:: :: ::

Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Rinzu15

Bab 6

Suasana makan malam di ruang makan istana Konoha hari ini seperti biasanya dipenuhi oleh celotehan Ratu Kushina. Kali ini ia menasehati Naruto dengan panjang perihal kepergiannya keluar istana tanpa pengawal.

"Jangan bertindak gegabah, Pangeran! Diluar sana banyak orang jahat yang mungkin saja mengincar nyawamu, apalagi sampai membawa Putri Sakura tanpa izin, membuat semua orang di istana panik. Ingat! Kau adalah pangeran, jadi tidak boleh seenaknya."

Sakura menatap Naruto lewat ujung matanya sambil memakan sup ayamnya dengan pelan. Jujur, sebenarnya Sakura jadi tidak enak hati karena Ratu jadi melimpahkan kesalahannya pada Naruto, padahal dirinyalah yang sepenuhnya bersalah karena mencoba kabur. Namun apa boleh buat, Sakura diminta Naruto untuk tutup mulut dan membiarkannya untuk mengatur semuanya. Beruntung, Kakashi menemukan mereka saat akan beranjak pulang, sehingga perbincangan mereka tidak diketahui oleh penyihir berambut keabuan itu.

"Sudahlah, ibu. Aku dan putri kan baik-baik saja, kenapa masih membahasnya, sih? Aku pusing mendengarnya..." sahut Naruto malas. Kushina tampak memutar bola matanya.

"Tetap saja, membawa putri kabur ditengah pelajaran Tayuya lalu pergi keluar istana tanpa izin sungguh perilaku yang tidak benar dan kekanak-kanakkan, tidak sopan dan menyalahi aturan! Berapa kali sudah ibu katakan padamu untuk berhenti bersikap kekanakkan seperti ini, kau tidak pernah mendengarkan!"

Raja Minato yang sedari tadi diam akhirnya berdeham dan ikut menasehati. "Itu benar, Pangeran. Kuharap hal seperti ini tidak terulang lagi. Kurasa tidak ada yang salah dengan meminta izin. Kalau memang Pangeran ingin keluar istana, kami tidak pernah melarang, bukan? Hanya saja harus tetap dengan pengawalan. Jangan menganggap hal-hal seperti ini sepele. Jika kejadian seperti ini sampai terulang lagi, maka aku sebagai raja tidak akan segan-segan untuk menghukum Pangeran meskipun Pangeran adalah anakku," ujar Raja Minato tegas.

Sakura menundukkan kepala menatap supnya. Ia sedikit terkejut mendengar perkataan raja. Kalau sampai Naruto dihukum oleh raja, itu semua adalah salahnya. Dan ia tidak tahu sama sekali hukuman seperti apa yang akan diberikan. Memikirkan janji Naruto yang katanya akan membawa dirinya pulang, Sakura jadi cemas. Meskipun ia sangat ingin keluar dari sini, namun ia juga tidak mau sampai melibatkan Naruto dalam masalah. Akan lebih baik kalau Naruto tidak ikut campur.

"Ya, aku mengerti," jawab Naruto dengan nada santai seperti biasanya. Sakura kembali menatap Naruto dari seberang kursinya. Tanpa sengaja safir Naruto pun balas menatap Sakura sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya.

"Oh, iya satu lagi. Perlu kau tahu, besok Putri Hotaru akan berkunjung ke istana, jadi bersiaplah," ucap Raja Minato.

"Apa? Putri Hotaru?" Naruto tampak terkejut mendengar berita itu.

"Ya, jaga sikapmu saat bertemu nanti," ujar Ratu Kushina.

Sakura menatap Naruto dengan bingung. Diatas meja, ia melihat tangan Naruto terkepal. Mimik wajahnya berubah menjadi tegang dengan alis bertaut dan bibir terkatup erat, seperti menahan sesuatu. Sakura jadi bertanya-tanya apa yang terjadi.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Siapa itu Putri Hotaru?" tanya Sakura saat ia kembali ke kamar. Matsuri menghentikan gerakannya yang tengah menyiapkan tempat tidur Sakura, lalu menatap gadis bermata hijau itu dengan sedikit terkejut.

"Oh, Putri Hotaru adalah Putri Kerajaan Tsuchigumo. Dulu, Putri Hotaru sempat menjadi calon pengantin Pangeran Naruto."

"Apa?" Sakura terbelalak mendengar hal itu. Benar-benar tidak menyangka. "Apa yang terjadi?"

"Entahlah, saya tidak begitu tahu, Putri. Yang jelas tiba-tiba saja Putri Hotaru membatalkan pertunangannya dengan Pangeran Naruto. Mungkin karena Putri Hotaru lebih memilih Pangeran Utakata sebagai pendampingnya. Hal itu membuat keadaan istana ribut. Raja dan Ratu begitu marah dan kecewa. Mereka sangat menyayangkan sikap Putri Hotaru saat itu. Namun setelah melalui perundingan yang cukup panjang, akhirnya raja dan ratu bisa menerima juga, meskipun begitu sulit karena berita pertunangan sudah tersebar dikalangan rakyat Konoha dan juga kerajaan-kerajaan lain." Matsuri menghela nafas. "Kalau mengingat hal itu, saya merasa kasihan pada Pangeran Naruto. Pangeran terlihat sangat syok."

Sakura tercenung. Ternyata ada juga kejadian seperti itu. "Jadi... Itu sebabnya Naruto benci penolakan?"

"Eh? Hmm... mungkin. Saya rasa Pangeran Naruto masih merasa takut hal yang sama akan terulang." Matsuri menatap Sakura ragu. Ia tahu, secara tidak langsung mungkin ia telah menyinggung Sakura karena sampai saat ini Sakura belum menunjukkan tanda bahwa ia menerima Naruto sebagai calon pengantinnya. Matsuri pun tidak mau pangerannya kembali terpuruk. Karena itulah selama ini Matsuri juga selalu berusaha membuat Sakura nyaman agar gadis itu bisa berubah pikiran.

Alis Sakura berkerut. Rasanya hal ini semakin sulit untuknya. Menurutnya, Naruto memang menyebalkan, tapi membayangkan kalau pertunangannya dulu batal, ia jadi ikut merasa iba. Disisi lain ia juga bisa merasakan bagaimana posisi Putri Hotaru, sama dengannya saat ini. Ia hanya tidak mengerti dengan aturan istana. Bukankah memaksakan cinta itu hal yang buruk?

Kalau sampai benar Naruto akan membawanya kembali ke rumah, berarti pertunangan kali ini pun akan gagal, dan mungkin keadaan istana akan kembali kacau. Bagaimana dengan Naruto nanti?

'Aarghh! Kenapa jadi memikirkannya? Itu kan kemauannya sendiri! Dia sendiri yang bilang mau membawaku kembali ke rumah. Aku tidak ada hubungannya!' gerutu Sakura dalam hati. Ia mengacak rambut merah mudanya; membuat Matsuri terkejut.

"T-tuan putri kenapa?"

"Aku lelah, mau tidur. Selamat malam, Matsuri!" jawab Sakura seraya menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur.

Dengan sedikit bingung, Matsuri akhirnya hanya mengangguk. "B-baiklah... Selamat malam, Tuan Putri," ucapnya sambil menarik selimut Sakura sehingga menutupi sampai bahunya. Ia pun segera beranjak setelah mematikan lampu.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Gadis dihadapannya itu begitu cantik dengan rambut pirang ikal yang indah. Kulitnya putih mulus, senyumnya begitu menawan, dan iris hijau tuanya tampak berseri. Sakura terpukau, sungguh terpukau! Benar-benar sosok putri yang sesungguhnya.

"Bagaimana kabarmu, Putri Hotaru?" tanya Ratu Kushina ramah.

"Baik, Yang Mulia Ratu. Ayahanda dan Ibunda juga baik. Mereka menyampaikan salam untuk Yang Mulia Raja dan Ratu dan meminta maaf karena tidak bisa ikut berkunjung," jawabnya lembut.

"Ah ya, tidak apa-apa. Kami mengerti," sahut Ratu Kushina. Ia meraih cangkir tehnya lalu perlahan menyesapnya. Pelayan kerajaan datang dengan membawa nampan berisi kue kering dan potongan puding susu lalu mulai menaruhnya di atas meja sebelum kemudian membungkukkan badan untuk pamit.

Sakura merasa canggung berada ditengah-tengah suasana formal seperti ini. Jujur, ia tidak nyaman. Sakura merasa seperti orang asing yang terjebak diantara bangsawan seperti ini. Ia tidak percaya diri. Apalagi kalau melihat Putri Hotaru yang begitu anggun dan cantik. Sakura ingin melarikan diri saja dari sana.

Ia kemudian melirik ke arah Naruto yang tampak bosan dan sesekali meminum tehnya dengan malas-malasan. Sakura jadi terkikik sendiri. Sama sepertinya, mungkin Naruto juga ingin segera keluar dari suasana kaku ini. Tanpa sadar Sakura menghela nafas.

"Jadi ini Putri Sakura, calon pengantin Pangeran Naruto? Cantik sekali..." Putri Hotaru tersenyum lembut. Sakura tersentak dan hampir saja membuat cangkir tehnya jatuh. Ia menatap Putri Hotaru dengan wajah memerah; tak menyangka Putri pirang itu akan memuji dirinya.

"A-ah, tidak. Saya biasa saja," jawab Sakura gugup.

"Hmm... Benar kan? Aku juga berpikir begitu. Putri Sakura memang cantik. Manis lagi! Aku suka dengan warna rambutnya yang unik itu." Ratu Kushina menambahi; membuat Sakura merasa mengawang-awang.

"Kh, tentu saja! Dia kan calon isteriku." Ucapan spontan Naruto mengejutkan Minato, Kushina, Hotaru dan tak terkecuali Sakura yang kini sudah melotot tak percaya. Dengan santai, Naruto beranjak dari kursinya lalu menghampiri Sakura. "Kalau tidak, mana mungkin aku akan menyukainya."

Semua tampak terkejut, terutama Sakura yang kini tampak membeku ditempat ketika tiba-tiba saja Naruto mengecup pipinya dengan lembut. Ciuman yang singkat namun mampu membuat Sakura seperti terhipnotis. Perlahan, ia menatap Naruto yang berada dekat dengan wajahnya dan melihat Pangeran blonde itu menyeringai kecil. Tak lama kemudian, rona merah mulai menjalar dan membuat wajahnya terasa panas. Sakura menyentuh pipinya yang tadi dikecup, mata hijaunya tampak tak berkedip selama beberapa saat, sementara Naruto kembali ke tempat duduknya dengan santai seakan hal yang barusan dilakukannya tadi adalah hal sepele.

"Wah, mesranya..." Putri Hotaru kembali tersenyum diikuti Raja Minato dan Ratu Kushina.

"Lalu kapan pernikahanmu dengan Pangeran Utakata dilangsungkan?" Tanya Raja Minato.

"Bulan depan, Yang Mulia. Saat ini istana tengah mempersiapkan segala sesuatunya," jawab Putri Hotaru.

"Begitu?" Minato mengangguk-angguk.

Perbincangan pun berlanjut, namun Sakura tidak benar-benar menyimak. Ia masih tidak percaya dan sibuk mencerna apa yang sudah dilakukan Naruto. Sekali lagi Sakura menatap Naruto, kali ini dengan tatapan tajam, seolah meminta penjelasan atas aksinya tadi. Naruto hanya mengangkat sebelah alisnya dan tanpa memedulikan Sakura, kembali meminum tehnya. Sakura menggeram dalam hati. Ingin sekali ia menghajar Pangeran kuning disampingnya itu.

"Putri Sakura... kalau tidak keberatan, bisa tolong temani aku berjalan-jalan sebentar di taman sebelum aku pulang?" pinta Putri Hotaru.

"Ah, i-iya tentu saja," jawab Sakura.

"Bolehkah, Yang Mulia? Pangeran?" tanya Putri Hotaru.

"Tentu saja, Putri," jawab Raja Minato disertai anggukan Ratu Kushina.

"Tidak masalah," jawab Naruto pendek.

"Terima kasih." Putri Hotaru kemudian beranjak dari kursinya diikuti Sakura dan juga pelayan pribadi Putri Hotaru, Tonbee. Mereka pun berjalan bersisian menuju taman istana yang luas. Burung kecil dan juga kupu-kupu terlihat saling beterbangan diantara bunga-bunganya.

"Putri... tidak datang bersama Pangeran?" tanya Sakura membuka percakapan.

"Tidak. Pangeran tengah keluar istana untuk menghadiri pertemuan. Sebenarnya Pangeran juga ingin ikut berkunjung, tapi apa boleh buat, mungkin lain kali?" jawab Putri Hotaru.

Sakura hanya mengangguk.

"Wah, bunganya cantik, ya?" seru Putri Hotaru ketika melihat bunga mawar yang tengah mekar. Perlahan ia menundukkan kepala dan menghirup harum bunga itu. Sakura mengamati dengan seksama. Sakura jadi sedikit iri. Apapun yang dilakukan Hotaru terlihat begitu anggun dimata Sakura. Mungkin ia menerapkan segala pelajaran tata krama bangsawan seperti apa yang pernah diajarkan Tayuya. Aura seorang putri asli memang berbeda.

"Um... maaf, tapi kudengar Putri Hotaru pernah menjadi calon pengantin Naruto?"

Hotaru menoleh dan menatap Sakura, tampak terkejut. "Ah, benar juga." Sesaat kemudian ia tersenyum dan mendongak menatap langit. "Itu kejadian setahun yang lalu."

"Kenapa Putri mambatalkannya?" tanya Sakura hati-hati, tak ingin membuat Hotaru marah karena mengungkit masa lalunya.

"Hm, jujur saat itu aku tengah berada dalam situasi yang sulit." Putri Hotaru mengajak Sakura duduk di bangku depan taman. "Setahun yang lalu, aku tanpa sengaja menolong Pangeran. Lalu saat itu juga aku diberikan gelang yang kini Putri Sakura kenakan. Aku begitu terkejut saat Raja memberitahuku bahwa jika seorang gadis menolong Pangeran, maka ia akan dijadikan calon pengantinnya. Aku bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mungkin menikahi Pangeran Naruto karena aku punya seseorang yang aku cintai."

"Apa orang itu Pangeran Utakata?"

Putri Hotaru tersenyum kecil lalu mengangguk, "Benar. Aku pun merasa bersalah karena membatalkan pertunangan, tapi disisi lain aku tidak ingin mengorbankan perasaanku dan perasaan Pangeran Naruto. Aku tahu Pangeran Naruto hanya mengikuti aturan istana tanpa benar-benar menyukaiku."

Sakura tidak berkomentar dan hanya menyimak.

"Pernikahan bukan hanya untuk sehari atau sebulan atau setahun, tapi untuk seumur hidupmu. Dan aku tidak ingin ada penyesalan dikemudian hari. Pangeran pun harus menikah dengan orang yang dicintainya."

Mata Sakura membulat mendengarnya. Apa yang dikatakan Putri Hotaru sama dengan apa yang Sakura katakan pada Naruto waktu itu. Apa itu sebabnya ekspresi Naruto jadi berubah tiba-tiba? Sakura mengerutkan dahinya seraya menundukkan kepala. Putri Hotaru telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Sakura jadi bimbang, apa ia juga akan melukai Naruto untuk yang kedua kalinya? Tapi Sakura tidaklah salah sepenuhnya bukan? Dari awal, pihak istanalah yang memaksanya.

"Tapi... Sekarang aku jadi lega karena Pangeran Naruto sudah mendapatkan wanita yang dicintainya. Bukankah memang sudah seharusnya begitu?" Putri Hotaru tersenyum manis.

Mata hijau Sakura melebar. Ia terdiam. Pandangannya seolah tengah menatap Putri Hotaru namun sebenarnya pikirannya entah kemana. Putri Hotaru tidak tahu kalau sebenarnya Sakura pun akan pergi dari istana ini dan membatalkan pertunangan segera setelah Naruto membawanya kembali ke rumah. Namun Sakura tidak mengatakan hal itu pada Putri Hotaru.

Perlahan Sakura tersenyum tipis, "Ya."

Tanpa sepengetahuan keduanya, seseorang tengah berdiri dibalik pilar istana tak jauh dari tempat Sakura dan Hotaru berada. Ia menyilangkan tangannya di depan dada dengan punggung bersandar pada pilar besar itu. Perlahan bibirnya tersenyum kecut. "Kh, omong kosong," ucapnya sebelum kemudian beranjak pergi. Rambut kuning jabriknya bergerak pelan tertiup angin.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Aku menemukannya. Bola angin biru itu... tak salah lagi. Itu sama dengan sihir milik Minato."

Laki-laki berambut oranye yang duduk disinggasananya di dalam sebuah istana kecil yang dingin itu menatap lurus wanita berambut dark blue pendek yang berjubah hitam dengan motif awan merah yang sama dengan yang dikenakannya. Iris mata yang terlihat aneh dan langka milik laki-laki itu perlahan menutup sebelum kemudian kemudian terbuka kembali.

"Jadi anak laki-laki itu keturunan Minato? Dia bisa jadi bidak yang bagus," jawabnya tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat begitu dingin.

"Aku sudah menempelkan kertas sihirku ditubuh anak itu tanpa sepengetahuannya. Kita bisa mengawasinya dari sini selama kertas itu tidak lepas."

"Kerja bagus, Konan."

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Untuk sementara kita akan mengawasinya sampai aku bisa menemukan titik lemahnya, saat itu kita mulai bergerak."

Wanita berambut dark blue bernama Konan itu mengangguk. "Aku mengerti."

"Dua puluh tahun sudah berlalu, ini saatnya aku membuktikan pada ayah bahwa hanya penyihir terkuatlah yang pantas memimpin Konoha. Keadilan harus ditegakkan. Akan kubuat ayah menyesal di alam sana karena telah memilih orang yang salah."

Konan menatap dalam diam laki-laki dihadapannya. Ia tahu persis bagaimana masa lalu yang dialami laki-laki itu. Masa yang begitu sulit dan membuatnya terpuruk. Selama dua puluh tahun itu pula Konan selalu setia mengikutinya.

"Kapanpun kau akan mulai bergerak, aku selalu siap, Yahiko..."

Bersambung...

A/n : Alhamdulillah, satu chapter lagi akhirnya bisa update. Sebelumnya aku mau ngucapin Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Nggak bosen-bosennya aku ngucapin makasih buat kalian yang masih lanjut baca fic-ku. Ada banyak pertanyaan mengenai apa yang terjadi dengan Naruto, jawabannya udah terjawab di chapter ini, ya…

Lalu mengenai permintaan update kilat… dengan beribu maaf aku nggak bisa menjanjikan untuk update cepat karena aku juga harus bekerja jadi agak sulit meluangkan banyak waktu untuk menulis lanjutannya. Mohon dimaklum ya… hehe

Special thanks:

narutolelakiromantis (makasih banyaak :D)

Namikaze nada (salam kenal juga! Terima kasih udah mereview. Romance-nya akan mengikuti seiring jalannya cerita. Tapi mungkin gak akan terlalu gimanaaa gitu, hehe)

heryanilinda (terima kasih! Syukurlah, kalau gampang ketebak bisa gak seru lagi kan, ya?)

chakis (makasih, yaa!)

Miyoko Kimimori (Ya, aku mikirnya karena Tayuya berhubungan dengan musik jadinya aku jadiin peran itu buat dia, gak nyambung emang, hehe… iya, karena aku udah nemuin jalan ceritanya makanya aku akan berusaha buat update terus. Perasaan Saku akan tumbuh tanpa disadarinya. Hn, aku sendiri belum bisa menentukan cerita ini akan jadi sampai berapa chapter )

gui gui M.I.T (Wah, aku senang baca review-anmu yang super panjang, hehe… Chapter kemarin panjangnya sama kok, sekitar 3 ribuan kata lebih, karena aku biasa membatasinya sekitar segituan, kecuali yang ini lebih pendek, hanya 2 ribuan lebih. Dari chapter ini udah mulai masuk konflik utama. Dan tentu aja akan muncul tokoh antagonis. Hmm… orang ketiga mungkin nggak ada XP. Nggak apa-apa koq, pendapat selalu terbuka! Makasih)

Lokkasena (Naru gak marah beneran, kok. Mungkin lebih ke sedih kali ya, hehe… makasih)

Lady Cha'py Cherry Blossoms (Ya, memang aku sengaja membuat karakter Naru seperti itu. Makasih :D)

yohou (maaf ya gak bisa apdet cepat…)

Namikaze Ex-Black (Wah, salam kenal juga! Terima kasih udah review. Pertanyaanmu akan terjawab seiring berjalannya cerita :D)

RizalulAmzad (terima kasih banyak. Aku senang sekali! Ini adalah fanfic kedua setelah Tales from Myobokuzan yang temanya berbeda dari fic-fic-ku yang lain. Benar-benar memeras imajinasi, haha… tapi tetap menyenangkan menulisnya dengan dukungan dari readers)