Kuroko no Basuke Fanfiction
"Realm of Death"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai
A/N : Hola, Minna-san :D buat sebelumnya, arigatou buat reader-tachi yang udah ngefave ama follow cerita ini ya :* Buat pair di cerita ini, author pasti selalu buat AkaKuro kok~ jadi tenang aja tunggu tanggal mainnya mereka xD /plak/ mungkin ada beberapa side pairing juga seperti biasa, tapi side pairing bakal muncul sesuai ama ceritanya berlangsung XD
Happy Reading all,
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz
"Aku akan memenuhi permintaanmu dengan satu syarat."
"Apakah syarat yang harus kupenuhi?"
"Kau akan menjadi seorang 'Player' pada Realm of Death, tetapi, bila kau gagal untuk memenangkan 'Game' ini, Aku akan meminta nyawamu sebagai bayaran telah memasuki Realm of Death. Ingatlah, dari sekian banyak 'Player', hanya 1 orang pemenang yang berhak mendapatkan 'Wish'. Apa kau setuju?"
"… aku setuju."
"Kontrakmu telah kupegang. Dengan janji darah yang telah kau berikan padaku, aku akan menjadikanmu salah seorang 'Player'. Sekarang, sebutkanlah, Apakah 'Wish' yang kau minta dariku?"
"Permintaanku— Permintaanku adalah.."
.
.
O Father and Mother in Heaven.
The life that you give to me is a miracle, a wonderfull things in the world that I ever had.
But, not until you two left me in this world alone.
How should I fight in this world? What the meaning of my life without you two?
It is to Atone my Sins?
.
.
oOo Realm of Death oOo
xXx First Game xXx
.
.
Manik Baby Blue tersebut terbuka secara perlahan. Melihat pemandangan sekitarnya saat ini. Ia tidak mengingat kejadian apapun sebelum ia sampai di tempat ia berpijak. Tentang bagaimana ia mengikat kontrak untuk memasuki Realm of Death, maupun tentang bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.
Suasana disekitar ia berdiam begitu dingin, menembus kulit dari pemuda berkulit putih susu tersebut. Ia mengerjapkan matanya ketika melihat dirinya sendiri. Entah mengapa pakaian yang dikenakannya saat ini terlihat berbeda dari style-nya sendiri. Ia menggunakan sebuah pakaian formal, sebuah kemeja dengan coat hitam berlengan panjang dengan sulur-sulur garis putih menghiasi badannya saat ini. Celana kain berwarna hitam dengan sepatu boots hitam terpasang di bagian kakinya.
"Apakah ini Realm of Death?" Pemuda bersurai Icy Blue itu mengusap-ngusap tangannya, merasakan bulu kuduknya berdiri. Meski ia seorang diri ditempat tersebut, tetapi, ia merasakan beberapa orang—tidak, makhluk sedang melihat kearahnya dengan tatapan yang tajam. Seolah memperhatikannya dari jauh.
Akhirnya pemuda tersebut memutuskan untuk melangkahkan kakinya. Ia melihat begitu banyak tumbuhan yang telah kering dan mati berada disekitarnya. Kabut menjadi teman perjalannya sepanjang jalan itu. Saat ia melihat kebawah, ia tidak menemukan dirinya berpijak diatas tanah layaknya keadaan seperti di Bumi, tetapi ia melihat sebuah pantulan, seolah cermin yang memantulkan apa yang berada di atasnya.
Cantik, tetapi begitu sunyi, hampa, dan menakutkan.
"Hic..Hic..Hic.."
Pemuda beriris Baby Blue itu mendengar suara setelah beberapa menit ia berjalan. Meskipun ada rasa takut yang menghantuinya, tetapi ia mencoba untuk menyelidiki asal dari suara tersebut.
Ia membuka sebuah semak-belukar yang berada di depannya.
"A..Aominecchi!?" tanyanya pemuda yang tengah menangis tersebut. Sontak, ia melihat kearah semak-semak tersebut. Lalu, saat itulah manik Baby Blue dan Citrine bertemu dalam satu kilatan garis. Ia melihat sosok Pemuda bersurai Blonde yang tengah berjongkok di dekat rerumputan.
"Ah, maaf. Aku mendengar sebuah suara, makannya aku kesini."
Pemuda bersurai Blonde itu cepat-cepat menghapus air matanya. "Tidak apa-apa-ssu!" ucapnya dengan riang, berusaha menutupi bahwa ia telah menangis. Meskipun masih terdapat aksen yang menyembunyikan kekhawatirannya. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya disi—" Ucapannya terhenti ketika melihat sosok Pemuda yang berada didepannya, Matanya memandang Pemuda dengan surai Icy Blue tersebut dengan horror. "A—Apa kau 'Player'-ssu?"
Kuroko sempat terdiam ketika mendengar pertanyaan tersebut, tetapi ia menggangguk kecil.
"O—Oh, 'New Game' telah dimulai ternyata. Bagaimana ini, bila aku tidak bersama dengan Aominecchi.."
"New Game?"
"Ah, karena kau 'Player', makannya kau tidak mengetahuinya-ssu. Aku salah satu 'NPC' didalam Realm of Death. Namaku Kise Ryouta-ssu. Salam kenal, err.."
Melihat kecanggungan Kise, Kuroko langsung ikut berbicara. "Namaku Kuroko Tetsuya, Yoroshiku Onegaishimasu, Kise-kun." Kuroko menundukkan kepalanya dengan perlahan.
"A..Y..Yoroshiku-ssu!" Kise, yang melihat adat kesopanan Kuroko menjadi canggung, lalu segera menundukkan kepalanya juga.
"Kise-kun, apa yang kau maksud—"
Pertanyaan Kuroko kini terhenti ketika sebuah suara yang nyaring menusuk telinga mereka, sebuah Pekikan keras kini terdengar dari belakang. Sontak, mereka berdua kini melihat kearah suara itu berasal, lalu menemukan sebuah makhluk yang menyeramkan. Sosok tersebut menyerupai sosok manusia, tetapi bukan, terlalu jauh dari hal itu. Matanya melotot dengan darah merah yang bercucuran. Rambutnya bergelombang panjang, ia berjalan terbata-bata, seolah ingin menyentuh Kise maupun Kuroko.
"Kenapa terdapat Demonic disini!? Apa karena 'New Game' telah dimulai?" Panik Kise yang langsung memeluk Kuroko, berusaha melindungi Kuroko dari serangan yang dilancarkan oleh sosok tersebut. Mereka melompat dari tempat dimana mereka berdiri saat ini. Sebuah ledakan kecil mengenai tempat mereka. Bila, Kise tidak berpindah, mungkin keduanya akan terluka saat itu.
"Kurokocchi, kau bisa bertarung 'kan? Bantu aku mengalahkan Demonic ini-ssu."
"Eh? Tapi, Bagaimana caraku untuk bertarung, Kise-kun?"
"Cobalah menggunakan 'Equip Weapon', Kurokocchi. Setiap 'Player' pasti diberikan 1 senjata khusus untuk mereka." Kise kini melangkah maju. Ia mengeluarkan sebuah Twin Sword berukuran kecil dan mencoba untuk menyerang Demonic tersebut.
"Equip Weapon?" Kuroko kebingungan setengah mati. Bagaimana caranya ia mengeluakan senjatanya?
Beberapa kali ia melihat Kise menyerang Demonic tersebut. Namun kekuatan mereka sama seimbangnya. Saat Demonic tersebut menyerang Kuroko, pemuda tersebut mencoba untuk menghindar sebisanya sambil memikirkan cara untuk mengeluarkan senjatanya.
"Kurokocchi, Jangan bilang kau tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan senjatanya-ssu?"
"Aku tidak tahu, Kise-kun."
"Uhhh! B—Baiklah, selama aku menghadangnya, tolong temukan bagaimana mengeluarkan senjata itu secepatnya. Aku tidak bisa menahannya sendirian-ssu." Frustasi Kise sambil mengacak rambutnya sendiri.
'Berikanlah perintah pada hatimu untuk mengeluarkan senjata.' Suara itu tiba-tiba terdengar ditelinga , itu suara yang asing baginya, suara yang pertama kali didengarnya pada saat itu. Namun, ketika Kuroko hendak menanyakan siapa, suara itu telah menghilang. Seakan hanya muncul untuk memberikan sebuah petunjuk padanya.
"UGHH!" Kise berteriak ketika sebuah serangan mengenai dirinya. "Sial, kekuatanku menjadi sangat lemah bila tidak menjadi seorang 'Guardian'-ssu." Ia terkapar di permukaan saat ini. Seolah hilang minat dengan seorang Kise Ryouta, sosok tersebut kini melihat kearah Kuroko.
"Kurokocchi! Jangan sampai kau terkena serangannya-ssu! Dia kuat!"
Kuroko menelan ludahnya, ia harus mencobanya, atau ia akan mati saat ini juga. Pemuda bersurai Icy Blue tersebut menutup matanya. Ia menyerukan perintah untuk mengeluarkan senjata tersebut.
[Equip Weapon – Order Accepted]
Sebuah Hangun kini berada di tangan kanan Kuroko. Dengan segera Kuroko mengarahkan senjatanya untuk menyerang Demonic tersebut. Raungan kesakitan makhluk tersebut terdengar begitu jelas. Ia berteriak, tetapi sesuai dengan perkataan Kise, Demonic tersebut kuat.
Beberapa kali Kuroko mencoba menyerangnya. Entah mengapa tubuhnya terbiasa dengan pertarungan seperti ini. Padahal semasa hidupnya, Kuroko bahkan tidak pernah memperlajari bagaimana cara membidik menggunakan pistol sekalipun.
Pertarungan itu tetap berjalan, Kise yang mulai bangkit kini ikut menyerang Demonic tersebut. Hingga suatu ketika, serangan itu nyaris menyentuh Kise. Kuroko dengan cepat berlari kearahnya, membuat mereka berdua berguling ke sisi lain.
"Kau tidak apa-apa, Kise-kun?"
"K..Kenapa kau menolongku, Kurokocchi?"
"Kenapa? Karena kita teman, bukan?" Meskipun wajah Kuroko datar dan menunjukkan wajah yang tidak berekspresi sekalipun, Kise dapat merasakan bahwa pemuda yang berada didepannya ini adalah sosok yang baik.
"Teman? Aku—dan Kurokocchi?"
Kuroko mengangguk. "Tentu saja, Kise-kun."
Senyum kini muncul di rona wajah dari pemuda pemilik iris Citrine tersebut. Setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki seorang teman pertama. Seorang 'Player' yang mengakuinya sebagai sosok teman.
A First Friend.
"Dengan kekuatan kita saat ini, aku tidak yakin bila kita berdua akan menang, Kurokocchi. Maka dari itu, jadikanlah aku 'Guardian'mu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti."
"Eh? 'Guardian'?"
Kise melihat kearah Demonic tersebut. Ia kembali menyerang, tetapi Kuroko dan Kise berhasil menghindari serangan tersebut.
'Kurokocchi, panggilah 'Summon' dalam hatimu.' Kuroko terkejut, suara Kise terdengar begitu jelas di telinganya, padahal ia tidak melihat Kise berbicara saat itu. Kise hanya memandang Kuroko sambil tersenyum, mengedipkan sebelah matanya.
'Aku berbicara denganmu seperti ini agar tidak ada seorangpun yang mendengar kode milikku. Sekarang, Kurokocchi, 'Summon' lah diriku. Kise Ryouta. Spell namaku adala A, Code Activated : DXZ011.'
Meski Kuroko agak bingung, tetapi ia tetap melakukan hal yang Kise katakan padanya. Setelah ia selesai memasukan kode tersebut. Sebuah Cahaya kini bersinar di tubuh Kise.
[Summon – KISE RYOUTA Activated]
"Uwah! Kekuatanku kembali-ssu!" Kise kini melihat kearah tangannya. Perlahan tubuhnya kini melayang keudara. Senyum Kise kini merekah, melihat kearah Demonic tersebut. "Sekarang, kita akhiri pertarungan ini-ssu!"
- xXx -
"Jadi, 'New Game' adalah Phase dimana para 'Player' atau Manusia yang menginginkan sebuah permintaan pada 'Emperor', akan datang ke Realm Of Death. Seperti awal dari semuanya, ketika semua 'Player' masuk kesini, kami menyebutnya sebagai 'New Game'."
Kise kini sedang menerangkan tentang seluk beluk yang ia janjikan sebelumnya. Penjelasan yang Kuroko minta saat mereka melawan Demonic tersebut.
"Jadi, kami semua adalah 'Player' dalam dunia ini. Kalau begitu, Bagaimana denganmu, Kise-kun?"
"Hmm~ Aku adalah 'NPC' atau disebut juga sebagai 'Non-Player Character'-ssu. Apa Kurokocchi pernah bermain Tactic RPG (Role Playing Game) sebelumnya? Bila kau memainkannya, mungkin kau akan familiar dengan aturan main yang berada di Realm of Death ini."
Kuroko mengangguk kecil. Sewaktu ia masih kecil, ia pernah bermain salah satu Tactic RPG, jadi, yang Kise maksud, bahwa ia adalah karakter yang dikendalikan oleh sebuah system.
"Kami, para 'NPC' semua ditugaskan untuk menjadi seorang 'Guardian', sosok yang akan menjadi pelindung bagi 'Player' yang telah memasuki masa 'New Game'. Meskipun tidak semua 'NPC' bisa menjadi sosok 'Guardian'-ssu. Karena sangat mustahil bila 'Player' mencapai Phase 'End Game' dengan kekuatannya sendiri, maka 'Emperor' menciptakan kami, para 'NPC' untuk membantu kalian." Kise tersenyum kecil melihat kearah Kuroko.
"Apa Kise-kun sudah berada lama disini?"
"Mungkin sekitar 4 kali 'New Game'?" Pandangan Kise sesaat menjadi hampa, ia memperhatikan perapian kecil yang mereka buat untuk menghangatkan diri mereka dari malam yang dingin tersebut.
Melihat rona muka Kise yang kini menjadi murung, Kuroko lalu kembali bertanya. "Apa ada sesuatu hal yang terjadi antara 'NPC' dengan para 'Player', Kise-kun?"
Pandangan Kise kini beralih dari perapian dan menatap iris Baby Blue dari Kuroko.
"Kenapa Kurokocchi tiba-tiba bertanya seperti itu-ssu?"
"Karena pandangan mata dan wajahmu berubah, Kise-kun. Seolah menyembunyikan sesuatu."
Mendengar pernyataan terang-terangan Kuroko pada saat itu, senyum kecil terpasang di bibir pemuda bersurai Blonde tersebut.
"Kami, para 'NPC', tidak semua diperlakukan secara baik oleh para 'Player' , itulah yang sebenarnya terjadi Kurokocchi. Beberapa kali kami pernah berhadapan dengan 'Player' yang melakukan kami secara semena-mena. Sebenarnya, Apakah salah kami? Kami hanya ingin membantu para 'Player'-ssu! Lalu, itukah yang mereka berikan pada kami? Memperlakukan kami hanya sebagai alat dan melukai hati kami semua!"
Mata Kuroko kini terbuka lebar, ia menatap sosok Kise yang terlihat rapuh saat ini.
" Sebagai para 'NPC' yang menjadi sosok 'Guardian', kami telah saling mengenal 'NPC' lainnya. Para 'NPC' yang telah bersahabat baik, tentunya merasakan hal yang sama, saat dimana kami akan saling bertarung untuk melindungi 'Player' kami. Aku tidak suka hal itu terjadi-ssu. Dimana pada Phase sebelumnya, kami mungkin saja menjadi teman, tetapi, pada Phase lain kami akan mencoba untuk saling membunuh antara satu sama lain."
Kuroko menundukkan kepalanya, memang, sebagai 'Player', dengan egosinya ia memasuki Realm of Death. Tetapi, ia tidak mengetahui bahwa nasib para 'NPC' itu sangat menyakitkan. Dalam permainan ini, hanya ada 1 pemenang. Itu artinya, pada akhirnya para 'Player' akan saling membunuh satu sama lain demi bertemu dengan 'Emperor'.
Mengerikan.
Ini terlalu mengerikan. Bayangkan bila selama 3x berturut-turut kau akan melawan sahabat terbaikmu di medan perang. Bagaimanakah perasanmu saat itu?
"Tapi, Kurokocchi tidak usah khawatir. Aku telah memilihmu sebagai 'Master' karena aku percaya bahwa Kurokocchi adalah orang yang baik. Makannya aku akan membantumu, sebagai teman pertamaku sebisaku-ssu."
Kuroko menatap wajah Kise dengan tatapan yang bersalah "Maaf, Kise-kun."
"K-Kurokocchi jangan berwajah seperti itu-ssu! Harusnya aku yang meminta maaf, kau jadi harus mendengar keluh kesahku-ssu. Habisnya, entah mengapa hanya pada Kurokocchi aku bisa bercerita hal ini-ssu." Cengiran kini tempak dibajah pemuda bermanik Citrine tersebut.
Kuroko tersenyum kecil mendengar perkataan Kise.
"Ngomong-ngomong, tentang 'Aominecchi' yang Kise-kun sebutkan tadi itu, apa dia juga salah seorang 'NPC'?"
Wajah Kise kini menjadi cerah. "Ah! Aku dan Aominecchi bersahabat baik-ssu! Namanya Aomine Daiki. Meskipun aku datang kemari saat Aominecchi telah menjadi 'NPC', tapi di Phase berikutnya aku selalu bersama dengannya-ssu!"
"Aomine-kun itu sosok yang berharga untuk Kise-kun, ya?" Tebak Kuroko sambil tersenyum kecil.
Muka Kise langsung memerah.
"Sepertinya tebakanku benar," Kuroko kini menaruh dagunya di atas tangannya. "Tapi, apa yang kau maksud dengan kedatanganmu dan Aomine-kun telah menjadi 'NPC'? Bukankah kalian berdua sama-sama 'NPC'?"
"Ah..aku—" Perkataan Kise kini terhenti, ia memandang tajam kearah pepohonan yang berada di samping mereka.
"Sshhttttt.. Kurokocchi, berhati-hatilah. Ada seseorang selain kita disini. Bersiaplah untuk bertarung kembali, Kurokocchi." Bisik Kise pada Kuroko, dan pemuda tersebut memberikan anggukan sebagai tanda persetujuan.
Kise kini berdiri, diikuti oleh Kuroko yang berada di belakangnya. Mereka berjalan agak pelan menuju pepohonan, lalu, saat ada kesempatan di mata Kise, mereka langsung bertindak.
Kise menerjang sosok yang berada di balik semak-semak tersebut.
Itu bukan Monster atau Demonic. Tetapi lebih menyerupai sosok seperti dirinya, rupa seperti manusia. Sebuah jubah menutupi mereka sehingga mereka tidak bisa melihat sosok tersebut.
Sosok yang diserang oleh Kise kini menariknya, sehingga mereka berdua kini berguling kebawah. Kuroko yang masih kaget akan situasi tersebut mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Kise. Tetapi, dirinya pun ternyata sudah diincar oleh sosok lainnya. Sosok kedua yang muncul, sosok yang berada dibelakang sosok yang kini berada bersama Kise.
Entah sudah berapa lama Kise merasakan tubuhnya berguling kebawah. Tempatnya saat ia berguling memang cukup curam, bila pohon yang telah mati itu tidak menghalangi kedua sosok tersebut, pasti mereka akan berguling lebih jauh.
Kise cepat-cepat berdiri ketika ia tersadar, ia menemukan musuhnya sudah berusaha untuk berdiri.
Iris Citrine milik Kise menajam, ia memperhatikan sosok tersebut dengan seksama. Sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok tersebut.
'Bila aku tidak dekat dengan 'Player', aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sepenuhnya.' Batin Kise, ia menggigit bagian bawah bibirnya.
Tanpa aba-aba, Kise langsung mengeluarkan Twin Sword-nya. Ia menerjang sosok yang berada di depannya saat ini.
Eh? Mengapa..perasaan ini begitu familiar?
Bagaimana sosok itu menghindari serangannya, Bagaimana sosok musuh didepannya memegang senjatanya yang berupa sebuah Kapak besar. Dilihat dari segi mana-pun, gaya bertarungnya mirip dengan seseorang yang ia kenal!
Kise melangkah maju dengan cepat, merobek jubah yang dikenakan oleh musuhnya.
"A..Aominecchi!" teriak Kise saat jubah tersebut terbuka.
"Eh? Kau bisa berbicara?" Tanyanya dengan pandangan yang bingung.
"A—Apa maksud Aominecchi dengan bisa berbicara? Aku selalu begini-ssu." Kini raut wajah Kise yang berubah menjadi kebingungan.
"Sial, ini bukan jelmaan Demonic!" Aomine kini menurunkan Hammer-nya, ia melihat kearah atas. "Akashi! Mereka bukan musuh! Hentikan seranganmu, dia 'Player' sepertimu!" teriak Aomine dari bawah, entah sosok yang dipanggilnya itu bisa mendengarnya atau tidak.
- xXx -
Kuroko reflek melihat kebelakang saat sosok yang berada di belakangnya hendak mengayunkan sebuah Rappier kearahnya. Dengan cepat Kuroko langsung menghindari serangan tersebut.
Tidak memakan waktu banyak, Kuroko kini mengeluarkan Hangun miliiknya. Beberapa kali ia menembak kearah musuhnya. Namun, beberapa kali itu juga sosok tersebut dapat menghindar dengan mudah. Sosok didepannya, yang masih tertutup oleh jubah itu kini berlari dengan cepat kearah Pemuda bersurai Icy Blue. Tebasan Rappier-nya berhasil membuat lengannya terluka, sehingga darah segar keluar dari lengannya saat ini.
"Uhh.." rintih Kuroko kecil ketika goresan darah itu menyatu dengan udara, membuat lukanya menjadi perih.
"Kita akhiri semuanya." Ucap sosok tersebut dengan dingin dan tegas.
Sosok tersebut kini mendekat kearah Kuroko, namun Kuroko melakukan perlawanan dengan menembakkan peluru kearahnya. Hingga akhirnya Kuroko terdesak,dan sosok tersebut sudah bersiap untuk membunuhnya.
Mata Kuroko terpejam dengan erat.
"Akashi! Mereka bukan musuh! Hentikan seranganmu, dia 'Player' sepertimu!"
Suara itu berasal dari bawah mereka. Kuroko merasakan sebuah suara retakan kini terdengar disebelahnya. Perlahan ia membuka matanya, dan menemukan sepasang Iris Deep Crimson sedang menatapnya. Surai Scarlet-nya kini terlihat dengan jelas. Jubah yang sedari tadi menutupi dirinya kini terlepas, menampilkan sosok pemuda yang tidak jauh dari usianya sedang berdiri diatasnya sambil memegang Rappier-nya.
"Kau—'Player'?"
_TBC_
