Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Rinzu15

Bab 8

Bunyi alarm jam weker di atas bufet kecil di samping tempat tidur terdengar nyaring selama beberapa menit, sampai kemudian sebuah tangan mulus menggapai-gapai benda yang menurutnya mengganggu itu. Sambil menggerutu kecil, akhirnya benda itu pun berhasil dimatikan dengan cukup kasar.

Sakura menggeliat kecil di atas tempat tidurnya. Dengan perlahan, ia mencoba membuka kelopak matanya yang masih terasa berat lalu mengerjap-ngerjap selama beberapa detik; mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia berada di sebuah kamar yang tidak asing lagi baginya. Kamar berukuran sedang dengan cat berwarna gading yang di dindingnya tertempel beberapa poster dan bingkai foto.

Seketika itu juga Sakura langsung terduduk dengan mata membulat. Ia menyadari sesuatu yang berbeda telah terjadi. Ia berada di kamarnya sendiri!

"Aku sudah kembali... Ukh!" Sakura memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing. Ia tidak ingat bagaimana dirinya bisa kembali. Yang Sakura ingat hanya dirinya yang masuk ke dalam sebuah pintu yang bersinar dan berteriak memanggil Naruto. Setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.

Sakura mencubit pipinya dengan cukup keras sampai ia meringis kesakitan.

"Bukan mimpi...," gumamnya pelan. Ia benar-benar telah kembali ke rumah!

"Sakura, mau tidur sampai kapan? Ini sudah siang, kau ingin terlambat ke sekolah? Cepat bangun!" Suara teriakan nyaring sang ibu terdengar dari lantai bawah.

Sakura terkesiap mendengar kembali suara teriakan yang biasa menjadi rutinitas pagi sebelum pergi ke sekolah. Tidak ada lagi suara lembut Matsuri yang berkata 'Selamat pagi, Tuan Puteri' saat ia bangun.

Sakura cepat-cepat melihat pergelangan tangannya. Wajahnya merengut. Gelang aneh itu masih melekat di tangannya. "Dia lupa melepaskan benda ini..."

"Sakura!" Suara teriakan ibunya kembali bergema.

"Iya, aku sudah bangun, Bu!" jawab Sakura sambil beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"Lama sekali...," keluh Mebuki ketika Sakura turun dan sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.

"Maaf, Bu." Sakura segera duduk di kursi ruang makan seraya menyambar roti bakar yang sudah disediakan ibunya.

"Tanganmu... masih belum sembuh, Sakura?" tanya sang ayah yang tengah menyeruput kopinya.

"A-ah, ini..."

"Benar juga... Rasanya sudah cukup lama. Lebih baik kita periksa ke dokter, jangan-jangan tanganmu terluka parah," sahut ibunya.

"T-tidak apa-apa, kok, Yah, Bu. Sebentar lagi juga pasti sembuh. Jangan khawatir." Sakura nyengir kaku, mencoba meyakinkan orang tuanya.

"Kau itu terlalu meremehkan sesuatu. Pulang sekolah nanti coba kau periksa dengan ibumu," ujar Kizashi.

"Um... kurasa nanti saja, Yah. Hari ini aku ada kerja kelompok. Mungkin sampai petang," jawab Sakura berbohong.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Yah, Bu!" Sakura segera beranjak dan bergegas menuju pintu depan setelah menghabiskan sarapan dan mencium pipi ayah dan ibunya. Cepat-cepat ia mengenakan sepatu sebelum orangtuanya berbicara lagi. Dan ini semakin sulit. Tidak mungkin, kan Sakura terus-menerus menutupi tangannya seperti ini. Sekarang saja orangtuanya sudah mulai curiga.

"Bagaimana, ya...?" gumamnya seraya mulai berjalan menuju halte yang terletak tidak jauh dari rumah.

Udara pagi yang sejuk membuat Sakura merasa sedikit segar. Rasanya sudah lama ia tidak melewati jalan yang kini ia susuri. Anak-anak berseragam yang lain tampak lalu lalang bersama teman-temannya. Sakura tersenyum kecil. Ia begitu merindukan suasana seperti ini. Tidak ada lagi peraturan istana yang merepotkan. Tidak ada lagi gaun. Tidak ada lagi Raja, Ratu, Yamato dan juga...

Naruto...

Wajah Sakura sedikit tertunduk begitu nama itu teringat di benaknya. Sakura jadi terpikir apa yang tengah dilakukannya sekarang. Apa Raja dan Ratu sudah menyadari kalau dirinya tidak ada lagi di istana? Atau jangan-jangan Naruto sekarang sedang dihukum?

Tiba-tiba saja Sakura jadi merasa resah. "Ini semua salahku..."

"Memangnya kau salah apa?"

Sakura berseru kaget ketika tiba-tiba saja seorang gadis berambut pirang menepuk pundaknya dan berbicara tepat di lubang telinganya. "Ino!"

"Pagi, Forehead!" Sapa Ino dengan sebuah cengiran.

Wajah Sakura berubah sumringah tatkala ia melihat kembali sahabat baiknya. Tanpa berpikir panjang, seketika itu juga Sakura langsung memeluk Ino.

"Ino-pig, lama tidak bertemu! Aku kangen sekali!" serunya.

Sudah bisa dipastikan Ino terkejut. Wajahnya terlihat bingung. Ino kemudian segera melepas pelukan erat sahabatnya yang seakan bisa meremukkannya sampai ke tulang.

"Oi, Sakura, apa yang terjadi? Kau ini mimpi, ya? Apanya yang 'lama tidak bertemu'? Setiap hari kita ketemu. Kau ini aneh sekali!"

Ah! Sakura baru ingat kalau Naruto sudah mengembalikannya ke waktu saat rombongan kerajaan istana pertama kali datang ke rumahnya. Pantas kalau Ino merasa heran. Sakura jadi malu sendiri. Tapi walaupun begitu, Sakura memang merindukan Ino. Ia refleks memeluk sahabatnya itu tadi.

"Ahaha... tidak, aku hanya bercanda, Pig. Aku teringat adegan itu di komik." Sakura terkekeh pelan.

Kedua alis Ino mengerut. "Apa-apaan? Kau sedang menghafal naskah? Memangnya mau main drama? Dari tadi hanya bicara sendiri, dasar aneh!" gerutu Ino.

Sakura hanya terkekeh kecil. Ya, sudah lama ia tidak bicara dengan Ino seperti ini.

Sesuai keinginannya, Sakura bisa kembali. Ia senang, tentu saja. Namun ada sisi hatinya yang merasa bersalah. Meskipun ini adalah keinginan Naruto sendiri, tapi menurutnya jalan ini bukanlah jalan yang tepat.

Sakura menghela nafas dengan alis bertaut. Sesaat, ia tidak mendengarkan celotehan yang dilontarkan sahabat di sampingnya. Ada sebuah perasaan gelisah yang melingkupi dadanya. Entah kenapa ia tidak bisa menghilangkan pikirannya pada sang pangeran.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Raja Minato tampak kacau. Ratu Kushina berkali-kali mendesah dengan raut wajah tegang. Berita sang Puteri yang tiba-tiba menghilang sudah sampai ke telinga mereka ketika pagi itu Matsuri tergopoh-gopoh mencari ke kamar dan sekitar istana. Mulana hanya sebagian kecil saja pengawal yang ikut mencari, namun lama kelamaan tidak ada tanda-tanda keberadaan sang Puteri dan membuat Matsuri mulai panik.

Kepanikan itu membuat seisi istana terusik sampai akhirnya terdengar sampai kepada Raja. Ia bahkan sudah menugaskan beberapa pengawal untuk mencari sampai keluar istana. Seluruh orang di istana ditanyai satu persatu, namun tidak ada yang melihat sosok puteri berambut merah muda itu.

"Saya tidak melihat keberadaan Tuan Puteri di istana. Besar kemungkinan ia telah keluar dari sini. Saya sudah menyisir seluruh ruangan di dalam istana, tapi tidak menemukan aura Tuan Puteri sama sekali," jelas Neji yang kini berlutut di hadapan singgasana Raja.

"Pangeran juga ada di istana, Yang Mulia," sahut Kakashi.

"Saya sudah meminta laporan dari semua penjaga gerbang, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat Tuan Puteri keluar istana." Yamato menambahkan.

Minato mengelus dagunya dengan raut serius. "Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres di sini. Puteri tidak mungkin tahu caranya keluar dari istana tanpa ketahuan oleh pengawal. Gerbang penghubung dunia sihir dengan dunia manusia hanya ada satu di dalam istana ini, ditambah beberapa penyihir level atas yang punya kemampuan membuka gerbang dimana saja. Dan setahuku yang memiliki kemampuan itu di istana hanya aku, Jiraiya-sama dan Tobi. Selebihnya, penyihir biasa hanya bisa lewat gerbang itu. Kesimpulannya..." Minato terdiam sesaat. Ia menatap lurus ketiga orang kepercayaannya itu. "Ada seseorang yang membawa Puteri keluar dari istana lewat gerbang penghubung di ruang bawah tanah istana," lanjutnya.

Kushina membelalak. "A-apa? Baginda yakin kalau Puteri Sakura benar-benar sudah keluar dari dunia sihir? Mungkin saja, kan Puteri masih ada di Konoha ini?"

Minato menggeleng pelan. "Kalau Puteri hanya keluar istana, pasti penjaga gerbang akan mengetahui. Kita juga sudah mengerahkan pengawal untuk mencari ke seluruh penjuru Konoha. Tapi, besar kemungkinan Puteri sudah kembali ke dunia manusia. Cara yang dilakukannya begitu rapi dan terencana. Menurutku ada seseorang dibalik ini semua."

Yamato menatap sang Raja dengan pandangan ragu. "Maksud Baginda... Tobi?"

"Aku tidak bisa langsung menjatuhkan tuduhan itu padanya. Siapapun bisa membawa Puteri melewati gerbang penghubung di ruang bawah tanah istana..." Minato mengelus pelipisnya, tampak berpikir keras. "Tapi yang jelas, kita harus membawa kembali Puteri ke istana."

"Kalau begitu, aku akan memberitahu Tobi sekarang, Yang Mulia," ujar Yamato.

"Ya, aku serahkan padamu, Yamato. Sebaiknya kalian pergi bersama Neji juga. Itu akan lebih mempermudah untuk menemukan Puteri," sahut Minato.

"Baik, Yang Mulia," jawab Yamato dan Neji bersamaan.

Iris biru Minato pun beralih pada Kakashi. "Kakashi, kau cari tahu siapa dalang dibalik ini semua."

"Aku mengerti, Yang Mulia." Kakashi mengangguk.

BRAAK! SRAAK! DUAAR!

Tiba-tiba saja suara ledakan cukup besar terdengar. Semua yang ada di ruangan sang Raja terlonjak dan langsung siaga. Minato refleks berdiri dari singgasananya.

"Apa yang terjadi?" pekik Kushina panik.

Pintu ruangan sang Raja terbuka, memunculkan Tobi yang terseok di sisi pintu dengan berlumuran darah. Semua mata terbelalak. "Y-Yang Mulia...," bisiknya dengan suara lirih, menahan rasa sakit.

"Tobi!" seru Yamato terkejut. Ia pun segera berlari menuju penyihir dimensi itu dengan segera, diikuti oleh sang Baginda dan yang lainnya. "Apa yang terjadi padamu?"

"P-penyusup... P-Pangeran..." Tobi berusaha mengeluarkan suaranya yang tampak tercekat. Namun hanya itu saja yang mampu diucapkannya sebelum ketidaksadaran membuat pandangannya menggelap dan tubuhnya terkulai.

Mata Minato melebar. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Tobi, namun kata 'penyusup' itu mampu membuatnya terusik. Tanpa berbicara apapun, Minato segera keluar dari ruangannya disusul Yamato, Neji dan Kushina, sementara Kakashi segera membopong Tobi yang tidak sadarkan diri.

Begitu keluar dari ruangan, kelimanya terperangah tak percaya saat melihat kekacauan di hadapan mereka. Beberapa pengawal tampak bergelimpangan di lantai koridor istana dengan luka di tubuh mereka. Sebagian dinding dan lantai istana hancur terkena serangan.

"Apa-apaan ini?" tanya Yamato yang menatap horror melihat hal itu.

"Penyusup!" bisik Minato. "Sial! Kenapa tidak terdeteksi? Dia berhasil menembus sihir pelindung istana tanpa merusak segelnya."

"Bagaimana mungkin? Segel sihir pelindung istana sekuat ini bisa ditembus? Siapa yang melakukannya?" Ratu Kushina menggigit bibir bawahnya geram.

Suara derap langkah bergema di koridor istana, membuat semua perhatian para penghuni istana yang kini berdiri terpaku teralih dan menatap ke depan dengan seksama. Mereka memicingkan mata dan memasang posisi siap siaga, tak sabar melihat siapa yang mendekat ke arah mereka.

"Pertahanan istana yang buruk... Aku jadi meragukan posisimu sebagai Raja Konoha. Sungguh mengecewakan," ucap sosok yang kini berdiri di hadapan Minato dan yang lainnya.

Kelopak mata Minato terbuka lebar melihat pria di depannya. Begitu pula Kushina; melotot tak percaya. Nada bicara yang tampak meremehkan itu, rambut berwarna oranye, lalu... yang menjadi ciri khas sang pria, iris mata spiral berwarna keunguan. Minato benar-benar terkejut dan untuk sesaat hanya bisa mematung. "Y-Yahiko...," ucapnya sedikit bergetar.

Yahiko menatap lurus Minato dengan ekspresi datar. "Lama tak jumpa... O-to-tou...," ucapnya dingin.

Yamato, Kakashi dan Neji terbelalak. Inilah sosok yang menghilang 20 tahun lalu dan hanya menjadi cerita istana yang memendam banyak misteri. Sosok yang tabu untuk dibicarakan dan lama tak terdengar kabarnya. Dan kini, mereka bisa melihat sosoknya secara langsung. Tiba-tiba saja tubuh mereka seakan membeku. Mereka merasakan tekanan sihir negatif yang sangat kuat. Sorot matanya yang tajam seakan menghipnotis. Bahkan sihir mata Neji yang memiliki kemampuan di atas rata-rata mungkin bukan apa-apa bila dibandingkan dengan mata milik Yahiko. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat tubuh gemetar karena tekanan kekuatan sihir yang besar.

Minato balas menatap Yahiko tajam. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah 20 tahun tidak pernah bertemu. "Apa maumu, Yahiko? Kau menghancurkan istana dan melukai para pengawalku... Benar-benar lancang!"

"Kau sama sekali tidak berubah, Minato. Tetap lemah. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otak pria tua itu sampai memilihmu yang statusnya jelas-jelas di bawah diriku sebagai Raja Konoha."

"Jangan sekali-sekali kau menjelek-jelekkan Ayah!" seru Minato. Rahangnya terlihat mengeras karena marah. "Kau kembali... hanya ingin membuat kekacauan?"

Yahiko mendengus pelan. "Aku hanya ingin mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku. Pria tua itu tidak tahu arti sebuah keadilan. Mungkin... aku juga harus mengajarimu, Minato."

"Jangan macam-macam!" Tiba-tiba saja Yamato maju selangkah dari tempatnya. Jiwa pelindungnya muncul begitu saja begitu Yahiko melontarkan kalimat ancaman. Dari telapak tangannya muncul sebatang kayu besar lalu dengan cepat melilit tubuh Yahiko erat. Semua tampak terkejut dengan aksi spontan Yamato.

Yahiko menatap Yamato dengan ekspresi yang tidak berubah dari sebelumnya, tetap tenang. "Serangan sihir seperti ini sama sekali tidak berpengaruh padaku."

PRAAAKK!

Dengan mudahnya Yahiko menghancurkan lilitan kayu ditubuhnya sampai menjadi serpihan kecil. Mata Yamato membulat.

Belum sempat bereaksi, Yahiko merentangkan sebelah tangannya ke depan. Tanpa diduga, tiba-tiba saja tubuh Yamato tertarik ke arahnya dan detik selanjutnya, ia menghempaskannya ke dinding.

DUAAK!

"Uagh!" Yamato memekik, tubuhnya menabrak dinding istana sampai hancur.

"Yamato-taichou!" seru Neji dengan mata terbelalak. Ia lalu menatap Yahiko dengan pandangan tak percaya. 'Ia bahkan tidak menentuhnya seujung jaripun! Apa dia tipe penyihir jarak jauh?' batinnya sambil meneguk ludah.

PLEK! PLEK!

WUUUSHH!

Tanpa diduga, ribuan lembar kertas melesat cepat ke arah mereka. Namun kertas itu seketika berubah menjadi tajam sehingga melukai beberapa bagian tubuh.

"Apa ini?" Kushina mencoba mengintip dari balik perisai transparan yang beberapa saat berhasil diciptakan Minato. Matanya membulat saat melihat sosok wanita berambut biru gelap yang terbang dengan menggunakan sayap raksasa dari lembaran kertas.

Begitu perhatian mereka teralihkan, Yahiko kembali melancarkan sihirnya. Ia menarik Neji lalu mencekiknya dengan kuat sampai Neji kesulitan bernafas. Tubuhnya terasa melemas ketika sadar kekuatan sihirnya ternyata perlahan diserap Yahiko.

Melihat hal itu, Minato segera bergerak dan menciptakan sihir bola angin biru yang besar. Bola itu mengarah pada Yahiko, namun ditepis oleh perisai kertas Konan sehingga menciptakan ledakan besar.

Kakashi segera maju setelah meletakkan Tobi di sudut dinding, namun kertas sihir Konan lebih gesit. Kertas itu dalam sekejap telah menyelimuti Kakashi, membawanya ke alam bawah sadar.

Yahiko melepaskan cengkeramannya pada Neji begitu penyihir berambut hitam panjang itu sudah tidak berdaya. Tubuhnya memucat karena kekuatannya telah diambil. Kushina menatap horror lalu tanpa pikir panjang segera merapalkan sihirnya.

Matanya berkilat. Rambut merah panjangnya semakin memanjang, menciptakan helaian-helaian yang melesat tajam bagaikan hujan jarum. Beberapa helaiannya berhasil mengenai tubuh Yahiko dan Konan. "Jangan seenaknya di istana kami!" teriaknya geram.

Yahiko mendecih. "Itu tidak akan lama, karena setelah ini istana akan menjadi milik kami."

"Hentikan, Yahiko!" seru Minato seraya maju untuk kembali menyerang. Namun tiba-tiba saja gerakannya terhenti ketika sebuah pedang hampir saja menebasnya. Beruntung, Minato dengan cepat dapat mengelak.

"Coba saja kalau kau bisa, Ototou..." Yahiko menyeringai.

Minato membeku dengan mata melebar. Kushina menganga melihat sosok di depannya.

"Na-Naruto! Apa yang kau lakukan?!" teriak Kushina.

"Tidak berani menyerang anakmu sendiri, eh, Minato?" tanya Yahiko.

Di hadapan mereka telah berdiri Naruto sambil memegang sebuah pedang dengan kedua tangannya yang bergetar. Kedua matanya tampak kosong, dan ekspresinya terlihat gelisah.

Minato menatap Yahiko tajam. "Kau... apa yang kau lakukan pada Naruto?"

Yahiko kembali menyeringai. "Bukan apa-apa. Hanya mewujudkan keinginannya yang terdalam dan selama ini hanya bisa ia pendam."

"Omong kosong!" pekik Kushina.

"Kalian benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah kalian lakukan pada anak kalian sendiri? Ternyata kau bukan saja Raja yang buruk, tapi juga ayah yang tidak bisa memahami perasaan anak. Kau tahu itu, Minato?"

Minato memicingkan mata. "Kau tidak tahu apa-apa, Yahiko! Jadi berhenti membual!"

"Terserah. Sekarang, hadapilah kebencian anakmu atau kau menyerah..."

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

"IPPON!"

Sakura meringis ketika lawan berlatih judonya berhasil menjatuhkan dirinya dengan cukup mudah. Sang lawan sendiri sepertinya sedikit terkejut ketika ia berhasil mengalahkan Sakura. Namun di sisi lain merasa senang. Berikutnya mereka pun saling membungkukkan badan.

Sakura keluar dari dojo dengan handuk putih kecil melingkar di lehernya. Ia mendesah pelan. Merasa kecewa dengan kekalahannya barusan.

"Wah, wah, tidak biasanya sang jagoan judo sekolah kalah dengan mudah begitu," sindir Ino yang kini sudah berada di sampingnya. Sakura hanya memutar bola matanya dan mulai duduk di bench belakang dojo sekolah. Ia meneguk minumannya dengan cepat tanpa menghiraukan Ino.

"Apa yang terjadi denganmu? Kalau aku perhatikan, akhir-akhir ini kau aneh..." Kembali Ino mengorek informasi.

"Aneh apanya, Pig? Kau ini ada-ada saja..."

"Huh, jangan pura-pura! Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, ya, kan? Kau jadi sering melamun sendiri kalau di kelas, tidak fokus saat pelajaran dan... sekarang kau dengan mudah dikalahkan. Aku tahu betul kalau judo adalah jiwamu, Sakura. Sejak kapan kau jadi terlihat tidak bersemangat begitu saat latihan, hah? Menurutku itu benar-benar aneh!"

"Hanya dikalahkan saja bukan hal yang aneh, Ino. Siapapun bisa menang dan kalah..."

"Tentu saja. Tapi dengan cara yang tidak wajar, itu sangatlah aneh!"

"Sudahlah, aku mau ganti baju dulu..." Sakura segera bergegas menuju ruang ganti, meninggalkan Ino yang merengut. Jujur, Sakura juga bingung. Entah kenapa pikirannya jadi tidak bisa fokus. Ia terus-terusan teringat pada pangeran blonde itu. Meskipun Sakura berusaha menepisnya, namun pikiran itu terus berkelebat dalam otaknya. Sampai-sampai Ino pun menyadarinya.

"Aargh! Kenapa kepikiran terus, sih! Payah!" gerutu Sakura. Ia pun melepas ikatan rambutnya dan sedikit terkejut ketika ikat rambutnya tiba-tiba saja putus. Sakura menatap ikat rambut itu dengan sedikit bingung. "Ck, padahal aku baru saja membelinya, masa sudah putus?"

Tanpa berpikir macam-macam, Sakura pun membuang ikat rambutnya begitu saja. Lantas, selesai ganti baju, ia segera keluar dengan membawa tasnya dan menghampiri Ino yang masih menunggu di bench. Seperti biasa, mereka akan pulang bersama.

"Ne, Sakura... gelangmu masih belum bisa lepas juga?" tanya Ino begitu mereka mulai berjalan menuju halte.

"Hn. Dan sekarang orangtuaku mulai merasa cemas karena perban ini terus menempel di tanganku. Mereka menyuruhku memeriksanya ke dokter. Padahal aku merasa beruntung karena Genma-sensei mengizinkanku untuk latihan judo. Aku jadi bingung, Ino... Aku tidak mungkin menutupinya terus."

"Hmm... Bagaimana, ya?" Ino menyentuh dagunya. "Aku sama sekali tidak mengerti itu gelang jenis apa."

Sakura terdiam sambil berjalan. Selama beberapa saat tidak ada percakapan, sampai kemudian Sakura memecah keheningan diantara mereka.

"Hei, Ino, aku ke rumahmu, ya? Aku beralasan kerja kelompok untuk menghindari ajakan orangtuaku untuk ke dokter."

"Heee?"

"Ya?" Sakura menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, berharap Ino akan mengerti.

Sesaat kemudian Ino pun tersenyum. "Tidak masalah, Sakura! Kau bisa ke rumahku kapanpun."

Sakura balas tersenyum lalu merangkul sahabatnya itu. "Trims, Pig. Kau memang yang terbaik!"

Tawa kecil terdengar. Mereka berdua melanjutkan perjalanan sampai akhirnya tawa Sakura tiba-tiba saja terhenti. Ia melepas rangkulannya dan tampak terkesiap saat zamrudnya menatap sosok laki-laki berambut kuning jabrik yang berjalan tak jauh di depannya.

'Tidak mungkin... Naruto?'

"Sakura?" Ino terlihat bingung dengan ekspresi wajah Sakura. Ia seakan habis melihat hantu saja.

Sakura terpaku selama beberapa detik. Kepalanya dipenuhi banyak pikiran. Yang terpikir oleh Sakura saat itu hanyalah, ia harus meminta Naruto untuk melepaskan gelangnya dan... minta maaf... Mungkin.

"Naruto!" Akhirnya setelah beberapa detik terdiam Sakura mencoba mengejar si blonde sambil memanggil namanya di tengah ramai lalu lalang orang-orang di sana.

"Eh? Hei, Sakura!" seru Ino bingung. Ia mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti. "Naruto? Siapa?"

~Bersambung...~

A/N : Holla, minna ini dia chapter 8. Maaf lagi-lagi telat. Naskah sudah ada tapi aku malas mengetiknya, hehe…

Kali ini tidak mau banyak komentar. Yang pasti aku nggak pede dengan chapter ini apalagi ada scene bertarungnya. aduh, susah, deh! Rasanya terlalu rush, ya? Kesannya juga loncat-loncat.=.= Argh! Sudahlah aku pasrah aja. Yang penting aku udah menuhin permintaan buat update. Hasilnya aku serahkan pada pembaca.

Maaf kalau ada kekurangan dan kesalahan, sungguh, aku cuma seorang amatiran yang masih harus banyak belajar. XP

Terima kasih atas waktunya untuk membaca chapter ini. Aku tunggu apresiasi dari kalian tentang chapter ini.

Ja ne^^

Special thanks to:

Amai Yuki, Namikaze Uchiha, Ai Tanaka, heryanilinda, Mistic Shadow, Lily Purple Lily, gui gui M.I.T, finestabc, fenti-chan, Lantana 'Chaori' Pinkblond, spinoff, Guest, AcaAzuka Yuri chan, mendokusai144, Lokkasena, and noviejack sevenfoldism.