Dunia yang telah lama kulihat kini telah pudar. Berbagai perasaan yang dulu pernah menghiasi kehidupanku, bahkan segala rasa yang pernah aku alami dulu kini telah sirnah bagai ditelan oleh kegelapan.

Keresahan. Kehampaan. Kesunyian. Koyakan luka yang tidak pernah tersembuhkan. Semua itu menjadi satu. Terluka. Berulang kali aku harus kembali mencicipi rasa yang ingin kulupakan.

Semua yang kulihat hanyalah hamparan lautan kegelapan tanpa cahaya didalamnya, tanpa batas yang jelas bagiku untuk keluar dari dunia mati tersebut. Aku terjebak dalam dunia ini, dunia yang tidak pernah bisa kulewati.

Bagaimana rasanya menyentuh permukaan kulit manusia yang dulu pernah kurasakan? Bahkan bagaimana rasanya tersentuh oleh orang lain sekalipun—rasanya sudah begitu lama aku melupakannya.

Hatiku adalah program, program yang diciptakan agar aku tetap menjadi sebuah 'boneka'. Boneka yang tidak memiliki perasaan, boneka yang tidak memiliki emosi. Dengan begitulah aku bisa menjadi 'The Perfect Doll'.

Aku adalah satu-satunya boneka yang selamat dari segala eliminasi, boneka yang terkuat sekaligus boneka yang paling disayangi olehnya, pencipta kami. Namun semua itu telah berakhir, semua itu hanya menjadi title belaka ketika para boneka lainnya telah diciptakan kembali.

Mereka membuangku, layaknya para boneka lain yang sudah tidak memiliki fungsi lagi.

Aku kesepian. Tidak ada siapapun, tidak ada suara, bahkan apapun.

Hingga suatu hari, dia datang dan membebaskanku dari kegelapan. Ia yang memberikan uluran tangannya bagi diriku, prototype terkuat yang telah lama terbuang.

Karena bagiku sekarang, ia adalah segalanya. Akan kuabdikan seluruh hidupku bagi dirinya.


Kuroko no Basuke Fanfiction

"Realm of Death"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Rating : T

Warning : AU/Fantasy/Shounen-ai


I'm the Perfect doll— or what they said to me before.

I have no hearts nor a feeling.

But, why? Why anxiously hit me when they abbandoned me?

I'm the Prototype.

I shall not have a things name 'feeling'.

But, i was wrong.

Since i found him, i know that i'm not a doll.

I'm a Grim Reaper, the Old Prototype.

The Omen.

- oOo oOo oOo -

Iris Light Gray itu perlahan terbuka, menampilkan sebuah pantulan yang begitu hampa terlihat dari rona wajahnya. Ia memandang kearah sekitar, menyadari beberapa orang yang sama sekali tidak dikenal olehnya kini mengitari dirinya. "Siapa kalian?" ucapnya dengan intonasi yang rendah.

Kise bergidik, pikirannya sudah jauh menerawang ketika ia mendengar suara yang begitu asing di daun telinganya. Entah mengapa bulu kuduknya langsung berdiri ketika sosok pemuda beraura dingin itu tiba-tiba bangkit berdiri—tambahkan dengan helaian rambut dan Iris matanya yang senada dengan Monochrome— menjadikan sosoknya itu tambah menyeramkan diantara puluhan Mannequin yang menjadi dekorasi diruangan tersebut.

"Maaf, kami terjatuh dari atas. Apa kau penjaga tempat ini?" Tanya Akashi sambil menatap pemuda berhelai Payne's Grey tersebut.

Pemuda yang di tanya kini mengangguk kecil, pantulan matanya melihat kearah sekitar, menangkap setiap bingkai wajah yang ditemuinya. Hingga satu spot ia terdiam ketika melihat sosok yang tampak agak familiar, sosok Ogiwara yang berada di jejeran paling belakang, menatap sosok penjaga tersebut dengan cengiran lebar di wajahnya.

Ogiwara mengedipkan sebelah matanya sambil menaikkan tangannya kedekat mulutnya, memberi postur 'ssttt' pada pemuda tersebut. Namun rona wajah dari penjaga ruangan itu tetap sama, ia tidak melakukan sebuah perubahan ekspresi apapun—yang merupakan hal bagus untuk Ogiwara.

"Namaku Mayuzumi Chihiro," jedanya sebentar lalu menatap kearah Akashi dan yang lainnya. "Aku adalah penjaga ruangan ini, setidaknya itu titah Emperor sebelum aku tertidur disini."

"Tertidur? Apa kau sudah lama tertidur disini, Mayuzumi-san?" Tanya Kuroko, namun detik berikutnya ia tersadar bila ia belum memperkenalkan dirinya. "Ah, maaf. Aku Kuroko Tetsuya, dan pemuda tinggi berambut Blonde itu adalah Ki—"

"Kise Ryouta." Jawab Mayuzumi kemudian. "Aku mengetahui beberapa diantara kalian. Kise Ryouta, Aomine Daiki, lalu—"

"Ogiwara Shigehiro." Senyum Ogiwara kemudian.

"Beberapa informasi tentang NPC aku telah mendapatkannya langsung dari Himuro. Tetapi para Player yang memasuki New Game kali ini, aku belum mendapatkannya." Pandangan Mayuzumi kini terarah pada Akashi kembali, sosok yang tampak familiar sekaligus berbeda dari sosok yang pernah dikenalnya. Untuk beberapa saat ia menatap sosok Akashi dengan pandangan yang—entahlah, seperti merindukan seseorang.

"Akashi Seijuurou." Jawab Akashi ketika ia melihat pantulan Light Gray milik Mayuzumi yang seolah menanyakan namanya.

"Menjawab pertanyaan Kuroko," Mayuzumi kini memalingkan pandangannya untuk bertemu dengan iris Baby Blue milik Kuroko. "Aku sudah tertidur semenjak End Game, karena tidak ada seorangpun yang berhasil menuju kemari dan membangunkanku, aku tidak tahu kapan New Game telah berlangsung."

"Aku ingat—" suara Aomine kini terdengar, Kise menolehkan pandangannya menuju sosok yang kini mulai bangun dari pangkuannya. "Kau adalah penjaga dari House of Doll. Mayuzumi Chihiro—The First Phanthom."

"The First Phantom? Aku belum pernah mendengarnya-ssu." Jawab Kise kemudian.

"Rumor ini telah ada sebelum kau bergabung dengan Realm of Death, Kise. Tetapi berita ini entah mengapa semakin pudar dan tidak terdengar kembali. The First Phantom—adalah model pertama yang diciptakan oleh 'Core', aku tidak yakin bisa menyebutnya sebagai NPC, karena ia menerima mandat langsung dari Emperor. Dengan kata lain—"

"Dia adalah Grim Reaper." lanjut Akashi kemudian, mencoba menebak apa yang ingin Aomine jelaskan.

Semua terdiam didalam ruangan yang menyeramkan itu. Hembusan angin yang berasal dari atas kini berhasil membuat lengan-lengan Mannequin yang tergantung itu seolah bergerak-gerak, membuat suasana ditempat itu makin mencekam.

"Sepertinya kalian tahu banyak," Senyum Mayuzumi dengan penuh arti. "Seperti yang barusan kalian katakan. Aku adalah salah satu dari Grim Reaper, dan bila sampai saat ini aku masih belum menerima titah dari Emperor, itu artinya aku harus menjalankan tugas utamaku untuk mengeliminasi setiap Player yang memasuki Realm Of Death."

Tanpa aba-aba lagi, Mayuzumi mengeluarkan Long Sword miliknya, memegangnya dengan posisi terbalik, dimana pedang tersebut mengarah kearah bawah. Pedang tersebut berbingkai bungkus perak dengan ukiran lambang dari Realm of Death. Matanya memicing, seolah siap untuk memukul mundur mereka.

Namun sebelum pertumpahan darah terjadi, Ogiwara kini maju kedepan dan mengarahkan tangannya untuk menutupi para Player dan NPC lain yang berada dibelakangnya, seolah melindungi mereka.

"Kami tidak bermaksud untuk memulai perang denganmu, Mayuzumi. Kedatanagn kami kemari bahkan tidak disengaja karena kami terjatuh dari lantai atas. Bila kau melihat para Player dan NPC yang terluka ini, kuharap kau bisa mempertimbangkannya lagi. Bila Grim Reaper akan melakukan eliminasi, ia akan melakukannya secara adil, bukan?"

Pupil mata milik Mayuzumi kini agak membesar, seolah mengamati setiap dari mereka. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ogiwara, mereka semua terluka.

"Apa kau salah satu Guardian dari Player ditempat ini, Ogiwara Shigehiro?" tanya pemuda berhelai Payne's Grey tersebut.

"Ya, Akashi Seijuurou adalah Master-ku."

Mayuzumi kini menutup matanya sejenak.

"Kuroko Tetsuya," ucapnya kemudian, membuat sosok pemuda berhelai Icy Blue itu terkejut. "lalu—Akashi Seijuurou. Dipertemuan kita selanjutnya, aku akan menentukan apakah kalian layak atau tidak memasuki Phase yang lebih dalam di dunia ini. Untuk kali ini, anggaplah pertemuan kita tidak pernah terjadi."

Entah mengapa, perkataan Mayuzumi barusan cukup membuat mereka semua lega. Mereka semua tahu bahwa kekuatan Grim Reaper bukanlah kekuatan yang bisa dipandang sebelah mata. Sekali mereka bertindak, bahkan ribuan Player bisa mereka kalahkan dalam waktu sekejab. Benar-benar sosok yang tidak ingin mereka temui.

"Apakah tidak ada seorangpun yang pernah datang kemari sebelumnya?" tanya Akashi dengan wajah yang penasaran.

"Tidak ada, karena semua yang berusaha memasuki ruangan ini tidak akan selamat dengan segala perangkap yang ada diluar sana. Aku salut pada kalian yang bisa menemukan tempat ini. Meskipun kalian terjatuh dari—atas?"

Ogiwara kini mengalihkan pandangannya kearah atas. "Kami bertemu dengan beberapa boneka yang memergoki kami, sebelum akhirnya mereka menyerang dan membuat kami semua terjatuh kemari."

Mayuzumi mengangguk kecil, mengerti apa yang Ogiwara katakan. "Semua yang berada disini memang berhubungan dengan 'doll'. Jadi, tidak heran bila kalian akan bertemu dengan beberapa diantaranya sampai kalian berhasil keluar dari Mansion ini."

"Apakah ada tempat bagi kami untuk beristirahat malam ini? Sepertinya kami tidak mungkin tidur ditempat ini." Tanya Aomine kemudian. Iris Sapphire miliknya baru saja menatap seisi ruangan yang ia diami. Oh, tentu saja ia menolak untuk tidur ditempat ini.

"Ada," balas Mayuzumi kemudian. "Tetapi kalian harus melewati ruang sebelah dan pergi menuju ruangan setelahnya. Kurasa disitu adalah tempat yang cukup aman dari semua ruangan yang ada di Mansion ini."

"Kalau begitu, ayo kita pergi kesana, rasanya sudah lelah sekali-ssu~" Ucap Kise sambil menghela nafasnya.

"Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya." Panggil Mayzumi kemudian pada kedua Player tersebut. "Ingat apa yang kuucapkan sebelumnya." Lalu dengan penggalan kalimat terakhir itu Mayuzumi langsung melirik keatas, tempat dimana mereka semua sebelum terjatuh— yang berjarak nyaris 5 meter dari posisi mereka saat ini— dan ia dengan lihainya melompat dengan begitu mudah. Setelah itulah, sosok Mayuzumi kini menghilang bagai ditelan oleh Mansion tersebut. Menyisakan mereka semua yang masih terdiam dengan situasi ruangan yang mengerikan.

Beruntunglah mereka bila luka yang didapat dari pertarungan sebelumnya bisa menjauhkannya dari penghakiman sang Reaper. Berbekal rasa ingin cepat beristirahat, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dan menemukan tempat yang aman untuk bermalam, mencari ruang yang sebelumnya dimaksud oleh pemuda berhelai Payne's Grey.

Aomine menyentuh Double Door , pintu selanjutnya yang menghubungkan antara ruangan mereka saat ini dengan ruangan yang akan mereka masuki. Pintu itu terbuat dari keramik, dengan berbagai ukiran dan detail yang berbentuk lambang dari Realm of Death. Ruangan mereka selanjutnya adalah ruang yang dipenuhi dengan boneka.

Boneka yang menyerupai Ventriloquist Dummy. Boneka ini tentu berbeda dengan boneka yang mereka temui sebelumnya, tipe boneka yang berada disini lebih cenderung pada boneka yang biasanya dimainkan oleh seorang Ventriloquism, dimana seseorang menggerakkan dan menjadi pengisi suara bagi boneka tersebut.

Boneka tersebut berjejer dengan rapi di deretan lemari yang menjulang tinggi. Sepanjang ruangan itu, bahkan dari atas hingga bawah hanya terdapat sebuah lemari. Lemari yang berhias Ventriloquist Dummy. Seluruh boneka itu memiliki warna mata yang sama, Cornflower. Hal yang membedakan antara satu-sama lainnya hanyalah model baju serta rambut dari si boneka.

Seketika itu juga, bulu kuduk milik Kuroko berdiri dengan tegang. Ia tahu sesuatu yang berdiam disana hanyalah boneka. Tetapi, melihat bagaimana boneka itu berdiam disana memberinya sebuah pemikiran bahwa seluruh boneka itu sedang melihat kearahnya.

"Ne, Minna-cchi," Suara yang dikeluarkan Kise mulai bergetar, ia melihat keadaan sekeliling mereka saat ini. Pasalnya bukan hanya sekitar 30 atau 40 boneka, Dummy yang berada di ruangan itu bahkan tidak terhitung oleh mereka. "Ruangan ini bahkan lebih menyeramkan dibanding ruangan sebelumnya-ssu!"

Aomine tertegun juga melihat ruangan tersebut dengan perasaan yang tidak dapat ia deskripsikan. Ia mengendus, entah karena ia merasa risih atau karena ia ingin menyembunyikan sisi dirinya yang sedang ketakutan. "Ck, Pemilik macam apa yang senang sekali mengoleksi benda-benda seperti ini!?"

"Apa kalian juga merasakannya? Boneka itu seolah melihat kearah kita semua." Akashi mulai berbicara, setelah ia memandang dengan sekilas seluruh boneka itu.

"A—Akashicchi jangan menakuti kita seperti itu-ssu'yo! Tidak baik untuk—"

"Setiap boneka itu hidup," suara Ogiwara kini terdengar, menginterupsi penggalan kalimat yang ingin diucapkan oleh Kise. "Mereka memiliki jiwa." Ogiwara menundukkan wajahnya sesaat, menatap datar lantai dengan ukiran-ukiran yang menghiasinya.

"A—Akashi-kun! Semua!" Kuroko kini menunjuk kesalah satu boneka yang berada disebrang mereka saat ini.

Seluruh boneka itu tertutup oleh kaca yang transparant, namun mereka masih bisa dengan jelas melihat bagaimana isi dari kaca tersebut. Lemari itu juga berjejer dengan rapi, membingkai ruangan tersebut dengan boneka yang tampak menyeramkan. Hanya terdapat sebuah pintu kecil—yang merupakan satu-satunya jalan keluar bagi mereka menuju ruangan selanjutnya.

Pandangan mereka kini tertuju pada boneka yang Kuroko tunjuk, terkesiap dengan pemandangan yang mereka saksikan pada saat ini. Ventriloquist Dummy itu menoleh kearah samping. Padahal semua boneka memiliki gerakan yang sama, mereka memandang lurus kedepan.

Tidak lama kemudian, suara lain kini terdengar diantara sunyi-nya ruangan tersebut.

CKIT~ CKIT~ CKIT~ KRIETTTTT—

Suara yang timbul diantara kensunyian tentu membuat perhatian mereka semua kini tertuju pada asal suara. Hal yang membuat mereka terkejut adalah ketika mereka melihat salah satu dari boneka itu bergerak. Boneka itu perlahan menggerakan lehernya yang semula diam, perlahan-lahan kini menengok kearah kanan.

Lalu deritan suara yang begitu memekik telinga kini mulai terdengar kembali.

KRETT~ KRETT~ CKIT~ CKIT~

Lagi, suara itu kini terdengar kembali. Untuk kesekian kalinya, pandangan mereka kini teralih pada boneka yang terus menggerakkan kepalanya secara perlahan.

CKIT~ CKIT~ KRAKK~ KRAKK~

KREETTT~ CKITT~ CKITTT~ KREET~

Seluruh Ventriloquist Dummy yang berada di kanan akan melihat kearah kiri, dan seluruh Dummy yang berada di kiri akan melihat kearah kanan, seakan mereka melihat satu spot yang menjadi perhatian mereka.

Pintu.

Pintu kecil yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan berikutnya.

Belum sempat mereka semua bernafas dengan lega, suara tawa yang begitu nyaring kini menghiasi tempat tersebut. Tawa dari sang boneka, tawa yang begitu memekik telinga. Tawa yang membuat gema didalam ruangan berbentuk segilima tersebut.

"Tenang," Pemuda berhelai Scarlet itu mulai mengeluarkan perkataannya, saat ini sosok mungilnya tengah menutup mulut Aomine yang nyaris saja berteriak ketika para boneka itu bergerak. Untunglah ia dengan gesit langsung menarik sosok pemuda Tan itu dan mengentikan agar ia tidak bertindak gegabah. "Kita semua akan berjalan menuju pintu selanjutnya dengan tenang. Kuharap kalian tidak akan berteriak. Kudengar teriakan bisa memancing mereka untuk menyerang kita."

Kise mengangguk cepat sambil menutup mulutnya sendiri. Tangannya kini menyentuh sosok Kuroko yang berwajah pucat sambil memandang kearah sekitar. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti Akashi dan melangkah kedepan.

Rasanya tentu tidak mudah untuk berjalan ditengah situasi seperti ini, dimana mata para Dummy terarah pada setiap gerakan yang mereka ciptakan. Sesuai dengan titah dari pemuda berhelai Scarlet, akhirnya mereka berhasil menekan rasa takut mereka masing-masing dan terus berjalan hingga mendekati pintu.

Sebelum secara spontan Kise berteriak karena seekor laba-laba dengan ukuran segempal tangannya jatuh ke atas pundaknya. "HUWAHHHHH!"

Sorot mata Ogiwara kini menajam saat melihat para Dummy mulai bergerak untuk memukul etalase kaca yang menjadi segel dari tempat mereka berdiam. Hal yang membuat Dummy itu bergerak adalah suara yang kencang, selama mereka tidak berteriak, seharusnya mereka akan aman. Tetapi, karena suara yang begitu kencang terdengar dan mengusik mereka, akhirnya mereka mulai bertindak untuk keluar.

DUG! DUG! DUG! PRANGGG~~~

Beberapa diantaranya telah pecah, dan tanpa aba-aba sang boneka terbang melesat kearah mereka.

[Spell- Magic Skill – Fira]

Akashi mengendus kecil sebelum melempar beberapa bola api kecil sehingga boneka itu terjatuh. "Cepat lari menuju pintu keluar!" teriaknya sambil melihat kearah sekitar, dimana para boneka kini mulai berterbangan.

Ketika Kuroko, Kise dan Aomine sampai di pintu yang dituju, membuka pintu tersebut ternyata tidak semudah yang mereka pikir.

"SIAL! Terkunci! Bagaimana cara membuka pintu ini!?" Aomine kini mulai merutuki pintu keluar satu-satunya yang ada didepan mereka.

"Kurokocchi, kau bisa membukanya! Para Player mempunyai akses khusus untuk membuka pintu dengan kadar segel yang tidak terlalu kuat-ssu!"

"Tapi, Bagaimana—"

"Tenang, ikuti apa yang aku ucapkan, Kurokocchi." Pinta Kise sambil menenangkan Kuroko.

[Menu – Special Order – Open Seal Gates level 1]

Saat itu jugalah, pintu yang tersegel mulai bergerak. Ogiwara yang berada di barisan terakhir kini mengeluarkan Double Voulge miliknya, ia ikut membantu Akashi untuk menghadang para boneka yang berteriak-teriak histeris—bahkan beberapa diantaranya tertawa kencang— sedangkan baik Kuroko, Aomine dan Kise kini sudah membuka pintu dan meneriaki Akashi dan Ogiwara untuk cepat menyusul mereka.

"Akashi! Ogiwara! Ayo cepat kemari!" titah Aomine sambil ikut menahan pintu tersebut.

Akashi dan Ogiwara kini bertemu pandang sesaat, sebelum keduanya mengangguk kecil dan segera berlari menuju pintu keluar. Namun, sebelum mereka benar-benar keluar, Akashi tersandung oleh sepotong tangan boneka yang sempat berserakan ketika Ogiwara menebasnya.

"Akashi!" Ogiwara yang menyadari master-nya nyaris tersungkur itu segera membalik arah untuk menemuinya, ketika jarak diantara mereka menipis, ia mengangkat pemuda beriris Deep Crimson tersebut.

"Ogiwara! Apa yang—" Mata Akashi melebar ketika menemukan dirinya terangkat oleh sosok pemuda berhelai Cantaloupe, dimana tanpa aba-aba apapun ia langsung menaruh sosok mungilnya di pundak sang Guardian.

"Simpan ocehanmu untuk nanti, Akashi! Sekarang kita akan pergi dari tempat menyeramkan ini!" Mulutnya kini terbuka dengan lebar, meskipun Akashi tidak bisa melihat senyuman tersebut, tetapi Akashi tahu bahwa pemuda yang saat ini menggendongnya sedang tersenyum.

Melewati ruangan tersebut ternyata membawa aura yang sungguh berbeda. Bahkan para Dummy itu berhenti bergerak ketika mereka hendak melewati batas ruangan dan membiarkan pintu itu tertutup dengan perhalan, seolah menandakan bahwa tempat mereka saat ini adalah tempat yang ditakuti oleh Ventriloquist Dummy.

"Mereka tidak bisa melangkah kemari karena mereka takut akan terang." Kuroko yang sedaritadi menatap kearah jendela mulai berbicara, ia menatap sebuah langit-langit yang terlihat dengan jelas melalui kaca jendela. Pantulan sinar bulan terlihat dengan jelas melewati kaca gigantik tersebut, menyinari ruangan mereka saat ini. Ornamen-ornamen berwarna-warni menghiasi ruangan mereka, benar-benar tampak berbeda dengan ruangan sebelumnya.

"Indahnya." Mata Kise ikut berbinar saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Meskipun ruangan itu tidak memiliki banyak furniture didalamnya, hanya ada beberapa kursi panjang dan beberapa pilar diruangan tersebut.

"Setidaknya kita menemukan tempat beristirahat untuk malam ini." Aomine mulai berjalan mengitari ruangan mereka, mencari barang-barang yang mungkin bisa mereka pakai untuk bermalam pada saat ini. "Aku menemukan beberapa Blanket, mungkin kita bisa menggunakannya."

"Biar aku yang berjaga duluan, kalian bisa beristirahat pertama." Ogiwara menawarkan dirinya untuk menjadi penjaga pertama. Jujur saja, meskipun tempat yang mereka diami saat ini terbilang cukup aman, tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan bila suatu hal yang tidak mereka inginkan terjadi, apalagi tepat disebelah mereka adalah tempat yang sungguh menyeramkan.

"Kalau begitu aku—" Akashi hendak melanjutkan kalimatnya, sebelum Kise langsung berbicara. "Baiklah, Ogiwaracchi akan menjaga pertama, sesudah itu aku akan menjaga kedua, setelah itu Aominecchi lalu Akashicchi dan Kurokocchi~"

Aomine mengangguk. "Kupikir itu ide yang bagus. Baiklah, semua ayo tidur. Kalian juga pasti sudah lelah dengan apa yang terjadi pada hari ini."

.

.

"Kau pernah mendengar tentang dunia cermin, Tetsuya?"

"Dunia—Cermin?"

"Ya, Diseluruh dunia ini, sebenarnya kita terlihat oleh Two Way Mirror. Mungkin seseorang—atau sesuatu sedang melihat kita dibalik cermin itu."

"Oh ayolah, - jangan bercanda seperti itu, terdengar mengerikan."

"Hahaha~ Aku tidak bercanda, Tetsuya. Bila kau mau mencobanya, letakkan tanganmu dicermin itu. Lalu..."

"Lalu?"

.

Pemuda Icy Blue itu perlahan membuka matanya. Entah mengapa Kuroko tiba-tiba teringat oleh salah satu dari kepingan ingatannya. Ia sedang bersama dengan seseorang, tetapi ia tidak mengetahui siapa orang yang sedang berbicara dengannya. Lalu, apa maksud dari pembicaraannya barusan? Tentang Cermin?

Ia rasa dirinya telah tertidur dengan rentan waktu yang cukup lama. Ketika pandangannya mulai jernih, ia melihat kearah sekitar. Ogiwara, Kise dan Aomine kini sudah tertidur. Itu artinya Akashi sedang berjaga pada saat ini. Kuroko lalu bangkit berdiri dan mencari sosok pemuda berhelai Scarlet tersebut.

Kuroko membiarkan dirinya berjalan menyelusuri hembusan angin kecil yang mencuat dari atas. Saat itu jugalah, ekor matanya menatap sosok yang dicarinya.

"Tidakkah kau kesepian?" Kalimat itu adalah kalimat pertama yang dilontarkan oleh Kuroko ketika menemukan Akashi yang berdiam diatas kaca gigantik yang berada ruangan tersebut. Ternyata terdapat sebuah pintu kecil untuk keluar dari ruangan menuju atas, dimana udara dingin dari luar berhembus. Tetapi tentu saja, mereka masih bisa melihat dengan jelas situasi yang ada dibawah sana.

Akashi yang sedaritadi berdiam untuk melihat bintang kini memalingkan pandangannya untuk melihat pemuda Icy Blue yang tiba disampingnya..

"Tidak, aku senang berada disini, memandang langit dengan bintang yang berhamburan."

"Apa yang kau pikirkan, Akashi-kun?" tanya Kuroko ketika ia mulai duduk disamping pemuda tersebut.

Senyum tipis kini terpantul dari wajah pemuda berparas tampan tersebut. "Aku sedang mengingat ingatan yang telah terlupakan."

"Eh?" Kerutan kini timbul di dahi milik Kuroko, bingung dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Akashi kepadanya.

"Aku merindukan seseorang," jeda Akashi sambil memandang lurus kedepan dengan tatapan yang kosong. "Seseorang—yang dulu pernah mengisi kehidupanku ketika aku masih hidup di Bumi."

_TBC_


A/N : Special Thanks for all who had review, fave, follow this story and for all the readers.

See you in next chapter :)

With love,

-renchanz