Tidak ada yang kupercayai dalam dunia ini, tidak seorangpun. Eksistensi kami adalah sebuah Omen bagi seluruh penghuni dalam Realm of Death. Tidak ada seorangpun yang mempedulikan dan menganggap kami "sama" karena kami semua terlahir dengan kemampuan yang istimewa. Pencipta Grim Reaper adalah core dalam Realm of Death, tetapi kami mengabdikan kehidupan kami sepenuhnya pada Emperor.
Awalnya, aku menganggap bahwa semua sama saja, semua, termasuk Emperor. Awalnya aku tidak peduli terhadapnya, awalnya aku tidak mengambil pusing dengan tindakannya. Namun hal yang begitu besar telah merubah sudut pandangku terhadapnya. Sebuah tanda yang kuciptakan yang tidak akan pernah hilang bahkan seumur hidupnya.
Setelah beberapa New Game berlalu, hal yang berbeda perlahan muncul dalam diri Emperor, hal yang kurasa bukanlah hal yang baik. Tetapi aku tidak peduli, biarpun tindakanku saat ini menjerumuskanku pada malapetaka, aku tidak peduli.
Hanya Emperor satu-satunya sosok yang kuabdikan selama tubuh ini masih bergerak, selama mata ini masih bisa melihat siluet dunia yang diciptakannya, selama jiwaku masih berkeliaran dan merasakan sebuah aliran kehidupan.
Kuroko no Basuke Fanfiction
"Realm of Death"
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai
We are the Omen, We are the Cursed one.
[Kill and Burn them! We shall not give them any mercy!]
Why?
Why the world is despite us so much?
It is because we are different? Because we have something that you don't have?
Ha..hahaha!
We didn't need your pity anymore, we will destroy everything!
Those who against our willing, will be given a punishment.
We are not the "human" in your thought, right? So, let it become reality.
- oOo oOo oOo -
Lambang Realm of Death, dimana sebuah Tengkorak berlilit ular dengan lambang Cross yang berada dibelakang tengkorak tersebut terlihat dengan begitu jelas ditelapak tangan pemuda berhelai Cantaloupe. Sebuah sihir yang begitu kuat telah menumbangkan beberapa Player serta NPC yang sedaritadi berusaha untuk membunuh Akashi dan Kuroko.
Dengan perasaan khawatir, Kise langsung meneriaki nama kedua Player yang menjadi temannya itu. Namun, apa yang tengah dikhawatirkannya itu bukanlah hal yang harus dicemaskannya saat ini, karena begitu mereka menampakkan kaki mereka untuk menembus Barrier, saat itu juga mereka tertegun dengan pemandangan yang tengah dilihat oleh kasat mata mereka.
Aomine tertawa terbata. "Hei.. ini sungguhan? Apa ada NPC seperti dia sebelumnya?"
Pemuda beriris Tangerine tersebut menengok kebelakang, menatap sosok Aomine, Kise dan Murasakibara yang baru saja muncul. Sebuah lekukan senyum kini terpantul dalam rona wajahnya.
.
.
"Bagaimana keadaan Akashicchi, Kurokocchi?" Sebuah tepukan kecil di pundak Kuroko kini membuyarkan lamunan pemuda berhelai Icy Blue tersebut. Kuroko tersenyum tipis sambil memandang sosok Akashi yang kini sedang tertidur dengan tenang. "Dia masih belum sadarkan diri, Kise-kun."
"Akashi baik-baik saja." sebuah suara kini menginterupsi pembicaraan Kuroko dan Kise. Ogiwara Shigehiro terlihat sedang menyandarkan punggungnya disalah satu tembok terdekat.
"Ogiwara-kun-"
"Dia hanya kehabisan energi karena seluruh MP-nya telah kukuras habis."
"Sebelumnya, aku ingin berbicara denganmu. Siapa namamu tadi? Ogiwara?" Aomine kini mulai berbicara, ia mendekat ketempat dimana Kuroko dan Kise berdiam. Sedangkan Murasakibara mengikuti sosok Aomine dari belakang, memandang sosok Ogiwara dengan pandangan yang tajam, pandangan yang mengisyaratkan bahwa ia berbahaya, sama seperti pandangannya terhadap Himuro sebelumnya.
"Ogiwara Shigehiro." Balas Ogiwara sambil menunjukan sebuah senyum yang manis. "Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya selama beberapa kali New Game telah berlangsung. Apa kau NPC atau Evil NPC?" Iris Sapphire milik pemuda berkulit Tan itu memandang tajam pemuda bersurai Cantaloupe tersebut.
Namun, bukannya mendapat jawaban, sebuah tawa kecil kini muncul dari mulut Ogiwara.
"Bila aku Evil NPC, tidak mungkin aku mengikat kontrak dengan Akashi, bukan? Aku hanya kebetulan lewat saja dan menemukan Akashi dan Kuroko sedang sekarat. Karena Akashi pernah melawanku dulu, akan menjadi sia-sia bila aku membiarkan sosok yang menarik perhatianku mati begitu saja, bukan? Maka dari itu aku menolongnya."
Kise memiringkan kepalanya. "Jadi, ini adalah NPC yang Kurokocchi dan Akashicchi temui saat kita berada di Abbandoned Town?"
Kuroko mengangguk kecil, sebelum iris Aqua miliknya kini menatap sosok Ogiwara. "Tapi bagaimana caramu masuk ke dalam Barrier itu, Ogiwara-kun? Bahkan Kise-kun harus memakan banyak waktu untuk memasukinya."
"Itu kemampuan khususku, Kuroko. Menembus segala Barrier yang diciptakan oleh Player maupun NPC sekalipun."
"Hnn~ tapi, sekarang kau adalah Guardian Aka-chin 'kan?" Murasakibara yang sedaritadi diam kini ikut berbicara. "Berarti kau bukan musuh."
"Oh, ayolah~" Ogiwara kini menunjukkan cengiran lebarnya. "Bila aku musuh kalian, tidak mungkin aku menolong kalian semua~"
Aomine menggaruk belakang kepalanya yang tampak tidak gatal. "Kau benar juga. Lagipula bila kupikir-pikir, Evil NPC adalah sosok yang tidak akan terkekang oleh kontrak semacam menjadi Guardian bagi Player. Berarti kau adalah NPC baru, selamat datang di Realm Of Death." Papar Aomine.
"Tapi Ogiwaracchi sungguh kuat-ssu! Tidak kusangka Emperor memilihmu menjadi NPC disini." Kise tersenyum lebar sambil menepuk kedua tangannya bersamaan. Tetapi hal yang selanjutnya didapat olehnya malah membuat suasana berubah menjadi diam. Suasana yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang janggal terjadi pada saat mereka berbicara seperti tadi.
Kuroko yang mendapati suasana menjadi sangat sunyi kini mulai membuka topik baru. "Umnn.. apa—kalian semua lapar?"
Kise kini memalingkan wajahnya kearah Kuroko. "Ah, itu pasti efek karena hampir sebagian besar MP-mu telah terkuras, Kurokocchi. Biar aku mencarikanmu makanan kalau begitu-ssu!"
"Aku ikut~" balas Murasakibara sambil mengikuti Kise dari belakang. Kini ditempat yang masih sama sewaktu mereka bertarung tadi—Shades of Death Road—hanya terlihat sosok Akashi yang tengah tertidur, Kuroko yang berada disampingnya, Aomine yang duduk tidak jauh dari tempat Kuroko berdiam lalu Ogiwara yang masih bersandar di tembok terdekat.
"Istirahatlah dulu sampai Kise dan Murasakibara kembali, Kuroko. Kau pasti kelelahan setelah pertarungan tiba-tiba seperti itu. Aku akan membangunkanmu bila mereka berdua sudah kembali."
Kuroko mengangguk kecil. Memang hampir seluruh badannya bahkan terasa begitu sakit karena pertarungan yang baru saja berlalu tadi. Kuroko kini memposisikan dirinya untuk tidur disebelah Akashi yang masih tidak bergeming saat itu, lalu dengan perlahan ia menutup matanya.
.
.
Hal pertama yang membuat sosok pemuda bersurai Icy Blue itu terbangun adalah ketika wangi sebuah daging yang tengah terbakar. Aroma daging tersebut telah menggoda dirinya untuk bangun dari dunia mimpinya.
"Kuroko, kau sudah sadar? Kebetulan Kise dan yang lainnya sedang mempersiapkan beberapa makanan saat ini." Kuroko mengenali suara ini, suara Akashi kini terdengar dengan begitu jelas. Sosok Akashi sedang duduk disebelahnya, melihat kearah Kuroko yang masih terbaring.
"Akashi-kun, kau baik-baik saja?" Kuroko kini membuka kedua matanya dengan lebar, menghapus rasa kantuk yang masih berada di tubuhnya.
"Hanya kelelahan. Bagaimana denganmu?" Salah satu tangan dari pemuda berhelai Scarlet itu menyentuh sebelah pipi milik Kuroko, dimana sebuah memar terdapat dirona wajahnya. "Maaf aku tidak bisa menolongmu, Kuroko."
Kuroko tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau sudah menolong kita berdua, Akashi-kun. Terimakasih."
Akashi membalas senyum kecil milik Kuroko. Secara perlahan ia kemudian mengelus dengan lembut helaian Icy Blue milik Kuroko, membuat pemuda yang bersangkutan melebarkan kedua matanya.
"Akashi-kun?" Kuroko tampak kebingungan ketika tangan Akashi menyentuhnya. Namun, sebuah perasaan aneh kini timbul dalam hatinya, sebuah perasaan yang begitu familiar.
"Ah, maaf," Akashi kini menarik tangannya dari kepala Kuroko. "Entah mengapa tanganku bergerak sendiri."
Kuroko menggelengkan kepalanya kembali, mengatakan dalam isyarat tanpa suara bahwa ia tidak keberatan dengan tindakan pemuda beriris Deep Crimson tersebut.
"Akashicchii~~~ Makanan sudah siap! Aio bangunkan Kurokocchi-ssu~~~!" Suara cempreng milik Kise kini terdengar dari arah kejauhan, memanggil keduanya.
.
.
"Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah menolongku dan Kuroko, Ogiwara." Akashi mulai mengangkat pembicaraan ketika mereka semua berkumpul di perapian yang telah dibuat.
"Sama-sama, Akashi~ lagipula bukankah sudah kubilang bahwa aku akan menjadi Guardian-mu ketika kita bertemu lagi?"
Akashi mengangguk kecil, memang ia mengingat sosok Ogiwara berniat menjadi Guardian-nya, tetapi ia tidak menyangka bahwa akan secepat ini ia akan bertemu kembali dengan Ogiwara.
"Ngomong-ngomong dimana Murasakibara-kun?" Kuroko kini mulai berbicara kembali.
Aomine yang sedang melahap dagingnya mulai berbicara dengan mulut yang penuh dengan daging. "Ewntahlahh, bwegitu Kiwe pu—" perkataan Aomine kini terpotong oleh suara Kise yang langsung menginterupsinya. "Aominecchi jangan berbicara dengan makanan penuh begitu-ssu! Tidak sopan!" Aomine mengendus kecil sambil membuang mukanya. Cepat-cepat Kise langsung melirik kearah Kuroko. "Murasakicchi ada bersama denganku ketika kita berdua kembali untuk membawa makanan, tetapi ketika aku hampir sampai, Ia menghilang. Murasakicchi hanya meletakkan sebagian makanan yang dibawa olehnya."
"Dia memang seperti itu. Suka bertindak sesuka dia, entahlah apa yang ada dipikirannya." Kini suara Aomine terdengar dengan jelas ketika makanan yang dimakan olehnya telah lenyap dari mulutnya.
"Aku takut kita harus pergi dari tempat ini ketika kita selesai makan." Suara Ogiwara kini kembali terdengar. "Tidak menutup kemungkinan para Player atau NPC lain akan pergi kesini setelah mendengar perang besar-besaran yang terjadi. Demi keselamatan kita semua, aku menyarankan kita untuk berpindah tempat ke tempat lainnya."
Akashi mengangguk setuju. Kondisinya saat ini maupun Kuroko bahkan tidak memungkinkan mereka untuk kembali bertarung diwaktu yang begitu dekat.
"Tapi kemana kita akan pergi-ssu?"
"Portal terdekat menuju Dungeon lain, apapun asal jangan berada disekitar sini." Senyum Ogiwara.
Aomine pun ikut mengangguk setuju. "Baiklah, kita langsung pergi ketika makanan kita telah habis."
.
.
Sesuai dengan rencana mereka, setelah mereka selesai makan, semuanya langsung bergegas untuk pergi ke Dungeon lain. Melalui portal utama yang berada di Forest of Death, mereka langsung pergi menuju sebuah portal terdekat yang berada di tempat mereka berdiam saat ini.
Dimention Warp berjalan dengan lancar pada saat ini. Ketika mereka tiba di Dungeon selanjutnya, saat itu juga mereka dapat melihat suasana yang jauh lebih menyeramkan dari tempat-tempat yang mereka telah datangi.
Graveyard.
Sebuah makam yang berjejeran dengan tidak teratur kini berada disekeliling mereka, makam dengan tinggi yang begitu beragam, dengan ciri khas Tengkorak dengan lilitan ular dan lambang Cross berada di atas batu Nisan tersebut. Tempat itu dikelilingi oleh beberapa asap yang mengepul, membuat suasanya disana makin menyeramkan. Hanya ada satu tapak jalan diantara makam-makam tersebut, dengan beberapa rumput yang telah mati menghiasi jalan tersebut.
Hal yang membuat tempat itu semakin mencekam adalah kesunyian yang sangat ketika mereka berdiam, bahkan suara mahkluk hidup apapun tidak terdengar ditempat itu, berbeda dengan tempat sebelumnya, meskipun tempat-tempat sebelumnya terlihat begitu menyeramkan, tetapi beberapa suara mahkluk hidup lain masih mengisi Dungeon sebelumnya.
Namun, sebuah suara langkah kaki kini terdengar diantara Graveyard tersebut.
"Oh~ lihat siapa anak-anak kucing yang tersesat kemari, hn?"
Aomine membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tahu suara ini.
"Imayoshi, Apa perlu kita habisi mereka semua?" suara lain kini terdengar disebelah pemuda yang berbicara sebelumnya.
Mata Kise kini sibuk mencari sumber suara itu berasal. Ia tahu bahwa aura yang terpancar dari kedua orang ini tampak begitu berbeda.
"Sial! Itu Evil NPC yang pernah kubicarakan tempo hari itu! Semua, Lari!" Aomine langsung memberi komando pada semuanya, membuat mereka semua langsung berlari menjauhi tempat tersebut sesuai dengan perkataan Aomine.
Tetapi Evil NPC tersebut tidak menyerah begitu saja, mereka berdua ikut berlari mengejar mereka semua. Hal yang membuat mereka lolos adalah ketika mereka melewati jembatan panjang. Ketika mereka semua telah menyebrang dari tempat tersebut, cepat-cepat Aomine langsung memutuskan tali penghubung yang menyambungkan jembatan tersebut, membuat kedua Evil NPC itu mundur dan berhenti mengejar mereka.
"Kau baik-baik saja, Kuroko?" Akashi mengulurkan tangannya ketika Kuroko dengan terengahnya duduk di bawah sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Kuroko mengangguk perlahan, mencoba mengatur deru nafasnya yang masih tidak beraturan.
Kise yang menyeka keringatnya kini melihat kearah seberang, dimana sosok kedua Evil NPC itu menghilang. "Imayoshi Shoichi dan Hanamiya Makoto. Fiuhh~ beruntung sekali kita semua bisa lolos dari mereka berdua-ssu!" Kise menghembuskan nafasnya dengan lega.
Pandangan mata Ogiwara kini ikut melihat kearah seberang. "Kenapa kita lari? Kita bisa melawannya kok~"
"Ha?" Aomine mengangkat salah satu alis matanya. "Kau gila, Ogiwara? 1 Evil NPC itu sangat kuat! Mana mungkin kita melawan keduanya sekaligus."
Pandangan mata Ogiwara berubah menjadi setengah hampa, kemudian ia berbisik pada dirinya sendiri. "Padahal bila kau mau, aku bisa menghabisi mereka."
"Ogiwara? Ada apa?" Iris Deep Crimson milik Akashi tanpa sengaja bertemu dengan iris Tangerine Ogiwara yang memandang kearahnya.
Ogiwara menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, bukan apa-apa, Akashi. Hanya merindukan seseorang~"
.
.
.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah nafas yang tidak beraturan telah kembali pulih seperti semula. Jalan yang mereka lewati sungguh tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Beberapa Demonic pun muncul ketika mereka terus berjalan. Tetapi anehnya bahkan Aomine ataupun Kise sekalipun tidak mengenal tempat yang mereka pijak pada saat ini, seolah tempat ini begitu baru bagi mereka.
Kise tertegun ketika melihat sebuah Mansion dengan ukuran besar berada di hadapan mereka saat ini. Setelah mereka lama berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah gerbang yang begitu tinggi, sebuah Gerbang yang menyembunyikan Mansion tua didalamnya.
Aomine menelan ludahnya, mencoba menahan keringat dingin yang mulai muncul dari pelipis kepalanya. Namun Aomine tetaplah seorang Aomine, meskipun ia takut sekalipun, Pride miliknya tidak membiarkan orang lain tahu, bahkan Kise sekalipun.
"Akashi-kun, lihat." Kuroko menunjuk salah satu patung yang berdiam di tengah pancuran air yang tampak telah mati fungsinya. Sebuah patung menyerupai sosok malaikat yang telah setengah hancur berada di tengah lingkaran pancuran tersebut. "Tidakkah kau pikir tempat ini begitu menyeramkan?"
Iris Deep Crimson Akashi kini memandang iris Aqua milik Kuroko. "Kau takut, Kuroko?"
Kuroko tidak memberi sebuah jawaban, tetapi ia mengangguk kecil, membuat sebuah tanda bahwa suasana ditaman Mansion tersebut sangatlah mencekam. Akashi tersenyum kecil, sebelum ia mengaitkan tangannya dengan tangan milik Kuroko. "Kau bisa menggenggam kuat tanganku bila kau takut."
"Hei," suara Ogiwara terdengar begitu berat tepat dibelakang Aomine, membuat sosok pemuda berhelai Navy itu berhenti bernafas untuk sesaat. "Kau melihatnya?"
Aomine menelan ludah, mencoba memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Ogiwara. Melihat? Memangnya apa yang barusan dilihat oleh Ogiwara?
"Ogiwaracchi memangnya melihat apa-ssu? Aku tidak melihat apapun." Balas Kise sambil memandang kearah yang dilihat oleh pemuda berhelai Cantaloupe tersebut.
Ogiwara kini menarik sebuah senyum yang terlihat menyeramkan. "Aku melihat boneka yang melihat kita semua dari lantai 3."
BRRTT!
Tidak hanya Aomine, bahkan Kise dan Kuroko kini ikut merinding. Akashi sendiri melihat ke lantai 3, namun ia tidak menemukan apapun. Saat pandangan matanya ingin kembali ke lantai 1, di dekat jendela lantai 2 ia melihat sebuah sosok kecil. Sosok yang menyerupai boneka manusia yang sedang melayang. Namun, Akashi tampaknya tidak ingin memberitahu apa yang baru saja dilihatnya, takut membuat teman-temannya menjadi takut untuk memasuki tempat yang menjadi satu-satunya tempat untuk berlindung malam ini.
KRIETT~
Akhirnya mereka memasuki Mansion tua itu. Berbeda dengan tampilan Old-fashion yang terlihat di luar Mansion, Interior bangunan didalam Mansion bisa dikatakan begitu megah, tetapi sekaligus menyeramkan.
Lantai berhias keramik yang sudah berdebu kini mengiasi tempat dimana mereka berpijak, tidak banyak barang-barang yang terdapat di lantai 1, selama mata memandang, hanya jejeran lukisan yang menyeramkan beserta meja kecil yang menghiasi sudut ruangan. Sebuah kaca berukuran besar seperti pintu dapat terlihat dari lantai 2, dimana lantai tersebut terhubung oleh 2 buang tangga melingkar dengan alas karpet merah. Sebuah pintu besar dengan lambang Realm of Death menyegel pintu besar tersebut, menandakan bahwa mereka tidak bisa memasuki ruangan dibalik pintu itu.
Suara Gema dapat terdengar bahkan dari ketukan sepatu mereka, ditambah dengan keadaan yang begitu sunyi, sama seperti suasana ketika mereka pertama kali memasuki Dungeon ini. Ketika mereka sampai di lantai 2, mereka menemukan sebuah boneka manis dengan gaya eropa terdiam di sudut ruangan. Boneka yang terbuat dari keramik dengan wajah cantik yang menghiasinya berdiri didepan sebuah pintu. Baju dengan Empire Line dan Rok mengembang dengan beberapa renda menghiasi boneka tersebut. Rambut Coklat Kepirangan dengan model lurus membingkai wajah si boneka.
"Kenapa ada boneka di depan pintu seperti itu sih." Gerutu Aomine, menyembunyikan rasa takutnya.
"Entahlah, Aominecchi~ tapi lihat! Boneka itu sungguh cantik ya." Kise memperhatikan wajah boneka tersebut dengan seksama ketika mereka hendak menghampiri ujung ruangan. Sebelum secara tiba-tiba boneka itu membuka matanya dan memandang mereka semua.
Cepat-cepat Kise langsung bersembunyi dibalik badan Aomine yang sudah berkeringat dingin. Kuroko yang melihatnya pun langsung mengeratkan genggaman tangannya pada Akashi.
"Ah, kita terjebak." Hanya suara Ogiwara yang terdengar saat keadaan genting.
"Aku tahu sesuatu hal janggal ada di tempat ini." Balas Akashi, melihat keadaan sekitarnya. Mata Merah darah dari boneka didepan mereka terus memandang mereka semua, seakan sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Namun, hal yang lebih menyeramkan lagi adalah ketika mereka semua melihat Lukisan yang berjejer disamping-samping tempat mereka berdiam. Sorot mata dari gambaran Manusia di Lukisan itu seakan melihat kearah mereka, memandang mereka dengan mata yang melotot.
Dan detik berikutnya, sang Boneka yang berdiam itu mulai berdiri. Mata merahnya masih memandang lekat beberapa sosok pemuda yang ada didepannya. Lalu, sebuah teriakan kencang kini menghiasi ruangan tersebut, teriakan yang menyerupai sebuah isakan dari boneka tersebut.
Hal yang selanjutnya mereka ingat adalah mereka terjatuh dari lantai 2 menuju lantai 1, tempat yang tersegel oleh lambang Realm of Death.
.
.
Akashi membuka matanya perlahan ketika ia mulai sadarkan diri, ia mencari sosok Kuroko yang tampaknya masih pingsan disebelahnya. Untung saja mereka berdua bergandengan tangan sebelumnya, membuat ia tidak terpisah begitu jauh dengan Kuroko.
Iris Deep Crimson itu kini melihat keatas, tempat dimana mereka terjatuh. Namun sebuah mata Merah itu memandang lekat dirinya, mata merah dari si Boneka itu menatap iris Deep Crimson-nya. Hal yang membuat badannya merinding adalah ketika ia melihat tidak Cuma sepasang mata, tetapi beberapa pasang mata memandang kearahnya, mungkin sekitar 5 atau 6 dengan warna mata yang serupa, sebelum boneka-boneka itu kini pergi menjauh dari lubang dimana mereka terjerumus kebawah.
Akashi sempat tercekat ketika melihat pemandangan barusan. Ternyata para boneka itu masih melihatnya sebelum ia melihat keatas.
"Ugh.." Kuroko kini mulai membuka matanya. "Akashi-kun?"
"Kau tidak apa-apa, Kuroko?"
Setelah mengangguk, Kuroko kembali bertanya. "Kise-kun dan yang lainnya?"
"Aominecchi tampaknya pingsan-ssu." Suara Kise terdengar tidak lama setelah Kuroko bertanya, membuat Akashi dan Kuroko kini menemukan spot dimana Kise dan Aomine berada.
"Aku baik-baik saja, hanya terbentur oleh—kepala?" Ogiwara membulatkan matanya, sebuah kepala, bukan, bukan kepala manusia, tetapi kepala sebuah Mannequin kini mendarat mulus di sebelahnya.
Semua menelan ludahnya ketika mereka melihat ruangan tempat mereka terjatuh saat ini. Ruangan yang dipenuhi oleh beberapa Mannequin dengan berbagai baju Gothic yang menghiasinya. Ada beberapa Mannequin yang kehilangan beberapa organ tubuhnya, ada beberapa pula yang terciprat oleh beberapa bercak merah, namun hal yang membuat mereka tercekat adalah ketika melihat langit-langit tempat mereka berdiam dipenuhi oleh tangan-tangan yang menggantung, tangan-tangan dari Mannequin yang tampaknya menghilang.
"Ne, Akashicchi, Kurokocchi, Ogiwaracchi.. tidakklah kalian merasa tempat ini begitu menyeramkan?" Papar Kise sambil melihat kearah sekitarnya. Lalu detik kemudian ketika ia hendak berjalan ketempat Akashi dan Kuroko, saat itu juga ia terjatuh. Terjatuh karena tersandung oleh sesuatu.
Cepat-cepat Kise berdiri dan melihat apa yang baru saja disandungnya itu. Membuat ia berteriak. "Gyaaaa! Kenapa ada orang tertidur ditempat seperti ini!? Dia tidak mati kan-ssu?"
Sosok Pemuda tengah tertidur di tempat tersebut. Helaian Payne's Gray miliknya menutupi sebagian dari wajahnya yang masih menutup kedua matanya. Ia tampak sedang tertidur dekat dengan jendela dengan teralis yang mengiasi fondasi jendela tersebut.
Ketika Akashi dan Kuroko pergi mendekat, saat itu juga iris Light Gray terbuka secara perlahan, menunjukkan sebuah warna mata dengan pandangan yang kosong. "Siapa kalian?"
_TBC_
A/N : Special Thanks for all who had review, fave, follow this story and for all the readers.
See you in next chapter,
-renchanz
