Dalam ingatan, dunia Monochrome dimana hanya terlihat warna abu-abu, disanalah sepasang anak kembar terletak di sebuah ruangan. Anak kembar itu sama-sama berdempetan antara satu sama lain, dimana bagian pinggir perut mereka sama-sama terhubung. Diluar jendela tempat si kembar itu berada, seorang dokter kini sedang berbicara dengan sosok seorang wanita yang kini tengah menangis. Dengan berat hati, akhirnya ia menandatangani sebuah kertas yang dokter itu sodorkan padanya.

Setting dari tempat itu kini berubah. Si kembar berada di tempat dimana cahaya kuning menyinari mereka berdua dengan begitu terang, dimana banyak sosok dokter dan suster yang mendampingi mereka. Dimana sang Dokter membawa beberapa alat untuk membedah, ruang operasi.

'Hanya satu diantara dua anak ini yang dapat hidup.'

'Tidak bisakah," suara isakan kini terdengar dengan begitu jelas. "Tidak bisakah mereka berdua sama-sama hidup?'

'Presentasi kehilangan keduanya bisa terjadi bila Ibu tidak segera memutuskannya. Setidaknya salah satu diantara mereka masih bisa hidup, tetapi..ada satu hal.'

'Satu hal?'


Kuroko no Basuke Fanfiction

"Realm of Death"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai


Dearly Mother,

Why do you enmity me so much? I deserved to live too.

But—why? It is because you regard him more than me?

Because he doesn't mute like i do?

Oh.. right,

You must be loathing me , don't you? Afterall, we are not the child that you desire to.

.

.

Pemuda berhelai Brilliant Red itu tersentak ketika sebuah tangan berada di pipinya, pemuda dengan iris Tangerine memandangnya dengan tatapan yang khawatir.

"Shigehiro, apa yang kau lakukan?" dia memandang pemuda didepannya itu dengan tatapan yang tajam, tetapi ia tetap membiarkan mereka dalam posisi yang sama seperti itu.

Pemuda berhelai Cantaloupe tersebut malah menaikkan alisnya. "Harusnya aku yang balas bertanya, ada apa denganmu, Emperor?" Ogiwara Shigehiro kini mengusap airmata yang turun dari pelupuk mata si pemuda beriris Heterochrome tersebut.

Emperor terdiam, ia bahkan tidak mengetahui mengapa airmatanya tiba-tiba turun seperti itu. Aneh, hanya saja perasaan sedih tiba-tiba menghantui dirinya. Pemuda berhelai Brilliant Red kini menjatuhkan kepalanya di antara pundak milik Ogiwara yang sedang bertekuk lutut didepan kursinya.

Ogiwara sendiri kaget ketika ia mendapati sosok yang ia kenal, sosok yang begitu kuat itu kini menunjukkan sisi lemahnya didepan dirinya.

"Hari ini—aku akan pergi menjalankan misiku," Ogiwara berbisik dengan pelan. "Aku pasti akan merindukanmu, Emperor~" Katanya sambil mengalungkan tangannya di pundak si pemuda yang berada didepannya.

"Ck.. kau masih bisa datang kapanpun kau mau, Shigehiro. Dengan kemampuanmu yang bisa menghilang kapanpun itu, tidak masalah bagimu, 'kan?" Emperor mengendus kecil sambil menaikkan kembali kepalanya, menunjukkan rona wajah yang sudah hilang dari airmata yang baru saja turun. Sorot matanya kini memandang dingin sosok Ogiwara yang malah membalasnya dengan cengiran diwajahnya.

"Ahh~ padahal kukira Emperor akan merindukanku bila aku pergi~"

Senyum sinis kini muncul di rona wajah milik Emperor. "Tentu saja aku akan merindukanmu, Ogiwara Shigehiro-ku." Paparnya dengan nada yang sarkatis.

Brrrt! Seketika itu juga bulu kuduk Ogiwara langsung berdiri, keringat dingin langsung keluar dari pelipis kepalanya. Rupanya ia telah menekan tombol yang salah ketika berbicara pada Masternya itu.

"E—errr.. ka—kalau begitu aku pergi dulu, Emperor." Senyum Ogiwara sambil melangkah mundur, lalu pada detik berikutnya, ia langsung menghilang, bahkan sehelai rambutpun tidak bersisa dari tempat tersebut. Ogiwara Shigehiro kini telah pergi.

Emperor menghela nafas kecil, ia mengangkat tangan kanannya menuju bagian perut kanan-nya. "Perasaan sebagai manusia hanya akan menganggu." Pantulan Heterochrome-nya kini berkilat dengan begitu tajam. "Hancurkan, akan kuhancurkan semua perasaan ini."

.

.

.

"Apakah—kelak disaat akhir nanti kita juga akan saling bertarung untuk membunuh satu-sama lain?" Kuroko memandang iris Deep Crimson milik Akashi yang melihat kearahnya.

Namun Akashi tersenyum. "Bila ada tempat dimana kita tidak saling membunuh, mengapa kita harus bertarung satu sama lain, Kuroko? Bila kau percaya padaku, semua kebenaran tentang Emperor dan Realm of Death ini, kita akhiri semuanya bersama, dengan para NPC yang akan membantu kita juga."

Mata Kuroko kini melebar, ia tersenyum sebelum membalas uluran tangan milik Akashi. 'Kupegang janjimu, Akashi-kun."

Sebelum mereka tidur, Himuro kini pamit pada mereka semua, wajahnya menunjukan rona yang sedih, sedih karena ia tidak bisa pergi bersama untuk melakukan misi mereka.

"Aku khawatir kalau aku harus pergi sekarang. Grim Reaper sedang mengincarku saat ini karena aku telah melanggar peraturan di Realm of Death," senyum Himuro. "Kuharap kalian bisa selamat hingga akhir nanti."

Setelah mengucapkan itu, Himuro kini menundukkan kepalanya. Sebelum ia pergi, ia sempat melihat sorotan mata Violet milik Murasakibara yang memandang kearahnya sebentar, tetapi si pemuda berhelai Lavender itu langsung membuang mukanya. Himuro hanya tersenyum tipis sebelum ia benar-benar meninggalkan mereka semua.

Tengah malam, pada saat mereka baru saja beberapa jam tertidur, tiba-tiba suara kegaduhan kini terdengar dengan sangat jelas. Sebuah asap mengepul tak jauh dari tempat mereka berdiam. Murasakibara yang mempunyai penciuman paling tajam langsung bangun dan meneriaki semuanya untuk memasuki mode Battle.

[A Suprise Attack mode]

Akashi kini mengenggam tangan milik Kuroko yang berdiri tidak jauh darinya, memastikan agar mereka berdua tidak terpisah dari asap yang mulai menganggu penglihatan dan nafas mereka.

Kise kini terbatuk. "Ughh, ini..serangan mendadak? Tapi—siapa?"

"Para Player lainnya yang mungkin mengincar nyawa Akashi dan Kuroko, Kise. Kita semua harus melindungi mereka." Aomine melihat kearah sekitarnya, kini beberapa Player mulai bermunculan dari balik asap yang perlahan memudar.

"Kurokocchi! Akashicchi! Kalian selamat?" teriak Kise dari tempat dia berasal, Kise kini memandang arah sekitarnya, mencoba melihat diantara kebulan asap.

"!" Pantulan cahaya Violet dari iris Murasakibara kini melebar. "Mereka memasang Barrier." Tangannya perlahan mengarah kedepan, menyentuh sebuah dinding yang memisahkan mereka dari Akashi dan Kuroko.

"SIAL!" Umpat Aomine sambil memukul barrier tersebut. Barrier tersebut tampak seperti pembatas di tempat mereka berdiam, pembatas agar Aomine, Kise maupun Murasakibara tidak dapat memasuki tempat tersebut. Aomine kini mengeluarkan Hammer yang menjadi senjatanya lalu memukul pembatas itu sekuat tenaga. Namun sekuat apapun Aomine memukulnya dengan kapak miliknya, barrier itu tetap tidak berguncang.

Kise menutup matanya perlahan, disaat seperti ini ada baiknya bila ia tetap berpikir dingin. Dalam sekejab, sebuah pemikiran kini melintas dikepalanya.

[Kurokocchi, kau bisa mendengarku?]

[Kise-kun? Kenapa aku bisa mendengar suaramu? Dimana-]

[Aku bisa berbicara seperti ini karena aku terhubung denganmu oleh kontrak kita. Aku ingin meminjam kekuatanmu. Seorang Guardian hanya bisa mengeluarkan kekuatannya ketika MP seorang Player diberikan untuknya. Kurokocchi, berikanlah aku perintah untuk menghancurkan barrier ini, sebelum Player lain menghabisi kalian berdua.]

[... apa yang harus kulakukan?]

[Berikanlah perintah padaku untuk menghancurkan barrier ini, Kurokocchi. Tapi, kau harus siaga disana, memakan habis MP-mu akan membuat kau kehabisan energi. Dan juga.. aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Maukah kau bertaruh, Kurokocchi?]

[Aku mengerti, Kise-kun. Aku dan Akashi-kun benar-benar terkepung disini. Tolong selamatkan kami berdua.]

[NPC Player – Kise Ryouta. Breaking the Barrier – Order Accepted]

- oOo oOo oOo -

Dalam Barrier, dimana sebuah dinding pembatas terlihat dengan jelas oleh Akashi dan Kuroko. Mereka sama sekali tidak bisa melihat sosok Kise, Aomine dan Murasakibara yang tepat berada di luar Barrier tersebut, seolah pantulan dari Barrier itu benar-benar membutakan mata mereka berdua dari dunia luar.

"Wei," Panggilan sosok pemuda dengan tinggi badan sekitar 176cm itu keluar dari arah kerumunan. Ia memiliki helaian Ash Blonde Hair, pandangan matanya kini melirik kearah pemuda yang berdiri tidak jauh dari tepatnya berdiam.

"Coba kulihat." sebuah suara lain kini terdengar dari salah satu kerimbunan orang yang mengelilingi Akashi dan Kuroko. Sebuah figur berhelai Light Brown yang nyaris memiliki tinggi sepantaran dengan Murasakibara kini terlihat didepan mereka dengan mata yang agak sipit. "Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya. Keduanya Player." Jawab sosok yang dipanggil Wei tersebut.

" Kebetulan yang bagus, bagaimana bila kita habisi keduanya? Lebih mudah untuk menuju stage selanjutnya, bukan?" Pemuda berhelai Black Spikey Hair dengan beberapa poni menggantung kini tersenyum lebar.

"Akashi-kun," Kuroko kini melihat kearah sekitarnya, mendekat kearah Akashi lalu berbisik kecil. "Kise-kun dan yang lainnya sedang berusaha untuk memasuki tempat ini. Kondisiku tidak memungkinkan untuk bertarung dengan serius karena Kise-kun memakai sebagian energiku untuk menerobos masuk."

Mengerti dengan pembicaraan Kuroko, Akashi mengangguk kecil. Mau tidak mau hanya dia yang bisa bertarung dengan sungguh-sungguh. "Baiklah, sebisa mungkin bertahanlah hingga yang lainnya bisa masuk kemari, Kuroko." Balasnya sambil berbisik.

Pandangan mata Akashi kini menatap tajam beberapa kerumunan orang yang ia duga sebagai Player dan NPC lainnya. Pertarungan mereka saat ini tentu sangat berat sebelah.

Beberapa NPC dan Player kini mulai maju untuk menyerang Akashi dan Kuroko. Ketika sebuah serangan mengarah kearah mereka, keduanya langsung bergerak untuk menghindari serangan tersebut. Serangan lainnya kini muncul menghujani mereka. Dengan sigap Akashi langsung memegang tangan Kuroko yang tampaknya hilang keseimbangan.

Akashi tersenyum dengan sarkastik. "Kalian tidak pernah diajarkan untuk bertarung secara sportif ya? Menyedihkan." Ucapnya dengan nada yang begitu dingin.

[Equip Weapon – Rappier – Handgun Accepted]

Akashi dan Kuroko kini sama-sama mengeluarkan senjata milik mereka masing-masing. Kuroko dengan cepat membidik kearah Player dan NPC yang berusaha untuk menyerangnya. Selama beberapa kali Akashi memblokir serangan para NPC untuk membuka celah bagi Kuroko untuk menyerang mereka dari jarak jauh.

Namun, sekuat apapun mereka berdua, tetap saja keduanya kalah jumlah.

Sampai suatu titik jenuh dimana seorang Player kini menangkap sosok Kuroko.

"Eits~ buang senjatamu bila kau tidak ingin melihat dia terluka." Ucap Pemuda bersurai Ash Blonde tersebut.

Akashi mengepalkan tangannya dengan erat. Ia memandang tajam beberapa Player dan NPC yang kini melihatnya dengan sorotan yang meremehkan.

Tapi sebagai Kuroko Tetsuya, tentu saja dia tidak bersedia untuk menjadi tahanan dengan pasrah begitu saja. Dengan gerakan yang cepat, ia menyikut perut dari sosok yang menangkapnya, membuat sosok tersebut meringis kesakitan. Setelah Kuroko terlepas, ia segera menembak sosok tersebut.

Lalu hal yang sama seperti sebelumnya kini terjadi. Beberapa karakter yang telah terkalahkan kini perlahan menghilang dari medan pertempuran tersebut.

Akashi yang sudah memperkirakan gerakan Kuroko kini mulai men-spell sihir miliknya.

[Spell- Magic Skill – Fire Strom]

Sebuah bongkahan api kini muncul dari langit, api yang kini menghujani mereka semua.

"Akashi-kun, bagaimana cara mengeluarkan spell seperti itu?" Mata Aqua milik Kuroko kini melihat kearah pemuda berhelai Scarlet tersebut.

"Aku ingin memberitahumu, tapi aku tidak menyarankan untuk memakainya ketika Kise sedang berusaha diluar sana, Kuroko. Kau bisa kehabisan energi." Sebuah keringat kini jatuh dari pelipis milik Akashi. "Kau masih bisa bertahan?"

Kuroko mengangguk kecil.

BAMM!

Sebuah ledakan besar kini terdengar tepat dari sebelah mereka berdiam. Sebuah Gabungan Sihir kini mengarah kearah mereka berdua.

Akashi dan Kuroko kini sudah sama-sama kelelahan. Serangan gabungan tersebut pasti akan membuat luka yang cukup parah bila mengenai mereka. Belum ditambah dengan beberapa NPC lainnya yang maju untuk menyerang mereka dari jarak dekat.

Baik Jarak jauh maupun jarak dekat, Akashi dan Kuroko sama-sama terancam bahaya. Bila mereka lengah sedikit saja, mereka sudah tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri mereka.

Kuroko mengingit bibir bawahnya. "Mengapa—mengapa para Player harus bertarung satu sama lain seperti ini?" Kuroko melontarkan pertanyaan tersebut sambil menangkis serangan dari Player lain yang menyerangnya.

Pemuda dengan surai Messy Purple Hair yang nyaris menutupi kedua matanya kini memukul mundur Kuroko dengan pedangnya. Pemuda tersebut mengunyah sesuatu dalam mulutnya, tampak seperti permen karet. "Kenapa para Player bertarung? Bukankah sudah jelas untuk membuat keinginan kita terwujud!?" Bersamaan dengan teriakan pemuda tersebut Kuroko kini dipukul mundur, membuat dirinya tersungkur di lantai dari gerbong tempat mereka bertarung.

Serangan yang tidak adil itu kini terus menghujanji mereka, Kuroko dan Akashi kini sama-sama terjepit, bukan hanya karena Kuroko terpisah dengan Kise sebagai Guardian-nya. Tetapi membuat mereka bertarung secara tidak fair benar-benar membuat perbedaan kekuatan yang begitu timpang sebelah. Ditambah kondisi Kuroko saat ini yang mulai kehabisan energi karena Kise sedang berusaha menjebol Barrier yang menutup jarak mereka dari luar.

Akashi kini terpental ke tembok di salah satu gerbong tersebut, membuat darah kini keluar dari mulutnya. Badannya sendiri sudah sangat sakit. Bahkan seorang Akashi Seijuurou tidak mungkin melawan berapa belas Player seorang diri, apalagi ditambah kekuatan mereka bersama Guardian mereka masing-masing.

Saat itu juga, pandangan mata Akashi melihat sebuah sosok yang dikenalnya.

Sosok yang dulu pernah dilawan olehnya sebelumnya kini berdiri di ujung gerbong tempat ia berdiam.

Sosok Ogiwara Shigehiro yang tersenyum padanya.

'Apakah kau butuh kekuatan?' Suara Ogiwara kini terdengar dengan begitu jelas di benak Akashi.

Saat ini Akashi bahkan tidak ingin memikirkan bagaimana sosok Ogiwara dapat berada di dalam Barrier tersebut. Pikirannya sudah kacau karena luka-luka yang ia dapat.

Pandangan Akashi kini mulai buram, ia melihat Player lainnya kini mulai menyerang Kuroko yang mati-matian berlindung saat itu. Akashi mengingit bibir bagian bawahnya, ia mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Bahkan untuk berdiri saja ia tidak sanggup pada saat ini.

Tiba-tiba sebuah flash ingatan menerjang Akashi,

Dimana ia tengah menangis seorang diri. Saat itu ia mengenggam erat sebuah foto. Beberapa lehai foto kini berserakan di kamarnya.

Tidak lama, ia berpindah tempat, dimana ia melihat sosok seorang yang ia anggap begitu berharga itu tersenyum padanya. Sebelum sebuah mobil kini menabraknya, membuatnya terpental dari tempat ia berdiam.

'Andai..Andai aku memiliki kekuatan, untuk melindungi orang yang kusayangi.'

'Kalau begitu, jadikan aku Guardianmu. Ikatlah kontrak denganku, Akashi Seijuurou.'

'Code name : O, Code Activated : GR0001'

[Summon : Ogiwara Shigehiro Actived]

Sebuah cahaya kini mengelilingi sosok Ogiwara.

Akashi sendiri langsung terbatuk kembali ketika ia mengikat kontrak dengan Ogiwara. Sesuatu, sesuatu yang begitu aneh kini memasuki dirinya, ia sendiri tidak tahu apa itu, hal yang ia tahu bahwa kekuatan yang begitu besar kini bergejolak dalam tubuhnya, membuat dirinya bergetar karena tidak bisa menahan kekuatan tersebut.

"ARGHH!" Akashi berteriak kesakitan ketika sebuah lambang Tenggorak dengan lilitan ular dan Cross dibelakangnya kini muncul dari belakang leher milik Akashi. Namun detik berikutnya, lambang itu menghilang dan membuat kesadarannya menghilang.

"Ahh..jadi ini yang disebut menjadi seorang Guardian 'kah?" Ogiwara tersenyum, suaranya terdengar begitu puas ketika ia merasakan sebuah energi memasuki dirinya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah senjata miliknya, senjata yang berbeda dari Spear yang ia gunakan sewaktu melawan Akashi pada tempo hari. Sebuah Double Voulge kini muncul dari tangannya. Memang tidak terlalu berbeda dengan senjata jarak jauh seperi sebelumnya, namun senjata yang tergolong Spear itu memiliki 2 mata pedang. Dimana bagian atas dan bawahnya sama-sama berlapis tajam, hanya bagian tengahnya saja yang menjadi tumpuan agar bisa memegang senjata tersebut.

Ogiwara kini maju kedepan, memperingati para Player dan Guardian yang kini mengepung Kuroko dan Akashi. "Jangan bertindak macam-macam pada pemilik kontrakku, teman." Senyumnya kini perlahan memudar, menampilkan wajah yang begitu dingin, dimana ia langsung memutar Double Voulge miliknya dan membuat beberapa diantaranya terluka. Tidak berhenti sampai disana, Ogiwara kini melihat kearah lain, dimana Guardian lain hendak menyerangnya.

Sebuah lambang Realm of Death kini muncul dari punggung tangannya, dimana saat ini ia menciptakan sebuah gumpalan bola yang besar, dimana gumpalan bola itu menarik seluruh Player dan Guardian untuk masuk kedalamnya. Angin yang begitu kuat kini menerbangkan semua batu dan reruntuhan yang berada disana.

Ogiwara sendiri langsung melompat dan membawa Kuroko, meletakkannya di tempat yang aman bersama dengan Akashi.

Kuroko Tetsuya kini membulatkan matanya saat Ogiwara membawa dirinya, mendampingi sosok Akashi yang kini terpejam. "Ogiwara-kun? Kenapa kau ada disini?"

Ogiwara meletakkan sebelah tangannya di mulut milik Kuroko. "Akan kujelaskan nanti, saat ini biar aku mengurus mereka semua. Aku harus cepat karena MP Akashi sendiri sudah sekarat." Ogiwara kini melirik kearah Player yang tertarik mengelilingi bola ciptaannya itu. "Kuroko, tolong jaga dia."

Senyum yang begitu dingin kini terpasang di rona muka Ogiwara ketika ia melihat para Player dan Guardian yang berlaku licik tersebut. Disaat pada akhirnya Aomine, Kise dan Murasakibara berhasil menjebol Barrier yang diciptakan oleh para Player tersebut, saat itu juga mereka terpana dengan adegan yang baru saja mereka saksikan.

Ogiwara Shigehiro kini mengulurkan tangannya kedepan, dimana lambang tersebut begitu terang bersinar, detik kemudian, seluruh Player itu kini terjatuh bersama dengan Guardian mereka dengan keadaan yang sekarat.

Tidak hanya Kuroko, namun Kise, Aomine dan Murasakibara kini langsung berkeringat dingin ketika melihat kejadian tersebut.

Aomine tertawa terbata. "Hei.. ini sungguhan? Apa ada NPC seperti dia sebelumnya?"

_TBC_