Naruto menatap surat berwarna putih pucat ditangannya sambil tampak menimbang. Setelah berpikir beberapa lama akhirnya ia pun merapalkan sebuah mantra sihir dan tak lama kemudian muncullah seekor katak kecil di hadapannya.
"Antarkan ini pada Sakura," ucap Naruto; yang diikuti oleh suara 'krok!' dari si katak. Dalam sekejap, hewan hijau itu pun meloncat cepat keluar dari kamar sang Pangeran. Naruto mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang kini diselimuti oleh gelap malam yang dihiasi beberapa titik terang yang indah.
Naruto mengerutkan kedua alisnya sambil menghembuskan nafas kecil. Ia telah mengambil keputusan yang sudah pasti akan menimbulkan kekacauan di dalam istana, namun mungkin ini adalah keputusan yang tepat. Segala sesuatu akan ada resikonya dan Naruto sudah siap dengan semua itu, meskipun mungkin ini akan kembali melukai hatinya.
Apa boleh buat. Meskipun terkesan keras kepala, namun Naruto masih mempunyai sisi kelembutan.
Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Rinzu15
Bab 7
Sakura menggeliat kecil diatas tempat tidurnya. Ia meraba-raba selimutnya yang sudah turun melewati kakinya selama ia tidur. Setelah berhasil mendapatkan selimutnya, gadis itu kembali melanjutkan mimpinya yang sempat terputus, namun tidak berlangsung lama karena terdengar suara berisik yang mengganggu tidurnya.
'Krok! Krok!"
Sakura memicingkan matanya yang masih terasa berat. Perlahan kelopak matanya terbuka dan dalam pandangannya yang masih tampak buram terlihatlah sesuatu berwarna hijau dengan tenggorokannya yang kembang kempis.
"Krok! Krok!"
Seketika mata Sakura terbuka sempurna saat berhasil mendapatkan penglihatan yang jelas. Ia melompat dari atas tempat tidurnya sambil menarik seimutnya. "HUAAA!" serunya kaget. "K-k-k-katak!"
"Krok! Krok!" Si katak kembali bersuara tanpa bergerak dari atas dipan disisi tempat tidur. Bulu kuduk Sakura terasa merinding melihat kulit licin yang mengilat milik sang katak. Jujur saja, Sakura paling tidak suka dengan katak.
"K-kenapa ada katak di sini?" tanya Sakura. Pandangannya tidak lepas dari hewan kecil itu.
Tenggorokan sang katak menggembung; membuat kulitnya terlihat elastis. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Hal itu membuat Sakura merinding jijik.
"Ieeekk!"
"Krok! Krok!"
Tampaklah sebuah amplop putih pucat yang kini tergeletak di atas dipan. Lalu, tak lama kemudian si katak tiba-tiba saja menghilang dan meninggalkan kepulan asap kecil. Sakura menatapnya terkejut. Ia pun lalu menghampiri dipan dan melihat lebih seksama apa yang ada diatasnya.
"Surat? Untukku?" Sakura meraih amplop itu dan membolak-baliknya. Tak ada tulisan apapun disana, hanya ada simbol spiral kecil diatas tutupnya. Saat Sakura menyentuhnya, tiba-tiba saja surat itu pun terbuka dengan sendirinya dan menampakkan isinya.
"Datanglah ke kamarku sekarang."
―Naruto
Pesannya begitu singkat. Sakura hanya bisa melongo membacanya. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Naruto mengirim surat dan memintanya datang tengah malam seperti ini. "Apa mungkin dia..." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis pikiran negatif yang mampir di otaknya. "Haha, apa yang kupikirkan, sih? Baka..."
Selesai membaca isinya, tiba-tiba saja surat itu terbakar dengan sendirinya tanpa berbekas.
Tak ingin penasaran, Sakura pun meraih mantel tidurnya, lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar. Lorong istana sangat sepi, tak ada seorang pun disana, hanya cahaya lampu kuning yang berpendar disisi-sisi lorong, membuat suasana terasa sedikit seram.
Sebisa mungkin Sakura keluar tanpa menghasilkan suara. Ia mengendap-endap ke kamar Naruto. Langkahnya sedikit tergesa karena ia merasa takut juga ada sesuatu yang halus muncul di lorong panjang itu.
Beberapa menit kemudian, Sakura sampai didepan kamar Naruto. Ia kembali menengok kanan kirinya; memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya masuk ke kamar sang Pangeran tengah malam seperti ini.
Belum sempat Sakura mengetuk, pintu kamar Naruto terbuka dengan sendirinya. "Masuklah!" Terdengar suara Naruto dari dalam.
"Ada apa? Kenapa kau menyuruhku datang tengah malam begini?" tanya Sakura tanpa basa-basi.
Iris biru langit Naruto menatap Sakura dalam temaram lampu tidur. Ia pun menunjuk ke arah Sakura dan seketika itu juga pintu tertutup hanya dengan isyarat telunjuk Naruto. Sakura begitu terkejut.
"A-apa yang mau kau lakukan?" Sakura merapat ke pintu saat Naruto berjalan menghampirinya. Sakura tidak tahu kenapa, namun raut wajah Naruto tampak begitu serius, dan itu justru membuat Sakura merasa aneh. Seperti bukan Naruto yang biasanya.
Sang pangeran lalu mengulurkan tangannya dan meraih sebelah tangan Sakura. "Kita menuju Gerbang Penghubung sekarang," ucapnya cukup pelan.
Sakura menatap Naruto bingung. "Gerbang Penghubung? Apa maksudmu?"
Sesaat Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Sakura. "Aku tidak mungkin mengembalikanmu selain tengah malam, jadi kurasa ini adalah waktu yang tepat," jawab Naruto sebelum kemudian kembali berjalan. Sakura tampak tertegun mendengarnya.
"Kau ... serius? Jadi kau akan mengembalikanku sekarang?"
"Aku bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janji."
Sakura menatap punggung Naruto yang berjalan didepannya tidak percaya. Jadi hari inilah saatnya Sakura kembali ke rumah? Kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada dan meninggalkan dunia asing yang selama beberapa waktu ini ditempatinya, meninggalkan Matsuri, Raja dan Ratu. Juga meninggalkan Naruto.
Meninggalkan Naruto ...?
Entah kenapa hal itu rasanya terdengar menyedihkan.
Raut wajah Sakura terlihat sedikit merengut. Ada setitik perasaan bersalah dalam hatinya. Naruto memang menyebalkan, namun ia bukan orang jahat. Mungkin kejadian masa lalu yang tidak mengenakkan yang membuatnya jadi seperti itu. Sebenarnya semua ini bukan sepenuhnya salah Naruto. Lebih tepatnya mungkin Naruto sendirilah yang menjadi korban peraturan istana. Ia jadi tidak bisa menemukan dirinya yang sesungguhnya dan apa yang ia inginkan.
Dengan mantra sihirnya, Naruto membuka gerbang menuju ruang bawah tanah yang terhubung dengan ruangan di dalam kamarnya ―yang sesungguhnya telah ia buat diam-diam. Terlihatlah sebuah simbol spiral raksasa yang terukir diatas lantainya. Ruangan itu disinari bola api dari obor yang terapung di udara.
Sakura menatap takjub. Benar-benar pemandangan yang cantik. Seperti kunang-kunang yang beterbangan dimalam hari.
"Berdirilah diatas simbol spiral itu," ucap Naruto; menghentikan keterpesonaan Sakura. Gadis itu menurut tanpa berkata apa-apa. Naruto kemudian berdiri diluar garis simbol dan merentangkan kedua tangannya.
"N-Naruto, tunggu dulu..."
"Kenapa? Tenang saja, aku tidak akan mengerjaimu kali ini."
Sakura menggeleng. Ia percaya Naruto tidak berbohong. "A-apa kau yakin? Maksudku, kau akan mendapat masalah kalau kau melakukan ini! Kau pangeran ... Dan kurasa ini bukanlah cara yang tepat... Aku bisa melakukannya sendirian―"
"Oh, ya? Caranya?"
Sakura menunduk. Ia memang tidak tahu caranya keluar dari dunia sihir ini, namun ia yakin pasti ada jalan.
"Jangan bodoh, Sakura. Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia sihir ini. Sebelum kau menemukan jalan keluarnya, mungkin kau justru akan terdampar di dunia asing lainnya."
"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, kan?"
"Ini bukan duniamu yang penuh kedamaian. Bertindak sembarangan dan lebih parah nyawamu bisa melayang."
"Tapi Raja pasti akan menghukummu kalau ia tahu kaulah yang mengeluarkanku dari sini!"
"Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Semuanya bisa kuatasi."
"Lagi-lagi kau seperti itu..." Sakura mengepalkan tangannya erat. "Selalu yakin sendiri tapi hasilnya selalu berkebalikan dengan apa yang kau ucapkan. Kau bilang kau hebat, tapi kau kalah hanya karena luka gores dipipi. Kau bilang kau bebas melakukan apapun karena kau Pangeran, tapi nyatanya kau terikat aturan. Kau bilang... kau menyukaiku di depan Putri Hotaru juga Raja dan Ratu, kau bahkan menciumku... tapi sebenarnya..."
"Ciuman itu hanya untuk membalas Putri Hotaru."
"Apa?"
"Aku hanya ingin membuktikan padanya kalau penolakannya waktu itu tidak berarti apa-apa untukku."
"Jangan berpura-pura!" seru Sakura kesal. Mata biru Naruto tampak membulat. "Aku tahu kalau kau selalu menutupi perasaanmu yang sebenarnya." Sakura menunduk dan menatap pijakannya. "Kau... tidak perlu melakukan ini jika kau tidak mau. Aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini. Mungkin... Aku sama seperti Putri Hotaru."
Naruto mendecih kecil. "Aku mengerti kalau kau menolakku, sama seperti Putri Hotaru. Kau... sama sekali tidak salah jadi tidak usah merasa tidak enak." Sakura mendongak dan melihat Naruto tersenyum kecut. "Aku mungkin memang hanya akan jadi boneka kerajaan. Aku ditolak Hotaru dan bahkan manusia biasa sepertimu. Mungkin hanya akan terus seperti itu..."
"Itu tidak benar!"
"Tapi aku sudah berjanji akan mengembalikanmu. Dan itu adalah keinginanku sendiri." Naruto kembali merentangkan tangannya seraya memejamkan mata. Seketika, angin bertiup kencang disekitarnya dan simbol spiral dilantai yang dipijak Sakura bersinar. "Terbukalah, Gerbang Cahaya Dimensi!"
Dihadapan Sakura muncullah sebuah pintu geser berbentuk bulat. Pintu itu perlahan terbuka dan menampakkan cahaya putih yang terang. "Aku sudah mengatur waktunya supaya kau kembali dihari pertama kali kau meninggalkan rumah."
"Tunggu, berhenti!"
Naruto menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf... sudah melibatkanmu dalam masalah ini, Sakura-chan..."
Sakura terbelalak. Baru kali ini Naruto memanggilnya dengan sebutan selembut itu.
"Naruto!"
"Jangan kembali lagi, 'ttebayo!" Naruto menatap Sakura dan menyeringai, namun seringainya tampak getir.
Perlahan, pintu kayu geser itu menutup dan menghilangkan sosok Sakura yang masih tampak berseru dibalik pintu itu. Sesaat kemudian pintu itu pun lenyap dan cahaya yang ada disekitarnya hilang, menyisakan Naruto seorang diri yang masih berdiri.
Beberapa menit Naruto hanya terdiam dan menatap simbol spiral dihadapannya sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan ruang bawah tanah menuju balkon kamarnya.
Angin malam berhembus cukup kencang, namun hal itu tidak menghalangi Naruto untuk tetap berada disana. Entah kenapa ada perasaan hampa yang menghampirinya ketika ia memutuskan untuk membawa Sakura pulang.
Gadis itu bukanlah putri kerajaan yang anggun dan menawan. Ia hanya gadis manusia biasa yang tomboy dan agak kasar. Ia bahkan gadis pertama yang berani menantangnya duel dan bicara keras didepannya tanpa peduli siapa Naruto.
Tiba-tiba ia jadi teringat waktu pertama kali Sakura menolongnya saat ia terluka dulu...
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Kuso! Kemana Kakashi dan yang lainnya? Kakiku perih, rasanya tidak bisa digerakkan. Kalau aku berubah wujud sekarang bisa gawat. Ugh... dasar anjing kurang ajar!" rutuk Naruto yang berwujud rubah oranye. Ia terkulai tak berdaya diatas rumput taman diantara semak-semak dengan kaki yang terluka gara-gara dikejar oleh seekor anjing.
"Heee, ada rubaah!" Tiba-tiba seorang gadis berambut merah muda yang mengenakan seragam sailor sekolahnya menghampirinya dan segera meraih rubah Naruto yang meringis kesakitan. "Cantiknyaaa! Eh, hei, tunggu... Kau terluka?" Sakura terkejut saat melihat kaki rubah itu berdarah. "Kasihan sekali... Aku akan membawamu ke rumah dan mengobatimu." Sakura langsung saja berlari menuju rumahnya sambil menggendong rubah itu.
Sesampainya di rumah, Sakura membaringkan rubah Naruto diatas tempat tidurnya dan bergegas membawa kotak P3K. Dengan hati-hati, Sakura membersihkan luka Naruto dan memberinya antiseptik. Naruto berkali-kali meringis dan mencoba melepaskan diri saat Sakura mengobatinya, namun gadis itu berusaha menahannya dan terus berujar, "Sedikit lagi, sabarlah."
Barulah setelah lukanya ditutup perban, Naruto bisa sedikit diam, meski sebenarnya ia masih merasakan kakinya sangat pedih.
"Nah, sudah selesai! Kau pasti akan segera sembuh, rubah kecil." Sakura tersenyum simpul seraya mengelus bulu lembut rubah Naruto. "Kenapa rubah secantik kau ada didalam semak-semak? Kau pasti tersesat, ya?"
Sakura kemudian meletakkan kepalanya diatas tempat tidur sambil tetap mengelus sang rubah. "Jangan khawatir, setelah sembuh, kau pasti akan segera berkumpul kembali dengan keluargamu," ucapnya. Tanpa tersadar, Sakura tiba-tiba saja tertidur bersama sang rubah yang juga mulai memejamkan matanya.
Saat itulah pertama kalinya Naruto melihat Sakura tersenyum dengan begitu manis.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Naruto merasa sedikit kecewa karena Sakura menolaknya. Jujur, padahal Naruto tidak keberatan kalau Sakura yang akan menjadi calon pengantinnya dibanding gadis-gadis lain yang mengantri diluar sana ―yang Naruto yakin hanya menginginkan kemewahan hidup di istana saja.
Namun mungkin ini memang jalan yang terbaik. Dengan begitu Sakura tidak perlu menjadi korban. Biarlah, cukup dirinya saja yang menjadi boneka kerajaan.
Naruto menghela nafas panjang lalu menundukkan kepalanya diatas pagar balkon kamarnya. Ia mengira-ngira hukuman apa yang nanti akan diterimanya dari sang Raja. Apapun itu, Naruto siap menerimanya.
"Seharusnya kau menikah dengan orang yang kau cintai..."
Naruto tersenyum kecut saat teringat kalimat Sakura. "Mungkin selamanya tidak akan ada yang mau menikah denganku..." gumamnya pada diri sendiri.
Hening beberapa saat sampai terdengar sebuah suara asing yang membuat Naruto tersentak.
"Kau benar... tak ada seorangpun yang peduli padamu, Pangeran kecil."
"Siapa itu?!"
Sesosok laki-laki berambut oranye muncul dihadapan Naruto. Naruto terbelalak dan mundur beberapa langkah.
"S-siapa kau?"
"Aku seorang yang akan memberimu kebebasan dan pengakuan. Dengan begitu, tak akan ada lagi orang yang memandangmu sebelah mata."
"Jangan bicara omong kosong yang tidak jelas begitu! Kau penyusup?!"
"Akan lebih baik kalau kau diam dan menurut. Aku tidak ingin membuang-buang waktu." Dengan tenang, pria itu menoleh pada wanita disampingnya. "Konan."
Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang, membuat Naruto memejamkan matanya. Ia segera menggunakan lengannya untuk menutupi wajah.
"Angin apa ini?" Naruto mencoba membuka matanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi. Dihadapannya, nampaklah ribuan lembaran kertas putih yang berputar seperti tornado. Naruto terbeliak. "A-apa itu? UWAAA!"
SRAAAKK! SRAAAKK!
Belum sempat Naruto mencerna apa yang sebenarnya terjadi, dengan cepat, ribuan lembar kertas itu melesat ke arahnya dan menyelimuti seluruh tubuh Naruto; membuatnya tampak seperti mumi.
"Kau hanya pangeran yang terkurung bersama orang-orang egois itu. Yang kau butuhkan adalah kebebasan dan pengakuan. Aku bisa memberimu kedua hal itu jika kau menuruti perintahku. Kau akan diakui dan semuanya akan tunduk padamu."
Saat membuka mata, Naruto telah berada diruang kosong dan gelap seluruhnya. Ia tidak bisa melihat apapun kecuali dirinya yang kini berpijak entah pada apa. Itu adalah ruang yang diciptakan dari selimut kertas milik Konan.
"Hentikan omong kosongmu dan keluarkan aku!" teriak Naruto.
"Tidak ada yang menginginkanmu didunia ini. Ayah dan ibumu hanya menganggapmu sebagai alat untuk kepentingan istana."
"Diam! Kau tidak tahu apa-apa!"
"Bahkan tidak dengan gadis-gadis itu. Mereka benci padamu."
"HENTIKAN!" Naruto menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Keringat mulai membasahi wajah Naruto. Ia semakin menunduk, masih terus menutupi telinganya. Nafasnya terengah dan tampak gelisah. Kata-kata pria berambut oranye itu membuatnya merasa depresi.
Tiba-tiba sepasang mata raksasa yang aneh terbuka dalam kegelapan itu. Irisnya berwarna ungu dengan empat garis lingkaran. Mata Naruto melebar. Tubuhnya seketika menegang bahkan bergetar begitu menatap langsung mata aneh itu. Ia pun menggerakkan tangan memegangi lehernya. "Ukhh...khh..." Nafasnya mulai terasa sesak dan tubuhnya mulai melemas sampai akhirnya Naruto tidak mampu lagi menopang tubuhnya dan jatuh terduduk. Naruto tidak pernah tahu sihir apa yang digunakan pria asing tersebut. Yang pasti itu adalah sihir tingkat tinggi. Hanya dengan menatapnya sebentar, seakan-akan sudah terhipnotis.
Kelopak mata Naruto terasa berat. Namun ia tidak mampu bergerak. Matanya kian terlihat sayu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Dengan jalan yang kuberikan padamu, tidak akan ada lagi yang meremehkanmu, kau akan mendapat kekuatan baru yang jauh lebih kuat. Lalu kita pimpin istana dan kita ciptakan Konoha yang baru. Jangan biarkan orang-orang egois itu menghalangi kebebasanmu! Semua demi keadilan."
"Demi... Keadilan..." ulang Naruto dengan suara pelan.
Perlahan tangan Naruto mengepal kuat dan rahangnya terlihat mengeras. Ia menggertakkan giginya.
"Tunjukkan kekuatanmu! Buat mereka semua menyesal!" ujar sang pria.
"Aku... tidak butuh orang-orang itu. Aku... ingin mereka semua lenyap. Aku benci! Aku benci mereka semua!" teriak Naruto tiba-tiba; seperti orang kalap.
Sang pria menyeringai kecil. "Mereka memang harus lenyap, Namikaze Naruto..."
"Paper Prison... Release!" Ribuan kertas yang menyelimuti Naruto perlahan mulai terlepas lalu membentuk sosok wanita berambut biru keungunan yang kini melayang di udara. "Sihir telah berhasil," ucapnya. "Yahiko?" Wanita bernama Konan itu menatap pria berambut oranye disampingnya.
"Sihir Mata Dewa Pengendali Jiwa milikku juga sempurna. Kegelapan dalam diri bocah ini sudah kubuka. Sekarang hanya kebencian yang menguasai hatinya," jawab Yahiko tanpa menoleh. Mimik wajahnya masih tampak datar.
Konan tidak menanggapi dan hanya menatap Yahiko tanpa ekspresi. Matanya kemudian beralih pada sosok Naruto yang kini berdiri dengan kepala tertunduk. Pandangan matanya redup dan kosong, seperti kehilangan jiwa.
"Dari sini semuanya bisa kita mulai. Semua pengganggu akan segera musnah..." Yahiko berbalik dan menatap langit malam yang sunyi. Angin menggerakkan jubah dan rambut oranyenya.
Sebentar lagi, keadilan yang diinginkannya akan segera terwujud.
~Bersambung...~
A/N : Halo, minna-san! Maaaaaaaafff beribu maaf daku ucapkan atas kemoloran yang parah ini. Berapa? Hampir 2 bulan lamanya gak update, OMG! Aku kebanyakan mikirin jalan ceritanya, gak yakin buat publish akhirnya jadi ditunda-tunda.
Oh iya, sesuai rikues Lantana 'Chaori' Pinkblond tentang flashback Naru waktu diselamatin Saku akhirnya aku putusin buat masukin juga. Makasih ya…
Untuk kali ini maaf gak bisa balas satu-persatu review yang masuk di chapter sebelumnya, karena waktunya terbatas dan aku mesti cepet2 cabut, hehe… jadi maaf banget! Yang pasti aku seneng baca review kalian semua dan aku ucapin SUPPEERRR makasih buat yang udah baca, fave, follow dan juga review. ^^
Special thanks to:
Lily Purple Lily
Namikaze Ex-Black
Ayren Christy Caddi
gui gui M.I.T
Mistic Shadow
Naruzhea AiChi
Lantana 'Chaori' Pinkblond
Ai Tanaka
Fenti-chan
