Kuroko no Basuke Fanfiction
"Realm of Death"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai
A/N : Hallo, Minna-cchi~ masih ingat kah dengan cerita RoD yang sempet hiatus ini #plak aihh~~ Gomennnn~~ author baru bisa apdet ceritanya sekarang TwT salahkan tuntutan hidup yang harus dikerjakan #apaan
Happy Reading all,
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz
Satu kesalahan yang kuperbuat kepadamu,
Hal yang kusadari saat semuanya telah terlambat. Saat itu, kau berusaha untuk menggapaiku, kau berusaha untuk membawaku keluar dari kegelapan.
Tetapi aku tidak mempedulikanmu.
Semua yang kulihat hanyalah apa yang ada didepan mataku sendiri.
Semua, segala sesuatu yang berada disampingku aku hiraukan.
Bahkan usahamu untuk membawaku menjauhi kegelapan.
Tetapi takdir telah berubah, dan aku sekarang, disini, menyesali segala perbuatanku dulu.
Andai, pada saat itu aku mendengarkanmu,
Andai, pada saat itu mataku tidak hanyut oleh kegelapan,
Mungkin saat ini kau masih berada disisiku.
Apakah yang harus kulakukan saat ini untuk menebus segala kesalahanku?
.
.
I saw your shadow, pieces smile of yours, right before my end come and find me.
I wish I could see you for the last time,
I want you to know, that I'm happy.
Our memory will be here forever, as long as you remember me.
.
.
oOo Realm of Death oOo
xXx Third Game xXx
.
.
Akashi dan Kuroko kini saling memandang antara satu sama lain ketika sosok Ogiwara Shigehiro, sosok yang tiba-tiba menyerang mereka tanpa alasan yang pasti kini perlahan menghilang.
"Mungkin Aomine-kun dan Kise-kun mengetahui sesuatu tentang Ogiwara-kun." Usul Kuroko menghancurkan kesunyian pada saat itu.
"Ide bagus, Kuroko. Ayo kita cepat kembali ke tempat semula." balas Akashi sambil mengangguk.
Tak lama mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka, hingga mereka sampai di tempat yang telah mereka deklarasi sebagai meeting point mereka.
"Kurokocchiii~~~ Akashicchii~~" Suara teriakan Kise menggema dari arah kejauhan. Sontak, pemuda bersurai Scarlet dan Icy Blue ini menoleh kearah sumber suara itu berasal. Mereka kembali dengan membawa beberapa daging dan beberapa ikan ditangan mereka.
Ketika mereka berkumpul, Aomine yang pertama menyadari sesuatu yang berbeda dengan kedua Player didepannya ini. "Apa kalian bertarung tadi?" Tanya Aomine dengan tatapan yang serius "Ada bekas luka diantara kalian berdua."
"Kepekaan yang bagus, Aomine." Puji Akashi. "Aku ingin menanyakan pada kalian berdua. Apa kalian mengenal sosok Ogiwara Shigehiro?"
"Ogiwara Shigehiro!?" Kise langsung berteriak. Semua pandangan langsung mengarah kepadanya, wajah pemuda bersurai Blonde itu seakan menunjukkan wajah yang baru saja menyadari sesuatu yang begitu menakutkan.
"Siapa itu-ssu?"
Sunyi.
"Justru karena kita tidak tahu makannya kita menanyakannya pada kalian berdua, Kise-kun." Jawab Kuroko.
Akashi hanya menghela nafas. "Kupikir Kise tidak dapat diandalkan. Bagaimana denganmu, Aomine?"
Aomine mengerutkan dahinya. "Aku tidak pernah mengetahui nama Ogiwara Shigehiro diantara kami para NPC. Tetapi aku yakin aku pernah mengetahui nama itu disuatu tempat."
Akashi kini menutup matanya, seolah ia tengah memikirkan sesuatu. Namun, beberapa saat kemudian ia membuka kembali manik Deep Crimson-nya. "Kupikir lebih baik kita makan dulu untuk saat ini."
Akhirnya, untuk sesaat mereka melupakan kejadian tersebut. Akashi dan Kise kini ikut menyusun kayu-kayu, tempat yang akan dijadikan tempat pembakaran untuk santapan mereka. Sedangkan Aomine memilih daging yang akan mereka bakar, lalu Kuroko memilih buah yang akan mereka makan sebelum memakan daging hasil tangkapan kedua NPC tersebut.
Setelah mereka selesai memakan hidangan tersebut. Akhirnya Kuroko mulai berbicara lagi.
"Apakah semua NPC mengetahui semua Player, Aomine-kun? Kise-kun?"
"Kami memang diberi list nama Player yang akan kami temui selama di sini, tapi secara langsung kami tidak mengetahui yang mana Player tersebut." Jawab Aomine, "Dengan kata lain, kami mengetahui nama setiap Player tetapi kami tidak mengetahui wajah mereka-ssu." Lanjut Kise sambil menambahkan. "Memangnya ada apa Kurokocchi sampai bertanya seperti itu-ssu?"
"Masalah Ogiwara Shigehiro yang aku dan Akashi-kun temui tadi itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya."
"Mungkin ada 2 kemungkinan yang kami perkirakan dari cerita kalian itu." Aomine kini melirik kearah Kise, tidak lama pemuda bersurai Blonde itu pun mengangguk kecil. "Kemungkinan besar Ogiwara Shigehiro itu adalah 'Evil NPC' atau 'Grim Reaper'."
"Evil NPC?" kini alis Akashi terangkat kembali ketika glosarium baru terucap oleh Aomine.
"Evil NPC berbeda dari kami para NPC-ssu. Meskipun kami sama-sama Non Player Character, tetapi Evil NPC bertindak sesuka hati mereka, terlebih lagi mereka mengincar dan membunuh para Player atas kemauannya sendiri. Aku ingatkan untuk berhati-hati dengan para Evil NPC-ssu. Kekuatan mereka bahkan hampir setara dengan kami, para Guardian yang mengikat kontrak dengan Player."
"Apa kalian pernah bertemu dengan Evil NPC itu, Aomine, Kise?" Tanya Akashi kemudian.
Aomine kini melipat kedua tangannya, ia berusaha mengorek kembali memorinya tentang Evil NPC. "Aku tidak tahu jelasnya berapa banyak diantara mereka, Akashi. Tetapi yang aku tahu Haizaki Shougo adalah salah satu Evil NPC yang pernah kutemui selama berada disini."
"Haizaki Shougo, aku akan berhati-hati bila berjumpa dengannya." Ucap Akashi dengan suara yang kecil, nyaris menyerupai sebuah bisikan.
"Kita bahkan tidak tahu ada berapa Player, NPC dan Evil NPC yang berada di sini." Kuroko kini menyuarakan suaranya.
"Hmnn~ bila aku tidak salah kita bisa menanyakan hal itu pada seseorang-ssu. Seseorang yang pintar meramal di dalam Realm Of Death ini. Tapi, siapa ya namanya..?" Kise kini mulai berpikir dengan keras. "Rambutnya menutupi sebelah matanya, ia mempunyai warna rambut yang senada dengan matanya. Aominecchi, apa kau pernah berjumpa dengannya?"
Aomine menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku baru mendengar ada NPC seperti itu malah."
"Aku pernah mendengarnya dari New Game sebelumnya-ssu. Kudengar ia selalu terlihat di "House of Doll", diluar rumah itu terdapat danau yang cukup besar, kudengar ia selalu berada disana atau sekitarnya-ssu."
"Apakah kita bisa pegi ke tempat itu?" Tanya Akashi.
Aomine mengangguk. "Bila kita kembali pada Forest of Death, kita bisa mengakses menuju tempat manapun."
Kuroko kini mengangguk setuju, tentunya ia sangat penasaran dengan jumlah jiwa yang terdapat di Realm of Death ini. "Kalau begitu, ayo kita bergegas untuk pergi kesana."
Setelah mereka kembali pada Forest of Death, Aomine dan Kise kini menuntun mereka menuju sebuah pintu yang berbeda dari pintu sebelumnya. Di depan pintu itu tertulis dengan jelas "House of Doll", yakin dengan tujuan mereka selanjutnya, mereka pun langsung memasuki tempat itu. Namun, sesuatu hal yang janggal terjadi. Didalam perpindahan dimensi, suatu hal yang buruk terjadi. Sebuah Black Hole kini muncul dan menarik Akashi Seijuurou untuk masuk kedalamnya.
"Akashi-kun!" Kuroko kini memegang erat tangan Akashi, badan Kuroko kini ikut tertarik, untungnya Kise dan Aomine ikut menarik Kuroko sehingga mereka tidak jatuh kedalam Black Hole itu. Namun, usaha mereka tetaplah nihil, sebuah angin yang cukup besar kini menggacaukan mereka. Akashi yang semula mereka kira telah aman kini terjatuh kedalam Black Hole itu, sedangkan Kuroko, Aomine dan Kise kini terbawa oleh angin tersebut menuju tempat lain.
.
.
[Name Player : Akashi Seijuurou]
Iris Deep Crimson itu sedikit terbuka ketika ia mendengar suara kicauan burung yang agak mengerikan terdengar begitu dekat ditelinganya. Ketika ia menyadari apa yang baru saja terjadi, cepat-cepat Akashi membuka matanya.
Ia begitu asing dengan tempat ini. Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, tanah tempat ia berpijak telah kering, namun didalam retakan-retakan tanah itu terdapat warna kemerahan, mirip seperti sebuah lava namun tidak panas meskipun ada beberapa asap yang mengebul dari tanah tersebut.
Rumput-rumput disekitar tempat tersebut pun telah layu dan kering, sama halnya dengan beberapa pohon yang sudah tidak memiliki daun. Red Moon kini terlihat dari tempatnya berdiam, langit yang terlihat masih cerah ternyata telah berganti saat ia memasuki dimensi lain.
'Aku harus mencari jalan keluar atau mencari sebuah petunjuk di tempat ini.'
Akashi kini melangkahkan kakinya, beberapa burung yang terlihat menyeramkan itu kini melihat kearahnya, tubuhnya berwarna putih bahkan ada yang hitam, tetapi sayap dari burung itu tidak seperti sayap burung pada umumnya, sayapnya lebih menyerupai sayap seekor kelelawar. Akashi merasakan burung-burung itu tengah memperhatikannya saat ini.
[Equip Weapon – Rappier]
Akashi mengeluarkan senjatanya untuk berjaga-jaga, ia tidak tahu dengan pasti, tetapi perasaannya tidak begitu tenang saat gagak itu melihat kearahnya, masalahnya tidak hanya 1 atau 2, tetapi sepanjang ia berjalan melintasi jalan itu, ia melihat semua mata merah dari burung itu melirik kearahnya.
Tidak lama, benarlah firasat buruknya itu. Salah satu dari burung itu kini mulai terbang dan menukik kearahnya, seakan hendak menyerang dirinya, begitu pula beberapa burung lain yang kini mengikutinya.
"Ck!" Sejenius apapun Akashi, ia tidak bisa melawan burung-burung itu dengan jumlah yang begitu ekstrim.
Akashi mencoba untuk berlari, menghindari dari serangan burung tersebut. Salah satu cara ampuh baginya saat ini bukanlah melawan , tetapi menemukan spot yang bagus baginya untuk bersembunyi.
'Didekat sini ada sebuah Cave kecil, gunakanlah [Spell Magic Fire] untuk mengacaukan burung itu.'
"Siapa!?" Akashi tersentak ketika ia mendengar sebuah suara tepat berbicara dalam pikirannya.
'Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kesempatanmu hanya 50%.'
Akashi kini tersenyum kecil. "Bagiku mungkin 90%" Pandangan matanya kini melirik kearah sekitar, ia menemukan spot itu. Dengan cepat Akashi kini berbalik ke belakang. Ia tidak mau memikirkan bagaimana suara itu mengetahui bahwa ia memiliki Sihir Api, yang pasti ia harus mengacaukan kerumunan burung itu saat ini.
[Magic – Fire- Lock on : The Bird Ghost]
Dan benarlah, begitu api itu mengenai kerumunan burung itu, beberapa diantara burung tersebut kini terbang dengan keseimbangan yang kacau, ada beberapa diantaranya yang terjatuh namun ada beberapa yang berada diangkasa masih terbang dengan kecepatan yang tidak stabil.
Melihat hasil tersebut, cepat-cepat Akashi kini berlari menuju sebuah Cave kecil yang diberitahu sebelumnya. Aman. Tidak ada satupun dari burung itu yang mengetahui ia berada dalam sebuah Cave tersebut.
Namun, karena saking gelapnya, Akashi kini menggunakan kembali Spell Fire miliknya, namun ia menyadari bahwa terdapat beberapa lentera kecil di ujung-ujung Cave, dengan cepat ia mengarahkan api tersebut kedalam lentera, sebuah api menyerupai sinar kecil kini mengenai lentera tersebut, membuat beberapa cahaya kini menerangi sepanjang jalan yang ia lalui.
'Setidaknya ini akan lebih baik daripada aku menyerap MP-ku terus menerus.'
Akashi terdiam ketika ia menemukan jalan buntu. Ia tahu pasti ada jalan rahasia disekitar tempatnya berdiam. Ketika ia meraba dinding gua itu, ia menemukan sebuah batu yang bisa tergeser, ketika ia menggeser batu tersebut, sebuah jalan baru kini terbuka.
Ditengah jalan kini ia menemukan sebuah batu Kristal bulat dengan warna kemerahan, warna Bloody Red. 'Mungkin ini akan berguna, lebih baik aku simpan item ini.'
[Pick up Item – The Bloody Red Stone]
Benarlah apa yang menjadi firasat Akashi sebelumnya. Kini ia berhadapan dengan sebuah muka pintu yang besar, dimana ia tidak bisa mendorong pintu tersebut. Namun, sebuah tempat kecil kini menyita perhatiannya, sebuah tempat yang sepertinya cocok dengan Stone yang baru saja diambil sebelum ia sampai di tempat ini.
[Item – Use Item – The Bloody Red Stone- Order Accepted]
Ketika batu itu masuk kedalam tempat kecil itu, tiba-tiba Krista itu mengeluarkan sebuah cahaya. Pintu yang tertutup itupun perlahan terbuka. Akashi memutuskan untuk memasuki tempat tersebut dan langkahnya kini terhenti ketika ia menjumpai sebuah sosok yang terdiam disana.
"Terimakasih sudah menolongku." Ucap pemuda berhelai Raven itu.
Akashi mengenal suara ini, suara yang baru saja menolongnya sewaktu ia dikejar oleh burung-burung tersebut. "Kau yang tadi berbicara denganku tadi?"
Pemuda tersebut menganggguk kecil. "Aku Himuro Tatsuya."
.
.
.
[Name Player : Kuroko Tetsuya]
"Kurokocchi! Kurokocchi!" Suara itu perlahan membangunkan sosok Kuroko Tetsuya yang tampaknya tidak sadarkan diri. Iris Baby Blue itu perlahan terbuka, ia melihat sosok Kise Ryouta kini sedang menopangnya.
"Kise-kun? Apa yang terjadi? Ini—" Ingatan Kuroko kini mulai kembali, saat-saat mereka akan pergi melalui pintu dimensi, saat itu juga mereka terpisah. Tiba-tiba ingatannya kini mulai muncul, saat dimana pegangan tangannya terlepas dari pemuda berhelai Scarlet. "Akashi-kun!"
"Whoa! Kurokocchi tenang dulu-ssu." Kise kini mencoba menopang tubuh Kuroko yang bangun secara tiba-tiba, membuat keseimbangannya menjadi oleng.
"Maaf, Kise-kun." Kuroko kini mulai memijit dahinya, sepertinya efek bangun secara tiba-tiba itu berhasil membuat kepalanya pusing. "Dimana kita, Kise-kun?"
"Aku juga masih belum memastikan dimana lokasi kita berada, Kurokocchi..Aominecchi juga menghilang entah kemana-ssu." Kise kini menghela nafas kecil. "Tetapi tempat ini agak berbeda dengan tempat-tempat sebelumnya."
Kise dan Kuroko kini melihat keadaan sekitarnya. Memang benar apa yang diucapkan oleh Kise, tempat ini tampak begitu kontras dengan tempat-tempat yang mereka datangi sebelumnya. Tempat ini dihiasi dengan beberapa rumput hijau yang terlihat masih segar, air deras yang tampaknya mengalir dari bukit dan pohon-pohon yang masih berdiri dengan kokoh beserta daun-daunnya. Tetapi langit di tempat ini berwarna mageta, dengan beberapa warna biru tua yang berada di sekelilingnya.
"Kise-kun.. apa yang sebenarnya tadi terjadi saat kita sedang berpindah tempat itu?" Kuroko kini kembali bertanya ketika kesadarannya sudah benar-benar stabil. Tentunya ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan kejadian barusan, kejadian yang berhasil membuat mereka terpecah seperti ini.
Kise menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku juga tidak tahu apa yang terjadi-ssu. Ini—hal ini jarang sekali terjadi, Warp Dimension biasanya berjalan dengan lancar, tetapi mengapa? Aku juga tidak tahu, Kurokocchi, aku tidak pernah menjumpai hal seperti ini sebelumnya." Hela Kise sambil menundukkan kepalanya.
"Akan lebih baik bila kita pergi mencari tahu dimana tempat kita berdiam sekarang ini, Kise-kun. Ayo, itu lebih baik daripada kita berdiam terus." Kuroko kini bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya.
Kise mengangguk. "Betul juga-ssu! Bila kita tetap berdiam seperti ini kita tidak akan menemukan apapun. Ayo kita periksa keadaan sekitar sini-ssu!" Balas Kise, perkataan Kuroko barusan telah membangkitkan semangat Kise yang semula padam.
'Kuharap kalian baik-baik saja, Akashi-kun, Aomine-kun.'
.
.
.
Kise dan Kuroko kini memutuskan untuk berkeliling disekitar tempat tersebut. Mereka tidak menemukan hal yang janggal maupun berbahaya di tempat ini, berbeda dengan tempat-tempat sebelumnya. Hingga mereka sampai pada jalan setapak..
"—par." Suara itu terdengat begitu sayup ditellinga Kuroko.
"Kise-kun, apakah kau mendengar sebuah suara?" Tanya Kuroko pada Kise.
"Eh? Suara? Suara apa-ssu?" Kise yang penasaran kini menempelkan kedua tangannya didekat telinga miliknya, seakan ia sedang memfokuskan diri untuk mendengar suara yang dimaksud oleh Kuroko.
"Laaaparrrrr-" Sekarang, suara itu kini terdengar dengan jelas ditelinga mereka berdua.
"Kurokocchi! Kau mendengar suara barusan-ssu!?" Kise kini sibuk mencari dimana arah suara itu berasal.
Kuroko mengangguk sebelum ia berjongkok, kemudian ia melihat sebuah kaki yang tersembunyi dibalik semak-semak. "Kise-kun, disana!" Tunjuk Kuroko pada semak-semak tersebut.
Dengan segera keduanya kini bergegas untuk menemui tempat yang barusan ditunjuk oleh Kuroko, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat sosok pemuda bertubuh tinggi dan berhelai Violet kini sedang terkapar seolah akan mati beberapa menit lagi.
"Murasakibaracchi!?" Mata Kise kini membulat dengan sempurna ketika melihat sosok temannya ini terkapar seperti itu.
"Aku laparrrrrrrr-" Rengek Murasakibara.
oOo oOo oOo
"Jadi~~" Murasakibara kini memakan beberapa buah, buah yang menyerupai bentuk apel dengan ukuran yang agak besar, tetapi warna dari buah itu lebih menyerupai warna oranye kehijauan. Mengetahui nyawa pemuda beriris Purple ini nyaris melayang, Kuroko dan Kise langsung memetik buah terdekat yang bisa mereka ambil pada saat itu. "Kupikir stok makanan yang kuambil pada saat itu bisa membawaku pada Dungeon selanjutnya, namun ditengah jalan beberapa Demonic datang menyerangku~ karena mereka menghancurkan beberapa makananku, tentunya aku langsung marah, dan—yahh~~ kuhancurkan saja mereka semua beserta tempat-tempat disekitar sana~"
Oke, penjelasan Murasakibara barusan berhasil membuat kedua orang ini menjadi Speechless. Bagaimana tidak? Murasakibara tidak hanya menghancurkan Demonic yang menyerangnya, tetapi beserta tempat-tempat disekitar sana? Pantas saja dia terkapar seperti orang mau meninggal seperti tadi.
"Ne~ Apa kau NPC? Siapa namamu?" Tanya Murasakibara ketika melihat kearah Kuroko.
"Ah..Kuroko Tetsuya, Yoroshiku Onegaishimasu, Murasakibara-kun." Ucap Kuroko sembari menundukkan badannya.
"Hmnn~~ Berarti New Game telah kembali dimulai ya~ Kuro-chin kecil sekali~" tangan Murasakibara kini mulai mengelus kepala milik pemuda berhelai Baby Blue itu. Usahanya tentu membuat kedutan kecil mencuat dari kepala milik Kuroko.
"Bukan aku yang kecil, Murasakibara-kun yang terlalu tinggi." Meskipun wajah Kuroko tetap sama-sama datar, tetapi Kise dapat mengetahui bahwa seorang Kuroko kini sedang kesal, terdengar dari nada bicaranya yang kini terdengar berbeda dari biasanya.
"Ah, baiklah~ baiklahh~~ Ngomong-ngomong tempat apa ini, Murasakibaracchi?" Cepat-cepat Kise langsung mengalihkan topik pembicaraan.
Murasakibara kini melepaskan tangannya dari kepala Kuroko, tidak lama ia langsung menggaruk kepalanya. "Ahh~ apa ya? Disebut apa ya tempat ini?" Murasakibara kini melihat kearah sekitar sebelum ia mengingat sesuatu. "Oh ya, aku baru ingat, Ini Forest of Life."
"Forest of Life? Pantas, berbeda jauh dengan Forest of Death dan tempat sebelumnya." Jawab Kuroko.
"Murasakibaracchi, apa kau melihat Aominecchi disekitar sini? Kami berpisah saat melalui Dimention Warp-ssu~"
"Mine-chin? Aku tidak melihatnya~ lagipula aku sibuk mempertahankan hidupku barusan~"
Kise hanya bisa sweetdrop ketika mendengar perkataan Murasakibara, bukannya mempertahankan, tetapi memang sudah nyaris meninggal.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa berpisah? Aku tidak pernah melenceng saat Dimention Warp terjadi~" Murasakibara kini melihat kearah Kuroko dan Kise bergantian.
"Itu dia-ssu~ hal janggal terjadi, kulihat ada Black-hole dan angin yang tiba-tiba menerpa kami semua-ssu."
"Hmnn~~" Murasakibara kini memandang datar kearah Kise dan Kuroko bergantian sebelum ia kembali melahap buah yang masih bersisa di tangannya. "Mungkin 'Emperor' memang mengacaukan dimensi kalian saat berpindah tempat."
"Eh? Apa maksud Murasakibaracchi?"
"Kise-chin tidak menyadarinya?" Murasakibara kini melihat kearah sekitar sebelum ia kembali beradukan pandangannya dengan iris Citrine dan Baby Blue yang berdia didepannya. "Semua, dalam Realm of Death telah berubah~"
_TBC_
Special Thanks for : opitiopi, Angel Muaffi , Ichika07, akanemori, jessyjasmine7, Kusanagi Mikan , Sagitarius Red , Seijuurou Eisha, Rey Ai, Lee Kibum, Hachiyon, Alenta93, kurokolovers, Yuna Seijuurou , reika d'luv , InfiKiss & KakaknyaKurokoTetsuya yang udah ngeripiu di chapie sebelumnya XD and for all who fave and follow this story too :*
See you in next chapter
-renchanz
