Kuroko no Basuke Fanfiction

"Realm of Death"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai

A/N : Konnichiwa, Minna-san X3 akhirnya author bisa apdet juga! Setelah beberapa hari ga bisa pegang lepie atau kompie QAQ untung 1/2nya udah author cicil, jadi tinggal beresin akhir"an-nya (OwO)/kokmalahcurhat/
Mungkin masih banyak kekurangan deskripsian di fic ini, tapi author harap reader-tachi masih bisa ngebayanginnya ya :D

Happy Reading all,

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz


Semustahil apapun 'Wish' yang kau minta pada 'Emperor', Permintaan tersebut akan dikabulkan olehnya.

Realm Of Death adalah sebuah tempat, dimana kau mendapatkan kesempatan kedua. Segala kesempatan yang telah kau lewatkan selama kau membuang waktu berhargamu di Bumi.

Tetapi, terdapat 3 kondisi pengorbanan untuk kalian.

Pertama, Bila kalian gagal menyelesaikan 'New Game' menuju 'End Game', nyawa kalianlah yang akan diambil sebagai ganti telah memasuki Realm of Death.

Kedua, Ingatan kalian akan masa lalu sebagai manusia, maupun 'Wish' kalian terkunci. Ingatan tersebut perlahan akan kembali ketika kalian mendekati Phase 'End Game'.

Lalu, bayaran yang kalian tukarkan ketika kalian memasuki tempat ini adalah syarat ketiga yang ditetapkan oleh 'Emperor'.

Sadarkah kalian?

Apakah sesuatu yang telah 'Emperor' ambil dari dirimu?

.

.

I wish I could protect the 'only one' for me, someone, who very dear and change me.

I hope I can saw your last smile before you left me alone in this cruel world.

If, I could back and stay by yourside,

Given my Last Goodbye for you.

.

.

oOo Realm of Death oOo

xXx Second Game xXx

.

.

Pemuda bersurai Scarlet itu nyaris menghunuskan pedangnya kearah pemuda bersurai Icy Blue. Beruntunglah Partner-nya meneriakinya dari bawah. Waktu yang sangat, sangat tepat.

"Kau—'Player'?"

Manik Deep Crimson-nya menatap tajam kilatan Baby Blue yang perlahan terbuka. Namun, tidak ada jawaban dari pemuda yang ditanya olehnya. Kesal karena tidak mendapatkan jawaban apapun, Pemuda bersurai Scarlet itu kembali menarik pedangnya, mengarahkannya ke leher si Pemuda bersurai Icy Blue.

"Jawab pertanyaanku, apakah kau 'Player'? Bila kau tidak menjawabnya, akan kutusuk pedang ini sekarang juga." Suara yang dingin terdengar dari mulutnya.

"Bila.. sesuatu yang kau maksud adalah Manusia yang memasuki dunia ini, maka pertanyaanmu itu benar, bahwa aku adalah 'Player'." Balasnya dengan wajah yang datar.

Sesaat, pandangan mata Deep Crimson dan Baby Blue itu saling menatap satu sama lain selama beberapa detik, keduanya tidak bergerak sedikitpun. Sampai akhirnya Pemuda bersurai Scarlet itu menghilangkan pedangnya.

"Setidaknya kau bukan jelmaan Demonic yang menerjangku dan Aomine seperti sebelumnya," Kali ini, ia mengulurkan tangannya kearah pemuda yang masih terkapar tersebut. "Namaku Akashi Seijuurou, kau?"

Kuroko masih mengerjabkan matanya selama beberapa kali. Haruskah ia menerima uluran tangannya? Seseorang yang nyaris membunuhnya saat itu?

"Kuroko Tetsuya." Balasnya seraya menerima uluran tangan pemuda tersebut untuk bangkit berdiri.

"Kurokocchhhiiii~~~!" Pemuda bersurai Blonde itu buru-buru berlari keatas, dibelakangnya tampak pemuda berkulit Tan yang mengikutinya.

"Syukurlah aku belum terlambat." Ucap pemuda bermanik Sapphire tersebut sambil bernafas lega.

"Karena kita semua sudah berkumpul, jelaskan alasan kalian menyerang kami-ssu!" Celetuk Kise, Pipi kemerahannya kini mengembung, ia menatap iris Sapphire dan Deep Crimson secara bergantian, seolah meminta penjelasan kepada Akashi dan Aomine.

"Aku ingin menceritakannya pada kalian. Tetapi," Tangan Akashi kini menyentuh sekitar lengan Kuroko, lengan yang masih terluka akibat goresannya. "Aku ingin membersihkan dulu lukanya. Apa kalian tahu tempat mata air terdekat?"

Kuroko yang tiba-tiba mendapat perlakuan tersebut terkejut. "Ah, tidak apa-apa, Akashi-kun. Aku bisa melilitkan kain atau apapun di lengan ini."

Pandangan mata Deep Crimson itu masih menatap lukanya. Ia mengambil sebuah kain—saputangan yang berada di dalam Coat panjangnya lalu melilitkan kain tersebut ke lengan pemuda tersebut.

"Sampai kita bertemu mata air terdekat, jangan berani untuk membukanya."

Kuroko mengangguk perlahan. Aura yang dikeluarkan oleh sosok yang didepannya itu begitu mendominasi dirinya. Padahal, ia baru bertemu dengannya hari ini, tetapi ia merasakan sesuatu yang gawat akan terjadi bila ia tidak mengikuti permintaannya.

- xXx -

"Boleh—aku bertanya sesuatu?" Iris mata Baby Blue diam-diam menatap sosok pemuda bersurai Scarlet yang bercokol didepannya sambil membasuh lukanya dengan air.

"Hn?"

"Kau juga 'Player' seperti yang dikatakan oleh Aomine-kun, tapi," Tubuhnya menegang saat melihat tatapan Deep Crimson memandang tajam irisnya, ucapannya sontak terhenti.

"Masalah 'Player', memang suatu hari nanti aku bisa menjadi musuhmu, Kuroko. Tetapi, aku tidak mau mempermasalahkan hal itu terlebih dahulu. Aku ingin mengetahui semua seluk-beluk tentang dunia yang diciptakan oleh 'Emperor' tersebut. Aku ingin mencaritahu alasan mengapa ia hanya memenuhi 'Wish' dari 1 'Player' saja, lalu kemana nasib 'Player' lainnya yang tidak berhasil mengutarakan 'Wish' tersebut. Ada, berjuta pertanyaan yang menjadi sebuah misteri bagiku, sesuatu yang tidak masuk akal."

Kuroko Tetsuya terkekeh kecil. "Akashi-kun orangnya logikal sekali ya. Kenapa rasanya aku begitu familiar denganmu?"

Mulutnya kini menyunggingkan senyum kecil. "Kau tidak berusaha untuk menggodaku, 'kan?"

Raut wajah Kuroko langsung memerah.

"Eh!? T—Tidak, bukan maksudku untuk—"

"Aku bercanda, Kuroko." Senyum iseng kini terlihat di paras muka Akashi. Setelah puas melihat reaksi yang diinginkannya, Pemuda bersurai Scarlet itu langsung bangkit berdiri. "Nah, ayo kita segera kembali, sebelum Aomine dan Kise melakukan sesuatu yang aneh-aneh."

Kuroko memiringkan kepalanya. "Aneh-aneh?"

.

.

"Jadi, ceritanya aku pergi untuk mencari makanan, sebelum aku sadar kalau 'Dungeon' yang kumasuki itu adalah 'Dungeon' yang membuat Maze atau Labyrinth, sehingga aku terperangkap di tempat tersebut. Itu alasan mengapa aku tidak kembali, Kise. Lalu, saat otakku sibuk mencerna jalan yang baru saja kulewati, aku menemukan Akashi sedang terkepung." Jabar Aomine sambil melirik kearah Kise dan Kuroko.

"Jadi, Aominecchi menemukan Akashicchi yang terkepung, lalu menjadi 'Guardian'-nya-ssu?"

Aomine kini menggelengkan kepalanya, ia mengangkat bahunya.

"Aku tidak menjadi 'Guardian'-nya. Dia bisa mengalahkan semua 'Demonic' yang mengepungnya sebelum aku berhasil memukul mundur mereka. Damn, untuk sesaat aku bahkan mengira bahwa ia adalah 'Grim Reaper'."

Mata Kise kini melotot, cepat-cepat ia menatap sosok Akashi Seijuurou dengan tatapan tidak percaya. Kuroko pun melakukan hal yang sama, tetapi perbedaannya ia melihat Akashi dengan wajah yang datar.

"Apa?" Risih Akashi saat dirinya seakan menjadi tontonan utama pada topik malam ini.

"Akashicchi—kau bisa mengalahkan Demonic tersebut seorang diri? Tanpa bantuan Aominecchi-ssu?"

Akashi mengendus kecil. "Heh, aku tidak butuh 'NPC' lemah sepertinya."

Aomine yang disindir nyaris saja mengeluarkan angkara murkanya—untungnya tindakan tersebut terhenti saat ia menyadari kemampuan Akashi yang tidak lazim ini. Salah sedikit bisa-bisa dia yang menjadi babak belur.

"Tapi kemampuan Aominecchi saja melebihiku-ssu, bahkan sewaktu ia tidak menjadi sosok 'Guardian'. Pasti Akashicchi sangat kuat ya!"

"Maaf memotong, tetapi apa yang Aomine-kun maksud dengan 'Grim Reaper'?" Manik Baby Blue-nya memandang seolah ia tertarik dengan ucapan pemuda berkulit Tan sebelumnya.

"Ah, itu adalah makhluk yang tidak ingin kau temui selama berada disini-ssu. Baik 'Player' maupun 'NPC' sama-sama tidak ingin berurusan dengannya-ssu. Sesuai titelnya yang merupakan Pencabut Nyawa atau Angel of Death, ia ditugasi untuk mengambil nyawa para 'Player' maupun 'NPC'. Mandatnya sendiri langsung bersumber dari 'Emperor'."

"Apa ada seseorang yang pernah bertemu dengan 'Grim Reaper' itu?" Segelintir rasa penasaran kini terukir diwajah pemuda bersurai Scarlet.

"Sayangnya sampai saat ini masih belum ada yang tahu siapa itu sosok 'Grim Reaper' tersebut-ssu." Balas Kise sambil menghela nafas.

Kilatan Deep Crimson itu kembali meredup, seakan topik menarik yang sedang dibicarakan terhenti begitu saja.

"Bagaimana dengan alasan kalian menyerang kami berdua?" Tanya Kuroko langsung mengganti topik.

"Ceritanya begini," ucap Aomine. "Alasan kenapa kami menyerang kalian berdua itu karena sewaktu kami berjalan keluar dari Maze tersebut, beberapa Demonic menjelma sebagai sosok yang kita kenal. Aku bahkan sempat kaget saat melihat sosok 'NPC' lain yang kukenal, namun ketika aku melawannya, gaya bertarungnya itu berbeda. Satu kesimpulan yang bisa kutarik, bahwa mereka adalah Demonic yang menyamar."

"Hal yang kami sadari bahwa Demonic tidak berbicara. Entah kejadian apa yang membuat Aomine sadar bila yang dihadapinya adalah asli. Tetapi, karena pada kasus-ku Kuroko tidak berbicara sedikitpun, aku tidak bisa mengetahui ia benar Demonic atau sosok 'Player' maupun 'NPC'." Akashi kini ikut menjelaskan.

"Akashi-kun hebat. Buktinya kau bisa mengalahkan Demonic tersebut, lalu sewaktu melawanku pun, teknik bertarungmu sangat luar biasa." Kuroko kini ikut berbicara.

Akashi terdiam sesaat. "Kenapa ya? Mungkin karena aku merasa familiar dengan tempat ini?"

Kise tersenyum kecil. "Setiap 'Player' pasti akan merasa familiar dengan tempat ini-ssu. Karena 'Emperor' telah memasukan beberapa ingatan kecil, sekadar untuk mengetahui tempat yang berada di Realm of Death. Ia juga memberi kalian sebuah kemampuan, dimana kalian mampu membela diri kalian sendiri. Buktinya, biar kutebak," pandangan mata Kise kini menatap sosok Kuroko. "Kurokocchi tidak pernah memegang pistol sebelumnya kan, tetapi mengapa kau bisa mahir menggunakannya disini-ssu?"

"Karena 'Emperor' memberikan ingatan itu pada kita sebagai 'Player'?" jawabnya menebak-nebak.

"Betul." Sahut Aomine, kini pandangannya menatap Akashi dan Kuroko. "Bagaimana kekuatan kalian saat ini, seberapa kuat atau tidaknya 'Player' dipengaruhi oleh kondisi sewaktu kalian masih di Bumi dahulu. Saat kalian mempelajari satu teknik tertentu seperti—Judo atau Aikido? Yah, pokoknya bila kalian memiliki kemampuan bela diri lebih, itu bisa mempengaruhi kekuatan asli kalian di dunia ini."

Akashi kini memandang kedua tangannya. Dengan tatapan seolah bertanya 'Jadi selama hidupnya sebagai manusia, aku melakukan beberapa teknik beladiri? '

"Tapi—kalian tidak akan bisa mengetahui ingatan tentang masa lalu kalian sebagai Manusia sebelum kalian melangkah untuk mendekati Phase'End Game'."

"Ingatan? Ingatan apa yang Kise-kun maksud?"

"Ingatan kalian sebagai manusia-ssu. Kalian berdua—tidak mengingatnya sama sekali 'kan?" Tanya Kise dengan nada yang sedih.

Ah.

Ternyata betul juga apa yang Pemuda beriris Citrine itu katakan. Ingatan mereka selama menjadi Manusia seakan sirnah dalam seketika. Mereka tidak mengetahui lagi siapa orangtua, saudara, bahkan teman mereka. Yang mereka tahu hanyalah nama dari mereka sendiri.

- xXx -

Malam harinya, mereka memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Sinar bulan menyinari mereka selama mereka tertidur. Samar-samar, terlihat sosok Bermuda berkulit Tan tertidur sambil mendengkur. Kise yang berada disebelahnya merengek dengan manja, setengah sadar karena terbangun dari tidurnya. "Aominecchi berisik-ssu~~!" Namun setelah mengucapkan kata tersebut, Sang Pemuda bersurai Blonde tersebut kembali tertidur.

Akashi Seijuurou menghela nafas, saat ini ia menyenderkan punggungnya pada sebuah pohon besar yang telah kering dan mati. Beberapa kali ia mencoba untuk tidur, tetapi keributan yang temannya ciptakan ini membuat niatnya terkunci rapat.

Tiba-tiba, ekor matanya melihat sosok Kuroko Tetsuya pergi berjalan dengan perlahan.

"Kuroko?" Akashi mencoba untuk memanggil namanya, tetapi orang yang disebut tidak kunjung membalikkan badannya. Menyadari semakin jauh Pemuda bersurai Icy Blue itu pergi, akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk menyusul pemuda tersebut.

Beberapa kali Akashi memanggil namanya, tetapi Kuroko tetap berjalan maju. Ia melewati beberapa semak-semak kering yang menjulang tinggi, sehingga Akashi merasa kesulitan untuk menangkap sosok Kuroko Tetsuya. Ia terus melangkah maju hingga melewati semak-semak tersebut.

"Kuroko!" teriaknya sambil memegang sebelah tangan pemuda bersurai Icy Blue tersebut. Langkahnya lalu terhenti. Namun, pemandangan yang dilihat oleh Akashi membuatnya terkejut.

Kuroko Tetsuya berjalan sambil tidur? Sleepwalking? Apa ini salah satu turunan dari sosoknya ketika di Bumi dulu?

"Jangan—jangan tinggalkan aku.." Kuroko kini mengatakan ucapan tersebut sambil agak meronta.

"Kuroko, tenang." Akashi dengan sabar memegangnya agar ia tidak terjatuh. Saat ini mereka berdua berdiri di ujung tebing. Akashi sendiri baru menyadari ketika suara deru ombak terdengar olehnya.

"Aku…harus menolongnya.." Pemuda tersebut kini makin meronta.

"Kuroko! Dengan terpaksa Akashi langsung menarik lengan pemuda tersebut, mendekat hingga berlabuh pada dekapannya. "Tenanglah, ada aku disini."

Anehnya, setelah Akashi memeluk Kuroko, wajah Kuroko kini menjadi tenang, senyum yang lega kini terlihat pada rona wajahnya. Matanya masih terpejam, namun terlihat dengan jelas bahwa Kuroko kini merasa nyaman.

"Tidak, ini bukan Sleepwalking, kurasa ini lebih menyerupai Night Terror. Sebenarnya apa yang terjadi padamu dulu ketika di Bumi, Kuroko?" Ucapnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan. Ia mengelus lembut punggung Pemuda yang tertidur lelap di pelukannya.

.

.

Pagi harinya, Kuroko Tetsuya terbangun dengan rona kemerahan di wajahnya. Seingatnya, tadi malam ia tertidur dekat dengan perapian sambil menutup kupingnya karena keributan yang Aomine ciptakan. Tetapi, setelah itu ia tidak menyadari apapun. Bahka tentang seorang Akashi Seijuurou yang memeluknya sambil tertidur saat ini.

Kuroko kini melirik kearah samping dan menemukan kedua temannya melihat mereka dengan pandangan muka yang seolah mengatakan 'Lihat-imutnya-mereka-saat-tertidur-seperti-ini-!'

"K—Kise-kun, Aomine-kun?"

"Kalian berdua sungguh imut-ssu!" teriak Kise yang nyaris saja ikut memeluk Akashi dan Kuroko bila Aomine tidak mencegahnya.

"Biarkan Akashi tidur untuk sementara, Kise. Ia baru tidur saat subuh, sambil membawamu kembali, Kuroko."

"Membawaku..kembali?" kerutan kecil kini tampak diwajah pemuda tersebut.

"Kau berjalan ke tebing sambil tertidur, Kuroko," suara Pemuda bersurai Scarlet itu kini muncul. Ia perlahan membuka matanya. "Karena aku takut kau pergi lagi, makannya aku memelukmu sambil tertidur, maaf."

Wajah panik dan malu kini bercampur aduk di muka pemuda bersurai Icy Blue tersebut, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dibalik wajah datarnya, namun usahanya itu kini gagal total, setidaknya menurut seorang Akashi Seijuurou, karena ia dapat melihat dengan jelas semburan rona di sekitar kuping pemuda yang sedang dipeluknya.

"A—Akashi-kun bisa melepaskanku sekarang."

Pemuda bermanik Deep Crimson tersenyum kecil sebelum melepas pemuda bersurai Icy Blue dalam dekapannya.

"Kita akan pergi kemana sekarang?"

"Apa kalian merasa lapar? Karena di 'Main Dungeon' tidak terdapat makanan, lebih baik kita berpindah 'Dungeon'-ssu."

"Ah, benar juga apa katamu, Kise. Di 'Main Dungeon' atau tempat utama ini hanya terdapat beberapa akses untuk pergi ke 'Dungeon' lain. Memang ada 'Dungeon' terselubung di sini, tetapi 'Dungeon' tersebut tidak akan terbuka sebelum kalian mendekati Phase 'End Game'." Balas Aomine menambahkan.

"Kalau begitu, tolong tunjukkan 'Dungeon' terdekat yang bisa kita akses saat ini, Aomine, Kise." Ucap Akashi.

Keduanya mengangguk kecil, tak lama mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

Akhirnya mereka menemukan sebuah Gate, atau pintu menuju 'Dungeon' lain. Gate tersebut menyerupai sebuah lingkaran putih yang menyala, asap-asap putih kini keluar dari Gate tersebut. Setelah mereka berhasil melewati Gate tersebut, mereka kini tiba disebuah tempat, tempat yang benar-benar berbeda dari 'Main Dungeon'.

Meskipun suasana angker masih bercokol ditempat tersebut, setidaknya tanaman disini masih hidup. Tempat yang dimasuki oleh mereka menyerupai sebuah Pulau Mati, beberapa menara dan rumah yang telah hancur berada disana.

"Kupikir, daya imajinasi 'Emperor' tentang Dungeon yang diciptakannya itu sungguh mengerikan ya? Pertama seperti Hutan yang telah mati, sekarang lebih menyerupai kota mati." Ceplos Kuroko, manik Baby Blue-nya memandang kearah sekitarnya.

"Tidak semuanya seperti itu kok, Kurokocchi~ ada sebuah tempat yang sangat indah menurutku. Tapi, yah..memang rata-rata suasananya nyaris seperti ini-ssu." Balas Kise sambil menggaruk kepalanya.

"Sudahlah, sekarang kita cari makan saja yang penting. Aku dan Kise akan mencari sesuatu untuk dimakan. Kalian bisa mencari buah atau beberapa kayu untuk dibakar. Setelah itu, kita akan kembali berkumpul disini."

Ketiganya kini mengangguk setelah Aomine membagi tugas dan bergegas untuk melakukan tugas mereka masing-masing.

- xXx -

Kuroko Tetsuya dan Akashi Seijuurou sudah berhasil mendapatkan beberapa buah dan kayu sesuai dengan pembagian tugas mereka. Namun, ketika keduanya hendak kembali, ekor mata Akashi kini melihat sebuah gerakan di samping mereka. Dengan cepat ia berhenti, kemudian mengisyaratkan Kuroko untuk berhati-hati.

"Siapa?" Tanya Akashi dengan suara yang tajam. "Aku tahu kau bersembunyi disana."

Beberapa detik mereka berdiam dengan suara angin yang menerpa. Namun, detik kemudian terlihatlah sebuah sosok keluar dari arah bangunan tersebut.

"Ah~ maaf, aku tidak tahu kalau ada seseorang disini. Apa kalian 'Player' atau—" Seketika itu juga pertanyaannya terhenti ketika mereka bertiga saling bertatapan. Tidak, lebih tepatnya saat pemuda bersurai Orange itu menatap manik Deep Crimson milik Akashi.

"Kenapa—kau berada disini?" Rona mukanya tampak menjadi serius.

"Apa yang kau maksud?" Kerutan kini tampak diwajah Akashi.

Pemuda itu sempat terdiam sesaat, ia berjalan mendekati Akashi, hingga mereka hanya beberapa cm, kemudian pemuda bersurai Orange tersebut menatap lekat wajah Akashi. Namun, setelahnya ia tampak seperti kebingungan. "Uhmm, maaf, sepertinya aku salah mengenalimu.. Baiklah, aku pikir kalian 'Player' karena aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya."

"Apa kau 'NPC'?" Tanya Kuroko kemudian.

"Ah, semacam itu. Oh ya, perkenalkan namaku Ogiwara Shigehiro, salam kenal." Jawabnya sambil tersenyum.

"Apa tujuanmu kemari?" Akashi menatapnya dengan penuh kecurigaan, seolah sosok yang didepannya itu memiliki maksud tersembunyi.

Ogiwara tersenyum tipis. "Sepertinya aku tidak usah berbasa-basi lagi terhadapmu ya~" Ia mengeluarkan sebuah tombak yang besar, mata tombak tersebut agak melengkung, dan sebuah permata terlihat ditengah mata tajam tombaknya. "Lawan aku." Senyumnya kini merekah ketika Akashi dan Kuroko berubah menjadi awas.

Akashi segera mengeluarkan Rappier-nya, Rappier yang tergolong cukup panjang. Dalam seketika, pedang tipis itu langsung menangkis serangan yang dilancarkan oleh Ogiwara. Kuroko masih terdiam, ia bahkan tidak menyadari kecepatan gerakan 2 pemuda yang berada di depannya itu.

"Apa tujuanmu untuk melenyapkan kami berdua?" Tanya Akashi dengan tatapan yang tajam.

Ogiwara tersenyum. "Tidak, aku kemari karena merasakan kau kuat."

Kuroko kini mengeluarkan Handgun miliknya. Ia mencoba untuk mencari lokasi Akashi dan Ogiwara. Namun sorot matanya tidak menemukan kedua sosok yang ia cari.

"Kau tidak boleh mencampuri pertarungan kami berdua, Ku-ro-ko." Bisiknya pada telinga Pemuda bersurai Icy Blue tersebut. Kuroko tidak bisa menyembunyikan kekagetannya saat sosok Ogiwara berbisik tepat di belakangnya. Sejak kapan ia berada di belakang Kuroko? Bahkan sang Pemilik manik Baby Blue itu tidak menyadari kehadirannya sekalipun.

"Kau—tahu siapa namaku?" Kuroko langsung memundurkan langkahnya menjauhi sosok Ogiwara.

"Tentu saja," jawabnya sambil tersenyum, menutup kedua matanya. "Kuroko Tetsuya, lalu—" Mata Ogiwara kini terbuka secara perlahan, melihat kearah samping dan menemukan sosok pemuda bersurai Scarlet kini berlari untuk menyerangnya. Bentrokan antara Rappier dan Spear kini terjadi. "—Akashi Seijuurou."

Ogiwara kini melangkah mundur menjauhi keduanya.

"Aku sudah cukup mendapat informasi tentangmu, Akashi." Cengirannya kini terlihat dengan jelas. "Saat pertemuan kita selanjutnya, pastikan aku menjadi 'Guardian'mu." Saat itu juga, Tombak yang dipegang oleh Ogiwara menghilang. Ia membungkukkan badannya sambil berjalan perlahan kebelakang, kedaerah yang tampak gelap. Bersamaan dengan hembusan angin, kini Ogiwara menghilang dalam sosok kegelapan.

- xXx -

"Emperor." Sosok Ogiwara kini muncul dari bawah. Tubuhnya perlahan terangkat, seolah berada diluar angkasa, dimana tidak ada gravitasi yang berada di tempat tersebut. Pemandangan disekitar Emperor terlihat sangat putih, dengan beberapa bongkahan Kristal yang berada di sekeliling lokasi tersebut.

"Shigehiro 'kah?" Sosok yang dihampiri oleh Shigehiro berada di balik kegelapan.

"Aku telah mendapatkan informasi tentang Akashi Seijuurou, sesuai dengan permintaanmu."

Sosok tersebut kini tersenyum kecil dibalik kegelapan, senyum yang tampak mengerikan.

"Baiklah, laporkan informasi yang kau dapat."

"Akashi Seijuurou, saat ia memasuki Realm of Death pada saat ia berusia 17 tahun saat berada di Bumi. Ia mengikuti beberapa teknik bela diri dan ia cukup menguasai teknik-teknik tersebut dengan baik. Kurasa aku akan kesulitan untuk mengalahkannya bila aku tidak melepaskan energiku kelak, Emperor. Antara Strength, Magic dan Speed-nya tinggi. Balance antara Skill dan Agillity-nya juga tinggi. Kurasa ia setara dengan kekuatan 'Evil NPC'. Lalu, alasan ia berada di sini—"

"Kita simpan alasan itu untuk nanti." Emperor kini keluar dibalik kegelapan. Tubuhnya terlihat agak tinggi dan begitu ramping. Surai Scarlet-nya terlihat dengan jelas. Sosok Emperor saat ini terlihat begitu menyerupai sosok yang begitu familiar.

Sosok Akashi Seijuurou.

Namun, perbedaannya, iris mata Emperor berwarna Heterochrome—Crimson Yellow Gold.

"Sampai pertemuan kita nanti, Seijuurou."

_TBC_


Special Thanks for : Hachiyon, Rey Ai , Seijuurou Eisha, Alenta93, jessyjasmine7, Angel Muaffi , reika d'luv, mfayumu, Ichika07 , yuiyutikaisy, Yuna Seijuurou, Lee Kibum , Myadorabletetsuya, akanemori, kurokolovers, Kagamine Micha, Sagi Akabara & InfiKiss yang udah ngeripiu di chapie 1&2, buat smua yang udah nge-fave n follow cerita ini juga :*

Trus buat jawaban dari reader yang ga log-in & ren ga tau akunnya QAQ ;

[kurokolovers : Boleh dong ~ Buat inspirasi ide ini sih sebenernya gabungan dari konsep dot-Hack sama Shadow Hearts Covenant OwO)/ 2-2nya game tipe RPG :D]

Akhir kata, Arigatou buat smua yang udah baca fic ini & sampai berjumpa di chapie berikutnya~ XD