Pemuda berhelai Cantaloupe itu melangkahkan kakinya disebuah lorong yang tampaknya berliku-liku, ia harus memasuki beberapa tempat agar sampai di tempat tujuannya. Perak, bila ia bisa menjabarkan tempat tersebut, semua terbuat dari perak, bahkan lantai yang ia pijakan saat ini. Hanya dinding yang mengarah pada luar yang memiliki pantulan seperti kristal, begitu transparant.

Sekarang ia menunggu sebuah lift yang mengantarkannya pada lantai atas, lift itu sama-sama memiliki warna keperakan, namun sebuah lambang berada di tengah lift tersebut. Lambang yang menyerupai sebuah tengkorak dengan lilitan ular dengan sebuah Cross dibelakangnya, Ia bersiul kecil saat lift itu membawanya pada sebuah ruangan. Setiba-nya diruangan yang ia tuju, Sang pemuda langsung menengok kearah sekitarnya, tampak mencari seseorang.

"Empero—" perkataannya terhenti ketika ia melihat sosok yang dicarinya tengah tertidur di kursi favourite-nya. Kursi yang begitu besar dengan perpaduan warna hitam dan merah, bisa dibilang kursi itu menyerupai sebuah kursi besar yang biasanya berada di sebuah permadani kerajaan, dan ketika kau melihat warna Brilliant Scarlet yang menjadi pigmen warna dari kursi tersebut, hal itu mengingatkanmu pada surai dirambut pemuda yang sedang tertidur itu.

Melihat orang yang dicarinya tengah terlelap dalam dunia mimpinya, si pemuda tidak bisa menahan senyum untuk keluar dari mulutnya. Ia mendekati sosok tersebut dengan perlahan, sebisa mungkin tidak menciptakan sebuah ketukan suara agar tidak membangunkan sosok yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Untuk sesaat ia memandang pemuda tersebut dengan pandangan yang sedih, dengan perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menyibak dengan lembut helaian rambut yang menutupi mata si pemuda berhelai Brilliant Scarlet tersebut, menampakkan sebuah bekas luka yang terdapat di sebelah matanya.

Namun, gerakan si pemuda tiba-tiba terhenti ketika si pemuda yang tengah tertidur itu terbangun, iris Heterochrome Crimson-Yellow Gold itu terbuka dengan cepat, menampilkan sebuah sorotan mata yang begitu dingin. Ia langsung mengambil pisau kecil yang ia gantungkan di sakunya lalu ia mengarahkan pisau itu ke leher si pemuda berhelai Cantaloupe . Namun, detik berikutnya ia menarik kembali tindakannya itu.

"Shigehiro 'kah?" Kedua matanya kini melihat dengan tajam sosok pemuda yang tersenyum dengan cengiran tanpa rasa takut karena perbuatan yang dilakukan sebelumnya. "Ada keperluan apa kau kemari?" tanyanya dengan suara yang dingin.

Ogiwara Shigehiro, si pemuda bersurai Cantaloupe itu masih tersenyum dengan lebar, tidak bermaksud untuk menghilangkan senyum itu dari rona wajahnya. "Jangan memasang wajah menyeramkan seperti itu dong, Emperor~" Ia menggaruk belakang kepalanya yang tampak tidak gatal, tidak lama ia langsung bertekuk lutut dengan perlahan, pandangan matanya kini melihat kedua iris mata yang melihatnya. "Aku membawakan sebuah berita bagimu, entah itu baik atau buruk~"

Iris Heterochrome itu kini menatap iris Tangerine Ogiwara dengan tatapan yang datar, ia tidak mengingat pernah memberi perintah pada sosok Ogiwara sebelumnya, namun kenapa pemuda tersebut tiba-tiba datang dan seenaknya berkata bahwa ia membawa sebuah berita yang masih tabu dalam pendengarannya itu? Karena Emperor hanya menerima kabar baik atau buruk, bukanlah sebuah kata 'entah itu baik atau buruk'. "Apa maksudmu, Shigehiro?"

Ogiwara Shigehiro kini membisikkan beberapa patah kata pada Emperor, kata yang sengaja tidak ia ucapkan dengan vocal yang dapat terdengar oleh sebuah indra pendengaran bernama telinga. Namun, perkataan dalam kesunyian itu cukup membuat Emperor untuk tersenyum lebar, senyum yang tampak begitu menyeramkan.


Kuroko no Basuke Fanfiction

"Realm of Death"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai


Hey, pernahkah kau mendengar?

Mereka, para NPC adalah seorang Player yang pernah memasuki Realm of Death.

Mereka sebenarnya mengetahui dengan jelas rahasia apa yang ada dibalik dimensi yang telah mati ini, tapi tidak ada seorangpun yang mengatakan kebenarannya.

Karena mereka semua tahu betul,

'Sins' yang mereka tanggung akibat perbuatan mereka sendiri.

Sebuah bayaran akan terikat kuat dengan dirimu ketika kau memasuki Dimensi ini.

Ketika Sang Raja telah memilihmu menjadi pasukannya,

Tidak ada lagi jalan keluar bagi jiwamu dari tempat ini.

.

.

I saw Angel of Death in my dream.

I don't even remember when it started. The Angel of Death comes day by days until i couldn't count it again.

Until someday, It took me from The Catastrophe that i must deserved,

And bring me into Realm of Death.

.

.

"Apa maksudmu dengan berubah, Murasakibaracchi?" Iris Citrine milik Kise memandang dengan serius kearah pemuda beriris Lavender yang menatapnya dengan pandangan tanpa minat sedikitpun.

Si pemuda yang ditanya olehnya hanya tersenyum lebar tanpa arti didalamnya, senyum yang ia tunjukkan hanya sekadar untuk berbasa-basi. "Ah~ aku tidak bisa memberitahukannya pada Kise-chin~ Karena harus kau sendiri yang menyadarinya~"

"Eeehh!? Tapi—tapi aku tidak menyadari apapun-ssu!" Kise kini mulai panik, ia mulai mendekat kearah Murasakibara dan mengguncang-guncangkan tubuh besar milik Murasakibara dengan perlahan.

Murasakibara sendiri tidak terlalu mengambil pusing dengan perbuatan Kise. Tiba-tiba, hidungnya kini mengendus sesuatu dan tatapan matanya kini mengarah ke langit. Ia kembali melihat kearah Kise sebelum memegang tangan pemuda Blonde itu agar berhenti. "Kalau Kise-chin sih, pasti akan menyadarinya tanpa disengaja~ Oh ya, kurasa ada seorang NPC yang memasuki "Shades of Death Road", kurasa itu Mine-chin~"

"Darimana Murasakibara-kun tahu kalau itu Aomine-kun?" tanya Kuroko sambil mengerjabkan matanya.

"Murasakibaracchi itu secara tidak langsung mempunyai penciuman yang sangat peka, Kurokocchi~ ia bisa merasakan sesuatu berdasar instingnya, aku juga baru tahu sewaktu New Game sebelumnya aku berada di tim yang sama dengan Murasakibaracchi-ssu~"

Kuroko menganggguk kecil. "Apa setiap NPC juga mempunyai keahlian seperti itu, Kise-kun?"

Kise kini menggaruk kepalanya sambil memandang kearah langit. "Yahh.. kurang lebih seperti itu, Kurokocchi~ aku sendiri mempunyai keahlian untuk meniru keahlian seseorang yang pernah kulihat-ssu!" papar Kise dengan bangga.

"Tapi kemampuan Kise-chin kadang tidak terlalu berguna sih~" timpal Murasakibara sambil memandangnya dengan wajah yang datar.

"Mouu~~!" Kise mulai merengek, ia mengembungkan pipinya sambil menatap kearah Murasakibara. "Jangan berbicara seolah aku ini tidak berguna seperti itu-ssu!"

"Ngomong-ngomong~ Kise-chin itu Guardian-nya Kuro-chin 'kah?" Pemuda bersurai Violet itu tidak menggubris pertanyaan dari Kise, namun ia langsung menanyakan pertanyaan yang baru pada Kuroko. Meski diluar Murasakibara tampak tidak terlalu peduli, tetapi diam-diam ia agak merasa khawatir bila Kuroko memperlakukan salah satu temannya ini dengan buruk.

Kuroko mengangguk. "Kise-kun memang Guardian-ku, tetapi ia juga adalah temanku, Murasakibara-kun."

Lengkungan senyum kini terpancar dari muka Murasakibara, senyum yang berbeda dari senyum yang ia pancarkan sebelumnya. "Baiklah~ kalau begitu kau harus memikirkan baik-baik bila kau ingin menambah Guradian-mu, Kuro-chin~ Seorang Player hanya boleh memiliki Guardian sebanyak 2 orang~"

Kuroko mengangguk ketika menerima informasi baru mengenai Realm of Death ini. Memang masih banyak pertanyaan yang berada didalam pikirannya saat ini, apalagi tentang Emperor yang tadi dibicarakan oleh Murasakibara sebagai pencipta Realm of Death ini.

"Apa lebih baik kita ketempat yang dimaksud oleh Murasakibaracchi, Kurokocchi?" Usul Pemuda berhelai Blonde tersebut.

"Hmnn~ kalau kalian mau kesana, aku akan ikut~ ada hal yang ingin kupastikan~"

Baik Kuroko maupun Kise tentunya sama-sama tidak terganggu dengan kehadiran Murasakibara. Mereka malah senang ketika mendapat teman baru, meskipun Murasakibara tidak menjadi Guardian bagi Kuroko. Beberapa orang mengatakan bahwa lebih banyak akan lebih baik, bukan? Apalagi di tempat yang tergolong cukup rawan seperti ini.

Setibanya mereka di portal utama, kini Murasakibara menuntun Kuroko dan Kise untuk memasuki portal menuju "Shades of Death Road" dan kali ini perpindahan dimensi mereka berjalan dengan lancar.

Hal yang Kuroko dapat tangkap dari tempat tersebut adalah satu. Menyeramkan. Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, tempat yang lebih menyerupai lorong kereta bawah tanah dengan retakan dan beberapa pilar yang telah hancur, benar-benar menyerupai sebuah tempat yang telah lama terbuang.

Entah mengapa, Murasakibara kini terlihat begitu berbeda. Wajahnya tampak begitu marah, entah apapun itu sebabnya, dan detik selanjutnya, Pemuda berhelai Lavender itu berlari ke arah lorong lain, lorong yang sama-sama terhubung dalam 1 gerbong tersebut.

"Murasakibaracchi/Murasakibara-kun!" Baik Kise maupun Kuroko kini sama-sama mengejarnya. Beberapa menit ia berlari dan Kuroko nyaris kehabisan nafas untuk mengikutinya, jelas saja, perbedaan tinggi mereka sangat berpengaruh pada langkah kaki yang mereka ciptakan. Bila Murasakibara hanya melangkah 1 kali, bagi Kuroko mungkin adalah 2x-nya.

"Murasakibaracchi! Kau kenapa-ssu!?" Kise berteriak dari belakangnya, mencoba untuk menghentikan Murasakibara. Namun, tanpa dimintapun kini Murasakibara menghentikan larinya, dan tiba-tiba saja menerjang seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiam.

Pemuda dengan surai Raven kini menempis serangan yang dilancarkan oleh Murasakibara, memang Murasakibara tidak mengeluarkan senjatanya, namun dengan tinggi dan besar tubuhnya ia berhasil membuat dirinya menjatuhi mangsanya itu.

"A—Apa!? Kenapa—" Pemuda yang diserangnya itu tampak begitu Clueless ketika Murasakibara tiba-tiba menyerangnya seperti itu.

Asap ternyata menutupi suasana disana, baik Kuroko dan Kise kini sama-sama terengah dan kehabisan nafas. Mereka kini sibuk mencari dimana pemuda berhelai Lavender itu, karena mereka saat ini berada ditengah kepungan embun yang menutupi pandangan mereka.

"Kau.. bau-mu berbeda dengan NPC lainnya," Murasakibara kini mendekatkan dirinya pada pemuda berhelai Raven tersebut. "Siapa kau!?" Wajah Murasakibara kini tampak begitu serius, berbeda dengan dirinya yang masih berada di Forest of Life, tentunya bila dibandingkan, dirinya saat ini jauh lebih menyeramkan.

Pemuda yang dimaksud kini menarik tangannya dari genggaman kasar milik Murasakibara, kemudian menatap tajam pemuda tersebut. "Bukankah tidak baik bila tiba-tiba kau menyerangku seperti itu?"

Murasakibara masih menatap pemuda didepannya dengan mata yang awas, ia sudah sigap bila pemuda di depannya tiba-tiba menyerang balik dirinya.

Detik berikutnya, sebuah kipas kini perlahan muncul dari tangannya, seperti sebuah program dalam bentuk cube, kipas yang terbuat dari lempengan besi itu kini berada dalam tangannya.

Murasakibara sendiri kini mengeluarkan sebuah tombak panjang yang begitu besar dan panjang, dimana sebuah permata transparant menghiasi tengah dari tombak tersebut.

"Kau meminta duel denganku?"

Murasakibara tidak menjawab pertanyaan si pemuda tersebut, namun iris matanya kini memandang dengan lekat pantulan Raven dari pemuda yang sudah siap menyerangnya. "Kau—berbahaya."

"Murasakibaracchi! Hentikan-ssu! Jangan menyerang tiba-tiba seperti itu!" Kise beserta Kuroko kini mendekat ketika mereka menyadari apa yang baru saja terjadi. Mereka sangat terkejut ketika melihat Murasakibara yang berhasil ditemukannya kini sedang berguling dilantai, menjepit seseorang yang tampaknya baru ditemuinya.

"Himuro!" suara itu tepat bersamaan keluar pada saat Kuroko dan Kise sama-sama memanggil nama Murasakibara, lalu detik berikutnya, suara itu terdengar kembali. "Kuroko? Kise?" Suara familiar tersebut terdengar tidak jauh dari tempat Murasakibara dan pemuda itu berasal.

Mata Kuroko kini melebar ketika melihat sosok yang ada didepannya saat ini. Embun yang menutupi sosoknya sedaritadi kini mulai memancarkan sebuah sosok yang tampak dikenal olehnya. "Akashi-kun?"

.

.

.

Entah ini bisa dikatakan sebuah kebetulan atau tidak, yang pasti saat ini ke-empatnya sedang duduk berdiam di ujung lorong. Murasakibara sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, meskipun ia masih memandang sosok Himuro seolah ia adalah musuh.

Memang tampilan Himuro agak berbeda dengan para NPC lainnya, dimana ciri khas NPC adalah menggunakan sebuah Coat yang dimodifikasi antara satu sama lain, agak mirip dengan para Player, namun para NPC mempunyai suatu lambang khusus di pakaian mereka, yaitu sebuah Tengkorak dengan lilitan Ular dan Cross dibelakangnya. Melihat sosok Himuro yang menggenakan sebuah Hakama tentu menarik perhatian mereka semua.

Kise menatap lurus sosok Himuro saat ini, sama halnya seperti Murasakibara, selama New Game sebelumnya ia tidak pernah menjumpai sosok pemuda cantik ini. "Himucchi, apakah kau NPC baru disini-ssu? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?"

Himuro tertawa kecil. "Ah, aku sama seperti kalian Kise, Murasakibara. Hanya saja aku memang tidak pernah berjumpa langsung dengan kalian sebelumnya."

"Eh? Tidak pernah bertemu langsung?" Kise mengangkat alisnya.

"Mungkin kalian akan lebih mengenalku dengan suara ini?" Himuro tidak berbicara melalui mulutnya, tetapi suara itu langsung terdengar di pikiran mereka masing-masing.

Baik Kise dan Murasakibara kini melebarkan matanya.

"Suara ini, suara yang pertama kali memberitahuku untuk mengeluarkan senjata milikku. Jadi, ini adalah suara Himuro-kun?" tanya Kuroko tiba-tiba. "Memang suaranya terdengar berbeda dengan suara asli Himuro-kun."

Akashi kini memandang jalur rel kereta yang terdapat di lorong tersebut. "Aku sudah berbicara banyak tentang seluruh dimensi ini dengannya. Seperti yang Aomine katakan, Himuro adalah peramal dalam Realm of Death, dan suatu hal yang buruk akan terjadi pada New Game kali ini."

"Apa maksud Akashicchi-ssu?"

Akashi melihat kearah Himuro yang kini mengangguk kecil. "Biarkan aku menjelaskannya," jawab Himuro. "Aku ingin meminta bantuan kalian semua. Seperti yang kalian ketahui bahwa Realm of Death kini telah berubah dan aku ingin meminta bantuan kalian untuk mencegah Emperor."

"Mencegah Emperor? Kenapa? Bukankah ia adalah pencipta Realm of Death ini, Himuro-kun?" Tidak hanya Kuroko, bahkan Kise dan Murasakibara kini terlihat kebingungan akan pernyataan dari Himuro tersebut.

"Karena Emperor telah berubah." Suara yang agak berat kini terdengar dari arah lain, sosok Aomine kini muncul dan mendekati mereka.

"Aominecchi! Kau selamat-ssu!"

Aomine tertawa tipis. "Kau kira hanya karena berpisah aku akan mati? Aku tidak selemah itu." Ia kemudian ikut duduk diantara mereka semua. "Kau Himuro, 'kan?"

Pemuda bersurai Raven itu menganggguk kecil. "Bila kau memang berambisi untuk menghentikan Emperor, aku akan membantumu."

Murasakibara kini menyeritkan dahinya. "Mine-chin, kenapa kau harus membantu Himuro? Kau tidak lupa siapa yang telah menciptakan kita, bukan?"

Kise menelan ludahnya, sungguh, ia benar-benar clueless tentang hal yang terjadi di Realm Of Death ini. Bahkan ketika tiba-tiba Aomine sendiri berkata untuk menghentikan Emperor.

Aomine menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Murasakibara. Kau juga seharusnya sudah menyadarinya, bukan? Bahwa Emperor yang kita kenal saat ini bukanlah Emperor yang seharusnya mengatur dunia ini, dunia dimana kita tinggal. Realm Of Death kini telah berubah."

Murasakibara terdiam, seperti hal yang ia katakan pada Kise sebelumnya, ia memang berkata bahwa tempat ini telah berubah, begitu banyak berubah dibanding sebelumnya.

Himuro kini kembali membuka pembicaraan. "Aku hanya bisa membantu kalian dengan meramalkan berapa jumlah Player yang memasuki Realm of Death ini. Sisanya itu tergantung kalian."

Himuro kini kembali memanggil kipas-nya, Namun dengan perlahan ia memotong lempengan Kipas tersebut menjadi 8 bagian dan meletakkan kepingan kipas tersebut hingga mengelilingi dirinya. Sebuah cahaya kini perlahan muncul ketika Himuro mulai menutup matanya.

"Ketika New Game pertama kali dimulai, jumlah Player yang memasuki Realm of Death mencapai 135, namun atas perintah Emperor, ia membantai semua kanidat yang ia rasa tidak 'berpotensi', 75 diantaranya yang masih tersisa adalah kalian berdua, Kuroko, Akashi. Namun, para Evil NPC dan Player lain yang telah saling membbunuh satu sama lain, jumlah mereka kini semakin berkurang, aku tidak terlalu yakin, tetapi 20 diantaranya kini masih bertahan."

Himuro kini menunjukkan sebuah layar dengan pantulan hologram, dimana terdapat mayat dari beberapa Player yang telah tereliminasi.

"Hei.. Himu-cchi.. kau tidak bercanda 'kan? Kenapa begitu cepat mereka—" Kise kini melebarkan matanya, tidak percaya dengan informasi yang baru saja didapatnya.

"Karena Emperor memerintahkan untuk mengeliminasi mereka, Kise." Aomine menghela nafas kecil.

"Emperor—Emperor yang kita kenal.." Kise menggelengkan kepalanya. "Bukan..bukan seperti ini."

.

.

.

Kuroko memeluk lengan kakinya ketika angin tiba-tiba berhembus dibelakang badannya. Meskipun mereka tidak bisa melihat langsung langit dari tempat yang mereka diami saat ini, tetapi Kuroko dapat melihat di menu [Home] miliknya bahwa jam kini telah menunjukkan pukul 9.45 malam. Tidak terasa mereka telah berbicara begitu panjang tentang Realm of Death sedari tadi dengan Himuro, tentang rencana yang akan dijalankan oleh mereka kelak.

"Kau belum tidur, Kuroko?"

Kuroko menggelengkan kecil kepalanya. "Aku merasakan sesuatu hal yang aneh, Akashi-kun."

"Aneh?" sebelah alis milik Akashi kini terangkat.

"Aku—seperti merasakan sebuah nostalgia." Kuroko menutup matanya perlahan. "Saat itu aku dan sebuah padang rumput dengan beberapa bunga disana, seseorang berada disampingku saat itu. Kami berdua tertawa dan menghabiskan waktu dengan perasaan yang sangat senang. Tetapi, aku tidak bisa mengingatnya, Akashi-kun. Apakah itu adalah ingatan dari kehidupanku sebelumnya?"

Akashi tersenyum kecil. "Mungkin ini yang dikatakan bahwa ingatanmu akan perlahan kembali, bukan?" Pemuda bersurai Scarlet itu kini duduk di sebelah Kuroko. "Aku mengingat sosok seorang wanita yang begitu baik, ia adalah satu-satunya sosok yang memberiku sebuah kebebasan disaat semua keharusan dan semua kewajiban menjadi tuntutan utamaku. Ia membela hak-ku untuk dan memberiku sebuah harapan. Namun, tidak lama ia dipanggil pulang karena penyakit yang diderita olehnya."

Pandangan mata Aqua itu kini menatap iris Deep Crimson milik Akashi. "Itu adalah Ibuku. Itu adalah ingatan yang kudapat saat aku masih kecil, disaat Ibuku mempertahankan kebebasanku disaat Ayahku memaksaku untuk menjadi sosok yang sempurna, sosok yang akan menjadi penerus keluarganya kelak."

"Kupikir, apa tanggapan mereka bila menemukan kita yang tidak bernyawa ketika mereka memasuki kamar kita ya, Akashi-kun?" Kuroko kini meredupkan pandangan matanya. "Kita semua para Player melakukan kontrak dengan menukar nyawa kita, bukan?"

Akashi terdiam sejenak, meskipun dalam hati ia sudah memikirkan bagaimana reaksi Ayahnya ketika melihat dirinya, tidak, mungkin bukan Ayahnya yang bahkan menemukannya, karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. "Menurutmu, bagaimana tanggapan orangtuamu, Kuroko?"

Kuroko tersenyum hambar. "Entahlah..mungkin mereka akan sangat sedih?"

"Oi! Kuroko, Akashi! Sedang apa kalian berdua disana? Ayo kemari, kita sudah mau bersiap untuk tidur!" Aomine memanggilnya dari jarak yang agak jauh, meneriaki mereka agar keduanya kini kembali.

Akashi kini bangkit berdiri, kemudian ia mengulurkan tangannya pada Kuroko. "Besok akan menjadi hari yang melelahkan, kita harus menyiapkan fisik dan mental kita, Kuroko. Ayo, kita kembali."

Kuroko mengangguk kecil kemudian menyambut uluran tangan dari Akashi. "Akashi-kun."

"Ya?"

"Apakah—kelak disaat akhir nanti kita juga akan saling bertarung untuk membunuh satu-sama lain?"

_TBC_


Special Thanks for : Overact, Seijuurou Eisha ,Sagitarius Red,opitiopi, Angel Muaffi, Yuna Seijuurou, akanemori, Yuukio , Thalia Tetsuna, Rey Ai,kiiroiyuuri & Kagamine Micha yang udah ngeripiu di chapie sebelumnya :D
and for all who fave and follow this story too :*

See you in next chapter

-renchanz