menjual pakaian. Lonceng kecilnya berbunyi saat Sakura membuka pintunya.

"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang nenek bertopi rajut yang berpakaian serba panjang tersenyum ramah pada Sakura.

"Maaf, Nek, apa aku bisa menukar baju ini dengan baju yang ada di tokomu?"

Sang nenek yang bertubuh pendek itu tampak agak terkejut. Ia mengamati dengan seksama gaun yang dipakai Sakura. "Hmmm…"

Nenek itu tahu betul kalau gaun yang dipakai Sakura adalah gaun super mahal yang biasa dipakai para bangsawan atau putri-putri kerajaan. Beberapa menit sang nenek tampak menimbang, membuat Sakura merasa risih terus dipandangi seperti itu.

"Jadi, bagaimana? Bisa?" tanya Sakura mulai tidak sabar.

Sang nenek pun akhirnya mendongak dan menatap Sakura. Sesaat kemudian ia tersenyum lebar. "Ambillah yang kau mau, Nona."

Sakura tersenyum senang. "Terima kasih, Nek… um…"

"Namaku Chiyo," ucap sang nenek masih dengan senyumannya.

"Ah, Chiyo-baasan. Aku Sakura."

Setelah selesai mengganti pakaian yang merupakan baju terusan selutut berwarna merah dengan ikat pinggang dari kain berwarna putih, Sakura pun keluar dari toko setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Nenek Chiyo. Ia pun tak lupa mengenakan jubah bertudungnya dan bersiap untuk mencari jalan pulang ke rumahnya.

"Hmm… kemana arahnya, ya? Mungkin aku harus bertanya pada seseorang…"

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Suara teriakan nyaring Tayuya membuat seisi istana gempar. Wanita berambut sepunggung itu keluar dari ruangannya dengan wajah panik. Ia berteriak pada pengawal yang tengah lewat, "Tuan Putri menghilang! Tuan Putri menghilang!"

Dalam sekejap, para pengawal istana mulai berlari kesana kemari untuk mencari Sakura. Matsuri yang tengah membereskan gaun Sakura tampak terkejut saat mendengar berita sang putri yang lagi-lagi menghilang.

"Iya, saat aku tengah mengajarinya cara berdansa, begitu aku berbalik, Tuan Putri sudah tidak ada di kursinya," jelas Tayuya heboh.

"T-tenanglah, Tayuya-san! Kita cari di seluruh ruangan istana!" ujar Matsuri yang sebenarnya sama-sama panik. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya sang putri menghilang. Dan ini benar-benar membuat Matsuri khawatir.

"APA? PUTRI HILANG?!" Kushina terbelalak tak percaya ketika Yamato menghadap mereka. "Bagaimana bisa?"

"Sepertinya Tuan Putri kabur saat tengah belajar dengan Tayuya-san," jelas Yamato.

"Apa sudah dicari di seluruh istana?" tanya Minato.

"Para pengawal masih bergerak untuk mencari, Yang Mulia. Saat ini pencarian sedikit lamban karena tidak ada Neji-san yang dapat melihat seluruh bagian istana."

"Aku mengerti. Teruskan pencarian, aku yakin Putri ada di suatu tempat didalam istana ini," ucap Minato.

"Maaf, Yang Mulia, sepertinya tidak begitu…" Tiba-tiba saja Kakashi angkat bicara saat tiba dihadapan sang raja. Minato, Kushina dan Yamato kontan menatap Kakashi bingung.

"Apa maksudmu, Kakashi?" tanya Kushina.

"Saya rasa Putri pergi bersama Pangeran, karena Pangeran juga tiba-tiba menghilang. Saya tidak bisa menemukan aura sihirnya di dalam istana."

"Apa?" Mata Kushina kembali melebar. "Jadi, setelah tadi Pangeran dengan seenaknya keluar dan meninggalkan pembicaraan, sekarang malah pergi tanpa pamit dan tanpa pengawalan?"

"Kalau memang Pangeran bersama dengan Putri, kurasa kita tidak perlu terlalu khawatir," sahut Minato.

"Tapi, Baginda…!" Kushina mencoba memprotes, namun Minato segera menahannya.

"Kakashi, aku tugaskan kau untuk mencari Pangeran dan memastikannya baik-baik saja. Yamato, kau beritahu semua pengawal didalam istana untuk mencari Putri," perintah Minato.

"Baik, Yang Mulia!" jawab Kakashi dan Yamato bersamaan. Dalam sedetik, mereka pun telah menghilang dari ruangan.

Kushina menatap Minato dengan khawatir, "Memangnya tidak apa-apa hanya Kakashi saja yang mencari? Kalau memang Pangeran pergi keluar istana tanpa pengawalan, itu akan sangat berbahaya. Banyak para penyihir asing yang mungkin mengincar Pangeran! Apalagi dia membawa Putri juga."

"Tidak apa-apa. Kakashi adalah orang yang bisa diandalkan. Aku percaya dia akan segera menemukan Pangeran dan Putri. Lagipula bukankah Pangeran juga sudah sering keluar istana? Aku rasa ia bisa menjaga diri dan Putri dengan baik."

"Tapi itu berbeda, Baginda! Kali ini Pangeran pergi tanpa pengawalan!"

"Jangan cemas, mereka pasti akan baik-baik saja, percayalah…"

"Kuharap begitu…" Kushina hanya mendesah pelan.

Sementara itu dibalik pintu ruangan Raja, Matsuri tampak meremas apronnya. "Semoga Pangeran dan Putri baik-baik saja…" batinnya.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Huuh… kenapa tidak ada yang tahu Jepang sama sekali? Kalau begini bagaimana aku bisa pulang? Hari sudah mulai sore, bisa gawat kalau belum menemukan jalan. Aku tidak tahu daerah ini sama sekali…" Sakura menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Ia berdiri di tepi tembok tanpa pagar yang dibawahnya terbentang pemandangan laut yang biru cemerlang. Angin bertiup cukup kencang saat itu. Untung saja jubah panjang yang dikenakan Sakura membuatnya merasa cukup hangat. Suara burung-burung laut terdengar nyaring, sebagian terlihat terbang dan hinggap di atas tiang-tiang perahu besar.

"Hai, Nona, sendirian saja, heh?" Tiba-tiba seorang orang laki-laki tidak dikenal menghampiri Sakura. Sakura terkejut ketika melihat siapa orang asing yang kini tengah berjalan kearahnya diikuti oleh kedua temannya. Sakura mengernyit saat melihat ketiga orang di depannya. Wajah dan mata mereka tampak merah. Sesekali mereka mengeluarkan suara cegukan. Sebelah tangan mereka masing-masing memegang sebotol minuman. Sakura sudah bisa menebak bahwa mereka tengah mabuk. Bau alcohol begitu menguar menusuk hidung.

Sakura perlahan mundur sehingga punggungnya kini menyentuh tembok. Ia bisa mengira kalau hal ini akan buruk untuknya. "Pergi!" serunya.

"Oi, oi, jangan kasar begitu pada kami, Nona. Lebih baik kau ikut dengan kami dan bersenang-senang!"

"Sudah kubilang pergi! Aku tidak mau ikut bersama kalian!"

"Hmm… kalau kau menolak, maka kami akan memaksa," salah seorang dari mereka menyeringai dan mulai mendekati Sakura.

"Jangan macam-macam, ya! Kalian tidak mau, kan kalau sampai tinjuku ini melayang ke wajah jelek kalian?" ucap Sakura seraya mengangkat tinjunya.

"Haaahh?" Mereka menatap Sakura dengan pandangan meremehkan dan saling berpandangan satu sama lain sebelum kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Tidak usah bersikap sok jagoan begitu, Nona. Perempuan manis sepertimu tidak pantas mengacungkan tinju pada kami. Kau ini pantasnya melayani kami dan membuat kami puas, hahaha…" Seorang dari mereka mencolek dagu Sakura dengan genit. Terang saja hal itu membuat Sakura geram. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat.

"Sudah kubilang jangan macam-macaaam!"

BUUUGHHH!

Tinju Sakura akhirnya berhasil mengenai wajah laki-laki berambut putih yang mencoba menggodanya itu dan membuat sang laki-laki tersungkur beberapa meter. Kedua orang lainnya tampak terbelalak melihat hal itu; tak menyangka bahwa Sakura benar-benar akan menghajar teman mereka. "Suigetsu!" seru mereka bersamaan.

"K-kurang ajar!" ringis Suigetsu. Ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

"Sudah aku peringatkan sebelumnya, kan? Aku tidak main-main!" Sakura menatap tajam ketiga laki-laki di depannya.

"Berani sekali kau menghajar teman kami! Kau harus diberi pelajaran!" seru laki-laki berambut putih lainnya. Ia tampak mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya dan mulai menerjang ke arah Sakura.

"Cih, beraninya melawan perempuan, dasar pengecut!"

"Diam kau!" Laki-laki itu menusukkan pisau yang dipegangnya, namun Sakura berhasil menangkisnya sehingga pisau itu berhasil lepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Sakura pun menendang perut sang pria dengan keras, sehingga sang laki-laki itu terjengkang dan meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Sakon!" teriak laki-laki terakhir yang tersisa, ia tak percaya Sakura berhasil memukul dua orang sekaligus. Ia pun menatap lurus Sakura. "Kau sudah berbuat terlalu jauh, Nona… tidak bisa dibiarkan!" perlahan, pria berambut gelap itu merentangkan kedua tangannya kedepan. "Benang sihir!"

Sakura terbelalak saat sesuatu yang mengilat keluar dari jari-jari sang pria. "Penyihir?"

"Haha… memang. Kau tidak boleh meremehkanku! Sekarang kau tidak bisa berbuat macam-macam lagi. Tangan dan kakimu telah kuikat dengan benang sihir transparan milikku. Kau tidak akan bisa lepas!"

"Sial!" Sakura menggeliat dan meronta. Ia sama sekali lupa kalau kini dirinya berada di negeri penyihir. Tinju saja tidak akan cukup untuk melawan.

"Sekarang kau harus membayar apa yang telah kau lakukan pada kedua temanku, Nona…" Nafas sang pria itu menerpa wajah Sakura yang kini dipegangi olehnya. Sakura berusaha menjauhkan wajahnya dari pria genit itu. matanya mulai terpejam erat saat wajah pria itu perlahan semakin mendekat.

"Jauhkan wajah jelekmu darinya, Bodoh!"

Sang pria yang hendak mencium Sakura seketika terhenti dan menoleh pada suara di belakangnya. Tak disangka-sangka, begitu ia menoleh, sebuah bola biru yang berputar mengenai perutnya. Seketika itu juga tubuhnya terpental dan berputar-putar sebelum kemudian menghantam dinding dengan keras dan langsung tidak sadarkan diri.

Sakura dan dua pria lainnya terbelalak lebar melihat hal itu dengan mulut menganga.

"Yuura!" seru Suigetsu dan Sakon.

"Huh, amatiran sepertimu tidak pantas disebut sebagai seorang penyihir!" ucap laki-laki berjubah yang kini berdiri didepan Sakura. "Menggelikan." Ia menyeringai lalu menatap Suigetsu dan Sakon. "Apa yang kalian lihat, hah? Cepat bawa teman kalian itu dan pergi dari hadapanku kalau kalian tidak mau bernasib sama dengannya!"

Dengan gelagapan, kedua pria pemabuk itu segera membopong temannya yang terkapar di lantai dan segera lari tunggang langgang ketakutan. "Ampuni kamiii!" serunya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya sang laki-laki berjubah setelah memotong benang sihir yang mengikat tangan dan kaki Sakura.

"I-iya, terima kasih…" jawab Sakura ragu. Ia tampak penasaran dengan orang telah menolongnya ini. Wajahnya sama sekali tidak terlihat karena terhalang oleh tudung jubahnya.

"Heh, sebegitu inginnya kau pergi dari istana sampai melakukan hal bodoh seperti ini…" ujarnya.

"Apa?" Sakura tiba-tiba saja terkejut dan rasanya mengenali suara yang terdengar menyebalkan ini. Ia tampak mengerutkan kedua alisnya.

"Dengan ini kita impas. Aku tidak berhutang budi lagi padamu," ucap sang laki-laki seraya membuka tudungnya.

Mata Sakura membulat seketika, "Naruto?!"

"Kaget melihatku, Putri?"

"B-bagaimana bisa?" Sakura tampak tergagap; tak menyangka Naruto menemukannya. Padahal ia yakin tidak ada orang yang mengikutinya saat kabur dari istana.

"Aku melihatmu mengendap-endap di halaman istana saat aku ada di ruangan ayah. Karena kupikir mencurigakan, jadi diam-diam aku mengikutimu. Ternyata kau memang mencoba kabur, ya?"

"I-itu… aku…" Sakura merutuk dalam hati. Ia sama sekali tidak mengira akan hal ini. Padahal ia sudah berhasil keluar dari istana, sekarang malah tertangkap lagi. Dan kini ia tidak punya alasan untuk mengelak.

"Kau tahu, kau tidak mengenal daerah ini tapi kau malah nekat kabur. Kau mau jadi santapan para pria mesum tadi, ya?"

"Enak saja! Aku mana tahu kalau hal seperti ini akan terjadi! Kau sendiri, memangnya boleh seorang pangeran keluar istana tanpa pengawal begitu?"

"Aku ini pangeran, jadi aku bebas melakukan apapun." Naruto kembali pada sikap keras kepalanya.

'Lagi-lagi bicara begitu…' gumam Sakura. Padahal beberapa saat yang lalu, Naruto tampak begitu keren saat mengalahkan penyihir genit itu, sekarang sudah kembali lagi pada sifat aslinya.

"Sudahlah, lebih baik sekarang kau ikut denganku dan kembali ke istana. Mungkin sekarang seisi istana sedang sibuk mencarimu, haha…" Naruto terkekeh kecil.

"Hah? Tidak mau!"

"Apa?"

"Enak saja! Aku sudah susah payah keluar dari istana, mana mungkin aku kembali lagi ke sana!"

"Sudah kubilang, kan kalau aku benci penolakan. Sekarang kau harus ikut denganku!" Naruto mulai menarik tangan Sakura.

"Aku bilang tidak mau! Kalian tidak bisa seenaknya menahanku dan memaksaku untuk menikahimu hanya karena aku pernah menolongmu, berapa kali aku sudah tegaskan, bukan! Aku punya kehidupanku sendiri dan kau pun begitu. Aku merindukan tempat tinggalku, orangtuaku dan juga teman-temanku. Aku ingin kembali kepada mereka!"

"Tidak bisa! Aturan tetaplah aturan!"

"Dan lagi… bukankah seharusnya kau menikah dengan orang yang kau cintai? Bukan dengan aturan atau ramalan siapapun itu. Kau adalah pangeran, bukan boneka kerajaan…"

Tiba-tiba saja Naruto jadi terdiam dan menatap Sakura dengan mata membulat. Sesaat Sakura bisa merasakan pegangan tangan Naruto pada pergelangan tangannya sedikit melonggar. Dengan ragu Sakura menatap balik Naruto. Jujur, ekspresi Naruto membuat Sakura jadi ikut terdiam.

Apa Sakura sudah mengatakan sesuatu yang salah?

Setelah hening sejenak, perlahan Naruto mengalihkan pandangannya. Naruto berbalik dan kembali menarik tangan Sakura.

"H-Hei, lepaskan!"

"Diam dan ikutlah. Aku janji akan membawamu pulang ke tempat asalmu," ucap Naruto datar. Sakura kembali terkejut. Ia menyadari perubahan sikap sang pangeran. Suaranya tadi terdengar begitu dingin. Dan apa yang barusan dikatakannya? Naruto akan membawa Sakura kembali ke rumah? Apa pangeran kuning itu tidak salah bicara?

Tanpa berani bertanya apapun, Sakura akhirnya membiarkan Naruto membawanya kembali ke istana. Ucapan mengejutkan dari Naruto membuat Sakura bungkam. Ia masih belum bisa mencerna dengan baik kata-kata itu. Ia yakin tidak salah dengar meskipun Naruto mengatakannya dengan suara cukup pelan namun tegas. Rasanya sulit dipercaya.

Mereka saling terdiam dan suasana jadi terasa kaku. Sakura menatap punggung Naruto dengan penuh tanya. Ia sama sekali tidak bisa mengartikan perubahan ekspresi Naruto tadi. Baru kali ini Sakura melihatnya. Apa ia benar-benar sudah mengatakan hal yang salah?

Bersambung …

AN : Yaayy! Satu chapter lagi Alhamdulillah bisa aku update. Sebenarnya menulis bab ini tidak makan waktu lama, hanya 2 hari dari waktu update bab sebelumnya. Sungguh! (rekor, haha…). Tapi yang bikin lama adalah proses menimbangnya itu, saat itu aku masih mikir-mikir dan belum yakin untuk mempublishnya karena pikiranku masih berkelit untuk menentukan jalan cerita ke depannya supaya bisa nyambung dan berkaitan.

Um… sekedar memberi informasi, dengan sangat menyesal aku belum bisa meneruskan fic-fic-ku yang lain karena saat ini mood-ku sedang ada di fic yang ini. Tapi sebisa mungkin aku tidak akan membuat fic-ku sampai discontinued. Kalau sudah menemukan mood-ku kembali di fic-fic itu aku pasti akan segera mengerjakannya. (PR besar, hehe…)

Maaf kalau ada salah-salah dan terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fic-ku. Doomo Arigatou buat kalian yang mau mengapresiasi fic-ku dengan meninggalkan review.:D

Special thanks to :

linda cherry blossom (nama depanmu mengingatkanku pada nama manager-ku di tempat kerja, hehe…)

Miyoko Kimimori (wah, tidak sesuai perkiraan, ya? Hehe…)

heryanilinda (makasih, aku senang kalau kamu suka dengan fic-ku)

gui gui M.I.T (karena sifat Naru yang manja maka dia tidak mau terluka. Perubahan mimik Shizune akan terjawab nanti dan ada kaitannya dengan konflik di cerita ini. Hmm… Saku tentu saja ingin kembali ke dunianya dan dia belum punya cowok di dunianya.)

Amai Yuki (Yup, mengenai Yahiko nanti akan diceritakan :))

chakis (salam kenal juga! Terima kasih sudah me-review :D)

Lokkasena (Misteri Yahiko akan diceritakan nanti. Bukankah disini Naru bikin greget? Haha…)