Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha
Bab 10
Untuk yang kedua kalinya, Sakura kembali ke istana Konoha. Malam itu, ketika Matsuri menceritakan semuanya, Sakura langsung bergegas dan meminta Matsuri untuk membawanya kembali ke istana. Dan kini, dua gadis itu dalam sekejap telah berada di ruang bawah tanah istana.
Sesaat, Sakura jadi teringat saat terakhir kali Naruto membawanya ke sini. Perlahan, ia tersenyum kecut. Sakura tidak menyangka dirinya akhirnya kembali lagi ke tempat ini, setelah susah payah mencoba keluar.
Mungkin Sakura menyia-nyiakan usaha Naruto yang telah mengembalikan dirinya ke dunia asalnya, namun Sakura tidak peduli. Yang penting saat ini, ia harus menyadarkan kembali sang pangeran dan membebaskan Raja dan Ratu. Setidaknya, ia akan mencoba mengusahakan apapun yang ia bisa, meskipun ia juga ragu.
Sesungguhnya ini sama sekali bukanlah tanggung jawabnya. Sakura tidak tahu apapun tentang kekuatan sihir dan semacamnya. Ia juga tidak yakin bagaimana melawan Yahiko nanti. Bisa dibilang, Sakura hanya percaya dengan kata-kata Matsuri. Ia yakin Matsuri tidak mungkin asal bicara, karena masalah ini bukan main-main. Kalau sial, mungkin nyawa Sakura yang jadi taruhannya. Tapi disisi lain, Sakura sendiri penasaran dengan kekuatan gelang di tangannya.
Matsuri membaringkan diri di sudut ruang bawah tanah karena ia belum pulih dari lukanya. Sakura sempat menyuruhnya untuk beristirahat saja di rumahnya, namun Matsuri menolak. Sebenarnya, Matsuri tidak ingin pergi dari sisi Sakura. Bagaimanapun, dirinya adalah maid yang melayani gadis merah muda itu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada tuan putrinya itu, Matsuri tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Namun apa daya, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan dirinya untuk sekedar berjalan. Tubuhnya terasa sakit. Karena itulah Sakura memaksanya untuk berbaring, yang akhirnya dituruti juga oleh Matsuri setelah susah payah memberitahunya.
Matsuri kemudian menggunakan sihir pasirnya untuk menutupi diri, kalau-kalau sampai ketahuan oleh Yahiko.
"Tuan Putri, saya sungguh tidak berguna. Disaat seperti ini tidak bisa melindungi Tuan Putri…"
"Jangan bicara seperti itu, Matsuri. Kau sedang terluka, jadi berhenti mencela dirimu. Bagiku… kau bukanlah seorang pelayan. Aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Kau selalu membantu dan menghiburku. Kau gadis yang setia pada tugasmu, aku… benar-benar salut padamu."
"T-Tuan Putri…" Mata Matsuri terlihat mulai berkaca-kaca.
"Aku akan berusaha menemukan Naruto," ucap Sakura seraya menepuk pundak Matsuri dengan sebuah senyum.
Matsuri menggenggam tangan Sakura yang berada di pundaknya. "Berhati-hatilah, Tuan Putri. Kembalilah dengan selamat."
Sakura mengangguk. Ia lalu segera bergegas meninggalkan ruang bawah tanah dengan langkah cepat.
Keadaan istana tampak sunyi dan terasa dingin. Sakura berjalan tanpa suara menyusuri lorong dengan penuh waspada. Ia bisa merasakan perbedaan kekuatan yang terasa melingkupi istana. Istana kali ini terasa begitu mencekam dan tidak nyaman. Berbeda ketika saat pertama kali ia kemari. Meskipun sama-sama terasa kaku, namun dulu masih sedikit terasa bersahabat.
"Astaga…" Sakura terpekik pelan saat melihat apa yang terjadi pada bagian dalam istana. Puing-puing yang masih berhamburan dan dinding-dinding istana yang hancur akibat pertarungan.
"Sehebat apa Yahiko?" bisiknya pada diri sendiri. Ada sedikit rasa takut dalam diri Sakura setelah melihat pemandangan itu. Ia tidak tahu bagaimana keadaan orang-orang istana lainnya.
Tak ingin membuang waktu, Sakura kembali berlari kecil menyusuri lorong istana. Tujuannya hanya satu: Kamar Naruto. Sakura hanya berharap kalau pangeran itu ada disana dan tidak sampai menyerangnya.
Beberapa saat kemudian, gadis itu sampai di kamar Naruto. Pintunya tampak terbuka sedikit, menampilkan cahaya lampu berwarna putih. Jantung Sakura berdebar kencang. Ia melihat kanan-kirinya.
Tak ada siapapun.
Kakinya mulai bergerak mendekati pintu, lantas mengintip sebentar. Setelah melihat sebuah siluet rambut kuning ―yang diyakini Sakura sebagai Naruto, ia pun segera masuk ke kamar yang penuh bermacam-macam benda itu.
"Naruto!" seru Sakura seraya berlari menghampirinya.
Naruto tampak tak mendengar seruan Sakura. Ia hanya duduk di tepian tempat tidurnya dengan kepala tertunduk.
"Naruto…" panggil Sakura sekali lagi. Ia kini sudah berada dihadapan sang Pangeran, namun yang dipanggil sama sekali tidak mendongak.
Sakura mengernyit. Perlahan, ia berjongkok dan menatap wajah Naruto. Ia sedikit terkejut saat melihat ekspresi dingin Naruto. Pandangan matanya tampak kosong, entah memandang kemana. Tubuhnya memang ada disana, namun jiwanya seperti menghilang, layaknya tubuh tanpa nyawa.
"Naruto, sadarlah! Kau dengar aku?" Sakura mulai mengguncang bahu Naruto. "Naruto, ini aku, Sakura. Kumohon, sadarlah!"
Dengan pelan, kepala Naruto mulai mendongak sedikit. "Sakura?" tanyanya pelan.
"Iya! Kau ingat?"
"Kenapa kau kembali lagi kemari? Bukankah kau tidak ingin berada disini?" tanya Naruto lagi, masih dengan ekspresi datar. Suaranya terdengar setengah berbisik.
Sakura tampak mengalihkan pandangannya dari Naruto sesaat. Ia sedikit bersyukur, ternyata ingatan Naruto tidak ikut hilang.
"A-aku tahu. Tapi aku kemari untuk menolongmu. Kau tahu? Istana sedang diambil alih oleh Yahiko! Ayah dan ibumu… mereka ditahan di penjara istana. Kita harus segera menolong mereka!"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu. Mereka tidak peduli padaku. Mereka hanya menganggapku sebagai alat."
"Itu tidak benar! Kedua orangtuamu sayang padamu. Kau adalah pangeran. Istana ini juga adalah tanggung jawabmu! Kau tidak boleh membiarkannya direbut dengan cara licik seperti ini!"
"Tidak ada yang mengerti apa yang aku inginkan. Mereka hanya menggunakanku untuk kepentingan istana. Kalaupun aku mati, mereka tidak akan peduli…"
Mata Sakura membulat. "Kau… tidak boleh bicara seperti itu… Itu sama sekali tidak benar!" Sakura mulai berkaca-kaca. Ia kemudian meraih tangan Naruto dan menggenggamnya erat. Sepertinya ia bisa mengerti perasaan kesepian Naruto.
"Orangtuamu menyayangimu, Naruto. Hanya saja… mungkin cara mereka salah. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar pada istana. Harus berusaha untuk keberlangsungan istana dan rakyat Konoha. Kau sebagai penerusnya… mereka harus benar-benar mempersiapkanmu, disaat tidak ada pilihan sekalipun. Mungkin… karena tuntutan itu, orangtuamu melupakan salah satu arti keberadaanmu yang sesungguhnya, yaitu hubungan orangtua dan anak."
Naruto hanya diam dan tidak bergerak dari tempatnya. Sakura mengeratkan genggamannya pada tangan Naruto.
"Dan lagi… kalau kau bilang aku tidak ada hubungannya dengan ini, kurasa kau salah, Naruto…" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap pada mata Naruto yang redup. Ia kemudian bangkit dari posisi jongkoknya menjadi membungkuk untuk menyentuh kedua pipi sang pangeran, lalu mengusapnya lembut. Tanpa ragu lagi, Sakura menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk Naruto.
"…bukankah… aku calon istrimu, Pangeran?" bisik Sakura di telinga Naruto.
Tiba-tiba saja mata Naruto membelalak. Iris birunya mulai kembali menampakkan warna cerahnya. Jiwanya seakan-akan baru saja kembali ke raganya.
"Sa-Sakura…" panggilnya lirih.
"Naruto!" Sakura melepas pelukannya dan wajahnya berubah lega saat melihat Naruto telah kembali. "Kau sudah sadar? Syukurlah!" Ia kembali memeluk Naruto. Sang Pangeran terlihat merona sebelum kemudian balas memeluk Sakura.
"Kau ini memang gadis bodoh… Padahal sudah kubilang jangan kembali. Dasar keras kepala…" canda Naruto seraya mengeratkan pelukannya. Sejujurnya ia sangat senang Sakura kembali. Baru kali ini dirinya merasakan perasaan hangat saat memeluk Sakura. Jantungnya terasa berdebar lebih cepat dan ia tidak ingin melepaskan pelukan ini.
"Maaf, Naruto, kurasa gadis bodoh dan keras kepala ini tidak bisa membiarkan pangerannya sendirian… Tidak lagi." Sakura tersenyum lembut.
Naruto tampak membulat menatap Sakura tanpa berkedip selama beberapa detik. Kali ini ia melihat senyum lembut itu lagi. Senyum yang sama saat gadis dihadapannya ini menolongnya dulu ketika ia berwujud rubah. Senyum yang membuat wajah gadis itu semakin cantik di mata Naruto.
"Keh, tidak. Akulah sebenarnya yang lebih bodoh dan paling keras kepala…" Naruto terkekeh kecil.
"Sakura-chan…"
Tanpa diduga, Naruto tiba-tiba saja meraih kedua pipi Sakura lalu mencium bibirnya. Sakura terkejut dengan mata membelalak, jantungnya serasa menggila. Ini adalah ciuman pertama bagi keduanya. Beberapa detik kemudian, perlahan Sakura pun mulai membalas ciuman Naruto, meskipun terlihat masih malu-malu.
Tanpa disadari keduanya, gelang Sakura berpendar, menampakkan sinar kehijauan seperti permata zamrud.
"Kita selamatkan ayah dan ibu, Sakura-chan…" ucap Naruto setelah melepaskan ciumannya. Wajahnya terlihat merah padam, begitu juga dengan Sakura yang masih berusaha mengumpulkan oksigen.
"Um." Sakura mengangguk.
Naruto kemudian bangkit lalu meraih pedangnya dan menggenggam tangan Sakura untuk keluar dari kamarnya.
"Yahiko…" batinnya geram.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Mereka berdua berlari melewati lorong-lorong istana untuk menuju penjara yang terletak di menara istana. Beberapa pengawal yang melintas sempat menyerang keduanya, namun Naruto berhasil memukul tengkuk mereka menggunakan pedang yang masih berada dalam sarungnya. Bagaimanapun, ia tidak ingin sampai membunuh para pengawal itu, karena Naruto tahu mereka tengah berada dalam kendali Yahiko dan sama sekali tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Seratus anak tangga melingkar terbentang dihadapan mereka. Sakura sedikit terkejut. Baru kali ini ia menuju bagian menara istana yang tak kalah luasnya. Dan melihat anak tangga itu membuatnya agak bergidik.
Naruto dan Sakura segera menaiki anak tangga itu satu-persatu. Namun baru beberapa puluh anak tangga, tiba-tiba saja selembar kertas berbentuk pesawat melintas tepat di depan wajah Naruto lalu menancap di dinding. Naruto terbelalak dan mendadak menghentikan langkahnya. Dan…
BLAAARRR!
Kertas itu meledak dan menghancurkan dinding juga beberapa anak tangga. Sakura dan Naruto tersungkur jatuh ke belakang.
"Sayang sekali, meleset."
Naruto dan Sakura menoleh ke arah suara dan mendapati Konan melayang di udara menggunakan sayap kertasnya.
Sakura yang baru pertama kali melihat Konan tampak tercengang. Ia tak percaya ada penyihir yang seperti ini juga. Dan kalau saja keadaan ini tidak bukan situasi yang berbahaya, Sakura akan mengakui secara gamblang, kalau Konan sangat keren.
"Kau…" Naruto menggeram.
"Apa yang kau lakukan, Pangeran? Tidak seharusnya kau berada di sini." Konan menatap Naruto dengan pandangan mata lurus dan suaranya terdengar datar.
"Bukan urusanmu!" gertak Naruto.
"S-siapa dia, Naruto?" tanya Sakura terbata. Walau terlihat keren namun ekspresi wajah penyihir wanita itu tampak dingin.
"Dia salah satu dari penyusup. Sihirnya menggunakan kertas. Hati-hati, Sakura-chan… jangan sampai terkena satu lembar pun dari kertasnya," bisik Naruto. Sakura hanya bisa menelan ludah.
Tap. Tap. Tap.
Terdengar suara langkah yang berjalan ke arah mereka dengan tempo pelan. Naruto merasakan kekuatan sihir negatif yang datang mendekat dan ia hafal betul dengan kekuatan ini. Mata birunya menyipit, bulir keringat mulai jatuh satu-persatu dari dahinya. Sesaat tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya seakan membeku ketika sadar siapa yang tengah berjalan menuju mereka.
Sakura menyadari perubahan ekspresi Naruto yang terlihat menegang. Ia mengernyit sambil memerhatikan siapa sosok yang semakin mendekat.
"Yahiko…" bisik Naruto.
Sakura tercengang. Ini dia sang penyihir kuat yang menjadi sosok kontroversi di istana. Penyihir yang telah membuat beberapa bagian istana hancur dan mengambil alih kesadaran penghuni istana.
Nafas Sakura memburu dan jantungnya berpacu lebih cepat. Akhirnya, saat ini ia berhadapan langsung dengannya.
Langkah itu terhenti beberapa meter dari tempat Naruto dan Sakura, namun mereka dapat melihat ekspresi datar sosok berambut oranye itu dengan jelas. Sakura kembali membulatkan mata saat menyadari sang penyihir dihadapannya memiliki iris mata yang… aneh dan tidak lazim.
"Jadi, ini balasan atas kebebasan yang kuberikan, Pangeran? Sungguh mengecewakan…" Yahiko menatap tajam namun tetap dengan sikap yang tenang. "Rupanya kau memang masih anak-anak."
"Diam! Kau hanya memanfaatkan kelemahanku. Kebebasan yang kau bicarakan itu cuma omong kosong! Kau memperdaya semua orang di istana."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Ingin bergabung bersama orangtuamu di balik pintu besi itu?" tanya Yahiko sambil menatap pintu penjara di atas mereka.
"Kurang ajar!" Naruto perlahan menarik pedangnya dan mengarahkannya pada Yahiko. "Hiyaaa!" teriaknya seraya berlari menyerang.
"Tidak berguna."
Dengan mudah, Yahiko menghindari ayunan pedang Naruto. Dalam sekejap, ia menggunakan sihirnya untuk menarik tubuh Naruto lalu menghajarnya tepat di perut dengan keras. Naruto terlempar jauh lalu menghantam dinding hingga remuk. Pedangnya terlempar dan menancap di tanah.
"Naruto!" Sakura memekik tak percaya. Hanya dengan satu serangan, Yahiko membuat Naruto tumbang dengan begitu mudah.
Tiba-tiba saja, serangan peluru kertas Konan menghujani Sakura. Sakura segera berlari untuk menghindarinya sebisa mungkin. Untunglah dirinya ikut klub bela diri, sehingga kakinya terlatih dengan baik untuk berlari cepat.
Naruto meringis dan perlahan bangkit untuk mengambil pedangnya. Namun, belum sempat tangannya meraih pedang tersebut, tiba-tiba saja Yahiko sudah ada di belakangnya. Naruto terbelalak dan menghentikan gerakannya sesaat.
"Kalau kau menarik kembali kata-katamu, mungkin aku masih bisa mempertimbangkannya."
"Khhh…" Naruto menggeram, tangannya terkepal kuat. Ia menatap Yahiko lewat ekor matanya dengan tatapan kesal. Rahangnya terlihat mengeras. Bukan saja kuat dalam hal sihir dan kekuatan, namun Yahiko juga pandai memancing emosi lawan.
Naruto tertunduk. Diam-diam ia mengumpulkan kekuatan sihir di telapak tangannya. "Menurutmu? Apa kau pikir aku akan menarik kembali kata-kataku? Kurasa… kau sudah tahu jawabannya."
"Begitu?" Yahiko menatap Naruto dengan datar. "Kalau seperti itu, kurasa aku tidak perlu menahan diriku. Sesuatu yang sudah tidak berguna harus disingkirkan…"
"Huh, tidak semudah itu…" Naruto menggumam pelan. "Sihir bola angin ganda!"
WUUUUNGGG!
Tanpa diduga Yahiko, Naruto melancarkan sihir dari kedua tangannya. Kedua bola sihir Naruto berputar mengarah pada perut Yahiko. Yahiko sedikit terkejut, namun serangan masih bisa dihindari dengan mudah. Tapi Naruto tidak kalah langkah sampai di situ. Dengan cepat, ia menarik pedangnya dan dalam sekejap mata, Naruto berhasil menebas tangan kanan Yahiko.
Semua mata tampak membulat, tak terkecuali Sakura. Ia menatap ngeri dan tak percaya.
Naruto berhasil melakukannya!
Darah berwarna hitam mulai mengucur deras dari pergelangan tangan Yahiko yang tertebas. Naruto segera mundur beberapa langkah dengan pedang yang masih terangkat dengan tangan yang tampak bergetar. Sejujurnya ia tidak menyangka sama sekali dengan apa yang telah dilakukannya. Yahiko tampak memekik.
"Yahiko!" seru Konan panik.
Yahiko tampak terhuyung ke belakang sambil memegangi tangannya. Konan segera mendarat dan menghampiri Yahiko.
"Kau sama sepertiku, Yahiko…" gumam Naruto dengan suara bergetar. "Membiarkan kegelapan menguasai dan meninggalkan cahaya di belakang. Kebencian itu menakutkan, bukan?" Naruto tersenyum getir.
"Kebebasan itu… sesungguhnya tidak hanya bermakna 'bisa melakukan apapun sesukamu'. Saat kau tersenyum bahagia dan melupakan kebencianmu, itu juga merupakan salah satu kebebasan… Dan kupikir, saat ini aku telah menemukan kebebasanku…" Naruto sesaat menatap ke arah Sakura dan tersenyum sebelum kemudian kembali pada Yahiko.
"Kau pikir siapa dirimu? Berbicara tentang kebebasan seolah kau mengerti arti kebebasan yang sesungguhnya…" Yahiko menggumam geram. " Kebebasanku adalah saat aku berhasil mendapatkan apa yang seharusnya aku miliki dan menghancurkan semua yang menghalangiku. Dan itu semua sudah terwujud sekarang. Aku adalah penyihir terkuat saat ini! Aku penyihir yang abadi!" Yahiko melebarkan kelopak matanya dan tertawa keras.
"Bocah sepertimu tidak bisa menghentikanku!" teriak Yahiko. Tiba-tiba saja tangannya kembali seperti semula, seakan tidak pernah terlepas sebelumnya. Naruto dan Sakura terbelalak melihat hal itu. Yahiko mulai terlihat marah. Cahaya berwarna keunguan menyelimuti tubuhnya. Sesosok wajah raksasa yang mengerikan muncul dari punggung Yahiko. Suara geramannya terdengar memekakkan telinga dan menggetarkan istana.
"Astaga… a-apa itu?" Naruto dan Sakura menatap horor.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
"Apa yang terjadi di bawah sana? Kekuatan ini… terlalu besar… Rasanya mampu meremukkan tubuh…" Kushina memeluk dirinya sendiri dengan kelopak mata yang melebar.
"Tidak mungkin…" Minato tak kalah terkejutnya.
"K-kenapa, Baginda?"
"Ini kekuatan sihir tingkat tinggi… Aku bisa merasakan kekuatan mengerikan ini… Sihir pemanggil Dewa Penghisap Jiwa. Jangan-jangan Yahiko…? Siapa? Siapa yang membuat Yahiko mengeluarkan kekuatan sihir sampai seperti ini?"
"A-apa?!"
GROOAAAAA….
Wajah raksasa itu kemudian membuka mulutnya yang begitu besar, dari dalamnya muncul sekumpulan tangan-tangan transparan yang menggapai-gapai ke udara.
Yahiko berjalan mendekati Naruto yang masih menganga di tempatnya. Ini benar-benar sihir yang luar biasa. Selama ini Naruto belum pernah tahu ada sihir yang mengerikan seperti yang kini dilihatnya. Keringat dingin mulai mengalir deras, dan tubuhnya mendadak terasa kaku.
"Naruto!" teriak Sakura yang panik.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Pa-nge-ran…" ucap Yahiko yang kemudian mencekik Naruto dan mengangkatnya hingga kakinya tidak menjejak tanah.
ZRUUUTT… ZRUUUTT…
Naruto semakin membelalakkan mata tatkala dirasakannya sesuatu yang mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Ia merasakan sesak dan sakit yang teramat sangat saat sesuatu itu perlahan keluar dari mulutnya. Air mata mulai menyeruak, menahan rasa sakit. Ternyata itu adalah jiwa Naruto.
Tangan Dewa di depannya kemudian mencoba menarik keluar jiwa Naruto. Suara rintihan mulai terdengar memilukan.
"Tidak mungkin… B-Baginda… itu suara Naruto, 'kan?" tanya Kushina yang kemudian mulai beranjak menuju pintu jeruji penjara, mencoba melihat apa yang terjadi, namun tak bisa terjangkau oleh pandangannya.
"Benar, Kushina, tidak salah lagi! Apa yang sedang terjadi? Apa Yahiko berniat membunuh Naruto dengan sihir penghisap jiwa itu? Sial!" seru Minato mulai frustasi dengan kekuatan sihirnya yang belum juga pulih. Ia mencengkeram kuat jeruji besi penjara dengan kepala tertunduk.
Kushina menatap Minato tak percaya. "Naruto…" ucapnya dengan suara bergetar. Ia mulai menangis.
"HENTIKAAAN!" Sakura tidak kuasa melihat pemandangan dihadapannya. Tanpa berpikir panjang, Sakura segera berlari ke arah mereka dengan air mata yang berlinang. Ia tidak bisa membiarkan seseorang mati tepat di depan matanya. Itu sangat menyakitkan.
Yahiko dan Konan terkejut dengan aksi spontan Sakura. Gadis itu mencoba menghentikan tangan sang raksasa dengan tangannya sendiri. Naruto mencoba mengintip lewat celah matanya yang terpejam.
"S-Sakura-chan, j-jangan…"
"Huh, gadis manusia, apa yang mau coba kau lakukan? Tidak mungkin kau bisa menghentikan sihirku…"
"Aku mohon hentikan! Jangan bunuh Naruto!"
"Jangan menghalangi…" Yahiko mengulurkan tangannya, lalu dengan sihirnya, ia mendorong tubuh Sakura sampai terhempas menabrak dinding. Naruto yang melihatnya sangat marah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Nyawanya tengah berada diujung tanduk.
Tubuh Sakura jatuh perlahan. Matanya menyipit, mencoba mengumpulkan kembali tenaganya. Sulit dipercaya, hanya dengan satu dorongan, yang bahkan tangannya tidak menyentuh langsung, benturannya terasa begitu menyakitkan. Namun Sakura tidak mau kalah hanya dengan dorongan seperti itu. Ia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.
Maka ia pun bangkit dan kembali berlari ke arah Naruto dan mencoba menghentikan tangan gaib itu lagi.
"Tidak berguna…" ujar Yahiko.
'Kumohon, pinjamkan aku kekuatan apa saja untuk menghentikan Yahiko. Aku tidak ingin Naruto mati dengan cara seperti ini…' Sakura mulai menitikkan air mata sambil mencengkeram tangan gaib yang terasa menyengat tubuhnya itu.
Tiba-tiba saja, gelang yang dipakai Sakura bersinar terang. Sakura terkejut, begitu pula Yahiko dan Konan.
"Gelang itu…" Yahiko tampak sadar. "Bagaimana bisa kau memilikinya?"
"Kudengar, gelang magis itu diturunkan kepada calon pengantin kerajaan. Berarti gadis ini…" Konan menatap Sakura lurus.
"Begitu? Gelang sihir diberikan pada manusia biasa… sungguh memalukan…"
"Khh…" Sakura mulai menggeram, menahan rasa kesalnya. Ia semakin mencengkeram kuat tangan gaib sang raksasa. "Hentikan ocehan kaliaaan!"
PATS!
Semua mata membelalak saat tangan gaib sang raksasa putus dari cengkeramannya pada jiwa Naruto. Gerakan seperti melambat. Yahiko ternganga tak percaya sihirnya diputuskan oleh Sakura. "Tidak mungkin…"
BLAAARRR!
Ledakan pun terjadi. Sang dewa raksasa lenyap, jiwa Naruto kembali pada tubuhnya dan ia terlempar beberapa meter, Yahiko terduduk lunglai kehabisan tenaga dengan nafas terengah. Konan berhasil menghindari ledakan dengan terbang.
"Ohok, ohok…!" Sakura terbatuk, lalu menatap gelang di tangannya. Akhirnya ia berhasil melihat kekuatan sihir dari benda tersebut. Dan itu membuktikan kalau ucapan Raja Minato juga Matsuri benar-benar bukan omong kosong. Ia pun segera teringat sesuatu.
"Naruto!" Sakura segera menghampiri Naruto yang terkapar di lantai. "Kau tidak apa-apa?"
"S-Sakura-chan… itu sangat berbahaya, kau tahu?"
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan hal itu. Tapi akhirnya gelang ini berfungsi juga…"
Naruto tersenyum lega. Sekali lagi dirinya diselamatkan oleh gadis ini. "Terima kasih, Sakura-chan…"
Sakura balas tersenyum. "Syukurlah kau bisa selamat. Aku sangat taku―"
JLEEBB!
Tiba-tiba kalimat Sakura terputus saat sesuatu yang bergerak cepat menusuk tepat di tubuh Sakura. Sakura membeku, Naruto terbelalak. Iris birunya kemudian mendapati pedang kertas menancap mengenai bagian vital Sakura.
"Merepotkan… Kalian sampai membuat Yahiko seperti ini…"
Naruto menatap Konan yang kini melayang di atas mereka dan menatap horror.
Tubuh Sakura perlahan melemas dan jatuh di pangkuan Naruto yang dengan sigap menahannya. Sang pangeran mulai terlihat kehilangan diri saat melihat cairan merah mulai mengalir dari tubuh Sakura.
"Da-Darah…"
"Na-Naruto…" suara Sakura terdengar setengah berbisik. Ia meringis menahan sakit, namun mencoba untuk tersenyum. Beberapa saat kemudian, tubuhnya mulai terkulai kehilangan kesadaran.
Naruto mulai bergetar saat melihat tangannya kini terlumuri darah segar Sakura. Matanya tak berkedip memandang cairan itu dengan wajah pucat. Inilah satu hal yang paling ditakutinya… cairan merah yang keluar dari tubuh, tepat di depan matanya.
~Bersambung…~
A/N : Oke, pertama, aku minta maaf karena (lagi-lagi)lama update. Chapter ini benar-benar bikin bingung! Aku gak pede, aslinya! Susah banget bikin scene pertarungan. Mesti buka-buka komik lagi buat referensi. Kedua, aku lagi seneng sama animanga Soul Eater terutama sama tokoh utamanya: Maka & Soul (they're so cute together!), jadi sempat ngelupain sejenak NaruSaku, hehe…
Sepertinya chapter berikutnya adalah chapter terakhir (fiuh~). Aku mempublish fic baru lagi, masih tentang NaruSaku, tapi buat yang itu aku simpan di arsip Sakura karena meski memang ceritanya tentang NaruSaku, tapi lebih memfokuskan pada Sakura-nya, dan nggak ada romance antara mereka, hanya hubungan kakak-adik. Silakan dicek, kawan, meski nggak ada romance-nya tapi aku pribadi senang menuliskan hubungan keluarga yang kuat antara mereka. ;D
Terima kasih buat yang masih lanjut baca, semoga kalian masih mau nunggu lanjutannya, ya… :D
Makasih buat yang udah review chapter kemarin:
Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi • Natsuya 32 • Cimootttttt • heryanilinda • mendokusai144 • Misaki • REVIEWER • Lily Purple Lily • Mistic Shadow • gui gui M.I.T • AcaAzuka Yuri chan • rizkaekha • wp • Guest • • .indohackz • Aurora Borealix • haruna-chan • YuNamiUzu •
