Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Rinzu15
Bab 9
"Naruto!" teriak Sakura. Ia mencoba menerobos tubuh-tubuh yang ada di depannya. Yang dipanggil tampaknya tidak mendengar seruan Sakura karena ia sama sekali tidak berhenti dan menoleh.
"Naruto!" Sakura akhirnya berhasil menyusul dan menepuk bahu si pirang. Namun seketika itu juga mata Sakura membulat saat orang yang dipanggilnya menoleh ke arahnya. Laki-laki itu bukan Naruto. Ia memiliki iris mata berwarna cokelat dan menggunakan kacamata. Matanya pun sedikit sipit.
"Maaf, siapa, ya?" tanya laki-laki itu tampak bingung seraya membetulkan letak kacamatanya.
"A-ah, gomen... Aku salah orang. Aku kira temanku." Sakura tersenyum kaku lalu membungkukkan badan.
Laki-laki itu pun hanya tersenyum. "Oh, begitu? Tidak apa-apa," sahutnya, lalu ia pun pergi.
Sakura menghela nafas. Memalukan, pikirnya. Karena otaknya hanya terfokus pada Pangeran Kuning itu ia sampai salah mengira orang.
"Sakura, kau mengejar siapa, sih?" tanya Ino yang kini sudah ada di samping Sakura.
"Bukan, Ino. Aku salah orang," jawab Sakura singkat.
Ino hanya mengernyit. "Lalu... siapa Naruto? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya... Haa!" Tiba-tiba saja Ino menutup mulutnya tak percaya dan menatap sahabatnya dengan mata membulat.
"Apa, Pig?"
"Jangan-jangan... Jangan-jangan pacarmu, ya?" seru Ino kemudian. "Kau jahat! Kau tidak pernah cerita tentang ini padaku!"
"Haah? Bukan, Piiig! Kau ini asal saja!" dengus Sakura yang wajahnya sedikit merona malu.
"Lalu, siapa? Jangan bohong, deh!"
"Sudah kubilang bukan! Naruto itu..." Sakura menggantung kalimatnya. Ia berpikir bagaimana menjelaskannya pada Ino. Sahabatnya itu pasti tidak akan percaya dengan apa yang telah terjadi padanya.
Ino kemudian memajukan wajahnya mendekat pada Sakura dengan tatapan menanti; membuat Sakura makin bingung.
"Aww!" Tiba-tiba saja Sakura meringis ketika sesaat pergelangan tangannya yang dibalut perban terasa sakit. Ia mengibas-ngibaskannya pelan.
"Kenapa?" tanya Ino.
"Entahlah. Tanganku seperti ada yang menusuk, rasanya agak panas."
Alis Ino tampak mengerut. "Ayo kita periksa!"
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Sesampainya di rumah Ino, kedua gadis itu duduk di tepian tempat tidur Ino setelah gadis pirang itu selesai meletakkan dua gelas jeruk hangat dan beberapa camilan. Sakura sudah sering main ke rumah Ino, jadi ia tidak merasa sungkan lagi. Bahkan Sakura juga akrab dengan ibunya Ino. Beberapa kali Sakura akan membantu sahabatnya itu menjaga toko bunga yang ada di lantai bawah rumah saat sedang libur sekolah atau saat senggang.
Perlahan, Sakura membuka balutan perban tangannya. Tebakan Sakura hanya mengarah pada serangga yang mungkin telah menggigit tangannya. Rasa panasnya seperti disengat lebah dan berdenyut-denyut.
"Ya ampun, Sakura..." Ino memekik pelan saat melihat pergelangan tangan Sakura yang memerah begitu perbannya dibuka.
"Apa yang terjadi?" ucap Sakura seraya membolak-balikkan tangannya dan mengamatinya dengan seksama. Ia tidak menemukan bekas gigitan apapun di sana.
"Apa mungkin infeksi?" tanya Ino.
"Infeksi? Tapi aku kan tidak terluka..."
Seketika itu bayangan Naruto tiba-tiba saja melintas dalam pikiran Sakura. Gadis itu terdiam dengan mata yang sedikit melebar. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ino..."
Suara pelan Sakura mengalihkan perhatian Ino. Ia menatap sahabatnya itu.
"Kalau aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi... Apa kau akan percaya?" tanya Sakura dengan tatapan serius.
Ino hanya memandang Sakura penuh tanya. Kedua alisnya hampir bertaut.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Suara pintu besi penjara istana menutup dengan suara keras. Selanjutnya kunci pun terpasang begitu kedua orang tahanan itu terkurung di dalamnya dengan kedua tangan terikat di depan.
Minato menatap penuh sesal pada tanah yang dipijaknya. Ia adalah Raja Konoha dan sekaligus penyihir tingkat atas yang seharusnya melindungi rakyatnya. Namun apa yang terjadi sekarang? Ia dan isterinya malah menjadi penghuni penjara istana setelah sang kakak mengambil alih istana dengan menggunakan Naruto.
Kekuatan sihir Minato dan Kushina diserap oleh Yahiko, sehingga tubuh mereka kini terasa lemas dan tidak berdaya. Tak hanya itu, semua pengawal istana telah disihir oleh Yahiko agar patuh padanya. Sekarang keadaan istana telah berbalik sepenuhnya.
"Sekarang saatnya kau merasakan penderitaan yang selama ini aku alami, Minato," gumam Yahiko dingin. "Istana ini sekarang milikku, sampai selamanya."
Angin senja menggerakkan rambut oranye milik Yahiko. Ia menatap lurus pemandangan dari jendela ruangan singgasana raja dengan ditemani Konan di sampingnya. Guratan kerasnya hidup tampak terlukis di wajahnya yang tampak lelah.
Minato menyesal dan merutuk dalam hati. Jemarinya terkepal erat menahan perasaannya. Namun, walaupun marah, Minato mencoba untuk tidak terbawa emosi. Ia yakin pasti ada jalan untuk menyelamatkan semuanya.
"Maafkan aku, Kushina...," gumamnya pelan.
Kushina menatap suaminya lalu menggeleng. "Yahiko menggunakan cara licik. Kita belum kalah, Baginda. Kita pasti bisa mengambil kembali istana."
"Yahiko sudah termakan kegelapan. Aku tidak tahu apa saja yang telah dilakukannya untuk mendapatkan kekuatan sihir terlarang tingkat tinggi seperti Mata Dewa yang digunakannya. Aku yakin tidak mudah untuk mendapatkan level sihir setinggi itu..."
"Aku juga tidak menyangka dia akan kembali..."
"Ya. Aku harap dia tidak berbuat macam-macam pada Naruto sampai kekuatan sihirku pulih..."
Kushina mengangguk pelan.
Sementara itu, di sebuah sudut ruangan, seorang gadis tampak keluar dari timbunan pasir yang menyelimutinya. Ia terbatuk-batuk dan merangkak dengan tubuh penuh luka. Dengan tertatih, gadis itu mulai berjalan hati-hati. Ia masih waspada dengan keadaan istana yang mengalami kekacauan. Semuanya terjadi begitu cepat dan mengerikan. Ia menyaksikan sendiri dari balik reruntuhan tembok peristiwa yang terjadi pada sang Pangeran, Raja dan Ratu juga para tangan kanan kepercayaan Raja. Orang itu, membuatnya bergetar ketakutan.
Ditengah koridor istana yang penuh dengan puing-puing tembok, gadis itu terus menyeret kakinya dengan susah payah. Jantungnya memburu ditengah rasa sakit yang dirasakan tubuhnya. Ia takut kalau sampai laki-laki berambut oranye itu sampai melihatnya. Maka ia pun bergegas memaksa kakinya yang penuh luka untuk terus berjalan menuju ruang bawah tanah istana.
Ini mungkin adalah usaha terakhirnya. Walau kemungkinannya kecil, namun tidak ada lagi jalan selain mencobanya.
Tak lama kemudian, gadis itu akhirnya sampai ke tempat yang dituju. Kakinya mulai terasa mati rasa, namun ia berusaha untuk tetap bergerak menuju simbol spiral raksasa yang ada di hadapannya. Dengan nafas terengah, ia mulai merentangkan kedua tangannya dan mengumpulkan semua kekuatan sihirnya. Perlahan, angin mulai berputar disekelilingnya bersamaan dengan bersinarnya simbol spiral yang ia pijak. "Gerbang Cahaya Dimensi... Terbukalah!"
Muncullah pintu penghubung yang perlahan membuka dan menampakkan cahaya putihnya yang terang. Gadis itu segera masuk ke dalamnya tanpa membuang-buang waktu lagi. Detik berikutnya, pintu pun menghilang dan keadaan kembali sunyi.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"A-apa? Jadi kau pergi kau pergi ke dunia sihir dan... dan... dijodohkan dengan Pangeran bernama Naruto? Lalu, gelang ini benar-benar gelang ajaib?" seru Ino tak percaya.
"Ya, mereka bilang ini adalah gelang sihir. Akulah orang yang terpilih sebagai calon pengantin Pangeran karena aku pernah menolongnya. Argh, kau tidak akan mengerti bagaimana keadaan di sana!" Sakura mengacak rambutnya pelan. "Semuanya... membuatku heran, takjub, bingung..."
"Entahlah, Sakura... Bagiku ini seperti cerita dongeng, kau tahu? Penyihir dan sebagainya..."
Sakura mendesah pelan. "Yah, sudah kubilang kau pasti tidak akan percaya. Memang..."
"Tapi... kalau kau memang benar-benar mengalaminya, aku rasa aku bisa percaya." Ino menepuk pundak Sakura sambil tersenyum kecil. "Kau sudah menjadi sahabatku sekian lama, dan aku tahu dirimu, Sakura. Kau bukan tipe orang yang suka membual dan berbohong. Jadi, meskipun ini sungguh membingungkan, aku percaya padamu. Aku rasa... gelang itu juga bisa menjadi salah satu bukti."
"Ino..." Sakura memeluk sahabatnya itu; terharu. "Terima kasih. Kau memang yang terbaik!"
Ino tersenyum dan balas memeluk Sakura.
"Lalu... apa kekuatan sihirmu? Mungkin kau bisa menunjukkannya padaku," tanya Ino setelah melepas pelukannya.
Sakura menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."
"Heee?"
"Selama aku memakai gelang ini, aku tidak pernah mengeluarkan sihir apapun. Pernah suatu kali aku mencobanya pada sapu, maksudku, sih siapa tahu aku bisa terbang gitu seperti penyihir-penyihir dalam dongeng, tapi nyatanya tidak terjadi apa-apa. Mungkin memang perlu triknya. Aku juga sempat berpikir kalau mungkin Raja berbohong tentang gelang ajaib ini, entahlah..."
"Hmm..." Ino mengangguk kecil. "Tapi pasti keren, ya kalau memang kau bisa menggunakan kekuatan sihir. Pasti tidak akan ada yang berani macam-macam padamu, hehe..."
Sakura hanya mengangkat bahunya seraya terkekeh kecil.
"Terus... Naruto itu seperti apa? Pasti tampan, ya? Pangeran, kan biasanya tampan dan gagah. Kau pasti langsung jatuh cinta, benar, kan? Kyaaa... aku iri padamu, Sakura! Aku jadi ingin lihat!"
"Umm... Tidak juga."
"Hah?"
"Menurutku Naruto jauh dari kesan gagah. Kalau dibilang tampan juga... Mungkin lebih tepat kalau dibilang manis."
"Apa? Manis, kan biasanya untuk cewek, kau ini bagaimana, Sakura!"
"Memang begitu, kok! Dia itu Pangeran yang manja, agak sombong dan menyebalkan. Kau tahu, masa dia langsung merengek dan berteriak seperti anak kecil gara-gara pipinya terluka sedikit!"
"Masa, sih? Ya ampun..."
"Tapi..." Pandangan Sakura terlihat menerawang sesaat.
"Tapi?"
"Kurasa dia kesepian. Seperti menahan beban... Masa depannya selalu diatur oleh orangtuanya. Dia tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri."
Ino cukup terdiam mendengarnya. Ia bisa melihat raut wajah Sakura yang terlihat sedih. "Kasihan juga, ya?" gumamnya pelan.
Kedua jarum jam dinding di kamar Ino terus bergerak melewati angka demi angkanya hingga tidak terasa hari sudah mulai senja. Cahaya matahari yang berwarna oranye menembus jendela kamar si gadis pirang, tenggelam menuju ufuk barat.
Selama itu pula Sakura menceritakan semuanya pada Ino. Sakura tidak tahu harus pada siapa lagi ia menceritakan pengalaman anehnya selain pada Ino. Walaupun tidak memberi solusi apapun, namun Sakura cukup lega telah menceritakan semuanya. Setidaknya, ia tidak perlu memendamnya sendiri.
Setelah berbincang banyak, akhirnya Sakura memutuskan untuk segera pulang. Ino tampak melambaikan tangannya begitu Sakura mulai berjalan ke luar rumah yang merangkap kios bunga tersebut. Di belakangnya terlihat ibu Ino yang tersenyum lembut ke arahnya. Sakura balas tersenyum dan mulai berjalan menjauhi rumah sahabatnya.
Sesaat, Sakura memegangi pergelangan tangannya yang sudah kembali ditutupi perban. Rasa panas itu masih menjalari pergelangan tangannya.
Gadis berambut merah muda itu mendongak menatap langit yang menggelap dan mulai terlihat beberapa titik yang bersinar. Dahinya mengerut.
"Perasaanku tidak enak...," batinnya seraya meremas pergelangan tangannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Suasana rumah mulai sepi. Kizashi, yang biasanya tidur paling larut, kini sudah beranjak ke alam mimpi sejak tiga jam yang lalu. Sementara di kamarnya, Sakura sendiri masih belum bisa terlelap di waktu yang hampir menginjak tengah malam. Rasa panas yang disebabkan oleh gelang yang terpasang di tangannya kini mulai menjadi. Padahal sejak sore tadi, ia tidak begitu menghiraukannya, tapi sekarang rasanya malah seperti dibakar.
Karena merasa tidak tahan, Sakura kemudian bangkit dan turun menuju dapur untuk mengambil es batu. Dimasukkannya es batu itu ke dalam ember kecil dan menambahkannya air sampai nyaris penuh. Ia pun lalu merendamkan tangannya ke dalam ember. Terasa lumayan nyaman.
Namun, belum lama Sakura menikmati kegiatannya, tiba-tiba saja ia tersentak kaget ketika terdengar suara berisik dari arah pintu dapur yang menghubungkan ke halaman belakang. Sakura terdiam sebentar dan memastikan pendengarannya kembali. Lagi, suara itu terdengar dan semakin mendekat. Penasaran, Sakura pun mengangkat tangannya lalu menggapai sebuah teplon untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada pencuri yang sedang mengendap-endap.
Sakura melangkah tanpa suara mendekati pintu dapur yang memiliki jendela kecil dibagian atasnya. Begitu Sakura menyingkapkan sedikit tirainya...
BRAAKK!
Seseorang menabrak pintunya, membuat Sakura terlompat dari tempatnya dan terdiam dengan jantung berdebar. Beberapa menit Sakura menunggu, namun suara itu tidak terdengar lagi. Akhirnya Sakura kembali menyingkapkan tirainya untuk memastikan. Kali ini matanya membulat saat melihat ada sesosok gadis berambut cokelat terkulai di atas lantai halaman dengan sisi tubuh yang bersandar pada pintu dapur. Sakura tidak bisa melihat wajahnya karena gadis itu meringkuk dengan rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Sakura cukup takut, tapi ia sepertinya mengenali gadis itu. Pakaian yang dipakainya tidak asing lagi.
"T-Tuan Puteri... Tuan Puteri Sakura, tolong..." Suara lirih gadis itu terdengar. Sakura tercengang saat menyadari suara yang dikenalnya. Maka cepat-cepat Sakura membuka pintu dan mendapati sang pelayan kerajaan yang terluka.
"Matsuri!" seru Sakura seraya membantu Matsuri untuk berdiri. "K-kenapa kau bisa ada di sini?"
"Tuan Puteri, s-sesuatu yang buruk telah terjadi di istana..."
Mata Sakura terbuka lebar. Ternyata perasaannya memang tidak salah. Sekarang terbukti kalau memang ada sesuatu yang terjadi. Mungkin rasa panas yang ditimbulkan oleh gelang di tangannya juga adalah suatu tanda.
"Kita bicarakan sambil aku mengobati lukamu, Matsuri," sahut Sakura yang segera membopng Matsuri menuju kamarnya. Sebenarnya Sakura ingin membawa Matsuri ke rumah sakit, tapi tidak mungkin dirinya membopong Matsuri ke jalanan tengah malam begini, jadi Sakura hanya bisa merawat sebisanya. Untunglah, sepertinya Matsuri tidak sampai terluka parah.
"Maafkan saya, Tuan Puteri. Saya tidak seharusnya merepotkan Tuan Puteri dan datang kemari. Hanya saja, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan...," ujar Matsuri dengan pandangan mata yang tampak meredup.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya saat ini, yang penting luka ini tidak sampai kena bagian vitalmu karena aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit saat ini."
"Tidak apa-apa, Tuan Puteri. Saya hanya terkena luka luar saja karena saya sempat melindungi tubuh saya dengan perisai pasir."
"Syukurlah kalau begitu."
Setibanya di kamar Sakura, Matsuri segera dibaringkan di atas tempat tidur Sakura ―setelah sempat menolak dan bersikeras untuk berbaring di lantai karena Matsuri merasa dirinya tidak seharusnya menggunakan tempat tidur 'Tuan Puteri-nya'. Sakura segera mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka Matsuri.
Beberapa menit hanya sunyi yang terjadi di kamar itu, sampai kemudian Sakura terkejut ketika melihat sebulir air mata jatuh membasahi pipi Matsuri. Gadis itu menangis pelan.
"Matsuri?"
"Maaf, Tuan Puteri. Tidak seharusnya saya bersikap seperti ini," ucap Matsuri seraya mengusap air matanya. "Saya tidak bisa menahannya..."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Istana... tiba-tiba diserang penyusup. Dia menyerang semua orang di dalam istana dan membuat beberapa bagian istana hancur. Dia penyihir tingkat atas yang mempunyai kemampuan sihir dengan mengendalikan seseorang. Semua terluka, bahkan... bahkan sampai Raja dan Ratu menjadi tahanan penjara..."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Dia memperdaya Pangeran. Raja dan Ratu tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mungkin Yang Mulia menyerang Pangeran. Akhirnya Raja dan Ratu disekap di penjara istana dan kekuatan sihirnya dihisap penyusup itu."
"Pangeran diperdaya?"
"Benar, Tuan Puteri. Pangeran kehilangan kesadarannya dan bertindak sesuai perintah penyusup itu."
"Siapa? Siapa yang melakukannya?"
"Dia... Namikaze Yahiko. Kakak Baginda Raja Minato yang selama 20 tahun menghilang."
"A-apa?" Sakura terbelalak. "Namikaze Yahiko?"
Ingatan Sakura kembali ke saat ia tengah berada di ruangan Shizune. Saat ia menemukan buku kuno Silsilah Kerajaan Konoha. Sakura masih ingat nama itu. Nama keluarga yang sama dengan Raja Minato, hanya saja tidak memiliki keterangan apapun. Laki-laki berambut oranye yang mirip dengan Raja.
Kali ini dua pertanyaan Sakura terjawab: kenapa pria itu mempunyai wajah dan nama belakang yang sama. Karena ternyata pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah saudara laki-lakinya. Sakura terkejut mendengarnya.
"J-jadi, Namikaze Yahiko itu adalah kakak Raja Minato? Lalu kenapa dia menyerang istana?"
"Yahiko-sama tidak terima kalau Raja Minato yang notabene adalah adiknya menjadi Raja Konoha. Dulu Ayahanda Yang Mulia lebih memilih Raja Minato sebagai Raja Konoha berikutnya dibanding Yahiko-sama. Tetua Jiraiya melihat suatu kekuatan gelap dalam diri Yahiko-sama yang dikhawatirkan akan membahayakan istana dan rakyat Konoha. Karena itulah Yang Mulia memilih Baginda Minato. Namun keputusan itu membuat Yahiko-sama geram dan beberapa kali mencoba melakukan usaha pembunuhan pada Raja Minato. Gara-gara itu Yahiko-sama diusir dari istana dan tak pernah terdengar lagi kabarnya selama 20 tahun."
"Karena itu Yahiko dendam pada ayahnya dan iri pada Raja Minato?"
"Benar, Tuan Puteri. Selama 20 tahun itu Yahiko-sama menyimpan dendam dan sekarang dia kembali untuk merebut istana dengan memanfaatkan Pangeran."
Sakura tertegun dengan bibir terkatup rapat. Ia baru tahu kalau masa lalu Konoha ternyata memiliki konflik serius. Mungkin saat itu sang ayah memiliki pilihan yang sulit. Di satu sisi ia tidak ingin terlihat seperti pilih kasih, namun di sisi lain, ia juga tidak ingin mengorbankan masa depan istana.
Tiba-tiba saja Matsuri bangkit dari tempat tidur saat Sakura selesai mengobatinya. Ia berlutut di depan Sakura, membuat gadis beriris hijau itu tercengang.
"Maafkan kelancangan saya, Tuan Puteri. Tapi saya mohon, tolonglah Pangeran, Raja dan Ratu. Saya yakin saat ini hanya Tuan Puteri yang bisa menyelamatkan istana."
"T-tapi apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya kekuatan sihir seperti kalian!"
"Itu tidak benar, Tuan Puteri. Gelang yang Puteri pakai itu bisa memberi kekuatan besar, bahkan sanggup untuk mengalahkan sihir terkuat Yahiko-sama sekalipun."
Sakura tertunduk. "Tapi... kau tahu sendiri, kan kalau aku tidak bisa menggunakannya..."
Matsuri terdiam sesaat, tampak berpikir. Detik selanjutnya ia menatap sang Puteri. "Gelang itu akan berfungsi jika Tuan Puteri memiliki keyakinan kuat," ucapnya.
'Keyakinan kuat...,' ulang Sakura dalam hati.
"Sejak kecil... Pangeran Naruto selalu tidak diberikan pilihan. Pangeran menjalani kehidupan sesuai peraturan istana, termasuk juga menikah. Tapi... tapi baru kali ini saya melihat Pangeran memilih pilihannya sendiri..."
Kedua alis Sakura berkerut. Ia menanti kalimat yang selanjutnya akan keluar dari mulut Matsuri.
Gadis maid itu mendongak menatap Sakura. "...yaitu, saat Pangeran memutuskan untuk membawa Puteri pulang... Meskipun tahu resikonya sangat besar."
Mata Sakura kembali membulat. Matsuri mengetahuinya?
"Saya tahu kalau Pangeran yang melakukan hal terlarang itu. Gerak-gerik Pangeran yang menjawabnya. Saat kabar Puteri menghilang, Pangeran yang biasanya akan ikut memarahi, kali itu hanya diam dan berwajah tenang. Saya tahu... kalau di dalam hatinya Pangeran sangat peduli pada Tuan Puteri karena itulah Pangeran menginginkan Puteri bebas dan menjalani kehidupan Tuan Puteri yang sebenarnya." Matsuri terisak pelan. "Tapi sekarang... keinginan terpendam Pangeran justru dimanfaatkan oleh Yahiko-sama untuk melakukan pemberontakan. Tanpa disadari Yang Mulia Raja, sesungguhnya Pangeran Naruto-lah yang selalu menjadi korban. Mungkin... mungkin Tuan Puteri juga menyadarinya, bukan?"
Sakura tertegun. Yang dikatakan Matsuri memang benar. Bahkan Naruto sendiri pun mengakui kalau dirinya adalah boneka kerajaan. Mungkin Naruto memang tidak memiliki pilihan, tapi walau bagaimanapun semua orang berhak untuk bahagia, sekecil apapun itu.
"Aku mungkin memang hanya akan jadi boneka kerajaan..."
"Aku ditolak Hotaru dan bahkan manusia biasa sepertimu. Mungkin hanya akan terus seperti itu..."
"Tapi aku sudah berjanji akan mengembalikanmu. Dan itu adalah keinginanku sendiri."
"Maaf... sudah melibatkanmu dalam masalah ini, Sakura-chan..."
Tangan Sakura mengepal. Kalimat-kalimat Naruto terekam kembali dalam memorinya. Kalau memang Sakura bisa melakukan sesuatu dan menolong Naruto, juga orang-orang istana, dirinya tidak keberatan. Masalah awalnya dengan kerajaan mungkin bisa ia kesampingkan dulu. Meskipun ia sedikit enggan untuk kembali lagi ke istana, tapi kali ini Sakura tidak punya pilihan. Bahkan sampai Matsuri pun mempercayakan hal ini padanya.
Sedikit saja, Sakura ingin memberi kebahagiaan untuk Naruto.
"Aku akan pergi, Matsuri. Bawa aku kembali ke istana." Mata Sakura berkilat penuh keyakinan. Matsuri mendongak tak percaya sebelum kemudian menunduk dengan senyum haru.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Puteri."
~Bersambung...~
A/N : Baru-baru ini aku nonton anime series judulnya La Storia de la Arcana Famiglia. Dan kalian tahu? Dua cowok di film itu (namanya Liberta dan Nova) mirip banget sama Naruto dan Sasuke, aslinya! (Dari warna rambut sampe sifatnya.) Dan aku jadi ngefans banget sama Liberta, kyaa… keren #Ok, abaikan curcol XP
Yosh, makasih yang udah sabar nunggu update-an dan nyempetin waktunya buat baca dan review chapter kali ini. Maaf kalo banyak kekurangan dan kesalahan. Chapter berikutnya adalah misi penyelamataaan!^o^9
Special thanks to:
mendokusai144, Natsuya32, , heryanilinda, LylaAkariN, Guest, Ltn. Ryou Misaki, Amai Yuki, Lily Purple Lily, Ai Tanaka, Finestabc, Nandazure, silent reader dan semua yang udah nge-fave dan follow.
