Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha

Bab 11

Detak jantung Naruto semakin kencang. Kedua telapak tangannya yang berlumuran darah Sakura bergetar, begitu pun dengan tubuhnya yang masih mematung. Ia takut. Ia marah. Nafasnya mulai tidak beraturan. Ada sebuah gejolak dalam dadanya yang seakan-akan ingin membuncah. Perlahan, bola matanya yang berwarna biru berubah menjadi merah. Gigi taringnya mulai sedikit memanjang, hampir keluar dari belahan bibirnya. Di wajahnya, tiga pasang garis menyerupai kumis kucing mulai terlihat menebal. Sepasang telinganya muncul memanjang di atas kepala dan di belakangnya pun muncul ekor. Naruto menggeram. Cahaya oranye perlahan menyelimuti tubuhnya.

Konan terkejut melihat perubahan Naruto. Tubuh sang pangeran kini terlihat berubah seperti setengah monster rubah. Ia merasakan tekanan kekuatan yang sangat besar, sampai tubuhnya terasa sesak. "Apa yang terjadi?"

Tak lama kemudian suara raungan Naruto yang memekakkan telinga memenuhi ruangan itu. Mata Konan membulat, baru kali ini ia melihat sesuatu yang tak lazim di hadapannya. "Jadi ini wujud lain pangeran?" Wanita berambut biru itu sedikit menyeringai. "Menarik. Aku jadi ingin tahu seberapa besar kekuatannya…"

Sambil melesat terbang, Konan mulai melancarkan serangan pedang kertasnya ke arah Naruto yang masih meraung seperti seekor serigala. Menyadari serangan itu, ekornya dengan mudah mengibaskan ratusan pedang kertas yang mengarah padanya hingga lenyap. Konan tak berhenti sampai disitu. Ia terbang rendah mendekati lawannya sambil merapalkan sihir. Ribuan kertas miliknya melayang di udara lalu melesat membungkus Naruto, sehingga kini sang pangeran menjadi seperti mumi. Konan mencoba menyerap kekuatan sihir Naruto. Namun terhenti dengan kedua mata membelalak.

'Sial, panas! Sihir macam apa ini?' Konan menghentikan aksinya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang terasa terbakar setelah menyerap sebagian kecil kekuatan sihir Naruto. 'Aku tidak bisa mengambil kekuatan sihirnya.'

SRAAAKKK!

Dalam sekejap selimut kertas Konan hancur lebur. Naruto berhasil keluar dari sihir Konan dengan mudah. Wanita itu terkejut.

Mata merah Naruto bergerak ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya bertatapan dengan mata Konan. Amarah pun mulai muncul. Dari mulutnya kini membentuk sihir bola hitam yang perlahan membesar sampai seukuran dengan bola voli. Di detik berikutnya, bola itu ditembakkan dengan cepat ke arah Konan.

Wanita itu tercengang tak percaya, sampai-sampai ia nyaris membeku di tempat. Namun gerak refleksnya berhasil menghindari bola sihir yang mungkin mematikan itu. Bola hitam tersebut meleset dan menghantam dinding sampai remuk redam, hancur hingga membuat lubang besar. Naruto terus melancarkan bola sihir hitamnya ke arah Konan yang kini terus terbang menghindar. Guncangan hebat terjadi bagaikan gempa bumi, menghancurkan hampir seluruh ruangan.

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Kushina dan Minato terkejut mendapati dinding dan atap penjara berjatuhan. Mereka pun merasakan tempat yang dipijaknya berguncang .

"Apa yang terjadi?" Kushina menatap Minato cemas. Ia merasakan firasat buruk. Jelas, ini bukanlah gempa bumi. Ia mendengar ledakan-ledakan besar di bawah sana.

Kedua alis Minato bertaut. Ia merasakan kekuatan sihir yang jauh lebih besar lagi dari sebelumnya. Namun kali ini tampak berbeda. Ini bukan aura sihir yang dikenalnya. Begitu asing, begitu berbahaya. Seperti kekuatan monster.

Seketika, mata biru Minato melebar.

Kekuatan monster …?

"Mungkinkah Naruto …"

"Kenapa dengan Naruto?" tanya Kushina semakin cemas.

"Ini buruk, Kushina. Aku mengira segel sihirnya terlepas hingga tidak bisa dikendalikan. Ia menggunakan kekuatan sihir tertingginya. Kekuatan sihir tingkat monster…"

"A-apa?" Kushina terbelalak. Ia mengerti dengan perkataan suaminya. "Sihir itu … Tidak mungkin! Kalau Naruto melepas sihir tertingginya, itu bisa membahayakan nyawanya! Ia akan diambil alih sepenuhnya oleh kekuatan sihir itu! Kecil kemungkinan untuk bisa kembali sadar."

DUAARRR!

Dinding penjara sebelah timur hancur berkeping-keping, sehingga membukakan jalan bagi sang raja dan ratu untuk keluar. Kedua tubuh yang membungkuk menghindari remukan dinding mulai bangkit berdiri.

"Dindingnya terbuka!" Kushina merasa senang. Meski ini mungkin sebuah kebetulan, tapi sepertinya ini merupakan satu keberuntungan.

"Cepat keluar dari sini." Dengan langkah setengah terseok karena kehilangan sebagian besar kekuatannya, Minato bergerak keluar dari penjara diikuti oleh Kushina. Mereka pun menuruni tangga melingkar yang cukup panjang. Begitu keluar dari sana, kedua orang tertinggi di istana itu tercengang tak percaya. Ruangan di bawahnya sudah hancur lebur. Dindingnya terbuka di sana sini, sehingga hampir terbuka seluruhnya. Jika semua pilarnya dihancurkan, maka bangunan akan segera rata dengan tanah.

Ledakan masih terdengar. Minato menyipitkan matanya melihat pertarungan hebat di dasar menara. Yahiko yang terbaring tak sadarkan diri dengan pakaian terkoyak di lantai, lalu Sakura yang juga tergeletak dengan dipenuhi darah … Minato benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lalu, matanya perlahan mengarah pada Konan yang terbang denga sayap kertas raksasanya … dan terakhir, sosok monster rubah yang melancarkan bola sihir tak terkendali. Tenggorokan Minato terasa tercekat. Kushina menatap horror.

"B-benarkah itu Naruto?" suara Kushina terdengar serak. "Tidak mungkin. Ia … benar-benar melepas segel sihirnya …"

Sebuah bola sihir hitam mengarah tepat ke arah Minato dan Kushina, membuat mereka terkejut. "Gawat!" Minato segera menarik Kushina mendekat. Dengan sisa kekuatannya, Minato menggunakan sihir dimensinya. Dalam sedetik mereka pun berpindah tempat keluar menara dan berhasil menghindari ledakan itu. Minato terengah dan perlahan tubuhnya tidak mampu lagi berdiri. Ia ambruk setelah menggunakan kekuatan terakhirnya.

"Baginda! Anda tidak apa-apa?" Kushina memegangi pundak sang raja dengan khawatir. Dilihatnya Minato yang susah payah mengumpulkan oksigen.

"Untunglah masih sempat. Tubuhku tidak bisa bergerak. Aku … kehabisan tenaga."

"Bertahanlah, Baginda!" Kushina segera membantu Minato untuk berdiri dan menopang tubuhnya.

"Aku tidak bisa membiarkan Naruto … Sial! Di saat begini tubuhku tidak bisa berkompromi."

Kushina menatap suaminya yang susah payah untuk berdiri. Lalu pandangannya teralih ke depan, dimana pertarungan Naruto dan Konan masih sengit. Perlahan, airmatanya jatuh. Ia tidak ingin melihat anaknya seperti ini. "Naruto … kembalilah …"

::

~R.I.N.Z.U.1.5~

::

Helaian kertas Konan terbakar bersamaan dengan terhempasnya Naruto menghantam dinding. Konan sudah tampak kelelahan. Dan beberapa serangan telah melukai bagian tubuhnya. Tapi ia masih bisa bertarung. Ia tidak akan kalah dengan mudah.

"Ini membuang waktu … Aku harus segera mengakhirinya," gumam Konan. Sejenak, ia memejamkan matanya dan berusaha mengumpulkan kekuatan. 'Ini akan menjadi serangan terakhir … Hmph, dan juga akan menguras seluruh sisa kekuatanku. Sihir terlarang yang mungkin baru kali ini aku gunakan.'

Mata Konan terbuka. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan. "Sihir pilar dewa!"

Dari tanah muncul milyaran kertas bermantra yang membentuk empat dinding raksasa yang tinggi menjulang. Keempat dinding itu mengurung Naruto. Sebagian kertasnya menempel di beberapa bagian tubuh Naruto. Minato dan Kushina yang menatap dari jauh tak kuasa menahan keterkejutannya. Naruto mengibas-ngibaskan ekornya, mencoba menghancurkan dinding raksasa itu, namun tidak mempan. Dinding itu kuat seperti baja. Naruto menggeram semakin keras.

"Kali ini kau tidak akan bisa menghancurkannya. Saatnya mengakhiri pertarungan." Konan menatap tajam pada Naruto. "MATILAAAH!"

DUAR! DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!

'Yahikolah yang seharusnya menjadi raja …,' batin Konan.

"NARUTOOO!" teriakan nyaring Kushina menggema. Tangis sudah tak tertahankan lagi. Minato menatap tak berkedip, syok dan perlahan lututnya membentur tanah.

Dari sudut menara, sesosok tubuh yang bersimbah darah perlahan menggerakkan tangannya menuju ke bagian vitalnya yang tertembus pedang kertas. Masih dengan keadaan terpejam, tanpa sadar gelangnya kembali bersinar dan mengeluarkan cahaya hijau. Jika dilihat lebih seksama, lukanya sedikit demi sedikit menutup.

"Bangunlah …"

Siapa?

"Bangunlah …, Sakura."

Kau tahu namaku?

"Tentu saja. Kau adalah pemilik kekuatanku sekarang."

Kekuatan apa? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan.

"Aku adalah jiwa dari gelang yang kini tengah kau pakai."

Jiwa? Gelang ini punya jiwa? Aku tidak tahu ada hal seperti itu. Lalu siapa sebenarnya kau ini?

"Bukalah matamu, Sakura. Aku ada dihadapanmu …"

Sakura perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Manik hijau kembali menatap sekitar dengan pandangan yang masih memudar. Sesosok makhluk hidup nampak dihadapannya. Ia berwarna putih dan berukuran raksasa. Mencoba memperoleh penglihatan yang lebih jelas, gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya ia bisa melihat semuanya. Ruang hampa yang seluruhnya berwarna putih menjadi pemandangan yang dilihatnya pertama kali. Sakura bertanya-tanya, ia bingung dengan apa yang terjadi dan berada dimana dirinya sekarang, namun pemandangan sosok besar yang samar ia lihat sebelumnya lebih menarik perhatiannya. Ketika ia arahkan kembali penglihatannya pada sosok itu, barulah iris hijau itu membulat sempurna.

Sosok itu … seekor siput raksasa tanpa cangkang yang tak pernah Sakura lihat seumur hidupnya.

Beberapa menit gadis itu hanya terpaku dan tak mampu berkata-kata. Ia masih takjub sekaligus tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Aku Katsuyu. Jiwa dari gelang yang ada ditanganmu. Sumber kekuatan sihirmu," ujar sang siput raksasa tersebut.

Tidak mungkin … Kau besar sekali … Dan kau bisa berbicara …

"Aku tahu. Tapi sayang sekali, ini bukanlah saat yang tepat untuk berbincang. Situasi di luar sana tengah kacau. Pangeran muda lepas kendali, raja dan ratu tak bisa berbuat apa-apa karena mereka kehilangan kekuatan sihirnya. Yahiko tengah sekarat, sementara rekannya sedang melancarkan serangan terakhir. Hanya kau yang tersisa, Sakura. Kaulah yang harus menghentikan semua ini …"

Apa? Kupikir aku sudah mati, sampai-sampai berhalusinasi seperti ini. Tapi aku tidak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.

"Gelang yang kaupakai itu memiliki sihir penyembuh dan membuat kekuatan fisikmu menjadi berlipat ganda. Jiwaku disegel ke dalam gelang magis tersebut dan menjadikanku sebagai sumber kekuatannya."

Sakura menatap gelang yang dipakainya dan mencoba meresapi perkataan sang siput raksasa.

Jadi itu sebabnya aku bisa memutuskan serangan sihir Yahiko …?

"Benar. Kau memohon padaku untuk meminjamkan kekuatan, maka aku mengabulkan permintaanmu."

He-hebat. Jadi memang bukan gelang sembarangan, ya?

"Aku adalah simbol calon pengantin kerajaan. Maka dari itu aku diturunkan ke setiap generasi keluarga kerajaan. Aku abadi selama memiliki media, karena itu tidak sembarang orang yang bisa menggunakan kekuatan sihirku. Hanya mereka yang memiliki niat baik dan tulus. Aku bersedia memilihmu sebagai pemilikku karena aku bisa merasakan kekuatan baik dari dalam dirimu."

K-kau bersedia memilihku? Kalau begitu aku bisa menggunakan kekuatanmu?

Itu benar.

Kalau begitu, aku ingin menyelamatkan kerajaan ini. Aku ingin menyelamatkan semuanya!

"Kalau begitu, bangunlah sekarang!"

Cahaya hijau terang meyelimuti tubuh Sakura yang terbaring. Cahaya itu perlahan semakin menyilaukan dan meleburkan dinding-dinding di sekitarnya. Konan mendongak dan terkejut melihat tubuh Sakura yang mulai terbangun. Ia merasakan kekuatan yang dahsyat menyelimuti gadis itu. Minato dan Kushina yang melihat dari kejauhan pun tercengang, bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Namun, tidak seperti sebelumnya, walau kekuatan tersebut sangat besar tapi entah kenapa tidak terasa mengerikan.

"Apa Sakura-chan berhasil menggunakan kekuatan sihirnya? Cahaya hijau itu … apa tidak berbahaya?" Kushina mengira-ngira.

"Mungkin saja. Tekanan sihir ini, walau kuat, tapi tidak terasa berbahaya. Mungkin Sakura memang berhasil membangkitkan kekuatannya lewat gelang itu," sahut Minato.

Di sisi lain, sosok yang nampak sekarat di lantai menara mulai membuka matanya. Kini tubuhnya tampak ringkih tak berdaya. Rambutnya sebagian rontok dan tubuhnya mengurus. Wajahnya berubah sedikit keriput tak ubahnya seorang kakek. Yahiko menggeram dan perlahan terduduk, mengumpulkan sisa kekuatannya yang terkuras habis gara-gara sihir Dewa Penghisap Jiwa yang ternyata memakan sebagian besar jiwa dan usianya.

Tubuh Konan menegang tatkala melihat tubuh Sakura yang kini berdiri tegak. Kepalanya yang tertunduk perlahan mendongak menatap padanya. Iris hijau berpendar tajam seakan menusuk ke dalam jiwanya.

"Apa yang terjadi? Aku yakin aku menusuknya tepat di jantung. Bagaimana mungkin gadis itu bisa bangun?" gumam Konan. Ia pun kembali merapalkan sihirnya dan dalam sekejap ratusan pedang kertas meluncur ke arah Sakura. Tak tinggal diam, Sakura tiba-tiba saja melesat ke arah Konan dan menghancurkan pedang kertas dengan cahaya hijau yang menyelimutinya. Konan terbelalak.

"Tidak mungkin! Gadis itu bahkan tidak menyentuhnya!"

Sakura yang melesat cepat seperti angin tak butuh waktu lama untuk sampai di hadapan Konan. Wanita berambut biru itu semakin tercengang menyadari dirinya yang tidak mendapat celah untuk menghindar.

"Mati." Ucapan singkat Sakura bagai mantra. Ia mengepalkan tinjunya yang diselimuti cahaya ke arah Konan, lalu begitu tinjunya mengenai tubuh Konan, wanita itu terpental ke belakang dengan cepatnya dan tubuhnya menabrak keras dinding menara yang masih tersisa sampai remuk redam. Konan membelalak, dari mulutnya keluar darah. Ia sungguh tak percaya, hanya dengan satu tinjuan, namun ia bisa rasakan semua organ tubuhnya lumpuh dan tak kuasa untuk berdiri.

'Sial… tubuhku sudah mencapai batas… Aku tidak bisa bertahan lagi,' batin Konan. Perlahan kelopak matanya terasa memberat. Dalam kondisi yang parah, matanya bergerak mencari sosok Yahiko, orang yang selama ini selalu menjadi panutannya, sosok yang begitu ia hormati dan paling penting dalam hidupnya. 'Maafkan aku, Yahiko… aku sudah gagal…'. Cairan bening meluncur dari kedua sudut matanya yang mulai tertutup. Meski ia kecewa pada dirinya, namun ia tak pernah menyesal jika hidupnya harus berakhir demi Yahiko. 'Terima kasih untuk selama ini…'

Dengan itu, Konan pun menghembuskan napas terakhirnya.

Sakura mengalihkan pandangan ke arah Naruto yang masih meraung. Ia pun mulai melangkah cepat menuju sang pangeran yang tengah mengamuk. Melihat kedatangan seseorang yang mendekat padanya, mata menyala Naruto menatap Sakura nyalang. Ia pun mengibaskan ekornya ke sembarang arah, namun bisa dihindari Sakura sampai akhirnya gadis itu berdiri tepat di depan Naruto. Tanpa merasa takut sedikitpun, Sakura menatap Naruto lurus. "Berhentilah sekarang, Pangeran!"

Naruto menggeram keras, namun itu tak menyurutkan keberanian Sakura. Gadis itu maju tanpa keraguan lalu menusukkan tangannya ke arah perut Naruto, tepat di atas segel yang kini terlepas. Naruto mengaum tak terkendali. Dari tangan Sakura mengalir sinar hijau yang masuk ke dalam perut Naruto. Perlahan-lahan cahaya kekuatan Sakura mengembalikan simbol segelnya ke semula. Sosok monster Naruto mulai berubah wujud menjadi manusia kembali. Naruto mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa perih dan terbakar, namun perlahan ia mulai kembali pada kesadarannya.

Kushina dan Minato yang melihat sosok monster Naruto yang menghilang menatap takjub pada apa yang terjadi. Mereka penasaran bagaimana Sakura bisa mengembalikan sosok Naruto. Padahal sihir tingkat monster adalah sihir yang hampir tidak bisa ditaklukkan, bahkan bagi penyihir yang sudah begitu hebat sekalipun. Seperti sebuah pertaruhan nyawa. Kalaupun selamat, kecil kemungkinan untuk bisa mendapatkan kembali jiwa manusianya. Para penyihir yang sudah terjebak dengan sosok monster kebanyakan tak pernah bisa kembali.

"Luar biasa, Putri Sakura… Gadis itu diberkati," gumam Kushina yang mulai menitikkan air mata haru.

Minato mengangguk kecil di sampingnya. Ia menjadi semakin yakin. Ramalan tetua memang tidak salah. Sakura… gadis itu memang takdir sang pangeran. Ia bersyukur tidak salah lagi. Benar-benar bersyukur.

"A-apa yang terjadi padaku? Ukh! Tubuhku… rasanya sakit semua…"

"Syukurlah, Pangeran. Kau sudah kembali." Sakura tersenyum simpul.

Naruto menatap tak percaya. "S-S-Sakura? Kau… masih hidup?"

Sakura kembali tersenyum lalu mengangguk. "Aku diselamatkan Katsuyu-sama. Dia meminjamkanku kekuatan dan mengembalikan wujudmu."

Naruto tampak tercenung. "Katsuyu-sama?"

"Jiwa gelang magis ini, Naruto."

Perlahan Naruto tersenyum dan merasa lega. "Syukurlah… syukurlah kau selamat, Sakura-chan!" ujarnya lalu memeluk Sakura erat. Sakura balas memeluknya.

"Aku juga bersyukur Pangeran selamat."

"Terima kasih." Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Sakura. "Maafkan aku, Sakura-chan, aku memang pangeran yang pengecut dan manja. Ketika melihat darah pun aku takut. Tapi… untuk kali ini saja, aku harus berhasil melawan ketakutanku. Semua demi istana, juga Ayah dan Ibu."

Naruto perlahan berdiri lalu berjalan menghampiri pedangnya yang tergeletak di lantai. Ia pun meraihnya lalu melangkah menuju Yahiko berada. Matanya menatap lurus Yahiko.

"Apa yang akan kaulakukan, Pangeran kecil? Tidak perlu berlagak kuat, kau masih terlalu hijau." Yahiko menyeringai meski tampak menahan rasa sakit pada tubuhnya.

"Yahiko… kau sudah membuat kacau istana. Aku… memang masih hijau dan kemampuanku masih perlu banyak dilatih. Tapi aku tidak akan memaafkanmu karena sudah menghancurkan istana dan menyakiti banyak orang. Meski kau kerabatku, perbuatanmu sudah melebihi batas. Aku tidak akan ragu lagi." Naruto mengarahkan pedangnya pada jantung Yahiko.

Yahiko sama sekali tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun. Ia justru kembali menyeringai. "Kau memang bodoh. Kau tetap mau mempertahankan semua yang telah memperalatmu? Cih, maka selamanya kau akan selalu terkurung dengan semua aturan itu."

"Cukup! Kaulah yang telah memperalatku." Naruto menundukkan kepalanya. "Meski aku tahu Ayah dan Ibu melakukan ini padaku, tapi aku tahu dalam hati mereka menginginkan yang terbaik untuk istana ini, juga rakyatnya. Sekarang, aku sudah menemukan kebebasanku, jadi aku tidak peduli apa yang akan Ayah dan Ibu lakukan asalkan aku bisa bersama orang yang kusayangi. Tapi, kalaupun hal itu bertentangan dengan apa yang menjadi keinginanku, sebisa mungkin aku akan membuat keputusan sendiri."

"Rupanya kau sudah pandai berdalih sekarang. Tapi aku tidak akan pernah menarik semua kata-kataku. Nikmati saja hari-hari buruk yang akan kaupilih, Bocah."

"Aku simpati padamu karena kau tidak menemukan kebebasanmu sampai detik ini. Tapi jangan khawatir, aku akan segera mengakhiri semua kebencianmu. Semoga di tempat selanjutnya kau bisa mendapatkan hidup yang lebih berarti, Yahiko."

"Kau berani menceramahiku, bocah? Benar-benar tidak sopan…" Yahiko mendengus dengan seringai kecil. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuhnya. Sihir terkuatnya memang hebat, tetapi sekali gagal, tubuhnya langsung tidak berdaya.

"Maafkan aku, Yahiko…" bisik Naruto pelan. Waktu seakan melambat begitu tangan Naruto terangkat dan kembali turun bersamaan dengan ujung pedang yang menancap jantung Yahiko. "Tidak ada yang abadi di dunia ini, kau tahu…?"

Darah memancar dan bercipratan menodai sekitar. Mata Yahiko terbelalak sebelum kemudian kembali menutup. Sakura memejamkan mata tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Naruto hanya bisa menatap iba. Meski ia sebenarnya tidak mau melakukan ini, namun ia tidak bisa membiarkan kejahatan mengancam istana dan keluarganya lagi.

Yahiko telah tiada.

Cahaya-cahaya beterbangan ke udara sebelum kemudian memencar ke segala arah. Cahaya itu merupakan jiwa-jiwa yang telah dihisap Yahiko sebelumnya. Semuanya berhamburan keluar dan kembali pada raga masing-masing. Tubuh-tubuh yang diselimuti kertas sihir Konan mulai terbuka dan perlahan beberapa dari mereka mendapatkan kesadarannya kembali. Cahaya biru dan merah yang merupakan kekuatan sihir Minato dan Kushina pun kembali. Mereka tersenyum lega.

"Baginda…" Kushina menatap tak percaya sang suami, matanya tampak berkaca-kaca. Minato hanya membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyum lembut. Ia pun perlahan berdiri diikuti Kushina. "Apa mereka baik-baik saja?"

"Jangan khawatir, Kushina. Mereka anak-anak yang kuat…" Pandangan Minato menatap jauh ke depan, dimana Naruto dan Sakura tampak berangkulan. Ia kembali tersenyum melihat pemandangan itu. "Setelah ini ada banyak yang harus kita lakukan, tapi yang paling penting…" sang raja menggantungkan kalimatnya lalu menatap sang istri. "… kita harus minta maaf pada Naruto. Mungkin selama ini kita memang sudah menjadi orangtua yang buruk untuknya…"

"Um." Kushina mengangguk kecil sebagai jawaban.

"Ayo, kita ke tempat Naruto dan Sakura. Kita juga harus memeriksa yang lainnya," ucap Minato.

"Baik, Baginda."

Minato dan Kushina pun berjalan menghampiri sang anak yang tengah tersenyum bersama Sakura. Gadis itu tengah mencoba kekuatan sihir penyembuhnya dan hal itu membuat Naruto berdecak kagum. Mereka berhenti ketika melihat sang raja dan ratu telah berada di hadapan mereka. Naruto membulatkan mata lalu tersenyum lega.

"Ayah! Ibu! Syukurlah kalian selamat!" seru sang pangeran yang langsung memeluk orangtuanya. Minato balas memeluk dan Kushina mengelus punggungnya.

"Kami juga bersyukur kalian tidak apa-apa. Terima kasih, Pangeran… dan juga Putri Sakura. Kalian telah menyelamatkan istana."

Sakura menggeleng malu. "Tidak begitu, Baginda. Semua ini juga berkat Katsuyu-sama. Beliau yang telah memberikanku kekuatan sihir."

"Ah, Katsuyu-sama?" Kushina tampak terkejut sebelum kemudian mengangguk mengerti. "Jadi putri memang sudah berhasil menggunakan kekuatan sihir, ya? Syukurlah…"

Sakura tersenyum kecil.

"Kami juga ingin minta maaf padamu, Pangeran. Selama ini mungkin kami terlihat seperti mengaturmu, tapi percayalah, kami melakukan ini karena kami menyayangimu. Kau bukan seperti orang lain yang bisa menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang dan melakukan apa yang mereka inginkan. Kau adalah seorang pangeran, yang nantinya akan memimpin istana ini dan juga Konoha, kau yang nantinya akan memikul tanggung jawab besar sebagai raja berikutnya, karena itu kami memberlakukan aturan-aturan untukmu supaya kau siap untuk itu," ucap Minato panjang lebar.

Naruto mengangguk lalu menunduk. "Aku mengerti, Ayah. Aku juga minta maaf karena sebagai pangeran aku masih belum bisa menjadi seperti yang kalian inginkan. Tapi mulai sekarang, aku akan berusaha lagi. Kejadian ini telah membuatku sadar."

"Bagus, Pangeran. Tapi kau tidak perlu terlalu terburu-buru." Minato menepuk pelan kepala Naruto.

Sakura tersenyum kecil melihatnya. Ia lega karena hubungan Naruto dan orang tuanya kembali membaik. Semoga setelah ini pun mereka baik-baik saja. Teringat sesuatu, mata gadis itu membulat. "Ah, Matsuri!" serunya tiba-tiba, membuat Minato, Kushina dan Naruto terkejut bersamaan.

"Kenapa?" Naruto mendadak ikut panik, takut terjadi apa-apa.

"Matsuri masih di ruang bawah tanah. Aku harus segera menemuinya. Dia sedang terluka!"

Tanpa menunggu respon dari ketiga orang di depannya, Sakura segera berlari menuju ruang bawah tanah istana. Meski dalam hati Minato dan Kushina tampak cemas, namun segaris senyum mereka tampakkan. Mereka bersyukur Sakura yang akan menjadi pendamping anaknya nanti. Gadis itu, meski terkesan agak kasar, namun berhati baik. Ia peduli pada sekitarnya, dan mereka yakin Sakura akan menjadi istri yang cocok untuk Naruto. Keduanya berharap masa depan yang baik akan menyambut anak mereka.

Dari kejauhan tampak dua sosok laki-laki yang berjalan tertatih menghampiri mereka. Rupanya itu adalah Yamato dan Kakashi yang telah kembali. Ada banyak orang yang terluka dan banyak juga bagian istana yang hancur. Semua ini akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk membereskan istana agar kembali seperti sedia kala.

Minato mendongak ke langit sebelum kemudian menunduk seraya memejamkan mata selama beberapa detik. "Selamat jalan, Yahiko. Semoga kau tenang di sana," gumamnya pelan. Ia berharap kejadian seperti ini tak terulang lagi. Semoga Naruto bisa menjadi raja yang lebih baik dari dirinya suatu saat nanti.

~Bersambung...~

A/N: Oke minna-san, aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena selama hampir 3 tahun aku menelantarkan fic ini ToT. Setiap kali ada review baru yang masuk dan PM yang menanyakan kapan kembali, aku selalu merasa bersalah. Aku sendiri selalu bertanya 'kapan mau lanjutin fic?' hahaha... Chapter ini sudah lumayan lama kutulis dan tadinya mau aku tamatin di chapter ini, tapi karena ada beberapa bagian yang masih bingung untuk kutuliskan, akhirnya malah terhenti dan tidak kulanjutkan. Karena itu, aku memutuskan untuk mempublish chapter ini dulu sebagai permintaan maaf.

Terima kasih banyak buat kalian yang masih menunggu kelanjutan fic ini. Terima kasih juga atas review positif kalian. Aku senang sekali. Dukungan kalian sangat berarti buatku. Maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya. Sampai ketemu lagi~

Thanks to reviewers:

Semua yang ber-penname Guest • OhhunnyEKA • dhechan • CherryFoxy13 • Dear God • Akashi lina • Aurora Borealix • Kimeka ReiKyu • Natsuyakiko32 • Angker123 • narusaku • Kawashi Miroto • NS • knyon kun • Viva La Vida • afiechan • gui gui M.I.T • celestial bronze • Ai Tanaka • Putri • mi-chan • Wow getoh • Cimootttttt • Sakura harun0 • Sherly-chan11 • The RED Phantom • Himawari Azuka • dattebayonaruto • Ry413 • The Great 'Kido' Namikaze • RyuuNoHoko • Haruno shakyla • Namikaze haruno • Kikyo • harunami56 • Kazuya • caesar • arisa kk • Meika NaruSaku • hacker bijak • Kobato-chan • Akai bara • lukmanose • Hyuuhi Ga Ara • kaila • kyekye • NEROSPARDA • Narusaku27 • rani masda • garien • watashi wa ichla • deeazz • Ryuuclaw99 • CherrySand1 • tere • Maple23 • Auroran • riobethethe • riveryn • Rinkafuka • doekin • BlueOnyx GreenAqua • lilililiput • Sinta • Rani • Hanna • AutumnSpring98 • Dipa permata